16 research outputs found

    أسباب نزول آيات الجهاد عند الواحدي وأثرها في التفسير

    No full text
    Asbab al-Nuzül merupakan salah satu disiplin ilmu yang penting dalam mengungkap maksud sebenarnya diturunkannya ayat dalam Al-Qur'an dan juga merupakan salah satu syarat yang harus dikuasai oleh para ulama yang hendak menafsirkan Al-Qur'an di samping ilmu-ilmu lainnya. Ilmu ini dipandang mempunyai urgensi yang besar dalam usaha penafsiran ayat-ayat Al-Qur'an. Oleh sebab itu, bagi siapa saja yang belum mengetahui latar belakang turunnya ayat (Asbäb al-Nuzül) atau bahkan tidak tahu sama sekali maka tidak akan mampu memahami makna Al-Qur'an dengan benar. Bahkan tidak banyak dari sebagian masyarakat memperhatikan ilmu ini, sehingga timbul dari mereka yang salah dalam memahami makna sebenarnya diturunkannya ayat dalam Al-Qur'an, tidak terkecuali pada ulama Al-Wahidi dengan sangat memperhatikan ilmu ini dalam penafsiran ayat-ayat Al-Qur'an, sehingga banyak para ulama dan mufasir mengambil Asbab al-Nuzül kepadanya. Berdasarkan paparan diatas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemikiran Al-Wahidi tentang Asbab al-Nuzül ayat-ayat jihad dalam Al-Qur'an surat Al-baqarah ayat 190, Al-Qur'an surat Al-Hajj ayat 39 dan Al-Qur'an surat An-Nisa' ayat 95 dalam bukunya dan tafsirnya yang berlandaskan dalil naqly yang utama, dan dalil aqly sebagai penunjangnya, dan juga dari para ulama maupun mufasirin sebelum dan sesudahnya yang memperhatikan Asbäb al-Nuzül. Sumber data yang digunakan peneliti adalah data primer berupa beberapa literatur dan buku-buku yang mengupas pemikiran Al-Wähidi tentang Asbab al-Nuzül ayat-ayat Jihad. Data sekunder dari data-data yang mendukung data primer. Data-data penelitian ini didapatkan dengan metode deskriptif analisis yaitu dengan menguraikan pemikiran Al-Wahidi tentang Asbab al-Nuzül ayat-ayat jihad serta menganalisa hubungannya dengan pemikir-pemikir para ulama yang berkaitan dengan masalah tersebut. Dari hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa tidak semua ayat-ayat jihad dalam Al-Qur'an memiliki sebab turunya ayat, akan tetapi hanya sebagian ayat saja. Dalam penguraian Asbab al-Nuzül Al-Wahidi mempunyai ciri khas tersendiri dalam pemanfatannya dan pemakaianya, diantaranya, dalam Asbäb al-Nuzül ayat-ayat jihad Al- Wähidi menguraikan periwayatan hadist (sanad) akan tetapi tidak menyebutkan nama perawinya (Takhrijnya), dan terkadang juga menguraikan keduannya yaitu riwayatnya dan nama perawinya, ataupun tidak menyebutkan keduanya. Jika dalam suatu ayat terdapat perselisihan perkataan dalam Asbab al-Nuzül ayat, maka Al-Wahidi tidak menjelaskan mana perkataan yang lebih benar dalam Asbab al-Nuzül, dan juga tidak memberikan penjelasan mengenai kualitas riwayat-riwayat dalam Asbab al-Nuzül shahih atau dha 'ifnya. Kemudian, dalam penguraian Asbab al-Nuzül Al-Wahidi juga menguraikan Asbab al-Nurül berdasarkan pada tertibnya surat dalam Al-Quran dari awal surat Al-Fatihah sampai ahir surat An-Näs dan tertibnya ayat dalam surat, kemudian menyebutkan ayat bersamaan dengan Asbab al-Nuzülnya, Al-Wahidi juga mengambil Asbab al-Nuzul dari perkatan para sahabat-sahabat, para tabi'in dan para mufasir atau dari perkataanya sendiri. Dari hasil analisis tersebut, penulis mendapati bahwa tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan, maka penulis berharap agar peneliti selanjutnya dapat meneliti dan mengkaji lebih dalam lagi tentang Asbab al-Nuzül Ayat-Ayat Jihad, khususnya dalam pandangan Al-Wahidi. Semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat bagi penulis dan bagi pembaca lainnya

    Mengungkap Rahasia Besi dalam Al-Qur’ān Menurut Zaģlul Rāģib Muḥammad An-Najjār (Pendekatan At-Tafsīr Al-Ίlmī)

    Get PDF
    Besi merupakan unsur paling banyak digunakan dalam dikehidupan ini, banyak ilmuwan mengkaji tentang besi, mulai dari proses terbentuknya besi, sejarah besi, manfaat besi dan lain sebagainya. Dalam al-Qur’an kata besi disebutkan 6 kali dalam surat dan ayat berbeda. Namun, literatur yang membahas tentang besi dari sudut Sains dan Agama Islam masih sangat langka dan masih jauh dari fokus dalam kaitan sains modern, adapun literatur yang membahas masalah ayat-ayat kauniyah tentang besi masih sedikit disinggung. Peneliti ingin membahas tentang besi dalam al-Qur’an menurut Zaģlul Rāghib Muḥammad An-Najjār. Metode dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif untuk menjelaskan pandangan Zaģlul Rāghib Muḥammad An-Najjār pada besi dan ditambahkan dengan pendapat para mufassir dan ilmuwan lainnya. Artikel ini menyimpulkan bahwa besi merupakan unsur yang berasal dari pecahan bintang, proses tersebut terjadi 15 juta tahun lalu, ada 2 unsur yang terdapat di dalam besi yaitu gas hidrogen dan gas helium. Kekuatan dan kehebatan besi dilihat dari sisi jumlah, atom dan kekuatan material nya. Dan manfaat besi terbagi menjadi 4 bidang, diantaranya: material dan konstruksi, geologi dan geofisika, kesehatan dan botani

    Ru’yatullah perspektif Mu’tazilah dan Ahl al Sunnah Wa al Jamā’ah: studi komparatif Tafsīr al Kasshāf karya al Zamakhshary dan Mafātīḥ al Ghayb karya al-Rāzī

    Get PDF
    Para muffasir berbeda pendapat mengenai ayat-ayat ru’yatullah. Muffasir Mu’tazilah menyatakan bahwa Allah mustahil dapat dilihat. Sementara mayoritas muffasir Sunni menetapkan bahwa Allah dapat dilihat. al-Zamakhshary penganut Mu’tazilah (dalam aqidah), cenderung dan fanatik terhadap ajaran Mu’tazilah. Dalam hal ini, berpengaruh ketika ia menafsirkan ayat-ayat ru’yatullah. Menurutnya, Allah mustahil dapat dilihat. Ia berpedoman pada ayat mengambarkan Allah tidak dapat dilihat. Sementara al-Rāzī penganut Sunni (dalam aqidah), menolak pendapat Mu’tazilah dalam persoalan teolgi ru’yatullah. Menurutnya Allah dapat dilihat. Perbedaan pendapat antara keduanya dikarnakan latar belakang yang berbeda. Permasalahan dalam penelitian ini setidaknya ada dua; Bagaimana perbedaan dan persamaan penafsiran ayat-ayat ru’yatullah antara al-Zamakhshary dan al-Rāzī? Bagaimana latar belakang yang mendorong perbedaan penafsiran antara al-Zamakhshary dan al-Rāzī dalam menafsirkan ayat-ayat ru’yatullah? Jenis penelitian ini adalah kepustakaan (library research) dengan menggunakan metode pengumpulan data dokumentasi. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan metode interpretasi data dan metode analisis isi (conten analysis) dengan pendekatan ilmu tafsir. Penelitian ini menghasilkan dua poin sebagai berikut. Poin pertama, perbedaan dan persamaan penafsiran. Segi perbedaan yaitu dari aspek tafsir dan metode penafsiran. Aspek tafsir, al-Zamakhshary meniadakan ru’yatullah kapanpun, dimanapun, oleh siapapun. al-Rāzī meyakini ru’yatullah dapat terjadi kelak di Akhirat, sementara di dunia bisa saja terjadi namun karena kelemahan potensi penglihatan maka Allah belum dapat dilihat. Aspek metode, al-Zamakhshary menggunakan metode dialog, ta’wīl, bahasa/gramatikal bahasa Arab, penafsiran tidak bertele-tele. al-Rāzī menggunakan metode tafsir ayat dengan ayat lain dan hadits, penafsirannya panjang lebar, satu ayat dijadikan beberapa masalah, banyak memaparkan pendapat ulama tafsir, bahasa, kalam, penafsiran cenderung bercorak falsafi i'tiqadi, melemahkan argumen Mu’tazilah dari dalil aqli dan naqli. Segi persamaan, al-Rāzī mengutip pendapat al-Zamakhshary dari segi bahasa, keduannya menggunakan pendekatan subjektif yaitu menafsirkan ayat untuk membela, kepentingan akidahnya. Menggunakan metode tafsīr bi al-ra’y, dan menyebutkan ayat terlebih dahulu lalu menafsirkannya. Poin kedua, latar belakang yang mendorong perbedaan penafsirannya adalah; latar belakang kehidupan, al-Zamakhshary dibesarkan dilingkungan Mu’tazilah. al-Rāzī hidup pada masa penuh dengan pertikaian pemikiran idiologi Sunni dengan Mu’tazilah. Latar belakang pendidikan, al-Zamakhshary berguru pada ulama fanatik terhadap ajaran Mu’tazilah dan ahli bahasa. al-Rāzī berguru kepada ayahnya ahli fiqih dan usul dan banyak belajar karya-karya filsafat Muslim. Latar belakang akidah dan mazhab, al-Zamakhshary berakidah Mu’tazilah dan bermazhab Hanafi. al-Rāzī berakidah al-Ash’ary dan bermazhab al-Shāfi’i

    KONSEP ETIKA DALAM AL-QUR’AN DAN PENGARUHNYA DALAM PERDAMAIAN (STUDI TEMATIK)

    Get PDF
    Etika merupakan ilmu tentang baik buruknya suatu perbuatan manusia atau dalam kata lain etika digunakan untuk meninjau perbuatan manusia dari sisi keilmuan. Etika sangat diperlukan dalam kehidupan manusia karena tanpa etika tersebut maka kehidupan berbangsa dan bernegara tidak akan berjalan dengan tentram, damai, dan rukun. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim maka sangat penting memahami dan merealisasikan pentingnya etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara karena pada hakikatnya ajaran Islam yang dibawakan oleh Nabi Muhammad SAW memiliki misi profetis untuk menyempurnakan akhlak mulia. Al-Qur’an mengajarkan bahwa tujuan Allah SWTmenciptakan umat manusia yang berbeda-beda suku dan bangsa agar saling mengenal dan berhubungan satu dengan yang lain dengan damai. Melihat permasalahan tersebut, tujuan dari penelitian ini adalah pertama, mengetahui pengertian etika dalam Al-Qur’an. kedua, menjelaskan pengaruh etika dalam kedamaian.Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan tematik dengan mengumpulkan ayat yang berkaitan dengan judul penelitian. Penelitian ini termasuk penelitian kepustakaan (Library Research), dengan mengumpulkan data-data informasi dari buku-buku maupun jurnal, kemudian menggunakan metode deskriptif dan analitis. Hasil penelitian ini sebagai berikut: pertama, pengertian etika dalam Al-Qur'an adalah nilai-nilai, tata cara hidup yang baik, aturan hidup yang baik, dan segala kebiasaan yang dianut dan diwariskan dari satu orang ke orang lain atau dari satu generasi ke generasi yang lainnya agar dapat membentuk masyarakat yang harmonis dan damai. Dan juga memiliki tujuan untuk kemuliaan manusia atau melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan. kedua, pengaruh etika dalam perdamaian adalah mengungkapkan kesadaran akan rasa tanggung jawab kita sebagai manusia dalam kehidupan bersama dan dengan adanya etika maka manusia dapat bersosialisasi dengan makhluk lainnya karena manusia memiliki berbagai sifat dan prilaku tersendiri, yang juga berhubungan dengan kehidupan suatu komunitas masyarakat, baik berkaitan dengan masalah agama, politik, adat istiadat, bahasa, pakaian, dan hal lainnya

    Aspek-aspek Perumpamaan Munafik dalam Al-Qur’an Menurut Ibn Qayyim Al-Jauziyyah (Dira>sah Maudhu>'i>)

    No full text
    l Al-Qur’a>n adalah salah satu kajian dalam bidang Ulu>m AlQur’a>n yang sangat penting untuk dikaji, selian itu juga Amtsal Al-Qur’an merupakan visualisasi abstrak yang dituangkan dalam berbagai ragam kalimat dengan cara menganalogikan sesuatu dengan hal yang serupa dan sebanding, maka untuk dapat memahami secara baik dan benar memerlukan pemikiran yang cermat dan mendalam untuk memahami maksud dari Amtsa>l tersebut. Di dalam Al-Qur’an Allah membuat perumpamaan yang bermacam-macam, ada perumpamaan ditujukan untuk orang beriman dan juga ada yang ditujukan untuk orang kafir, disini peneliti memfokuskan kajian terhadap perumpamaan yang ditujukan untuk orang munafiq, beberapa bentuk perumpamaan yang ditujukan kepada orang munafik memberikan pertanyaan-pertanyaan, seperti contoh orang munafik di perumpamakan seperti membawa api di dalam kegelapan, di ayat lain diperumpamakan seperti kayu yang bersandar. Apa maksud dari perumpamaan yang diberikan untuk orang munafik tersebut? Bukankah Amtsa>l al- Qur’a>n memberikan kalimat-kalimat yang dipahami oleh logika?, Dari sini peneliti ingin menguraikan pandangan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah tentang perumpamaan munafiq dalam Al- Qur’a>n dalam Tafsirnya Bada>’I At-Tafsi>r, karena dalam tafsirnya, Ibnu Qayyim menggunakan corak bahasa dalam menjelaskan perumpamaan munafik secara jelas. Penelitian ini menerapkan metode analisis teks dan deskriptif-analisis untuk menelaah rujukan utama Tafsi>r Bada>’I At-Tafsi>r dalam al-Qur'an yang berkenaan dengan masalah di atas. Artikel ini menyimpulkan bahwa Ibnu Qayyim dalam menjelaskan setiap perumpamaan orang munafik dengan dijelaskan bagaimana keadaan orang munafik pada saat itu dengan susunan bahasa yang kuat sehingga menjadi tafsiran yang sangat mudah untuk dimengerti

    RAHASIA AYAT QASAM DALAM AL-QUR’AN JUZ 30 MENURUT IBNU ‘ASYUR DALAM KITAB TAFSIR AT-TAHRIR WA AT-TANWIR

    Get PDF
    Qasam adalah sebuah gaya Bahasa dan diartikan sebagi ungkapan yang dipakai untuk memberikan penegasan atau pengukuhan suatu pesan dengan menggunakan kata-kata qasam atau biasa yang disebut adat qasam. Dizaman modern sekarang ini banyak para penghafal al-Qur’an hanya sekedar menghafal saja tanpa memahami maksud dan tujuan dari ayat Qur’an. Salah satu permasalahn yang sangat besar banyak sekali umat muslim yang sering bersumpah dengan menyebut nama makhluk seperti bersumpah dengan kehormatan makhluk dan lain sebagainya dengan menyebutkan kata sumpah itu mereka berfikir mereka akan mendapatkan sebuah kebenaran. Penelitian ini termasuk penelitian kepustakaan (Library Research), dengan mengumpulkan data primer dan sekunder. Sumber data primer yaitu tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir karya Ibnu ‘Asyur, sebagai sumber data sekunder menggunakan metode deskriptif dan analisis

    Homoseksualitas Dalam Al-Qur’an dan Implikasinya Terhadap Maqashid Qur’an: Telaah Atas Pemikiran Ibnu ‘Asyur Dalam Tafsir

    No full text
    Homosexual is a sexual perversion, and this treatment was first carried out by the prophet Lut A.S called the Liwat or Sodom, and their treatment is mentioned in 4 surah called al-Fahisyah, Mujrimin, Musrifin, Mufsidin, and Tajhalun, from these sentences show that homosexual behavior is completely contrary to the nature of Man and Maqashid of Quran which is the reason for the prohibition of despicable acts, and one of the mufassir who focused his interpretation into the Maqashid of Quran was Thahir Ibn Asyur. and the article attempts to examine how the prohibition of homosexuality in the Qur'an and its effect on the Maqashid of Quran, according to Thahir Ibn Asyur. For this reason, the Descriptive and Analysis method, the Descriptive method is used to describe the object of the collected data, and the Analysis method is used to analyze the collected data, so as to explain how Thahir Ibn Asyur's views in the Prohibition of Homosexuality and its influence on Maqashid of Quran. The result is that the prohibition of homosexuality greatly affects the Maqashid of Quran according to Thahir Ibn Asyur that is to damage the aqidah (Ishlahul I'tiqad wa ta'lim al-aqdi as-shohih), corrupting Akhlaq  (Tahdzibu al-Akhlaq), violating the Shari'ah (at-Tasyri'), destroying unity (Siyasatu al-Ummah), the ungodly (al-Qisas wa akhbar ummah as-Salifah), the example of (the ungodly (at-Ta'lim fima yunasibu halati 'asri al-Mukhotobin), And itis the prohibition of homosexuality that maintains the balance of the Maqashid of Quran.Homoseksual adalah penyimpangan seksual, perlakuan ini pertama kali di lakukan oleh kaum Nabi Luth A.s yang di sebut dengan kaum Liwat atau kaum Sodom, dan perlakuan mereka tersebut di sebutkan di dalam 4 surah dengan Sebutan al-Fahisyah, Mujrimin, Musrifin, Mufsidin, dan Tajhalun, dari kalimat-kalimat tersebut menunjukkan bahwa perilaku Homoseksual sangat bertentangan dengan fitrah Manusia dan Maqashid al-Qur’an yang menjadi alasan dilarangnya perbuatan-perbuatan tercela, dan salah satu mufassir yang memfokuskan penafsiarnnya ke dalam Maqashid al-Qur’an adalah Thahir Ibnu Asyur. Penelian mencoba untuk mengkaji bagaiamana pengaharaman Homoseksual dalam al-Qur’an dan Pengaruhnya terhadap Maqashid al-Qur’an Menurut Thahir Ibnu Asyur. Metode yang digunakan adalah metode Deskriptif dan Analisis, metode Deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan objek pada data-data yang terkumpul, dan metode Analisis digunakan untuk menganalisis data yang terkumpul, sehingga dapat menjelaskan bagaiamana pandangan Thahir Ibnu Asyur dalam Pengharaman Homoseksual beserta pengaruhnya terhadap Maqashid al-Qur’an. Hasil dari penelitian ini bahwa pengaharaman Homoseksual sangat berpengaruh terhadap Maqashid al-Qur’an yaitu pertama, merusak aqidah (Ishlahul I’tiqad wa ta’lim al-aqdi as-soshih), kedua, merusak Akhlaq (Tahdzibu al-Akhlaq), ketiga, melanggar syari’at (at-Tasyri’), keempat, menghancurkan persatuan (Siyasatu al-Ummah), kelima, umat yang durhaka (al-Qisas wa akhbar ummah as-Salifah), contoh umat durhaka (at-Ta’lim fima yunasibu halati ‘asri al-Mukhotobin), Dan dari pengharaman Homoseksual itulah yang menjaga keseimbangan dari Maqashid al-Qur’an

    Pengaruh Masa dan Tempat dalam Penyusunan Tafsir Al-Azhar

    Get PDF
    In contrast to the previous centuries of the XX century, the century of young people with the spirit of coming out of stagnant thinking has indirectly stimulated the attention of scholars in studying interpretations and compiling works of interpretation with various methods, patterns and styles. Tafsir al-Azhar is one of the largest interpretations compiled by Hamka, Hajj Muhammad Karim Amrullah. This article attempts to critically examine whether there is an influence of time and place in the preparation of the Tafsir al-Azhar. For this reason, historical methods and critical analysis will be used to show the figure of Hamka and his interaction with the socio-culture of the Minang people in particular and Indonesia in general. At the same time, it is used to analyze the Tafsir al-Azhar with regard to the influence of the time and place in the work. The result is that Hamka in explaining the verses of the Qur'an sometimes takes wisdom from the customs of a society that signify the place and explain also from the period of development of political turmoil after Indonesian independence and the renewal of the thoughts of Islamic figures that signify time, furthermore,the place and time have exerted influence in compiling the Indonesian interpretation work "Tafsir al-Azhar.

    ISLAMISASI METODE BARAT DALAM STUDI AL-QUR’AN: STUDI KASUS SEMITIC RHETORICAL ANALYSIS (SRA)

    Get PDF
    AbstractUsing Western methods to study the Qur'an raises several problems and concerns. This article discusses the Islamization of the Semitic Rhetorical Analysis (SRA) method pioneered by Michel Cuypers in Qur’anic Studies. The main goal of this research is to Islamicize the SRA method to make it more harmonious with Islamic values in understanding the Quran. This qualitative case study adopts the Islamization of knowledge approach, as introduced by Syed M. Naquib Al-Attas and Ismail Raji Al-Faruqi. The findings of this study reveal that Cuypers' application of SRA in analysing Quranic texts raises concerns due to inconsistencies with the principles of interpretation within Islamic scholarship, including the neglect of sabab al-nuzūl, the absence of the hadith, the potential reduction of the meanings of Quranic verses, and occasionally arbitrary division of texts. In efforts to Islamize this method, this research recommends removing them and integrating the elements from the sciences of the Quran, such as sabab al-Nuzūl, s hadith, and the science of waqf (stopping in recitation), to fortify the analytical framework of SRA without altering its fundamental principles, including the examination of textual particle levels and various text structures like parallelism, concentric, and mirror structure. This article significantly contributes to developing Western methods to align them with Islamic principles. It addresses concerns and disagreements surrounding the application of Western methods in Quranic studies. Furthermore, it enriches Quranic studies with a more Islamic perspective, ultimately leading to enhanced and thorough comprehension of the Quran and enhancing academic insights.Keywords: Islamisation, Semitic Rhetorical Analysis (SRA)Abstrak  Penggunaan metode Barat dalam studi Al-Qur’an menimbulkan beberapa permasalahan dan kekhawatiran. Artikel ini membahas Islamisasi metode Barat dalam kajian Al-Quran, terutama pada metode Semitic Retorical Analysis (SRA) yang dipelopori oleh Michel Cuypers. Tujuan utama penelitian ini adalah mengislamkan metode SRA agar lebih selaras dengan nilai-nilai Islam dalam memahami Al-Quran. Penelitian studi kasus kualitatif ini mengadopsi pendekatan Islamisasi ilmu pengetahuan seperti yang diperkenalkan oleh Syed M. Naquib Al-Attas dan Isma’il Raji Al-Faruqi. Temuan penelitian ini mengungkapkan bahwa penerapan SRA oleh Cuypers dalam menganalisis teks Alquran menimbulkan kekhawatiran karena ketidaksesuaian dengan prinsip penafsiran dalam keilmuan Islam. Kritik terhadapnya meliputi pengabaian sabab al-Nuzūl, tidak merujuk pada hadis Nabi, reduksi makna ayat, dan partisi teks secara sewenang-wenang. Dalam upaya mengislamkan metode tersebut, penelitian ini menyarankan untuk menghilangkan hal-hal tersebut dan mengintegrasikan unsur-unsur ilmu Al-Quran, seperti sabab al-Nuzūl, riwayat hadis Nabi, dan ilmu waqf tanpa mengubah prinsip fundamentalnya, termasuk penentuan tingkat partikel teks dan struktur teks seperti paralelisme, konsentris, dan struktur cermin. Artikel ini memberikan kontribusi signifikan terhadap pengembangan metode Barat untuk menyelaraskannya dengan prinsip-prinsip Islam. Artikel ini menjawab kekhawatiran dan ketidaksetujuan seputar penerapan metode Barat dalam studi Al-Quran. Lebih jauh lagi, memperkaya kajian Al-Quran dengan perspektif yang lebih Islami, yang pada akhirnya mengarah pada pemahaman Al-Quran yang lebih dalam dan komprehensif serta meningkatkan wawasan akademis.Kata Kunci: Islamisasi, Semitic Rhetorical Analysis (SRA

    The Coherence of Surah Adz-Dzariyat in Perspective of Semitic Rhetoric

    Get PDF
    The order of the verses and their coherence has been debated among orientalists in qur’anic structure studies. This article aims to reveal the coherence of the surah Adz-Dzariyat questioned by Richard Bell regarding the correlation between the verses in the surah. The method of analyzing this surah is Semitic Rhetorical Analysis (SRA), utilizing the verses’ symmetry explanations from Muslim scholars’ interpretations. This library research adopts descriptive and content analysis methods for analyzing data. As a result of the study, Surah adz-Dzariyat consists of two passages and seven parts in mirror construction based on Semitic Rhetoric principles. The relationship between the verses shows their coherence and excellent verse order without jumpy arrangements. Several groups of verses that at first appeared to be irregular became orderly and had a specific connection that could be understood through Semitic Rhetoric principles. This analysis strengthens the miracles of the Qur’an and refutes various opinions that doubt how good the order of the verses of the Qur’an is
    corecore