21 research outputs found
Persepsi Masyarakat Terhadap Karakter Taman Kota Studi Kasus Taman Menteri Supeno di Semarang
Abstrak— Taman kota sebagai bagian dari ruang publik,
sering tidak disadari oleh masyarakat kota akan
peranannya di dalam menyelaraskan pola kehidupan kota
yang sehat. Pemanfaatan ruang taman kota cenderung
rnenyimpang dari fungsinya, adanya perubahan aktifitas di
dalam taman menunjukan kekurang-pahaman masyarakat
kota di dalam memanfaatkan taman kota terhadap
keseimbangan kehidupan lingkungan kota.
Makna yang sangat dalam mengenai kota yang
berwawasan lingkungan adalah selalu menghadirkan
taman yang hijau menjadi elemen utama yang tidak dapat
ditinggalkan begitu saja. Bahkan karakter masyarakat
sebuah kota dapat tercermin pada perilaku masyarakat kota
di dalam memanfaatkan taman kota. Begitu berperanya
taman kota terhadap pemenuhan kebutuhan masyarakat
kota akan fasilitas ruang publik, sehingga memerlukan
pemikiran yang tidak bisa dilakukan dengan upaya yang
kurang bijaksana. Salah satu dari upaya, memikirkan peran
taman kota terhadap lingkungannya adalah dengan
mengetahui tingkat pemahaman masyarakat akan bentuk
visual tata hijau yang ada di dalam taman tersebut melalui
kelompok masyarakat yang sudah baik tingkat
kepahamannya tentang taman di perkotaan. Dengan
demikian akan dapat diketahui tingkat ketertarikan
masyarakat kota terhadap keberadaan taman kota.
Taman Menteri Supeno yang belokasi di depan
SMUN 1 Semarang, merupakan salah satu taman aktif
kota yang ada di Semarang yang mempunyai karakter
cukup baik dari konsep urban design, karena merupakan
bagian dari ruang terbuka utama kota Semarang yang
berpusat di kawasan Simpang Lima. Adanya berbagai
macam aktivitas yang terjadi di Taman Menteri Supeno
dapat mengakibatkan berbagai macam persepsi masyarakat
yang timbul.
Kata kunci: masyarakat, persepsi, karakter, Taman Menteri
Supeno.
I. PENDAHULUAN
1st Author A, Name, Institution, Address, Phone/fax number, Email
Address (Times New Roman 8).
1) Arief Aryo Adinata, Universitas Diponegoro Semarang, Jl. Tumpang
Raya 50, 085641227777, [email protected]
2) Titien Woro Murtini, Universitas Diponegoro Semarang, Jl. Gombel
Permai VII/190, 0816652697, [email protected]
3) Wijayanti, Universitas Diponegoro Semarang,
Kota adalah merupakan wujud fisik yang
dihasilkan oleh manusia dari waktu ke waktu yang
bertungsi untuk mewadahi aktifitas hidup masyarakat kota
yang kompleks dan luas. Oleh karena itu pertumbuhan
fisik kota sering menimbulkan permasalan bagi lingkungan
perkotaan maupun sosial masyarakat kota.
Salah satu kebutuhan kota adalah tersedianya
ruang-ruang terbuka untuk mewadahi kebutuhanan
masyarakat dalam melakukan aktifitas sekaligus untuk
mengendalikan kenyamanan iklim mikro dan keserasian
estetikanya.
Pada kenyataannya ruang terbuka di dalam kota
sering terdesak oleh pertumbuhan massa dari gedunggedung
bangunan yang cenderung untuk menutup
permukaan tanah sehingga dikhawatirkan terhadap
pengurangan infiltrasi air ke dalam tanah dan juga
menimbulkan potensi iklim mikro menjadi panas. Gejata
anti ruang juga semakin banyak ditemui didalam
pembangunan di bagian kota, yaitu terlihat dengan
semakin padatnya massa bangunan di pusat-pusat kota.
Permasalahan yang mengakibatkan menurunnya
perhatian terhadap ruang terbuka hijau didalam kota
karena kebutuhan penduduk kota yang membutuhkan
bangunan-bangunan yang semakin memadati ruang
terbuka di dalam kota. Selain itu sering dijumpai adanya
perencanaan yang tidak matang di dalam meletakan
fasilitas kota baik itu untuk kegiatan formal maupun
informal masyarakat perkotaan dengan menggunakan
ruang terbuka hijau yang sebelumnya sudah ada.
Taman kota sebagai bagian dari ruang publik,
sering tidak disadari oleh masyarakat kota akan
peranannya di dalam menyelaraskan pola kehidupan kota
yang sehat. Pemanfaatan ruang taman kota cenderung
rnenyimpang dari fungsinya, adanya perubahan aktifitas di
dalam taman menunjukan kekurang-pahaman masyarakat
kota di dalam memanfaatkan taman kota terhadap
keseimbangan kehidupan lingkungan kota.
Sebenarnya apabila diperhatikan peran taman terhadap
kota adalah untuk mengembalikan perkembangan kota agar
tetap bertumpu pada keseimbangan alam. Makna yang
sangat dalam mengenai kota yang berwawasan lingkungan
adalah selalu menghadirkan taman yang hijau menjadi
elemen utama yang tidak dapat ditinggalkan begitu saja.
Bahkan karakter masyarakat sebuah kota dapat tercermin
pada perilaku masyarakat kota di dalam memanfaatkan
taman kota. Begitu berperanya taman kota terhadap
pemenuhan kebutuhan masyarakat kota akan fasilitas ruang
publik, sehingga memerlukan pemikiran yang tidak bisa
dilakukan dengan upaya yang kurang bijaksana. Salah satu
dari upaya, memikirkan peran taman kota terhadap
lingkungannya adalah dengan mengetahui tingka
INTERNATIONAL TRADE DISPUTE SETTLEMENT THROUGH DISPUTE SETTLEMENT BODY (DSB) AND INTERNATIONAL ARBITRATION BODY
The current trend in international trade is growing rapidly, along with these developments, the problems occurring in trade transactions are also increasing on the other hand the disputes arising in international trade are also increasing, under such conditions it is necessary to have greater legal role to overcome international trade issues. Several international trade dispute settlement institutions have been established but have not been well known and maximized in resolving international trade disputes whereas dispute settlement institutions play a huge role in the effort to create economic stability and world trade. Dispute resolution agencies that need special attention are Dispute Settlement Body and International Arbitration. In this article author using the goodfaith theory as the importand principle in the dispute dispute of international business. The author would like to disclose some international trade dispute settlement which becomes the choice for disputing countries so that the writer can formulate the following problem of Settlement of international trade disputes through the Dispute Settlement Body (DSB) of the World Trade Organization (WTO) and international trade disputes through international arbitration bodies.
Keywords: international trade dispute, dispute settlement, Arbitratio
Legal capacity in online loan transactions (The study on legal personal liability theory)
Purpose: This study aims to determine how the law views the aspect of legal capacity in conducting online loan transactions and the exact aspect of legal capacity in the context of the Legal Personal Liability theory.
Research Methodology: This research employed a blended aspect by using a statutory approach, case approach, and theoretical approach.
Results: The author claims that the understanding of legal capacity in the legal aspect that measures age and status is inappropriate, and legal capacity must be interpreted not only in terms of age or status but it must also be interpreted more broadly, involving the ability of the parties to make decisions and the ability of the parties to carry out what has been decided by prioritizing legal personal liability.
Limitations: The author argues that positioning Legal personal Liability is very important in Loan transactions. Legal capacity should not be merely interpreted in terms of age and status aspect but it should take broad interpretation because related awareness to implement the agreement has been made. The restrictions of legal capacities based on the law in Indonesia are to be analyzed using the theory of Legal Personal Liability.
Contribution: This study is expected to educate and be useful to lecturers, legal practitioners, loan business practitioners, policymakers, the financial service authority, and all the members of the public performing loan transactions
Kajian Yuridis Penyelesaian Sengketa Medik di Indonesia
The higher level of education and welfare of the community will make the level of legal awareness of the community higher too, in the present context health care is not only seen as an ordinary relationship but has become a legal relationship between health workers and patients, in that relationship disputes can occur between the two sides parties, in fact many cases / medical disputes are directly processed criminally, Indonesian law has stipulated that if a case occurs then it can be resolved through administrative, civil and criminal law, the purpose of this study is to examine the main priorities of medical dispute resolution in case of suspected error and / or negligence committed by health workers. This paper is an idea and legal study that the author peels normatively. The results of the study indicate that if there is a suspicion of error and / or negligence made by a health worker must be checked first by an honorary assembly and sought as far as possible mediated
Keragaan Agronomi Galur-galur Kedelai Potensial pada Dua Agroekologi Lahan Kering Masam
Performance of soybean growth and development is influenced by environmental conditions. On similar soil fertility conditions but different environmental conditions such as rainfall will also lead the changes in the performance of the plant. The research aimed to study the agronomic performance of the potential soybean lines in two different drought acid land agroecologies. The experiment was conducted at the South Lampung Tegineneng experimental station and East Lampung Taman Bogo experimental station from February until May 2013. The South Lampung Tegineneng experimental station has a pH of 5.50 and an average rainfall of 89 mm per month, and The East Lampung Taman Bogo experimental station has a pH of 5.12 and an average rainfall of 213 mm per month. The experiment consisted of 10 soybean lines adapted acid land and two check varieties. The experiment was arranged in randomized completely block design with four replications. The least significant different test (LSD) at α = 0.05 was used to calculate significant differences among all treatments. The results showed that rainfall influenced agronomic performance of soybean more than soil acidity. The yield performance in South Lampung was lower than in the East Lampung. Four genotypes produced higher grain yield than the Tanggamus variety in both locations, i.e. Tgm/Anj-862, Tgm/Anj-784, Tgm/Anj-888 Tgm/Anj-857, and Tgm/Anj-858. Tgm/Anj-862 was the most superior genotypes for having the highest number of branches, number of pods, and 100-seeds weight and seed yield and consistent at both locations. The four genotypes, especially Tgm/Anj-862, were potential to be developed in both locations or other locations with similar environmental conditions.Keywords: grain yield, ultisol, yield components</jats:p
Tanggap Tanaman Ubikayu Terhadap Pupuk Formula a Dan B
Ubikayu memiliki prospek bagus di masa depan karena empat hal, yaitu peningkatan kebutuhan bahan baku untuk(1) pangan, (2)pakan, (3) industri, dan (4) farmasi. Penelitian bertujuan meramu formula pupuk lengkap spesifik untuk ubikayu. Percobaan lapangandilaksanakan di dua lokasi, yaitu Desa Krebet, Kecamatan Masaran dan Kebun Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kabupaten Sragen. Rancangan percobaanadalah acak kelompok (RAK), dengan dua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah macam pupuk, ada lima macam, yaitu : Formula A, Formula B, NPK Holland 15-15-15, Phonska 15-15-15, dan Formula B+pupuk organik. Faktor kedua adalah takaran pupukterdiri atasempat level, yaitu 0, 0,5, 1, dan 1,5 kali rekomendasi. Takaran rekomendasi 400 kg/ha.Pupuk Formula A pupuk NPK 15-6-18, dan Formula B adalah NPKCaMg 15-10-18-5-5.Percobaan menggunakan varietas unggulUJ 5 untuk desa Krebet dan Kaspro untuk kebun BPP Sragen.Percobaandilaksanakan pada Desember 2011 hingga Setember 2012.Data yang diamati adalah tinggi tanaman, hasil ubi, dan kadar pati ubi, analisis kimia tanah dan pupuk, serapan hara N,P,K. Hasil penelitian menunjukkanpupuk Formula A dan Formula B meningkatkan pertumbuhan tanaman dan hasil ubikayu seperti pupuk pembanding Holland ataupun Phonska. Hal ini menunjukkan bahwa pupuk Formula A dan Formula B memiliki kelayakan teknis sama seperti Holland maupun Phonska.Takaran pupuk dari masing-masing formula meningkatkan pertumbuhan dan hasil ubikayu. Hasil ubikayu berkisar antara 13– 32 t/ha untuk Desa Krebet dan antara 16 - 40 t/ha untuk kebun Balai Penyuluhan Pertanian Kabupaten Sragen. Hasil ubikayu tertinggiyang dapat dicapai 32,14 t/ha di desa Krebet dengan pemupukan 400kg/ha pupuk NPK Phonska dan 40,81 t/ha di kebun BPP Sragen dengan pemupukan 400 kg/ha Formula B dikombinasi dengan 5 t/ha pupuk organik. Rendemen pati ubikayu berkisar antara 20 - 29%untuk desa Krebet dan antara 23 -29% untuk ubikayu di kebun BPP Sragen. Peningkatan takaran pupuk mampu meningkatkan rendemen pati ubikayu. Rendemen tertinggi dicapai pada takaran 600 kg/ha dengan pupuk Formula A.Kesimpulan menunjukkan bahwa pupuk Formula A maupun Formula B memiliki kelayakan teknis dan cocok untuk tanaman ubikayu serta memiliki nilai kompetitif yang sebanding dengan pupuk Holland maupun Phonska.Untuk mempercepat penyebaran dan adopsi penggunaan pupuk Formula A dan Formula B disarankan perlunya sosialisasi dengan mengadakan demplot pupuk di tingkat kelompok tani di daerah-daerah sentra produksi ubikayu
Perspektif Theory of Planned Behavior Kaitannya dengan Intensi Berwirausaha: Peran Gender sebagai Moderator
TANGGAP TANAMAN UBIKAYU TERHADAP PUPUK FORMULA A DAN B
Ubikayu memiliki prospek bagus di masa depan karena empat hal, yaitu peningkatan kebutuhan bahan baku untuk(1) pangan, (2)pakan, (3) industri, dan (4) farmasi. Penelitian bertujuan meramu formula pupuk lengkap spesifik untuk ubikayu. Percobaan lapangandilaksanakan di dua lokasi, yaitu Desa Krebet, Kecamatan Masaran dan Kebun Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kabupaten Sragen. Rancangan percobaanadalah acak kelompok (RAK), dengan dua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah macam pupuk, ada lima macam, yaitu : Formula A, Formula B, NPK Holland 15-15-15, Phonska 15-15-15, dan Formula B+pupuk organik. Faktor kedua adalah takaran pupukterdiri atasempat level, yaitu 0, 0,5, 1, dan 1,5 kali rekomendasi. Takaran rekomendasi 400 kg/ha.Pupuk Formula A pupuk NPK 15-6-18, dan Formula B adalah NPKCaMg 15-10-18-5-5.Percobaan menggunakan varietas unggulUJ 5 untuk desa Krebet dan Kaspro untuk kebun BPP Sragen.Percobaandilaksanakan pada Desember 2011 hingga Setember 2012.Data yang diamati adalah tinggi tanaman, hasil ubi, dan kadar pati ubi, analisis kimia tanah dan pupuk, serapan hara N,P,K. Hasil penelitian menunjukkanpupuk Formula A dan Formula B meningkatkan pertumbuhan tanaman dan hasil ubikayu seperti pupuk pembanding Holland ataupun Phonska. Hal ini menunjukkan bahwa pupuk Formula A dan Formula B memiliki kelayakan teknis sama seperti Holland maupun Phonska.Takaran pupuk dari masing-masing formula meningkatkan pertumbuhan dan hasil ubikayu. Hasil ubikayu berkisar antara 13– 32 t/ha untuk Desa Krebet dan antara 16 - 40 t/ha untuk kebun Balai Penyuluhan Pertanian Kabupaten Sragen. Hasil ubikayu tertinggiyang dapat dicapai 32,14 t/ha di desa Krebet dengan pemupukan 400kg/ha pupuk NPK Phonska dan 40,81 t/ha di kebun BPP Sragen dengan pemupukan 400 kg/ha Formula B dikombinasi dengan 5 t/ha pupuk organik. Rendemen pati ubikayu berkisar antara 20 - 29%untuk desa Krebet dan antara 23 -29% untuk ubikayu di kebun BPP Sragen. Peningkatan takaran pupuk mampu meningkatkan rendemen pati ubikayu. Rendemen tertinggi dicapai pada takaran 600 kg/ha dengan pupuk Formula A.Kesimpulan menunjukkan bahwa pupuk Formula A maupun Formula B memiliki kelayakan teknis dan cocok untuk tanaman ubikayu serta memiliki nilai kompetitif yang sebanding dengan pupuk Holland maupun Phonska.Untuk mempercepat penyebaran dan adopsi penggunaan pupuk Formula A dan Formula B disarankan perlunya sosialisasi dengan mengadakan demplot pupuk di tingkat kelompok tani di daerah-daerah sentra produksi ubikayu
Critical Stylistics Study Of Serial Killer Characters and Their Representations in The Fictional Series Criminal Minds Evolution
This research aims to analyze how the characters and representations of serial killers in fictional series are depicted. The data source used in this research is dialogue transcripts from the fictional series Criminal Minds Evolution, which consists of ten episodes. The research was conducted using the observation method. Data analysis uses Critical Stylistics Analysis tools specifically for Naming and Describing, Representing Actions/Events/States, and Equating and Contrasting tools. The research results obtained the following conclusions: 1) The author tends to use Naming, Material Action Intentional, Mental Cognition, and Equating tools in depicting the characters of serial killers. 2) The author represents serial killers as males, citizens of the United States, in of a various range of ages, have families, have psychopathic traits, are organized and methodical, have a variety of social and occupational statuses, and have a motive for revenge
