299 research outputs found
Pengaruh 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) dan Safety Terhadap Kinerja Karyawan di PT Bumi Alam Segar
Hasil penelitian ini memberikan penjelasan bahwa variabel 5R (ringkas, rapi, resik, rawat, rajin) dan Safety berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan PT Bumi Alam Segar. Penelitian ini memiliki keterbatasan objek penelitian yang hanya dilakukan pada karyawan PT Bumi Alam Segar. Kebaharuan dalam penelitian ini menggabungkan variabel 5R (ringkas, rapi, resik, rawat, rajin) dan Safety terhadap kinerja karyawan PT Bumi Alam Segar
La tomba 24 della necropoli della Ca’ Morta e l’inizio del periodo Golasecca II a Como
L’articolo ha per oggetto lo studio della tomba 24 della necropoli della Ca’ Morta (Como), scoperta nel dicembre 1958. Si rileva, dalla collazione di diverse fonti (diario di scavo, comunicazione alla Soprintendenza Archeologica, pubblicazione preliminare nella RAC del 1958 e pubblicazione del 1966 da parte di F. Rittatore), che alcuni materiali sono attualmente dispersi. Segue il catalogo di tutti i materiali attualmente conservati al museo archeologico P. Giovio di Como. Dopo una breve ricognizione della storia delle ricerche sull’articolazione cronologica della cultura di Golasecca, si procede allo studio tipologico e cronologico degli oggetti di corredo. L’analisi delle ossa combuste ha permesso di attribuire la tomba a un soggetto adulto di genere femminile e ciò è confermato dagli oggetti del corredo: le fibule a navicella e ad arco composto con ambra, i pendagli a melagrana, i dischi ferma-pieghe e gli orecchini in lamina bronzea, sono tutti elementi caratteristici del costume femminile. Dal punto di vista cronologico ci sono da una parte elementi di continuità con la fase Golasecca I C, dall’altra – e più numerosi- gli elementi di novità che consentono di attribuire la tomba agli inizi del Golasecca II (fase G. II A).The paper deals with the study of tomb 24 from the Ca’ Morta cemetery (Como). The tomb was discovered in late December 1958 near the Gini quarry, in the southernmost part of the Ca’ Morta cemetery. The collation of the sources – excavation diary, letters to the Archaeological Superintendence, preliminary publication (RAC 1958) and publication by F. Rittatore (1966) – made it possible to detect that some materials are currently missing. The paper presents a complete catalogue of all the materials currently kept at the archaeological museum P. Giovio di Como. After a brief survey of the history of research on the chronological articulation of the Golasecca culture, the Author proceeds to the typological and chronological study of the pottery and of the bronze sheet cup, of the fibulae, and other objects found inside the urn. The analysis of the burnt bones attributes the tomb to an adult female and this has been confirmed by the grave-goods: the boat-shaped fibulae, the fibulae with amber decorated bow, the openwork pendants (so-called pomegranate pendants), the stop-folds discs and earrings in bronze sheet are all characteristic elements of the female costume. From a chronological point of view, on one hand there are some elements of continuity with phase Golasecca I C, on the other there are more elements of novelty that allow to date the tomb to the beginning of Golasecca II period (phase G. II A)
Pola Jaringan Komunikasi Antar Anggota RAPI Ketika Dalam Situasi Bencana Banjir Di Desa Kadokan Kabupaten Sukoharjo
RAPI merupakan salah satu organisasi yang berperan aktif membantu pemerintah dalam menanggulangi bencana, salah satunya kerika banjir terjadi di Desa Kadokan, Kabupaten Sukoharjo. Cara berkomunikasi antar anggota RAPI dalam mengabarkan informasi bencana banjir menggunakan frekuensi radio atau dikenal juga dengan istilah point-to-point communication. Penelitian ini berusaha menganalisa pola jaringan komunikasi antar anggota RAPI ketika dalam situasi bencana alam banjir di Desa Kadokan Kabupaten Sukoharjo, Dengan menggunakan analisis jaringan melalui paradigma post-postitivis yang bertujuan untuk mencari data relasional. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini melalui wawancara dengan model pertanyaan sosiometrik “siapa dia”, dan diolah menggunakan software UCINET. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tujuh peran dalam jaringan komunikasi yaitu, klik, bridge, cosmopolite, opinion leader, liaison, gatekeeper dan isolate tidak semuanya ditemukan dalam jaringan komunikasi RAPI. Ketiadaan cosmopolite, gatekeeper dan klik tidak menimbulkan ketimpangan dalam komunikasi rapi dikarenakan peran bridge, opinion leader, liaison saling mengisi dalam menyebarkan informasi mengenai kebencanaan. Pola jaringan komunikasi RAPI menggunakan pola roda, yakni menyebar dengan satu orang sebagai pusat informasi dimana peran opinion leader sangat sentral keberadaannya. Alur informasi tersebut kemudian bergulir kepada sesama anggota RAPI dengan pola yang mirip dengan pola rantai dalam sebuah komunikasi jaringan
Tuhan, Alam Semesta dan Manusia: ke arah interpretasi konsep-konsep kosmologis
Keberadaan alam semesta yang tertata rapi dan integral tanpa sedikitpun mengalami pergeseran merupakan indikasi bahwa alam ini tercipta oleh pengatur yang maha tunggal. Persoalan alam semesta dalam kaitannya dengan Tuhan menjadi perdebatan yang senantiasa aktual, terutama dalam hal kekuasaan dan perbuatan Tuhan. Dalam kaitan ini ada 2 teori yang menyatakan hubungan antara Tuhan dan alam semesta; teori emanasi dan teori Cratio ec Nihilo
Implementasi Manajemen 5S pada CV. Rapi Vulkanisir Aceh Besar
Karyawan merupakan elemen penting dalam perusahaan. Meskipun telah ditemukan teknologi baru, sumber daya alam yang baik dan modal yang memadai perusahaan tidak akan dapat memanfaatkan dan mengoptimalkan faktor tersebut tanpa dukungan sumber daya manusia atau karyawan yang berkualitas. CV. Rapi Vulkanisir Aceh Besar membutuhkan karyawan yang mampu bekerja dengan baik dan memberikan kepuasan yangmemuaskan kepada konsumen, kinerja karyawan adalah hal penting yang mendukung pencapaian target perusahaan dan tentunya didukung dengan budaya kerja yang efektif. Kaizen digunakan untuk menguraikan suatu proses manajemen dan budaya bisnis berarti perbaikan terus-menerus dan perlahan-lahan dengan keikutsertaan aktif dan komitmen dari semua karyawan dalam bentuk apapun yang dilakukan oleh perusahaan
PERAN RADIO ANTAR PENDUDUK INDONESIA (RAPI) BAGI PELESTARIAN MUSIK CAMPURSARI DI KOTA BLITAR SERTA KONTRIBUSINYA DALAM PENDIDIKAN
ABSTRAK Prasetya, Irvan Okta. 2013. Peran Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Bagi Pelestarian Musik Campursari di Kota Blitar, serta Kontribusinya dalam Pendidikan. Skripsi, Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Abdul Latief Bustami, M.Si. (II) Dra. Yuliati, M.Hum Kata Kunci: RAPI, Campursari, Pelestarian, Pendidikan. Musik Campursari adalah perpaduan antara alat musik gamelan dengan alat musik dari luar kebudayaan Jawa. Alat musik ini antara lain adalah keyboard, drum, bass, gitar, gendang. Perpaduan ini menghasilkan sebuah musik yang berbeda. Dalam permainannya kedua jenis musik ini saling mengisi antara satu dengan yang lainnya. Perpaduan alat musik tradisi gamelan dengan alat musik modern menghasilkan nada-nada yang baru dan indah, inilah yang dimaksud dengan Campursari Setiap kebudayaan akan mengalami perubahan atau perkembangan, karena tidak ada kebudayaan yang statis, hanya saja laju perkembangannya berbeda-beda, ada yang cepat dan ada juga yang lambat. Ini membuktikan bahwa dunia pikir manusia berkembang dari zaman ke zaman. Seperti yang terjadi pada Musik Campursari yang merupakan hasil dari proses perubahan atau perkembangan dari musik Langgam Jawa, jenis musik ini terbilang mampu bertahan dari masa ke masa dengan mengalami proses akulturasi dengan berbagai jenis musik lainnya. Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) adalah sebuah organisasi sosial di Indonesia yang beranggotakan pengguna perangkat radio komunikasi. Sesuai dengan namanya, anggota RAPI menggunakan perangkat radionya untuk berkomunikasi dengan sesama anggota masyarakat lainnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Perkembangan musik Campursari dari awal terbentuknya, kemudian masuk ke Blitar hingga bisa berkembang di dalam RAPI, serta untuk mengetahui peran RAPI mengenai Campursari yang berkembang di dalamnya, juga melihat peran pendidikan yang terkandung di dalmnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa media RAPI sangat berperan dalam memfasilitasi pecinta musik Campursari, selain sebagai media komunikasi, juga sebagai media bercampursari, hal ini terwujut dengan terbentuknya Sang Galih, sebuah paguyuban yang pernah di prakarsai oleh ketua RAPI, namun sayangnya tahun 2012 paguyuban ini ditutup dikarenakan pergantian susunan kepengurusan RAPI Blitar. Kepengurusan RAPI Blitar sangat mendukung organisasi yang terbentuk di dalam RAPI, seperti organisasi pecinta alam dan olahraga sepeda yang disponsori langsung oleh RAPI, namun sayang dikarenakan kebanyakan pecinta musik Campursari yang pernah terangkum dalam Sang Galih bukan merupakan anggota legal yang terdaftar di kantor RAPI membuat organisasi ini tidak lagi disponsori oleh RAPI. Hasil penelitian tersebut, disarankan bagi pengguna RAPI untuk mendaftarkan diri sebagai anggota resmi RAPI sesuai dengan peraturan yang berlaku, agar organisasi yang bersifat positif seperti Sang Galih ini dapat terlindungi dan terdaftar sebagai organisasi resmi yang dilindungi Dinas Kebudayaan Kota Blitar.
Membangun Generasi Peduli Lingkungan Melalui Sekolah di Sanggar Anak Alam
Artikel bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan bentuk upaya membangun generasi peduli lingkungan melalui sekolah di Sanggar Anak Alam. Penelitian ini dilaksanakan di Sanggar Anak Alam yang merupakan salah satu sekolah alam yang ada di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini merupakan bentuk penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data dengan Observasi. Hasil penelitian menunjukkan dalam upaya membangun generasi peduli lingkungan, Sanggar Anak Alam telah menerapkan beberapa kegiatan pembelajaran yang didukung oleh kultur sekolah itu sendiri. Bentuk kegiatan umum dilakukan di Sanggar Anak Alam ini berupa kegiatan kemah dan outbound yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar dengan lingkungan secara langsung. Sedangkan kultur sekolah yang diterapkan berupa piket kelas, bersih-bersih lingkungan sekolah, dan memilah sampah berdasarkan jenisnya. Dalam hal ini, Sanggar Anak Alam telah berhasil menerapkan pembiasaan karakter peduli lingkungan untuk membangun generasi peduli lingkungan, dibuktikan dengan kondisi lingkungan yang bersih, rapi, dan nyaman
Teruntum putih: warisan alam negeri Pahang
Pokok Teruntum Putih atau nama saintifiknya (Lumnitzera racemosa)
bukanlah sekadar pokok bakau yang tumbuh di pesisir muara dan tanah
berlumpur. Ia adalah lambang warisan alam yang tersimpan rapi dalam
lipatan sejarah daerah Kuantan dan negeri Pahang. Nama “Teruntum”
yang diabadikan pada sebuah kampung pada suatu masa dahulu
mencerminkan hubungan mendalam antara spesies ini dengan identiti
tempatan yang telah lama wujud dalam ekosistem dan budaya
masyarakat.
Buku ini diterbitkan sebagai usaha untuk mengetengahkan betapa
pentingnya mengenali, memahami dan melindungi spesies Teruntum
Putih yang kian terancam. Dalam era pembangunan pesat dan
perubahan iklim yang tidak menentu, spesies seperti Teruntum Putih
semakin kehilangan habitat semula jadinya. Tanpa kesedaran dan
tindakan yang proaktif, kita mungkin kehilangan bukan sahaja spesies
yang unik, tetapi juga sebahagian daripada identiti sejarah dan landskap
semula jadi negeri ini.
Melalui penyelidikan, dokumentasi morfologi, habitat, nilai ekonomi dan
ekologi, serta usaha pemuliharaan yang telah dan sedang dijalankan,
buku ini diharap dapat menjadi rujukan berguna untuk menyemai rasa
cinta terhadap alam sekitar dan tanggungjawab bersama dalam
memelihara khazanah negeri yang tidak ternilai ini.
Semoga dengan terbitnya buku ‘Teruntum Putih... Warisan Alam Negeri
Pahang’, usaha konservasi dapat digiatkan dan kesedaran masyarakat
terus dipupuk agar pokok ini kekal berdiri teguh di habitatnya. Bukan
sekadar sebagai tumbuhan di pesisir, tetapi sebagai simbol keteguhan
dan warisan alam yang harus dijaga sepanjang zaman
PERAN ORGANISASI RADIO ANTAR PENDUDUK INDONESIA (RAPI) DALAM MEMBANGUN SOLIDARITAS SOSIAL DI MASYARAKAT DESA JAYA TINGGI KECAMATAN KASUI KABUPATEN WAY KANAN
ABSTRAK
Organisasi Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Desa Jaya
Tinggi, Kecamatan Kasui, Kabupaten Way Kanan, merupakan
organisasi yang berperan dalam membangun solidaritas sosial melalui
komunikasi radio. RAPI menyediakan layanan komunikasi yang
mendukung berbagai kegiatan sosial masyarakat, seperti gotong
royong, tanggap bencana, dan kegiatan kemanusiaan lainnya. Penelitian
ini bertujuan untuk menggambarkan peran RAPI dalam memperkuat
solidaritas sosial di Desa Jaya Tinggi serta bagaimana organisasi ini
berfungsi sebagai penghubung antarwarga melalui jaringan
komunikasi.
Metode Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian
ini adalah kualitatif yang bersifat deskriptif. Penelitian ini didukung
dengan data, dokumentasi, dan wawancara. Peneliti akan membaca,
memahami dan menganalisis data yang diperoleh melalui dokumentasi,
obsevasi, dan wawancara. Observasi dalam penelitian ini menggunakan
observasi partisipan, dan informan dalam penelitian ini terdiri dari
informan kunci berjumlah 1 orang yakni ketua RAPI, Informan utama
berjumlah 3 orang yakni Wakil Ketua 1,sekretaris,bendahara RAPI dan
Informan tambahan berjumlah 2 orang yakni Kordinator pengabdian
masyarakat dan kerjasama anatar lembaga (PMKAL),Anggota Bagian
Hukum,inovasi organisasi,penelitian dan pengabdian pembangunan
(HIOPP)
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Organisasi Radio Antar
Penduduk Indonesia (RAPI) memiliki peran penting dalam
memanfaatkan radio komunikasi untuk memastikan aliran informasi
yang cepat dan akurat, terutama dalam situasi darurat seperti bencana
alam. Melalui komunikasi yang efektif, masyarakat dapat merespons
situasi mendesak dengan lebih baik, sehingga tercipta rasa saling
percaya antarwarga. RAPI juga menyelenggarakan pelatihan
penggunaan radio komunikasi dan penyuluhan yang tidak hanya
meningkatkan keterampilan teknis masyarakat, tetapi juga memperkuat
keterlibatan sosial dan rasa kebersamaan. Dalam penanganan bencana,
RAPI berkontribusi aktif dalam koordinasi bantuan dan distribusi
logistik, yang berdampak pada pemulihan cepat serta solidaritas yang
lebih kuat di kalangan masyarakat.Dampak dari program-program RAPI terbukti signifikan dalam meningkatkan solidaritas sosial,
memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana, dan meningkatkan
kemampuan masyarakat untuk merespons secara cepat dan tepat
terhadap situasi darurat. Manfaat jangka pendek, seperti peningkatan
koordinasi dan pengurangan risiko bencana, disertai dengan kontribusi
jangka panjang berupa penguatan ketahanan masyarakat. Keterlibatan
aktif masyarakat melalui program-program ini menciptakan sistem
yang tangguh, di mana solidaritas sosial menjadi kunci utama dalam
menghadapi berbagai tantangan di masa depan, baik yang terkait
dengan bencana alam maupun situasi darurat lainnya.
Kata kunci: Peran, Solidaritas Sosial, RAPI. ABSTRACT
The Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) organization in Jaya
Tinggi Village, Kasui Subdistrict, Way Kanan Regency, plays a role in
fostering social solidarity through radio communication. RAPI
provides communication services that support various community
social activities, such as mutual cooperation (gotong royong), disaster
response, and other humanitarian activities. This research aims to
describe RAPI's role in strengthening social solidarity in Jaya Tinggi
Village and how the organization functions as a connector between
residents through its communication network.
The research approach used in this study is qualitative with a
descriptive nature. This research is supported by data, documentation,
and interviews. The researcher will read, understand, and analyze data
obtained through documentation, observation, and interviews. The
observation in this research uses participant observation. The
informants consist of one key informant (the head of RAPI), three main
informants (the deputy chairperson, secretary, and treasurer of RAPI),
and two additional informants (the coordinator of community service
and inter-agency cooperation [PMKAL], and a member responsible for
legal affairs, organizational innovation, research, and community
development [HIOPP]).
The results of this study indicate that the Radio Antar Penduduk
Indonesia (RAPI) organization plays a vital role in utilizing radio
communication to ensure the fast and accurate flow of information,
especially during emergencies such as natural disasters. Through
effective communication, the community can respond better to urgent
situations, fostering mutual trust among residents. RAPI also conducts
training on radio communication usage and public outreach, which not
only enhances technical skills but also strengthens social engagement
and a sense of togetherness.In disaster management, RAPI actively
contributes to coordinating aid and distributing logistics, which leads
to faster recovery and stronger solidarity among the community. The
impact of RAPI's programs has proven significant in enhancing social
solidarity, strengthening disaster preparedness, and improving the
community's ability to respond quickly and accurately to emergency
situations.Short-term benefits, such as improved coordination and reduced disaster risks, are accompanied by long-term contributions,
including strengthened community resilience. Active community
involvement through these programs creates a robust system where
social solidarity becomes a key factor in addressing various future
challenges, whether related to natural disasters or other emergencies.
Keywords: Role, Social Solidarity, RAPI
Aplikasi Sistem Maklumat Geografi Dan Penilaian Pelbagai Kriteria Bagi Menentukan Kawasan Sensitif Alam Sekitar Dalam Pembangunan Kawasan Pelancongan Di Pulau Langkawi
Pelancongan merupakan aktiviti yang semakin popular. Lokasi semulajadi seperti kawasan tanah tinggi dan pinggir pantai menjadi destinasi popular dalam kalangan pelancong. Walau bagaimanapun kawasan tersebut merupakan kawasan sensitif alam sekitar (KSAS) yang rapuh sifatnya. Oleh hal yang demikian, pengurusan dan pengawalan yang rapi perlu dilaksanakan bagi memastikan impak negatif seperti tanah runtuh, hakisan tanah, banjir dan kerosakan ekosistem flora dan fauna dapat dielakkan. Di samping itu, perancangan dan pemantauan yang rapi perlu dilaksanakan oleh pihak yang bertanggung jawab bagi memastikan impak negatif dapat dikawal. Ini memerlukan tata cara pengurusan dan penganalisisan maklumat yang sistematik dan berkesan
- …
