1,720,974 research outputs found

    KEARIFAN LOKAL DAN PENDIDIKAN IPS: STUDI PEDULI LINGKUNGAN DALAM HUTAN LARANGAN MASYARAKAT ADAT KAMPAR

    Get PDF
    Abstract This paper explains environmental attitudes taken from the local wisdom of the Forest Prohibition of Kampar indigenous peoples through social science education approaches. The data is collected through literature studies in the form of newspapers, journals, papers, written texts, and others related to local wisdom and social science education. The results obtained that the local wisdom values ​​of Kampar indigenous forest prohibition can be developed in social science learning. The values ​​of customs and customs indicated through tambo (history and indigenous petitih) indicate a clear attitude about Kampar indigenous peoples consciousness in preserving its environment. In addition to the regulations made in the form of Forest Prohibition Act No. 1 of 2007, the values ​​of other local wisdom is a belief in the myth that develops in society so that environmental awareness is higher. These values ​​can be developed in social science education by conducting curriculum development based on local wisdom Forest Prohibition thick with spiritual value.  Abstrak Tulisan ini menjelaskan sikap peduli lingkungan yang diambil dari kearifan lokal Hutan Larangan masyarakat adat Kampar melalui pendekatan pendidikan IPS. Data dihimpun melalui studi pustaka berupa surat kabar, jurnal, makalah, teks-teks tertulis, dan lain-lainnya yang terkait dengan kearifan lokal dan pendidikan IPS. Hasil yang didapatkan bahwa Hutan Larangan masyarakat adat Kampar memiliki nilai-nilai yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran IPS. Nilai adat dan norma adat yang ditunjukkan melalui tambo (sejarah dan petatah-petitih adat) menunjukan adanya sikap yang jelas tentang kesadaran masyarakat adat Kampar dalam melestarikan lingkungannya. Di samping peraturan yang dibuat dalam bentuk Undang-Undang Hutan Larangan No 1 Tahun 2007, nilai-nilai kearifan lokal lainnya adalah adanya kepercayaan terhadap mitos yang berkembang dalam masyarakat sehingga kesadaran lingkungan semakin tinggi. Nilai-nilai tersebut dapat dikembangkan dalam pendidikan IPS dengan melakukan pengembangan kurikulum berbasis kearifan lokal Hutan Larangan yang kental dengan nilai spiritual.  Pengutipan: Ahmal. (2017). Kearifan Lokal dan Pendidikan IPS: Studi Peduli Lingkungan dalam Hutan Larangan Masyarakat Adat Kampar di Provinsi Riau. SOSIO DIDAKTIKA: Social Science Education Journal, 4(1), 2017, 61-70. doi:10.15408/sd.v4i1.5918.Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/sd.v4i1.591

    Kajian Masyarakat Adat Rumbio dan Relevansinya Sebagai Sumber Nilai Dalam Pembelajaran IPS

    Get PDF
    Permasalahan kerusakan hutan di Riau terjadi karena ulah manusia. Sikap peduli lingkungan masyarakat adat Kampar terhadap hutan larangan di Kenagarian Rumbio Provinsi Riau merupakan salah satu sumber nilai pendidikan karakter peduli lingkungan yang dapat di internalisasikan kepada peserta didik. Sumber belajar IPS ini dari budaya lokal dapat membentuk pengetahuan, sikap dan tindakan yang berupaya mencegah kerusakan hutan serta melakukan berbagai tindakan untuk pelestarian lingkungan. Fokus penelitian ini adalah mengidentifikasi nilai-nilai karakter peduli lingkungan masyarakat adat Kampar terhadap hutan larangan masyarakat adat Kampar dan diintegrasikan ke dalam pembelajaran IPS. Pendekatan kualitatif dilakukan dengan metode etnografi. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada tiga hal dalam pelestarian hutan larangan masyarakat adat Kampar di Kenagarian Rumbio, yakni; 1) cara pandang terhadap hutan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat adat; 2) peran ninik mamak dalam masyarakat adat berupa aturan dan norma, pantang larang dan mitos, dan kemudian peran anak kemenakan dalam Yayasan Pelopor, Sentra Penyuluhan Kehutanan Pedesaan dan Kelompok Sadar Wisata atau Pokdarwis; dan 3) sistem pendidikan informal dalam membangun kesadaran ekologis terhadap hutan larangan kepada generasi muda. Kemudian, dapat diimplementasikan nilai karakter peduli lingkungan masyarakat adat Kampar terhadap hutan larangan di Kenagarian Rumbio dalam pembelajaran IPS untuk menumbuhkan kesadaran ekologis terhadap lingkungan dan hutan

    Muhammadiyah dalam Perjuangan Kemerdekaan di Kampar

    Get PDF
    Islamic organization Muhammadiyah as modernist and anti against colonizationwith community participation in the fight Kampar Independence of the Republic of Indonesia.The influence is so great that owned by Muhammadiyah leader Kampar lead the struggle forindependence of the Republic of Indonesia can be awakened with fellow community synergisticKampar. A figure that is so influential figures in socio-religious life in society, namely MahmudMarzuki Kampar. Marzuki Mahmud involvement in Muhammadiyah brings big changes that areso good in Muhammadiyah own body and in community life Kampar, so Muhammadiyah leadersheld successfully become the frontline in the fight for independence. Many figures togetherMuhammadiyah memperjuangankan independence include traditional leaders, and communityleaders themselves Perti to Muhammadiyah to move in the struggle for independence.Muhamamdiyah succeeded in uniting force in the struggle for independence of the Republic ofIndonesia in Kampar

    The Role of Bahana Mahasiswa Press in the Field of Education and Malay Culture in Riau (1983-1998)

    Get PDF
    The objectives of this research are: (1) To determine the early formation of Bahana Mahasiswa student press, (2) To understand the role of Bahana Mahasiswa student press in the field of education in Riau from 1983 to 1998, (3) To comprehend the role of Bahana Mahasiswa student press in the field of Malay culture in Riau from 1983 to 1998. This research utilized a historical approach, with data collection methods including literature review, interviews, and documentation. The study was conducted at the Bahana Mahasiswa Secretariat. After gathering the data, data validation was performed through source criticism by assessing the authenticity of the obtained sources through comparing data from different sources, such as comparing interview results with written evidence. Based on the research findings, it can be concluded that: (1) Bahana Mahasiswa was established in 1982 and its development was marked by its inaugural publication in July 1983, (2) The role of Bahana Mahasiswa in the field of education is inseparable from its identity as a campus press, with published news always addressing educational issues in Riau, particularly at the University of Riau, (3) The role of Bahana Mahasiswa in the field of Malay culture is manifested through the Gumam and Kilas Balik rubrics, which contain topics related to Malay culture

    The Existence of Suluk During the Achmad Government in Rokan Hulu District (2006-2016)

    Get PDF
    The purpose of this study is to determine: (1) To determine the condition of the existence of Suluk during the reign of Achmad in Rokan Hulu Regency, (2) To know the development of Suluk during the reign of Achmad in Rokan Hulu Regency, (3) To find out the impact of the existence of Suluk on people's lives during the reign of Achmad in Rokan Hulu Regency. This study uses a historical approach, data collection methods with field studies in the form of interviews and documentation as well as archive and library studies. This research was conducted in Rokan Hulu Regency. After the data is collected, the data examiner is carried out with source criticism, namely by testing the authenticity of the sources obtained by comparing one data with another, such as comparing the results of interviews with written evidence. Based on the results of this study, it can be concluded, namely, (1) The existence of Suluk during the Achmad period looks quite good with an increase in the number of Suluk congregations, (2) Suluk has developed quite rapidly, this is evidenced by the construction of quite a lot of Suluk Surau, (3) for the community. Suluk is very influential in everyday life in society

    SEJARAH PERKEBUNAN GAMBIR DI KABUPATEN LINGGA (1970-2015)

    Get PDF
    Plantations in Indonesia has been known since the arrival of the Dutch colonial in Indonesia Although the glory of gambir in riau islands ended in 1970, but for Lingga Regency the success of gambir plantations persisted in that year, evidenced by one of the Tioghoa residents named Hainan opened gambir ward in Lingga Regency located in Kudung Village. The method used is the historical research method. According to Louis Gottschalk, the historical method is the process of critically testing and analyzing records and relics of the past. With the method of history can also be reconstructed as many events as the human past. The 1970s and 1990s were a lucrative year for Mok ciu keng\u27s and Ameng gambir plantations where the family\u27s plantations were able to penetrate the export market to Japan

    Perkembangan Motif Batik Bono Sebagai Identitas Kabupaten Pelalawan Berbasis Kearifan Lokal (2013-2020)

    Get PDF
    Batik Bono merupakan batik khas Kabupaten Pelalawan hasil produksi dari Rumah Batik Andalan yang hadir melalui kerjasama antara pemerintah dan perusahaan dalam bidang usaha mikro kecil dan menengah. Nama Bono sendiri diambil dari fenomena alam yang terjadi di muara sungai Kampar. Mitos dalam masyarakat, bono yang merupakan jelmaan 7 hantu yang sering menenggelamkan kapal dan  memakan korban sehingga menimbulkan ketakutan di tengah masyarakat Dalam perkembangannya, Batik Bono sudah memilikii 5 motif yang diakui hak ciptanya oleh Kemenkumham dan sudah bersertifikat SNI. Penelitian ini membahas mengenai perkembangan motif Batik Bono sebagai identitas Kabupaten Pelalawan berbasis kearifan lokal. Adapun tujuan dalam penelitian ini yaitu: 1)untuk mengetahui sejarah Batik Bono sebagai identitas Kabupaten Pelalawan, 2)untuk mengetahui perkembangan motif pada Batik Bono Kabupaten Pelalawan, 3)untuk mengetahui pelestarian Batik Bono sebagai identitas Kabupaten Pelalawan, dan 4)untuk mengetahui dampak dari Batik Bono. Dalam penelitian ini menggunakan metode sejarah. Hasil dari penelitian ini adalah perkembangan industry kecil ini yang mampu berdiri secara mandiri dan berkelanjutan. Terlepas dari itu peran seluruh lapisan masyarakat tetap harus ditingkatkan agar Batik Bono ini tetap eksis menjadi Icon/Ciri khas/Identitasnya Kabupaten pelalawan. Kehadiran dari Batik Bono ini berdampak pada seluruh sektor mulai dari perekonomian yang membantu membantu pemenuhan kebutuhan hidup bagi para masyarakat yang tergabung di dalam Rumah Batik Andalan, sektor pariwisata yang mengangkat potensi wisata ombak bono, hingga sosial yang membuat Kabupaten Pelalawan memiliki cenderamata khasnya tersendiri
    corecore