Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian
Not a member yet
256 research outputs found
Sort by
RANCANG BANGUN UNIT PENCACAH SERASAH TEBU DENGAN MENGGUNAKAN PISAU TIPE REEL
Sejumlah besar serasah tebu berukuran panjang berserakan di lahan setelah panen harus dibersihkan, karena mengganggu proses kerja pada musim tanam berikutnya. Penelitian ini menggunakan metode rekayasa merancang-bangun sebuah mesin pemotong serasah tebu. Hasilnya adalah sebuah unit prototipe mesin pemotong serasah tebu dengan pisau pemotong tipe reel berdimensi lebar 240 cm, panjang 268 cm dan tinggi 133 cm. Komponen pencacahnya terdiri dari silinder pencacah dengan panjang dan diameter masing-masing 60 dan 429 cm serta diameter poros silinder 45 cm. Mesin ini mampu memotong serasah tebu menjadi cacahan kecil sebesar 2-4 cm dan langsung menguburkannya ke dalam tanah, di mana nutrisi yang masih terjandung dapat dimanfaatkan sebagai bahan kompos. Kata kunci : Serasah tebu, Rancang bangun unit pemotong serasah, Bahan kompo
PENGARUH PELILINAN DAN SUHU PENYIMPANAN TERHADAP UMUR SIMPAN DAN KUALITAS BUAH STROBERI (Fragaria nilgerrensis L.)
Pelilinan merupakan salah satu teknik penyimpanan dengan prinsip menutup sebagian (+ 50 %) pori-pori permukaan buah dan sayuran. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk memperpanjang umur simpan buah stroberi yang telah dipanen, dengan metode pelilinan pencelupan, pada suhu penyimpanan dan pelapisan lilin lebah dengan konsentrasi tertentu. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia dan Laboratorium Pangan, Bagian Pascapanen, Balai Besar Pengembangan Teknologi Tepat Guna (B2P TTG) – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Subang. Metode penelitian yang digunakan adalah Experimental Method meliputi rancangan perlakuan, rancangan percobaan, rancangan analisis, dan rancangan respon. Rancangan perlakuan terdiri dari dua faktor. Faktor pertama yaitu konsentrasi lilin (A) terdiri dari tiga taraf : 0 %, 2 %, dan 4 %. Faktor kedua yaitu suhu penyimpanan (B) terdiri dari tiga taraf : 10˚C, 15˚C, dan 30˚C. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan dua faktor dan tiga ulangan yang dianalisis dengan uji F dan ujiDuncan. Respon yang diamati susut bobot, kadar air, laju respirasi, kekerasan buah, kadar vitamin C, dan mutu organoleptik (penampakan, tekstur, warna, dan rasa) pada buah stroberi. Hasil penelitian menunjukkan terjadinya interaksi antara konsentrasi lilin dan suhu penyimpanan yang berpengaruh terhadap kadar air, laju respirasi, kekerasan buah, dan kandungan vitamin C buah stroberi selama penyimpanan 10 hari, sedangkan terhadap susut bobot tidak terjadi interaksi. Faktor konsentrasi lilin dan suhu penyimpanan, masing-masing berpengaruh nyata terhadap susut bobot, kadar air, laju respirasi, kekerasan buah, dan kandungan vitamin C buah stroberi. Perlakuan yang dianjurkan untuk pelilinan buah stroberi adalah konsentrasi lilin 4 % dan suhu penyimpanan 10°C menghasilkan nilai rata-rata susut bobot sebesar 47,09 %, kadar air sebesar 78,20 %, laju respirasi sebesar 19,90 %, kekerasan buah sebesar 7,79 mm/det, vitamin C sebesar 184,13mg/100g, dan nilai rata-rata mutu organoleptik terhadap penampakan sebesar 3,9; tekstur 4,1; warna 4,0 dan rasa 3,1. Kata kunci : Fragaria nilgerrensis, L., Stroberi, Pelilinan, Konsentrasi lilin, Suhu penyimpana
KARAKTERISTIK CREAM CRACKERS BERSERAT TINGGI YANG DIBUAT DENGAN PERBANDINGAN JUMLAH TERIGU DAN BEKATUL
Cream crackers adalah sejenis biskuit yang dibuat dari adonan keras (stiff dough), melalui proses fermentasi oleh khamir Saccharomyces cerevisiae, berbentuk pipih dengan rasa asin, renyah dan tekstur dalam berlapis. Bekatul adalah hasil ikutan penggilingan gabah yang produksinya melimpah dan mengandung serat makanan cukup tinggi (13%) serta zat gizi lainnya. Kandungan protein konsentrat bekatul cocok sebagai campuran untuk jenis makanan padat.Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan perbandingan jumlah terigu dan bekatul yang tepat sehingga dihasilkan cream crackers berserat tinggi dengan karakteristik yang baik dan akan disukai panelis.Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 5 perlakuan dan 5 kali ulangan. Perlakuan perbandingan terigu dan bekatul telah digunakan yaitu: 100:0, 95:5, 90:10, 85:15 dan 80:20 (b/b).Hasil Penelitian menunjukkan bahwa perlakuan perbandingan jumlah terigu dan bekatul sebesar 95:5 menghasilkan cream crackers berserta tinggi dengan karakteristik yang baik menurut SNI no 01-2973 ( kadar protein 12,16%, Kadar abu 1,45%, kadar lemak 19,38%, nilai kerenyahan 0,52mm/10 detik/100g) kecuali kadar air 5,13% (diatas standar), secara organoleptik dapat diterima, serta memiliki kadar serat 2.18%, lebih tinggi dibandingkan cream crackers tanpa penambahan bekatul. Kata kunci: Bekatul, Crem crackers, Serat makanan
PENGGUNAAN METODE FUZZY DALAM PENENTUAN LAHAN KRITIS DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI DAERAH SUBDAS CIPELES
Untuk mengatasi permasalahan akibat ketidakpastian identifikasi, ketidakpastian kualitatif dalam menilai lahan kritis melalui Sistem Informasi Geografis (GIS) dengan metode skoring, telah dilakukan penelitian dengan menggunakan metode fuzzy. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi alternatif rujukan metode dalam penentuan lahan kritis diberbagai instansi yang kerap kali menggunakan data spasial terutama yang berkaitan dengan bidang pertanian dan kehutanan. Penelitian dilakukan di subDAS Cipeles, DAS Cimanuk, Kabupaten Sumedang dari tanggal 21 Agustus 2006 hingga 30 September 2006. Analisis dilakukan di Laboratorium Sistem & Manajemen Keteknikan Pertanian, Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran, Kampus Jatinangor. Alat bantu analisis yang digunakan adalah GPS (global positions system) beserta software-nya yaitu ArcView 3.3, AV spatial analyst 2.0a (extension ArcView), AV 3D analyst 1.0.(extension ArcView), MatLab ver.7.0.1, SPSS 13.0, Office acces 2003, dan Office excel 2003. Metode analisis fuzzy berbeda dengan metode skoring, yang biasa dilakukan dalam analisis spasial pada data GIS. Data diskrit pada metode skoring terlebih dahulu diubah ke dalam data dari fungsi keanggotaan fuzzy melalui pendekatan interpolasi fuzzy. Hasil interpretasi data melalui metode fuzzy dengan defuzzifikasi Centre of Grafity (COG) menunjukkan bahwa Metode fuzzy mampu mengatasi ketidak pastian dalam klasifikasi data lahan kritis yang disajikan dalam bentuk diskrit, dimana dari hasil uji Wilcoxon interpretasi hasil analisis fuzzy mendekati kondisi yang sebenarnya di lapangan. Kata kunci: Sistem Informasi Geografis (GIS), Analisis Fuzz
PENGARUH IMBANGAN MANGGA KWENI (Mangifera odorata Griff.) DENGAN WORTEL (Daucus carota L.) SERTA PENAMBAHAN GLISEROL TERHADAP BEBERAPA KARAKTERISTIK FRUIT LEATHER
Mangga kweni dan wortel dapat dibuat menjadi fruit leather. Keplastisan dari fruit leather dapat ditingkatkan dengan menambahkan gliserol. Tujuan penelitian ini untuk menetapkan imbangan mangga kweni dan wortel serta konsentrasi gliserol yang tepat, sehingga dihasilkan fruit leather dengan beberapa karakterisrik yang baik dan disukai panelis.Perlakuan terdiri dari dua faktor, yaitu imbangan bubur mangga kweni dengan bubur wortel (A) yang terdiri atas 3 taraf yaitu mangga 65 : wortel 35(a1), mangga 55 : wortel 45 (a2) dan mangga 45 : wortel 55 (a3) dan faktor konsentrasi gliserol (B) yang terdiri dari tiga taraf yaitu 1,5% (b1), 3% (b2) dan 4,5% (b3). Penelitian telah dilakukan pada bulan Agustus 2007 di Laboratorium Kimia Pangan Universitas Padjadjaran.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi antara imbangan dan konsentrasi gliserol pada kadar air, rendemen, kesukaan terhadap warna, rasa, tekstur dan aroma, kecuali pada antara imbangan dan konsentrasi gliserol pada uji plastisitas. Taraf imbangan mangga kweni dan wortel 65 : 35 menghasilkan fruit leather dengan karakteristik paling baik dengan kadar air 9,16%, rendemen 27,64%, nilai kesukaan warna 3,39, aroma 3,81, rasa 3,81 dan tekstur 3,54. Taraf konsentrasi gliserol 3% menghasilkan fruit leather dengan karakteristik paling baik dengan kadar air 9,26%, rendemen 27,69%, nilai kesukaan warna 3,72, aroma 3,72, rasa 3,69 dan tekstur 3,59 Kata kunci: Fruit leather, Konsentrasi glisero
IDENTIFIKASI KAWASAN RESAPAN AIR TANAH DI KABUPATEN SUMEDANG
Identifikasi dan penentuan wilayah resapan air tanah perlu ditetapkan untuk mengantisipasi terganggunya tata air tanah akibat terjadinya kerusakan hutan, alih fungsi lahan dan pengambilan air tanah di kawasan resapan air tanah di Kecamatan Jatinangor, Tanjungsari, Rancakalong dan Pamulihan. Dalam penetapan ini digunakan analisis matching berdasarkan penggunaan Sistem Informasi Geografis (SIG).Penelitian dilakukan dari bulan Maret sampai dengan Oktober 2006, dengan menggunakan metode penelitian deskriptif analitik. Hasil dari penelitian ini berupa peta kawasan resapan air tanah di Kecamatan Jatinangor, Tanjungsari, Rancakalong dan Pamulihan yang menunjukkan tingkat dan luas resapan air tanah sebagai berikut : Daerah Resapan Utama 2.583,36 hektar, Daerah Resapan Tambahan 8.988,42 hektar dan Daerah Resapan Kurang Berarti 4.836,84 hektar. Kata kunci: Resapan air tana
FITOREMEDIASI TANAH TERCEMAR LOGAM BERAT TIMBAL (Pb) DENGAN MENGGUNAKAN TANAMAN AKAR WANGI (Vetiveria zizanioides L.) TERHADAP pH TANAH, Pb TOTAL TANAH DAN SERAPAN Pb DALAM TANAMAN
Fitoremediasi dengan mekanisme fitoekstraksi dipandang sebagai suatu usaha pembersihan jangka panjang, yang membutuhkan banyak musim tanam untuk mengurangi kandungan logam berat dari tanah tercemar. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari kemampuan tanaman akar wangi dalam menyerap Pb dan mengetahui lama tanam yang mengakumulasikan Pb terbesar pada tanaman akar wangi yang ditanam pada tanah sawah yang terpapar air limbah industri tekstil.Penelitian dilaksanakan di rumah kaca kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Jatinangor pada bulan Februari sampai Mei 2010, dengan mengambil contoh tanah tercemar dari kampung Babakan Jawa Desa Bojong Loa Kecamatan Rancaekek. Penelitian dilakukan dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan mencoba 5 perlakuan lama tanam yaitu 20 hari, 40 hari, 60 hari, 80 hari, 100 hari dan masing-masing diulang 5 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akar wangi dapat menyerap Pb dari tanah sawah yang terpapar air limbah industri tekstil dan mengakumulasikannya terbesar pada bagian akar. Perlakuan lama tanam memberikan pengaruh yang nyata terhadap pH tanah, serapan Pb dalam batang dan daun tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap kandungan Pb total dalam tanah dan serapan Pb dalam akar. Kisaran serapan Pb dalam bagian tanaman akar wangi yaitu akar berkisar 1,80-3,03 ppm; batang berkisar 0,24-2,43 ppm dan serapan Pb dalam daun berkisar 0,16-0,53 ppm. Kata kunci : Fitoremediasi, Timbal, Akar wangi, Lama tana
PENGARUH KADAR AIR AWAL BAWANG DAN KUALITAS MINYAK GORENG TERHADAP SERAPAN MINYAK OLEH BAWANG MERAH (ALLIUM CEPA L) GORENG
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh kadar air awal bawang dan kualitas minyak goreng terhadap serapan minyak oleh bawang merah goreng. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari hingga Agustus 2006. Penelitian ini dilakukan dengan rancangan kelompok acak lengkap dengan dua factor (kadar air awal dan kualitas minyak goring) dan replikasi sebanyak dua kali digunakan dalam penelitian ini. Penurunan kadar air bawang merah selama proses penggorengan terjadi melalui mekanisme difusi dan dimodelkan terbaik dengan persamaan eksponensial orde satu 3,8247e-0.0044t dengan nilai R kuadrat sebesar 0,957. Karakteristik fisik dan kimia minyak yang telah digunakan beberapa kali mengalami perubahan. Semakin sering minyak yang digunakan, semakin tinggi bilangan peroksida, bilangan asam, sementara itu semakin rendah titik asap minyak tersebut. Kadar air awal bawang merah memberikan pengaruh yang nyata terhadap minyak yang terserap oleh bawang merah goreng. Semakin rendah kandungan air awal bawang maka makin sedikit minyak yang terserap oleh bawang merah goreng. Tetapi pengaruh kualitas minyak yang digunakan tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap minyak terserap oleh bawang merah goreng. Kata kunci: Kadar air, kualitas minyak, penyerapan minyak, bawang goreng, model eksponensia
KAJIAN POTENSI ANTIMIKROBA DAN FITOKIMIA EKSTRAK BUAH KETAPANG BADAK (Ficus lyrata Warb) SEBAGAI PENGAWET ALAMI
Jenis pelarut yang efektif untuk mengekstraksi senyawa anti-mikroba (agen pengawet alami) pada buah ketapang badak (Ficus lyrata Warb) perlu diidentifikasi. Kajian dilakukan dengan metode ekstraksi maserasi dan dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Dalam proses ekstraksi maserasi digunakan 3 jenis pelarut (air, etanol 70 %, dan etil asetat) untuk mengekstrak senyawa metabolit sekunder seperti fenol, flavonoid dan tanin (senyawa anti mikroba) yang diketahui memiliki efek menghambat perkembangan bakteri penyebab penurunan kualitas produk pangan. Efeknya diujikan kepada 3 jenis bakteri uji, yaitu; Pseudomonas aeruginosa, Eschericia coli, dan Bacillus subtilis. Hasil studi mengindikasikan terbentuknya zona bening pada media tes yang membuktikan bahwa ekstraksi dari buah ketapang badak memang memiliki aktivitas anti-mikroba. Etil asetat terbukti lebih banyak melarutkan flavonoid (13,6 mg/L) daripada air (12,73 mg/L) atau etanol 70 % (13,13 mg/L), sehingga lebih efektif dalam menghambat perkembangan ketiga bakteri uji. Selain itu, flavonoid memiliki diameter penghambat berturut-turut lebih tinggi 2,97 mm, 4,70 mm, dan 5,98 mm daripada Pseudomonas aeruginosa, Eschericia coli; dan Bacillus subtilis. Berdasarkan uji kualitatif dan kuantitatif, senyawa dominan yang dimiliki ekstrak buah ketapang badak adalah tannin (27, 5 mg/l - 38.75 mg/l) dan senyawa fenolik (28.5 - 38,25 mg/l). Tingginya konsentrasi metabolit sekunder, terutama tanin, flavonoid dan senyawa fenol, menjadikan buah ketapang badak potensial digunakan sebagai bahan baku anti mikroba alami. Kata kunci: pelarut, ekstraksi, buah Ketapang badak, anti-mikroba, pengawet alam
PENDUGAAN UMUR SIMPAN DAN MODEL KURVA ISOTERMA SORPSI AIR MANISAN MANGGA KERING
Penelitian bertujuan untuk menduga umur simpan manisan mangga kering dalam kemasan plastik berdasarkan kurva isoterma sorpsi. Pembuatan manisan mangga kering dilaksanakan di Desa Temiyangsari, Kecamatan Kroya, Kabupaten Indramayu dan uji umur simpan dilaksanakan di Laboratorium Jasa Analisa Pangan Institut Pertanian Bogor, dari bulan Oktober 2007 hingga Januari 2008. Bahan yang digunakan adalah mangga cengkir. Kadar air awal manisan mangga kering adalah 19,31%. Penelitian dilakukan dalam beberapa tahap yaitu ; a). Penentuan kadar air kritis; b) penentuan isoterma sorpsi air pada 5 tingkatan RH dan c). Penentuan WVTR kemasan plastik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur simpan manisan mangga kering yang dikemas dengan plastik memberikan umur simpan sekitar 10 – 11 bulan berdasarkan perubahan kadar airnya. Kata kunci : Mangga, Manisan kering, Kurva isoterma sorpsi, Umur simpan