Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian
Not a member yet
256 research outputs found
Sort by
PENGARUH KONSENTRASI DAN LAMA PERENDAMAN DALAM LARUTAN NATRIUM METABISULFIT (NA2S2O5) TERHADAP KARAKTERISTIK TEPUNG BAWANG MERAH (ALLIUM ASCALONICUM L.) VARIETAS SUMENEP
Perubahan pola hidup masyarakat perkotaan menyebabkan permintaan akan makanan instan meningkat dengan alasan kepraktisan. Pengolahan bawang merah menjadi tepung bawang merah memudahkan dalam penggunaannya sebagai bumbu. Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2005 hingga Mei 2006. Bawang merah varietas Sumenep memiliki kadar air yang rendah dan kadar padatan serta kadar bahan volatil yang tinggi. Pengeringan pada produk pangan menyebabkan berkurangnya aroma dan pencoklatan non-enzimatis. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan konsentrasi dan lama peren-daman dalam natrium-metabisulfit yang tepat agar diperoleh tepung bawang merah dengan karakteristik yang baik. Rancangan Percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok pola faktorial dengan 2 faktor dan 4 ulangan. Faktor pertama adalah konsentrasi NMS yang terdiri dari 3 taraf, yaitu : 500 ppm (a1), 1000 ppm (a2), dan 1500 ppm (a3). Faktor kedua adalah lama perendaman yang terdiri dari 2 taraf, yaitu : 3 menit (b1) dan 6 menit(b2). Konsentrasi natrium-metabisulfit 1000 ppm dan lama perendaman 6 menit menghasilkan tepung bawang dengan karakteristik terbaik yaitu berwarna kuning semu kehijauan (L: 61,82; a : -5,55, b : +40,94), kadar air 4,76%, kadar VRS 49,53 m.ek/g, kadar abu 2,14%, dan residu Sulfit 4,59 ppm dan rendemen 14,83%. Kata kunci: Tepung, bawang merah, kadar air, natrium-metabisulfi
INVENTARISASI EKTOPARASIT PADA BENIH NILEM (Osteochilus hasselti) DARI GARUT, JAWA BARAT
Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui ektoparasit pada stadia benih ikan nilem (Osteochillus hasselti) yang terdapat di Pasar Ikan Tarogong, Garut, Jawa Barat . Pengamatan menggunakan metode deskriptif, dengan mengamati bagian sisik/kulit, sirip dan insang ikan. Sampel diambil sebanyak 200 ekor dari mulai bulan Juni sampai dengan bulan September 2007.Hasil menunjukkan bahwa ektoparasit yang ditemukan terdiri dari dua filum yaitu Protozoa (77%) dengan lima genus yaitu Ichthyophthirius sp (36,16%), Trichodina sp (22,20%), Trichodinella sp (4,65%), Myxobolus sp ( 3,32%), Epistylis sp (0,07%) dan filum Helminthes (23%) yang terdiri dari tiga genus yaitu Dactylogyrus sp (29,27%), Gyrodactylus sp (3,20%), Transversotrema sp (0,03%), dengan intensitas 55,48 dan Prevalensi 77%. Kata kunci: Ektoparasit, Benih nila
MODIFIKASI MODEL HIDROGRAF ALIRAN PERMUKAAN WOODING UNTUK DAERAH ALIRAN SUNGAI DI DAERAH TROPIS
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan model hidrograf debit aliran permukaan yang dimodifikasi dari model Wooding, untuk kejadian hujan di daerah tropis, luas DAS yang lebih besar dan diharapkan lebih baik tingkat ketelitiannya. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai Desember 2004.Percobaan kalibrasi model telah dilakukan pada plot percobaan berbentuk ellips dengan panjang sumbu pendek 2,0 m dan sumbu panjang 3,0 mdi Jatinangor untuk memperoleh parameter yang akan memberikan estimasi hasil hidrograf terbaik, dan validasi model untuk menguji keandalan model pada skala DAS di sub DAS Cigulung seluas 36,8 km2 dan sub DAS Cikapundung Maribaya seluas 76,7 km2. Hasil kalibrasi plot percobaan mendapatkan η (koefisien detention) terpakai sebesar - 0,5 dan pengujian keandalan model definitif menunjukkan hidrograf debit aliran permukaan yang dihitung dengan menggunakan model definitip tidak berbeda nyata pada tingkat kepercayaan 95% terhadap hidrograf debit aliran permukaan hasil pengukuran lapangan. Sedangkan analisa sensitivitas menunjukkan perubahan luas DAS dan intensitas hujan akan berpengaruh terhadap hasil perhitungan debit aliran permukaan model. Kata kunci: Hidrograf aliran permukaan
FACTORS INFLUENCING BACTERIOCIN PRODUCTION OF LACTOCOCCUS SPECIES ISOLATED FROM PROCESSED MEAT
Bakteriosin yang dihasilkan oleh spesies Lactococcus hasil isolasi dari daging olahan, secara biokimia hampir sama dengan spesies Lactococcus lactis subsp. lactis dan menyerupai nisin. Bakteriosin ini juga mempunyai kemampuan antimikroba yang sama dengan nisin dengan rentang yang luas melawan bakteri patogen dan bakteri perusak Gram-positif. Ketiga bakteri ini dapat tumbuh pada suhu 4 - 40ºC, membelah diri dan dapat menghasilkan sejumlah besar bakteriosin apabila ditumbuhkan pada suhu 30ºC selama 16 jam. Bakteriosin yang dihasilkan dapat digunakan pada makanan yang disimpan pada suhu rendah dengan harapan mempunyai masa simpan 4 – 8 minggu. Selama penyimpanan bakteri UW1, UW2 dan UW3 akan menghasilkan bakteriosin dan mengontrol pertumbuhan bakteri patogen dan bakteri perusak yang dapat tumbuh pada suhu rendah. Kata kunci : Bakteriosin, Isolat, Biopreservati
PERANCANGAN PERANGKAT LUNAK PEMANEN AIR HUJAN LAPANGAN UNTUK PERTANIAN LAHAN KERING
Penghitungan perolehan air hujan pada Instalasi pemanenan air hujan di lapangan dipengaruhi banyak faktor yang menentukan panen air hujan aktual. yang dipanen. Melalui teknologi komputer penghitungan dapat dipermudah dengan merancang perangkat lunak pemanen air hujan lapangan. Sebuah protipe perangkat lunak – disebut In-Rain Software Versi 1.0, telah berhasil dibuat dan beroperasi dengan baik. Hasil perhitungan data panen air hujan dengan menggunakan perangkat lunak ini diuji dengan data sekunder Desa Bojongkembar Kabupaten Sukabumi Jawa Jawa Barat. Hasil uji menunjukan perbedaan data panen air hujan yang relatif kecil antara 0 sampai 0,39 dengan rata-rata nilai perbedaan 0,079. Hasil uji membuktikan bahwa perangkat lunak yang dirancang ini valid dan dapat direkomendasikan penggunaannya. Perangkat lunak ini mudah dipindahkan dengan flash disc tanpa harus menginstalasi program dasarnya, yaitu Borland Delphi 7.0.Kata kunci : Pemanenan air hujan, Perangkat lunak, Borland Delphi 7.
PENGKAJIAN PENGGUNAAN GUNTING PETIK PADA KOMODITAS TEH DI KECAMATAN CIKALONG WETAN-KABUPATEN BANDUNG
Permasalahan utama di perkebunan teh rakyat di Kecamatan Cikalongwetan saat ini dan ke depan adalah semakin langkanya tenaga kerja pemetik Kebutuhan tenaga kerja di perkebunan teh rata-rata 1,3 orang per hektar. Dari jumlah tersebut, 70% merupakan tenaga pemetik. Pemetikan mekanis menggunakan gunting atau mesin petik disamping dapat mengatasi kelangkaan tenaga kerja, dapat juga meningkatkan produksi pucuk jika dibandingkan secara manual dengan menggunakan tangan. Dengan memperhatikan peran pemetikan untuk tercapainya tingkat produksi, tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tenaga pemetik di atas adalah: (a) Optimasi produksi tanaman serta (b) Mekanisasi pemetikan. Pengkajian penggunaan gunting petik pada komoditas teh, disamping diharapkan dapat mengatasi kelangkaan tenaga panen, juga diharapkan dapat meningkatkan kualitas pucuk teh yang dihasilkan. Pengkajian dimulai dari bulan Agustus 2005 – Desember 2005 di Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung. Metode pengkajian dilakukan dengan pendekatan deskriptif dengan cara membandingkan antara penggunaan kombinasi gunting petik dan manual dengan manual saja. Masing-masing perlakuan diulang 2 kali. Kelompok Tani yang terlibat dalam kegiatan adalah kelompok tani Tunas Maju. Tujuan pengkajian untuk mengetahui nilai tambah dan hasil pengunaan guntik petik. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa, penggunaan gunting petik pada saat pemetikan teh, membutuhkan waktu petik yang lebih singkat yaitu selama 6,57 jam/ plot dengan prestasi petik sebesar 18,05 kg/jam. Apabila dibandingkan antara penggunaan gunting petik dan cara manual terkait dengan interval petik rata-rata gunting petik sebesar 20,57 hari dan cara manual 12 hari, belum diperoleh hasil yang optimal. Dengan menggunakan gunting petik, diperoleh hasil dengan persentase daun lebih besar yaitu 76,25% dibandingkan dengan cara manual. Pemetikan dengan cara manual dihasilkan mutu pucuk peko sebesar 44,99%, sedangkan dengan menggunakan gunting diperoleh mutu pucuk peko lebih banyak yaitu sebesar 46,14%. Penggunaan gunting petik dapat meningkatkan prestasi petik dan mutu pucuk yang dihasilkan. Untuk optimalisasi kinerja gunting petik masih dibutuhkan peningkatan ketrampilan dalam penggunaannya. Sedangkan kuantitas hasil pucuk, disamping dipengaruhi oleh cara pemanenan juga dipengaruhi oleh musim. Kata kunci: Gunting petik, Panen, Te
PENGARUH APLIKASI HIDROGEL TERHADAP BEBERAPA KARAKTERISTIK TANAH IMPACT OF HYDROGEL APPLICATION ON SOME SOIL CHARACTERISTICS
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh aplikasi hidrogel terhadap beberapa sifat atau karakteristik tanah : kadar air, stabilitas agregat, porositas makro, dan kandungan C-organik. Penelitian dilakukan pada bulan September sampai dengan November 2013 di rumah kaca dan laboratorium fisika dan kimia tanah Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran dengan ketinggian tempat ± 700 m di atas permukaan laut. Penelitian ini ditata dalam satu rancangan dasar berupa Rancangan Acak Kelompok yang meliputi 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan tadi adalah: dosis hidrogel 0 gr polybag-1 (H0), dosis hidrogel 100 gr polybag-1 (H1), dosis hidrogel 200 gr polybag-1 (H2), dan dosis hidrogel 300 gr polybag-1 (H3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi hidrogel berpengaruh nyata terhadap hampir semua variabel yang diamati (stabilitas agregat, porositas makro, dan C-organik), akan tetapi aplikasi hidrogel tidak berpengaruh nyata terhadap kadar air tanah.Kata kunci: hidrogel, kadar air, stabilitas agregat, porositas makro, C-organi
PEMISAHAN KOMPONEN ANTIAGREGASI PLATELET DARI DAUN KEDONDONG (Spondias acida Blume) DENGAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS
Penelitian ini bertujuan untuk mengekstrak dan memisahkan komponen antiagregasi platelet yang memiliki aktivitas paling tinggi dari daun kedondong muda Pada penelitian ini dilakukan ekstraksi maserasi dari daun kedondong menggunakan pelarut etanol. Selanjutnya dilakukan Fraksinasi awal dengan cara ekstraksi cair-cair (ECC) dengan menggunakan pelarut heksanaa, diklormetan, etil asetat dan n-butanol. Selanjutnya fraksi yang paling aktif dipisahkan dengan KLT analitik Pastikfolien Kieselgel 60 F 254. Fraksi etilasetat memberikan aktivitas antiagregasi platelet tertinggi dibandingkan fraksi lainnya seperti, etanol, heksana, diklorometan, n-butanol, dan fase aquaeous. Hasil kromatografi lapis tipis (KLT) dari fraksi etil asetat menghasilkan 4 fraksi, 3 diantaranya memiliki aktivitas antiagregasi platelet yang lebih tinggi dibandingkan fraksi etil asetat itu sendiri. Dari hasil uji fitokimia dan spektrum UV diduga komponen tersebut merupakan senyawa fenolik seperti flavonoid, Kata kunci: Daun kedondong, Ekstraksi, KLT, Antiagregasi platele
PENGARUH KOMBINASI DOSIS PUPUK HAYATI DAN PUPUK MAJEMUK NPKMg TERHADAP PERTUMBUHAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) DI PEMBIBITAN UTAMA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi dosis pupuk hayati dan pupuk majemuk terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit di pembibitan utama. Percobaan dilaksanakan dari bulan Juli 2007 sampai dengan bulan Oktober 2007 di Kebun Percobaan Pusat Penelitian Perkebunan Marihat, Pematang Siantar, Sumatera Utara pada ketinggian369 mdiatas permukaan laut, jenis tanah Ultisol, dengan curah hujan rata-rata2993 mmper tahun dan tipe curah hujan A.Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok yang terdiri dari sebelas perlakuan dan diulang lima kali, dengan perlakuannya sebagai berikut : B0 = 2,5 g pupuk majemuk/bibit ; B1= 0,5 cc Bio-Trent/polibeg + 5 g pupuk majemuk/bibit ; B2 = 0,5 cc Bio-Trent/polibeg + 2,5 g pupuk majemuk/bibit ; B3 = 1 cc Bio-Trent/polibeg + 5 g pupuk mejemuk/bibit ; B4 = 1 cc Bio-Trent/polibeg + 2,5 g pupuk majemuk/bibit ; B5 = 1,5 cc Bio-Trent/polibeg + 5 g pupuk majemuk/bibit ; B6 = 1,5 cc Bio-Trent/polibeg + 2,5 g pupuk majemuk/bibit ; B7 = 2 cc Bio-Trent/polibeg + 5 g pupuk majemuk/bibit ; B8 = 2 cc Bio-Trent/polibeg + 2,5 g pupuk majemuk/bibit ; B9 = 2,5 cc Bio-Trent/polibeg + 5 g pupuk majemuk/bibit ; B10 = 2,5 cc Bio-Trent/polibeg + 2,5g pupuk majemuk/bibit.Hasil percobaan menunjukkan kombinasi dosis pupuk hayati Bio-Trent dan pupuk majemuk NPKMg memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada tinggi tanaman (10 MST, 14 MST, 16 MST), jumlah daun (6 MST, 8 MST, 10 MST, 12 MST, 14 MST), diameter batang (4 MST, 6 MST, 14 MST) dan luas daun (16 MST). Pemberian kombinasi pupuk hayati Bio-Trent 2,5 cc/polibeg dan pupuk majemuk 2,5 g/bibit memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap bobot kering daun (16 MST), bobot kering akar (16 MST), bobot kering batang (16 MST), bobot kering tanaman (16 MST), dan nisbah pupus akar (16 MST). Kata kunci : Bibit kelapa sawit, Pupuk majemuk, Pupuk hayat
PENGARUH IMBANGAN TEPUNG SORGUM DENGAN TEPUNG MASA JAGUNG (MASA FLOUR) TERHADAP BEBERAPA KARAKTERISTIK TORTILLA CHIPS
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui besar imbangan yang tepat antara tepung sorgum dengan tepung masa jagung sehingga dihasilkan tortilla chips dengan karakteristik inderawi yang disukai. Metode penelitian yang digunakan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 4 perlakuan yang diulang 6 kali.Hasil penelitian menunjukkan bahwa imbangan sorgum dengan tepung masa jagung memberikan perbedaan pengaruh yang nyata terhadap kadar air, kadar protein, daya serap minyak, warna, kerenyahan, kenampakan dan kekerasan tetapi tidak memberikan perbedaan pengaruh yang nyata terhadap rasa dan aroma tortilla chips. Perlakuan terbaik adalah imbangan tepung sorgum dengan masa jagung 40%:60% dengan karakteristik kadar air 3,60%, kadar protein 8,64%, daya serap minyak 12,14%, kadar pati 69,43%, skor kesukaan terhadap warna 3,27 (biasa), aroma 3,33 (biasa), kerenyahan 3,70 (biasa), kenampakan 3,13 (biasa), serta kekerasan 1050,83 gf. Kata kunci: Tepung sorgum, Tepung masa jagung, Tortilla chip