Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian
Not a member yet
256 research outputs found
Sort by
RANCANG BANGUN REAKTOR BIOGAS DENGAN PENGADUK UNTUK SAMPAH ORGANIK SKALA RUMAH TANGGA
Untuk mengurangi kelemahan reaktor biogas yang ada dan pemanfaatan sampah organik telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk merancang bangun reaktor biogas yang mudah dibuat, relatif murah, tidak korosi, tahan lama, dan memiliki pengaduk dengan memanfaatkan sampah organik skala rumah tangga. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus hingga Desember 2011 di Desa Cikeruh, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Hasil penelitian memberikan rancangan reaktor biogas berbahan dasar drum plastik High density Polyethilen (HDPE) dengan pengaduk untuk sampah organik skala rumah tangga dengan spesifikasi: volume total 500l, volume isian 400l, panjang pengaduk 750mm dengan diameter poros 20mm. Reaktor biogas dapat menghasilkan biogas sebanyak 1100l dengan proses selama 30hari, temperatur dan pH rata-rata bahan isian berkisar 28ºC dan 7,23 dengan nilai kalor bersih 19,78 Joule/cm3. Pengaduk dapat mengaduk bahan isian di dalam reaktor biogas sehingga tidak mengalami pengeringan. Biaya investasi reaktor biogas Rp 587.000, NPV= Rp 752.906, IRR= 34,11 %, BCR= 1,59, reaktor biogas ini mencapai BEP pada produksi 1.350 l/bulan. Kata kunci : rancang bangun, reaktor biogas, pengaduk, sampah organik
UJI KINERJA DAN ANALISIS EKONOMI MESIN PULPER KULIT BUAH KOPI ARABIKA (Coffea arabica) (Studi Kasus di Koperasi Warga Masyarakat Hutan Pangalengan, Kabupaten Bandung)
Penelitian ini bertujuan untuk melakukan uji kinerja dan analisis ekonomi mesin pulper kulit buah kopi arabika (Coffea arabica) (Studi Kasus di Koperasi Warga Masyarakat Hutan Pangalengan, Kabupaten Bandung). Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif analisis, yaitu melakukan pengukuran dan pengamatan terhadap kinerja mesin pulper kulit buah kopi arabika dan analisis ekonomi. Data yang diperoleh dianalisis guna menentukan kelayakan fungsional maupun ekonomi dari mesin tersebut. Hasil uji kinerja menunjukkan bahwa kapasitas teoritis sebesar 439,89 kg/jam, kapasitas aktual sebesar 167,09 + 0,41 kg/jam, efisiensi mesin sebesar 37,98 + 0,08 %, kebutuhan daya motor listrik mesin sebesar 136,30 + 0,14 kW, kebutuhan energi spesifik pengupasan sebesar 2,93 kJ/kg, indeks performansi sebesar 0,50, kadar air buah kopi sebesar 58,24 + 0,16 %, dan rendemen pengupasan sebesar 54,55 + 0,43 %. Berdasarkan analisis ekonomi, usaha pengupasan kulit buah kopi arabika memenuhi syarat, dan menghasilkan nilai NPV sebesar Rp 1.944.595,64, IRR sebesar 22,10 % dan B/C Ratio sebesar 1,07, kemudian untuk pay back periode investasi tersebut mengalami keuntungan pada tahun ke-4. Kata kunci : uji kinerja, analisis ekonomi, mesin pulper, biji kop
ANALISIS TEKNIK DAN MODIFIKASI MESIN PENYOSOH SORGUM TEP-1
Mesin Penyosoh Sorgum TEP-01 hasil rancang bangun Jurusan Teknik dan Manajemen Industri Pertanian masih memiliki kelemahan, yaitu: konstruksi mesin masih belum baik karena masih berbentuk model, hasil penyosohan masih banyak yang pecah, kapasitas mesin masih kecil yaitu 4 kg/jam dan proses penyosohan belum kontinyu. Metode penelitian yang digunakan adalah metode rekayasa untuk memodifikasi model TEP-1 terkait dengan poros penyosoh, sabuk puli, dan komponen penumpu, dan menguji kinerja mesin terkait dengan kapasitas penyosohan, daya yang dibutuhkan, dan rendemennya. Hasil analisis teknik, menunjukkan bahwa komponen-komponen mesin, yaitu: poros, puli-sabuk dan bantalan telah memenuhi kelayakan teknik sehingga layak dan aman untuk digunakan. Sedang hasil pengujian mesin memperlihatkan bahwa data kapasitas efektif mesin 12 kg/ jam dengan kebutuhan daya 356 W, dan dengan rendemen rata-rata 68,85 % untuk saringan 1 mm dan 82,1 % untuk saringan 2 mm. Kata kunci: Sorgum, Mesin Penyosoh, analisis teknik, uji Kinerj
SIFAT FUNGSIONAL DAN REOLOGI TEPUNG JAGUNG NIKSTAMAL SERTA APLIKASINYA PADA PEMBUATAN BAHAN DASAR MAKANAN PENDAMPING ASI
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sifat fungsional dan reologi tepung jagung nikstamal dan pengaplikasian tepung jagung nisktamal tersebut dalam pembuatan bahan dasar Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI). Biji jagung diberi perlakuan nikstamalisasi menggunakan berbagai tingkat konsentrasi kapur (0 %, 0,25 % dan 0,5 %) dan lama pemasakan (0, 5, 10, 15 dan 20 menit). Konsentrasi kapur dan lama pemasakan secara signifikan (p ≤ 0,05) memengaruhi sifat fungsional dan reologi tepung jagung. Semakin tinggi konsentrasi kapur, maka swelling volume, solubility, kapasitas penyerapan air dan kekuatan gel semakin menurun. Profil gelatinisasi memperlihatkan bahwa viskositas puncak, breakdown dan setback tepung jagung semakin menurun dengan semakin meningkatnya konsentrasi kapur. Semakin meningkat kapasitas penyerapan air, maka semakin meningkat swelling volume, solubility, kekuatan gel dan viskositas puncak, sebaliknya semakin menurun wettability tepung jagung. Bahan dasar MP-ASI yang dibuat dari tepung jagung nikstamal memiliki komponen nutrisi makro sesuai dengan standar dan memiliki kapasitas penyerapan air yang lebih rendah dan densitas kamba yang lebih tinggi dibandingkan bahan dasar MP-ASI dari tepung jagung non-nikstamal. Bahan dasar MP-ASI berbahan baku tepung jagung nikstamal memiliki daya cerna protein 87,36 % (bk) dan daya cerna pati 81,07 % (bk). Karakteristik sensori bahan dasar MP-ASI berbahan baku tepung jagung nikstamal tidak berbeda secara nyata dengan bahan dasar MP-ASI komersial kecuali kehalusan. Kata kunci: nikstamalisasi, tepung jagung, sifat fungsional, sifat reologi, MP-AS
KARAKTERISTIK DEFORMASI TANAH PADA PEMBUATAN LORONG PENGATUS DANGKAL DI TANAH SAWAH JENUH DI DALAM SOIL BIN
Pembuatan lorong pengatus di atas lapisan keras (hardpan) pada tanah sawah dilakukan untuk memperpendek masa tunggu tanam palawija yang sekaligus mempercepat penurunan kadar lengas tanah yang tinggi setelah musim hujan agar sesuai dengan pertumbuhan awal tanaman palawija. Namun terdapat resiko deformasi lorong pengatus pada saat pengolahan tanah yang sangat ditentukan oleh kondisi fisik tanah aktual. Penelitian eksperimentil deskriptif dilakukan pada skala laboratorium di dalam soil bin yang diisi tiga contoh tanah yang berbeda kadar liatnya, yaitu; 1) Godean (GDN: 13.12 %), 2) Moyudan (MYD: 41.17 %), dan Boyolali (BYL:53,63 %). Masing-masing tanah diamati karakteristik deformasinya saat pembuatan lorong pengatus. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa deformasi tanah terbesar justru terjadi pada tanah dengan kandungan liat tertinggi (53.63 %) dan terkecil pada tanah dengan kandungan liat (13.12 %). Kata kunci: deformasi tanah, lorong pengatus, tanah sawa
MESIN PEMUPUK PRESISI LAJU VARIABEL BERBASIS MIKROKONTROLER
Sistem penjatah pupuk laju variable (variable rate fertilizer metering system) merupakan salah satu teknologi kunci pada mesin-mesin pintar yang digunakan dalam implementasi pertanian presisi (precision farming). Pada mesin pemupuk yang mempunyai penjatahan laju variabel, akurasi pemberian dosis dan fleksibilitas dalam pemberian dosis yang berubah secara cepat sangatlah diperlukan. Pada penelitian ini bagian penjatah pupuk diputar langsung oleh motor DC yang kecepatannya dapat dikontrol secara digital berbasis modul mikrokontroler 8 bit AVR 128. Rotor yang digunakan adalah tipe bintang dengan 6 sirip. Sistem yang dikembangkan ini dapat mengatur perubahan dosis secara tepat dan cepat, juga memungkinkan perekaman data pemupukan dan posisi-nya di lapangan menggunakan DGPS. Hasil pengujian menunjukkan bahwa pupuk dapat dijatah secara presisi, mempunyai hubungan linier terhadap putaran rotor dan proporsional baik pad pengoperasian rotor tunggal maupun rotor ganda. Pengoperasian dengan rotor tunggal dengan pupuk urea memberikan nilai kalibrasi dosis 0.794 dengan koefisien diterminasi lebih dari 0.999, sedangkan pengoperasian dengan rotor ganda nilai kalibrasi dosisnya adalah 1.513 g/s/rps dengan koefisien diterminasi lebih dari 0.999. Pada prototip mesin ini jumlah pupuk dapat diberikan secara akurat dan beragam dosisnya secara spasial sesuai dengan kebutuhan tanaman dalam blok, juga tepat posisi penempatannya di dalam lahan Kedepan, pengembangan prototip ini diharapkan dapat mendukung kemampuan teknologi lokal-nasional pada penerapan precision farming dimasa depan. Kata Kunci: Pertanian presisi, penjatah laju variabel, Electronic meterin
Penggunaan Program FEMAP dalam Pemetaan Tegangan dan Distribusi Regangan Pada Singkal Bajak
Distribusi tegangan dan regangan akibat tahanan draft tanah yang terjadi pada permukaan kerja singkal bajak sempit (M-1), bajak lebar (M-2), dan bajak berbentuk anak panah pada saat pengolahan telah diamati untuk mengantisipasi kerusakan pada bagian-bagian peka material bajak yang digunakan. Setiap singkal bajak tersebut terbuat dari lembaran plat baja AISI 1040 setebal 3 mm. Metode eksperimen deskriptif digunakan, di mana setiap bajak masing-masing pada gilirannya ditarik oleh traktor berdaya 6,5 kW pada kecepatan pengolahan konstan 0.54 m/s dan pada kedalaman pengolahan 10 cm untuk mendeteksi besarnya tahanan draft tanah yang dialami singkal bajak. Gaya tahanan diukur dengan sebuah transduser cincin oktagonal yang dipasang pada batang horisontal bajak. Hasil berdasarkan tahanan draft tanah yang diukur, ditampilkan oleh FEMAP (Finite Element Modeling and Post Processing Program). Program ini mampu memperlihatkan struktur geometrik singkal dan perubahan tegangan dan regangan yang terjadi selama operasi pengolahan tanah. Interval distribusi tegangan pada struktur geometrik singkal pada bajak M-1, m-2, dan M-3 berturut-turut adalah antara –285.1 sampai 398.60; -63.77 sampai 379.70; dan -585.90 sampai 2429.0 N. Sedangkan distribusi regangannya berturut-turut adalah antara–1.456E-4 sampai 7.754E-3; –8.729E-5 sampai 1.454E-3; dan –4.193E-6 sampai 6.039E-4 cm. Kata kunci: distribusi tegangan dan regangan, transduser cincin octagonal, tahanan draft tana
PRODUKSI MINUMAN FUNGSIONAL SIRSAK (Anona muricata. Linn) DENGAN FERMENTASI BAKTERI ASAM LAKTAT
Penggunaan bakteri asam lactat (LAB) dalam memproses minuman fungsional sop asam bertujuan untuk mengetahui efek LAB dan fermentasi terhadap sifat fungsional dan karakteristik, serta daya anti-oxidant minuman sop asam. Studi ini menggunakan analisis deskriptif pada beberapa variasi lamanya fermentasi. Pengamatan dilakukan pada turbiditas, total asam, pH, total gula, pengurangan gula, vitamin C, kapasitas anti-oksidan, dan hasil tes organoleptik. Hasil menunjukkan bahwa penggunaan LAB dan fermentasi mempengaruhi karakteristik dan daya anti-oksidan minuman fungsional sop asam. Kata kunci: sup asam, proses minuman, LAB, fermentasi, anti-oxida
MODIFIKASI PATI GARUT SECARA ENZIMATIS UNTUK PRODUKSI MALTODEKSTRIN
Garut merupakan sumber pati yang belum dimanfaatkan secara optimal. Untuk mengoptimalkannya di antaranya adalah dengan memodifikasi pati garut secara enzimatis menjadi maltodekstrin yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang industri pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji berbagai variabel yang berpengaruh serta mengamati perubahan sifat-sifat fisika maupun kimia dari maltodekstrin yang dihasilkan. Suhu reaksi, lama waktu reaksi, dan konsentrasi enzim berpengaruh secara signifikasn terhadap nilai Dextrose Equivalen (DE) pada maltodekstrin yang dihasilkan, tetapi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap karakteristik lainnya. Semakin tinggi suhu reaksi, lama waktu reaksi, dan konsentrasi amilase maka Dextrose Equivalen (DE) maltodekstrin yang dihasilkan semakin meningkat. Perlakuan suhu reaksi 85 °C, selama 10 menit dan konsentrasi α-amilase 0,2 % menghasilkan maltodekstrin terbaik dengan rendemen 72,6 , DE 9,57, dan solubility 51,99 % dan warna putih. Kata Kunci : pati garut, maltodekstrin, amilase, dextrose equivalen (DE
POTENSI ENERGI PADA SISTEM REFRIGERASI SIKLUS TUNGGAL DAN GANDA (CASCADE) SEBAGAI PEMANAS UNTUK PROSES PENGERINGAN BEKU VAKUM
Potensi energi sistem refrigerasi siklus tunggal dan rangkap pada mesin pengeringan beku perlu diukur untuk menentukan manfaat panas buang kondensernya sebagai pemanas mesin pengeringan beku. Sistem refrigerasi tunggal terdiri dari kompresor, condenser, katup ekspansi dan Evaporator, oil separator, liquid receiver, dan accumulator Sedangkan sistem refrigerasi ganda terdiri bagian High stage dan Low Stage yang dihubungkan melalui sebuah PHE (Plat Heat Exchanger). Hasil pengukuran menunjukan bahwa sistem refrigerasi tunggal dapat mencapai temperatur pembekuan sebesar -35 sampai -40 °C pada sisi evaporator dan mencapai temperatur masuk kondenser 70 °C dan keluar kondenser 30 °C dengan refrigerant HCR 22. Sedangkan pada sistem refrigerasi siklus ganda (Cascade) dengan temperatur pembekuan sebesar -35 sampai -37oC dan mencapai temperatur masuk kondenser LS 110 °C dan keluar kondenser 25 °C dengan refrigeran 20 % CO2 dan 80 % HCR 22. Fakta ini menunjukan bahwa panas buang kondenser dapat digunakan sebagai pemanas untuk mempercepat laju pengeringan dan mengurangi konsumsi energi pada proses pengeringan beku vakum Kata kunci: panas buang kondenser, mesin pengeringan beku vakum, refrigerasi siklus tunggal dan ganda