SKRIPSI Jurusan Tata Busana - Fakultas Teknik UM
SKRIPSI Jurusan Tata Busana - Fakultas Teknik UMNot a member yet
632 research outputs found
Sort by
Eksplorasi Motif Tenun Lambaleko Kecamatan Loli Kabupaten Sumba Barat Nusa Tenggara Timur
ABSTRAK Fatimah, Muthi. 2017. Eksplorasi Motif Tenun Lambaleko Kecamatan Loli Kabupaten Sumba Barat Propinsi Nusa Tenggara Timur. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Agus Hery Supadmi Irianti, M. Pd., (2) Dra. Sri Eko Puji Rahayu, M. Si. Kata kunci: Motif Umum, Lambang Dan Makna, Warna, Tenun LambalekoKain tenun di setiap daerah memiliki keistimewaan sendiri dari motif dan warnanya, keberagaman motif dan warna kain tenun yang tidak terlepas dari asalnya, untuk menggambarkan ciri, keunikan dan kekhasannya sesuai dengan nilai budaya dari masing-masing daerah. Kecamatan Loli Kabupaten Sumba Barat merupakan salah satu wilayah penghasil kain tenun di Nusa Tenggara Timur. Kecamatan Loli memiliki kain tenun yang disebut kain tenun Lambaleko. Tenun Lambaleko tidak kalah unik dengan kain tenun dari daerah lainnya. Banyaknya ragam motif tenun yang ada di berbagai daerah di Indonesia perlu dijaga dan dilestarikan agar generasi selanjutnya memahami budaya dan identitasnya dan serta tidak diakui oleh pihak lain.Penelitian ini berfokus pada: (1) Motif Khas Kain Tenun Lambaleko; (2) Lambang Dan Makna Motif; (3) Warna Kain Tenun Lambaleko. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Metode penelitian yang digunakan adalah ketekunan pengamatan dan triangulasi sumber data dan triangulasi teknik.Hasil penelitian di lapangan diperoleh data: (1)Motif Khas Tenun Lambaleko yang di teliti ada 8 yaitu, (a) motif Mamuli, (b) motif Rumah Adat, (c) motif Batu Kubur, (d) motif Ayam, (e) motif Kuda, (f) motif Ketupat, (g) motif Kepiting, (h) motif Kupu-kupu; (2) Lambang Dan Makna Mottif Umum Tenun Lambaleko: (a) motif Mamuli lambang perempuan, kesuburan dan keberuntungan (b) motif Rumah Adat lambang kehidupan, (c) motif Batu Kubur lambang kehidupan, (d) motif Ayam lambang persembahan, pengorbanan, dan kebangkitan roh, (e) motif Kuda lambang ketaatan dan tanggung jawab, (f) motif Ketupat kebersamaan dan tali persaudaraan yang erat, (g) motif Kepiting lambang pertahanan, (h) motif Kupu-kupu lambang kerja keras dan berkat; (3) Warna Kain Tenun Lambaleko yang dibuat menurut selera penenun atau pembeli. Motif umum tenun Lambaleko mengalami perkembangan. Motif tambahan pada tenun lambaleko yang terinspirasi dari luar kecamatan Loli, dari daerah lain di Sumba bahkan dari luar Sumba. Motif tambahan yang disadur dari daerah lain tidak selalu memiliki lambang dan makna. Motif yang dibuat hanya sebagai estetikan atau tambahan untuk mengisi kain tenun Lambaleko. Kain tenun Lambaleko memiliki warna yang beragam. Warna pada tenun Lambaleko disesuaikan menurut selera dan kreasi penenun atau pembeli. Pengunaan benang polyester dengan pewarna sintetetis mendominasi kain tenun Lambaleko karna mudah digunakan, efisiensi waktu dan memiliki variasi warna yang beragam. Saran yang dapat peneliti kemukakan adalah: (1) Upaya menjaga dan melestarikan warisan budaya tentang tenun Lambaleko, peneliti menyarankan para penenun dan masyarakat Loli harus mempelajari dan memahami tentang tenun Lambaleko, selain itu juga diharapkan untuk lebih mengeksplor motif tenun Lambaleko sesuai dengan kearifan lokal yang ada di sekitar lingkungan kecamatan Loli dan Sumba untuk memperkaya ragam motif tenun Lambaleko .; (2) Peneliti menyarankan kepada penenun dan masyarakat Loli untuk mempelajari dan memahami lambang dan makna motif tenun Lambaleko, dalam tenun Lambaleko terkandung nilai-nilai luhur adat dan budaya Sumba. Semakin besar upaya dalam mempertahankan nilai-nilai luhur adat dan budaya dalam bentuk apapun semakin jelas pula identitas suku bangsa sebagai masyarakat multikultural.; (3) Peneliti menyarankan untuk menggunakan pewarna alam dan mengeksplor lebih dalam tentang pewarna alam untuk menambah nilai kualitas kain tenun Lambaleko.ABSTRAK Fatimah, Muthi. 2017. Eksplorasi Motif Tenun Lambaleko Kecamatan Loli Kabupaten Sumba Barat Propinsi Nusa Tenggara Timur. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Agus Hery Supadmi Irianti, M. Pd., (2) Dra. Sri Eko Puji Rahayu, M. Si. Kata kunci: Motif Umum, Lambang Dan Makna, Warna, Tenun Lambaleko Kain tenun di setiap daerah memiliki keistimewaan sendiri dari motif dan warnanya, keberagaman motif dan warna kain tenun yang tidak terlepas dari asalnya, untuk menggambarkan ciri, keunikan dan kekhasannya sesuai dengan nilai budaya dari masing-masing daerah. Kecamatan Loli Kabupaten Sumba Barat merupakan salah satu wilayah penghasil kain tenun di Nusa Tenggara Timur. Kecamatan Loli memiliki kain tenun yang disebut kain tenun Lambaleko. Tenun Lambaleko tidak kalah unik dengan kain tenun dari daerah lainnya. Banyaknya ragam motif tenun yang ada di berbagai daerah di Indonesia perlu dijaga dan dilestarikan agar generasi selanjutnya memahami budaya dan identitasnya dan serta tidak diakui oleh pihak lain. Penelitian ini berfokus pada: (1) Motif Khas Kain Tenun Lambaleko; (2) Lambang Dan Makna Motif; (3) Warna Kain Tenun Lambaleko. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Metode penelitian yang digunakan adalah ketekunan pengamatan dan triangulasi sumber data dan triangulasi teknik. Hasil penelitian di lapangan diperoleh data: (1)Motif Khas Tenun Lambaleko yang di teliti ada 8 yaitu, (a) motif Mamuli, (b) motif Rumah Adat, (c) motif Batu Kubur, (d) motif Ayam, (e) motif Kuda, (f) motif Ketupat, (g) motif Kepiting, (h) motif Kupu-kupu; (2) Lambang Dan Makna Mottif Umum Tenun Lambaleko: (a) motif Mamuli lambang perempuan, kesuburan dan keberuntungan (b) motif Rumah Adat lambang kehidupan, (c) motif Batu Kubur lambang kehidupan, (d) motif Ayam lambang persembahan, pengorbanan, dan kebangkitan roh, (e) motif Kuda lambang ketaatan dan tanggung jawab, (f) motif Ketupat kebersamaan dan tali persaudaraan yang erat, (g) motif Kepiting lambang pertahanan, (h) motif Kupu-kupu lambang kerja keras dan berkat; (3) Warna Kain Tenun Lambaleko yang dibuat menurut selera penenun atau pembeli. Motif umum tenun Lambaleko mengalami perkembangan. Motif tambahan pada tenun lambaleko yang terinspirasi dari luar kecamatan Loli, dari daerah lain di Sumba bahkan dari luar Sumba. Motif tambahan yang disadur dari daerah lain tidak selalu memiliki lambang dan makna. Motif yang dibuat hanya sebagai estetikan atau tambahan untuk mengisi kain tenun Lambaleko. Kain tenun Lambaleko memiliki warna yang beragam. Warna pada tenun Lambaleko disesuaikan menurut selera dan kreasi penenun atau pembeli. Pengunaan benang polyester dengan pewarna sintetetis mendominasi kain tenun Lambaleko karna mudah digunakan, efisiensi waktu dan memiliki variasi warna yang beragam. Saran yang dapat peneliti kemukakan adalah: (1) Upaya menjaga dan melestarikan warisan budaya tentang tenun Lambaleko, peneliti menyarankan para penenun dan masyarakat Loli harus mempelajari dan memahami tentang tenun Lambaleko, selain itu juga diharapkan untuk lebih mengeksplor motif tenun Lambaleko sesuai dengan kearifan lokal yang ada di sekitar lingkungan kecamatan Loli dan Sumba untuk memperkaya ragam motif tenun Lambaleko .; (2) Peneliti menyarankan kepada penenun dan masyarakat Loli untuk mempelajari dan memahami lambang dan makna motif tenun Lambaleko, dalam tenun Lambaleko terkandung nilai-nilai luhur adat dan budaya Sumba. Semakin besar upaya dalam mempertahankan nilai-nilai luhur adat dan budaya dalam bentuk apapun semakin jelas pula identitas suku bangsa sebagai masyarakat multikultural.; (3) Peneliti menyarankan untuk menggunakan pewarna alam dan mengeksplor lebih dalam tentang pewarna alam untuk menambah nilai kualitas kain tenun Lambaleko
Tanggapan Konsumen Terhadap Produk Sepatu kulit "Praktis" Magetan Jawa Timur
Magetan merupakan daerah pengrajin kulit mulai dari bahan mentah hingga produk jadi siap pakai, salah satunya sepatu, sandal. Kerajinan sepatu dan sandal kulit merupakan produk unggulan di Magetan, di Magetan terdapat sentra-sentra produksi kerajinan sepatu dan sandal kulit, salah satunya perusahaan “Praktis”. Perusahaan “Praktis” merupakan pengrajin kulit di Magetan yang telah lama berdiri, produknyapun telah dikenal oleh konsumen dari berbagai daerah di Indonesia. Produk sepatu kulit “Praktis” merupakan produk sepatu kulit yang banyak dicari oleh konsumen karena kualitasnya. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan tanggapan konsumen terhadap sepatu kulit “Praktis” di Kabupaten Magetan. Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi dari penelitian ini adalah konsumen yang sedang berkunjung dan membeli produk sepatu kuli “Praktis”. Sampel yang digunakan adalah Accidental Sampling yaitu teknik pengambilan sampel yang dilakukan terhadap responden yang secara kebetulan ditemui pada obyek penelitian selama observasi sedang berlangsung. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket tertutup, dengan jumlah pernyataan sebanyak 28 item terhadap 55 responden. Instrumen angket ini diuji validitas menggunakan validitas isi, sedangkan uji realibilitas menggunakan alpha cronbach. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) sebagian besar responden memilih produk sepatu kulit “Praktis” karena memiliki kualitas yang baik sesuai yang diinginkan konsumen. (2) sebagian besar responden memilih produk sepatu kulit “Praktis” karena produk sepatu kulit “Praktis” memiliki banyak model pilihan untuk berbagai acara untuk berbagai usia. (3) sebagian besar responden memilih produk sepatu kulit “Praktis” karena desainnya yang tidak ketinggalan jaman serta “Praktis” menerima pesanan sesuai desain yang diinginkan konsumen. (4) sebagian besar responden memilih produk sepatu kulit “Praktis” karena memiliki ciri khas yang tidak dimiliki perusahaan lain. (5) sebagian besar responden memilih produk sepatu kulit “Praktis” karena merk “Praktis” merupakan merk sepatu kulit yang cukup dikenal oleh konsumen. (6) sebagian besar responden memilih produk sepatu kulit “Praktis” karena kemasan yang digunakan mudah untuk didaur ulang serta label yang digunakan memiliki ciri khas yang membedakannya dengan perusahaan lain. (7) sebagian besar responden memilih produk sepatu kulit “Praktis” karena memiliki berbagai ukuran. (8) sebagian besar responden sebagian besar responden memilih produk sepatu kulit “Praktis” karena memiliki harga yang dapat dijangkau berbagai macam kalangan. (9) sebagian besar responden sebagian besar responden memilih produk sepatu kulit “Praktis” karena harga yang ditawarkan seuai dengan kualitas yang dihasilkan. (10) sebagian besar responden memilih produk sepatu kulit “Praktis” karena harga yang ditawarkan sesuai dengan masa pakai produk. (11) sebagian besar responden memilih produk sepatu kulit “Praktis” karena memiliki harga yang berdaya saing dengan perusahaan lain. Saran yang dapat diberikan dalam penelitian ini adalah: (1) menjaga atau meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan agar konsumen tetap setia membeli produknya, (2) memproduksi ukuran sepatu yang lebih variatif, terutama untuk ukuran anak-anak agar minat konsumen untuk membeli semakin tinggi.(2)memberikan harga yang lebih bersaing dengan perusahaan lain agar minat konsumen untuk membeli semakin tinggi, (4) mencoba memasarkan produknya ke mancanegara dengan promosi melalui media cetak maupun elektronik karena konsumen telah menilai bahwa produk yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik
STUDI TENTANG MOTIF DAN MAKNA BATIK UNGGULAN DI IKM “ANAK ANGIN” NGETOS KABUPATEN NGANJUK
Industri Kecil dan Menengah (IKM) batik “Anak Angin” merupakan salah satu IKM batik dari 9 IKM batik yang ada di daerah Nganjuk. IKM batik “Anak Angin” hampir sama dengan IKM batik lainnya, namun perbedaanya pada inspirasi penciptaan motif yang sebagian mengambil dari sejarah atau peristiwa setempat. Motif batik yang diciptakan di IKM batik “Anak Angin” berbagai macam dan dari 16 motif yang tercatat di IKM tersebut terdapat beberapa motif unggulan yang lebih banyak diminati oleh para konsumen karena motifnya lebih unik dibandingkan dengan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan motif dan makna motif unggulan di IKM batik “Anak Angin” Ngetos, Kabupaten Nganjuk. Penelitian inimerupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Metode penelitian yang digunakan adalah Triangulasi Sumber Data dan Triangulasi Teknik. Berdasarkan temuan penelitian di lapangan diperoleh data: (1) IKM batik “Anak Angin” memiliki 5 motif unggulan yaitu, (a) Motif Ngatas Anginyang terinspirasi dari relief kalamakara dan angin, (b) Motif Tapak Liman terinspirasi dari pijakan kaki para pembesar, (c) Motif Telale Gajahyang terinspirasi dari belalai gajah, (d) Motif Sumpingterinspirasi dari perhiasan sumping, (e) Motif Daun Asemterinspirasi dari daun pohon asem; (2) Makna Perlambang dari motif unggulan IKM batik “Anak Angin” adalah: (a) Motif Ngatas Angin bermakna ilmu yang tanpa batas, (b) Motif Tapak Liman bermakna pijakan kaki para tokoh besar, (c) Motif Telale Gajah bermakna cita-cita para pembesar, (d) Motif Sumping bermakna perhiasan yang dikenakan oleh raja zaman dulu, (e) Motif Daun Asem bermakna sosok yang berjiwa muda, kuat, tangguh dan dapat berguna bagi sesama. Kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dilakukan meliputi: (1) Motif batik unggulan di IKM “Anak Angin” Ngetos menggambarkan tentang sejarah atau peristiwa yang ada di daerah setempat; (2) Setiap motif memiliki makna tersendiri yang dilukiskan pada ornamen utamanya. Motif Ngatas Angin dilukiskan dengan ornamen utama patung kalamakara dan angin melambangkan ilmu yang tanpa batas. Daun menjalar sebagai ornamen utama motif Tapak Liman menggambarkan pijakan kaki para tokoh besar. Ornamen utama garis lengkung (belalai gajah) pada motif Telale Gajah memiliki arti cita-cita para pembesar. Motif batik dengan bentuk sumping melambangkan perhiasan yang dikenakan oleh raja zaman dulu. Ornamen utama daun asem pada motif Daun Asem menggambarkan sosok yang berjiwa muda, kuat, tangguh, dan berguna bagi yang lain. Saran penelitian ini perlu ditindak lanjuti dalam hal pengembangan motif, proses pembuatan batik, dan pemasaran. Pemilik IKM batik “Anak Angin”, sebaiknya (a) Hasil karya produksi batik hendaknya didokumentasikan dan diberi hak paten agar memiliki data resmi dan arsip data yang lengkap; (b) Pembatik lebih meningkatkan kualitas produk dan mempromosikan produk batik agar lebih dikenal oleh masyarakat. Dinas Pariwisata, Pemuda, Olahraga, dan Kebudayaan (Disporporabud), sebaiknya lebih mendokumentasikan data-data terkait batik dimasing-masing industri batik yang ada di Nganjuk, agar memudahkan kajian mengenai batik. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), sebaiknya lebih mampu membantu dalam hal promosi batik, supaya lebih dikenal oleh masyarakat luas, khususnya masyarakat wilayah Nganjuk itu sendiri dan mempermudah akses pembuatan hak paten. Kata Kunci: Motif Unggulan, Makna Motif Unggulan, IKM Batik “Anak Angin
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN ADOBE FLASH PADA MATERI MENGGAMBAR WAJAH UNTUK KELAS XI JURUSAN BUSANA BUTIK SMK N 1 TUREN
ABSTRAK Cahyaningrum, Nur. 2017. Pengembangan Media PembelajaranAdobe Flash pada Materi Menggambar Wajah untuk Kelas XI Jurusan Busana Butik SMK N1 Turen. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, FakultasTeknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I)Dra. Nur Endah Purwaningsih,M.Pd, (II) Dra. Idah Hadijah, M.Pd. Kata Kunci :Pengembangan, Adobe flash, MenggambarWajahMedia pembelajaran yangditerapkan di SMK Negeri 1 Turen pada mata pelajaran Desain Busana materi menggambar wajah berupa media cetak, yaitu berupa buku cetak dan modul. Kemampuan siswa memahami pembelajaran yang satudengan yang lainnya berbeda sesuai dengan kemampuan dan pengalaman belajar siswa, sehingga dapat menimbulkan persepsi yang berbeda juga terhadap materi yang disampaikan.Tujuan dari pengembangan media ini adalah untuk menghasilkan media pembelajaran menggunakanadobe flash pada materi menggambar wajah wanita dewasa untuk siswa kelas XI Jurusan Busana Butik SMK Negeri 1 Turen sebagai penunjang pembelajaran.Pengembangan media pembelajaran menggambar wajah didasarkan pada langkah-langkah pengembangan media menurut Sadiman yang terdiri dari 8 tahap yaitu: (1) identifikasi kebutuhan, (2) perumusan tujuan, (3) perumusan butir-butir materi, (4) perumusan alat ukur, (5) penulisan naskah media, (6) test/uji coba, (7) revisi, dan (8) naskah siap produksi. Kelayakan media yang dikembangkan dinilai oleh 3 ahli terdiri dari satu dosenTeknologi Pendidikan, satu dosen Tata Busana dan satu guru mata pelajaran Bahasa Indonesia. Penilaian berdasarkan kelayakan isi dan penyajian. Kelayakan media pembelajaran yang dikembangkan didasarkan pada pencapaian pada tahap uji coba meliputi uji perorangan, uji kelompok kecil, dan uji lapangan. Uji perorangan bertujuan untuk mengetahui kepemahaman siswa secara terbatas berupa saran dan kometar yang kemudian dianalisis dan direvisi. Uji kelompok kecil dilakukan pada 12 orang dipilih berdasarkan tingkat kemampuan akademik yang kemudian dianalisis dan direvisi untuk uji lapangan. Uji lapangan didilakukan pada 35 siswa yang kemudian dianalisis dan menjadi hasil akhir produk media sebagai media pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) hasil validasi media, materi, dan bahasa mengatakan “layak”. Kelayakan pada uji kelompok kecil dengan 12 peserta didik sebesar 93%, dan pada uji lapangan dengan 35 peserta didik sebesar 93%, dalam kategori sangat layak. Berdasarkan hasil dari para ahli dan uji coba siswa dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adobe flash menggambar wajah untuk siswa kelas XI SMK Negeri 1 Turen dapat dinyatakan “sangat layak” untuk digunakan sebagai media pembelajaran
Pengaruh Motivasi Belajar dan Fasilitas Laboratorium Keterampilan Tata Busana Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Dasar Teknologi Menjahit di SMK Kartika IV- 1 Malang
ABSTRAK SMK sebagai tempat proses belajar mengajar, memiliki fasilitas laboratorium yang dapat menujang proses belajar mengajar. Fasilitas dapat meningkatkan motivasi belajar pada diri siswa sehingga dapat menentukan keberhasilan siswa. Fasilitas laboratorium dan motivasi belajar merupakan faktor interen dan ekstern yang dapat berpengaruh terhadap keberhasilan siswa.Penelitian ini bertujuan untuk menguji hipotesis: (1)ada pengaruh yang signifikan secara parsial antara motivasi belajar terhadap hasil belajar siswa di SMK Kartika IV- 1 Malang; (2) ada pengaruh yang signifikan secara parsial antara fasilitas laboratorium keterampilan terhadap hasil belajar siswa di SMK Kartika IV- 1 Malang; dan (3)ada pengaruh yang signifikan secara simultan antara motivasi belajar dan fasilitas laboratorium keterampilan terhadap hasil belajar siswa di SMK Kartika IV- 1 Malang.Penelitian ini merupakan penelitian asosiatif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi pada penelitian ini adalah siswa pada Mata Pelajaran Dasar Teknologi Menjahit di SMK Kartika IV-1 Malang yang berjumlah 54 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, uji asumsi klasik, analisis regresi berganda dan uji hipotesis (uji-t dan uji-f).Hasil penelitian menyatakan bahwa: (1) motivasi belajar secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar siswa pada Mata Pelajaran Dasar Teknologi Menjahit di SMK Kartika IV-1 Malang; (2) fasilitas laboratorium keterampilan tata busana secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar siswa pada Mata Pelajaran Dasar Teknologi Menjahit di SMK Kartika IV-1 Malang; dan (3) motivasi belajar dan fasilitas laboratorium keterampilan tata busana secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar siswa pada Mata Pelajaran Dasar Teknologi Menjahit di SMK Kartika IV-1 Malang. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyarankan: (1) pihak sekolah lebih meningkatkan kualitas dan kuantitas fasilitas laboratorium keterampilan tata busana dengan menyediakan sarana dan prasarana yang memadai sesuai dengan standar pendidikan; (2) pihak sekolah sebaiknya selalu melakukan pengecekan dan perbaikan secara berkala terhadap fasilitas laboratorium keterampilan tata busana; dan (3) bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat meneliti lebih luas mengenai faktor-faktor lain yang dapat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa
STUDI TENTANG PERKEMBANGAN TENUN LURIK PEDAN DI KABUPATEN KLATEN JAWA TENGGAH
ABSTRAK Tenun lurik Pedan merupakan salah satu dari kekayaan budaya Indonesia. Daerah Pedan merupakan sentra pembuatan tenun lurik sejak tahun 1950 yang memiliki 500 penusahadan 60.000 pekerja. Namun semenjak adanya mesin tekstil yanglebih modern banyak pengusaha yang merugi hingga saat ini hanya ada puluhan pengusaha tenun lurik, dan disamping itu ada yang bertahan dengan cara mengembangkan baik motif, bahan dan warna. Perkembangan tenun lurik tersebut tidak banyak dilketahui oleh masyarakat.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang motif, warna, dan bahan dari tenun lurik Pedan Kabupaten Klaten. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif, hasil data dalam penelitian ini berupa kata-kata. Teknik pengumpulan data yaitu menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dalam penelitian ini untuk menguji keabsahan data yang telah diperoleh, menggunakan ketekunan pengamatan dan triangulasi. Untuk menganalisis data dalam penelitian ini menggunakan empat alur, yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi.Berdasarkan hasil penelitian analisis tersebut diperoleh tiga hasil kesimpulan sebagai berikut : (1) tenun lurik sudah berkembang dari segi motif, warnadan bahan, namun Kabupaten Klaten masih belum memiliki motif khas tersendiri; (2)tenun lurik Pedan yang dihasilkan menggunakan berbagai jenis benang katun, sutra dan poliester; (3) Warna tenun lurik identik dengan warna gelap. Perkembangan saat ini warna yang dihasilkan saat ini lebih cerah dan memiliki banyak inovasi warna. Saran yang dapat diberikan dalam penelitian ini adalah: (1) Adanya perkembangan motif tersebut hendaknya diimbangi dengan menciptakan motif tenun lurik yang khas dengan Klaten, misalnya membuat motif padi atau beras karena mayoritas penduduk di Klaten adalah petani (2) Penggunaan katun misris untuk semua tenun yang digunakan agar tenun lurik tersebut nyaman saat dikenakan, karena minat beli konsumen selain pada motif yang menarik bahan tenun yang digunakan juga menjadi prioritas utama; (3)Upaya pengusaha tenun lurik dalam meningkatkan jenis warna tenun lurik diharapkan bisa menjadi motivasi untuk industri yang lainnya, agar perkembangan tenun lurik merata pada di daerah Pedan. Pemerintah setempat turut memberikan sosialisasi terkait dengan warna tekstil
Survey Tentang Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar Praktik Membuat Blouse Pada Mata Pelajaran Membuat Busana Wanita Kelas X Busana Butik 2 di SMK Negeri 1 Batu
Membuat Busana Wanita merupakan salah satu mata pelajaran produktif dengan kode kompetensi BS3 dan diberikan pada kelas X Busana Butik di SMK Negeri 1 Batu. Pada observasi awal yang dilakukan peneliti setelah menyelesaikan kegiatan PPL II, peneliti mendapatkan temuan data berupa 14 siswa yang masih memiliki hasil belajar di bawah standar pada praktikum membuat blouse dan dinyatakan sebesar 51,8% dari jumlah total 27 siswa, dimana standar KKM pada mata pelajaran produktif adalah 75. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor internal dan faktor eksternal yang mempengaruhi hasil belajar siswa pada praktik membuat blouse/membuat busana wanita di kelas x busana butik 2 di SMK Negeri 1 Batu. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen manusia, yaitu peneliti sendiri. Sumber data dalam penelitian ini adalah guru pengajar mata pelajaran membuat busana wanita, 14 siswa yang memiliki hasil belajar di bawah standar, serta dokumen yang menunjang penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Kegiatan triangulasi dilakukan untuk pengecekan keabsahan data. Kegiatan analisis data dimulai dari mereduksi data, menyajikan, dan memberikan kesimpulan. Hasil yang diperoleh dari penelitian “Survey Tentang Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar Praktik Membuat Blouse pada Mata Pelajaran Membuat Busana Wanita Kelas X Busana Butik 2 di SMK Negeri 1 Batu” yaitu;(1) faktor internal yang mempengaruhi hasil belajar siswa berada di bawah standar antara lain; kecerdasan, bakat, motivasi, minat, perhatian; (2) faktor eksternal yang mempengaruhi hasil belajar siswa berada di bawah standar antara lain; faktor sekolah dan lingkungan keluarga. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pada saat kegiatan pembelajaran praktikum membuat blouseterdapat beberapa faktor yang mempengaruhi sehingga 14 siswa mendapatkan hasil belajar di bawah standar. Faktor-faktor tersebut adalah kecerdasan, bakat, minat, perhatian, motivasi, lingkungan keluarga dan faktor sekolah. Saran yang dapat peneliti berikan adalah: (1) guru diharapkan dapat meningkatkan perhatian siswa dalam kegiatan pembelajaran produktif, (2) guru diharapkan dapat menimbulkan minat dan motivasi belajar pada siswa agar tertarik pada kegiatan pembelajaran produktif, (3) menambah jam konsultasidengan siswa, sehingga semua siswa dapat menyampaikan segala kesulitan yang dialami selama kegiatan pembelajaran; (4) guru diharapkan dapat meningkatkan pengelolaan kelas sehingga siswa tidak segan pada waktu berkonsultasidengan guru, (5) orang tua diharapkan dapat mengontrol kegiatan belajar putra/putrinya di rumah, (6) orang tua diharapkan dapat menumbuhkan minat dan motivasi siswa dalam belajar, (7) orang tua diharapkan dapat memenuhi fasilitas belajar siswa di rumah, (8) diharapkan orang tua memberikan kesempatan kepada putra/putrinya untuk belajar atau mengerjakan tugas sekolah di rumah, (9) siswa diharapkan dapat meningkatkan minat dan motivasi dalam kegiatan pembelajaran produktif, (10) siswa diharapkan dapat meningkatkan perhatian pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung, sehingga dapat memahami materi yang diberikan oleh guru; (11) siswa diharapkan untuk selalu berkonsultasidengan guru jika ada hal yang belum dipahami pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung, (12) sekolah diharapkan memberikan penjelasan atau wawasan tentang program studi yang ada, sehingga calon siswa baru dapat memahami dengan baik dan dapat memilih program studi sesuaidengan bakat dan minat; (13) membagikan brosur kepada sekolah menengah pertama (SMP) sebagai upaya pengenalan sekolah kepada calon siswa baru, (14) memperbaiki sarana dan prasarana yang ada di sekolah sehingga kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan baik
Studi Tentang Profil Batik Tulis Celaket Khas Malang
Malang adalah salah satu daerah penghasil batik. Batik di kota Malang berkembang sangat pesat, salah satu nama batik yang terdapat di kota Malang adalah batik tulis Celaket yang terletak di Jl. Jaksa Agung Suprapto. Inspirasi pada pembuatan motif batik tulis Celaket adalah monumen tugu kota Malang, bunga teratai, topeng Malangan, lambang kebanggaan Arema, tanaman bunga dan buah, dan binatang. Motif yang terdapat pada batik tulis Celaket ini lebih banyak menggunakan arah vertikal dengan bentuk geometris. Zat warna yang digunakan adalah zat warna sintetis yang cenderung menghasilkan warna yang lebih cerah. Motif khas yang terdapat pada batik tulis Celaket adalah motif singo cor Malangan, dan warna khas dari batik tulis Celaket adalah warna-warna yang panas seperti warna merah sampai orange. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan tentang profil batik yang mencakup motif dan makna yang terdapat pada batik tulis Celaket khas Malang. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini, yaitu motif dan makna batik tulis Celaket. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Informan adalah pemilik usaha batik tulis Celaket yaitu Ibu Ira, perupa Malang yaitu Bapak Yon Wahyuono, dan instruktur batik Malang yaitu Ibu Risdwi Soenoe. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis data dengan tahapan (1) pengumpulan data, (2) reduksi dan penyajian data, (3) penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan yaitu Penciptaan ide atau inspirasi dalam pembuatan batik tulis lebih banyak berasal dari kota Malang itu sendiri. Pengembangan desain pada batik tulis Celaket ini juga memperhitungkan berbagai aspek yaitu susunan garis, bentuk, komposisi, dan warna yang sesuai. Warna-warna yang digunakan lebih banyak menggunakan warna-warna panas mulai dari merah hingga kuning, dan warna-warna kontras, begitu juga dengan struktur ornamen, struktur ornamen dalam pengembangan desainnya berupa bentuk figure yang menyeluruh dan utuh. Batik tulis Celaket tidak mempunyai makna yang terdapat pada masing-masing motif batiknya, melainkan makna secara keseluruhan yaitu makna keberanian yang diambil dari lambang pesepak bola Arema. Saran dalam penelitian ini adalah diharapkan agar pengrajin batik di batik tulis Celaket lebih mengembangkan inspirasi-inspirasi penciptaan motif batik tulis Celaket, dan lebih memperhatikan komponen-komponen dalam pembuatan desain yang serasi dan seimbang seperti penyesuaian bentuk dan ukuran. Diharapkan bagi pemerintah daerah untuk lebih memperhatikan batik produksi lokal baik batik tulis celaket maupun batik lainnya yang ada di Malang. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan kajian lebih dalam perihal motif-motif yang lebih memperhitungkan komposisi didalam pembuatan desain motifnya
Tanggapan Narapidana Terhadap Pembinaan Kemandirian Bidang Busana Di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas II A Malang
Lembaga Pemasyarakatan (LP) memiliki tujuan yaitu meningkatkan kualitas narapidana agar menyadari kesalahan yang telah diperbuatnya sehingga narapidana dapat memperbaiki diri serta tidak mengulangi perbuatannya yang dapat merugikan masyarakat. Pembinaan kemandirian bidang busana merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas II A Malang untuk meningkatkan kualitas narapidana, dengan memberikan pengetahuan serta bekal ketrampilan kepada narapidana untuk melanjutkan kehidupan yang lebih baik setelah keluar dari LP. Produk-produk yang dihasilkan oleh narapidana mayoritas berupa pakaian, pelengkap busana dan lenan rumahtangga. Beberapa pihak dari luar (produsen) telah bekerjasama dengan LP Wanita Klas II A Malang, serta memberikan order kepada narapidana untuk dikerjakan. Hal ini mengakibatkan kegiatan produksi dapat berjalan secara kontinyu (terus menerus) dan produk dapat segera terpasarkan dengan baik, sehingga bakat dan minat narapidana dapat tersalurkan dengan baik dan ketrampilan yang dimilikinya semakin terasah. Berdasarkan fakta tersebut peneliti tertarik untuk mendeskripsikan terkait tanggapan narapidana terhadap pembinaan kemandirian bidang busana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas II A Malang. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan tanggapan narapidana terhadap pembinaan kemandirian bidang busana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas II A Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian ini yaitu 96 narapidana yang terlibat langsung dalam pembinaan kemandirian pada bidang busana. Sampel penelitian berjumlah 76 responden yang menggunakan teknik simple random sampling. Hasil penelitian tentang tanggapan narapidana terhadap pembinaan kemandirian bidang busana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas II A Malang menunjukkan bahwa responden menilai pembinaan kemandirian bidang busana adalah baik. Hal tersebut karena responden menilai pembinaan kemandirian bidang busana dapat memberikan pengetahuan dan ketrampilan sebagai bekal kembali ke masyarakat serta membantu narapidana agar menjadi manusia seutuhnya. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwapelaksanaan pembinaan kemandirian bidang busana sudah berjalan baik, diharapkan dengan kemampuan yang sudah dilatihkan dapat membantu narapidana mempersiapkan diri untuk kembali ke masyarakat. Produk-produk yang dihasilkan bervariasi dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi, diharapkan setelah kembali ke masyarakat nanti narapidana dapat memaksimalkan dan meningkatkan ekonomi keluarga sehingga dapat melanjutkan kehidupan yang lebih baik.Sebagian besar produk hasil karya dari narapidana adalah orderan dari produsen yang bekerjasama dengan LP, produk-produk yang dihasilkan selalu up to date sesuai dengan permintaan pasar diharapkan narapidana dapat terus-menerus berproduksi dan berinovasi dengan teknik-teknik baru sehingga semakin terasah ketrampilannya. Sebagian kecil produk hasil karya dari narapidana dipasarkan melalui gerai yang ada di depan LP Wanita Klas II A Malang,diharapkan agar bisa diperkenalkan pada masyarakat yang lebih luas. Narapidana menilai bahwa komunikasi dengan instruktur, performance serta demontrasi dari instruktur saat pembinaan kemandirian bidang busana sudah baik, sehingga membantu dalam pemahaman materi. Saran yang diberikan pada penelitian ini yaitu hendaknya ketrampilan-ketrampilan baru selalu aktif diperkenalkan yang dapat menambah wawasan bagi narapidana.Setelah narapidana keluar dari LP diharapkan mereka dapat memaksimalkan ketrampilan yang telah didapat dengan membuka usaha sendiri.Gerai yang dimiliki oleh LP Wanita Klas II A Malang bertempat di depan LP namun kurang terlihat dari jalan raya, hendaknya gerai tersebut dibenahi agar lebih terlihat dari jalan raya sehingga masyarakat umum tertarik untuk membeli produk di gerai tersebut.Komunikasi dengan instruktur, performance serta demontrasi dari instruktur saat pembinaan kemandirian bidang busana sudah baik, diharapkan dapat dipertahankan dan ditingkatkan agar lebih baik lagi
STUDI TENTANG KESIAPAN REVITALISASI PENDIDIKAN KEJURUAN DI SMK NEGERI 1 GEDANGAN KABUPATEN MALANG
ABSTRAK Saidah, Amalia A. 2017. Studi tentang Kesiapan Revitalisasi Pendidikan Kejuruan di SMK Negeri 1 Gedangan Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Program Studi Pendidikan Tata Busana, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Agus Hery Supadmi Irianti, M.Pd., (II) Nurul Hidayati, S.Pd., M.Sn. Kata Kunci: Revitalisasi Pendidikan Kejuruan Revitalisasi pendidikan merupakan hal yang harus segera dilaksanakan pada satuan pendidikan. Sekolah Menengah Kejuruan merupakan objek yang akan di revitalisasi sesuai dengan instruksi presiden tentang revitalisasi pendidikan kejuruan. Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan dilaksanakan dalam rangka peningkatan kualitas dan daya saing sumber daya manusia Indonesia. Revitalisasi adalah proses pembaharuan kembali segala unsur yang memerlukan perbaikan untuk menjadi vital dan diperlukan dalam perkembangan kehidupan. Revitalisasi pendidikan kejuruan mencakup upaya pembaharuan unsur vital dalam pendidikan kejuruan agar mampu bersaing dalam perkembangan dunia pendidikan di Indonesia. Dalam revitalisasi pendidikan kejuruan terdapat 4 dimensi, yaitu: tata kelola lembaga, guru dan tenaga kependidikan, kualitas pembelajaran, dan kebekerjaan lulusan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui kesiapan revitalisasi pendidikan kejuruan di SMK Negeri 1 Gedangan Kabupaten Malang pada 4 dimensi, meliputi: dimensi tata kelola lembaga, dimensi guru dan tenaga kependidikan, dimensi kualitas pembelajaran, dan dimensi kebekerjaan lulusan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalahnon probability sampling yaitu sampel kuota/jenuh. Responden terdiri dari keseluruhan guru di SMK Negeri 1 Gedangan Kabupaten Malang berjumlah 49 responden. Instrumen yang digunakan adalah angket/kuesioner tertutup. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa kesiapan revitalisasi pendidikan kejuruan di SMK Negeri 1 Gedangan Kabupaten Malang pada: (1) dimensi tata kelola lembaga, berdasarkan indikator (a) akreditasi dan lisensi sertifikasi berada pada kategori tidak siap dengan persentase 25,0%, (b) pengelolaan kelembagaan berada pada kategori sangat siap dengan persentase 93,5%, dan (c) pemerataan kualitas lembaga berada pada kategori sangat siap dengn persentase 88,9%; (2) dimensi guru dan tenaga kependidikan, berdasarkan indikator (a) pemenuhan kualitas dan kuantitas guru dan tenaga kependidikan berada pada kategori sangat siap dengan persentase 84,5%, (b) pelatihan berkelanjutan berada pada kategori siap dengan persentase 70,7%, dan (c) magang guru di industri berada pada kategori kurang siap dengan persentase 29,6%; (3) dimensi kualitas pembelajaran, berdasarkan indikator (a) penataan spektrum bidang keahlian berada pada kategori sangat siap dengan persentase 99,3%, (b) kurikulum yang diterapkan berada pada kategori sangat siap dengan persentase 78,8%, (c) materi kejuruan yang digunakan berada pada kategori siap dengan persentase 67,3%, (d) proses KBM yang dilaksanakan berada pada kategori siap dengan persentase 74,1%, dan (e) program magang industri berada pada kategori sangat siap dengan persentase 96,9%; (4) dimensi kebekerjaan lulusan, berdasarkan indikator (a) portofolio lulusan berada pada kategori sangat siap dengan persentase 82,7%, (b) hubungan industri berada pada kategori sangat siap dengan persentase 87,3%, (c) penempatan dan penelusuran tamatan berada pada kategori sangat siap dengan persentase 76,1%, dan (d) transisi jenjang karir dan retooling berada pada kategori siap dengan persentase 51,0%. Adapun saran bagi SMK Negeri 1 Gedangan Kabupaten Malang, yaitu: (1) pada dimensi tata kelola lembaga disarankan untuk segera mendapatkan lisensi sertifikasi ISO 9001:2015 dan lisensi dari BNSP terkait LSP-P1 dan TUK; (2) pada dimensi guru dan tenaga kependidikan disarankan untuk lebih menambah guru produktif pada masing-masing program keahlian untuk dapat meningkatkan kompetensi guru dalam mengajar peserta didikdan lebih memaksimalkan kerjasama dengan industri sebagai mitra terkait program pemerintah yaitu magang guru di industri; (3) pada dimensi kualitas pembelajaran disarankan agar lebih memaksimalkan lagi hubungan industri terkait dengan mitra dalam sinkronisasi kurikulum, materi kejuruan, dan proses pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di sekolah; dan (4) pada dimensi kebekerjaan lulusan disarankan untuk dapat membuat terobosan baru dalam pelaksanaan program pelatihan kerja pada lulusan agar kompetensi lulusan dapat diakui di dunia industri dan dapat bersaing dengan kompetitor dari luar lembaga