1,723,766 research outputs found

    A critical analysis of Christian responses to Islamic claims about the work of the Prophet Muhammad, ‘the Messenger of God’.

    Full text link
    The aims of this study are to analyse critically the different Christian responses to the Islamic understanding of the work of Muhammad. Chapter one consists a short introduction leading to an appraisal of Muhammad which incorporates historical, hagiographal and Quranic source material, and in the light of relevant Christian and Muslim scholarship. The second chapter presents a summary critical analysis of Muhammad in Christian theological perspective, from 661 A.D. to modern times. Chapter three presents a critique of Christian responses to the Muslim allegations that the text of the Bible has been infected with corruption; and that Muhammad's advent and status are foretold in the unadulterated' scriptures, and in the Gospel of Barnabas. Chapter four examines the theological significance of the work of Muhammad for Christians. Thus, Jesus and Muhammad are critically assessed and contrasted in order to ascertain the importance, for Christians, of the Muslim claims in respect of Muhammad as ’the messenger of God’. Chapter five provides a critical evaluation of the various Christian responses to Muhammad. It is argued that many of the said responses have been entangled in myths and misperceptions which have severely distorted the true account of Muhammad's work. Consequently, many Christians have failed to appreciate the divine legitimacy of Muhammad's call to prophethood. Further, it is argued that Christians should accept that Muhammad is a genuine prophet, and the messenger of God. However, Muhammad's use of the power-structure in order to maintain Islam is in sharp contrast to Jesus’ decision to face the consequences of his ministry passively through faith in God. Accordingly, orthodox Christian belief in the passion, death and resurrection of Jesus provides another dimension to prophethood, where the messenger and the message become one, an identification which finds no parallel in Islam, and which, in the nature of the case, cannot find a parallel

    KONSEPSI KETUHANAN DALAM DISKURSUS TEOLOGI ISLAM

    Full text link
    Artikel ini membahas tentang konsepsi ketuhanan dalam diskursus teologi Islam. Tujuan dari penulisan artikel ini yaitu untuk mengetahui aliran dalam teologi Islam khususnya Mu’tazila, Asyariyah dan Maturiyah dan apa menjadi topik perdebatan aspek ke-Tuhanan dalam teologi Islam. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan teknik studi pustaka digunakan dalam proses pengumpulan data, yaitu berbagai bentuk informasi dan referensi terkait isu yang diangkat. Hasil kajian menunjukkan bahwa aliran teologi Islam secara garis besar terbagi dalam tiga aliran yaitu Mu’tazilah, Asy’ariyah dan Maturudiyah dimana pemikiran teologis Mu’tazilah bersumber pada 5 hal pokok yang disebut al-Usul al-Khamsah, yaitu: Tauhid, Al-’Adl (Keadilan), Al-Wa’d wa al-Wa’id (Janji dan Ancaman), Al-Manzilah baina al-Manzilatain (Tempat di Antara Dua Tempat), Al-Amru bi al-Ma’ruf wa al-Nahyu ‘an al- Munkar (Menyuruh Kebaikan dan Melarang Keburukan), sementara  aliran teologi Al Asyariah dan Muturidiyah hampir memiliki kesamaan seputar Tentang sifat Allah, Asyari membedakan antara dzatullah dan sifatullah, Kalamullah atau al-Qur’an itu bersifat qadim, Allah SWT akan dapat dilihat di akhirat dengan mata kepala karena Allah mempunyai wujud, Pebuatan-perbuatan manusia diciptakan oleh Allah SWT, mengenai antropomorfisme, al-Asy’ari berpendapat bahwa Allah SWT mempunyai mata, muka, tangan dan sebagainya seperti disebut di dalam al-Qur’an, Orang mukmin yang berdosa besar tetap dianggap mukmin selama ia masih beriman kepada Allah SWT dan Rosul-Nya dan Allah SWT adalah pencipta seluruh alam. Dia memiliki kehendak mutlak terhadap ciptaan-Nya. Adapun perdebatan aspek ke-Tuhanan dalam teologi Islam terkait dengan sifat Tuhan, kaum Mu`tazilah berpendapat bahwa Allah itu qadim, qadim adalah sifat khusus bagi zat-Nya.  Mereka mengatakan bahwa Allah Maha Mengetahui dengan zat-Nya, bukan dengan pengetahuan, kekuasaan dan kehidupan, karena semua ini adalah sifat sedangkan sifat adalah sesuatu di luar zat. Karena kalau sifat berada pada zat yang qadim, sedang sifat qadim adalah sifat yang lebih khusus, niscaya akan terjadi dualisme yakni zat dan sifat. Sedangkan kaum Asy`ariyah, berpendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat. Mustahil Tuhan mengetahui dengan zat-Nya, karena dengan demikian zat-Nya adalah pengetahuan dan Tuhan sendiri adalah pengetahuan. Tuhan bukan pengetahuan (`ilm) tetapi sang Mengetahui (`alim). Keadilan Tuhan, menurut Asy`ariyah, Tuhan berkusa mutlak dan tak ada satupun yang wajib bagi-Nya. Tuhan berbuat sekehendak-Nya, sehingga memasukkan seluruh manusia ke dalam surga bukanlah Tuhan bersifat tidak adil dan jika memasukkan seluruh manusia ke dalam neraka tidaklah Tuhan bersifat dzalim. Sedangkan paham keadilan bagi kaum Mu`tazilah mengandung arti kewajiban-kewajiban yang harus dihormati Tuhan. Tentang kekuasaan dan kehendak Mutlat Tuhan, Mu'tazilah berpendapat bahwa Kekuasaan mutlak Tuhan telah dibatasi oleh kebebasan yang telah diberikan kepada manusia dalam menentukan kemauan dan perbuatan. sedangkan Asy`ari mengatakan bahwa Tuhan tidak tunduk kepada siapapun, di atas Tuhan tidak ada satu zat lain yang dapat membuat hukum dan dapat menentukan apa yang boleh dibuat dan apa yang tidak boleh dibuat Tuhan. Tuhan bersifat absolut dalam kehendak dan kekuasaan-Nya

    Hydraulic simulations to evaluate and predict design and operation of the Chashma Right Bank Canal

    Full text link
    Irrigation systems / Irrigation canals / Flow control / Velocity / Canal regulation techniques / Hydraulics / Simulation models / Design / Operations / Crop-based irrigation / Distributary canals / Water delivery / Policy / Protective irrigation / Water allocation / Water requirements / Sedimentation / Water distribution / Equity / Water conveyance / Pakistan / Chashma Right Bank Canal

    Persektif Ibn Katsir tentang eksistensi adam

    No full text
    Penciptaan sosok Adam di jannat al-khuld di langit dan kondisi di dalamnya berbeda dengan kondisi di bumi, hal ini mengindikasikan bahwa eksistensi Adam mula-mula di jannat al-khuld. Kondisi yang berbeda tersebut karena di dalam surga Adam tanpa panas matahari serta pakaian Adam dan Hawa berupa nur/cahaya, disamping terdapat hadis-hadis di dalam sah�h Muslim tentang eksistensi Adam sebelum diturunkan ke bumi. Menurut Muhammad Abduh (1266-1323 H/1849-1905 M) kisah eksistensi Adam pra kehidupan dunia di surga adalah kisah simbolik, harus ditakwilkan karena ayat-ayat tentang kisah tersebut adalah ayat-ayat mutasy?bih?t. Jannah menurutnya adalah �kenikmatan hidup�. Meskipun ia mentakwili kisah-kisah Adam, ternyata ia menyatakan bahwa Adam ketika diciptakan berada di bumi. Ulama yang identik dengan pemikiran Muhammad Abduh adalah al-Sya�r?wi dan al-Mat?rid?. Sedangkan penulis Barat yang identik dengan pendapat tersebut adalah James M. Gray dan James F. Driscoll dengan judul artikel yang sama Garden of Eden, yang pertama menyatakan lokasi surga Adam berada di kawasan sungai Euphrates dan sungai Tigris dan yang kedua menyatakan berada di atas bukit. Interpretasi al-Qurtub? (w. 671 H.) berbeda dengan pendapat Muhammad Abduh karena menurutnya eksistensi Adam mula-mula berada di Jannat al-Khuld dengan argumen Jannah yang dimaksudkan di dalam al-Qur�an selalu diawali dengan lam ta�rif ( ?? ). Ulama yang identik dengan pendapat al-Qurtub? adalah Ulama Jumh?r, Muhammad �Al? al-S?b?n?, Ibn Kats?r, dan Ibn Jar?r al-Tabar?. Sedangkan penulis Barat yang identik dengan pendapat al-Qurtub? tersebut adalah Robert J. Mattews dengan artikel berjudul Fall of Adam, Rachel Woods dengan artikel berjudul The Creation, the Fall, and Birth dan Kaddiysh dengan artikel berjudul What Happened to the Garden of Eden after Adam and Eve were Banished serta A. Husain dalam bukunya, Qur�anic Stories Series-The First Man. Disertasi ini mengkonfirmasi pandangan Ibn Kats�r bahwa eksistensi Adam sebelum turun ke bumi adalah di jannat al-khuld di langit dengan beberapa sumber utama yang mengindikasikannya: 1. Kitab Ibn Kats?r, al-Bid?yah wa al Nih?yah, (Beirut: D?r al Ma�rifah, tt.), juz 1, h. 169 terdapat hadis dalam sahih muslim, juz 2, h. 456 bahwa telah terjadi dialog antara orang-orang beriman dengan Adam as. yang mana mereka memohon bantuan nabi Adam untuk dibukakan surga, dan akhir ucapan nabi Adam, �tidaklah ada yang mengeluarkan kamu dari surga, melainkan kesalahan bapakmu Adam�. Dalam hadis ini Adam as. sendiri yang menyatakan surganya adalah jannat al khuld. 2. Kitab Ibn Kats?r, al-Bid?yah wa al Nih?yah, dalam juz dan halaman yang sama, yang termaktub pula dalam sahih muslim, juz 2, h. 456 tentang celaan Musa as. yang ditujukan kepada nabi Adam disebabkan dosa-dosanya berakibat dikeluarkan dari surga, namun nabi Adam berargumen bahwa hal itu sudah ada dalam ketentuan Allah sebelum di ciptakan. Hadis ini menjelaskan tentang kekecewaan Musa as. kepada nabi Adam karena kesalahannya, sehingga manusia harus hidup didunia. 3. Kitab Ibn Kats?r, Tafs?r al-Qur�?n al- Az?m, juz 3,(Mesir: D?r Misr li al Tib?�ah, tt.), h. 172 yang menyatakan tiadanya sinar matahari didalam surga Adam bermakna tiadanya panas lahiriah pada manusia, hal ini mengindikasikan bahwa surga Adam bukan dimuka bumi karena setiap hari matahari selalu menyinari bumi. 4. Kitab Ibn Kats?r, Tafs?r al-Qur�?n al- Az?m, juz 2,(Mesir: D?r Misr li al-Tib?�ah , tt.), h. 211 yang mengutib kitab hadis Ibn Jarir al Tabar? dengan sanad yang sahih bahwa pakaian Adam dan Hawa adalah nur (cahaya) yang menutupi aurat keduanya, masing-masing tidak bisa melihat aurat yang lain. Tatkala keduanya makan buah dari pohon yang dilarang, terlepaslah pakaian mereka berupa nur yang menutupinya. Peristiwa semacam ini mustahil terjadi dalam surga di muka bumi

    Luncai Emas Sdn. Bhd / Muhammad Adam Daniel Mohammad Zawawi

    Full text link
    Ditubuhkan pada 5 Januari 1990, Luncai Emas Sdn Bhd telah mengukuhkan kedudukannya sebagai salah sebuah syarikat penerbitan muzik yang paling berjaya di Malaysia. Dipelopori oleh penyanyi, pemuzik, komposer, penulis lagu terkemuka Malaysia, Datuk M. Nasir, objektif Luncai Emas Sdn Bhd adalah ke arah mewujudkan keseimbangan seni dan komersialisme, pada masa yang sama menyesuaikan perubahan kepada trend muzik dan kaedah perniagaan. Syarikat ini mempunyai katalog yang melebihi 4,000 lagu, Luncai Emas Sdn Bhd mempunyai cara kreatif dan pentadbiran gaya tersendiri untuk mengekalkan bertapak kukuh dalam industri muzik Malaysia pada tahun-tahun akan datang

    Fatigue approaches for mooring chains subjected to wear degradation

    No full text
    There are currently 365 FPSOs in service around the world. These vessels all use mooring lines to maintain position and provide stability, keeping the vessel and cargo safe. However, more than 21 failures have occurred between 2001 and 2011 and approximately 50% of the reported failures occurred in the first 3 years of 20-year design life. Each mooring line failure represents the potential for serious environmental and economic consequences. Based on industry surveys, the most common failure mode is fatigue failure. In the current offshore standards, the surface degradation due to wear and corrosion is modelled as a diameter loss at a standards rate. To assess whether the uniform reduction in chain diameter suggested in the offshore standards is able to explain the early chain failures seen in service, this paper incorporates two wear rates into a fatigue life calculation; one wear rate is taken from DNV-OS-E301 and is compared against one taken from NORSOK M-001. Three fatigue life estimation approaches: tension, nominal stress and hotspot, are used to compare the differences in fatigue method. The stress in the chain is calculated using an analytical model, which is verified against an FE model. The effect of wear degradation on the ultimate strength of the chain is calculated based on the minimum breaking load. The results show that the diameter loss rates suggested in the offshore standards are not able to explain the early mooring chain failures seen in the past and that the reduction of diameter cannot solely explain the early failures seen in service. The hotspot approach, not often used in mooring line predictions, is best able to predict these shorter lives, as it offers more accurate fatigue predictions by considering high peak stresses compared to standard methods such as tension and nominal stress approaches

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
    corecore