1,810 research outputs found
Changing the Ties That Bind? The Emerging Roles and Identities of General Practitioners and Managers in the New Clinical Commissioning Groups in the English NHS
The English National Health Service (NHS) is undergoing significant reorganization following the 2012 Health and Social Care Act. Key to these changes is the shift of responsibility for commissioning services from Primary Care Trusts (PCTs) to general practitioners (GPs) working together in Clinical Commissioning Groups (CCGs). This article is based on an empirical study that examined the development of emerging CCGs in eight case studies across England between September 2011 and June 2012. The findings are based on interviews with GPs and managers, observations of meetings, and reading of related documents. Scott’s notion that institutions are constituted by three pillars—the regulative, normative, and cognitive–cultural—is explored here. This approach helps to understand the changing roles and identities of doctors and managers implicated by the present reforms. This article notes the far reaching changes in the regulative pillar and questions how these changes will affect the normative and cultural–cognitive pillars
THE EFFECT OF SMOKING DURATION ON THE QUALITY AND DHA COMPOSITION OF MILKFISH (Chanos chanos F) OF MILKFISH (Chanos chanos F)
Milkfish contains omega-3 fatty acids (DHA), which is very important to maintain the health of human being. The research is mainly aimed to evaluate the reduction of DHA composition during smoking process. Organoleptic value of the product i.e. : 8,1 for fresh fish; 8,59 for smoked fish A (3 hrs smoking duration) and 8,78 for smoked fish B (5 hrs smoking duration).
The composition of fish changes normally i.e. moisture content of 75,03% (fresh fish) decreases to 70,08% (A) and 68,11% (B). Protein composition increases from 20,30% (fresh fish) to 23,95% (A) and 27,50% (B). Lipid content increase from 0,61% (fresh fish) to 1,79% (A) and 3,53% (B). Ash content changes from 1,35% (fresh fish) to 2,03 (A) and 1,89% (B). SPSS analysis of DHA found of p < 0,05 means that A and B were significantly different. DHA content was found drastically decrease from 121,19 mg/100g (A) to 16,4 mg/100g (B). ANOVA result proved that there is an interaction between smoking duration and the composition of DHA. Smoking duration is recommended no longer than 3 hrs in order to maintain its quality and minimizing the reduction of DHA
Pengaruh Aplikasi Bahan Organik Segar Dan Biochar Terhadap Ketersediaan P Dalam Tanah Di Lahan Kering Malang Selatan
Sebagian Besar Daerah Malang Selatan
Didominasi Oleh Lahan Kritis Dengan Tingkat Kesuburan Tanah Yang Rendah.
Tingkat Kesuburan Tanah Dapat Diperbaiki Dengan Penambahan Pupuk Dan/Atau Bahan
Organik. Salah Satu Alternatif Yang Dapat Dilakukan Untuk Memperbaiki Tingkat
Kesuburan Tanah Adalah Penggunaan Bahan Seresah Segar Dan Biochar Sebagai Bahan
Pembenah Tanah. Biochar Merupakan Bahan Organik Yang Memiliki Sifat Stabil
Dapat Dijadikan Pembenah Tanah Lahan Kering. Namun Demikian, Sampai Saat Ini
Belum Tersedia Informasi Tentang Penggunaan Bahan Organik Segar Dan Biochar
Untuk Meningkatkan Ketersediaan P Tanah Pada Lahan Kering Berkapur Di Malang
Selatan. Tujuan Penelitian Adalah (A) Menganalisis Pengaruh Bahan Organik Segar
Dan Biochar Terhadap Ketersediaan P Pada Lahan Kering Berkapur Di Malang
Selatan, (B) Mengetahui Pengaruh Aplikasi Bahan Organik Segar Dan Biochar
Terhadap Ph Dan Ca-Dd Tanah, (C) Mengetahui Pengaruh Aplikasi Bahan Organik
Segar Biochar Terhadap Ktk Tanah; Dan (D) Mengetahui Pengaruh Aplikasi Bahan
Organik Segar Biochar Terhadap Pertumbuhan Jagung. Penelitian Dilaksanakan Di
Rumah Kaca Dan Laboratorium Kimia Tanah, Fakultas Pertanian Universitas
Brawijaya Malang, Pada Bulan Maret – Mei 2013. Bahan Yang Digunakan Dalam
Penelitian Lapangan Ini Adalah Sampel Tanah Komposit Lahan Kering Dengan Ordo
Alfisol Pada Kedalaman 0 – 20 Cm, Biochar Serasah Tebu Untuk Biochar, Biochar
Serasah Jagung Untuk Biochar, Serasah Tebu Untuk Bahan Organik Segar, Serasah
Jagung Untuk Bahan Organik Segar, Aquades Untuk Pelarut, Benih Jagung Hibrida
Bisi 2 Dengan Daya Kecambah 95%. Rancangan Penelitian Menggunakan Ral. Jenis
Pupuk Yang Digunakan Dalam Penelitian Adalah Biochar (Serasah Tebu, Jagung) Dan
Bahan Organik (Serasah Tebu, Jagung). Sembilan Kombinasi Perlakuan (0 T Ha-1
Biochar Dan 0 T Ha-1 Serasah, 0 T Ha-1 Biochar Dan 40 T Ha-1 Serasah Tebu, 0 T
Ha-1 Biochar Dan 40 T Ha-1 Serasah Jagung, 20 T Ha-1 Biochar Serasah Tebu Dan 0
T Ha-1 Serasah, 20 T Ha-1 Biochar Serasah Tebu Dan 40 T Ha-1 Serasah Tebu, 20 T
Ha-1 Biochar Serasah Tebu Dan 40 T Ha-1 Serasah Jagung, 20 T Ha-1 Biochar
Serasah Jagung Dan 0 T Ha-1 Serasah, 20 T Ha-1 Biochar Serasah Jagung Dan 40 T
Ha-1 Serasah Tebu Dan 20 T Ha-1 Biochar Serasah Jagung Dan 40 T Ha-1 Serasah
Jagung). Pengamatan Yang Dilakukan Adalah Pengukuran Tinggi Tanaman Dan Jumlah
Daun, Kadar Ca-Dd, Ph Dan P Tersedia Tanah. Hasil Penelitian Menunjukkan Bahwa:
(1) Perlakuan Pemberian Kombinasi 20 T Ha-1 Biochar Serasah Jagung Dan 40 T
Ha-1 Serasah Jagung Pada Umur Tanaman 49 Hst Mampu Menaikan P Tersedia 242.95%;
(2) Perlakuan Pemberian Kombinasi 20 T Ha-1 Biochar Serasah Jagung Dan 0 T Ha-1
Serasah Pada Umur Tanaman 49 Hst Mampu Menurunkan Ph Dan Ca-Dd Sebesar 14.47%
Dan 27.19%; (3) Perlakuan Pemberian Kombinasi 20 T Ha-1 Biochar Serasah Jagung
Dan 40 T Ha-1 Serasah Jagung Dapat Meningkatkan Ktk Sebesar 10.40%; Dan (5)
Perlakuan Pemberian Kombinasi 20 T Ha-1 Biochar Serasah Jagung Dan 0 T Ha-1
Serasah Dapat Menambah Jumlah Daun 25%
Karakterisasi Kimia Dan Uji Organoleptik Bakso Ikan Manyung (Arius Thalassinus, Ruppell) Dengan Penambahan Daun Kelor (Moringa Oleiferea Lam) Segar Dan Kukus
Penambahan daun kelor pada bakso dapat meningkatkan nilai gizi bakso. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perlakuan terbaik pada penambahan daun kelor terhadap sifat kimia, sifat fisik dan organoleptik bakso ikan manyung. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan perlakuan penelitian sebagai berikut; I0= tanpa penambahan daun kelor, I1= penambahan 10% daun kelor segar, I2= penambahan 10% daun kelor kukus, I3 = penambahan 5% daun kelor segar, dan I4 = penambahan 5% daun kelor kukus. Parameter yang diukur dalam penelitian ini adalah proksimat, Mg, Ca, organoleptik, profil tekstur, nilai L, a dan b bakso manyung. Perlakukan terbaik dipilih berdasarkan uji efektivitas metode de Garmo. Hasil menunjukan bahwa penambahan daun kelor pada bakso dapat meningkatkan kadar abu, Mg dan Ca. Bakso ikan dengan penambahan daun kelor 10% memiliki nilai Mg dan Ca yang lebih tinggi (p<0,05) dibandingkan bakso ikan dengan penambahan daun kelor 5%. Bakso ikan dengan penambahan daun kelor segar memiliki nilai Mg dan Ca lebih tinggi (p<0,05) dibandingkan bakso ikan dengan penambahan daun kelor kukus. Penambahan daun kelor dapat meningkatkan hardness bakso ikan. Bakso ikan yang ditambah dengan daun kelor segar memiliki nilai kecerahan warna lebih tinggi dibandingkan yang dikukus terlebih dahulu. Penambahan 5% daun kelor kukus menghasilkan nilai keseluruhan organoleptik terbaik dibandingkan perlakuan lainnya. Berdasarkan uji efektivitas metode de Garmo perlakuan terbaik adalah bakso ikan dengan penambahan 10% daun kelor kukus
Global insect decline is the result of wilful political failure : A battle plan for entomology
The Millennium Ecosystem Assessment assessed ecosystem change, human wellbeing and scientific evidence for sustainable use of biological systems. Despite intergovernmental acknowledgement of the problem, global ecological decline has continued, including declines in insect biodiversity, which has received much media attention in recent years. Several roadmaps to averting biological declines have failed due to various economic and political factors, and so biodiversity loss continues, driven by several interacting human pressures. Humans are innately linked with nature but tend to take it for granted. The benefits we gain from the insect world are broad, yet aversion or phobias of invertebrates are common, and stand firmly in the path of their successful conservation. Providing an integrated synthesis for policy teams, conservation NGOs, academic researchers and those interested in public engagement, this article considers: (1) The lack of progress to preserve and protect insects. (2) Examples relating to insect decline and contributions insects make to people worldwide, and consequently what we stand to lose. (3) How to engage the public, governmental organizations and researchers through “insect contributions to people” to better address insect declines. International political will has consistently acknowledged the existence of biodiversity decline, but apart from a few narrow cases of charismatic megafauna, little meaningful change has been achieved. Public values are reflected in political willpower, the progress being made across the world, changing views on insects in the public should initiate a much-needed political sea-change. Taking both existing activity and required future actions, we outline an entomologist's “battle plan” to enormously expand our efforts and become the champions of insect conservation that the natural world needs
Pengaruh Berbagai Jenis Pakan Segar Terhadap Laju Pertumbuhan Dan Kelulushidupan Kepiting Bakau (Scylla Serrata) Cangkang Lunak Dengan Metode Popeye
Pemberian berbagai jenis pakan segar terhadap kepiting bakau cangkang lunak diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan kepiting bakau cangkang lunak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian berbagai jenis pakan segar terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan kepiting bakau (Scylla serrata) cangkang lunak, mengetahui jenis pakan segar terbaik serta jenis pakan segar yang dapat mempercepat proses molting. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 4 kali ulangan. Perlakuan A (ikan petek), B (keong mas), C (usus ayam). Metode popeye diterapkan pada hewan uji. Bobot awal rata-rata 70,83±0,57 g/ekor. Kepiting dipelihara didalam basket berisi satu ekor kepiting. Pengamatan berakhir ketika kepiting mengalami molting. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian tiga jenis pakan berbeda berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap laju pertumbuhan relatif (RGR), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), protein efisiensi rasio (PER). Tetapi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap tingkat kelulushidupan. Hasil pengukuran menunjukan bahwa kepiting yang diberi pakan B (keong mas) menghasilkan nilai paling tinggi yaitu pada nilai RGR sebesar (3.13±0,18%/hari), EPP sebesar (14,26±1,30%), PER sebesar (0.24±0,02%). Perlakuan A (Ikan petek) dan B (keong mas) lebih cepat mengalami molting, secara umum kepiting molting terjadi pada pukul 21.00–00.00 berjumlah berkisar 2 – 8 ekor/hari. Kualitas air masih dalam nilai kelayakan untuk budidaya kepiting bakau cangkang lunak. Various types of fresh feed to soft shell mud crab is expected to increase a growth of soft shell crab. The aims of this research was to determine the effect of various types fresh feed to growth and survival of soft shell crab (Scylla serrata) to determine the best types of fresh feed, and to determine the best fresh feed to moulting process. The research was done by experimental method used completely randomized design (CRD) with 3 treatments and 4 replications. Treatment A (Leiognathus splendens Cuv), B (snails), C (chicken intestines). Mangrove crab that be used popeye methode was applied in. The early weight is approximately 70.83±0.57g/for each crab. Crabs were cultured in baskets which size of 25 x 16 x 15 cm. The results showed that a giving of various types feed had a significant effect (P<0,05) to relative growth rate (RGR), efficiency of feed utilization (EPP), and protein efficiency ratio (PER), but had no significant effect (P>0,05) to survival rate. The result showed that crab which was given feed B (snail) had the highest value in RGR (3.13±0,18%/day), EPP (14.26±1,30%), and PER (0.24±0,02%). Moulting process a was faster in treatment A. Generaly the moulting time occurred at 21.00-00 o'clock for 2-8 crabs/day. Water quality value was capable for shoft shell mud crab culture
PENGARUH WAKTU PANEN Azolla microphylla YANG DIBERI PUPUK TERHADAP PRODUKSI SEGAR, ENERGI METABOLISME DAN KAROTENOID
Azolla microphylla memiliki potensi untuk dijadikan pakan alternatif yang memiliki banyak keuntungan serta kandungan nutrisi yang baik. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh waktu panen Azolla microphylla yang diberi pupuk terhadap produksi segar, energi metabolisme dan karotenoid.. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen yang dirancang dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan adalah waktu panen yaitu : A (waktu panen 21 hari, tanpa pupuk), B (waktu panen 21 hari, dipupuk), C (waktu panen 28 hari, dipupuk), D (waktu panen 35 hari, dipupuk), E (waktu panen 42 hari, dipupuk). Peubah yang diamati adalah produksi segar (kg/m2), energi metabolisme (kkal/kg) dan kandungan karotenoid (mg/100g). Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa waktu panen memberikan pengaruh berbeda nyata (P<0,05) terhadap produksi segar dan memberikan pengaruh berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap kandungan energi metabolisme dan karotenoid dari Azolla microphylla. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah Azolla microphylla dapat dipanen sampai umur 35 hari yang diberi pupuk kandang sapi. Pada kondisi ini diperoleh produksi segar 25,25 ton/ha, energi metabolisme 2387 kkal/kg dan karotenoid 132,42 mg/100g dari Azolla microphylla
Kuantitas Dan Kualitas Semen Segar Sapi Limousin Pada Bobot Badan Yang Berbeda
Keberhasilan program IB dapat ditentukan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah kualitas semen. Kualitas semen yang dihasilkan oleh masing-masing ternak dari masing-masing bangsa memiliki karakteristik yang berbeda. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kualitas semen adalah bobot badan. Berdasarkan uraian tersebut dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui perbedaan kualitas dan kuantitas semen segar pada sapi Limousin dengan bobot badan yang berbeda. Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari, Kabupaten Malang pada tanggal 30 Agustus sampai 30 Oktober 2015. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengkaji kualitas semen segar sapi Limousin pada bobot badan yang berbeda. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang karakteristik kualitas, kuantitas semen segar dan pejantan unggul sapi Limousin dilihat dari bobot badan. Materi penelitian yang digunakan adalah 6 ekor sapi Limousin, data primer dari catatan penampungan semen, dan kualitas semen segar. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi pada semen segar dari masing-masing kelompok bobot badan sapi Limousin. Semen sapi Limousin di klasifikasikan menjadi 3 kriteria berdasarkan bobot badan yaitu : a). bobot badan rendah (700-849 kg), b). bobot badan sedang (850-999 kg), c). bobot badan tinggi (1000-1149 kg). Data dirancang dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 kelompok dan 20 ulangan. Setelah data dianalisis menggunakan Analysis Of Varian (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada ketiga kelompok bobot badan sapi Limousin tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P>0,05) pada pH, warna, konsistensi, motilitas massa, dan konsentrasi spermatozoa. Sedangkan untuk volume semen segar sapi Limousin pada bobot badan tinggi (5,15±0,58 ml) memiliki volume terendah dan berbeda sangat nyata (P<0,01) dengan sapi Limousin kelompok bobot badan rendah (6,01±0,73 ml) dan sedang (6,36±0,88 ml). Persentase motilitas individu spermatozoa sapi Limousin pada kelompok bobot badan tinngi (79,88±3,75%) memiliki hasil tertinggi dan berbeda sangat nyata (P<0,01) dengan sapi Limousin kelompok bobot badan rendah (75,25±3,96%) dan sedang (75,36±3,17%). Viabilitas spermatozoa pada sapi Limousin kelompok bobot badan sedang (74,11±1,99%) dan tinngi (74,64±2,66%) memiliki hasil tertinggi dan berbeda sangat nyata (P<0,01) dengan sapi Limousin kelompok bobot badan rendah (72,56±1,68%). Abnormalitas spermatozoa sapi Limousin kelompok bobot badan rendah (27,56±1,21%) memiliki hasil terendah dan berbeda sangat nyata (P<0,01) dengan sapi Limousin kelompok bobot badan sedang (28,40±0,23%) dan tinggi (28,37±0,26%). Disimpulkan bahwa bobot badan sapi Limousin memberikan korelasi negatif terhadap volume dan abnormalitas spermatozoa, namun memberikan korelasi posistif terhadap motilitas individu dan viabilitas spermatozoa. Bobot badan sapi Limousin tidak memberikan pengaruh nyata terhadap pH, warna, konsistensi, motilitas massa spermatozoa dan konsentrasi spermatozoa
Surgical inclination in senior medical students from the University of Auckland: results of the 2005 Senior Students Survey.
AIMS: To determine the proportion of senior medical students who are surgically inclined and to assess whether gender differences exist in surgical inclination. STUDY DESIGN: Cross-sectional survey. Twenty-five point questionnaire. Likert scale response ranking. SETTING: University of Auckland Medical School, New Zealand. PARTICIPANTS: 218 surveys were emailed to functioning addresses of fourth and fifth year students.156 students emailed responses (71.60% response rate). RESULTS: Twenty percent of students were found to be surgically inclined (95% CI 0.15-0.26). The proportion of surgically inclined males was significantly higher than females (p<0.01). A greater proportion of surgically inclined students found time spent in the operating theatre educationally valuable than non-surgically inclined students (p<0.01). No difference exists in the number of different procedures undertaken by students (p<0.05). CONCLUSION: Males are significantly more likely to be surgically inclined than females at the University of Auckland Medical School
Tingkat Pencemaran Salmonella Sp. Pada Udang Werus (Metapenaeus Monoceros) Segar Yang Dipasarkan Di Kotamadia Surabaya
Penelitian ini bertujuan mengetahui pencemaran Salmonella sp. pad a udang werus segar yang dipasarkan di lima wilayah Kotamadia Surabaya dan mengetahui tingkat pencemaran di lima wilayah Kotamadia Surabaya Bahan penelitian yang digunakan adalah udang werus segar, diambil dari pasar-pasar tradisional di lima wilayah Kotamadia Surabaya antara lain Surabaya Timur, Surabaya Selatan, Surabaya Pusat, Surabaya Utara dan ~Surabaya Barat. Masing-masing wilayah diwakili lima sampel, jumlah sampeJ seluruhnya 25 sampel udang werus segar dengan berat setiap sampel 100 gram. Sampel dibuat suspensi dengan penambahan Buffered Pepton Water dan dibiakan ke Tetrathionat Broth serta hasilnya diinokulasikan ke media Agar Brillian Green Sulfadiazin, dari koloni terduga Salmonella sp. dilakukan uji biokimiawi dengan menggunakan media Agar Tripel Sugar Iron, Indol dan Urease. Hasil dari pengujian ini diperoleh data tingkat pencemaran Salmonella sp. pada udang werus segar. Hasil 'pengujian tersebut menunjukan bahwa udang werus segar yang dipasarkan pada lima wilayah di Kotamadia Surabaya tercemar Salmonella sp., akan tetapi tidak menunjukkan adanya perbedaan tingkat pencemaran pada lima wilayah di Kotamadia Surabaya (p ~ 0,05)
- …
