34 research outputs found

    Strategi Komunikasi Korporat PT. Garam (Studi Kasus Program Penyerapan Garam Rakyat di Madura)

    No full text
    Pergeseran peranan stakeholder dari waktu ke waktu menuntut organisasi untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Organisasi tidak akan sanggup bertahan jika tidak ada dukungan dari publik dimata organisasi bergantung padanya. Stakeholder yang sebelumnya merupakan kompetitor murni dapat berubah secara cepat menjadi stakeholder kunci bagi korporat. Pengaruh dari regulasi dan kebijakan, tuntutan publik akan organisasi, secara komersial maupun sosial, harus dapat diantisipasi dan disesuaikan oleh organisasi. Lingkungan yang berubah membuat PT. Garam sebagai BUMN yang bergerak disektor dagang garam yang berorientasi profit menggeser peranannya untuk kemanfaatan sosial, hal ini menjadi sesuatu yang jarang terjadi di ranah BUMN. Penyesuaian organisasi dengan lingkungannya membuat PT. Garam harus merancang strategi komunikasi korporat supaya dapat terus bertahan. Berdasarkan research puzzle tersebut, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui strategi komunikasi korporat yang dilakukan PT. Garam sebagai BUMN yang menjalankan program penyerapan garam rakyat di Madura. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif studi kasus untuk menggali keunikan yang ada pada konteks lingkungan organisasi beroperasi. Hasil penelitian menemukan, PT. Garam membina hubungan untuk mendukung iklim usaha. Pembentukan program penyerapan garam rakyat didasari oleh penugasan pemerintah sehingga perlu menyesuaikan peranan visi dan misinya. Analisa lingkungan dilakukan sehingga tidak membahayakan PT. garam dan melakukan gebrakan skema pasar, menyeimbangkan peranan komersial dengan sosial menambah kerumitan tindakan organisasi. Menciptakan hubungan saling menguntungkan jangka panjang dengan mendorong kemandirian usaha kecil. Implementasi strategi model komunikasi blusukan sering diterapkan oleh eksekutif untuk mempermudah penerimaan masyarakat, ketika sekretaris perusahaan bentukan baru masih terlalu prematur untuk berkomunikasi. Strategi komunikasi korporat bersifat fleksibel dan terikat dengan konteks dimana organisasi beroperasi

    HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL TEMAN KERJA DENGAN KINERJA PEGAWAI DI KANTOR KECAMATAN JOMBANG

    No full text
    Abstract: This study aims to identify and analyze whether or not the correlation between social support with the performance of employees in the Office of the District Jombang. This study is a type of correlational research. The subjects were employees who worked in the Office of the District Jombang. Amount of research subjects was 30 employees. An Analytical technique used in this study is simple regression analysis with the help of IBM SPSS v.20 progam. Based on the hypothesis testing was done by using simple regression analysis, correlation results obtained for 0.821 at significance level p = 0.01, (p> 0.05). These results suggest that the hypothesis (Ha) is denied that social support has no meaning or no relationship to performance. Keywords : Employee, Social Support, Performance Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis ada atau tidaknya hubungan antara dukungan sosial teman kerja kinerja kerja di Kantor Kecamatan Jombang. Penelitian ini merupakan tipe penelitian korelasional. Subjek penelitian ini adalah pegawai yang bekerja di Kantor Kecamatan Jombang. Jumlah subjek penelitian ini 30 orang pegawai. Teknik analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi sederhana dengan bantuan progam IBM SPSS v.20. Berdasarkan uji hipotesis yang dilakukan dengan menggunakan teknik analisa regresi sederhana, diperoleh hasil korelasi sebesar 0,821 pada taraf signifikansi p = 0,01, (p > 0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa hipotesis (Ha) ditolak yang artinya dukungan sosial tidak memiliki atau tidak terdapat hubungan dengan kinerja. Kata kunci : Pegawai, Dukungan Sosial, Kinerj

    HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP WANITA PASANGAN USIA SUBUR DENGAN KEJADIAN PERNIKAHAN DINI DI DESA LANJAN KECAMATAN SUMOWONO KABUPATEN SEMARANG

    No full text
    Pernikahan dini merupakan pernikahan yang dilaksanakan sebelum berusia 20 tahun bagi wanita dan 25 tahun bagi laki-laki. Tahun 2013 tercatat di KUA sumowono, Desa Lanjan merupakan desa dengan angka pernikahan dini terbesar yakni 19,41%. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan pengetahuan dan sikap wanita pasangan usia subur dengan kejadian pernikahan dini di Desa Lanjan Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang. Penelitian ini merupakan jenis penelitian explanatory research dengan desain cross sectional study. pada periode 2013 terdapat 46 wanita dengan kejadian pernikahan dini yakni sebesar 20 orang. Data dianalisis dengan univariat danm bivariate dengan uji Chi Squere dengan metode yates correction dengan taraf signifikansi a=5%. Hasil penelitian menunjukan bahwa alnalisis dengan presentase pengetahuan wanita pasangan usia subur kurang baik (86,9%), sikap wanita pasangan usia subur kurang baik (84,7%). Hasil Uji Chisquere dengan metode yatews corecction adalah tidak ada hubungan pengetahuan wanita PUS dengan kejadian pernikahan dini ( p Value = 1,000). saran yang diberikan adalah diketahui pernikahan dini dilakukan karena masyarakat hamil di luar nikah oleh karena itu dapat ditindaklanjuti dengan meneliti faktor pendorong yang menyebabkan terjadinya pernikahan dini tersebut. Kata Kunci: Pernikahan Dini, PUS, SIkap, Pengetahua

    Social-Psychological sufferings experienced by the main character in Charles Dickens’ David Copperfield

    No full text
    Penelitian ini membahas sebuah novel berjudul David Copperfield karya Charles Dickens. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan: (1) penderitaan sosial dan psikologis yang dialami oleh David Copperfield dalam novel David Copperfield dan (2) pengaruh penderitaan sosial dan psikologis terhadap David Copperfield. Teori yang dipakai dalam penelitian ini mencakup teori tokoh, teori penokohan, teori sufferings dan teori setting. Selain itu pendekatan yang diterapkan antara lain pendekatan psikologi, pendekatan sosial dan pendekatan sejarah. Penelitian kepustakaan diterapkan dalam teknik pengumpulan data. David Copperfield mengalami penderitaan secara fisik dan dan mental. Dalam penderitaannya David Copperfield mampu bangkit dari semua penderitaan yang dialaminya, hidupnya menjadi lebih baik

    KOMPARASI METODE FERMENTASI DENGAN VARIASI JENIS KAPANG TERHADAP PRODUKSI ETANOL DARI JERAMI PADI OLEH KHAMIR BREM CAIR SUMBAWA

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode fermentasi dan variasi jenis kapang hidrolisis terhadap kadar etanol yang dihasilkan. Dua metode yang dibandingkan adalah metode Separate Hydrolysis and Fermentation (SHF) dan Simultaneous Saccharification and Fermentation (SSF), masing – masing metode diberi 4 perlakuan variasi jenis kapang Aspergillus niger, Trichoderma viride, campuran kedua kapang tersebut, dan perlakuan kontrol. Khamir yang digunakan pada penelitian ini diisolasi dari minuman brem cair dari Sumbawa. Pengukuran kadar etanol dengan metode berat jenis menggunakan alat piknometer dan hasilnya dikonversi ke dalam nilai spg. Analisis statistik dalam penelitian ini menggunakan analisis Brown-Forsythe kemudian dilanjutkan dengan Games- Howell. Data hasil analisis statistik menunjukkan bahwa perlakuan antar metode tidak menunjukkan nilai beda yang signifikan, perlakuan variasi jenis kapang menunjukkan perbedaan signifikan, dan kombinasi dari metode dan variasi jenis kapang menunjukkan perbedaan yang signifikan. Metode SSF dengan variasi jenis campuran kapang Aspergillus niger dan Trichoderma viride menghasilkan kadar etanol tertinggi sebesar 1,25% dan menunjukkan beda signifikan

    Rancang Bangun dan Analisis Karakteristik Dinamis Atmospheric Pressure Shock Absorber (APSA) dengan Diameter Silinder 70 mm dan Diameter Orifice 1-2 mm pada Kendaraan Angkut

    No full text
    Perkembangan industri otomotif saat ini sangat mengutamakan keamanan dan kenyamanan dalam berkendara. Salah satu faktor utama dalam menunjang keamanan dan kenyamanan dalam berkendara ialah sistem suspensi. Sistem suspensi sering kali menimbulkan suatu permasalahan yaitu getaran yang berlebih. Getaran ini apabila tidak diantisipasi maka akan menyebabkan kegagalan pada mesin, berkurangnya tingkat keamanan pada mobil serta perasaan tidak nyaman pada penumpang. Sistem suspensi pada kendaraan saat ini sebagian besar menggunakan shock absorber tipe hidraulis karena memiliki reliabilitas tinggi, budget perawatan yang rendah, mudah dalam instalasi dan perawatannya, serta memiliki harga yang lebih murah. Tetapi di sisi lain, shock absorber tipe pneumatik memiliki beberapa kelebihan yaitu tidak mudah rusak akibat beban kejut dan lebih aman karena tidak mudah terbakar seperti sistem hidraulis. Dengan beberapa kelebihan dan kekurangan tersebut, maka dilakukan penelitian mengenai Atmospheric Pressure Shock Absorber (APSA) yang bertujuan untuk membuat shock absorber sederhana dan memanfaatkan udara sekitar, lalu dapat memberikan performa yang sama atau lebih baik dari shock absorber yang telah ada dengan harga yang lebih murah dan perawatan yang lebih mudah. Dalam tugas akhir ini akan dilakukan simulasi dan eksperimen sistem Atmospheric Pressure Shock Absorber (APSA) pada seperempat kendaraan. Pada tugas akhir ini akan dilakukan simulasi dengan menggunakan software MATLAB Simulink. APSA disimulasikan untuk mendapatkan gaya redam dan data parameter yang dibutuhkan dalam pembuatan alat. Setelah didapatkan parameter yang dibutuhkan, sistem APSA diproduksi dan diuji pada kendaraan angkut jenis Daihatsu Gran Max. Pengujian pada kendaraan angkut akan dilakukan pada siang hari dengan variasi kecepatan 10 km/jam, 15 km/jam, dan 20 km/jam pada saat pengujian bump dan variasi kecepatan 30 km/jam, 40 km/jam, dan 50 km/jam pada saat pengujian jalan tidak rata. Hasil yang didapatkan dari tugas akhir ini yakni karakteristik gaya redam dan respon percepatan untuk shock absorber konvensional dan APSA. Karakteristik gaya redam APSA dengan diameter orifice sebesar 1 mm yang didapatkan dari hasil simulasi, yaitu 2403 N pada kecepatan 10 km/jam, 3470 N pada 15 km/jam, 4723 N pada 20 km/jam, 6584 N pada 30 km/jam, 1.185x104 N pada 40 km/jam, dan 1.858x104 N pada 50 km/jam. Semakin tinggi kecepatan kendaraan, semakin besar gaya redam yang dihasilkan. Respon percepatan maksimum APSA dengan diameter orifice sebesar 1 mm yang didapatkan dari hasil pengujian, yaitu 0.0101 m/s2 pada kecepatan 10 km/jam, 0.0146 m/s2 pada 15 km/jam, 0.0301 m/s2 pada 20 km/jam. Respon percepatan RMS APSA yang didapatkan dari hasil pengujian, yaitu 0.0117 m/s2 pada kecepatan 30 km/jam dan 0.0175 m/s2 pada 40 km/jam. Semakin tinggi kecepatan kendaraan, semakin besar respon percepatan maksimum dan RMS yang terjadi. Karakteristik gaya redam APSA dengan diameter orifice sebesar 1 mm memiliki gaya redam terbesar dibandingkan dengan shock absorber konvensional dan APSA dengan diameter orifice sebesar 1 mm. Respon percepatan maksimum dan RMS APSA dengan diameter orifice sebesar 1 mm memiliki respon percepatan terkecil dibandingkan dengan shock absorber konvensional dan APSA dengan diameter orifice sebesar 2 mm. Semakin besar gaya redam yang dihasilkan, semakin kecil respon percepatannya pada kecepatan kendaraan yang sama. ========================================================================================================== The development of the automotive industry at this time prioritizes safety and comfort in driving. One of the main factors in supporting safety and comfort in driving is the suspension system. The suspension system often creates a problem of excessive vibration. This vibration if not anticipated it will cause failure on the machine, reduced levels of security on the car and feelings of uncomfortable passengers. Suspension systems in vehicles today mostly use hydraulic shock absorber because it has high reliability, low maintenance budget, easy installation and maintenance, and has a cheaper price. But on the other hand, pneumatic type shock absorber has some advantages that is not easily damaged due to shock load and more secure because it is not flammable like hydraulic system. With some of the advantages and disadvantages, then the research on Atmospheric Pressure Shock Absorber (APSA) which aims to create a simple shock absorber and utilize atmospheric air, then can provide the same or better performance than existing shock absorber at a cheaper price and easier maintenance. In this final project will be simulation and experiment of Atmospheric Pressure Shock Absorber (APSA) system at one quarter of vehicle. In this final project will be simulated by using MATLAB Simulink software. APSA is simulated to obtain damping force and parameter data required in tool making. After obtaining the required parameters, APSA system is manufactured and tested on the Daihatsu Gran Max transport vehicle. Tests on transport vehicles will be conducted during the day with variations of speed 10 km/h, 15 km/h, and 20 km/h during bump testing and variations of speed 30 km/h, 40 km/h, and 50 km/h on when uneven road testing. The results obtained from this final task that is the characteristics of damping force and acceleration response for conventional shock absorber and APSA. Characteristics of APSA damping force with an orifice diameter of 1 mm obtained from simulation results, that is 2403 N at 10 km/h speed, 3470 N at 15 km/h, 4723 N at 20 km/h, 6584 N at 30 km/h, 1.185x104 N at 40 km/h, and 1.858x104 N at 50 km/h. The higher the speed of the vehicle, the greater the resulting damping force. Maximum acceleration response of APSA with orifice diameter of 1 mm obtained from the test result, that is 0.0101 m/s2 at a speed of 10 km/h, 0.0146 m/s2 at 15 km/h, 0.0301 m/s2 at 20 km/h. The RMS APSA acceleration response obtained from the test result is 0.0117 m/s2 at a speed of 30 km/h and 0.0175 m/s2 at 40 km/h. The higher the speed of the vehicle, the greater the maximum acceleration and RMS response. Characteristics of APSA damping force with orifice diameter of 1 mm has the greatest damping force compared with conventional shock absorber and APSA with orifice diameter of 1 mm. Maximum acceleration response and RMS APSA with orifice diameter of 1 mm have the smallest acceleration response compared with conventional shock absorber and APSA with orifice diameter of 2 mm. The larger the resulting damping force, the smaller the acceleration response at the same vehicle speed

    Pengaruh metode prompting dan fading terhadap keterampilan berpakaian anak retardasi mental

    No full text
    Penelitian ini secara khusus bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode prompting dan fading terhadap keterampilan berpakaian anak retardasi mental. Subjek dalam penelitian adalah satu subjek yang tinggal di Desa Ngrawan – Dolopo, Kabupaten Madiun. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara kepada guru dan orangtua subjek. Penelitian ini termasuk penelitian pra-eksperimen. Proses pencarian subjek diperoleh dari data sekolah di SLB Putra Idhata, Kabupaten Madiun yang mengalami retardasi mental. Rancangan eksperimen dengan menggunakan desain A-B-A-B. Berdasarkan hasil analisis baik secara keseluruhan menunjukkan bahwa telah mengungkap hipotesis yang diajukan diterima, yaitu metode prompting dan fading dapat meningkatkan keterampilan berpakaian anak retardasi mental. Melalui hasil perbandingan pada desain A-B-A-B secara keseluruhan bahwa eksperimen yang dilakukan ada pengaruh metode prompting dan fading terhadap keterampilan anak retardasi mental

    Factors Influencing Whistleblowing Intention among Accounting Students in Indonesia

    No full text
    The study aimed to determine the effect organizational commitment, subjective norms and group cohesion to whistleblowing intention of accounting students in Indonesia. Data was collected using a questionnaire administered using Google Form. The study�s sample was 218 accounting students from various universities in Surabaya, Indonesia. This study results show that high organizational commitment, subjective norms, and group cohesion increase whistleblowing intention among participants studied. Limitations include the limited number of universities surveyed for respondent recruitment, suggesting the need for additional data collection methods. This study is original in its investigation of the relationships between organizational commitment, subjective norms, group cohesion, and whistleblowing intention among accounting students in Surabaya

    Perencanaan Armada Kapal Ambulans Modern untuk Wilayah Kepulauan: Studi Kasus Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan

    No full text
    Saat ini, layanan gawat darurat di wilayah kepulauan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan masih sangat kurang karena hanya dilayani oleh 1 (satu) unit kapal ambulans. Kapal ini belum dapat sepenuhnya melayani seluruh wilayah kepulauan tersebut. Rumah sakit rujukan untuk layanan ini terletak di ibu kota kabupaten dan di Kota Makassar. Karena tidak mencukupi, warga sering menggunakan perahu nelayan untuk mengangkut warga yang membutuhkan layanan gawat darurat. Warga yang sakit sering kali tidak mendapatkan pertolongan tepat waktu seperti yang direkomendasikan oleh WHO. Tugas Akhir ini bertujuan untuk merencanakan layanan kapal ambulans yang dapat memberikan pertolongan pertama sesuai dengan waktu standar dan dapat mengantar pasien ke rumah sakit rujukan terdekat. Metode optimasi dipakai untuk merencanakan pola operasi dengan memakai 2 (dua) skenario: (i) menggunakan kapal ambulans yang ada dan (ii) menggunakan kapal ambulans modern dengan ukuran optimal. Kapal ambulans modern adalah jenis kapal yang memiliki fasilitas dan layanan modern. Jumlah penduduk yang ditentukan dengan mengkombinasikan data yang ada dan dengan menggunakan citra satelit, dipakai untuk membangkitkan jumlah panggilan gawat darurat dengan menggunakan distribusi binomial dan simulasi Monte Carlo. Lokasi pangkalan ditentukan dengan menggunakan metode Set Covering Problem. Optimasi tiap skenario menghasilkan 4 (empat) zona operasi yang masing-masing dilayani oleh 1 (satu) pangkalan. Pangkalan tersebut terletak di Pulau Podangpodang Lompo dengan 2 (dua) unit kapal serta Pulau Kondongbali, Pulau Sapuli, dan Pulau Salebbo masingmasing dengan 1 (satu) unit kapal. Skenario kedua terpilih karena menghasilkan Present Value (PV) total biaya yang lebih rendah daripada skenario pertama. Kapal yang dipakai adalah kapal baru yang berkapasitas 13 orang (2 pasien, 2 keluarga, dan 9 awak kapal) serta berukuran Lpp 9,44 m, B 3,31 m, T 0,81 m, dan kecepatan dinas 25 knot. ================================================================================================ Currently, emergency service in the island region of Pangkajene and Kepulauan Regency is inadequate because it is only served by 1 (one) unit of ambulance boat, which cannot cover the whole region. Referral hospitals are located in the capital of the regency and in Makassar. Because of this insufficient, local fishing boat is usually used to carry emergency patient. This patient often does not receive first aid on time as recommended by the World Health Organization (WHO). Therefore, the objective of this Final Project is to plan ambulance boat operational pattern which comply first aid standard time and can carry patient to the nearest referral hospital. Optimization method is used to plan operation pattern by using 2 (two) scenarios: (i) the existing boat and (ii) the proposed modern ambulance boat with optimum main dimensions. Modern ambulance boat is a kind of boat that has modern facility and service. Total number of population, determinated by combining available data and satellite imagery, is used to generate the number of emergency call by using binomial distribution and Monte Carlo Simulation. Ambulance base location is obtained by using Set Covering Problem method. Optimization of each scenario gives 4 (four) operation zones, which is served by 1 (one) base. The bases are: Podangpodang Lompo Island with 2 (two) ships, Kondongbali Island, Sapuli Island, and Salebbo Island with each 1 (one) ship. The second scenario is selected because it produces less total cost Present Value than the first scenario. The selected operation pattern is by using the proposed ship with capacity of 13 people (2 patients, 2 family members, and 9 ship crews), Lpp 9.44 m, B 3.31 m, T 0.81m, and service speed 25 knots
    corecore