1,721,198 research outputs found
FENOMENA SOSIAL JARIMAH KHALWAT DAN SEX BEBAS DI KOTA BANDA ACEH SETELAH PEMBERLAKUAN QANUN NO. 6 TAHUN 2014 TENTANG HUKUM JINAYAT
This study discussed the improvement of khalwat and free sex in the city of Banda Aceh after the enactment of qanun No. 6 of 2014 concerning Jinayat Law in Aceh. Based on the field study of the author, there are factors that influence the increase in khalwat and free sex after the enactment of Jinayah qanun. There are communication sophistication, the availability of inexpensive electronic facilities to access pornography, economic problems, an individualistic lifestyle, and the apathetic people. The social phenomena of khalwat and free sex still occur in the city of Banda Aceh, although the Qanun Jinayah already applies
Manajemen Sekolah di SMK Negeri Paku Kabupaten Polewali Mandar
ABSTRAK
Amrullah. Manajemen Sekolah di SMK Negeri Paku Kabupaten Polewali Mandar” (dibimbing oleh Darman Manda dan Ratmawati T).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi managemen SMK Negeri Paku Kabupaten Polewali Mandar”
Jenis penelitian yaitu deskriptif kualitatif dan dilakukan di SMK Negeri Paku Kabupaten Polman. Subjek Penelitian adalah kepala sekolah, guru, dan siswa. Data dikumpulkan dengan menggunakan pedoman wawancara. Data tersebut dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Uji keabsahan data dilakukan dengan triangulasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) perencanaan kurikulum pada SMK Negeri Paku belum optimal dilihat dari pembagian tugas mengajar, pembagian tugas/tanggung jawab dalam membina ekstra kurikuler, dan koordinasi penyusunan persiapan mengajar, (2). pelaksanaan kurikulum pada SMK Negeri Paku belum optimal dilihat dari tugas guru dan proses belajar mengajar, dan (3) evaluasi kurikulum pada SMK Negeri Paku belum optimal dilihat dari tugas guru dan proses belajar mengajar, yaitu masih ada guru yang diberikan tugas tidak sesuai dengan latar belakang pendidikanny
BELAJAR BERBICARA BAHASA INGGRIS MELALUI PENDEKATAN PEMBELAJARAN BERBASIS TUGAS (Penelitian Tindakan di FKIP Universitas Mataram)
ABSTRACT This study aims to determine the process and the result of students’ increasing English speaking ability at Faculty of Teacher Training and Education University of Mataram. This study used qualitative and quantitative approaches through task based learning. The research methodology used is an action research developed by Kemmis and Mc.Taggart with the spiral model by phases: planning, action, observation, and reflection. Data collection techniques in this study conducted by observation, field note of the researcher/collaborator, and photos as documentation. Meanwhile, for quantitative data is gathered by test (the pre-test, the evaluation of group discussions cycle 1, cycle 2, and cycle 3,and the post-test). The results showed that there was a significant increase in the ability of students speaking English after attending the subject of speaking II through task based learning. Based on the test results of students English speaking ability of the three aspects assessed: accuracy, fluency, and pronunciation showed that the pre-test average student score = 16.66%, cycle 1 = 20.00%, cycle 2 = 66.66%, cycle 3 = 80.00% and post-test = 83.33%. Thus, the study concluded that the students' speaking ability can be improved through task based learning approach.Keywords: Learning, English Speaking, Task Based Learning Approach
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses dan hasil peningkatan kemampuan berbicara bahasa Inggris mahasiswa di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Mataram. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif melalui pembelajaran berbasis tugas. Metodologi penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan (action research) yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc. Taggart yaitu model spiral dengan tahapan: perencanaan (planning), pelaksanaan (action), observasi (observation), dan refleksi (reflection). Tehnik pengumpulan data kualitatif dalam penelitian ini diperoleh dengan observasi, cacatatan lapangan, dan dokumentasi berupa foto-foto proses pembelajaran di kelas. Sedangkan untuk data kuantitatif diperoleh dengan Tes (pre-test, evaluasi diskusi kelompok pada siklus 1, siklus 2, siklus 3, dan post-test). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan yang signifikan pada kemampuan berbicara bahasa Inggris mahasiswa setelah mengikuti pembelajaran mata kuliah speaking II melalui pendekatan pembelajaran berbasis tugas. Berdasarkan hasil tes berbicara bahasa Inggris mahasiswa dengan melihat kemampuan pada tiga aspek yang dinilai: akurasi (accuracy), kelancaran (fluency), dan pengucapan (pronunciation) menunjukkan bahwa ketuntasan belajar pada pre-test adalah 16.66%, silklus 1 = 20.00%, siklus 2 = 66.66%, siklus 3 = 80.00%, and post-test = 83.33%. Dengan demikian disimpulkan bahwa kemampuan berbicara bahasa Inggris mahasiswa dapat ditingkatkan melalui pendekatan pembelajaran berbasis tugas.Kata Kunci: Belajar, Berbicara Bahasa Inggris, Pendekatan Pembelajaran Berbasis Tuga
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
SEKOLAH ISLAM TERPADU: SEBUAH TINJAUAN KRITIS
Pendidikan Islam dihadapkan pada tantangan besar agar bisa mewujudkan tujuan pendidikan Islam yang mampu membina akhlak, membina kehidupan dunia dan akhirat, penguasaan ilmu dan keterampilan bekerja dalam aspek sosial. Sementara, pendidikan nasional bertujuan sebagai proses untuk membentuk peradaban yang martabat melalui pengembangan potensi dan karakter generasi bangsa yang diarahkan agar cerdas, beriman dan bertakwa, berkakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, demokratis dan bertanggung jawab. Karena itu, Sekolah Islam terpadu digagas karena melihat efek sekolah-sekolah nasional yang mendidik anak sekuleristik dengan memisahkan kehidupan keagamaan dan kehidupan sosial bermasyarakat, sementara ada beberapa sekolah Islam yang juga bagian dari sekuleristik yang sangat fokus terus di ibadah-ibadah mahdah sehingga mengabaikan sisi ilmu pengetahuan. Sekolah Islam Terpadu, sebuah model pendidikan yang didesain dengan segala keterpaduan dari berbagai sisi dan aspek pendidikan, yang meliputi visi, misi, kurikulum, pendidik, suasana pembelajaran, dan lain sebagainya. Sekolah Islam Terpadu sebagai bentuk satuan pendidikan pra-dasar, dasar, dan menegah memiliki peran yang sangat strategis dalam membangun, membentuk, membina, dan mengarahkan anak didik menjadi manusia yang seutuhnya. Sistem terpadu dengan penerapan program full day school. Yang dimaksud program terpadu adalah program yang memadukan antara program pendidikan umum dan pendidikan agama, antara pengembangan potensi intelektual (fikriyah), emosional (ruhiyah) dan fisik (jasadiyah), dan antara sekolah, orang tua dan masyarakat sebagai pihak yang memiliki tugas dan tanggung jawab terhadap dunia pendidikan. Pemaduan program pendidikan umum dan agama dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif.
Pengembangan Bahan Ajar Fisika Berbasis Spiritual Islam Untuk Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) ‘Aisyiyah Palembang (DISERTASI)
ANALISIS INSTRUMEN TES SOAL PILIHAN GANDA UJIAN SEKOLAH (US) MATA PELAJARAN AL ISLAM KELAS XII SMA MUHAMMADIYAH SE-KOTA PALEMBANG
Proses pendidikan diselenggarakan dengan berbagai bentuk seperti pendidikan formal dan pendidikan non formal, dalam setiap tahapannya pendidikan akan mengadakan evaluasi untuk mengetahui hasil yang telah dicapai peserta didiknya, karena evaluasi tersebut memberikan dampak terhadap proses pembelajaran yang telah di laksanakan, baik bagi peserta didik itu maupun bagi tenaga pendidik Evaluasi merupakan bagian yang penting dalam pembelajaran, karena sebagai alat pengukur keberhasilan dari proses pembelajaran yang dilakukan. Selain itu, evaluasi juga bertujuan untuk mencari dan menemukan berbagai faktor yang menyebabkan keberhasilan dan ketidak berhasilan peserta didik setelah mengikuti proses pendidikan, dengan demikian akan ditemukan titik terang sebagai jalan keluar untuk perbaikan dalam pelaksanaan pendidikan diwaktu mendatang. Dalam hal ini guru dituntut harus mampu merencanakan, memproses, dan mengevaluasi pembelajaran, seperti membuat soal-soal untuk evaluasi, semakin baik para guru membuat soal-soal evaluasi, maka semakin baik pula kualitas pembelajaran dari mata pelajaran yang diampunya. Maka dari itu perlu diadakan analisis mengenai instrument pembuatan butir soal yang telah dibuat oleh para guru dalam mengevaluasi peserta didiknya. Analisis soal tersebut bertujuan untuk mengidentifikasi soal-soal yang baik, kurang baik, dan soal soal yang tidak layak.diberikan kepada peserta didik. Dengan menganalisis soal-soal tersebut dapat diperoleh informasi tentang kejelekan sebuah soal dan petunjuk untuk mengadakan perbaikan, guru akan mendapatkan umpan balik dari apa yang telah disampaikannya kepada para peserta didik, guru harus benar-benar teliti dalam pembuatan instrumen evaluasi, bila tidak demikian alat ukur atau pemberian nilai dari guru kepada peserta didik akan menjadi kurang baik, dengan tidak langsung mutu pendidikan dapat terlihat dari para guru dalam membuat soal-soal evaluasi tersebut
DAKWAH PERSUASIF (SEBUAH TINJAUAN DARI ASPEK HAKIKAT ROHANIAH)
Humans are created from two elements, namely, physical (physical) and spiritual (psychic). Therefore man is the perfect being from various aspects of it spiritually (psychologically). Since man has been created perfectly, he has three spiritual powers: al-fikr, al-wijdaan, al-madhadah with different shades, levels and levels between individual human beings; which is expressed in the form of attitudes and behaviors as a result of efforts to meet their psychological needs. In conjunction with persuasive devotion, a da'i must understand and be aware of the spiritual potential of human being as well as object of delivery of message of dakwah, which of course must be supported by skill and skill that exist in da'i self. One of the most basic is where da'i have to master the linguistic of various aspects, so that what is conveyed is not contradictory or in line with the spiritual nature of human beings as mad'u
QUR\u27ANIC TRANSLATION IN THE FRAME OF COMMUNICATION (An Evaluative Study of the Translation of Message Terms in the Qur\u27anic Translation of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia)
Purpose: This paper critically examines the translation of message terms in Qur\u27anic Translation of the Ministry of Religious Affairs of Republic of Indonesia.
Methodology: The writers analyzed the case through three steps. The first step, is analyzing the context. The context covers people who involved in the process of communication; communicator, communicant, and communication environment. The second step, is analyzing key word of communication, especially to look for its derivation and its denotative meaning. The third step, is determining the indicators of key word. Finally, is exploring the implication of indicator in communication activities.
Result: The study result shows that some translations of the terms are difficult to understand due to illogical use of Indonesian language. Moreover, some translations of the term do not refer the context of the verse. In addition, some translations of the term are overlapped. These translations do not reflect Qur\u27an-based communication and eventually do not support the integration of religion and science.
Recommendation: New translation based on a good Indonesian language, context of verse and refers to communication studies will produce a better understanding of Qur\u27anic verses of communication. Moreover, it is recommended to use translations of key words that writers offer in this paper as an alternative. In addition, giving footnote for key words is another alternative that should be considered by translator team
- …
