1,721,128 research outputs found

    REVIVALISME ABDULLAH SAID

    No full text
    Secara umum revivalisme Islam menggambarkan tingginya kesadaran akan ajaran Islam di kalangan umat Islam. Revivalisme Islam menggambarkan serangkaian aktifitas keagamaan yang dilakukan kelompok-kelompok dan masyarakat Islam militan. Kelompok-kelompok ini memperlihatkan kesadaran politik Islam yang tinggi, yang bertentangan dengan negara dan unsur-unsur penguasanya serta lembaga-lembaganya. Pengertian revivalisme tidaklah tunggal. Revivalisme punya pengertian dan konotasi yang luas, mengingat situasi kondisi yang melatarbelakangi lahirnya gerakan tersebut. Di Indonesia sendiri, setidaknya gerakan revivalisme Islam dapat dibagi menjadi empat, yakni era Pra-Kemerdekaan, era Soekarno, era Orde Baru, dan era Reformasi. Benih-benih revivalisme Islam Hal tersebut ditandai dengan kelahiran organisasi-organisasi Islam modern seperti Syarikat Islam (1911), Muhammadiyah (1912), Al-Irsyad (1914), Persatuan Islam (1923), dan lain-lain. Gerakan-gerakan Islam tersebut tidak terbatas pada gerakan keagamaan saja, namun juga mempunyai orientasi gerakan yang bersifat ekonomi, politik, dan lebih penting lagi semangat untuk melawan penjajah dengan cara yang lebih terorganisasi menuju kemerdekaan Indonesia. Dari pelbagai perbedaan para pakar Islam, skripsi ini menggunakan pengertian revivalisme menurut R. Hrair Dekmejian. Menurutnya, secara substansial, persamaan dari keberagaman gerakan revivalisme terhimpun dalam lima hal, yakni: Dīn wa al-Dawlah, al-Qur?an dan Sunnah, puritanisme dan keadilan sosial, kedaulatan dan hukum Allah berdasarkan syariat, dan terakhir jihad. Tokoh yang dibahas dalam skripsi ini adalah Abdullah Said, pendiri pesantren Hidayatullah. Dalam gerakan keagamaannya, Abdullah Said menghimpun kelima kerangka ideologis yang terdapat pada gerakan revivalisme Islam. Dengan demikian, dalam kerangka teori R. Hrair Dekmejian, Abdullah Said menempati posisi sebagai seorang revivalis

    Transformasi konsep pendidikan Tauhid K.H. Abdullah Said

    Full text link
    Buku ini penulis angkat dari sebuah disertasi penulis yang berjudul “Konsep dan Praktik Pendidikan Abdullah Said dalam Pengembangan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan”, tetapi penulis sesuaikan dengan format penulisan buku

    Dataset for Authoring Multimedia Artefacts (AMA) in the Context of Initial English Language Teacher Education (IELTE)

    No full text
    The current dataset originated from my Southampton University Doctoral thesis entitled &quot;An Exploratory Study of the Pedagogical Perspective of Authoring Multimedia Artefacts (AMA) in the Context of Initial English Language Teacher Education (IELTE) in Oman&quot;. The data draw from several research methods, which included structured questionnaires, semi-structured interviews, and learner journal entries.</span

    An exploratory study of the pedagogical perspective of authoring multimedia artefacts (AMA) in the context of initial English language teacher education (IELTE) in Oman

    No full text
    Constructivist learning pedagogies are gaining attention and primacy in educational policy framings in Oman, which parallels a growing emphasis in the global pedagogical landscape and the changing sociocultural demands of the 21st century context towards nurturing suitable and adaptable learner competencies. However, the transition from mainstream to constructivist practice is a widely recognised challenge in literature, especially in light of heavily structured educational systems, prominence of teacher-centric pedagogies, the primacy of conceptual and abstract learning, and predispositions toward teaching-for-the-test. These concerns are most relevant to the Higher Education (HE) context in Oman. While this continues to be a rich area of research in the local context, evidence on utilising Information and Communication Technologies (ICTs) to nurture constructionist learning proved to be scarce in the Omani higher education, particularly in the context of Initial English Language Teacher Education (IELTE). To address this gap, this thesis explores Authoring Multimedia Artefacts (AMA) as a constructionist learning approach in the context of IELTE. The thesis is underpinned by Papertian constructionism as a theoretical and conceptual framework and draws on a qualitative case study design to explore Student-Generated Podcasting (SGP) as a case of AMA-based learning in relation to three areas of inquiry: (a) learner engagement in AMA-based learning, (b) key pedagogical design principles of AMA-based learning, and (c) key learning environment design principles of AMA-based learning. This research study focuses on students’ and academics’ perspectives regarding the three areas of inquiry in an Omani IELTE context and was conducted in four phases. The first phase included a quantitative investigation (using questionnaires) of students and academics’ experiences, views, and perspectives regarding AMA-based learning, drawing on key areas of inquiry from the wider relevant literature. The second phase included a qualitative investigation (using semi-structured interviews) with nineteen students and three teachers to explore their personal experiences, attitudes, insights, and perspectives regarding the three areas of inquiry and to reveal in-depth accounts that take into consideration the interplay of personal, institutional, contextual, and sociocultural factors that influence this area of practice. The third phase included a qualitative analysis of students’ reflective journal entries of their AMA authoring experiences to reveal their experiences and views concerning AMA engagement and AMA pedagogy. The fourth phase included a two-part validation of the research analysis, interpretations, and outcomes by study participants, which consisted of one-to-one interviews and a focus group discussion. This aimed at taking the research outcomes back to participants, involving them in validating the accuracy of the research report and outcomes, allowing them to revisit their views by refining and adding to them, and encouraging them to challenge the analysis by proposing alternate accounts. The study findings revealed a comprehensive attribution of AMA-based learning and challenges associated with the different areas of inquiry: AMA engagement, AMA pedagogical design principles, and AMA learning environment design principles. Both students and academics generally held positive views towards AMA-based learning and suggested valuable implications for sustaining constructionist learning in this context. However, a number of personal, technical, pedagogical, infrastructural, educational, and sociocultural challenges were also identified, suggesting these issues need to be considered to improve AMA-based learning and constructionist learning at large. While the quantitative findings corroborated findings from the wide theoretical and empirical literature, the qualitative findings were especially significant on grounds of their depth, scope, and relevance, especially considering this study of SGP presents pioneering evidence in the IELTE context and the Omani HE context at large. Based on this, the findings from qualitative analysis consequently fed into the development of an operational framework for AMA-based learning to help in the systematic design and implementation of this approach, and by doing so the study findings contribute to filling a current gap in research regarding conceptualising and empirically analysing AMA-based learning enablers and inhibitors. The outcomes of this research are particularly significant in the context of constructionist learning environments, pedagogies, as well as strategies. The most notable significance is attributed to the orienting model and framework for AMA-based learning, which is necessary to fill the relative gap in orienting frameworks grounded in Papert’s theory of constructionism. The findings of the study have significant implications for integrating AMA-based learning into ped..

    PERAN USTAZ ABDULLAH SAID DI PONDOK PESANTREN HIDAYATULLAH GUNUNG TEMBAK, BALIKPAPAN, KALIMANTAN TIMUR (1973-1998)

    Full text link
    Ustaz Abdullah Said merupakan tokoh Islam yang memiliki peran dalam dunia pendidikan dan dakwah di Indonesia. Ia merupakan pendiri Pondok Pesantren Hidayatullah di Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur. Pesantren ini didirikan tahun 1973 dan tetap eksis hingga era kontemporer ini. Perkembangan pondok tersebut tidak terlepas dari peran Ustaz Abdullah Said yang terkenal karismatik di kalangan santri dan kenalannya. Ustaz Abdullah Said banyak mencetuskan ide, mencari relasi dan menentukan arah kebijakan untuk eksistensi Pondok Pesantren Hidayatullah. Oleh karena itu, penting untuk diteliti terutama terkait biografi dan peran Ustaz Abdullah Said dalam perkembangan Pondok Pesantren Hidayatullah di Gunung Tembak. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang didasarkan pada pendekatan biografi dan sosiologi serta teori peranan sosial dari Erving Goffman. Dua pendekatan pada penelitian ini digunakan untuk menganalisis berbagai peristiwa dengan melihat catatan riwayat hidup Ustaz Abdullah Said dan melihat gambaran lingkungan sosialnya. Teori peranan sosial dalam penelitian ini digunakan untuk melihat aktivitas Ustaz Abdullah Said sebagai pendiri dan pemimpin yang memiliki peran bagi berkembangnya Pondok Pesantren Hidayatullah. Hasil penelitian dalam penelitian ini adalah bahwa Ustaz Abdullah Said memiliki peran sentral dalam perkembangan Pondok Pesantren Hidayatullah. Ia memulai perintisan Pesantren Hidayatullah dengan mengadakan pengajian rutin dan lembaga kursus hingga menjadi lembaga pendidikan formal. Kemudian ia menerapkan kurikulum berbasis kisah Nabi saw. dan ayat Al-Qur’an untuk proses pendidikan dan pembinaan santri di pesantrennya. Pada masanya, Pesantren Hidayatullah berhasil melakukan ekspansi ke berbagai wilayah hingga berdiri ratusan cabang di Indonesia dan membentuk lembaga pendidikan khusus bagi anak-anak yatim piatu dan terlantar. Ia juga mencetuskan program pernikahan massal yang kini menjadi tradisi di pesantren tersebut. Selain itu, ia juga melakukan kerjasama yang saling menguntungkan dengan pemerintah untuk memperkuat eksistensi Pondok Pesantren Hidayatulla

    Konsep dan Praktik Pendidikan Abdullah Said dalam Pengembangan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan

    Full text link
    Muhammad Tang S. NIM, 12.0351.0022 Konsep dan Praktik Pendidikan Abdullah Said dalam Pengembangan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan, di bawah bimbingan I: Prof. Dr. H. Kamrani Buseri, M.A. dan II: Dr. Daud Yahya, M.Ag., pada Pascasarjana IAIN Antasari Banjarmasin, (2015). Kata Kunci: Konsep dan Praktik Pendidikan, Abdullah Said, Pesantren Hidayatullah. Sumber utama kemerosotan umat Islam zaman ini ada pada tidak berjalannya pendidikan keimanan secara benar, sehingga syahadat yang semestinya menghantarkan umat ini pada kecintaan ilmu dan jihad menjadi tergerus sedemikian rupa. K.H. Abdullah Said Pendiri dan pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah merupakan penggagas konsep atau ide pendidikan yang bersumber dari al-Qur’ân surah-surah pendek yang pertama turun secara sistematis, menunjukkan bahwa keimanan merupakan hal pokok yang wajib dimiliki oleh setiap muslim karena keimanan yang kuat dan jelas maka seorang muslim akan memiliki mentalitas kokoh yang melahirkan satu kesadaran tauhid yang mendorong jiwa dan raga secara totalitas untuk mengabdi hanya kepada Allah swt. Oleh karena itu penelitian ini bermaksud (1) mendeskripsikan konsep konsep pendidikan K.H. Abdullah Said dalam pengembangan pondok pesantren Hidayatullah Balikpapan dan (2) mendeskripsikan praktik pendidikan K.H. Abdullah Said dalam pengembangan pondok pesantren Hidayatullah Balikpapan. Penelitian ini dijalankan di Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan dengan metode penelitian yaitu deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data digali dengan menggunakan teknik observasi partisipan, wawancara mendalam, dan study dokumenter dengan tahapan orientasi, ekplorasi dan member chek. Selanjutnya data hasil kajian dianalisis dengan cara reduksi, display dan kesimpulan ditarik berdasarkan analisis induktif melalui kegiatan reduksi dan interpretasi. Temuan penelitian ini adalah (1) Konsep dan praktik pendidikan K.H. Abdullah Said yang telah dikembangkan merujuk kepada al-Qur’ân ayat pertama turun kepada Nabi swt. Muhammad saw yang terefleksi dalam Sistimatika Nuzulnya Wahyu (SNW) yang merupakan metode pemahaman tentang bagaimana kembali kepada al-Qur’ân dan Sunnaẖ dengan urutan Wahyu ke-1, Q.S. al-’Alaq [96]:1-5 (membangun kesadaran hidup bertauhid). Wahyu ke-2, Q.S. al-Qalam [68]: 1-7 (perintah agar memiliki khittaẖ yang jelas). Wahyu ke-3, Q.S. al-Muzammil [73]: 1-10 (melahirkan mental dan jiwa yang kokoh). Wahyu ke-4, Q.S. al-Muddatstsir [74]:1-7 (memerintahkan amar ma’rûfdannahî munkâr). Wahyu ke-5, Q.S. al-Fâtiẖaẖ [1:] 1-7. (frame work tentang ajaran Islam secara kaffaẖ); (2) Praktik Pendidikan K.H. Abdullah Said yang telah dikembangkan dikenal sebagai Kurikulum Berbasis Tauhid,merupakan pengembangan kurikulum dengan struktur integral, dengan pembelajaran Sistematika Nuzulnya Wahyu tingkat Madrasah Aliyah dan mata kuliah Tsaqafah Hidayatullah jenjang Perguruan Tinggi. Prosesnya secara klasikal dan non-klasikal, didukung oleh lingkungan pesantren yang integral menerapkan semangat berislam yang ketat dan regulasi yang berlandaskan syariat Islam

    On the Solution of a Three Dimensional Convection Diffusion Problem

    Full text link
    1st International Conference on Analysis and Applied Mathematics (ICAAM) -- OCT 18-21, 2012 -- Gumushane, TURKEYErdogan, Abdullah Said/0000-0002-8432-3151WOS: 000309524400004In this paper, the Rothe difference scheme and the Adomian Decomposition method are presented for obtaining the approximate solution of three dimensional convection-diffusion problem. Stability estimates for the difference problem is presented.Sci & Technol Res Council Turkey (TUBITAK), Gumushane Univ, Fatih Uni

    Pemikiran Abdullah Said Tentangsistem Pengkaderan Dan Dakwah Hidayatullah Serta Aplikasinya Di Pondok Pesantren Hidayatullah Semarang

    Full text link
    Hidayatullah pesantren berbasis pengkaderan yang memfokuskan pada pengkaderan dan dakwah, Abdullah Said sebagai pendirinya. Didirikan tahun 1973 berkembang sampai sekarang menjadi 286 cabang. Penelitian ini bertujuan; 1) menjelaskan aplikasi pemikiran Abdullah Said di Pondok Pesantern Hidayatullah Semarang; 2) memberikan solusi atas problematika dalam mengaplikasikan pemikiran Abdullah Said di Pondok Pesantren Hidayatullah Semarang. Penelitian ini adalah kualitatif , lapangan , deskriptif. Metode pengambilan data dengan menggunakan metode observasi, intervieu dan dokumentasi. Subjek yang dijadikan sebagai lokasi penelitian adalah Pondok Pesantren Hidayatullah Semarang. Sedangkan yang dijadikan informan penelitian adalah pengurus, pengawas, pembina, pengurus harian dan dewan guru pondok pesantren HidayatullahSemarang Aplikasi pemikiran Abdullah Said di pesantren Hidayatullah Semarang menggunakan pola sistematika nuzulnya wahyu dan di bagi dalam dua fase. Fase pertama lima tahapan 1) peyatiman, 2) mengembala kambing, 3) berdagang, 4) berkeluarga, 5) bertahanuts. Fase kedua yaitu, 1) al Alaq 1-5 mencetak kader untuk hidup bertauhid, baik dalam berfikir berbuat dan bersikap. Wahyu kedua 2) al Qalam 1-7 membimbing kader agar memiliki ped oman hidup yang jelas dengan menggunakan al Qur’an sebagai visi dan misinya. 3) al Muzammil 1-10 digunakan sebagai modal pembentukan kader dengan prinsip bangun malam, membaca Qur’an, dzikir, sabar dan hijrah. 4) al Muddatsir 1-7 supaya kader siap tampil dakwah dengan dengan ilmu dan amal yang telah dilakukan. 5) surat al fatihah 1-7 sebagai penggambaran hidup yang Islami dalam segala aspek. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa secara garis besar pemikiran Abdullah Said memang sudah di laksanakan, tetapi secara umum pelaksanaan masih minim, program sangat umum sekali seperti pesantren yang lain. Pelaksanaannya baru menyentuh level permukaan dan belum menyentuh level spirit yang kuat. Person yang ada bahkan belum memiliki kesadaran yang kuat bahwa dakwah itu bukan sekedar diucapkan tetapi dimplementasikan sesuai bidangnya

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
    corecore