Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian
Not a member yet
256 research outputs found
Sort by
KARAKTERISTIK MINYAK AKAR WANGI (VETIVER OIL) DARI TANAMAN AKAR WANGI (Vetiveria zizanoides) DENGAN BERBAGAI KONSENTRASI LOGAM TIMBAL
Tanaman akar wangi (V. zizanioides) merupakan salah satu tanaman pemulih lahan (fitoremediasi) tercemar logam berat, juga penghasil minyak atsiri, vetiver oil. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh penyerapan logam berat Pb terhadap komposisi minyak akar wangi. Tanaman akar wangi ditanam pada media tanah yang ditambah logam Pb artifisial dengan konsentrasi 0 (kontrol), 200, 800, dan 3200 ppm. Setelah 5 bulan penanaman dilakukan analisis Pb yang terakumulasi pada bagian akar dan shoot menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA). Bagian akar tanaman dilakukan hidrodistilasi, dan komposisi minyak akar wangi dianalisis dengan GC-MS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman akar wangi dapat tumbuh pada media tanah yang mengandung 200, 800, 3200 mg Pb/kg dan kontrol. Rendemen minyak akar wangi masing-masing perlakuan adalah 0,33, 0,40, dan 0,33 % dan 0,22 %. Hasil analisis komposisi minyak akar wangi menunjukkan komposisi seskuiterpen hidrokarbon meningkat dengan bertambahnya konsentrasi Pb di media, sebaliknya untuk seskuiterpen teroksigenasi menurun. Kata kunci : Akar wangi, Minyak atsiri, Timba
REKAYASA BERAS ANALOG BERBAHAN BAKU NON BERAS
Beras analog adalah beras yang dibuat dari bahan bukan beras, tersusun dari serealia bukan beras, kacang-kacangan dan umbi-umbian dengan komposisi gizi mendekati beras. Pada penelitian ini bahan yang digunakan berasal dari jagung, sorgum, kedelai, kacang hijau, singkong, dan garut.Penelitian dilakukan melalui metode eksperimnetal dengan perlakuan 7 formula beras analog yaitu : F1 = Garut-Kedelai-Jagung (72 : 5,5 : 22,5), F2 = Garut-Kedelai-K.Hijau (80 : 10 : 10), F3 = Garut-Kedelai-Jagung (55,5 : 10 : 34,5), F4 = Singkong-Kedelai-Jagung (67,8 : 22,2 : 10), F5 = Singkong-Kedelai-K.Hijau (71 : 10 : 19), F6 = Sorgum-Garut-K. Hijau (76 : 10 : 14), dan F7 = Sorgum-Garut-K. Hijau (10 : 14,6 : 75,4). Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Keteknikan Pengolahan Pangan Jurusan Teknologi Industri Pangan Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran.Hasil penelitian menunjukkan bahwa beras analog mentah yang disusun dari Singkong-Kedelai-Jagung (67,8 : 22,2 : 10) merupakan formula terbaik walaupun tingkat kesukaan terhadap warna antara agak suka - suka, aroma antara agak suka – kurang suka, dan tekstur antara agak suka – biasa. Setelah dmasak menjadi nasi, tingkat kesukaan tersebut mengalami kenaikan. Hanya saja, kesukaan terhadap teksturnya ternyata masih lebih rendah dibanding dengan formula beras analog yang disusun dari formula F5 (singkong kedelai-kacang hijau = 71 : 10 : 19). Beras analog (F4) ini mengandung energi 347 Kalori, protein 6,06 %, lebih rendah dari protein beras sebesar 7,4 %, lemak 0,61 %, serat kasar 5,19 %. Asam amino pembatasnya adalah metionin dan sistin. Secara fisika, beras analog masih berbentuk silinder (seperti pelet/pakan ikan). Kata kunci: Beras analog, Formula, Sifat fisika dan kimia, Nilai kesukaa
PENDUGAAN UMUR SIMPAN SIRUP DAN MINUMAN CUP JERUK SAMBAL (Citrus amblycarpa)
Pendugaan umur simpan sirup dan minuman kup dapat menghemat waktu dan biaya. Penelitian bertujuan untuk menentukan umur simpan sirup dan minuman cup jeruk sambal. Metodologi pendekatan yang dilakukan adalah persamaan Arhenius melalui kegiatan analisis umur simpan dari minuman jeruk sambal. Pada awal kegiatan, penentuan umur simpan didasarkan pada hasil TPC (Total Plate Count) dengan masa inkubasi pada 3 suhu kondisi penyimpanan (suhu ruang, suhu 30ºC dan suhu 40 ºC). Berdasarkan hasil analisa terhadap sampel sirup tersebut diketahui bahwa penentuan umur simpan dengan menggunakan analisis TPC tidak memperoleh hasil yang baik, hal ini disebabkan penentuan umur simpan dengan menggunakan metode akselerasi. Penentuan umur simpan sirup jeruk sambal berdasarkan hasil analisa pH diperoleh hasil untuk suhu ruang selama 8.93 minggu dengan nilai R2 0.9429, suhu 30ºC 6.35 minggu dengan nilai R2 0.9657 dan suhu 40ºC 5.57 minggu dengan nilai R2 0,9181. Penentuan umur simpan sirup jeruk berdasarkan parameter aw pada suhu ruang 2.83 minggu dengan nilai R2 0.9929, suhu 30ºC 2.28 minggu dengan nilai R2 0.9764 dan suhu 40ºC 1.80 dengan nilai R2 0.9634. Kata kunci: Umur simpan, Minuman, Jeruk samba
PENINGKATAN KUALITAS DAGING DAUN LIDAH BUAYA (Aloe vera Linn.) SEBAGAI BAHAN BAKU OLAHAN DENGAN PERENDAMAN DALAM LARUTAN KALSIUM HIDROKSIDA
Pengolahan daun lidah buaya menjadi berbagai produk olahan menghadapi beberapa kendala antara lain sulitnya menghilangkan lendir, rasa pahit dan bau langu yang menempel pada daging daunnya. Untuk mengatasi hal tersebut dilakukan perendaman dalam larutan kalsium-hidroksida (Ca(OH)2). Efektivitas kapur dalam mengatasi permasalahan di atas bergantung pada konsentrasi dan lama perendaman.Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi larutan kalsium-hidroksida dan lama perendaman yang tepat agar dihasilkan daging daun lidah buaya dengan karakteristik organoleptik yang disukai.Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok pola faktorial, terdiri dari 2 faktor yaitu konsentrasi larutan kapur 2,5% dan 3% dan lama perendaman 2,5 jam, 3 jam, 3,5 jam, 4 jam, dan diulang 4 kali. Pengamatan meliputi kekerasan daging daun dengan menggunakan Fruit Hardness Tester, dan skor organoleptik untuk warna, intensitas bau langu, kekerasan, intensitas rasa pahit dan adanya lendir.Hasil penelitian menunjukan terdapat interaksi antara konsentrasi larutan kalsium hidroksida dengan lama perendaman terhadap skor adanya lendir daging daun lidah buaya . Konsentrasi larutan kalsium-hidroksida 3% dan lama perendaman 4 jam menghasilkan daging daun lidah buaya dengan skor kesukaan organoleptik yang disukai.Kata kunci: Aloe vera, Kalsium-hidroksida, Perendaman, Skor kesukaa
KAJIAN PENGGUNAAN PROGRAM TITEDA DALAM PENGELOLAAN DATA DEBIT DI DAS HULU CITARUM
Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji sejauhmana perangkat lunak Titeda dapat diaplikasikan dalam pengelolaan data debit di DAS Citarum Hulu.Penelitian dilakukan dari bulan April sampai dengan September 2007, dengan menggunakan metode penelitian deskriptif analitik. Dari hasil olahan software Titeda menunjukkan bahwa curah hujan rata-rata selama 10 tahun di stasiun Batujajar DAS Citarum Hulu sebesar 1,553 mm/hari dengan jumlah hujan selama 10 tahun sebesar 10158 mm. Curah hujan minimum sebesar 0,0 mm (tidak terjadi hujan) dan curah hujan maksimum 85 mm. Tinggi Muka Air DAS Citarum Hulu pada stasiun Cimahi-Cicakung selama 10 tahun maksimum sebesar 1,73 m dan minimum sebesar 0,115 m. Debit sungai DAS Citarum Hulu di stasiun Cimahi Cicakung selama 10 tahun menunjukkan debit maksimum sebesar 8,00 m3/detik dan debit minimum sebesar 6,67 m3/detik. Kata kunci : Titeda, Debit, DAS Citarum Hul
PENGARUH JUMLAH SEL BAKTERI LACTOBACILLUS PLANTARUM DAN LAMA PERENDAMAN FILLET TERHADAP ASAM YANG DIHASILKAN DAN MUTU FILLET NILA MERAH (OREOCHROMIS SP.) SELAMA PENYIMPANAN PADA SUHU RENDAH
Fillet nila merah merupakan sayatan daging ikan nila merah yang banyak digemari konsumen, akan tetapi sangat rentan terhadap kontaminasi dan penurunan mutu. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober hingga Desember 2006. Lactobacillus plantarum dapat digunakan sebagai pengawet karena dapat menghasilkan asam laktat yang bermanfaat dalam menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk pada daging ikan. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu faktor A sebagai jumlah sel L. plantarum (8,81 dan 9,39 log sel/ml) dan Faktor B sebagai lama perendaman (5, 10 dan 15 menit). Masing-masing kombinasi perlakuan diamati selama 12 hari penyimpanan dan diulang sebanyak 4 kali.Hasil percobaan menunjukkan bahwa jumlah sel L. plantarum sebanyak 8,81 log sel/ml dan lama perendaman 10 menit mampu mempertahankan mutu fillet nila merah selama 12 hari penyimpanan pada suhu 5°C–10°C dengan karakteristik daging berwarna putih opaque agak merah muda dan agak cerah, darah pada gurat sisi berwarna merah agak kecoklatan, dan bau khas hilang namun belum tercium bau busuk. Fillet ini juga memiliki jumlah asam laktat terbanyak 0,54% dan nilai pH terendah 5,23 pada hari ke-7 serta bakteri asam laktat sebanyak 6,00 log koloni/g dan bakteri gram negatif sebanyak 5,51 log koloni/g pada hari ke-12 penyimpanan.Kata kunci: Lactobacillus, ikan nila merah, penyimpanan dengan suhu renda
ANALISIS KOMPARATIF DAN DAYA SAING KOMODITAS HORTIKULTURA INDONESIA DIBANDINGKAN DENGAN 4 NEGARA ASEAN LAINNYA DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN ANALISIS REVEALED COMPARATIVE ADVANTAGE (RCA) DAN CONSTANT MARKET SHARE (CMS)
Untuk mendapatkan gambaran mengenai posisi persaingan komoditas hortikultura Indonesia dibandingkan dengan beberapa negara ASEAN (Thailand, Malaysia, Singapura dan Philipina), telah dilakukan penelitian analisis komparatif dan daya saing. Penelitian dilakukan di Laboratorium Sistem & Manajemen Keteknikan Pertanian, Jurusan Teknik & Manajemen Industri Pertanian Fakultas Teknologi Industri Pertanian, Universitas Padjadjaran pada bulan September – Nopember 2009. Penelitian menggunakan metode deskriptif analitik dengan metode analisis komparatif berupa Revealed Comparative Advantage (RCA) dan analisis daya saing dengan metode Constant Market Share (CMS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Secara komparatif, produk hortikultura Indonesia masih unggul dibandingkan 4 negara ASEAN lainnya. Sedangkan dari sisi daya saing, produk hortikultura Indonesia masih lemah dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya, khususnya Thailand dan Malaysia. Kata kunci : Daya saing, RCA, CMS
ANALISIS KURVA INTENSITY-DURATION-FREQUENCY (IDF) DI KAWASAN RAWAN BANJIR KABUPATEN BANDUNG
Hujan adalah komponen masukan penting dalam proses hidrologi. Karakteristik hujan di antaranya adalah intensitas, durasi, kedalaman, dan frekuensi. Intensitas berhubungan dengan durasi dan frekuensi dapat diekspresikan dengan kurva Intensity-Duration-Frequency (IDF). Kurva IDF dapat digunakan untuk menghitung banjir rencana dengan mempergunakan metode rasional. Dalam penelitian ini curah hujan harian dihitung dengan analisis frekuensi yang dimulai dengan menentukan curah hujan harian maksimum rata-rata, kemudian menghitung parameter statistik untuk memilih distribusi yang paling cocok. Intensitas hujan dihitung dengan mempergunakan metode Mononobe. Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi normal sangat cocok dengan sebaran data di wilayah studi. Kata kunci: Hujan, Intensitas, Durasi, Frekuensi, Distribus
UJI KINERJA KOMPOR BERTEKANAN DENGAN MENGGUNAKAN MINYAK NABATI ASAL TANAMAN PERKEBUNAN
Kompor bertekanan (Protos-1) belum diuji pengoperasiannya menggunakan minyak nabati di Indonesia. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kinerja kompor dan mengevaluasi jenis bahan bakar nabati yang sesuai. Metode deskriptif analisis digunakan dengan mengacu pada penggunaan tiga jenis minyak nabati tanaman perkebunan, yaitu kelapa, kelapa sawit dan jarak pagar. Hasil penelitian menunjukan bahwa jumlah residu pembakaran spesifik dalam vaporator kompor dengan bahan bakar minyak jarak pagar, minyak kelapa dan minyak kelapa sawit berturut-turut adalah 0,73 - 0,88; 0,13 - 0,23 dan 0,32 - 0,52 g/kg. Persentase residu carbon Conradson pada minyak kelapa secara umum lebih rendah daripada minyak jarak pagar dan minyak sawit, yaitu berturut-turut 0,17 - 0,21; 0,22 - 0,32 dan 0,22 - 0,31 g/kg. Kandungan residu carbon dan pospor dalam minyak berkaitan dengan residu dalam vaporator. Daya yang dihasilkan dari kompor dengan minyak jarak pagar dan minyak kelapa sawit tidak berbeda, yaitu rata-rata 2,765 dan 2,725 kW, namun berbeda pada minyak kelapa, yaitu sekitar 2,98 kW. Konsumsi bahan bakar masing-masing adalah 0,281 - 0,315 kg/jam (minyak kelapa), 0,266 - 0,287 kg/jam (minyak jarak pagar) dan 0,270 - 0,275 kg/jam (minyak kelapa sawit). Kebisingan kompor terukur 70,2 dB dan masih berada di bawah ambang standar maksimum yang diijinkan yaitu 90 dB. Secara umum kinerja kompor pada penggunaan ketiga bahan bakar nabati tersebut adalah sama baiknya. Kata kunci : Bahan bakar nabati, Minyak kelapa, Minyak kelapa sawit, Minyak jarak pagar, Kompor bertekana
PENGARUH DARI MATERIAL HIDROPOBIK PADA PERGERAKAN AIR DALAM TANAH SELAMA INFILTRASI
Salah satu masalah dalam pengelolaan tanah adalah adanya tanah hidropobik (menolak air) yang menghambat pergerakan air di dalam tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pergerakan air di dalam tanah melalui analisis pergerakan infiltrasi horizontal, vertical ke atas dan vertical ke bawah. Pengamatan dilakukan dengan infiltrasi air secara horizontal, vertical ke atas dan vertical ke bawah ke dalam kolom-kolom berisi tanah hidrphobik dan tanah hidrophilik. Hasil percobaan menunjukkan bahwa tanah hidropobik menyebabkan pergerakan air pada infiltrasi horisontal 25 kali lebih lambat di dalam tanah yang menolak air daripada di dalam tanah yang menarik air, di mana kandungan air menurun 20 sampai 25 persen di antara masuknya sumber air dan muka pembasahan. Sedang pada Infiltrasi vertikal, kandungan air menurun drastis di antara masuknya sumber air dan muka pembasahan karenagayagravitasi dan kapiler berlawanan arah dengan laju kapiler. Selain itu, profil air tanah ternyata tidak dapat didefinisikan melalui difusivitas selama infiltrasi horizontal, baik melalui tanah yang menolak air maupun melalui tanah yang menarik air. Kata kunci : Hidropobik, Infiltrasi Horisontal, Infiltrasi Vertikal, Difusifita