Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian
Not a member yet
    256 research outputs found

    Front Matter

    No full text

    Identifikasi Kadar Vitamin C Ekstrak Rosela (Hibiscus sabdariffa L.) Hasil Ekstraksi Berbantu Gelombang Mikro

    Full text link
    Bunga rosela (Hibiscus sabdariffa L.) merupakan salah satu tanaman yang memiliki banyak manfaat bagi kesehatan, diantaranya memiliki kandungan vitamin C yang cukup tinggi. Vitamin C dibutuhkan oleh manusia untuk menjaga metabolisme tubuh. Vitamin C memiliki sifat mudah teroksidasi oleh udara, panas dan cahaya sehingga diperlukan metode ekstraksi yang tepat untuk memperoleh vitamin C dari ekstrak. Ekstraksi berbantu gelombang mikro merupakan metode ekstraksi modern yang dipilih karena sesuai untuk ekstraksi senyawa termolabil, dapat mempersingkat waktu ekstraksi dan meningkatkan hasil ekstraksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh level daya, volume dan waktu ekstraksi terhadap kandungan vitamin C ekstrak rosela. Metode penelitian yang dilakukan adalah eksperimental laboratorium dengan analisis deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa level daya, volume pelarut dan waktu ekstraksi berpengaruh terhadap kadar vitamin C ekstrak rosela. Vitamin C tertinggi diperoleh pada perlakuan level daya 50%, volume pelarut 300 mL dan waktu ekstraksi 3 menit yaitu sebesar 21,527 mg/100g

    Karakteristik dan Komposisi Minyak Atsiri Kulit Jeruk Nipis Pada Berbagai Lama Waktu Penyulingan Menggunakan Metode Hidrodistilasi

    Full text link
    Kulit jeruk nipis merupakan produk sampingan yang dihasilkan dari pengolahan sari buah jeruk nipis menjadi berbagai produk olahan. Kulit buah jeruk nipis mengandung berbagai senyawa kimia bermanfaat seperti flavonoid, terpenoid, fenolat, limonoid, alkaloid dan minyak atsiri. Minyak atsiri jeruk nipis dihasilkan dari proses ekstraksi. Waktu ekstraksi merupakan salah satu kunci untuk menghasilkan minyak atsiri dengan kualitas baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik dan komposisi senyawa kimia yang dihasilkan minyak atsiri kulit jeruk nipis dengan metode ekstraksi air (hidrodistilasi) pada berbagai waktu untuk mendapatkan kondisi terbaik. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan menerapkan empat perlakuan yang berbeda yaitu ekstraksi dengan lama waktu 3 jam, 4 jam, 5 jam, dan 6 jam. Parameter yang diamati adalah rendemen, berat jenis, indeks bias, warna dan komposisi kimia minyak atsiri yang dihasilkan. Rendemen minyak atsiri dari waktu ekstraksi 3 jam, 4 jam, 5 jam, dan 6 jam adalah 1,715%, 0,899%, 1,975% dan 1,909%. Berat jenis minyak atsiri 3 jam, 4 jam, 5 jam, dan 6 jam adalah 0,853, 0,851, 0,840 dan 0,862. Indeks bias minyak atsiri hasil ekstraksi selama 3 jam, 4 jam, 5 jam, dan 6 jam adalah 1,478, 1,479, 1,48 dan 1,482. Komposisi kimia minyak atsiri dianalisis menggunakan GC-MS dimana hasil terbaik diperoleh dari waktu ekstraksi 5 jam yang mengandung 86,22% monoterpen, 5,81% seskuiterpen, 1,77% terpinena dan 2,07% aldehida alifatik

    Penyulingan Minyak Atsiri Jahe Merah (Zingiber officinale var. Rubrum) Menggunakan Metode Hidrodistilasi dengan Variasi Waktu Penyulingan

    Full text link
    Jahe merah memiliki banyak manfaat dan salah satunya adalah sebagai bahan baku dalam pembuatan minyak jahe yang dapat dihasilkan melalui proses hidrodistilasi dimana prosesnya dipengaruhi oleh beberapa faktor, satu diantaranya adalah waktu penyulingan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi waktu penyulingan terhadap karakteristik fisikokimia minyak atsiri jahe merah sesuai dengan SNI 06-1312-1998 yang mengatur standar dari produksi minyak jahe. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental laboratorium dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan terdiri dari variasi waktu penyulingan, yaitu perlakuan  (2 jam),  (3 jam),  (4 jam),  (5 jam) dan  (6 jam). Parameter yang diuji adalah rendemen, sisa pelarut, warna, aroma, bobot jenis, indeks bias, dan bilangan asam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi waktu penyulingan memiliki pengaruh nyata terhadap nilai rendemen dengan nilaI signifikansi sebesar 0,000 dan juga terhadap nilai bilangan asam dengan nilai signifikansi sebesar 0,039. Variasi waktu penyulingan tidak memiliki pengaruh nyata terhadap nilai sisa pelarut, bobot jenis, dan indeks bias karena nilai signifikansinya lebih besar dari taraf signifikansi 0,05. Perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan P3 (4 jam) karena menghasilkan minyak atsiri jahe merah dengan rendemen yang tinggi sebesar 1,55 ± 0,020 % dan memiliki warna kuning dan aroma khas jahe, serta memenuhi mutu SNI 06-1312-1998 dan memiliki warna kuning dan aroma khas jahe, serta memiliki mutu sesuai dengan mutu SNI 06-1312-1998 lebih baik dibandingkan perlakuan P4 dan P5. Kata kunci: hidrodistilasi; jahe merah; minyak atsiri; waktu penyulinga

    Analisis Perbandingan Kualitas Biji Kakao (Theobroma cacao L.) dengan Berbagai Wadah Fermentasi Menggunakan Kultur Campur

    Full text link
    Sebagian besar kualitas biji kakao di Indonesia pada umumnya menghasilkan kualitas yang rendah, baik secara fisik ataupun cita rasa. Masih sedikit para petani yang melakukan proses fermentasi biji kakao, padahal biji kakao fermentasi memiliki kualitas yang lebih baik daripada biji kakao non fermentasi. Terbatasnya jumlah panen biji kakao menyebabkan petani enggan melakukan fermentasi. Tujuan penelitian ini yaitu untuk memperoleh potensi wadah fermentasi ukuran kecil dalam fermentasi biji kakao dengan bantuan kultur campur Lactobacillus plantarum, Acetobacter tropicalis, dan Saccharomyces cerevisiae. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 8 perlakuan dan 4 kali ulangan. Setiap wadah fermentasi dari kotak kayu, besek, bambu, dan paralon menggunakan biji kakao basah sebanyak 1 kg yang difermentasi dengan pemberian kultur campur (10%) dan tanpa pemberian kultur sebagai kontrol. Parameter pengujian yang dilakukan yaitu pH, suhu, rendemen, kadar air, cut test, gula reduksi, total asam, kadar lemak, dan organoleptik yang meliputi: tekstur, warna, aroma, rasa. Hasil terbaik diperoleh dari perlakuan kotak kayu dengan perlakuan kultur campur dengan nilai rendemen (36,18%), kadar air (6,67%), cut test (93%), gula reduksi (2,74%), asam total (0,35%), lemak (46,75%), organoleptik tekstur (4/S), warna (4,5/SS), aroma (4,15/S) dan rasa (3,85/S)

    Analisis Pengendalian Kualitas Pada Proses Produksi Teh Hitam Menggunakan Metode Statistical Quality Control

    Full text link
    Peningkatan jumlah konsumsi teh di dunia mendorong perkembangan produksi pengolahan teh yang berada di Indonesia untuk mampu bersaing di pasar internasional. Salah satu faktor yang mempengaruhi nilai jual dan daya saing suatu produk yaitu kualitas produk yang dihasilkan. PTPN IV Unit Tobasari sebagai salah satu industri pengolahan teh hitam yang berada di Kabupaten Simalungun masih menemukan produk cacat dalam proses produksinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kegiatan pengendalian mutu produk teh hitam yang selama ini dilakukan oleh PTPN IV Unit Tobasari, mengidentifikasi faktor penyebab penyimpangan mutu produk dan memberikan tindakan korektif atau usulan perbaikan. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode Statistical Quality Control (SQC) dengan menggunakan alat bantu data statistik. Pengolahan data dilakukan menggunakan teknik analisis deskriptif yang dapat dilakukan dengan tujuan untuk menggambarkan kondisi penelitian berdasarkan fakta. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa (1) pengendalian kualitas dilakukan pada pendekatan penerimaan bahan baku, proses produksi dan pendekatan produk akhir tetapi hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat produk yang masih berada di luar batas kendali statistik; (2) faktor-faktor penyebab penyimpangan mutu teh hitam adalah faktor manusia, faktor bahan baku, faktor metode, faktor mesin dan faktor lingkungan; (3) Tindakan korektif atau usulan perbaikan yang dapat dilakukan yaitu peningkatan kualitas bahan baku, peningkatan kemampuan kerja, perbaikan metode, dan menciptakan lingkungan kerja yang nyaman

    Laju Penurunan Kadar Air dan Nilai Karakteristik Fisik Berdasarkan Sistem Pengeringan Akhir pada Pengolahan Teh Hijau

    Full text link
    Komoditas teh merupakan salah satu komoditi hasil pertanian yang mempunyai peran cukup penting dalam kegiatan perekonomian. Teh merupakan produk agribisnis Indonesia yang mempunyai prospek yang cukup baik untuk terus dikembangkan sebagai sumber devisa. Hal ini menyebabkan Indonesia memperbaiki kualitas produk untuk bersaing di pasar global. Kualitas produk teh merupakan faktor utama guna meningkatkan daya saing produk teh Indonesia, dimana diperlukan evaluasi kesesuaian mutu produk teh dengan persyaratan SNI yang berlaku, salah satunya mengenai persyaratan nilai kadar air. Sifat karakteristik fisik pada produk teh hijau pun mempengaruhi kualitasnya, seperti pada persentase peko yang dihasilkan dan densitas hasil keringan teh. Hasil keringan ini dipengaruhi oleh sistem pengeringan akhir yang digunakan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi laju penurunan kadar air dan nilai karakteristik fisik berupa nilai densitas dan persentase peko berdasarkan dari sistem pengeringan akhir pada proses pengolahan teh hijau. Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel teh hijau pada setiap stasiun proses pengolahan teh hijau. Laju penurunan kadar air yang baik dan menghasilkan kualitas teh yang baik pada parameter nilai densitas terjadi ketika menggunakan penambahan pengeringan semi (RD) yakni menghasilkan kadar air 2-4%, nilai densitas sebesar 0,16 g/mL dan waktu pengolahan yang efektif selama 552 menit, dibandingkan tanpa menggunakan RD yakni kadar air sebesar 4-5%, nilai densitas 0,18 g/mL, dan waktu proses pengolahan selama 762 menit. Penggunaan tambahan pengering semi (RD) memiliki kekurangan yaitu nilai persentase peko sebesar 17,02% yang lebih rendah daripada tanpa pengeringan semi (RD) yaitu sebesar 19,15%

    Development of Antimicrobial Edible Film Enriched with Double Emulsion of Cinnamon (Cinnamomum burmannii) Essential Oil

    Full text link
    The edible film can be used as a carrier of bioactive compounds that contributed to the shelf life or nutritional benefit of food products; however, the addition of bioactive compounds relied greatly on the compatibility of the bioactive compound toward the edible film matrix. Most of the bioactive compounds are nonpolar which incompatible with the polar nature of the edible film. In this research, the nonpolar essential oil of cinnamon, a potent antimicrobial agent, was made into a double emulsion. The double emulsions were made through a two steps emulsification stages, with CaCl2 as the inner water phase and guar gum as the outer water phase. The physicochemical characteristics (stability, viscosity, and droplet size) and the antimicrobial activity of the double emulsion were observed. The double emulsion showed stability up to 7 days of storage at room temperature with high antimicrobial activity; MBC values of 0.86, 1.37, 0.31, and 0.51 mg/mL against E. coli, S. aureus, R. stolonifera, and A. niger, respectively. Different concentrations (5%,10%,15%) of both emulsions were added into edible film suspension. The formation of double emulsion showed a promising result as a means to incorporate nonpolar compounds into basic edible film formulation to increase its functional properties while retaining their physicochemical characteristic. All formulations showed good edible film characteristics, with edible film with 8% essential oil showing a high inhibition zone (15.81 dan 6.92 mm) toward E. Coli and R. stolonifer, 0.0052 mm thickness, the tensile strength of 6.32 MPa, 13% elongation and WVTR of 1.06 g/cm2.h

    Evaluasi Kondisi Kebun Kelapa Sawit Menggunakan Indeks NDVI dari Citra Satelit Sentinel 2

    Full text link
    Citra satelit Sentinel 2 merupakan citra satelit resolusi sedang yang dapat dimanfaatkan untuk memantau kondisi kebun kelapa sawit menggunakan analisis Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). Indeks NDVI merupakan indeks vegetasi yang dihitung berdasarkan rasio nilai reflektansi pada band merah dan inframerah dekat dari pelepah daun kelapa sawit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi kerapatan dan kesehatan tanaman kelapa sawit tua (22-29 tahun) yang telah memasuki masa peremajaan. Penelitian dilakukan di Afdeling 1 Kebun Rantau Baru PT. Pusaka Megah Bumi Nusantara. Hasil penelitian menunjukkan nilai NDVI untuk tanaman kelapa sawit memiliki rentang 0,51 - 0,84. Berdasarkan index NDVI untuk tanaman kelapa sawit, diketahui bahwa kerapatan tanaman kelapa sawit termasuk dalam kategori tinggi dan tingkat kesehatannya termasuk dalam kategori sangat sehat. Kelas kerapatan tinggi hasil pengkelasan indeks NDVI sesuai dengan kondisi kerapatan tanaman di blok kebun kelapa sawit yang memiliki nilai rerata Satuan Pohon per hektar (SPH) 118 pohon/hektar. Kelas kesehatan tanaman hasil NDVI sesuai dengan data Leaf Sampling Unit (LSU) yang menunjukkan nilai kandungan makronutrien dan mikronutrien dalam jumlah yang cukup tinggi. Pemanfaatan citra satelit Sentinel 2 dapat menjadi alternatif untuk evaluasi kondisi kebun kelapa sawit secara cepat dan efisien

    Potensi Minyak Atsiri Daun Ketumbar (Coriandrum sativum L.) sebagai Pendukung Pangan Fungsional: Kajian Literatur

    Full text link
    Ketumbar (Coriandrum sativum L.) merupakan salah satu tanaman rempah yang telah banyak dimanfaatkan sebagai  penyedap dalam makanan, parfum, dan obat tradisional. Di indonesia, biji ketumbar banyak dimanfaatkan namun produktivitasnya sangat rendah. Bagian daunnya belum banyak digunakan dalam bidang pangan dan hanya sebagai salad, saus, atau hiasan sehingga perlu pemanfaatan lebih luas dan kajian lebih lanjut mengenai potensi pada daun ketumbar sebagai bagian tanaman ketumbar yang ekonomis, mudah didapatkan, memiliki sifat fungsional, dan belum banyak dimanfaatkan di masyarakat. Metode yang digunakan yaitu kajian literatur dengan pencarian jurnal pada database jurnal terindeks dan institusi terpercaya. Kajian literatur ini bertujuan untuk mempelajari potensi yang terdapat pada minyak atsiri daun ketumbar sebagai pendukung pangan fungsional sehingga dapat dimanfaatkan secara lebih luas di masyarakat. Minyak atsiri daun ketumbar memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai pendukung pangan fungsional seperti permen jeli, cookies, dan jus buah. Kandungan senyawa bioaktif minyak atsiri daun ketumbar seperti linalool memiliki manfaat sebagai antidiabetes, antikolesterol, antikanker, dan antimikroba sehingga minyak atsiri daun ketumbar dapat dimanfaatkan secara luas di masyarakat

    113

    full texts

    256

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇