Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian
Not a member yet
    256 research outputs found

    Penggunaan Streptomyces Ambofaciens sebagai Bioaktivator dalam Pembuatan Pupuk Organik Cair dari Limbah Organik

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas dan tingkat keamanan pupuk organik cair dari limbah organik yang dilakukan di Laboratorium Balai Proteksi Tanaman Perkebunan Pontianak. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini terdiri dari Uji kualitatif mikroba selulolitik, Uji DNAse, Uji hemolisis, Analisis Unsur Hara Pupuk Organik Cair dari Limbah Organik. Hasil uji kualitatif mikroba selulolitik menunjukkan bahwa isolat Streptomyces ambofaciens mampu menghasilkan enzim selulase. Hasil uji DNAse Streptomyces ambofaciens negatif dan hasil uji hemolisis dengan media agar darah menunjukkan bahwa Streptomyces ambofaciens Gamma hemolisis atau nonhemolitik (tidak mampu melisiskan sel-sel darah merah) sehingga dari hasil tersebut Streptomyces ambofaciens aman digunakan oleh manusia. Hasil analisis unsur hara menunjukkan bahwa pH pupuk organik cair dari limbah organik memiliki nilai 4,70. pH tersebut sesuai dengan syarat teknis minimal pupuk organik pada Permentan Nomor 70 tahun 2011. Hasil analisis kandungan N, P, K yang dihasilkan relatif rendah yaitu kandungan N total sebesar 1,54 %, P sebesar 0,00771 %, K sebesar 0,148305 %, kandungan Kalsium (Ca) pada pupuk organik cair yang dihasilkan sebesar 155,97 ppm. dan kandungan Magnesium (Mg) sebesar 268,00 ppm. Penggunaan Streptomyces ambofaciens dapat dijadikan sebagai bioaktivator dalam produksi pupuk organik cair dari limbah organik

    Uji Aktivitas Antibakteri Minyak Akar Wangi Metode Penyulingan Uap Terhadap Escherichia coli dan Pseudomonas aeruginosa

    Full text link
    Indonesia adalah salah satu negara penghasil minyak atsiri terbesar di dunia. Salah satu tumbuhan yang dapat menghasilkan minyak atsiri yaitu akar wangi. Kegunaan minyak akar wangi tidak jauh dengan kegunaan minyak atsiri pada umumnya, yaitu dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku obat-obatan dan kosmetik. Selain itu, minyak atsiri dari tanaman akar wangi juga berpotensi berperan sebagai antioksidan dan antibakteri karena mengandung senyawa terpenoid yaitu eremophilane, eudesmane, dan nootkatone. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri minyak akar wangi terhadap Escherichia coli ATCC 25922 dan Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode difusi sumuran untuk mengetahui diameter daya hambat dengan beberapa konsentrasi minyak akar wangi (20%, 40%, 60%, 80%, dan 100% v/v). Kontrol positif yang digunakan adalah meropenem, sedangkan kontrol negatif yang digunakan adalah n-heksana. Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai diameter daya hambat terbesar terdapat pada konsentrasi 80% untuk  E. coli dengan nilai DDH 3,89 mm dan 20% untuk P. aeruginosa dengan nilai DDH 20,61 mm. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pada minyak atsiri akar wangi terdapat aktivitas antibakteri terhadap E.coli dan P. aeruginosa. Kata kunci: antibakteri; diameter daya hambat; minyak atsiri akar wangi; escherichia coli; pseudomonas aeruginos

    A SWOT Analysis of the Hydroponics Entrepreneurship as Sustainable Income in Covid-19 Pandemic Adaptation

    Full text link
    The COVID-19 pandemic made us adapt to changes. One kind of adaptation that provides opportunities is hydroponics entrepreneurship as sustainable income generation. The sustainability context in this research is about how impactful hydroponics is with regard to economic, social and environmental aspects. This study aims to give a comprehensive understanding of the potential of hydroponics entrepreneurship, located in urban areas of Indonesia, as sustainable income generation. The research is a qualitative study that was conducted in Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang and Bekasi. The data collection was conducted through literature review and in-depth interviews with 25 respondents. The literature review aims to give an understanding of the sustainability context while the interview focused on the Strength-Weakness-Opportunity-Threat (SWOT) analysis of hydroponics entrepreneurship activity. The findings of the interview show that the quality of hydroponics products and customer responsiveness in the two study areas may become the strengths of hydroponics. Meanwhile, the efficiency of production and innovation turn out as the weaknesses of the activities. Furthermore, the hydroponics grower can find opportunities in political, social, technological, and legal aspects, but they should be aware of the economic and environmental threats. In conclusion, hydroponics is a promising sector for income generation in the two study areas but considering both helpful aspects such as quality, customer responsive, technology, political environment, social condition, and legalization and harmful factors such as efficiency, innovation, economic condition, and environment are essential for the hydroponics growers

    Perbandingan Sifat Fungsional Pati Sitrat Skala Laboratorium dan Komersial Sebagai Bahan Pelapis Buah Terolah Minimal

    Full text link
    Kecenderungan masyarakat modern untuk mengkonsumsi makanan yang sehat namun keterbatasan waktu menyediakan, menyebabkan produk buah terolah minimal diminati karena praktis dan porsi penyajiannya sesuai dengan kebutuhan. Kelemahan buah terolah minimal adalah cepat rusak dan umur simpannya pendek sehingga mutunya menurun dengan cepat. Apel merupakan salah satu buah yang banyak diminati masyarakat dan tersedia sepanjang musim, namun jika diproses menjadi buah terolah minimal, akan terjadi reaksi pencoklatan enzimatis (enzymatic browning). Pelapisan berbahan dasar pati sitrat merupakan alternatif untuk mengurangi terjadinya reaksi enzimatis tersebut. Terdapat dua skala produksi pati sitrat pada penelitian ini yaitu skala laboratorium dan komersial. Perbedaan kedua skala produksi tersebut terdapat pada agen ikat silang dan peralatan yang digunakan. Pada skala laboratorium menggunakan asam sitrat teknis dan oven, sedangkan skala komersial menggunakan asam sitrat yang banyak tersedia di pasar yaitu ‘Citrun’ dan tray dryer. Tujuan penelitian ini yaitu mendapatkan pati sitrat skala laboratorium dan komersial serta membandingkan sifat fungsionalnya. Terdapat perbedaan sifat fungsional pati sitrat skala laboratorium dengan skala komersial. Persentase kelarutan, swelling power, dan freeze thaw stability pada pati sitrat skala komersial lebih tinggi dibandingkan skala laboratorium, yaitu sebesar 12.40, 4.79, dan 3.21%. Namun nilai swelling power dan freeze thaw stability tidak berpengaruh nyata (p>0.05) sedangkan persentase kejernihan pasta 1% mengalami penurunan sebesar 8.04%

    Pengaruh Biochar dan NPK Mutiara Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Okra (Abelmoschus esculenthus L.) Pada Tanah Aluvial

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Biochar dan NPK mutiara terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman okra pada tanah aluvial. Penelitian telah dilaksanakan di lokasi lingkungan kampus Universitas Panca Bhakti. Waktu dimulai dari bulan April sampai bulan Juli 2020. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama dosis Biochar (b) dengan 3 taraf (b1= 15 g/polybag; b2= 30 g/polybag; b3= 45 g/polybag). Faktor kedua dosis NPK mutiara (n) dengan 3 taraf (n1= 0 g/polybag; n2= 1,2 g/polybag; n3= 2,4 g/polybag), masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Setiap ulangan terdiri dari 3 sampel tanaman sehingga jumlah tanaman seluruhnya yaitu 81 tanaman. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah buah, dan berat buah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian berbagai dosis Biochar berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah buah dan berat buah. Sedangkan pemberian berbagai dosis NPK mutiara berpengaruh nyata terhadap jumlah daun, dan berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman dan jumlah buah dan berat buah. Pemberian berbagai kombinasi Biochar dan NPK mutiara meberikan hasil berpengaruh nyata terhadap variabel tinggi tanaman.

    Pengaruh Suhu Karbonisasi terhadap Kualitas Briket dari Tongkol Jagung dengan Limbah Plastik Polietilen Terephtalat sebagai Bahan Pengikat

    Full text link
    Jagung sebagai salah satu komoditas tanaman pangan memiliki peranan strategis. Biji jagung dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, seperti: bahan pangan alternatif pengganti beras, bahan baku utama pada pembuatan pakan ternak, dan bahan baku di industri pangan. Pada pemanfaatan jagung tersebut, mulai dari tahap pemanenan sampai perontokan biji jagung, dihasilkan sejumlah limbah. Sekitar 17,24% dari limbah tersebut adalah limbah berupa tongkol jagung. Relatif tingginya kadar selulosa, hemiselulosa, dan lignin membuat tongkol jagung merupakan limbah biomassa potensial sebagai bahan baku bahan bakar bio, salah satunya adalah briket. Salah satu tahap proses pembuatan briket yang sangat menentukan kualitas briket adalah tahap karbonisasi biomassa. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari pengaruh suhu karbonisasi tongkol jagung, terhadap penampilan fisik dan kualitas briket, dengan memanfaatkan limbah plastik PET sebagai bahan pengikat pembantu. Suhu karbonisasi dipelajari pada suhu 350, 400, dan 450 oC. Sedangkan kualitas briket ditentukan berdasarkan parameter kualitas menurut SNI 01-6235-2000 tentang Briket Arang Kayu meliputi nilai kalor, kadar air, kadar abu, dan kadar volatile matter, serta komposisi gas buang pembakaran briket tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa briket yang dihasilkan dari tahap karbonisasi pada suhu 450 oC merupakan briket dengan kualitas paling optimum. Briket tongkol jagung pada suhu karbonisasi tersebut telah memenuhi standard kualitas menurut SNI 01-6235-2000 dengan nilai kalor sebesar 6072,01 kal/g (25,38 MJ/kg). Kadar air, abu, dan volatile matter dari briket tersebut berturut-turut sebesar 4,98, 6,00, dan 7,00%. Sedangkan berdasarkan uji komposisi gas buang, pembakaran briket tersebut menghasilkan gas hidrokarbon dengan kadar paling sedikit

    Pengaruh Variasi Konsentrasi CMC Terhadap Sifat Fisikokimia Gel Pembersih Tangan dari Ekstrak Etanol Daun Mimba

    Full text link
    Sediaan gel pembersih tangan merupakan salah satu produk alternatif pengganti sabun yang mudah dibawa kemana-mana. Ekstrak daun mimba mengandung senyawa antimikroba seperti tanin, saponin, flavonoid, dan terpenoid sehingga berpotensi sebagai bahan aktif gel pembersih tangan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh variasi konsentrasi CMC terhadap karakteristik fisikokimia gel pembersih tangan ekstrak etanol daun mimba. Penelitian ini menggunakan empat perlakuan variasi konsentrasi CMC yaitu kontrol (0%), A (1%  b/v), B (2% b/v), dan C (3% b/v) dengan masing-masing perlakuan dilakukan tiga kali ulangan. Metode penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimen laboratorium dengan analisis deskriptif. Evaluasi yang dilakukan meliputi organoleptik, homogenitas, daya sebar, dan nilai pH. Gel pembersih tangan formula A, B, dan C tidak menyebabkan iritasi pada kulit. Gel pembersih tangan yang paling disukai yaitu formula B. Uji homogenitas menunjukkan bahwa semua formulasi sediaan pembersih tangan telah homogen. Daya sebar gel pembersih tangan ekstrak etanol daun mimba yang memenuhi persyaratan SNI No. 06-2588-1992 yaitu formula C sebesar 69,5 mm. Nilai pH gel pembersih tangan ekstrak etanol daun mimba formula A, B, dan C dengan nilai 6,2 hingga 6,5 telah memenuhi persyaratan SNI No. 06-2588-1992. Nilai pH gel pembersih tangan ekstrak etanol daun mimba formula kontrol ( pH sebesar 7) tidak memenuhi persyaratan SNI No. 06-2588-1992. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu formulasi gel pembersih tangan ekstrak etanol daun mimba yang memenuhi seluruh persyaratan SNI No. 06-2588-1992 adalah formula C

    Analisis Konsumsi Energi pada Beberapa Metode Pemipilan Jagung (Zea mays L.): Studi Kasus di Padang Pariaman Sumatera Barat

    No full text
    Padang pariaman merupakan salah satu sentral budidaya jagung yang berlokasi di Provinsi Sumatera Barat. Pemipilan merupakan salah satu faktor penting dalam pasca panen jagung. Tingkat kehilangan hasil yang cukup tinggi pada proses pemipilan membuat teknologi pemipilan berkembang cukup pesat. Beberapa metode pemipilan yang umumnya diaplikasikan oleh masyarakat diantaranya adalah pemipilan secara tradisional, menggunakan alat pemipil sederhana, serta pemipilan secara mekanis. Selain uji teknis alat, analisa energi juga dibutuhkan dalam mengevaluasi alat dan mesin pertanian. Sumber energi input pemipilan jagung meliputi energi manusia, energi mesin dan energi bahan bakar. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengevaluasi total konsumsi energi pada proses pemipilan jagung dan uji teknis untuk masing-masing metode pemipilan jagung. Hasil penelitian menunjukkan total konsumsi energi pemipilan secara manual lebih besar dibandingkan dengan alat pemipilan sederhana dan mesin dengan total konsumsi energi pemipilan jagung berturut-turut yaitu sebesar 50,66 MJ/ton, 282,33 MJ/ton dan 388,66 MJ/ton pada proses pemipilan jagung secara mekanis, alat pemipil sederhana, dan manual. Rata-rata kapasitas pemipilan mekanis, alat pemipil sederhana dan manual sebesar 966,64 kg/jam, 87,93 kg/jam dan 40,65 kg/jam, dengan rendemen masing-masing 75,41 %; 83,54 %; dan 82,50 %, secara berturut-turut. Data total energi dapat digunakan sebagai acuan dalam mendesain alat pemipil jagung yang lebih modern

    Pengaruh Jumlah Bahan Baku serta Waktu Ekstraksi terhadap Karakteristik dan Umur Simpan Ekstrak Stevia Cair

    Full text link
    Kebutuhan akan bahan tambahan pemanis semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan industri pangan. Salah satu jenis pemanis alami yang belum banyak dikembangkan adalah Stevia rebaudiana Bertonii. Daun stevia dapat diekstrak dengan air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh formulasi ekstraksi yang menghasilkan karakteristik ekstrak paling baik. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan faktor rasio bahan baku:pelarut (b/v) dan faktor waktu ekstraksi. Daun stevia dikeringkan pada suhu 55℃ selama 5 jam dan diekstrak menggunakan water bath pada suhu 95℃ dengan air sebagai pelarut. Variasi perlakuan rasio bahan baku:pelarut yang digunakan sebesar 1:25, 1:30, dan 1:35 (b/v), dengan variasi waktu ekstraksi sebesar 20, 30, dan 40 menit. Karakteristik yang diamati diantaranya adalah total padatan terlarut, kecerahan, kadar steviosida, dan kemanisan dengan metode uji ranking. Selain itu dilakukan pula pengujian tingkat kemanisan terhadap gula pasir dengan metode magnitude estimation dan pengujian umur simpan dengan sensory shelf-life estimation. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstraksi dengan perlakuan rasio bahan baku:pelarut 1:25 (b/v) dan waktu ekstraksi 40 menit menghasilkan karakteristik paling baik dengan nilai total padatan terlarut sebesar 2oBrix, nilai kecerahan sebesar 8,52, kadar steviosida sebesar 2,82%, dan nilai rata-rata kemanisan sebesar 3,33. Pada penelitian ini diketahui bahwa ekstrak stevia memiliki tingkat kemanisan 120 kali dari gula pasir, serta umur simpan 12,531 hari

    Analisis Usahatani Cabai di Luar Musim Berdasarkan Penerapan Komponen Budidaya Cabai Merah di Provinsi Sulawesi Barat

    Full text link
    Cabai merah merupakan salah satu komoditas sayuran unggulan yang mempunyai peranan strategis dalam struktur pembangunan perekonomian nasional.  Harga cabai dipasaran cukup fluktuatif yang disebabkan oleh rendahnya produktivitas cabai yang dapat disebabkan oleh salah satu faktor seperti kurangnya penerapan teknologi budidaya cabai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh introduksi teknologi (penggunaan mulsa hitam perak, tanaman boorder, dan penggunaan jarak tanam) yang diberikan kepada petani terkait dengan peningkatan produktivitas budidaya cabai yang berdampak pada pendapatan petani. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Majene Provinsi Sulawesi Barat pada agroekosistem lahan kering dengan pendekatan penelitian adaptif.   Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa budidaya tanaman cabai dengan introduksi teknologi memberikan dampak yang lebih baik, baik dari tingkat produksi, dan menekan serangan hama dan penyakit berdasarkan pernyataan petani. Hasil analisis kelayakan usaha menunjukkan bahwa B/C ratio dan R/C ratio berdasarkan cara petani dan penerapan introduksi teknologi 1,28 dan 2,28.  Nilai BEP Produksi dan BEP Harga untuk teknologi petani adalah Rp. 900/kg dan Rp. 6.714/kg, BEP (Break Event Point) Produksi dan BEP (Break Event Point) Harga untuk penerapan introduksi teknologi adalah 1.419 Kg dan Rp. 6.713,00. Hasil penelitian ini dapat menjadi sumber informasi bagi pelaku usaha tani cabai dan pengambilan keputusan dalam penerapan introduksi teknologi dan budidaya cabai diluar musim yang berdampak terhadap peningkatan pendapatan petani.

    113

    full texts

    256

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇