1,721,039 research outputs found
Tradisi khataman Al-Quran selama tujuh hari setelah kematian : studi-living-Qur’an melalui pendekatan fenomenologi di Desa Proto Kedungwuni Pekalongan
Tradisi khatmu al-Quran bukanlah hal yang baru, namun bentuk atau praktek khataman lah yang biasanya terus mengalami pembaharuan. Model pembacaan al-Quran yang berlangsung di kalangan masyarakat bervariasi saat ini, ada yang dibaca sendiri dan ada juga yang dibaca oleh beberapa orang bersama-sama atau pun bergantian. Khatmu al-Quran biasa dilaksanakan dalam berbagai momen, termasuk diantaranya ketika terjadi momen kematian. Berbeda dengan model khataman pada daerah yang lain yang diadakan pada hari ketiga, ketujuh, dan empat puluh, tradisi khatmu al-Quran ini dilaksanakan selama tujuh hari setelah terjadi musibah kematian. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan dikombinasikan penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan dalam penelitian ini adalah fenomenologi. Setelah dilakukan penelitian, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut : Pertama, tradisi khatmu al-Quran selama tujuh hari setelah kematian bermaksud untuk mendo’akan orang yang telah meninggal. Adapun motivasi masyarakat desa Proto untuk mengikuti tradisi ini diantaranya: untuk ijabatut da’wah, mendo’akan orang yang meninggal, nderes atau tadarrus, dorongan materiel. Kedua, persepsi masyarakat terhadap tradisi khataman al-Quran selama tujuh hari setelah kematian ini mereka menganggap bahwa tradisi ini adalah tradisi yang baik dan penuh barokah. Persepsi ini muncul dari berbagai macam pemaknaan masyarakat terhadap tradisi ini. Pemaknaan itu bisa dibagi menjadi 4 makna : (1) Makna religus, yakni sebagai sarana muroja’ah, sarana Biru al Walidain, dan sarana mengingat kematian. (2) Makna sosial, yakni sebagai sarana silaturahim dan saran bershodaqoh. (3) Makna tarbiyah, yakni sebagai sarana mengajarkan orang untuk gemar bershodaqoh dan syiar mengal-Qurankan masyarakat. (4) Makna material, yakni sebagai sarana untuk mendapatkan makanan gratis dan juga memperoleh bingkisan.
ABSTRACT
The tradition of khatmu al-Quran is actually not a New tradition. However, the implementation and the form are always changing. The changing includes The models of reading the Koran. Nowadays, the models of reading that can be found in the community are various. Some of them read alone and some read by several people together or alternately. Khatmu al-Quran is usually carried out in various moments, including when there is a moment of death. Unlike the khataman model in other areas which is held on the third, seventh, and forty days, the tradition of khatmu al-Quran is carried out for seven days after the accident of death. The method used in this study was a qualitative method which combined with field research. The sources of data that were used by the author were in the form of primary and secondary data sources. They consisted of informants, documents and scientific works as well as some previous studies. The approach in this research was the phenomenology. After conducting research, analyzing and conducting an in-depth study of this tradition, the following conclusions could be drawn: First, the tradition of completing the Koran for seven days after death intended to pray for the deceased. The motivations of the people of Proto village to follow this tradition included: for ijabatut da'wah, praying for the dead, nderes or tadarrus, and material encouragement. Second, the public's perception of the tradition of completing the Quran for seven days after death was that they assumed that this tradition was a good and blessed tradition. This perception arised from various kinds of community meanings of this tradition. From the meaning of the community that we got, the meaning could be divided into four meanings: (1) The religious meaning, as a means of murojah, a means of Birr al Walidain, and a means of remembering death. (2) Social meaning, as means of friendship and suggestions for shodaqoh. (3) The meaning of tarbiyah, as means to teach people to love to do charity and to symbolize the Koran in society. (4) Material meaning, as means to get free food and also to get gifts
Analisis kedudukan nazir dalam rukun wakaf : studi komparatif kompilasi hukum Islam dengan kitab I’anatut Tholibin
Pada dasarnya, ajaran wakaf ini masuk pada wilayah ijtihadi. Karena dalam nash (Al-Qur’an dan Hadits) hanya menyebutkan secara implisit mengenai wakaf. Diantara salah satu syarat Wakaf yaitu adanya mauquf alaih yaitu seseorang tertentu yang mampu menerima harta/benda wakaf. Selanjutnya, di dalam kitab-kitab terdahulu seperti kitab iánathut tholibin hanya mencantumkan nazir sebagai penerima harta wakaf. Tetapi didalam Kompilasi Hukum Islam karya ulama-ulama bangsa Indonesia menambahkan NAZIR dalam syarat/rukun wakaf sebagai pengelola harta wakaf. Disini ada hal yang menaraik untuk di kaji, yaitu antara nazir dengan Maukuf alaih yang mana itu berbeda atau sama.
Melihat dari latarbelakang tersebut, penulis tertarik untuk membahas terkait dengan pendapat hukum nazir dalam Kompilasi Hukum Islam dengan syarat rukun wakaf khususnya maukuf alaih dalam kitan iánathut tholibin. Kenapa penulis menggunakan kitab iánathut tholibin sebagai kitab yang di teliti. Karena kitab iánathut tholibin merupakan salahsatu kitab yang di jadikan rujukan para Ulama Indonesia dalam menyusun Kompilasi Hukum Islam. Tetapi hasil dari Kompilasi Hukumu Islam itu sendiri ada yang berbeda dengan yang ada di kitab-kitab fiqh yang dijadikan rujukanya. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kepustakaan (library reseach). Teknik pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi. Sumber hukm primer yang digunakan yaitu menggunakan kitab iánathut tholibin dan Kompilai Hukum Islam Buku III tentang wakaf. Sedangkan data sekunder menggunakan kitab Roudhotut tholibin karta imam Nawawi dan literatur lainnya yang terkait dengan pembahasan penelitian. Dalam penyusunan skripsi ini, metode analisisnya menggunakan metode deskriptif-komparatif
A COMPARATIVE ANALYSIS OF METAPHORICAL TRANSLATION TECHNIQUE IN SURAH AL HAJJ
Penulismendiskusikantentangbagaimanacaraseorangpenerjemahdalammenerjemahkanbahasakiasanpada Al-Qur’an. Metaforadengansegaladefinisi Yang Ada,Yangmanamerupakansalahsatumasalahutamatentangpenerjemahan Yang Mencakupseluruhbahasakiasanakandidiskusikandalamskripsiini.Metaforaadalahbahasakiasan Yang Manasebuah Kata Ataufrasedigunakanuntuk Non-Basic Sense, Yang Menyarankankesamaanatauanalogi Yang Mendasardenganarti Yang Lain Yang Sesusaikataataufrase Yang Sama (Dickin).
Penelitianinibertujuanuntukmengetahui: (1) Tipemetafora Yang Digunakandalammenerjemahkansurat Al Hajj; (2) Teknikpenerjemahanmetafora Yang Digunakandalammenerjemahkansurat Al Hajj Kedalambahasainggris.
Penelitianinimerupakanpenelitiandeskriptifkualitatif.Penulismenggunakanistilah-Istilahdankonsep-Konsep Yang Diperkenalkanolehnewmark (1988). Penulismenganalisisdanmembandingkanteknikpenerjemahanmetaforapadasurat Al Hajj Yang Digunakanolehtigapenerjemah.Data Analisisberisitentangtipemetaforadanteknik Yang Digunakanolehtigapenerjemahdalammenerjemahkansurat Al Hajj.
Hasildaripenelitianinimenunjukkanbahwaada 22 Metaforadan 66 Penerjemahannyadalamsurat Al Hajj.Tigapenerjemahmenerjemahkan 57 Penerjemahansebagaimetafora, 3 Penerjemahansimledan 6 Penerjemahan Non-Metafora.Tipemetafora Yang Digunakanadalah 46 Original Metaforadan 11 Stock Metafora.
Tekhnik Yang Digunakanolehtigapenerjemahadalahsebagaiberikut; 87.7% Menggunakan Rendering The Original Metaphors Technique, 3.5% Menggunakan Substituting The Original Metaphors, 3.5% Menggunakan Translating Metaphor By Simile, 5.3% Menggunakan Converting Metaphor To Ground
Pengaruh kepemimpinan terhadap etos kerja Islam karyawan dibidang keperawatan Rumah Sakit Islam ;RSI; Pati
Pelayanan yang baik merupakan sesuatu hal yang harus di perhatikan oleh perusahaan yang bergerak di bidang jasa, Pelayanan yang diberikan oleh perusahaan di bidang jasa akan menjadi tolok ukur penilaian kepuasan konsumen terhadap perusahaan tersebut. Penilaian tentang baik tidaknya pelayanan dapat disandarkan pada etos kerja seseorang.Apabila seseorang memiliki etos kerja yang baik, maka secara otomatis akan memunculkan pelayanan yang baik pula Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara Kepemimpinan dengan etos kerja islam karyawan dibidang keperawatan di Rumah Sakit Islam Pati.
Adapun variabel yang diteliti meliputi Kepemimpinan sebagai variable bebas dan etoskerja islam sebagai variabelterikat. Data diperoleh melalui survey dan dokumentasi.Data dianalisis menggunakan regresi linier sederhana.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikanan antara Kepemimpinan dengan etos kerja islam karyawan dibidang keperawatan di Rumah Sakit Islam Pati terbukti dari hasil uji T diperoleh bahwa nilai t hitung adalah 2,923, sedangkan nilai t table adalah 2,048 yang lebih kecil di banding dengan t hitung. Artinya, ada pengaruh signifikan antara Kepemimpinan dengan etoskerja islam karyawan di bidang keperawatan di Rumah Sakit Islam Pati.
Sedangkan dari hasil analisis koefisien determinasi diperoleh nilai R2 sebesar 0,234, ini artinya bahwa variasi perubahan variable etoskerja islam (Y) dipengaruhi oleh perubahan variable bebas kepemimpinan (X) sebesar23,4%. Sedangkan sisanya76,6% dipengaruhi oleh faktor lain diluar penelitian ini
Studi pemikiran Mohammad Natsir tentang Islam sebagai dasar negara
Islam sebagai dasar negara menurut Mohammad Natsir merupakan konsep yang ideal jika diterapkan di Indonesia, Dasar Mohammad Natsir mengungkapkan hal tersebut adalah bahwa masyarakat Indonesia sudah mempunyai akar atau pondasi dalam beragama Islam, hal itu sudah terbukti dengan segala aktifitas kehidupan masyarakatnya. Konsep yang ditawarkan Natsir menjadi besar ketika mendapat dorongan dari partai-partai Islam yang mendukung jika Islam dijadikan sebagai dasar Negara. Konsep Islam sebagai dasar Negara merupakan konsep yang bagus, karena dasar dari Islam adalah Al-Qur’an. Melalui sidang konstituante yang membahas tentang dasar negara Indonesia Islam merupakan salah satu ideology yang diusulkan Mohammad Natsir, menjadi hal menarik ketika ada perdebatan didalamnya. Berawal dari kejadian tersebut penulis membuat skripsi dengan judul Islam Sebagai Dasar Negara Menurut Mohammad Natsir. Berangkat dari latar belakang masalah tersebut muncul pertanyaan, Bagaimana pemikiran Mohammad Natsir tentang Islam Sebagai Dasar Negara? Bagaimana Relevansi Pemikiran Mohammad Natsir Tentang Islam Sebagai Dasar Negara dengan Politik di Indonesia Saat ini?
Teknik pengumpulan data library research adalah metode pengumpulan data dari bahan tertulis (teori-teori) yang berkaitan dengan pokok-pokok masalah yang mengandalkan atau memakai sumber karya tulis kepustakaan. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif, yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa tertulis atau lisan dari orang-orang dan pelaku yang diamati. Metode yang dipakai yaitu analisis deskriptif yaitu usaha untuk mengumpulkan dan menyusun suatu data, kemudian dilakukan analisis data tersebut.
Dari hasil penelitian ini menunjukan bahwa Islam sebagai dasar Negara akan relevan jika diterapkan dalam negara Islam. Jika Islam sebagai dasar Negara diterapkan di Indonesia akan mengalami ketidak relevanan. Akan tetapi ketika dilihat dan ditinjau lebih dalam konsep nilai-nilai Islam bisa diterima oleh masyarakat Indonesia. Jadi Islam sebagai dasar negara tidak relevan di Indonesia, akan tetapi konsep nilai-nilai Islamnya yang relevan di Indonesia dengan dasar negara Pancasila
Dakwah fardiyah Rasulullah dalam kitab fiqh al-sirah muhammad karya Muhammad Sa‘id Ramadan al-Buti : Analisis Bimbingan dan Konseling Islam
Nabi Muhammad Saw dalam berdakwah mengajarkan agama Allah begitu gigih. Terbukti Rasul tetap kuat dan terus berdakwah meskipun mendapatkan coban, siksaan saat berdakwah. Kegigihan dakwah Rasul akan selalu diteruskan oleh pendakwah Islam, karena mereka adalah pewaris para Nabi. Dakwah Islam pada dasarnya mengajarkan dan mengajak manusia ke jalan yang benar dan di ridhoi Allah. Akan tetapi ada jenis dakwah yang lebih mengutamakan keberhasilan dan lebih memperhatikan mad’unya, yaitu adalah dakwah fardiyah. Dakwah fardiyah tersebut dapat dilihat dalam kehidupan Rasulullah yang penuh dengan keagungan, salahsatunya dapat di pelajari dalam Kitab Fiqh al-Si>rah Muhammad Karya Muhammad Sa‘i>d Ramad{an al-Bu>t}i> yang menceritakan sejarah Rasulullah dalam berdakwah.
Dengan demikian, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana Dakwah Fardiyah Rasulullah dalam Kitab Fiqh al-Si>rah Muhammad Karya Muhammad Sa‘i>d Ramad{an al-Bu>t}i>? (2) Bagaimana Analisis Bimbingan dan Konseling Islam Terhadap Dakwah Fardiyah Rasulullah dalam Kitab Fiqh al-Si>rah Muhammad Karya Muhammad Sa‘i>d Ramad{an al-Bu>t}i>? Untuk menjawab pertannyaan diatas, peneliti menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research) yaitu suatu penelitian yang informasi nya diperoleh dari literatur-literatur yang ada, dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif (deskriptif research). Sumber data penelitian ini adalah sumber data primer yaitu sumber data yang diperoleh langsung dari literatur kitab, yang dalam penelitian ini bersumber dari kitab Fiqh al-Si>rah Muhammad Karya Muhammad Sa‘i>d Ramad{an al-Bu>t}i. Adapun sumber data sekunder yaitu sumber data tidka langsung yang diperoleh dari buku-buku, literatur, dan bacaan terkait. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini, berupa data reduction (reduksi data), data display (menyajikan data) dan conclution drawing/verification (penarikan kesimpulan).
Hasil penelitian ini adalah, pertama, Kitab Fiqh al-Si>rah Muhammad adalah karangan Muhammad Sa‘i>d Ramad{an al-Bu>t}i> yang wafat pada tanggal 21 Maret 2013 M. Dalam kitap ini, al-Bu>t}i> menjelaskan tentang perjalanan kehidupan Rasulullah Saw dari Rasul lahir hingga Rasullullah dipanggil kehadapan Ilahi Rabbi dengan sangat jelas. Salah satu keunggulan kitab Fiqh al-Si>rah Muhammad dibandingkan dengan kitab-kitab Si>rah lainya adalah al-Bu>ti selalu menyertakan pelajaran dan renungan yang dapat diambil dalam setiap bab dalam sejarah kehidupan Rasulullah, sehingga setiap orang yang membaca kitab ini akan mendapatkan manfa’at yang lebih dibandingkan yang lain. Kedua, Dalam kajian kitab Fiqh al-Si>rah Muhammad tentang sejarah kehidupan Rasulullah dari periode berdakwah di Makah hingga Rasul berdakwah di Madinah terdapat beberapa contoh tentang sifat sifat yang harus dimiliki oleh juru dakwah fardiyah, seperti sifat uswah dan qudwah, ikhlas, sabar, optimis kepada Allah, dan pengorbanan. Selain itu juga, dalam kitab Fiqh al-Si>rah Muhammad terdapat beberapa contoh dakwah Rasulullah dengan menggunakan metode dakwah seperti dakwah dengan H}ikmah, Mau‘iz}ah al H}asanah, Muja>dalah al-H}asanah. Begitu juga dengan tahapan dalam dakwah fardiyah yang Rasulullah contohkan dalam beberapa peristiwa dalam kehidupanya. Dengan demikain sejarah kehidupan Rasulullah dalam kitab Fiqh al-Si>rah Muhammad dapat digunakan untuk acuan da’i terutama juru dakwah fardiyah dalam melaksanakan dakwah. ketiga, Dakwah fardiyah dan bimbingan konseling Islam pada dasarnya memiliki tujuan yang sama yaitu membantu orang agar menjadi lebih baik dan di ridhai Allah SWT. Gambaran bimbingan dan konseling Islam dapat dilihat salah satunya dalam peristiwa ketika utusan kaum S}aqif masuk Islam yang dijelaskan Al-Bu>t}i> dalam kitab Fiqh al-Si>rah Muhammad. Selain itu, beberapa fungsi ( preventif, kuratif, preservatif ) dan perinsip bimbingan konseling juga dapat dilihat dalam beberapa peristiwa dakwah fardiyah Rasulullah yang di jelaskan Al-Bu>t}i> dalam kitab Fiqh al-Si>rah
Kenakalan Remaja Dan Bahaya Tawuran Dalam Perspektif Hukum: Membangun Generasi Muda Yang Berintegritas
Fenomena kenakalan remaja dan tawuran pelajar menjadi permasalahan sosial yang berdampak luas terhadap perkembangan generasi muda serta ketertiban masyarakat. Penyuluhan hukum ini diselenggarakan dengan metode tatap muka dan tanya jawab secara interaktif, yang memungkinkan peserta memahami materi secara komprehensif sekaligus mendiskusikan berbagai permasalahan yang dihadapi secara langsung. Dalam penyampaian materi, peserta diberikan pemahaman mendalam mengenai bentuk-bentuk kenakalan remaja, faktor internal dan eksternal penyebab tawuran, serta konsekuensi hukum yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA). Pendekatan interaktif ini mendorong peserta untuk lebih kritis dalam menilai dampak sosial, psikologis, dan hukum dari perilaku menyimpang. Dengan penyuluhan ini menunjukkan adanya peningkatan kesadaran hukum, penguatan pemahaman tentang pentingnya integritas, serta terbentuknya sikap preventif terhadap tindakan kenakalan dan kekerasan kolektif. Selain itu, penyuluhan ini juga menekankan peran sinergis antara keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam membentuk karakter remaja agar terhindar dari perilaku destruktif dan lebih bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat
THE EFFECTIVENESS OF INTERACTIVE MULTIMEDIA TO TEACH VOCABULARY OF THE EIGHTH YEAR STUDENTS AT MTS NURUL HUDA RAJI – DEMAK IN THE ACADEMIC YEAR 2012/2013
Vocabulary learning is an important life-long experience. English learner will be difficult to create a text and learn the language without knowing its meaning. In this study the researcher tries to use interactive multimedia to teach vocabulary. The objectives of this study are (1) to find out the students’ vocabulary mastery taught with interactive multimedia, (2) To find out the students’ vocabulary mastery taught without interactive multimedia, (3) to find out whether there is significant difference or not in vocabulary mastery between students taught with interactive multimedia and those taught without interactive multimedia.
The population of this study is the eighth grade students of MTs Nurul Huda Raji. The total population is 117 students. The writer took two classes as the subjects of the study. The classes are, VIII A, VIII B. They are divided into experimental class (VIII A) and control class (VIII B). Each class consists of 40 students. A test as the instrument was used to collect the data. The research was started by conducting the try out test measuring the validity, reliability, discrimination power and level of difficulty of the test. The data were computed and it was found out that 30 items were valid. Then the valid items were used for the pre-test and posttest of vocabulary item tests in experimental and control class.
The average score of the pre-test of the experimental class was 17.10 and control class was 18.53. The students in the experimental class were then taught using interactive multimedia while the students in control class were taught without using interactive multimedia. After that they got the post test. the results of experimental group score increase by 4.90 (17.10 to 22.00), while the control group score improves by 1.62 (18.5 to 20.15). It means, there is a 10,93% improvement difference in the two groups.
The posttest scores of experiment and control group then were calculated using t-test to know whether there was significant difference between the experimental class and control class. The t-test was 3.527 and t-table was 2.042. The data shows that t-test was higher than t-table. It means that there was significant difference between the experimental class and the control class
Wali nikah meminta izin kepada anak perawan : studi komparatif pendapat Imam al-Mawardi dan Imam Ibnu Hazm
Imam Al-Mawardi dan Imam Ibnu Hazm berbeda pendapat mengenai izin wali menikahkan anak perawan. Menurut Imam Al-Mawardi wali berhak untuk menikahkan anak perempuannya yang masih kecil atau dewasa dengan tanpa persetujuan dari wanita tersebut. Sedangkan Imam Ibnu Hazm menyatakan bahwa seorang wali dapat menikahkan anak perempuannya yang masih kecil dengan tanpa persetujuan dari anak perempuan tersebut, tetapi jika sudah dewasa harus ada ijin. Sebagian masyarakat umum masih belum jelas dalam memahami konsep ijbar, sehingga konsep ijbar dipahami tindakan sewenang-sewenang dari seorang wali kepada wanita yang berada dibawah perwaliannya.
Berpijak dari latar belakang tersebut, dalam skripsi ini penulis tertarik membahas pendapat Imam Al-Mawardi dan Imam Ibnu Hazm dalam masalah izin wali menikahkan anak perawan. Kemudian penulis juga akan membahas bagaimana relevansi izin wali menikahkan anak perawannya pada konteks sekarang khususnya di Indonesia.
Jenis penelitian dalam skripsi ini adalah penelitian kepustakaan (library research). Sumber data diperoleh dari data primer dan data sekunder. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode pengumpulan data dengan teknik dokumentasi. Setelah mendapatkan data yang diperlukan, maka data tersebut dianalisis dengan metode analisis komparatif.
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa menurut pendapat Imam Al-Mawardi ayah boleh menikahkan anak perempuannya yang masih perawan, baik ia masih kecil, besar, berakal penuh ataupun kurang, tanpa seizin anak perempuan tersebut. Sedangkan menurut pendapat Imam Ibnu Hazm bagi ayah boleh menikahkan anak perempuannya yang belum baligh tanpa izinnya baik perawan maupun janda, akan tetapi ketika anak perawan dan janda sudah baligh maka bagi ayah atau wali selain ayah tidak boleh menikahkan mereka tanpa izinnya. Metode istinbat{ hukum yang digunakan Imam Al-Mawardi dalam masalah izin wali menikahkan anak perawan sama dengan metode istinbat{ yang digunakan Imam Ibnu Hazm yaitu Hadits riwayat Aisyah RA. Faktor yang mempengaruhi perbedaan metode istinbat{ Imam Al-Mawardi dan Imam Ibnu Hazm diantaranya adalah faktor dalam memahami hadits.
Berdasarkan pengamatan terhadap Hukum Islam di Indonesia (KHI) tentang izin wali menikahkan anak perawan, dapat disimpulkan bahwa pendapat Imam Al-Mawardi yang lebih relevan dengan konteks Hukum Islam di Indonesia. Namun alangkah baiknya persetujuan dari wanita tetap diperhatikan
KLASIFIKASI MAHASISWA BERPAKAIAN MUSLIMAH MENGGUNAKAN ALGORITMA JARINGAN SARAF TIRUAN
Jilbab merupakan penutup aurat wanita yang umumnya digunakan oleh wanita dewasa. Banyaknya mode fashion pengunaan berjilbab yang berkembang, hal ini menjadikan salah satu faktor kurangnya pemahaman tentang menggunakan jilbab yang benar. Dengan memanfaatkan pengolahan citra menggunakan teknik klasifikasi dapat dibedakan antara wanita berjilbab dan tidak berjilbab. Jaringan Saraf Tiruan (JST) merupakan kecerdasan buatan yang mempresentasikan seperti otak manusia dengan cara pembelajaran. JST dapat ditanamkan ke program komputer untuk proses perhitungan. Pengunaan JST salah satunya adalah mengolah citra untuk diklasifikasikan. Tahap pengolahan citra yang dilakukan yaitu akuisisi data, preprocessing, deteksi tepi, training, testing dan klasifikasi. Berdasarkan pada pengujian yang sudah dilakukan sebanyak 20 percobaan, hasil dari klasifikasi citra menggunakan algoritma Jaringan Saraf Tiruan dan metode pembelajaran backpropagation menunjukan tingkat akurasi yang baik.
Kata kunci : Pengolahan Citra, Jaringan Saraf Tiruan, Backpropagation, Klasifikas
- …
