Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian
Not a member yet
    256 research outputs found

    PENGARUH WAKTU DAN SUHU REAKSI TERHADAP SINTESIS LIPID TERSTRUKTUR DARI MINYAK IKAN DAN ASAM LAURAT

    No full text
    Lipid terstruktur dengan medium chain fatty acid (MCFA) pada posisi luar dan polyunsaturated fatty acid (PUFA) pada posisi sn-2 memiliki nilai gizi dan absorbsi yang sangat baik. Dalam penelitian ini lipid terstruktur disintesis secara langsung melalui interesterifikasi enzimatis antara minyak ikan dan asam laurat. Reaksi dikatalisis oleh lipase spesifik 1,3 dari Mucor miehei. Faktor-faktor seperti waktu inkubasi  dan suhu reaksi dipelajari. Selanjutnya tingkat inkorporasi asam laurat dan profil gliserida ditentukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu dan suhu reaksi optimum berturut-turut 12 jam dan 50 oC. Rasio mol optimum minyak ikan dan asam laurat adalah 1:10 dengan dihasilkan inkorporasi laurat mencapai 62,8 mol %. Pada waktu inkubasi yang lama, (lebih dari 12 jam), trigliserida menurun seiring dengan meningkatnya waktu inkubasi, sedangkan digliserida meningkat seiring dengan meningkatnya waktu inkubasi. Pada suhu reaksi di atas 50 oC, trigliserida menurun seiring dengan meningkatnya suhu reaksi. Metode interesterifikasi ini cukup efektif untuk mensintesis lipid terstruktur spesifik. Kata kunci : Interesterifikasi, Minyak ikan, Asam laurat, Lipid terstruktur, Inkorporas

    KAJIAN EKSTRAKSI ANTOSIANIN KULIT TERUNG JEPANG (Solanum melongena L.)

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis terung dan konsentrasi HCl dalam etanol terhadap kualitas fisik dan kimia pigmen antosianin kulit terung. Penelitian ini disusun dengan menggunakan RAK (Rancangan Acak Kelompok) dengan 2 faktor yaitu jenis terung (T), Kopek dan Kraigi dan konsentrasi HCl dalam etanol (P) 0,50 N; 1,00 N; dan 1,50 N dengan ulangan sebanyak 3 kali sehingga diperoleh 18 satuan percobaan. Data dianalisis dengan ANOVA dan dilanjutkan uji lanjut BNT α = 5 %. Penentuan perlakuan terbaik menggunakan metode “ Multiple Attribute”. Perlakuan terbaik antosianin kulit terung diperoleh dari jenis terung Kopek dan konsentrasi HCl dalam etanol 1,00 N dengan karakteristik nilai pH 1,03; total antosianin 0,56 (mg/ml); rendemen antosianin 15,28x10-3 %; tingkat kecerahan (L*) 31,60; intensitas warna merah (a+) 33,50; dan sisa residu etanol 1,16 %. Kata kunci: Ekstraksi, Antosianin, Terung, Etano

    ANALISIS ERGONOMI DAN ANALISIS BIAYA EKSTRAKTOR SARI BUAH JAMBU BIJI

    No full text
    Ekstraktor sari buah jambu telah dirancang untuk meratifikasi 53.200 ton produksi tahunan jambu Indonesia yang kurang termanfaatkan. Namun analisis rancangan ergonomik dan biayanya belum terungkap.  Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif untuk mengungkap kinerja ergonomik dan biayanya. Hasil dari aspect antropomeri menunjukkan bahwa ekstraktor ini sesuai dengan standar antropomerik operasi untuk operator setinggi 162 cm yang memiliki nilai indeks angkat (NIA) lebih dari satu (NIA >1). Namun dengan nilai kebisingan antara 89,87-91,58 db ekstraktor ini tidak memenuhi syarat standar. Sebaliknya, analisis biayanya menunjukkan bahwa ekstraktor ini secara ekonomis wajar dengan nilai NPV, IRR, dan BCR berturut-turut Rp 16.251.680,51; 34,77%, dan 1,23, di mana  waktu pengembalian investasi tercapai pada tahun ketiga. Kata kunci: ekstraktor jus jambu, analisis ergonomik dan biay

    PENYEDIAAN AIR BERSIH DAN SEHAT DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PENYARING AIR SEDERHANA DI DESA PULAU KABAL KABUPATEN OGAN ILIR SUMATERA SELATAN

    No full text
    Penyediaan air bersih dan sehat untuk masyarakat desa Pulau Kabal belum dapat dilayani oleh PAM. Karena itu telah dilakukan  pelatihan pembuatan dan pengoperasian alat penyaring air sederhana yang dirancang untuk keperluan rumah tangga. Kegiatan ini dilakukan dengan metode observasi lingkungan, penyuluhan, penerapan alat dan uji laboratorium. Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa kualitas air yang disaring menggunakan alat penyaring air sederhana menjadi lebih baik, yaitu: Untuk air sumur diperoleh PH 7,1 , TDS 0,6 mgL-1, Ammonia 0,098 mgL-1, dan DO 2,32 mgL-1. Sedang untuk air kanal adalah PH 6,5 , TDS 3,4 mgL-1, Ammonia 0,013 mgL-1, DO 3,16 mgL-1, Dalam pengoperasiannya, alat penyaring sederhana ini mudah dioperasikan dengan biaya relatif murah, dan cocok diterapkan di Desa Pulau Kabal dan sekitarnya. Kata kunci : air bersih, alat penyaring air sederhan

    PENGARUH PENAMBAHAN GUM XANTHAN DAN TELUR TERHADAP BEBERAPA KARAKTERISTIK MIE BASAH SORGUM BERBAHAN BAKU TEPUNG SORGUM (Sorghum bicolor (L.) Moench) Genotip 1.1

    No full text
     Pembuatan mie basah sorgum berbahan baku tepung sorgum Genotip 1.1 dapat meningkatkan nilai guna dari tepung sorgum Genotip 1.1. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan penambahan gum xanthan dan telur yang tepat sehingga dihasilkan mie basah sorgum berbahan bakutepung sorgum Genotip 1.1 dengan karakteristik yang baik dan disukai panelis. Metode penelitian yang digunakan adalah metode percobaan (experimental method). Rancangan percobaan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan 2 faktor. Faktor pertama yaitu penambahan telur dengan 2 taraf yaitu penambahan telur 82 % dan penambahan telur 88 %. Faktor kedua yaitu penambahan gum xanthan dengan 3 taraf yaitu penambahan gum xanthan 1,5 %, 2,0 % dan 2,5 %. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat interaksi yang nyata antara perlakuan penambahan telur dan penambahan gum xanthan terhadap nilai b*, tetapi tidak terdapat interaksi terhadap nilai kadar air, uji pengembangan, cooking loss, cooking yields, warna kromameter (L*, a*), hardness, stickiness, uji organoleptik skoring warna, rasa, aroma, dan kekenyalan. Perlakuan penambahan telur 88 % dan penambahan gum xantan 2,5 % menghasilkan mie basah sorgum dengan karakteristik yang baik dan disukai panelis dengan kadar air mie mentah 35,13 %, uji pengembangan 16,54 %, cooking loss 3,40 %, cooking yields 8,53 g H2O diserap/10 g mie, nilai kecerahan L* 65,88, nilai a* -2,20, nilai b* 6,59, hardness 1640,84 gF, stickiness 39,93 gF, dan uji skoring warna 3,2 ; rasa 3,6 ; aroma 3,2 ; dan kekenyalan 5,1. Kata kunci : Mie basah sorgum, Gum xanhan, Genotip 1.

    PENGARUH JENIS PELARUT TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK KASAR ISOFLAVON DARI AMPAS TAHU

    No full text
    Isoflavon dalam ampas tahu terdiri atas komponen polar (terikat gula atau glikon) dan komponen nonpolar (tidak terikat gula atau aglikon). Isoflavon diperoleh melalui ekstraksi dengan pelarut organik dan HCL secara maserasi.. Penelitian bertujuan menentukan jenis pelarut yang dapat menghasilkan isoflavon dengan aktivitas antioksidan terbaik dan mengetahui stabilitasnya terhadap suhu pengolahan pangan . Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen deskriptif diikuti dengan analisis regresi. Perlakuan yang dicoba adalah pelarut etanol (polar), etil asetat (semi-polar), dan heksan (nonpolar),  pada masing-masing pelarut  ditambahkan HCL 4N sehingga rasio ampas tahu : pelarut organik : HCl = 2 : 8 : 1. Karakteristik  yang diamati adalah rendemen ekstraksi, aktivitas antioksidan dihitung sebagai waktu induksi, stabilitas terhadap panas dari antioksidan pada suhu pasteurisasi dan sterilisasi komersial, serta konsentrasi komponen daidzein (aglikon) dari  isoflavon dengan HPLC.Ekstrak etil asetat merupakan ekstrak terbaik yang memiliki rendemen sebesar 19,0267%, waktu induksi  (hari ke-12) lebih rendah dari BHT (>12 hari), jumlah komponen daidzein sebanyak 2,28 g/100g tepung. Setelah dipanaskan pada suhu pasteurisasi serta sterilisasi komersil,  aktivitas antioksidan ekstrak etil asetat menurun sampai 50 % yang ditunjukkan dengan penurunan waktu induksi dari 12 hari menjadi 6 hari. Kata kunci: Isoflavon, Pelarut organik, Aktivitas antioksida

    RESPON TANAMAN TEH (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze) KLON GAMBUNG 7 TERHADAP PUPUK P DAN KOMPOS BIOAKTIF

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon tanaman teh (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze) Klon Gambung 7 terhadap Pupuk P dan Kompos bioaktif bioaktif.Percobaan dilakukan di Kebun Percobaan Lembang Kabupaten Bandung.Ketinggian tempat 1.200 m di atas permukaan laut dengan jenis tanah Andisols.  Percobaan dilaksanakan  pada bulan Mei hingga Oktober 2007. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak kelompok dengan sebelas perlakuan dan tiga kali ulangan. Perlakuannya adalah sebagai berikut : A = 100% dosis rekomendasi pupuk SP-36, tanpa kompos bioaktif;  B =75%  dosis rekomendasi pupuk SP-36 dan 25 g  kompos bioaktif / polibag ; C = 75% dosis rekomendasi pupuk SP-36  dan  50 g kompos bioaktif /polibag; D =  75% dosis rekomendasi pupuk SP-36 dan 75 g kompos bioaktif /polibag ; E  = 50% dosis rekomendasi pupuk SP-36 dan 25 g  kompos bioaktif / polibag ; F = 50% dosis rekomendasi pupuk SP-36 dan  50 g  kompos bioaktif / polibag ; G = 50% dosis rekomendasi pupuk SP-36 dan 75 g  kompos bioaktif / polibag ; H = 25% dosis rekomendasi pupuk SP-36 dan 25 g  kompos bioaktif / polibag ;  I = 25% dosis rekomendasi pupuk SP-36 dan  50 g  kompos bioaktif / polibag ; J = 25% dosis rekomendasi pupuk SP-36 dan 75 g  kompos bioaktif / polibag ; K = 100% kompos bioaktifHasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi pupuk P dan kompos bioaktif  memberikan perbedaan yang nyata terhadap jumlah daun tanaman teh umur 12 msp dan bobot kering tanaman. Perlakuan tidak memberikan perbedaan yang nyata pada tinggi tunas, diamater batang dan nisbah pupus akar. Pertumbuhan terbaik  diperoleh dari perlakuan kombinasi 75% dosis rekomendasi pupuk SP-36  dan  50 g kompos bioaktif /polibag ; dan 75% dosis rekomendasi pupuk SP-36  dan  75 g kompos bioaktif /polibag. Kata kunci : Pupuk P, kompos bioaktif, tanaman teh (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze) Klon Gambung

    UJI KINERJA ZAT ADITIF HIDROGEL DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENAHAN AIR (WATER HOLDING CAPACITY) PADA TANAH ANDISOL LEMBANG YANG DITANAMI BABY KAILAN

    No full text
    Ketersediaan air dalam tanah, terutama di daerah perakaran tanaman dipengaruhi oleh kondisi fisik tanah, tekstur dan struktur tanah. Kondisi fisik tanah yang berbeda akan menghasilkan kemampuan menahan air berlainan pula. Kemampuan menahan air (water holding capacity) dinyatakan sebagai sejumlah air tanah yang tertahan, sebelum  terdrainase ke lapisan tanah yang lebih dalam (Israelsen dan Hansen, 1979).Tanaman hortikultura, biasa dibudidayakan di pegunungan pada ketinggian lebih dari 1000 m dpl. didominasi tanah jenis Andisols yang berwarna gelap, struktur sangat porous, tekstur didominasi oleh fraksi debu, kisaran 30 % - 40 %. sehingga kemampuan meloloskan air (konduktivitas hidrolik) sangat tinggi.Penelitian bertujuan untuk menentukan dosis bahan pemantap tanah hidrogel dan interval pemberian air yang tepat dalam upaya meningkatkan kemampuan tanah menahan air (water holding capacity) dari tanah Andisol, efisiensi pemberian air, pertumbuhan dan hasil tanaman sayuran. Hasil dari penelitian ini diharapkan akan dapat menjadi suatu sumbangan temuan yang bermanfaat sebagai upaya pendekatan teknologi terhadap upaya peningkatan kemampuan menahan air tanah (water holding capacity) untuk memperbaiki dan meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil produksi  pertanian, khususnya tanaman hortikultura dan peningkatan efisiensi pemberian air pada tanah Andisol.Penelitian dilakukan dengan metode Eksperimen menggunakan Rancangan Acak Kelompok pola Faktorial dengan dua faktor yaitu Dosis Pemantap Tanah Hidrogel dan Interval Pemberian Air.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada perlakuan pemberian air memberikan nilai yang berbeda nyata untuk kemampuan menahan air tanah (1,507.8 mm), efisien irigasi (76.79 %). Sedangkan untuk kandungan air dalam tanah baik pelakuan dosis hidrogel (24.1805 mm) maupun pemberian air (24.2893 mm) memberikan nilai yang berbeda nyata. Kata kunci: Kemampuan menahan air, Andisols, Porous, Hidrogel, Hortikultur

    KAJIAN KUALITAS AIR DI DAERAH ALIRAN SUNGAI CITARUM HULU DENGAN PENDEKATAN ANALISIS ISOTOP

    No full text
    Keberadaan sungai Citarum dan anak sungainya di wilayah hulu sangat penting bagi kehidupan dan  penghidupan penduduk yang berada disekitar cekunganBandung. Akan tetapi dengan perkembangan industri yang sangat pesat dan pertanian yang sangat intensif  di wilayah tersebut, kondisi sumber air Citarum dan anak sungainya telah mengalami degradasi baik kualitas maupun kuantitas. Menyadari akan keadaan tersebut di atas, diperlukan upaya pengelolaan DAS Citarum Hulu dengan baik.Hasil penelitian ini merupakan identifikasi masalah yang berkaitan dengan kualitas air sungai Citarum, sebagai salah satu komponen untuk yang dapat dijadikan dasar untuk pengelolaan DAS Citarum. Pada penelitian tersebut, kualitas air dianalisis dengan menggunakan pendekatan analisis Isotop. Pada pendekatan tersebut nisbah isotop hidrogen dan oksigen, dan belerang (sulfur) di dalam air digunakan sebagai unsur penilai untuk menelusuri aliran material di alam/lingkungan. Bila isotop suatu unsur tertentu stabil akan mengidentifikasikan siklus geokimia suatu senyawa dan memungkinkan untuk mengetahui sumber polutan. Lebih lanjut, komposisi isotop senyawa air akan bermanfaat sebagai alat untuk menelusuri pergerakan air pada suatu ekosistem, dan dengan isotop belerang dapat mengindikasikan polutan yang dilepaskan dari bahan bakar fosil dan berbagai produknya. Sehingga dengan pendekatan analisis tersebut secara keseluruhan dapat mengidentifikasikan pengaruh penggunaan lahan pada wilayah penelitian terhadap kualitas air di sungai Citarum.Hasil penilaian kualitas air berdasarkan isotop sulfur (belerang) menunjukan bahwa terdapat tiga sumber utama  polutan di setiap tata guna lahan yang berbeda menurut ketinggian tempat, yaitu :pupuk yang berasal dari kebun sayur pada zona ketinggian >1000 m dplpupuk  yang berasal dari sawah pada zona ketinggian <1000 m dpllimbah industri yang berasal dari dataranBandung Sebaran polutan yang berasal dari pupuk (kebun sayur & sawah) hampir menjangkau sebagian besar wilayah cekunganBandung, sedangkan sebaran polutan dari limbah industri hanya bersifat lokal, akan tetapi memberikan dampak yang sangat luas. Berdasarkan data isotop sulfur, air limbah domestik yang berasal darikotaBandungtidak berpengaruh nyata terhadap kualitas air sungai Citarum. Berdasarkan hasil analisis tersebut,  untuk tujuan pengelolaan sumber air di sungai Citarum agar sumber airnya dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan diperlukan penanganan segera pada air limbah yang berasal dari limbah industri dan pengurangan penggunakan pupuk anorganik di lahan sawah dan kebun sayuran. Kata kunci: Isotop, Poluta

    STUDI KARAKTERISTIK PATI UBI JALAR MODIFIKASI GANDA METODE CROSS LINKING-ASETAT SERTA APLIKASINYA DALAM PEMBUATAN SAUS CABAI

    No full text
    Pati Ubi jalar sebagai pengental produk saus mudah mengalami retrogradasi, sineresis dan viskositasnya tidak stabil terhadap pengadukan dan pemanasan suhu tinggi. Kondisi ini dapat diatasi dengan memodifikasi struktur patinya. Penelitian bertujuan untuk mengetahui karakteristik  pati ubi jalar modifikasi ganda metode cross-linking-asetat dan aplikasinya pada saus cabai. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif yang terdiri dari 3 tahap, yaitu: pembuatan pati ubi jalar, pembuatan pati modifikasi ganda Cross linking- asetat dan pembuatan saus cabai dengan 2 perlakuan (penambahan pati alami dan pati modifikasi ganda cross-linking-asetat) dan 4 kali ulangan. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa pati ubi jalar alami memiliki rendemen 12,7%, kadar air 9,70%, kadar Abu 0,45 %, suhu gelatinisasi 76,90oC,  viskositas maksimum 2.233,6 cp dan konsistensi amilografi 646,4 cp.  Pati ubi jalar modifikasi ganda crosslinking-asetat memiliki kadar air 8,00%, kadar Abu 0,44%, asetilasi 2,19%, nilai derajat substitusi (DS) 0,08, suhu gelatinisasi 79,45oC, viskositas maksimum 4564,1 cp dan konsistensi amilografi 1571,2 cp. Saus cabai kedua jenis pati tersebut berwarna merah, aroma agak kuat dan kekentalan cukup. Viskositas saus cabai dengan pati modifikasi ganda crosslinking-asetat (3900 cp) lebih tinggi daripada saus cabai dengan pati alami (2150cp). viskositas menurun selama penyimpanan. Total padatan terlarut saus cabai dengan pati modifikasi ganda crosslinking-asetat (35,20obrix) lebih rendah  daripada saus cabai dengan pati alami (39,70obrix).  Total padatan terlarut meningkat selama penyimpanan. Sedang Kestabilan saus cabai dari kedua jenis pati konstan selama penyimpanan 30 hari. Kata kunci: Saus cabe, Pati alami, Pati modifikasi ganda crosslingking-aseta

    113

    full texts

    256

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇