Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian
Not a member yet
256 research outputs found
Sort by
Potensi Penerapan Teknologi Digital Twin pada Industri Pertanian dan Pangan di Indonesia: Sebuah Tinjauan Literatur
Persaingan yang semakin ketat dan kebutuhan konsumen yang semakin meningkat menuntut industri pertanian dan pangan bergerak secara efisien, cepat, dan tepat. Guna memenuhi kebutuhan tersebut kemampuan untuk melakukan peramalan secara akurat dan meminimalisir kesalahan yang terjadi menjadi suatu hal yang dibutuhkan oleh industri pertanian dan pangan di Indonesia. Digital twin merupakan replika digital dari entitas dunia nyata yang menghasilkan informasi aktual. Tujuan dari literature review ini adalah untuk memberikan gambaran tentang status perkembangan digital twin saat ini dan potensi penerapannya di bidang industri pertanian dan pangan Indonesia. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah literature review melalui database ilmiah Web of Science, Sciencedirect, dan Google Scholar dengan kata kunci digital twin dan agriculture. Kriteria inklusi dan eksklusi digunakan untuk mengeliminasi sumber yang tidak berkaitan sehingga didapatkan referensi sesuai dengan kebutuhan dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa digital twin menjadi teknologi potensial jika diterapkan di industri pertanian dan pangan karena digital twin menimbulkan multiplier effect dengan menciptakan manajemen pertanian yang terpadu mulai dari pra-panen, panen, pasca panen. Namun sayangnya hingga saat ini belum ada industri pertanian yang menerapkan digital twin dalam prosesnya di Indonesia. Hal ini dikarenakan terdapat tantangan antara lain 1) ketersediaan infrastruktur, 2) tingginya biaya investasi, 3) penerimaan pelaku industri pertanian, 4) kualitas data, dan 5) ketersediaan tenaga ahli. Hadirnya riset ini harapannya dapat menjadi inisiasi guna mengenalkan teknologi digital twin sekaligus membuka pandangan bagi para pelaku industri pertanian dan pangan untuk menerapkan teknologi digital twin di Indonesia
Synthesis of Methyl Esters from Banda Nutmeg and Papua Nutmeg Oil Production Wastes Using the Ultrasonication Method
Methysters from oil production waste from Banda nutmeg (Myristicafragrans Houtt) and Papuan nutmeg (Myristica Argentea Ware) go through several process stages, namely isolation of trimyristin and synthesis of methyl ester. The process of isolating trimyristin from nutmeg essential oil production waste by maceration using chloroform solvent. The transesterification process with methanol uses a CaO catalyst and ultrasonication method for 20 minutes; the results are analyzed using GCMS. The results of isolating trimyristin from nutmeg oil waste for Papuan nutmeg yielded 55.6 g of trimyristin (22.24%), which was greater than Banda nutmeg which was 49.7 g of trimyristin (19.88%). Transesterification results for Banda nutmeg oil waste obtained 28.57% soakage with a composition of 5 known major methyl ester compounds, namely methyl laurate (3.22%), myristicin (13.48%), metal myristate (53.39%), methyl Palmitate (5.24%), and Methyl Oleate (9.33%). In Papuan nutmeg oil waste, a 3.93% soakage was obtained with a composition of 5 known methyl ester compounds, namely metal myristate (19.80%), methyl arachidate (18.04%), methyl linoleate (1.42%), methyl oleate ( 48.37%), and methyl stearate (3.18%). The sonication method can synthesize methyl esters from nutmeg oil waste and gives different results for the two types of nutmeg. The results of the trimyristin transesterification of Banda nutmeg seeds and Papuan nutmeg seeds using a CaO catalyst using the sonication method resulted in a methyl ester soak of Banda nutmeg waste 28.57% and Papuan nutmeg 3.93%
Redesain Kemasan Produk Wedang Uwuh Menggunakan Metode Creative Brief dan Quality Function Deployment (QFD)
Wedang uwuh merupakan minuman herbal tradisional yang berasal dari Indonesia, terbuat dari campuran rempah-rempah seperti jahe, kayu manis, cengkeh, dan bahan alami lainnya. Wedang uwuh memiliki aroma yang khas dan rasanya yang hangat, sehingga sering diminum untuk menghangatkan tubuh, meredakan flu, dan memberikan rasa nyaman. Seiring dengan perkembangan zaman, peran kemasan dalam rebranding produk menjadi semakin penting. Kemasan bukan hanya berfungsi sebagai wadah untuk produk, tetapi juga sebagai alat untuk mengkomunikasikan nilai-nilai merek, menarik perhatian konsumen, dan menciptakan pengalaman yang membedakan produk dari pesaing. Penelitian ini mengambil contoh UMKM Wedang Uwuh “Busrain” Yogyakarta yang bertujuan untuk redesain kemasan produk berdasarkan kebutuhan dan keinginan produsen maupun konsumen sebagai upaya rebranding serta menarik minat beli konsumen. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Creative Brief dan Quality Function Deployment (QFD), yang dilakukan di UMKM Wedang Uwuh “Busrain” Yogyakarta. Permasalahan yang dihadapi UMKM ini adalah belum tersedianya logo, kemasan primer tanpa label, label pada kemasan sekunder yang tidak menarik, dan tidak terdapat informasi yang jelas mengenai produk wedang uwuh. Hasil House of Quality (HOQ) menunjukkan prioritas perbaikan tertinggi yaitu penggunaan merek sebagai logo dengan jenis font Quick dan bentuk kemasan menggunakan paper standing pouch. Selain itu, berdasarkan hasil penelitian secara keseluruhan dihasilkan rancangan kemasan produk Wedang Uwuh “Busrain” dengan kemasan primer menggunakan kemasan plastik seal agar lebih melindungi produk. Kemudian pada bagian kemasan standing pouch dilengkapi dengan label berwarna oranye apricot, bentuk merek/logo yang baru menggunakan gambar dan kata, serta informasi tambahan lainnya yang diharapkan lebih menarik minat beli konsumen
Peningkatan Kualitas Produksi Wafer Stick di PT Garudafood Putra Putri Jaya dengan Metode Six Sigma
PT Garudafood Putra Putri Jaya merupakan salah satu perusahaan makanan dan minuman yang terbesar di Indonesia. Perusahaan yang berlokasi di Jawa Timur ini memiliki fokus dalam memproduksi biskuit, salah satunya adalah wafer stick. Proses produksi yang dilakukan secara terus menerus membuat perusahaan memerlukan perhatian ekstra dalam mengendalikan kualitas wafer stick yang renyah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kualitas dan nilai sigma produk wafer stick selama bulan September 2023 – Desember 2023, serta memberikan usulan perbaikan untuk meningkatkan kualitas produk wafer stick. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada produk wafer stick terdapat tiga jenis defect, yaitu panjang stick (35,09%), diameter stick (53,39%), dan visual stick (11,52%). Saat ini, perusahaan berada di level 2,08 sigma dari nilai 6 sigma dengan kapabilitas kapabilitas proses 0,69 yang artinya kapabilitas proses nya masih kurang. Menggunakan fishbone diagram, diketahui terdapat tiga penyebab defect, yaitu faktor mesin, faktor metode, dan faktor manusia. Berdasarkan metode FMEA (Failure Mode and Effect Analysis), diketahui RPN (Risk Priority Number) tertinggi pada defect panjang stick adalah sensor error sebesar 175. Pada defect diameter stick, RPN tertinggi adalah spinner tidak pas dengan suhu oven dan nozzle aus sebesar 144. Pada defect visual stick, RPN tertinggi adalah spinner tidak pas dengan suhu oven sebesar 150. Usulan perbaikan yang diberikan adalah membuat standar penggantian sensor mesin baking, melakukan cleaning pada sensor selama dua jam sekali, melakukan evaluasi terhadap standar spinner yang telah ditetapkan, memberikan training atau pelatihan kepada operator mengenai sop dalam penggunaan spinner mesin, dan membuat standar waktu penggantian nozzle pada nozzle yang bermasalah
Uji Kinerja dan Penerapan Nanobubble Generator pada Hidroponik Nutrient Film Technique (NFT) Terhadap Pertumbuhan Selada
Nanobubble generator merupakan salah satu alat untuk menghasilkan gelembung halus dengan diameter < 1 µm. Nanobubble generator terdiri dari pompa dan nozel yang diaplikasikan pada larutan nutrisi sehingga kadar Dissolved Oxygen (DO) dapat meningkat. Hidroponik Nutrient Film Technique (NFT) memiliki kadar DO terkecil pada siang hari yaitu 5,2 mg/L. Kadar DO tersebut masih termasuk dalam kebutuhan tanaman hidroponik namun belum mendekati batas maksimal yaitu 8 mg/L. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja dan pengaruh nanobubble generator terhadap pertumbuhan selada pada hidroponik NFT. Uji kinerja nanobubble generator dilakukan dengan uji PSA, uji zeta potensial, pengukuran listrik, dan perubahan kadar DO. Pada penanaman selada terdapat 4 perlakuan meliputi; kontrol (P0), generate 3 hari sekali (P1), generate 7 hari sekali (P2), dan generate 10 hari sekali (P3). Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Hasil pengukuran tanaman dibandingkan dengan uji ANOVA, dan dilanjut dengan uji Duncan untuk mengetahui perbedaannya. Hasil uji kinerja nanobubble generator diantaranya diameter gelembung nano yaitu 394,6 nm; nilai indeks polidispersi (PDI) yaitu 1,783; zeta potensial sebesar -23,3 mV; daya, tegangan, dan arus listrik sebesar 98,47 Watt; 230,71 Volt; 0,44 Ampere. Hasil tersebut menunjukkan diameter gelembung sesuai standar ISO 20480-1-2017 dengan distribusi ukuran gelembung yang heterogen, serta memiliki stabilitas yang baik di dalam air. Hasil pengukuran biaya listrik sangat kecil yaitu Rp 426,1865 untuk satu masa panen. Hasil pengamatan pertumbuhan selada terdapat perbedaan kadar DO pada setiap perlakuan dengan penerapan nanobubble generator. Hasil panen pertumbuhan selada yang paling baik pada parameter berat segar, tinggi tanaman, dan lebar naungan yaitu dengan perlakuan P1 (generate setiap 3 hari sekali)
Pengaruh Penggunaan Ragi Tape dan Ragi Roti Terhadap Karakteristik Fisikokimia Tepung Mocaf
Ubi kayu dapat diolah menjadi tepung ubi kayu untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional. Tepung mocaf merupakan produk tepung hasil modifikasi dengan fermentasi menggunakan mikroorganisme. Tepung mocaf memiliki potensi sebagai pengganti tepung terigu. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penambahan ragi terhadap karakteristik tepung mocaf yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan metode fermentasi dengan ragi. Adapun jenis ragi yang digunakan adalah ragi tape dan ragi roti. Ubi kayu diiris tipis dengan ketebalan ± 1 mm. Perbandingan ubi kayu terhadap air sebesar 1 : 2 (b/v). Waktu fermentasi selama 6, 12, dan 18 jam. Konsentrasi ragi yang ditambahkan sebesar 1% dan 2% (b/v) terhadap bahan baku ubi kayu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung mocaf terbaik didapatkan dari proses fermentasi menggunakan ragi roti, dengan kadar air 5,27%, kadar abu 0,15%, derajat putih 93,18, swelling power 17,58, dan viskositas pada suhu 300C dan 650C sebesar 0,0759 cP dan 0,00616 cP. Seluruh hasil pengujian telah memenuhi Standar Mutu Tepung Mocaf SNI 1722 : 2011
Karakterisasi Arang Aktif dari Tongkol Jagung dengan Variasi Konsentrasi Aktivator Natrium Klorida
Tongkol jagung merupakan bagian tanaman tempat melekatnya biji jagung, dimana tongkol jagung masih memiliki nilai ekonomis yang rendah, Limbah tongkol jagung biasanya hanya dimanfaatkan untuk pakan ternak, bahkan banyak masyarakat yang membuang begitu saja tanpa diproses lebih lanjut. Limbah tongkol jagung ini akan bertambah seiring dengan meningkatnya kapasitas produksi jagung. Untuk menghindari hal tersebut, perlu adanya pemanfaatan tongkol jagung agar dapat mengurangi limbah lingkungan, salah satunya yaitu dengan menjadikan tongkol jagung sebagai bahan baku pembuatan arang aktif. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh konsentrasi aktivator NaCl terbaik dalam pembuatan arang aktif dari tongkol jagung yang sesuai dengan SNI 06–3730–1995. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan enam perlakuan dan tiga ulangan sehingga diperoleh 18 unit percobaan. Perlakuan dalam penelitian adalah konsentrasi aktivator NaCl; K0 (konsentrasi NaCl 0%), K1 (NaCl 5%), K2 (NaCl 10%), K3 (NaCl 15%), K4 (NaCl 20%), dan K5 (NaCl 25%). Data yang diperoleh dianalisis secara statistik menggunakan analisis ragam (ANOVA) dan akan dilanjutkan dengan uji lanjut (DMRT) pada taraf 5% apabila Fhitung ≤ Ftabel. Berdasarkan data analisis hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa peningkatan konsentrasi aktivator NaCl yang digunakan berpengaruh terhadap nilai kadar air, kadar abu, kadar zat mudah menguap, kadar karbon terikat, dan daya serap terhadap iodin arang aktif tongkol jagung yang dihasilkan. Perlakuan terbaik pada penelitian ini adalah K5 (konsentrasi NaCl 25%) dengan kadar air 7,68%, kadar abu 5,66%, kadar bahan mudah menguap 10,66%, kadar karbon tetap 76,33% dan serapan iodium 1159,02 mg/g
Penambahan Ekstrak Jeruk Nipis Sebagai Penambah Citarasa pada Teh Cascara terhadap Sifat Fisikokimia
Cascara merupakan kulit kopi yang telah dikeringkan dan dapat diminum seperti teh melalui proses penyeduhan. Kemampuan menangkal radikal bebas yang baik teh cascara penting untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Akan tetapi rasa dari teh cascara masih kurang diterima masyarakat karena adanya sensasi langu. Oleh karena itu rasa manis dan segar diperlukan untuk menghilangkan sensasi langu agar daya terima teh cascara meningkat. Jeruk nipis dapat menjadi penambah citarasa pada teh cascara untuk menghilangkan rasa langu. Belum diketahui karakteristik fisikokimia teh cascara dengan penambahan ekstrak jeruk nipis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisikokimia teh cascara dengan penambahan ekstrak jeruk nipis. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap pada sampel teh cascara dengan konsentrasi ekstrak jeruk nipis. Uji yang dilakukan terhadap sampel adalah kadar air, kadar abu, kadar vitamin C, kadar kafein dan kadar antioksidan. Penentuan kadar air dan kadar abu diuji dengan metode gravimetri, penentuan kadar vitamin C diuji menggunakan metode titrasi iodometri, penentuan kadar kafein diuji menggunakan metode Spektrofotometri Uv-Vis dan kadar antioksidan diuji dengan metode DPPH dengan mencari nilai IC50. Hasil pengujian sifat fisik menunjukan kadar air terbesar pada penambahan ekstrak jeruk nipis 20 % adalah 20,45 % dan kadar abu terbesar 5,63 %. Nilai pengujian sifat kimia menentukan kadar vitamin C terbaik adalah 11.70 mg/100g dari penambahan ekstrak jeruk nipis 20 % dan kadar kafein terbaik adalah 0,84 mg/g. Kadar antioksidan memiliki penghambatan DPPH sebesar 63,27 – 93,88 % dengan nilai IC50 terkecil dengan nilai 5,43 ppm dari 20 % penambahan ekstrak jeruk nipis. Dari beberapa pengujian yang dilakukan menunjukan bahwa konsentrasi ekstrak jeruk nipis berpengaruh nyata terhadap kualitas teh cascara tetapi tidak dengan kadar kafein