24 research outputs found
Kriteria Pentajrihan Periwayat Hadis Syaikh Muhammad Nasiruddin al-Albani dalam kitab Silsilah al-Ahadis al-Daifah wa al-Maudu’ah wa Asaruha al-Sayyi’ fi al-Ummah
Desertasi ini bertujuan untuk mengetahui kriteria pentajrihan periwayat hadis yang digunakan oleh Muhammad Nasiruddin al-Albani dalam mengkritik periwayat hadis dan konsistensinya terhadap penggunaan kriteria pentajrihan yang dimaksud dalam kitab Silsilah al-Hadis al-Daif ah waal-Maud u’ ah., sehingga berimplikasi pada kepercayaan terhadap hasil karya Syaikh al-Albani kaitannya dengan penilaiannya terhadap sanad hadis .
Jenis penelitian dalam penulisan disertasi ini adalah penelitian Library Research (kajian pustaka), dengan uraian yang bersifat eksploratif dan deskriptif. Dikatakan eksploratif karena penelitian ini berupaya menggali pandangan-pandangan para kritikus hadis yang terpencar pada bagian-bagian tertentu dari kitab tersebut yang berkaitan tentang aspek periwayatan rijal hadis. Sedang sumber kajiannya adalah kajian kitab yang terdiri atas sumber primer dan sekunder. Penulis menggunakan metode pengumpulan data dari sumber data yang dimaksud dengan teknik pengumpulan, pengolahan dan analisis data. Adapun pendekatan yang digunakan yakni pendekatan linguistik, historis, sosiohistoris dan jarh wa al-ta’dil.
Sebelum mengemukakan kriteria pentajrihan yang digunakan oleh Muhammad Nasiruddin al-Albani penulis juga mengemukakan biografi al-Albani,yang di dalamnya mencakup profil, guru-gurunya, pengalamannya dalam menekuni hadis, dan terhindarnya dari pengaruh mazhab tertentu, serta pandangan ulama terhadapnya. Adapun kriteria pentajrihan periwayat hadis yang digunakan oleh Muhammad Nasiruddin al-Albani yaitu, 1)Seorang periwayat hadis dikatakan cacat karena terkenal/mashur dikalangan kritikus bahwa dia sebagai pendusta,2)Ada yang menilainya sebagai periwayat yang sering berdusta, 3) Dajjal, 4) Ditinggalkan hadisnya, 5) pelaku bid’ah, 6) Fasik dan 7) Panatik terhadap mazhab.
Dari kriteria itu dapat dibandingkan juga dengan kriteria yang digunakan oleh ulama kritik hadis pada umumnya, dengan menggunakan lafal-lafal, : a) yang menunjukan kecacatan periwayat yang sangat parah, misalnya dengan kata-kata: ،سﺎﻨﻟا بﺬﻛأبﺬﻜﻟا ﻦﻛر (Manusia paling pendusta, tiangnya dusta), lafal ini adalahlafal yang dipergunakan pada peringkat jarh yang sangat tercelah, b)Menggunakan lafadz yang menunjukan bahwa periwayat sering berdusta namun tidak separah tingkatan pertama, lafal yang digunakan misalnya: عﺎﺿو ,باذﻛ (pendusta, pengada-ada) ; c) menggunakan lafal yang menunjukan bahwa periwayat dituduh berdusta. d)menggunakan lafal yang menunjukan bahwa hadis diriwayatkan sangat lemah. e)Menggunakan lafal yang menunjukan bahwa periwayat itu lemah atau tidak kokoh hafalannya atau banyak yang mengingkarinya. f) mengemukakan sifat periwayat untuk membuktikan kedaifan periwayat, namun sudah mendekati tingkat al-ta’dil.
Berkaitan dengan tipologi sebagai kritikus periwayat hadis, al-Albani termasuk dalam kategori tipologi yang tasahhul (longgar), tawassit (moderat), dan tasyaddud(ketat). Ketiga tipologi tersebut terlihat dalam memberikan penilaian terhadap periwayat hadis
STUDI ATAS KITAB SILSILAH AL-HADIS AL-SAHIHAH WA SYAIUN MIN FIQHIHA WA FAWAIDHA KARYA MUHAMMAD NASIRUDDIN AL-ALBANI
Sejarah penghimpunan hadis terus berjalan. Sekitar pertengahan abad
kedua hijriyah muncul berbagai kitab kumpulan hadis (hadis riwayah) di
berbagai daerah. Sekitar abad ketiga hijriyah para Ulama mutaqaddimin
berusaha mensistematisasi kitab-kitab hadis secara khusus dan menghimpun
hadis-hadis nabi yang berkualitas sahih menurut kriteria penyusunnya,
misalnya al-Bukhari yang terkenal dengan kitab Sahih Bukhari, Imam Muslim
yang terkenal dengan kitab Sahih Muslim.
Begitu juga dengan Ulama-ulama mutakhirin yang berperan dalam
bidang ini. Salah satunya adalah Muhammad_ Nasiruddin al-Albani yang_
terkenal dengan kitab Silsilah af-Ahadis al-Sahihah wa Syaiun min Fiqhiha
wa Fawaidihi. Penelitian yang berjudul "Studi Atas Kitab Silsilah al-hadis
al-Sahihah wa Syaiun min Fiqhiha wa Fawaidihi karya Muhammad
Nasiruddin al-Albani ini diharapkan dapat berguna bagi pengembangan ilmu
khususnya dalam bidang hadis dan untuk mengetahui gambaran umum kitab
Silsilah al-Ahadis al-Sahihah wa Syaiun min Fiqhiha wa Fawadihi,
sistematika, metode dan cara penyusunannya, serta pendapat ulama terhadap
kitab tersebut.
Penelitian ini merupakan kajian tokoh, oleh karena itu pendekatan
yang dipakai adalah pendekatan historis yaitu suatu pendekatan untuk
mengetahui sejarah yang melatarbelakangi kehidupan seorang tokoh serta
untuk melacak kemungkinan tokoh tersebut terpengaruh oleh keadaan pada
masa hidupnya. Dalam pembahasan skripsi ini terlebih dahulu dikemukakan
riwayat hidup penyusunnya yaitu Muhammad Nasiruddin al-Albani, hal ini
dilakukan untuk mengetahui apa yang melatarbelakangi beliau menyusun
kitab Silsifah al-Ahadis al-Sahihah wa Syaiun min Fiqhiha wa Fawaidiha ini
serta untuk mengetahui latar belakang kehidupannya khususnya dalam
menimba ilmu hadis.
Akhirnya dari pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwa kitab
Silsilah al-hadis al-Sahihah wa Syaiun min Fiqhiha wa Fawaidiha ini
merupakan kitab-kitab himpunan hadis dan kitab al-Jawami' karena kitab ini
disusun untuk menghimpun hadis dari sejumlah kitab sumber hadis, dalam
kitab ini terhimpun hadis-hadis Bukhari, Muslim, al-Nasa'i, al-Tirmizi, Ibnu
Majah dan lain sebagainya. Kitab jenis ini disusun dengan dua cara, yaitu
l.Kitab hadis yang disusun berdasarkan urutan bab
2.Kitab yang hadis-hadisnya disusun berdasarkan urutan huruf-huruf
pertama pada mu'jam atau dengan kata lain hadis-hadisnya disusun
dengan huruf hijaiyah
Kitab ini juga mengundang pro dan kontra di antara para ulama.
Adapun yang pro berpendapat bahwa kitab Silsilah al-hadis al-Sahihah wa
Syaiun min Fiqhiha wa Fawaidiha merupakan kitab yang di dalamnya
menjelaskan jalur transmisi hadis baik itu perawi-perawinya, tingkat
autentisitas dan kelemahan suatu hadis. Sedangkan Ulama ynag kontra hanya
menjelaskan kitab yang mengkritisi al-Albani baik itu kritikan atas prihadinya
maupun kritikan atas kitab-kitabnya yang semuanya itu tertuang dalam kitab
yang beriudul 'tashih salat at tarawih isyrina rak'atan wa ar-radd ala al-albani fi tad'ifih. Sayangnya kitab ini tidak beredar di masyarakat karena
kurang mendapat respon dari para konsumennya
Shahih al-Jami ash-Shaghir wa ziyadah al-fath al-Kabir, jil. 1/ Muhammad Nasiruddin al-Albani
696 hal; 22 c
Shahih al-Jami ash-Shaghir wa ziyadah al-fath al-Kabir, jil. 2/ Muhammad Nasiruddin al-Albani
1368 hal; 22 c
Shahih al-Jami ash-Shaghir wa ziyadah al-fath al-Kabir, jil. 1/ Muhammad Nasiruddin al-Albani
696 hal; 22 c
Shahih al-Jami ash-Shaghir wa ziyadah al-fath al-Kabir, jil. 2/ Muhammad Nasiruddin al-Albani
1368 hal; 22 c
The Impact of Nashirudin Al Albani\u27s Tarjih Hadith Method on Differences in Mazhab and Qur\u27anic Interpretation
The Impact of Nashirudin Al-Albani\u27s Tarjih Hadith Method on Differences in Mazhab and Qur\u27anic Interpretation" explores the significant influence of Muhammad Nasiruddin al-Albani, a 20th-century Islamic scholar, on Islamic jurisprudence and Quranic exegesis. Al-Albani is noted for his rigorous and critical approach to the evaluation of Ḥadith (Tarjih), which often diverged from traditional scholarly consensus, leading to varying interpretations within different Islamic schools of thought (Mazhabs). The study highlights Al-Albani\u27s method of assessing Hadiths through an in-depth analysis of their Sanad (chain of narrators) and text (matan), often leading to the reassessment of their validity. This paper discusses the strengths and weaknesses of his method, noting how his stringent criteria for Hadith evaluation have impacted Islamic legal judgments and interpretations of the Quran. The article also delves into the societal and cultural implications of Mazhabs in religious life, emphasizing how Al-Albani\u27s interpretations have influenced religious practices and law. It underscores the importance of a balanced approach to understanding and applying Hadith in Islamic law, considering historical, social, and contextual factors. Employing a qualitative research methodology with a library research approach, the study analyzes various literature sources to provide a comprehensive overview of Al-Albani\u27s impact on Islamic jurisprudence. It concludes by emphasizing the need for a more comprehensive and contextual understanding of Hadith and Quranic interpretation to avoid superficial understandings and embrace a richer, more accurate understanding of Islamic teachingsÂ
STUDI KRITIS TERHADAP PENELITIAN MUHAMMAD NASIRUDDIN AL-ALBANI TENTANG HADIS-HADIS YANG DIDA'IFKAN DALAM SAHIH MUSLIM
Penelitian ini difokuskan pada hadis-hadis yang dida’ifkan dalam kitab Sahih Muslim karya Muslim Ibn al-Hajjaj dari segi kualitas. Dengan pertimbangan bahwa kitab Sahih Muslim adalah kitab kedua yang dianggap sahih setelah al-Qur’an dan Sahih Bukhari oleh para ulama mutaqaddimin dan diterima oleh umat muslim secara ijma’. Dengan tinjauan terhadap hadis-hadis pada Sahih Muslim tersebut diharapkan mampu mewakili hadis-hadis yang sama pada kitab induk hadis yang lainya baik dari segi kualitas dan penggunaan dalam kehidupan sehari-hari. Jenis penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif analitis dengan pelaksanaan penelitian yang dilakukan di perpustakaan (library research). Metode yang digunakan adalah takhrij hadis, studi kesahihan hadis, dan kritik hadis (naqd al-hadith) yang meliputi analisa sanad (komentar ulama tentang jarh} dan ta’dil perawi dan persambungan sanad), analisa matan dan analisa simultan (shahid dan tabi’). Adapun sumber data dalam penelitian ini adalah kitab Sahih Muslim karya Muslim Ibn al-Hajjaj, kitab-kitab karya al-Albani dan kitab lain yang berkaitan dengan keilmuan hadis.
Hasil penelitian terhadap validitas hadis-hadis yang dida’ifkan dalam Sahih Muslim oleh al-Albani membuktikan bahwa al-Albani keliru dalam menilai kualitas hadis dan terkadang menyalahi kaidah kesahihan hadis menurut jumhur muhaddithin. Kekeliruan yang dilakukan oleh al-Albani disebabkan oleh kurangnya ketelitian dalam mencari komentar dan menyimpulkan pendapat para ulama dalam jarh wa ta’dil terhadap perawi sedangkan sikap al-Albani yang terkadang menyalahi kaidah kesahihan hadis disebabkan kurangnya dalam menggunakan kaidah kesahihan hadis yang telah ditetapkan. Adapun kualitas hadis dalam Sahih Muslim adalah bervariasi antara sahih atau hasan dan tidak terdapat hadis da’if didalamnya
Otentisitas Hadis
Syaikh Muhammad Nasiruddin al-Albani mencurahkan perhatian terhadap hadis-hadis yang dikutip oleh berbagai ulama hadis dan juga oleh ulama fiqih, atau yang termuat dalam berbagai artikel. al-Albani terpanggil untuk mengetahui otentisitas hadis dari segi sanad. Al-Albani melakukan Takhrij hadis al-Albani di samping mengembalikan hadis kepada sumber aslinya, juga menyertakan penilaian atas hadis tersebut dan meneliti setiap pendapat ulama mengenai perawinya dengan prinsip melihat keotentikan hadis-hadis yang ada dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim sebagai kitab kedua yang paling absah dan shahih setelah al-Quran. Sehingga ketika men-takhrij hadis yang termuat dalam kedua kitab itu, ia hanya menyebutkan letak dan nomor urutnya tanpa memberikan komentar mendetail. Kitab silsilah al-Ahadis al-dhaifah wa al maudhu’ah tersebut sebanyak 7162 hadis yang bermasalah yang termuat di dalam empat belas jilid. Jumlah tersebut dalam penilaian al-Albani dari segi otentisitas adalah kalau hadisnya bukan dhaif adalah maudhu’. al-Albani mempedomani kriteria yang telah digunakan oleh para ilmuan hadis pada umumnya, berkualitas tsiqat dengan memperhatikan penggunaan alat penghubung berkualitas tinggi yang sudah disepakati ulama’ yaitu (sami’a) yang menunjukkan adanya pertemuan diantara guru dan murid
