Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian
Not a member yet
256 research outputs found
Sort by
Rancang Bangun Prototype Alat Pengering Tepung Pati Aren Tipe Efek Rumah Kaca (ERK)
Tepung pati aren merupakan hasil ekstraksi empulur pada batang aren. Proses pengeringan tepung pati aren bertujuan untuk memperpanjang umur simpan dan meningkatkan nilai harga jual tepung. Pengeringan tepung pati aren yang dilakukan saat ini masih menggunakan cara tradisional atau konvensional dengan menggunakan terpal sebagai lantai pengeringan. Proses pengeringan tersebut menyebabkan tepung pati aren tidak kering sempurna, membutuhkan waktu pengeringan yang lama serta berpotensi masuknya kontaminan seperti debu dan benda asing yang dapat merusak mutu tepung pati aren. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan rancang bangun dan uji kinerja alat pengering efek rumah kaca (ERK). Alat pengering hasil rancangan diharapkan dapat mempercepat proses pengeringan serta meningkatkan mutu tepung pati aren. Metode penelitian yang digunakan adalah metode rancang bangun alat. Tahapan penelitian, diantaranya adalah identifikasi masalah, penetapan kriteria perancangan, perancangan alat pengering tipe ERK, perhitungan analisis teknik, pembuatan gambar teknik, pembuatan alat, uji kinerja alat serta pengolahan data. Alat pengering tepung pati aren tipe ERK yang telah dibuat memiliki panjang 4 m, lebar 2 m dan tinggi 1,5 m. Rangka alat pengering menggunakan konstruksi kayu dengan atap pengering berbentuk setengah oval menggunakan plastik UV 6%. Hasil dari pengujian alat didapatkan profil suhu rata-rata alat sebesar 37,2⁰C, RH rata-rata alat sebesar 41,85%, intensitas cahaya matahari rata-rata alat sebesar 301,16 W/m2, suhu bahan rata-rata alat sebesar 31.94⁰C, kadar air hasil pengeringan bahan rata-rata sebesar 15,46% (bb), laju pengeringan rata-rata sebesar 4,10% (bb)/jam, efisiensi alat sebesar 35,94%, serta efisiensi proses pengeringan sebesar 76,69%
Perancangan Desain Kemasan Black Garlic Honey dengan Metode Quality Function Deployment (QFD)
Black Garlic Honey merupakan produk diversifikasi, mengandung black garlic, madu, dan propolis. Produk Black Garlic Honey merupakan produk baru sehingga dibutuhkan perancangan kemasan premium dengan menggunakan metode Quality Function Deployment (QFD) untuk mengetahui kebutuhan konsumen dan respon teknis. Atribut kebutuhan konsumen diperoleh melalui wawancara terhadap konsumen dan pengolahan data dilakukan melalui diagram House of Quality (HOQ). Terdapat 9 atribut kebutuhan konsumen dan 11 respon teknis. Atribut kebutuhan konsumen untuk kemasan Black Garlic Honey adalah bahan yang digunakan aman dan tidak mudah rusak, mencantumkan informasi produk yang jelas dan lengkap, dapat melindungi produk, desain yang menarik, tulisan jelas dan mudah dibaca, kemudahan konsumen untuk membuka dan menutup, mudah untuk dibawa, komposisi warna yang menarik dan elegan, serta ukuran yang sesuai dengan produk yang dikemas. Respon teknis dengan nilai bobot teknis paling tinggi adalah ‘penyesuaian ukuran, bentuk dan bahan kemasan dengan ukuran dan berat produk’, ‘perancangan desain visual kemasan yang menarik’, ‘pemilihan jenis penutup kemasan yang mudah dibuka dan ditutup kembali’. Terdapat 3 hasil rancangan desain kemasan untuk 3 varian jenis produk Black Garlic Honey yang diterima oleh produsen dan responden, dengan menggunakan kombinasi warna cream, coklat muda, dan coklat tua, dan grafis berupa foto produk dan logo. Pertama, kombinasi black garlic utuh dengan madu dengan kemasan jar kaca 250 gr. Kedua, kombinasi black garlic yang dihaluskan dengan madu yang dengan kemasan botol plastik PET 150 gr. Ketiga, kombinasi black garlic yang dihaluskan dengan madu dan propolis dengan kemasan sachet 20 gr
Karakteristik Susu Sapi Terozonisasi dengan Sistem Pasteurisasi Hurdle Non-termal Medan Listrik Berpulsa Tinggi – Ultra Violet
Susu sapi mengandung zat gizi yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh manusia, namun susu mempunyai umur simpan yang relatif singkat, serta mudah mengalami kerusakan akibat cemaran mikroorganisme apabila dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang. Upaya inaktivasi cemaran mikoorganisme pada susu segar melalui proses pemanasan akan menyebabkan banyak nutrisi yang berkurang atau bahkan hilang akibat proses pemanasan. Teknologi pasteurisasi hurdle non-termal High Pulsed Electronic Fields - Ultra Violet (HPEF-UV) merupakan suatu teknologi pasteurisasi tanpa pemanasan yang dapat menginaktivasi mikroba pada susu. Penambahan proses ozonasi dapat menghilangkan bau amis pada susu segar. Tujuan riset ini adalah untuk mengetahui karakteristik fisikokimia dan sensorik dari susu terozonisasi denan sistem pasteurisasi HPEF-UV serta mengetahui efektivitas dari metode ini dalam menghilangkan cemaran mikroorganisme. Pengujian yang dilakukan meliputi uji proksimat dengan parameter uji kadar protein, karbohidrat, dan lemak, uji fisik dengan parameter uji viskositas, pH, dan berat jenis, uji mikrobiologi dengan parameter uji Total Plate Count, Shalmonella sp, dan E. Coli, dan uji organoleptik dengan parameter uji meliputi warna, rasa, aroma, dan tekstur. Hasil yang telah dicapai adalah kombinasi susu terozonisasi dengan sistem pasteurisasi HPEF-UV dapat menurunkan cemaran mikroba sebesar 98,2% tanpa mengubah karakteristik fisikokimia dari susu sapi segar dan aroma susu tidak amis akibat pengaruh ozonasi. Kata kunci: HPEF-UV; ozonasi; pasteurisasi; susu sap
Analisis Pengendalian Mutu Produk Garam Halus Beryodium Menggunakan Metode Lean Six Sigma
PT. Garam merupakan industri yang memproduksi garam halus beryodium yang berlokasi di kabupaten Sampang, Jawa Timur. Perusahaan mempunyai permasalahan dalam proses produksi yaitu masih ditemukanya produk cacat. Jenis cacat pada produk garam yaitu garam kusam, garam kurang yodium, dan berat kotor tidak sesuai yang meliputi berat kurang dari standar dan berat melebihi standar. Tujuan penelitian yaitu mendapatkan nilai performance pengendalian mutu, mengetahui faktor penyebab kecacatan produk garam halus beryodium di PT. Garam, serta mendapatkan strategi dalam memperbaiki mutu produk. Metode lean six sigma digunakan dalam penelitian melalui tahapan define, measurement, analyze, improvement, dan control (DMAIC). Pengumpulan data melalui observasi selama 40 hari dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai performance pengendalian mutu di PT. Garam sebesar 4,313. Faktor yang menjadi prioritas penyebab cacat produk yaitu patokan kalibrasi timbangan tidak sesuai standar, sensor timbangan tidak stabil, mesin terjadi kerusakan, kondisi lapangan tidak sesuai SOP, dan mesin yang mengembun. Strategi perbaikan yang diusulkan untuk menekan adanya cacat produk yaitu melakukan kalibrasi timbangan, melakukan pergantian mesin pengemas, membuat jadwal preventive maintenance mesin, memberikan sosialisasi kepada operator tentang perawatan mesin produksi dan melakukan penggantian mesin pengering. Kemudian melakukan pengeringan pada setiap mesin produksi. Manfaat dari penelitian adalah menambah pengetahuan dan wawasan tentang pengendalian mutu pada proses produksi garam. Kemudian menjadi masukan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam produksi produk garam.
Analisis Perlakuan Pra Pendinginan, Suhu Penyimpanan, dan Kemasan terhadap Kualitas Brokoli
Brokoli merupakan salah satu sayuran yang memiliki tingkat kerusakan yang sangat tinggi sehingga memerlukan penanganan pasca panen yang tepat. Penanganan pasca panen yang dilakukan pada penelitian ini yaitu menganalisis pengaruh perlakuan sebelum pendinginan, perbedaan suhu penyimpanan dan pengemasan yang memainkan peran penting dalam mempertahankan mutu brokoli. Tujuan penelitian kali ini yaitu untuk mengetahui perbandingan perubahan susut berat, tekstur, dan warna pada komoditas brokoli selama proses pra pendinginan, penyimpanan pada suhu ruang (± 23,83˚C) dan suhu rendah (±8,76˚C), serta pengaruhnya pengemasan untuk menentukan titik terbaik dari semua parameter yang disebutkan. Penelitian dilaksanakan di Rumah Kemas Balai Besar Pelatihan Pertanian Lembang pada bulan Juli hingga Agustus 2022. Metode penelitian dilakukan dengan analisis deskriptif yang terdiri dari enam perlakuan dengan tiga kali ulangan. Hasil penelitian yaitu brokoli mengalami perubahan susut berat sebesar 2,45% ketika dilakukan proses pra pendinginan, disimpan pada cold storage (suhu rendah), dan menggunakan kemasan selama 9 hari. Perubahan tekstur yang optimal dengan tidak terjadi perubahan warna yang mencolok ditunjukkan pada brokoli dengan perlakuan pra pendinginan yang disimpan di cold storage (suhu rendah) dan menggunakan kemasan, dengan perubahan tekstur sebesar 1,83 kgf. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa perlakuan penyimpanan dengan suhu rendah, dan penggunaan kemasan dapat memperpanjang umur simpan brokoli dengan batas penyimpanan maksimal selama 8 hari, untuk mendapatkan brokoli layak dikonsumsi
Pembuatan Kemasan Biokomposit Berbasis PVA (Polyvinyl Alcohol) dan Limbah Kulit Kopi
Kemasan biokomposit adalah kemasan yang dibuat dari campuran dari beberapa bahan alam. Dalam makalah ini dipaparkan hasil penelitian kemasan biokomposit yang menggunakan campuran kulit luar biji kopi dengan polimer alam polivinil alkohol (PVA) yang berasal dari sintesis bakteri. Kulit luar kopi merupakan limbah dari industri pengolahan kopi yang terdiri dari campuran kulit luar dan kulit tipis (silver skin) yang terlepas pada saat proses pembersihan. Kulit luar kopi mengandung kandungan serat selulosa yang dapat menjadi bahan pengisi dalam pembuatan kemasan biokomposit berbasis PVA. Polivinil alkohol (PVA) memiliki kekuatan tarik yang baik sehingga sering dimanfaatkan dalam pembuatan kemasan, meskipun demikian PVA memiliki kelemahan yaitu mudah menyerap air sehingga mudah terurai ketika kontak dengan air. Dalam penelitian ini, kulit luar kopi ditambahkan sebagai material pengisi untuk meningkatkan sifat fisik dan mekanik komposit berbasis PVA komersial supaya lebih tahan air, tidak mudah terurai, dan aman bagi lingkungan. Yang menjadi faktor dalam penelitian ini adalah rasio perlakuan PVA dan limbah kopi (100:0, 90:10, 80:20, 70:30, 60:40, 50:50) serta penambahan plasticizer gliserol dengan konsentrasi yang berbeda (2% dan 4%) campuran kemudian dicampur dan dipanaskan sebelum dicetak dengan menggunakan aplikator. Pada tahap berikutnya dilakukan penambahan asam sitrat untuk meningkatkan ketahanan air dari kemasan biokomposit. Penambahan kulit luar kopi dapat meningkatkan karakteristik mekanik kemasan biokomposit berbasis PVA (rasio 90:10) dengan penambahan gliserol dan asam sitrat sebanyak 2%. Biokomposit yang dihasilkan memiliki penurunan daya serap air sebanyak sebanyak 70% dan waktu urai 2 kali lebih panjang dibanding kontrol kemasan dengan menggunakan 100% PVA. Selain itu juga memiliki tekstur yang baik, dengan nilai kuat tarik sebesar 12,48±1,60 MPa, elongasi sebesar 301,99±32,18%, dan modulus Young sebesar 4,16±0,08 MPa
Pengaruh Suhu Pengeringan terhadap Mutu Kakao (Theobroma cacao L.) Varietas Klon BL 50 Pasca Fermentasi
Kakao (Theobroma Cacao. L) merupakan salah satu komoditas unggulan perkebunan Indonesia yang memiliki potensi cukup besar dengan areal perkebunan dan produksinya cenderung terus meningkat setiap tahunnya. Tanaman kakao menghasilkan biji yang digunakan untuk bahan baku produk coklat. Sumatera Barat mempunyai salah satu varietas unggulan kakao yaitu varietas Klon BL 50. Pengeringan adalah salah satu faktor yang mempengaruhi mutu kakao. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji suhu pengeringan yang terbaik terhadap mutu kakao varietas klon BL 50 pasca fermentasi. Penelitian ini menggunakan 3 variasi suhu yaitu 500C, 550C dan 600C. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) satu faktor yaitu suhu pengeringan kakao menggunakan 3 variasi suhu 500C, 550C dan 600C. Hasil penelitian didapatkan pada suhu 500C dibutuhkan pengeringan selama 11,5 jam , laju pengeringan 0,0482 kg/jam dengan efisiensi pengeringan 6,052%, rendemen 45,372%, kadar lemak sebesar 50,598% dan rata-rata jumlah biji per 100 gr sebanyak 94,3 buah. Pada pengamatan suhu 550C dengan rata-rata pengeringan 10,16 jam, laju pengeringan sebesar dengan efisiensi pengeringan sebesar 6,965%, rendemen 45,141%, kadar lemak 51,080%, dengan rata-rata jumlah biji 93,8 buah. Perlakuan suhu 600C dengan lama pengeringan selama 9 jam, laju pengeringan sebesar 0,07083 kg/jam dengan efisiensi pengeringan sebesar 9,382%, rendemen 44,838%, kadar lemak sebesar 53,094% dengan rata-rata jumlah biji per 100-gram sebanyak 93,6 buah. Suhu pengamatan terbaik terhadap mutu kakao klon BL 50 adalah pada perlakuan suhu 600C. Perlakuan variasi suhu pengeringan terhadap mutu kakao Klon BL berpengaruh nyata terhadap laju pengeringan, suhu, RH, lama waktu pengeringan, rendemen, debit udara,efisiensi pengeringan dan kadar lemak
Pengaruh Kerapatan Unggun Bahan pada Distilasi Uap terhadap Rendemen dan Komposisi Minyak Jeruk Purut
Minyak jeruk purut (kaffir lime oil) banyak digunakan dalam industri flavor, minuman, makanan, farmasi, pewarna, dan parfum. Komponen utama dalam minyak jeruk purut yaitu sitronelal, sitronelol, geraniol, dan linalool. Minyak jeruk purut dapat dihasilkan dengan menggunakan metode distilasi uap. Dalam proses distilasi uap, kerapatan unggun bahan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi jumlah rendemen dan kualitas minyak yang dihasilkan karena kerapatan unggun berkaitan dengan aliran uap yang melalui tumpukan bahan yang dapat mempengaruhi jumlah minyak yang dapat terbawa oleh uap tersebut menjadi kondensat. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh kerapatan unggun (daun dan batang jeruk purut) pada proses distilasi terhadap jumlah rendemen dan komposisi minyak jeruk purut yang dihasilkan. Pada penelitian ini menggunakan metode distilasi uap indirect selama 6 jam, tekanan 1,2 kg/cm2 (gauge), laju alir uap sebesar 2 L/jam. Perbandingan berat bahan daun dan batang 1:1. Kerapatan unggun divariasi sebesar 0,075 kg/L, 0,100 kg/L dan 0,125 kg/L. Berdasarkan hasil penelitian, kerapatan unggun daun dan batang jeruk purut berpengaruh terhadap rendemen minyak jeruk purut yang dihasilkan yaitu pada kerapatan unggun 0,075 kg/L, 0,100 kg/L dan 0,125 kg/L menghasilkan rendemen berturut-turut sebesar 0,979%, 0,854% dan 0,647%. Kerapatan unggun 0,075 kg/L merupakan kerapatan yang terbaik dengan rendemen dan kadar sitronelal (78,98%) tertinggi. Kata kunci: distilasi uap; kerapatan unggun bahan; minyak jeruk purut; rendemen; sitronela
Potensi Daun Singkong (Manihot esculenta Crantz) sebagai Pewarna Alami
Singkong merupakan salah satu bahan hasil pertanian yang keberadaannya melimpah di Indonesia. Potensi pengolahan singkong sangat besar seiring dengan perkembangan industri dan menyisakan limbah berupa daun singkong yang pemanfaatannya masih terbatas. Limbah daun singkong berpotensi sebagai pewarna alami karena daun singkong mengandung pigmen alami yakni klorofil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik daun singkong pada perlakuan blanching dan untuk mengetahui karakteristik ekstrak daun singkong dengan penambahan basa MgCO3. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental laboratorium dengan pengulangan tiga kali. Data hasil penelitian terkait daun singkong dianalisis dengan analisis regresi linier menggunakan Microsoft excel 2010, sedangkan data hasil ekstrak daun singkong penambahan basa disajikan dalam tabel dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai pH antara 4,9-5,8. Nilai warna L tertinggi pada perlakuan blanching 1 menit dengan nilai 54,2 dan nilai terendah pada perlakuan blanching 3 menit yaitu 51,5. Nilai warna a tertinggi pada perlakuan blanching 1 menit yaitu -22,7 dan nilai terendah pada blanching 3 menit -19,3. Nilai warna b tertinggi pada blanching 3 menit 21,6 dan nilai terendah pada blanching 2 menit yaitu 16,3. Kadar klorofil pada perlakuan blanching 1 menit 24,64 mg/g, blanching 2 menit 23,01 mg/g, blanching 3 menit 20,67 mg/g. Nilai pH ekstrak daun singkong dengan penambahan basa MgCO3 adalah 7,7 dan hasil warna L 53,4; warna a -22,9; dan warna b 19,4. Total klorofil ekstrak daun singkong dengan penambahan basa sebesar 22,047 mg/g. Perlakuan blanching berpengaruh terhadap pH, warna L, warna a, warna b, dan total klorofil