Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian
Not a member yet
256 research outputs found
Sort by
Pengendali Model Prediktif Terdistribusi untuk Meningkatkan Ketahanan dan Efisiensi Rantai Pasok Gula Semut
Dalam keberjalanannya, sistem rantai pasok Gula Semut menghadapi perubahan level permintaan, tidak sama dengan level permintaan saat perencanaan. Kemampuan sistem rantai pasok dalam memenuhi keinginan pelanggan dan tetap efisien dalam situasi permintaan yang berubah-ubah merupakan titik penting menjaga ketahanan rantai pasok. Metoda Pengendali Model Prediktif Terdistribusi (PMPT) dan Colaborative Planning Forecasting dan Replenishment (CPFR) berpotensi menangani perubahan level permintaan terutama yang bersifat fluktuatif. Objek penelitian adalah rantai pasok Gula Semut PT Binar Dini Mandiri Indonesia (PT BDMI), berlokasi di kabupaten Banyumas; penghasil kelapa terbesar di provinsi Jawa Tengah. PT BDMI sering mengalami kerugian karena tidak mampu memenuhi permintaan saat terjadi perubahan. Rumusan masalah penelitian adalah bagaimana mengimplementasikan CPFR dan PMPT sehingga kinerja ketahanan dan efisiensi kerja rantai pasok meningkat. Metodologi meliputi: rumusan masalah, pengelolaan berdasarkan CPFR dan PMPT, pengujian menggunakan 4 skenario, analisis, kesimpulan. Pengolahan data dilakukan menggunakan MATLAB 2025 dan Excel Solver. Ukuran kinerja ketahanan adalah tingkat pemenuhan permintaan sedangkan untuk efisiensi adalah ongkos pengadaan dan ongkos simpan. Hasil menunjukkan skenario-0 memiliki ukuran kinerja tertinggi dari sisi ketahanan karena rantai pasok dirancang berdasarkan kemampuan awal, sedang pada skenario 1-2-3, semakin fluktuatif perubahan permintaan, kinerja ketahanan dan efisiensi akan menurun. Kuantifikasinya perbandingan antar penggunaan PMPT dan tidak menunjukkan bahwa PMPT memberikan tingkat ketahanan lebih tinggi yang tidak menggunakan PMPT. PMPT dapat meningkatkan ketahanan sekitar 9,9 % dan efisiensi kerja sebesar 1,2 % untuk rantai pasok tetapi saat perubahan permintaan sangat fluktuatif, tingkat pemenuhan permintaan mulai turun. PMPT menunjukkan kemampuan menghadapi perubahan dan juga tetap menjaga efisiensi. Kesimpulan metoda PMPT terbukti memang lebih dapat fleksibel menangani fluktuasi demand
Pengaruh Pengeringan dan Pengecilan Ukuran terhadap Sifat Bubuk Stevia rebaudiana
Kebutuhan gula tebu atau sukrosa sebagai pemanis terus meningkat, kebutuhan gula nasional hanya mampu dipenuhi sekitar 40%, sisanya mengandalkan impor. Gula tebu memiliki kekurangan dengan nilai kalori yang tinggi. Stevia merupakan alternatif pemanis rendah kalori, dan mempunyai 300 kali tingkat kemanisan dari gula sukrosa. Pengeringan dan pengecilan ukuran merupakan proses pendahuluan dari daun stevia. Tahapan penelitian dilakukan dengan 2 tahap, yitu pertama pengeringan, dengan cabinet dryer yang dilakukan dengan variasi suhu pengeringan K1 (50 oC), K2 (60 oC), K3 (70 oC), dan K4 (80 oC) kemudian dilakukan uji kadar air dan total padatan terlarut, sampel terbaik yaitu K4 (pengeringan suhu 80 oC) dengan kadar air terendah yaitu 5,87% dan total padatan terlarut tertinggi yaitu 8,73. Sampel terbaik kemudian dilanjutkan prosesnya ke tahap 2 yaitu pengecilan ukuran pada variasi M1 (60 mesh), M2 (80 mesh) dan M3 (100 mesh), kemudian dilakukan analisis persen rendemen, kadar abu, daya serap air, kadar steviosida dan kadar gula total bubuk daun stevia. One way Analysis of Variance (ANOVA) digunakan untuk analisis hasil penelitian dan dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada α = 0,05. Sampel terbaik yaitu M3 (ukuran partikel 100 mesh) dengan % rendemen sebesar 39,68%, kadar abu sebesar 10,34%, daya serap air sebesar 63,64%, kadar steviosida 7,28% dan kadar gula total 7,83%
Model Dinamik Produksi Kopi Berdasarkan Pemenuhan Total Kebutuhan Kopi Indonesia
Kopi merupakan salah satu komoditas hasil perkebunan yang memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia karena berkontribusi terhadap PDB dan devisa negara. Di tengah peningkatan permintaan kopi secara global maupun domestik, produksi kopi di Indonesia kerap menghadapi berbagai tantangan, seperti perubahan iklim, alih fungsi lahan, dan rendahnya produktivitas. Tantangan tersebut berpotensi menyebabkan ketidakseimbangan antara total kebutuhan kopi dan produksi kopi domestik. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap kajian pada industri kopi di Indonesia melalui analisis terhadap produksi kopi dan total kebutuhan kopi, yang mencakup akumulasi antara ekspor kopi dan konsumsi kopi domestik. Tujuan penelitian ini adalah untuk meramalkan produksi kopi serta total kebutuhan kopi pada masa mendatang. Pendekatan yang digunakan adalah model sistem dinamik, yang dibangun melalui causal loop diagram dan simulasi stock and flow diagram pada perangkat lunak STELLA. Penelitian ini menghasilkan kerangka model yang dapat membantu pembuat kebijakan mengidentifikasi titik strategis dalam sistem produksi kopi, memprediksi dampak intervensi, serta merumuskan strategi adaptif guna menjaga stabilitas pasar. Validasi model dilakukan dengan uji MAPE, dengan hasil akurasi berada dalam rentang 1 – 12%, yang menunjukkan bahwa model memiliki akurasi prediksi yang baik dan layak digunakan. Hasil simulasi menunjukkan bahwa hingga tahun 2034, produksi kopi domestik masih dapat memenuhi total kebutuhan kopi. Namun, mulai tahun 2035 hingga tahun 2037, produksi kopi domestik diperkirakan tidak lagi mencukupi. Pada tahun 2037, produksi kopi domestik diprediksi mencapai 894.831 ton, sementara total kebutuhan kopi mencapai 925.806 ton
Pengaruh Proses Pengeringan terhadap Kualitas dan Omega-3 Minyak Sacha Inchi (Plukenetia Volubilis L.)
Indonesia memiliki banyak spesies tanaman yang memiliki potensi besar di bidang pangan dan kesehatan, salah satunya adalah sacha inchi. Umumnya, kacang ini dikeringkan secara konvensional dalam waktu lama dan kurang efisien. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh suhu dan aliran udara dalam proses pengeringan terhadap kualitas minyak sacha inchi, khususnya kandungan omega-3. Kacang dikeringkan menggunakan oven pada suhu 45°C, 60°C, dan 75°C dengan aliran udara 0% dan 100% selama 3 jam, serta metode pengeringan matahari selama 2 minggu. Minyak diekstraksi dengan screw press, kemudian dianalisis kadar air, nilai free fatty acid (FFA), dan bilangan peroksida. Metode simple additive weighting (SAW) digunakan untuk menentukan perlakuan terbaik. Kandungan omega-3, khususnya alpha-linolenic acid (ALA), diuji menggunakan GC-FID. Hasil menunjukkan bahwa suhu dan aliran udara mempengaruhi kadar air, nilai FFA, dan bilangan peroksida. Perlakuan terbaik diperoleh dari pengeringan oven pada 75°C dengan aliran udara 100%, menghasilkan minyak dengan kadar omega-3 sebesar 40,4%
Optimasi Suhu Pemanasan Minuman Fungsional Ubi Jalar Ungu : Bioaktif, BAL dan Organoleptik
Tren gaya hidup sehat mendorong pengembangan minuman fungsional berbasis ubi jalar ungu karena praktis, bergizi, dan digemari masyarakat. Namun, tantangan utama terletak pada proses pengolahan, khususnya pemanasan. Antosianin sangat sensitif terhadap suhu tinggi, pH, oksidasi, dan cahaya, sehingga mudah terdegradasi selama pemrosesan. Selain itu, viabilitas bakteri asam laktat sebagai mikroba probiotik sangat bergantung pada suhu pemrosesan. Untuk perlu dilakukan kajian tentang pengaruh suhu pemanasan terhadap bioaktif, viabilitas bakteri asam laktat dan organoleptik minuman fungsional ubi jalar ungu agar diperoleh suhu pemrosesan yang optimal. Penelitian ini didesain menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan faktor suhu pemanasan yaitu 70oC; 80oC; 90oC; 100oC. Perlakuan diulang sebanyak 5 kali sehingga diperoleh 20 sampel percobaan yang diuji kadar antosianin, aktivitas antioksidan, total bakteri asam laktat dan tingkat kesukaan secara organoleptik (uji hedonik) menggunakan 20 orang panelis terlatih. Perlakuan pemanasan dengan berbagai suhu (70 – 100oC) terbukti berpengaruh signifikan terhadap bioaktif seperti kadar antosianin dan aktivitas antioksidan, viabilitas bakteri asam laktat, dan tingkat kesukaan minuman fungsional ubi jalar ungu, dimana penggunaan suhu 70oC masih dapat mempertahankan bioaktif dari produk minuman fungsional dengan kadar antosianin sebesar 81,72 mg/L dan aktivitas antioksidan (IC50) sebesar 11,61 µg/mL (aktivitas antioksidan sangat kuat). Untuk viabilitas BAL perlakuan suhu 70 – 100oC terbukti menurunkan jumlah BAL yang ada di dalam produk secara signifikan (<107 CFU/L) dengan total BAL berkisar 0,0407 – 6,06 x 104 CFU/L. Sementara tingkat kesukaan secara organoleptik diperoleh suhu 80oC mampu menghasilkan produk minuman fungsional yang paling disukai oleh panelis baik tekstur (4,5), rasa (4,55), aroma (3,65) dan warnanya (3,45).Tren gaya hidup sehat mendorong pengembangan minuman fungsional berbasis ubi jalar ungu karena praktis, bergizi, dan digemari masyarakat. Namun, tantangan utama terletak pada proses pengolahan, khususnya pemanasan. Antosianin sangat sensitif terhadap suhu tinggi, pH, oksidasi, dan cahaya, sehingga mudah terdegradasi selama pemrosesan. Selain itu, viabilitas bakteri asam laktat sebagai mikroba probiotik sangat bergantung pada suhu pemrosesan. Untuk perlu dilakukan kajian tentang pengaruh suhu pemanasan terhadap bioaktif, viabilitas bakteri asam laktat dan organoleptik minuman fungsional ubi jalar ungu agar diperoleh suhu pemrosesan yang optimal. Penelitian ini didesain menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan faktor suhu pemanasan yaitu 70oC; 80oC; 90oC; 100oC. Perlakuan diulang sebanyak 5 kali sehingga diperoleh 20 sampel percobaan yang diuji kadar antosianin, aktivitas antioksidan, total bakteri asam laktat dan tingkat kesukaan secara organoleptik (uji hedonik) menggunakan 20 orang panelis terlatih. Perlakuan pemanasan dengan berbagai suhu (70 – 100oC) terbukti berpengaruh signifikan terhadap bioaktif seperti kadar antosianin dan aktivitas antioksidan, viabilitas bakteri asam laktat, dan tingkat kesukaan minuman fungsional ubi jalar ungu, dimana penggunaan suhu 70oC masih dapat mempertahankan bioaktif dari produk minuman fungsional dengan kadar antosianin sebesar 81,72 mg/L dan aktivitas antioksidan (IC50) sebesar 11,61 µg/mL (aktivitas antioksidan sangat kuat). Untuk viabilitas BAL perlakuan suhu 70 – 100oC terbukti menurunkan jumlah BAL yang ada di dalam produk secara signifikan (<107 CFU/L) dengan total BAL berkisar 0,0407 – 6,06 x 104 CFU/L. Sementara tingkat kesukaan secara organoleptik diperoleh suhu 80oC mampu menghasilkan produk minuman fungsional yang paling disukai oleh panelis baik tekstur (4,5), rasa (4,55), aroma (3,65) dan warnanya (3,45)
Upcycling Cangkang Kelapa Sawit Menjadi Green Filler Teraktivasi Ultrasonik dan Aplikasinya Sebagai Pengisi Kompon Karet
Cangkang kelapa sawit (CKS) merupakan salah satu hasil samping produksi industry pengolahan sawit yang hingga saat ini, di Indonesia, masih belum termanfaatkan secara optimal. Salah satu pemanfaatan CKS sebagai bahan dengan serat tinggi yaitu dengan cara mengubahnya menjadi material tinggi karbon. Material karbon ini dapat digunakan sebagai salah satu alternatif bahan pengisi bagi industry pengolahan karet untuk menggantikan Sebagian besar carbon black (CB) yang tidak ramah lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh substitusi CB menggunakan green filler CKS teraktivasi ultrasonik terhadap karakteristik mekanis kompon karet berbahan dasar lump. CKS melalui proses pirolisis diubah menjadi arang dan diaktivasi menggunakan ultrasonic dengan frekuensi 40 kHz selama 15 menit. Arang aktif CKS yang diperoleh kemudian ditambahkan ke dalam formulasi kompon sebagai pengganti substitusi carbon black dengan formulasi berbeda sesuai dengan perlakuan. Kompon yang dihasilkan diuji karakteristik curing-nya sebelum dicetak menggunakan hot press. Vulkanisat yang diperoleh kemudian diuji karakteristik mekanisnya yang meliputi kekerasan, kuat Tarik, perpanjangan putus, dan young modulus. Kompon dengan 100% carbon black menghasilkan nilai torsi minimum (ML), torsi maksimum (MH), waktu pemasakan optimum (TC90) dan waktu scorch (ts2) sebesar 13,02 kgf-cm, 34,54 kgf-cm, 232 detik, dan 101 detik secara berturut-turut. Kompon dengan komposisi filler 30 phr CB dan 30 phr arang CKS teraktivasi ultrasonic memiliki ML, MH, TC90, dan ts2 sebesar 9,35 kgf-cm, 12,28 kgf-cm, 98 detik, dan 91 detik secara berturut-turut
Developing the Quality Function Deployment Method by Integrating Kano Model and Sensory Profile Analysis into the House of Quality Matrix
This study aims to enhance the effectiveness of the Quality Function Deployment (QFD) method for food product development by integrating the Kano model and sensory profile analysis using Quantitative Descriptive Analysis (QDA) into the House of Quality (HOQ) matrix. The Kano model was applied to identify and categorize customer expectations, while QDA was used to characterize the sensory attributes of four steamed brownie samples—one of which was the target for improvement. Twelve quality attributes were identified, comprising both intrinsic (taste, aroma, texture, appearance) and extrinsic (packaging, labeling, branding, distribution) factors. Kano analysis revealed that two attributes were classified as Attractive, eight as One-dimensional, and two as Indifferent. Sensory profiling showed key differences between the developed product and a superior competitor. HOQ analysis indicated that improvements in formulation (composition of ingredients) and packaging design were critical for increasing consumer satisfaction. Unlike conventional QFD, which primarily translates customer requirements into technical specifications, the proposed integrative approach explicitly distinguishes attributes based on their impact on satisfaction (via Kano) and links them to measurable sensory characteristics (via QDA). This combination provides clearer prioritization and more actionable insights for product developers. Therefore, this study offers a structured and consumer-focused strategy that strengthens QFD’s applicability in the food industry by improving both accuracy and relevance in decision-making
Analisis Level dan Strategi Pengembangan Mekanisasi Pertanian Di Kabupaten Bandung, Jawa Barat
Mekanisasi pertanian telah terbukti nyata dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani. Permasalahannya adalah Indonesia merupakan negara kepualauan terbesar di dunia dan memiliki beragam karakteristik tipe lahan pertanian. Hal ini menyebabkan penerapan dan perkembangan mekanisasi pertanian suatu daerah di Indonesia akan berbeda dengan daerah lainnya. Penelitian ini bertujuan melakukan analisis level mekanisasi dan menyusun strategi pengembangan mekanisasi pertanian di Kabupaten Bandung khususnya untuk tanaman padi sawah. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode survey dengan panduan kuisioner terstruktur. Level mekanisasi pertanian di hitung berdasarkan perbandingan antara ketersediaan tenaga mesin pertanian dalam satuan horse power (HP) dengan luas baku sawah dalam satuan hektar, sedangkan strategi pengembangan mekanisasi pertanian disusun berdasarkan analisis Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan Threats (SWOT). Hasil analisis menunjukkan bahwa level mekanisasi pertanian kabupaten Bandung adalah 0,66 HP/Ha yang berasal dari aktivitas pengolahan tanah adalah 0,307 HP/Ha, pengairan 0,191 HP/Ha, penanaman 0,0017 HP/Ha, pemeliharaan tanaman 0,133 HP/Ha, dan pada aktivitas panen adalah 0,026 HP/Ha. Hasil analisis matrik internal eksternal diketahui bahwa strategi pengembangan mekanisasai pertanian di kabupaten Bandung adalah pertumbuhan melalui konsentrasi melalui integrasi horizontal.
Application of Chitosan Edible Coating Using Dip and Spray Method on Postharvest Quality of Cavendish Banana
Applying postharvest technologies such as edible coatings is one of effective method to extend the shelf life of bananas. Chitosan, an edible biopolymer, has excellent film-forming properties that allow it to coat fruit surfaces and prolong freshness. The coating method plays a crucial role in the effectiveness of edible coatings. This study aimed to evaluate the effect of coating method on the postharvest quality of Cavendish bananas through statistical analysis. In this research, 1.25% chitosan solution was applied using two methods: dipping and spraying, with uncoated bananas serving as the control. A knapsack power sprayer was used to apply the coating solution in the spray treatment. Bananas were stored at room temperature (26 ± 2°C) and 80 ± 5% relative humidity for 11 days. Results showed that spray-coated bananas experienced the lowest weight loss (14.51%) and disease severity score (3.33), highest value in L* (53,88), b* (30,97), pH (5,82) and pulp-to-peel ratio (2,57), firmest texture (28,06 mm/150g/5sec) along with slowest starch conversion (45%) by day-5. In comparison, dip-coated bananas lost 15.32% weight, highest TSS value (15,87), 65% degraded starch by day-5, lowest a* value (-0,44), and higher disease severity of 4.17. Uncoated bananas showed 15.25% weight loss, completely degraded starch by day five, and the highest disease severity (5.00). These findings indicate that the spray application of chitosan is more effective than dipping in maintaining banana quality during storage and supports its practical application in commercial postharvest handling