Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian
Not a member yet
256 research outputs found
Sort by
Pengaruh Aplikasi Edible Coating Pati Jagung dengan Penambahan Lilin Lebah terhadap Mutu Buah Pisang Ambon (Musa paradisiaca var. sapientum L.)
Pisang ambon merupakan salah satu komoditas hortikultura dengan tingkat konsumsi paling tinggi di Indonesia. Buah pisang ambon memiliki kerentanan terhadap kerusakan yang tinggi sehingga sangat memengaruhi mutu buah. Upaya menghambat proses kerusakan pada buah pisang ambon perlu dilakukan dengan menerapkan penanganan pasca panen. Salah satu penanganan pasca panen yang dapat diterapkan adalah dengan pengaplikasian edible coating. Edible coating dapat dibuat dari bahan turunan karbohidrat seperti pati jagung. Penambahan lilin lebah digunakan untuk memperbaiki sifat pati jagung yang memiliki resistensi rendah terhadap uap air. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh penambahan lilin lebah pada edible coating pati jagung terhadap mutu buah pisang ambon dan mendapatkan konsentrasi lilin lebah terbaik dalam menghasilkan edible coating berbasis pati jagung yang dapat mempertahankan mutu buah pisang ambon selama penyimpanan. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL) satu faktor yaitu penambahan konsentrasi lilin lebah dengan 5 taraf yaitu 0%, 1%, 2%, 3%, dan 4%. Parameter yang diamati adalah yaitu susut bobot, kadar air, kadar vitamin C, total padatan terlarut, kekerasan, dan uji organoleptik. Perlakuan terbaik dalam mempertahankan mutu buah pisang ambon adalah perlakuan penambahan lilin lebah 1% karena memiliki nilai susut bobot paling rendah sebesar 2,884%, kadar air 86,947%, kadar vitamin C sebesar 10,091 mg/100 g, total padatan terlarut 22,167 %brix, kekerasan 5,278 kg/cm2. Perlakuan 1% juga memperoleh skor mutu paling tinggi berdasarkan uji skoring yaitu sebesar 1,60 untuk tekstur, 2,00 untuk warna, 1,77 untuk aroma, dan 3,44 untuk rasa
Efektifitas Penambahan Berbagai Pengawet Alami terhadap Preservasi dan Preferensi Nira pada Masyarakat Kabupaten Deli Serdang
Penelitian ini bertujuan untuk pengaruh jenis dan konsentrasi pengawet alami terhadap preservasi dan preferensi nira yang dihasilkan. Penelitian ini dilakukan di kecamatan Galang Kabupaten Deli Serdang, Desa Nogo Rejo yang berlokasi dengan luas tanaman aren 3,35 ha, dengan produksi 3,42 ton. Penelitian ini menggunakan pengawet alami ekstrak daun jambu (B1) ekstrak daun salam (B2) dan esktrak kulit kayu raru (B3) dengan penggunaan konsentrais 1 %, 2 % dan 3 %. Data dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan jenis pengawet alami dapat meningkatkan preservasi dan preferensi nira pada masyarakat di Kabupaten Deli Serdang. Penggunaan ekstrak kayu raru menghasilkan raru dengan kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan ekstrak daun jambu dan daun salam. Hal ini dapat dilihat dari warna, bau, rasa dan penampakan nira selama penyimpanan. Pada penggunaan esktrak kayu raru nira masih memiliki kualitas yang baik hingga penyimpanan 78 jam, sedangkan pada penggunaan ekstrak daun jambu dan daun salam kualitas nira hanya dapat bertahan pada penyimapan 66 jam. Konsentrasi pengawet dapat meningkatkan preservasi dan preferensi nira pada masyarakat di Kabupaten Deli Serdang. Penggunaan konsentrasi pengawet alami sebesar 3 % menghasilkan kualitas nira yang lebih baik dibandingkan dengan konsentrasi 2 % dan 1 %. Pada penggunaan pengawet alami dengan konsentrasi 1 dan 2 %, nira hanya dapat bertahan dengan penyimpanan selama 54 dan 66 jam, sedangkan pada penggunaan konsentrasi 3 %, nira masih dapat bertahan hingga penyimpanan 78 jam
Pengaruh Kerusakan dan Lama Penyimpanan Tandan Buah Segar (TBS) Terhadap Asam Lemak Bebas (ALB)
Penelitian ini menganalisis pengaruh tingkat kerusakan tandan buah segar (TBS) dan lama penyimpanan terhadap kadar asam lemak bebas (ALB) dalam minyak sawit mentah (CPO). Penelitian dilakukan dengan desain faktorial menggunakan tiga kategori tingkat kerusakan TBS, yaitu tanpa kerusakan (X1), rusak ringan (X2), dan rusak sedang (X3), serta enam tingkat lama penyimpanan (0–5 hari). Hasil menunjukkan bahwa kadar ALB meningkat seiring bertambahnya lama penyimpanan, dengan laju peningkatan yang lebih signifikan pada buah yang mengalami kerusakan fisik. TBS tanpa kerusakan menunjukkan kadar ALB dari 1,25% pada hari ke-0 menjadi 2,29% pada hari ke-5. Sebaliknya, pada TBS rusak ringan, kadar ALB meningkat dari 2,68% menjadi 6,73%, sedangkan TBS rusak sedang mengalami lonjakan dari 3,34% hingga mencapai 9,47%. Perbedaan signifikan ini menunjukkan bahwa kerusakan fisik mempercepat aktivitas enzim lipase dan proses hidrolisis lemak yang berdampak langsung pada kenaikan ALB. Hasil analisis varians (ANOVA) menunjukkan adanya interaksi yang signifikan antara tingkat kerusakan TBS dan lama penyimpanan terhadap kadar ALB (p < 0,05). Temuan ini menegaskan pentingnya pengelolaan TBS yang optimal, khususnya dengan meminimalkan kerusakan fisik dan mempercepat proses pengolahan untuk menjaga mutu minyak sawit mentah. Oleh karena itu, penerapan sistem logistik yang efisien dan teknik penanganan buah yang tepat menjadi langkah strategis untuk menekan peningkatan kadar ALB akibat kerusakan dan penyimpanan yang terlalu lama
Pengaruh Penambahan Minyak Kenari (Canarium Vulgare Sp) terhadap Kualitas Kimia Dodol Kulit Pisang
Minyak kenari merupakan salah satu minyak nabati yang memiliki kandungan lemak sebesar 65,15% sehingga dapat digunakan pada industri pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan proporsi minyak kenari (Canarium vulgare sp) dalam meningkatkan kualitas kimia dodol kulit pisang. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 (Empat) perlakuan dan 3 (tiga) ulangan sehingga memperoleh 12 (dua belas) unit percobaan. Parameter yang diamati adalah kadar air (metode oven vakum), Protein (metode mikro Kjeldahl), kadar abu (metode Tanur), kadar karbohidrat (metode Luff Schoorl), kadar lemak (metode Soxhlet), kadar serat (metode Gravimetri) Hasil penelitian menunjukkan penambahan minyak kenari dalam pembuatan dodol kulit pisang berkontribusi terhadap kadar air, protein, lemak, karbohidrat, serat dan abu. Sedangkan proporsi minyak kenari yang terbaik adalah kadar air 13,67% (perlakuan D), protein 3,65% (perlakuan D), Karbohidrat 71,53% (perlakuan D), lemak 9,50% (perlakuan D), abu 1,11% (perlakuan A), serat 1,10% (perlakuan A)
Pengaruh Penambahan CMC (Carboxy Methyl Cellulose) Terhadap Karakteristik Minuman Sari Buah Jeruk Manis Pasaman Barat
Buah jeruk mudah mengalami kerusakan, sehingga untuk menghindari kerusakan tersebut maka buah jeruk diolah menjadi minuman. Salah minuman olahan dari buah jeruk adalah minuman sari buah jeruk. Dalam pembuatan minuman sari buah diperlukan bahan penstabil untuk memberikan kestabilan dan mencegah pengendapan. Oleh sebab itu dalam penelitian ini ditambahkan bahan penstabil CMC (Carboxy Methyl Cellulose) yang bertujuan untuk menghambat terjadinya endapan minuman sari buah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan CMC (Carboxymethyl Cellose) terhadap karakteristik minuman sari buah jeruk dan untuk mengetahui konsentrasi CMC (Carboxymethyl Cellose) terbaik berdasarkan sifat sensori minuman sari buah jeruk. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor yaitu beberapa konsentrasi CMC dengan 5 taraf perlakuan yakni penambahan CMC 0%, 0,05%, 0,10%, 0,15%, dan 0,20%, dengan 3 ulangan. Data hasil pengamatan dianalisis dengan sidik ragam (ANOVA) jika berbeda nyata dilakukan uji lanjut DNMRT (Duncan’s New Multiple Range Test) pada taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan CMC dalam pembuatan minuman sari buah jeruk berpengaruh nyata terhadap nilai total padatan terlarut, namun tidak berpengaruh nyata terhadap total asam, vitamin C dan angka lempeng total. Kemudian berdasarkan hasil sensori pada minuman, produk yang paling disukai adalah perlakukan P2 yakni penambahan CMC 0,04 g, dengan karakteristik nilai total padatan 15,81 Brix, kadar vitamin C 2,18 mg/100ml , total asam 0,31 %, Angka lempeng total 8,0x102 cfu/ml. Disimpulkan bahwa perlakuan penambahan CMC dapat meningkatkan Angka lempeng total, Vitamin C dan total padatan terlarut, akan tetapi dapat menurunkan total asam pada minuman sari buah jeruk
Pengaruh Konsentrasi Ragi dan Lama Waktu Fermentasi terhadap Kadar Protein, Kadar Serat dan Sensori Tempe Segar
Tempe dibuat dari bahan dasar kacang kedelai yang difermentasi dengan jenis kapang Rhizopus sp. Proses fermentasi dan konsentrasi ragi yang tepat menghasilkan tempe yang tinggi protein, serat kasar dan antioksidan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi ragi dan lamanya fermentasi terhadap karakteristik mutu dan sensori tempe. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan faktor konsentrasi ragi dan lama fermentasi. Konsentrasi ragi yang digunakan yaitu 0,2 g; 0,4 g; dan 0,8 g (K1, K2, K3) dan lama fermentasi yaitu 36 jam, 44 jam dan 52 jam (L1, L2, L3). Analisis tempe terdiri dari kadar protein menggunakan metode Kjeldahl, serat kasar menggunakan metode Gravimetri dan uji sensori (warna, aroma, tekstur, kekompakan, citarasa dan daya terima) dengan 30 orang panelis tidak terlatih. Semakin sedikit pemberian konsentrasi ragi dan semakin cepat waktu fermentasi maka nilai protein yang dihasilkan semakin tinggi (17,86%), sebaliknya kadar serat semakin tinggi dengan semakin banyak konsentrasi ragi yang diberikan dan semakin lama waktu fermentasi (9,08%). Berdasarkan uji sensori pada tempe segar, secara keseluruhan tempe dengan konsentrasi ragi 0,4g dan lamanya fermentasi 44 jam memperoleh tingkat kesukaan yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan yang lain
Kadar Flavonoid dan Antioksidan Teh Herbal Galaktogog Biji Kelabet dan Daun Kelor pada Beberapa Waktu Penyeduhan
Teh herbal kombinasi biji kelabet dan daun kelor mengandung flavonoid maupun polifenol yang dikaitkan dengan efek sebagai galaktogog. Herbal galaktogog disajikan sebagai teh untuk diseduh agar penggunaannya lebih praktis. Penyeduhan teh dengan air panas merupakan salah satu contoh proses ekstraksi sederhana. Pada proses ekstraksi ada banyak faktor yang akan mempengaruhi proses ekstraksi. Beberapa faktor yang mempengaruhi ekstraksi antara lain: suhu ekstraksi, metode dan tahap ekstraksi, dan jenis pelarut. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan waktu penyeduhan teh herbal galaktogog kombinasi biji kelabet dan daun kelor terbaik dilihat dari parameter kadar flavonoid dan aktivitas antioksidan yang dilihat dari nilai Inhibitory Concentration 50 (IC50). Metode penetapan kadar total flavonoid dengan kolorimetri melalui pembentukan kompleks khelat dengan AlCl3. Metode uji aktivitas antioksidan dengan ABTS (2,2′-azino-bis-(3-ethylbenzothiazoline-6-sulfonic) acid). Analisis data secara statistika dengan software SPSS menggunakan ANOVA (Analysis of Variance) one-way. Hasil penelitian menunjukkan Pengujian kadar flavonoid teh herbal galaktogog biji kelabet dan daun kelor menunjukkan kadar total flavonoid pada waktu penyeduhan 5, 10 dan 15 menit berturut-turut 0,48; 0,82 dan 1,10 mg QE/100 ml. Nilai IC50 pada waktu penyeduhan 5, 10 dan 15 menit berturut-turut sebesar 505,28; 489,88 dan 313,91 ppm. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa waktu penyeduhan teh herbal galaktogog kombinasi biji kelabet dan daun kelor terbaik selama 15 menit (suhu penyeduhan 1000C) .
Perancangan Desain Kemasan Velva Buah Nipah dan Ubi Jalar Ungu Menggunakan Metode Quality Function Deployment (QFD)
Velva buah nipah dan ubi jalar ungu adalah produk sejenis es krim yang memiliki kadar lemak yang rendah karena menggunakan buah nipah dan ubi jalar ungu sebagai bahan utamanya. Desain kemasan yang tepat diperlukan untuk melindungi velva buah nipah dan ubi jalar ungu serta agar terlihat menarik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan desain kemasan velva buah nipah dan ubi jalar ungu yang sesuai dengan keinginan konsumen. Penelitian ini menggunakan metode Quality Function Deployment yang mengakomodir voice of customer dalam pembuatan desain kemasan velva buah nipah dan ubi jalar ungu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua alternatif desain kemasan velva buah nipah dan ubi jalar ungu yang dihasilkan. Alternatif kemasan berbentuk cup, memiliki desain visual yang memuat ilustrasi produk, nama produk, dan nama produsen, terdapat nomor BPOM, logo halal, dan tanggal kadaluarsa serta warna dasar kemasan yang berwarna cerah (merah muda) dan gelap (hijau)
Pengaruh Ekstrak Bawang Putih (Allium sativum L.) pada Edible Film Pati Singkong Terhadap Aktivitas Antibakteri
Plastik merupakan bahan kemasan yang paling populer dan sangat luas penggunaanya. Akan tetapi kemasan plastik mengandung resiko yang berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan, maka dibutuhkan kemasan yang aman dan ramah lingkungan. Kemasan edible film yang dapat menggantikan kemasan plastik karena berbahan dasar pati yang didapat dari umbi-umbian salah satunya, singkong yang memiliki kadar pati lebih dari 72%. Edible film dapat dimodifikasi dengan menambahkan zat antibakteri guna menghambat proses pembusukan produk makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan efektivitas zona hambat yang ditimbulkan edible film pati singkong ekstrak bawang putih. Metode yang digunakan berupa Rancangan Acak Lengkap Faktorial, dengan faktor konsentrasi pati singkong dan faktor konsentrasi ekstrak bawang putih. Sampel ekstrak bawang putih diproses dengan metode ekstraksi maserasi lalu dilakukan uji kadar pelarut. Sampel edible film diproses melalui metode solution casting dengan uji karakteristik berupa elongasi dan kuat tarik, kemudian dilakukan pengujian antibakteri dengan metode Kirby-Bauer. Nilai elongasi dan kuat tarik tertinggi berurutan yaitu sebesar 80 % dan 1,354 N/mm2. Nilai uji antibakteri pada bakteri E. coli dan bakteri S.aureus memiliki nilai berurutan yaitu kategori ‘sedang’ dengan nilai terbesar yaitu 6,55 mm dan kategori ‘kuat’ dengan nilai terbesar yaitu 13,52 mm pada kode sampel S3B4. Dari pengujian antibakteri yang dilakukan memiliki pengaruh nyata terhadap aktivitas antibakteri edible film pati singkong ekstrak bawang putih
Pengembangan Sistem Klasifikasi Non-Destruktif Pembusukan Buah Salak Berbasis Sensor Warna dan Aroma
Pemanfaatan teknologi dalam industri pertanian di Indonesia secara umum masih sangat minim khususnya di kalangan petani buah salak. Hal ini menyebabkan hasil produksi kurang optimal terutama pada proses pemisahan buah berdasarkan kualitas. Secara visual, kulit buah salak matang umumnya tidak mudah berubah warna, namun seringkali daging di dalamnya sudah mulai membusuk. Akibatnya, petani harus menyiapkan tenaga tambahan untuk melakukan pemilahan buah, yang mana hal ini sangat tidak efisien dan efektif. Untuk mempermudah, teknologi otomasi dapat digunakan dengan sistem kalibrasi sensor. Penelitian ini memperkenalkan metode baru untuk deteksi dini pembusukan buah salak, berdasarkan warna dan kandungan gas (amonia) tanpa kontak fisik langsung dengan buah. Prinsip dan Praktik Rekayasa Sistem dipilih sebagai metode pengembangan sistem, dan decision tree sebagai model algoritmanya. Sebanyak 60 kumpulan data yang digunakan untuk melatih dua kelas sistem yaitu matang dan busuk, dan 30 kumpulan data digunakan untuk menguji sistem. Hasil pengujian kemudian dievaluasi dengan confusion matrix. Hasil uji menunjukkan bahwa sistem mempunyai nilai presisi untuk prediksi salak busuk sebesar 88%, recall sebesar 93%, serta tingkat akurasi sebesar 90%. Oleh karena itu, secara evaluasi kinerja, performa sistem yang dibuat cukup handal dalam mendeteksi dini kebusukan buah salak secara non destruktif. Berdasarkan tingkat kriteria ROC Curve, performansi sistem berada di antara kriteria excellent dan good classification