Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian
Not a member yet
256 research outputs found
Sort by
Analisis Rantai Pasok untuk Pengembangan Agroindustri Arang Tempurung Kelapa di Kabupaten Jember
Kabupaten Jember merupakan daerah di Jawa Timur yang memiliki potensi besar pada sektor pertanian, dengan kelapa sebagai salah satu komoditas unggulannya. Hampir seluruh bagian kelapa dapat dimanfaatkan, termasuk tempurungnya. Tempurung kelapa dapat diolah menjadi arang untuk meningkatkan nilai tambah limbah tempurung. Pengembangan agroindustri arang tempurung kelapa di Kabupaten Jember memiliki prospek yang cukup baik, karena ketersediaan bahan baku yang melimpah dan permintaan yang terus meningkat. Namun, optimalisasi manajemen rantai pasok diperlukan untuk memastikan efektivitas dan efisiensi pengembangan agroindustri arang tempurung kelapa. Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh rekomendasi strategi yang efektif dan efisien untuk mengembangkan agroindustri. Penelitian ini menggunakan metode Interpretive Structural Modeling (ISM) untuk menentukan pelaku rantai pasok yang paling dominan dan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan strategi pengembangan agroindustri. Berdasarkan hasil identifikasi, struktur rantai pasok arang tempurung kelapa yaitu petani kelapa, pedagang tempurung kelapa, produsen arang, distributor, dan konsumen. Petani kelapa dan pedagang tempurung kelapa berperan sebagai pemasok tempurung kepada produsen, yang selanjutnya diolah menjadi arang dan menjualnya ke distributor dan konsumen. Pelaku utama pada rantai pasok adalah petani sebagai pihak yang menyediakan bahan baku yang berada pada Sektor IV (Level 7). Sementara itu, strategi pengembangan agroindustri arang tempurung kelapa yaitu pengembangan teknologi dan inovasi (bobot 0,4550). Strategi ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi hubungan antar pelaku rantai pasok, khususnya antara agroindustri arang tempurung kelapa, petani kelapa, dan pedagang tempurung kelapa. Strategi ini diharapkan dapat menjamin mutu produk, meningkatkan efisiensi, dan menstabilkan atau menurunkan harga bahan baku yang dapat meningkatkan permintaan arang tempurung kelapa
Modifikasi Pati Umbi Gadung (Dioscorea hispida Dennst) dengan Dual Annealing dan Heat Moisture Treatment
Umbi gadung adalah komoditas pangan lokal yang dapat digunakan sebagai sumber pati, namun pati gadung memiliki stabilitas yang rendah sehingga di perlukan modifiikasi untuk memperbaiki sifat fungsional dan stabilitasnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan karakteristik pati gadung termodifikasi dual annealing (ANN), dual heat moisture treatment (HMT), dan kombinasi annealing dan HMT (ANN+HMT) yang memiliki sifat fungsional, amilografi, dan fisikokimia yang lebih baik. Pendekatan pada penelitian ini menggunakan pendekatan eksperimental dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa perlakuan modifikasi dual HMT, dual Annealing maupun kombinasi ANN + HMT berpengaruh terhadap sifat fungional dan amilografi pati gadung. Secara keseluruhan, terjadi peningkatan dalam sifat amilografi, termasuk suhu awal gelatinisasi, viskositas pasta panas, viskositas pasta dingin, dan breakdown viscosity pada pati gadung yang telah dimodifikasi. Namun, modifikasi ini juga menyebabkan penurunan kecerahan warna pada pati hasil modifikasi dual HMT dan kombinasi ANN + HMT. Modifikasi dual HMT merupakan perlakuan terbaik yang menunjukkan kestabilan pada suhu tinggi. Perlakuan ini ditandai dengan penurunan viskositas breakdown sebesar 74,22 kali. Selain itu, modifikasi dual HMT ini juga meningkatkan nilai swelling volume sebesar 1,29 kali, dan nilai KPA pada modifikasi dual HMT meningkat sebesar 1,71 kali daripada pati gadung alami. Dengan demikian modifikasi dual HMT efektif memperbaiki sifat fungsional dan stabilitas pati gadung
Pemanfaatan Daun Ruku-Ruku (Ocimum tenuiflorum L.) sebagai Bahan Aktif pada Hand Sanitizer
Tanaman ruku-ruku (Ocimum tenuiflorum L.) telah dimanfaatkan dalam berbagai aspek, seperti, bumbu masakan, minyak atsiri, serta penghasil antioksidan dan antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi ekstrak daun ruku-ruku dalam menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus epidermidis, yang sering ditemukan pada permukaan kulit. Salah satu aplikasi potensialnya adalah sebagai bahan baku pembuatan hand sanitizer. Dalam penelitian ini, ekstraksi daun ruku-ruku dilakukan dengan menggunakan tiga jenis pelarut, yaitu etil asetat, etanol, dan metanol, dalam menentukan pelarut yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri uji. Pengujian daya hambat dilakukan menggunakan metode difusi cakram menggunakan media Mueller Hinton Agar (MHA). Pengujian ini dilakukan dengan cara menginokulasikan 100µL suspensi bakteri uji ke media MHA dan 50µL ekstrak daun ruku-ruku dengan konsentrasi 2%, 2,5%, 3% ke cakram uji, untuk selanjutnya dilakukan pengukuran zona hambat yang terbentuk di sekitar cakram uji setelah inkubasi 1x24 jam pada suhu 37°C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak metanol dengan konsentrasi 2.5% memiliki aktivitas penghambatan tertinggi terhadap E. coli dengan diameter daya hambat 11,29 mm (kategori kuat), sementara ekstrak etil asetat dengan konsentrasi 2,5% menunjukkan aktivitas penghambatan tertinggi terhadap S. epidermidis dengan diameter daya hambat 2,92 mm (kategori lemah). Ekstrak dengan daya hambat tertinggi selanjutnya digunakan untuk formulasi hand sanitizer yang dikemas dalam botol spray untuk kemudahan penggunaan. Penelitian ini menunjukkan potensi ekstrak daun ruku-ruku sebagai bahan alami dalam produk pembersih tangan
Aktivitas Antioksidan Ekstrak Bubuk Cabai Merah Besar dengan Metode DPPH Berdasarkan Variasi Jenis Pelarut
Cabai memiliki kemampuan dalam menangkap radikal bebas karena mengandung senyawa antioksidan alami yang bernama capcaisin dan flavonoid yang dapat meningkatkan fungsi kognitif otak. Kandungan senyawa antioksidan pada cabai dapat diperoleh melalui proses ekstraksi. Proses ekstraksi bahan aktif dipengaruhi oleh beberapa faktor penentu diantaranya jenis pelarut, ukuran bahan, rasio bahan- pelarut, dan metode ekstraksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelarut yang paling efektif dalam memperoleh rendemen ekstrak bubuk cabai dan untuk menentukan aktivitas antioksidan pada hasil ekstrak bubuk cabai, kemudian dibandingkan dengan besar aktivitas antioksidan pada BHT sebagai antioksidan sintetik. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental dengan analisis deskriptif, sedangkan untuk teknis pengujian aktivitas antioksidan dilakukan dengan menggunakan metode DPPH. Jenis cabai yang digunakan adalah cabai merah besar varietas TW dan pelarut yang digunakan adalah etanol 70%, etil asetat p.a, heksana p.a, petroleum eter p.a, dan kloroform p.a. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahwa etanol 70% merupakan pelarut yang paling efektif dalam mengekstrak senyawa antioksidan dari bubuk cabai, dengan nilai rendemen tertinggi 2,47%. Namun, aktivitas antioksidan ekstrak etanol 70% yang diukur dengan metode DPPH masih tergolong sangat lemah (IC50 = 1169,95 ppm), jauh di bawah nilai IC50 BHT sebagai standar (20,023 ppm). Hasil ini mengindikasikan bahwa senyawa antioksidan dalam cabai merah besar varietas TW yang terekstrak oleh etanol 70% belum cukup potensial untuk menggantikan antioksidan sintetik seperti BHT
Analisis Kelayakan Finansial Usahatani Kopi Monokultur dan Agroforestri (Studi Kasus Kelompok Tani Bina Bakti, Sub-DAS Cikamiri, Jawa Barat)
Kecamatan Samarang merupakan salah satu daerah penghasil kopi di Kabupaten Garut yang menghadapi ancaman ekologis berupa degradasi lahan akibat konversi hutan menjadi perkebunan kopi, terutama pada usahatani kopi pola monokultur. Pola agroforestri yang mengintegrasikan prinsip konservasi lahan menjadi alternatif yang potensial untuk menyelesaikan permasalahan ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kelayakan finansial usahatani kopi pola monokultur dan agroforestri di Kecamatan Samarang berdasarkan kriteria kelayakan investasi yaitu Net Present Value (NPV), net Benefit-Cost Ratio (net B/C), Internal Rate of Return (IRR), dan payback period. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua pola usahatani tersebut layak secara finansial. Dengan discount factor sebesar 14%, usahatani kopi pola monokultur menghasilkan NPV sebesar Rp28.851.760, net B/C 1,54, dan IRR 23,13%, dengan pengembalian modal pada tahun ke-7. Sementara itu, usahatani kopi pola agroforestri menghasilkan NPV sebesar Rp197.310.592, net B/C 4,54, dan IRR 47,48%, dengan pengembalian modal pada tahun ke-6. Temuan ini mengindikasikan bahwa pola agroforestri tidak hanya lebih menguntungkan secara finansial tetapi juga mendukung keberlanjutan ekosistem, sehingga diharapkan dapat menjadi pendekatan alternatif bagi petani dalam mengelola usahatani kopi di Kecamatan Samarang
Mikroenkapsulasi Lemak Kaya Monolaurin dari Stearin Kelapa Menggunakan Oven Vakum
Monoasilgliserol (MAG) sangat dibutuhkan oleh berbagai industri, termasuk industri pangan sebagai emulsifier. MAG dalam bentuk gliserol monolaurate atau juga dikenal monolaurin memiliki fungsi lain sebagai antimikroba, antivirus, dan imun modulator. Monolaurin dapat dihasilkan dari gliserolisis minyak kelapa, namun monolaurin dapat mengalami kerusakan selama penyimpanan. Oleh sebab itu diperlukan enkapsulasi untuk melindungi monolaurin dari kerusakan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan rasio antara lemak kaya monolaurin dengan enkapsulan maltodekstrin yang menghasilkan mikrokapsul dengan efisiensi enkapsulasi dan karakteristik terbaik. Mikroenkapsulasi dilakukan pada rasio lemak kaya monolaurin terhadap maltodekstrin yaitu 1:4, 1:6, 1:8, 1:10, dan 1:12 dengan pengeringan menggunakan oven vakum. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh dari rasio lemak kaya monolaurin dan maltodekstrin dalam proses mikroenkapsulasi. Rendemen tertinggi sebanyak 54,67% dan pH terbaik di 6,87 dihasilkan oleh rasio pengeringan 1:4. Warna dengan luminance tertinggi 96,16% dan kadar air terendah di 11,58% dihasilkan rasio pengeringan 1:6. Kecepatan larut terbaik 8,5 × 10-3g/detik dihasilkan oleh rasio pengeringan 1:12. Kelarutan tertinggi 88,28% dihasilkan oleh rasio pengeringan 1:10. Efisiensi mikroenkapsulasi terbaik dihasilkan oleh rasio pengeringan 1:4 yaitu sebesar 77,44%. Mikroenkapsulasi lemak kaya monolaurin dengan maltodekstrin menggunakan oven vakum efektif menghasilkan mikrokapsul dengan karakteristik yang baik
Estimasi Sebaran Genangan Banjir Menggunakan Model Hidrologi - Hidrolika di Sub DAS Cikamiri
Dalam pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) analisis hidrodinamika DAS merupakan bagian penting dari upaya mitigasi kebencanaan dan manajemen risiko banjir. Sub Das Cikamiri termasuk dalam DAS bagian hulu Sungai Cimanuk yang memiliki peran dalam pengendalian bencana hidrometeorologi. Namun studi terkait pemodelan Banjir menggunakan model integrasi hidrologi - hidrolika pada area DAS ini belum pernah dilakukan. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah memproyeksikan potensi sebaran genangan banjir di Area Sub DAS Cikamiri meliputi luasan genangan di setiap Desa dan kedalaman genangannya. Adapun simulasi hidrologi dianalis pada debit rancangan return period 5, 10, 20, 50, dan 100 tahun. Metode pada penelitian ini terdapat dua tahapan yaitu analisis hidrologi dilakukan untuk mengetahui debit rancangan menggunakan metode SCS-CN. Selanjutnya yaitu analisis hidraulika dengan menggunakan bantuan software HEC-RAS. Permodelan terdiri dari 3 tahap yaitu pre-processing, running model HEC-RAS, dan post-processing. Dalam analisis hidrologi diperoleh hasil simulasi model dengan data debit observasi diperoleh nilai NSE sebesar 0.856 yang artinya keakuratan model simulasi sangat memuaskan. Pada model hidraulika menunjukan potensi banjir yang berdampak pada 12 Desa. Estimasi kedalaman serta luasan wilayah terdampak paling besar terjadi pada Desa Sirnasari yang terletak pada bagian hilir Sub DAS Cikamiri dengan luas genangan rata-rata sebesar 3.52 ha dengan kedalaman yang meningkat 0.1 – 0.3 m serta luas banjir yang meningkat 0.07 – 0.40 ha seiring dengan bertambahnya periode ulang debit
Penerapan Micro/Nanobubble Generator Tipe Nosel Aliran Berputar pada Aerosol Serai Wangi
Produk samping dari proses penyulingan minyak atsiri berupa aerosol sering kali tidak dimanfaatkan secara optimal dan bahkan dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menerapkan teknologi nanobubble sebagai metode alternatif dalam memisahkan minyak atsiri dari aerosol, serta mengurangi beban limbah biologis, kimia, dan fisik. Nanobubble dihasilkan melalui generator tipe nosel aliran berputar berbasis kavitasi hidrodinamik, menggunakan berbagai jenis gas (udara, oksigen, dan ozon). Karakterisasi dilakukan dengan mengukur konsentrasi oksigen terlarut, pH, konduktivitas, dan ukuran gelembung mikro. Hasil menunjukkan bahwa generator yang dikembangkan mampu menghasilkan nanobubble dengan ukuran rata-rata gelembung mikro 18,85 μm, serta meningkatkan efisiensi pemisahan minyak atsiri dalam aerosol serai wangi. Nanobubble ozon dan oksigen menunjukkan performa yang lebih baik dibandingkan udara biasa dalam meningkatkan konsentrasi oksigen terlarut dan perubahan parameter fisik-kimia lainnya. Teknologi ini berpotensi untuk diterapkan dalam pengolahan limbah industri minyak atsiri secara berkelanjutan
Pemanfaatan Slurry Biogas dari Penanganan Air Limbah Agroindustri Kopi sebagai Pupuk Cair
Air limbah pengolahan kopi dari metode olah basah mengandung bahan organik yang tinggi. Bioremediasi menjadi salah satu alternatif penanganan air limbah pengolahan kopi dengan beberapa jenis reaktor anaerobik yang mampu mereduksi bahan organik berkonsentrasi tinggi dan dapat memproduksi biogas sebagai sumber energi dan memproduksi slurry. Slurry proses bioremediasi ini berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber input unsur hara tanah. Tujuan penelitian ini yaitu karakterisasi berdasarkan nilai C/N dan merekomendasikan aplikasi konsentrasi slurry dari reaktor biogas konvensional, Up-flow Anaerobic Sludge Blanket (UASB), dan Continuous Stirred Tank Reactor (CSTR) sebagai pupuk cair guna mendukung pertumbuhan vegetatif tanaman tomat. Metode penelitian meliputi karakterisasi slurry dari reaktor tiga jenis reaktor, pengamatan pertambahan jumlah daun, tinggi tanaman, dan diameter batang tanaman tomat dengan aplikasi variasi konsentrasi slurry 25%, 50%, dan 100%. Uji Anova dilakukan menggunakan taraf nyata 5% dilanjutkan dengan Uji DMRT untuk analisis post hoc. Nilai C/N slurry biogas dari CSTR yakni 1,47 dan lebih kaya unsur hara daripada dua reaktor lainnya. Variasi pupuk cair dari ketiga reaktor biogas konvensional, UASB, dan CSTR tidak berbeda nyata pada semua parameter pertumbuhan vegetatif tanaman tomat yang mencakup jumlah daun, tinggi tanaman, dan diameter batang. Pemberian konsentrasi pupuk cair slurry hanya berpengaruh pada diameter batang minggu ke-2 (14 hari setelah tanam) sampai dengan ke-4 (30 hari setelah tanam) dengan konsentrasi terbaik yaitu 100% (200 ml pupuk cair + 0 ml air) dengan persentase kenaikan sebesar 20,18 ± 1%. Pupuk cair dari biogas slurry dari pengolahan air limbah kopi dapat mendukung pertumbuhan tanaman tomat dan aplikasi zero waste pada agroindustri