Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian
Not a member yet
256 research outputs found
Sort by
KAJIAN KARAKTERISTIK FISIK SERASAH TEBU SETELAH PANEN
Usaha penanganan sisa tanaman tebu sebelum dan sesudah panen yang selama ini merusak lingkungan dan mengganggu kesehatan dapat dikurangi dengan memperkecil ukurannya menjadi serasah tebu dengan mesin pencacah untuk bahan baku kompos. Untuk itu serasah tebu dikaji untuk memperoleh data fisik-mekanik yang perlukan dalam perancangan mesin pencacah serasah yang efisien dan efektif, baik secara teknis maupun ekonomis. Kata kunci: Sifat fisik, Sifat mekanik, Tebu, Serasa
PENENTUAN KONDISI OPTIMUM FORMULA DAN GAYA TEKAN TERHADAP SIFAT TABLET EFFERVESCEN BUAH MARKISA
Tujuan penelitian ini adalah menentukan pengaruh formula dangayatekan terhadap sifat tablet effervescen sari buah. Penelitian dilakukan dengan menvariasi formula dangayatekan. Variasi formula terdiri dari kombinasi rasio asam sitrat dan natrium bikarbonat (1:3, 1:2, 1:1, 3:1, 2:1, dan 2:3 w/w), sedangkan variasi gaya tekan adalah 1000, 2000, 3000, 4000, dan 5000 N. Sifat tablet yang dievaluasi adalah tekstur dan kelarutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwagayatekan berpengaruh secara signifikan (α > 0,05) terhadap kekerasan dan kelarutan tablet effervescen. Variasi formula tidak berpengaruh secara signifikan (α < 0,05) terhadap tekstur dan kelarutan tablet effervescen. Tablet effervescen buah markisa yang memiliki karakteristik yang baik diperoleh pada formula rasio asam sitrat dengan natrium bikarbonat 1:2 w/w dengangayatekan 3000 N. Kata kunci: Formula, Kompresi, Tablet effervescent
SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN BERBASIS JARINGAN SYARAF TIRUAN UNTUK PERAMALAN HARGA TANAMAN PANGAN
Peramalan harga tanaman pangan perlu dirancang untuk memberikan stimulus kepada para pengambil keputusan terkait dengan kebijakan stabilisasi harga pangan, tendensi harga masa depan, dan jadwal tanam yang dapat memaksimumkan laba. Kajian dilakukan berdasarkan tingkat harga bulanan komoditas tanaman pangan bulan Januari 2000-Juli 2011 di Kabupaten Sleman, D.I. Yogyakarta. Metode penilaian Mean Square Error (MSE) dan Mean Absolute Percentage Error (MAPE) dengan toleransi validitas 15 persen digunakan untuk menentukan komoditas tanaman pangan dari 324 percobaan yang memiliki performansi terbaik. Dari 6 jenis komoditas tanaman pangan yang menjadi objek kajian, arsitektur JST yang paling baik diperoleh dari komoditas beras IR64 dengan arsitekur [12 – 32 – 1], nilai laju pembelajaran 1,75 dan kisaran transformasi data terletak pada [0 dan 1], dengan nilai MSE dan MAPE pelatihan, pengujian dan validasi berturut-turut adalah [0,00125 dan 2,807 %], [0,0219 dan 3,289 %], [0,0244 dan 3,575 %]. Kata kunci: sistem pendukung keputusan, jaringan syaraf tiruan, peramalan harga, tanaman pangan
Tahanan Draft Tanah Spesifik Beberapa Bajak Singkal di Tanah Sawah
Reaksi tanah terhadap tiga permukaan kerja bajak singkal ketika beroperasi pada kondisi tanah sawah telah diprediksi dengan menggunakan formula Kisu dan pada saat yang sama diukur secara actual di lapangan untuk mengetahui tahanan draft tanah spesifiknya. Bajak singkal yang digunakan adalah lanyam kecil Cidaun, lanyam besar Ciamis (keduanya seluruhnya terbuat dari kayu) dan bajak Bujul (singkal besinya didukung oleh kayu) – dinyatakan di sini sebagai P1, P2 dan P3. Bajak-bajak ini secara bergiliran ditarik oleh seekor kerbau berbobot dinamik 23,44 kN dengan kecepatan tarik 0,48 m/s pada kedalaman 10 cm. Sebuah dynamometer terkalibrasi berkapasitas 549,36 N/cm2 terpasang di titik tarik pada palang tarik kerbau digunakan untuk mengukur tahanan draft tanah actual. Hasil pendugaan Formula Kisu menunjukan rata-rata tahanan draft tanah spesifik untuk P1, P2 dan P3 berturut-turut adalah 1,2542; 1,2123 dan 1,2548 N/cm2. Sedang data aktual yang diukur pada P1, P2 dan P3 berturut-turut menunjukan tahanan draft tanah spesifik 1,3705; 1,239 dan 1,3885 N/cm2. Data ini membuktikan bahwa perolehan data prediksi dan data aktual masih berada di dalam interval yang dapat diterima pada nilai maksimum 4 N/cm2. Walau terdapat perbedaan nyata antara data prediksi dan data aktual, namun besaran ini masih berada dalam batas maksimum tahanan draft tanah hewan yang memiliki gaya tarik 0,4709 kN pada kecepatan tarik 0,48 m/det atau daya maksimum sekitar 0,226 kW. Kata kunci: tahanan draft tanah spesifik, bajak tradisional, hewan tarik, tanah sawa
ANALISIS TEKNIK DAN UJI KINERJA EKSTRAKTOR JAMBU BIJI
Spesifikasi teknik ekstraktor jambu biji yang dibuat Balai Besar Pengembangan Teknologi Tepat Guna-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia perlu dikaji ulang dan diuji kinerjanya. Metode analisis deskriptif digunakan dalam pengujian terhadap mesin untuk mengetahui kelayakan teknik tiap komponennya dan kemampuan kerja mesin. Hasil analisis teknik menunjukkan bahwa kebutuhan daya penggerak sebesar 0,64 kW, diameter poros sebesar 13,93 mm, panjang pasak sebesar 5,25 mm, diameter dalam kopling cakar sebesar 26,8 mm, diameter luar kopling cakar sebesar 53,0 mm, tinggi cakar pada kopling sebesar 15,0 mm, umur bantalan sebesar 25.677.202 jam, kekuatan rangka sebesar 0,47 × 103 N, dan kekuatan sambungan las sebesar 17.400 N. Berdasarkan hasiltersebut, tiap komponen layak untuk digunakan pada mesin. Hasil uji kinerja menunjukkan bahwa kapasitas teoritis sebesar 5.485,62 kg/jam, kapasitas aktual sebesar 627,77 ± 34,84 kg/jam, efisiensi mesin sebesar 11,44 ± 0,63 %, kebutuhan daya listrik mesin sebesar 1,15 ± 0,02 kW, efisiensi daya sebesar 53,24 ± 1,03 %, kebutuhan energi spesifik pengekstrakan sebesar 6,72 ± 0,38 kJ/kg, tingkat kehilangan bahan sebesar 6,92 ± 3,57 %, kadar sari buah dalam padatan sebesar 85,93 ± 1,35 %, kadar padatan dalam sari buah sebesar 4,11 ± 0,71 %, dan rendemen pengekstrakan sebesar 69,44 ± 3,41 %. Untuk meningkatkan kinerja mesin, perlu dilakukan perbaikan dan perawatan terhadap karet pada rakitan pengaduk. Kata kunci: analisis teknik, ekstraktor, jambu biji, sari buah, uji kinerja
EVALUASI KINERJA SISTEM IRIGASI
ABSTRAK Instrumen evaluasi kinerja sistem irigasi secara kuantitatif dikembangkan dengan pendekatan sistem dan berbasis keluaran telah diaplikasikan di wilayah sistem Irigasi Serayu, Jawa Tengah. Keluaran sistem dipakai sebagai indikator utama (main indikator) mencerminkan tingkat kecukupan dan ketepatan pemberian air, efisiensi irigasi, kondisi dan fungsi sistem drainase, luas tanam dan produktivitas. Komponen sistem irigasi dalam bentuk input, proses, dampak dan keberlanjutan sistem irigasi dimasukkan sebagai indikator tambahan (auxiliary indicator). UPT Jeruk Legi. UPT Kroya dan UPT Sumpiuh dipakai sebagai daerah irigasi sampel yang masing-masing mewakili daerah atas, tengah dan bawah. Dengan menggunakan rentang skor 1-4, hasil penilaian kinerja sistem irigasi berada dalam posisi baik. Daerah irigasi yang berada di daerah atas dan tengah mempunyai total skor 2,87 dan 2,20 dan daerah bawah mempunyai total skor 2,13. Berbasis pada luaran, komponen evaluasi dipakai sebagai dasar dalam menilai kinerja Operasi dan Pemelihataan (O&P). Hasilnya menunjukkan bahwa kinerja O&P daerah irigasi bagian atas termasuk kategori sangat baik (skor 3,05) dan bagian tengah dan bawah termasuk kategori baik (skor 2,50 dan 2,42). Dengan menempatkan posisi kinerja sistem Irigasi dalam bentuk kuadranisasi menunjukan untuk UPT Jeruk Legi dan Kroya berada pada kuadran I yang mengindikasikan prasyarat kinerja sistem irigasi terpenuhi untuk menghasilkan keluaran yang diinginkan, sedangkan untuk UPT Sumpiuh berada pada kuadran II yang berarti prasyarat kinerja sistem irigasi masih memerlukan peningkatan untuk memenuhi keluaran yang diinginkan. Kata kunci: evaluasi kinerja sistem irigasi, O&P sistem irigasi, indikator dasar, indikator tambahan
STUDI KUALITAS AIR PADA SUMBER MATA AIR DI DESA SIDOMULYO KECAMATAN SILO KABUPATEN JEMBER
Kualitas air pada sumber air di desa Sidomulyo, Jember perlu observasi, karena kuantitasnya cukup melimpah untuk digunakan sebagai air baku air minum, sebagai air bersih domestik, sebagai air baku air minum kemasan, dan sebagai air baku irigasi lahan pertanian. Metode deskriptif digunakan dengan mengambil sejumlah contoh air untuk analisis kualitas air sesuai dengan peruntukannya. Contoh air yang diambil dari 4 sumber (air terjunan, air mis, air cadangan (reservoir), dan air keran penduduk, dianalisis berdasarkan 4 kelas kualitas air yang meliput 14 parameter uji. Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai kualitas air 8 parameter uji (57,14 %) memenuhi kualitas air kelas I, yaitu: suhu air 22,75 °C, TDS 214,5 mg/liter, pH 6,97, NO3 0,005 mg/liter, Fe 0,175 mg/liter, Mn 0.535 mg/liter, SO4 sebesar 13,03 mg/liter dan belerang (H2S) sebesar 0 mg/liter. Sedangkan 6 parameter (42,86 %) menunjukkan hasil masuk pada kelas II sampai kelas IV yaitu : klorida (Cl) sebesar 2,93 mg/liter masuk kelas II, E Coli sebesar 625 kadar jumlah/100 ml masuk kelas II, TSS sebesar 254,75 mg/liter masuk dalam kelas III, total coliform sebesar 8200 mg/liter masuk kelas III, DO sebesar 2,39 mg/liter masuk dalam kelas IV dan tembaga sebesar 0,293 mg/liter yang masuk dalam kelas IV. Kata kunci: kelas kualitas air, sumber air, analisis kualitas ai
KAJIAN POTENSI PEMANFAATAN LUMPUR HASIL PENGOLAHAN LIMBAH CAIR PABRIK KELAPA SAWIT
Lumpur hasil pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit di Propinsi Riau dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik di kebun kelapa sawit. Karena itu kesetaraan kandungan hara yang dikandung lumpur tersebut perlu dikaji potensinya sebagai penambah unsur hara untuk pemupukan pada tanaman kelapa sawit (Elaeis gueneensis Jacq). Metode deskriptif analisis dilakukan terhadap lumpur yang diambil dari kolam anaerob dan aerob untuk mengetahui kecukupan /ketersediaan kandungan unsur haranya. Data ini dibandingkan dengan kebutuhan pemupukan kelapa sawit berdasarkan beberapa parameter yang ditelaah, yaitu: kadar N, P, K, Ca, dan Mg. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lumpur dari kolam anaerob mengandung unsur hara 0,016 % C, 0,047 % N; 0,004 % P; 0,161 % K; 0,111 % Ca; dan 0,09 % Mg. Sedang dari kolam aerob terkandung 0,017% C; 0,041% N; 0,003% P; 0,131% K; 0,145% Ca; dan 0,083 % Mg. Setelah dilakukan penyetaraan dengan pupuk yang biasa diaplikasikan di kebun kelapa sawit dibutuhkan pemupukan dengan lumpur untuk memenuhi unsur N, P, K, dan Mg, berturut-turut sebanyak 550,9; 12.842,6; 342,7; dan 62,1 kg/pohon. Kata kunci : limbah cair, lumpur, unsur hara tambahan, perkebunan kelapa sawi
PENGARUH SUHU TERHADAP DAYA REKAT ALUMINIUM FOIL UNTUK KEMASAN
Proses sterilisasi dilakukan pada kondisi suhu dan tekanan tinggi sering menyebabkanmenurunnya daya rekat kemasan dari alumunium foil yang mempercepat kadaluwarsaproduk pangan yang dikemasnya. Penelitian menggunakan metode deskriptif eksperimentil telah dilakukan pada suhu ber-beda untuk mengetahui daya rekat kemasan alumunium foil. Pengamatan dilakukan terhadap daya rekat 2 sampel kemasan alumunium foil (Sampel A dan B), yang diperlakukan pada suhu 160 dan 170 °C dan direkatkan selama 5 detik, di mana Sampel A direkatkan oleh sealer injak manual, sedang Sampel B oleh sealer otomatis. Data daya rekat sampel A dan B kemudian diibandingkan dengan daya rekat sampel hasil fabrikasi sebagai sampel kontrol. Hasil pembandingan menunjukan bahwa sampel A memiliki daya rekat maksimum 1,709 kgf, minimum 1.253 kgf dan rata-rata 1.438 kgf. Sedang sampel B maksimum 1.618 kgf, minimum 1.379 kgf, dan rata-rata 1.508 kgf. Sementara sampel kontrol maksimum1.556 kgf, minimum 1.371 kgf, dan rata-rata 1.475 kgf. Kata kunci: daya rekat, aluminium foil, kemasan pangan
APLIKASI ARTIFICIAL NEURAL NETWORK DALAM PEMUPUKAN N, P, DAN K PADA BUDIDAYA TEBU
Data historis dosis pemupukan pada budidaya tebu dan hasil yang diperoleh (hasil tebu dan kadar gula) sangat bermanfaat untuk mengetahui dosis pemupukan yang memberikan hasil yang tinggi. Hubungan tersebut dapat diformulasikan dengan artificial neural network. Penelitian ini bertujuan membangun model artificial neural network sehingga dapat ditentukan kebutuhan jumlah hara N, P, dan K pada target hasil tebu (yield) dan kadar gula yang diharapkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model Artificial Neural Network (ANN) yang dibangun untuk memformulasikan hubungan antara jumlah hara yang dibutuhkan dengan hasil tebu dan kadar gula memiliki akurasi R2=0.93 untuk pupuk pertama N, R2=0.88 untuk pupuk pertama P, R2=0.88 untuk pupuk kedua N, dan R2=0.92 untuk pupuk kedua K. Kata kunci: dosis pupuk, hasil tebu, kadar gula, artificial neural network