Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian
Not a member yet
256 research outputs found
Sort by
Karakterisasi Fisikokimia dan Stabilitas Emulsi Pickering Menggunakan Tepung dan Pati Ganyong Termodifikasi Dry-Heat sebagai Emulsifier
Ganyong sebagai sumber karbohidrat berbasis pangan lokal berpotensi sebagai partikel penstabil emulsi pickering. Sifat tepung dan pati ganyong yang ramah lingkungan berpotensi sebagai pickering. Pemanfaatan tepung dan pati ganyong sebagai pickering masih memiliki keterbatasan pada sifat fisikokimia dan stabilitas. Penelitian ini mengamati karakteristik fisikokimia dan kestabilan tepung serta pati ganyong termodifikasi dengan metode dry heat (DH). Pengamatan dilakukan terhadap potensial zeta, sudut kontak, distribusi ukuran, indeks emulsi, indeks creaming dan kemampuan mengikat minyak: tepung dan pati ganyong termodifikasi. Hasil menunjukkan partikel tepung dan pati ganyong termodifikasi dan alami cenderung mudah teragregasi dengan ukuran partikel 1,17-1,41 µm dengan keberagaman partikel. Tepung dan pati ganyong alami, dan termodifikasi tergolong hidrofilik sudut kontak kurang dari 90o. Tepung ganyong dengan modifikasi dry heat, dan alami berpotensi sebagai emulsi pickering
Analisis Minyak Atsiri dari Bunga dan Gagang Cengkeh (Syzygium aromaticum L.) Asal Pulau Saparua Maluku
Maluku merupakan salah satu Provinsi yang memiliki sebaran tanaman penghasil minyak atsiri di semua wilayahnya. Satu jenis tanaman minyak atsiri (cengkeh) yang terdapat di Pulau Saparua yaitu Syzygium aromaticum L. Kualitas minyak cengkeh di daerah tersebut untuk minyak dari bunga cengkeh dan gagang cengkeh perlu untuk di analisis karena terdapat perbedaan komposisi kimia pada setiap wilayah. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis minyak atsiri dari bunga dan gagang cengkeh asal pulau Saparua Maluku. Penelitian menggunakan metode destilasi uap air untuk mengisolasi minyak atsiri, parameter yang dilihat yaitu rendemen minyak dan komposisi kimia minyak menggunakan GCMS. Hasil isolasi minyak menunjukkan bahwa persentase rendemen minyak atsiri tertinggi pada bunga cengkeh yaitu Desa Booi (13,41%), sedangkan persentase rendemen minyak atsiri tertinggi pada gagang cengkeh yaitu Desa Paperu sebesar (3,27%). Analisis komponen minyak cengkeh menggunakan GC-MS menunjukkan bahwa terdapat tiga komponen utama yaitu pada minyak bunga cengkeh mengandung eugenol (46,69%–64,91%), eugenil asetat (21,66%–34,67%), dan trans- kariofilen (11,11%–19,06%), sedangkan pada minyak gagang cengkeh terkandung eugenol (74,59%–91,34%), trans-kariofilen (3,64%–13,13%), dan eugenil asetat (2,93%–6,65%)
Sifat Fisiko-Kimia dan Aktivitas Antimikroba Minyak Atsiri Tumbuhan Actinodaphne glomerata
Tanaman penghasil minyak atsiri berjumlah 160-200 jenis yang tergolong dalam famili Pinaceae, Labiatae, Compositae, Lauraceae, Rutaceae, Zingiberaceae, Myrtaceae dan Umbelliferae. Bagi manusia minyak atsiri digunakan dalam industri kosmetik, industri makanan, dan industri farmasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis karakteristik minyak atsiri dan potensi aktivitas antimikroba minyak atsiri yang berasal dari tumbuhan Actinodaphne glomerata yang tergolong dalam genus Actinodaphne. Penelitian ini meliputi analisis karakteristik minyak atsiri, uji antimikroba dengan metode difusi untuk menentukan konsentrasi hambat minimum (KHM) dan konsentrasi bunuh minimum (KBM) minyak atsiri tumbuhan Actinodaphne. Karakteristik minyak dianalisis dengan rendemen, warna, indeks bias dan kelarutan dalam alkohol, dan analisis komponen kimia dengan Gas Cromatography and Mass Spectroscopy (GC-MS). Uji antimikroba dengan konsentrasi 100%, 10% dan 1% pada jamur Candida albicans, bakteri Staphylococcus aureus, Streptococcus mutans dan Streptococcus sobrinus. Penyulingan uap dan air menghasilkan minyak daun A. glomerata seberat 6.1887 gram. Hasil karakteristik minyak atsiri daun A. glomerata sebagai berikut rendemen 0.2283%, berwarna kuning pucat, nilai indeks bias 1.421 dan larut dalam alkohol 1:1.2 bagian. Hasil analisis GC-MS minyak atsiri daun A. glomerata menunjukkan 26 puncak dengan komponen utama linoleic acid chloride, stigmast-5-en-3-ol (3.β) dan spathulenol. Hasil pengujian antimikroba menunjukkan bahwa A. glomerata memiliki nilai KHM 1% dan KBM 100%
Ekstraksi Minyak Atsiri Kulit Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia (Christm) Swingle) dengan Perbedaan Waktu Pengeringan
Kulit jeruk nipis (Citrus aurantifolia (Christm) Swingle) merupakan bagian dari buah jeruk nipis yang minim dimanfaatkan. Adanya kandungan minyak atsiri di dalamnya dapat menjadi nilai jual yang tinggi untuk kulit jeruk nipis. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kondisi optimum dari bahan berdasarkan lama waktu pengeringan terhadap rendemen yang dihasilkan. Pengeringan dilakukan dengan cara kering angin. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental menggunakan analisis deskriptif dengan variabel bebas adalah kondisi bahan baku yaitu segar, kering angin 1 hari, kering angin 2 hari, kering angin 3 hari, dan kering angin 4 hari. Setiap perlakuan dilakukan pengulangan sebanyak 2 kali. Ekstraksi dilakukan dengan metode hidrodistilasi selama 4 jam dan rasio pelarut 1:9 (b/v). Pengujian dilakukan terhadap kadar air bahan, nilai rendemen, warna, densitas, indeks bias, dan GC-MS. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kondisi bahan kering angin selama 4 hari memberikan nilai rata - rata rendemen yang paling tinggi yaitu 3,42% dengan warna dan nilai rata – rata densitas yang memenuhi standar ISO 3519:2005 yaitu warna bening kekuningan dan 0,862 g/cm2. Nilai indeks bias minyak atsiri kulit jeruk nipis berkisar antara 1,472 – 1,473 dan hasil GC-MS yang menunjukkan terdapat 3 senyawa komponen utama yaitu limonene (40,44%), β-Pinene (23,59%), dan citral (6,93%)
Klasifikasi Jenis Biji Kopi dengan Menggunakan Metode Gray Level Co-occurrence Matrix (GLCM)
Kopi merupakan salah satu tanaman perkebunan yang menjadi sumber penghasilan rakyat dan juga dapat menjadi sumber peningkat devisa negara melalui ekspor biji kopi mentah maupun olahan dari biji kopi. Kopi dapat dibedakan berdasarkan jenisnya yaitu Kopi Robusta dan Kopi Arabika. Setiap varietas kopi memiliki harga yang berbeda-beda tergantung dari jenis varietasnya. Tidak semua petani, dan pemilik coffee shop mampu mengenali varietas kopi dengan hanya melihat green bean dan roasting. Hal tersebut dapat diatasi dengan pemodelan yang dapat mengidentifikasi varietas Kopi Robusta dan Arabika agar dapat digunakan sebagai second opinion untuk mengidentifikasi varietas kopi robusta dan arabika. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah metode pencitraan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui akurasi mengklasifikasikan jenis biji kopi dengan menggunakan metode Gray Level Co-occurrence Matrix (GLCM). Pada penelitian ini bahan utama yang digunakan adalah biji kopi jenis Robusta Tanggul dan Raung, serta Arabika Ijen dan Bali yang telah di sangrai. tingkat kematangan sangrai biji kopi yang digunakan pada penelitian ini adalah coklat muda (light roast) untuk jenis Arabika dan medium roast untuk jenis robusta. Hasil yang diperoleh dari akurasi klasifikasi jenis biji kopi dengan menggunakan metode GLCM sebesar 99% untuk klasifikasi tipe kernel atau powder, 93% untuk klasifikasi jenis Robusta atau Arabika, dan 56% untuk klasifikasi daerah asal yaitu (Tanggul, Raung, Ijen, dan Bali) dengan citra data uji sebanyak 80 citra
Kajian Stabilitas Losion Berbasis Minyak Kelapa dengan Kombinasi Surfaktan Tween 80 dan Setil Alkohol
Losion merupakan kosmetik berupa emulsi minyak dalam air yang digunakan pada kulit bagian tangan dan tubuh. Umumnya losion terdiri dari berbagai minyak nabati atau sintesis. Dalam penelitian ini, minyak nabati yang digunakan yaitu minyak kelapa yang mampu melembutkan kulit. Salah satu bahan penting untuk terjadinya emulsifikasi dan kestabilan emulsi pada losion adalah penambahan surfaktan. Stabilitas emulsi pada losion dapat ditingkatkan dengan mencampur 2 jenis surfaktan. Surfaktan yang digunakan pada penelitian ini adalah Tween 80 serta setil alkohol bertindak sebagai kosurfaktan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh kombinasi Tween 80 dan setil alkohol terhadap stabilitas losion serta mengetahui rasio kombinasi Tween 80 dan setil alkohol terbaik yang menghasilkan losion minyak kelapa stabil. Parameter kestabilan losion meliputi penampakan, pH, viskositas, bobot jenis, daya sebar, uji freeze-thaw, uji panas-dingin, uji sentrifugasi. Parameter pendukung meliputi rendemen dan uji hedonik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental laboratorium dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan Uji lanjut Duncan. Penelitian ini memiliki 5 perlakuan penambahan perbandingan variasi rasio Tween 80 dan setil alkohol, yaitu perlakuan A 0:1, perlakuan B 3:1, perlakuan C 1:1, perlakuan D 1:3 dan perlakuan E 1:0. Selama penyimpanan losion perlakuan B, C, D dan E memenuhi standar SNI 16-4399-1996 seperti rendemen, pH, viskositas dan bobot jenis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan variasi Tween 80 dan setil alkohol mempengaruhi kestabilan fisik losion. Perlakuan C dan D menghasilkan losion yang stabil diantara perlakuan lainnya, keduanya tidak terjadi pemisahan dan tetap homogen pada pengujian kestabilan losion
Aplikasi Deteksi Penyakit pada Daun Tomat Berbasis Android Menggunakan Model Terlatih Tensorflow Lite
Tanaman Tomat (Solanum lycopersicum Mill) merupakan salah satu jenis tanaman yang dapat tumbuh di seluruh wilayah Indonesia sehingga sering dibudidayakan. Salah satu tantangan dalam budidaya tomat yaitu penyakit daun. Penyakit daun dapat menyebabkan turunnya kualitas dan kuantitas buah tomat yang dihasilkan. Berdasarkan permasalahan tersebut, penulis melakukan perancangan aplikasi deteksi penyakit daun tomat dengan menggunakan Convolutional Neural Network (CNN). Dalam penelitian ini penyakit daun tomat diklasifikasikan menjadi sembilan jenis penyakit. Image processing dilakukan dengan mengimplementasikan Algoritma Machine Learning. Datasheet jenis dan gambar penyakit daun tomat diambil dari Kaggle Competition page. Web Teachable Machine digunakan untuk melatih model menjadi Tensorflow lite. Selanjutnya dibangun menjadi aplikasi android dengan basis bahasa pemrograman Java menggunakan Android Studio. Aplikasi yang berhasil dibangun diberi nama Tomato Leaf Disease. Aplikasi ini dapat mendeteksi gambar yang berasal dari galeri maupun hasil tangkapan kamera. Berdasarkan hasil uji coba, aplikasi yang dibangun dapat mengidentifikasi penyakit daun dengan baik. Tingkat akurasi sangat bergantung pada spesifikasi kamera, sudut pengambilan gambar, dan pencahayaan saat pengambilan gambar
Karakteristik dan Aktivitas Antimikroba Minyak Atsiri Daun Actinodaphne borneensis Terhadap Mikroorganise Penyebab Karies Gigi
Pencarian bahan alami sebagai alternatif pengobatan terhadap infeksi penyebab karies gigi terus dilakukan, salah satunya yaitu menggunakan minyak atsiri. Actinodaphne borneensis merupakan spesies tumbuhan hutan penghasil minyak atsiri dari famili Lauraceae yang tersebar luas di hutan Borneo khususnya Kalimantan Timur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik minyak atsiri daun A. borneensis yang dihasilkan dan mengetahui potensi aktivitas antimikroba terhadap bakteri dan jamur penyebab karies gigi. Minyak atsiri daun A. borneensis diisolasi dengan distilasi water and steam distillation. Minyak atsiri yang diperoleh diuji sifat fisik dan dilakukan identifikasi senyawa penyusunnya menggunakan GC-MS. Aktivitas antimikroba diuji menggunakan metode difusi agar dengan konsentrasi uji 100%, 10% dan 1%. Empat mikroorganisme uji yang digunakan antara lain bakteri Staphylococcus aureus, Streptococcus mutans, Streptococcus sobrinus dan jamur Candida albicans. Hasil karakteristik minyak atsiri yang dihasilkan menunjukkan rendemen sebesar 0,1507%, berwarna kuning, nilai indeks bias 1,441 dan larut dalam alkohol 1:2,4 bagian. Berdasarkan hasil analisis GC-MS menunjukkan komponen kimia penyusun minyak atsiri yang mendominasi diantaranya spathulenol, β-ocimene, (+)-aromadendren, D-limonene dan epiglobulol. Aktivitas antimikroba tumbuhan A. borneensis berpotensi dapat menghambat pertumbuhan S. aureus, S. mutans, S. sobrinus dan C. albicans, dengan zona hambat masing-masing 15,11, 19,78, 20,56, dan 16,77 mm
Kajian Pengaruh Penyeduhan terhadap Kadar Total Fenol Teh Herbal Biji Ketumbar dan Daun Sirsak
Teh herbal kombinasi biji ketumbar dan daun sirsak merupakan salah satu jenis minuman fungsional yang dapat memberikan manfaat bagi kesehatan. Namun demikian, suhu dan lama penyeduhan teh herbal yang optimal untuk mendapatkan kadar antioksidan terbaik masih belum diketahui secara pasti. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik bahan baku penyusun teh dan menentukan variasi rasio dari biji ketumbar-daun sirsak, suhu dan lama penyeduhan yang menghasilkan senyawa fenolik tertinggi pada teh herbal kombinasi biji ketumbar-daun sirsak. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial 3 faktor, yaitu faktor kombinasi bahan yang terdiri dari 5 taraf, faktor suhu penyeduhan yang terdiri dari 3 taraf dan faktor lama penyeduhan yang terdiri dari 2 taraf. Studi menunjukkan bahwa teh daun sirsak memiliki kadar air sebesar 6,36%, kadar abu sebesar 8,93%, kadar protein sebesar 13,51%, kadar lemak sebesar 5,54%, dan kadar karbohidrat sebesar 56,41%. Sementara itu, teh biji ketumbar memiliki kadar air sebesar 6,50%, kadar abu sebesar 7,59%, kadar protein sebesar 15,39%, kadar lemak sebesar 14,11%, dan kadar karbohidrat sebesar 65,66%. Faktor rasio bahan baku, suhu penyeduhan dan lama penyeduhan berinteraksi nyata terhadap kadar total fenol teh herbal. Kadar total fenol tertinggi pada penelitian ini adalah pada perlakuan variasi rasio biji ketumbar:daun sirsak 0:100 dengan suhu penyeduhan 100 oC dan lama penyeduhan 5 menit. Penambahan biji ketumbar terhadap teh herbal dapat mengurangi rasa teh daun sirsak yang pahit sehingga formulasi terbaik teh herbal adalah pada rasio biji ketumbar:daun sirsak 25:75 dengan suhu penyeduhan 80oC selama 10 menit yaitu sebesar 7,376 ± 0,1821 mg GAE/g