SKRIPSI Jurusan Tata Busana - Fakultas Teknik UM
SKRIPSI Jurusan Tata Busana - Fakultas Teknik UMNot a member yet
632 research outputs found
Sort by
Analisis Pola draping dan Pola So-En Pada Gaun Berukuran "M" Ditinjau Dari Tingkat Kenyamanan
ABSTRAK Pemasalahan yang kerap muncul akhir-akhir ini seiring perkembangan dunia fashion khususnya gaun adalah munculnya ketidak sesuaian busana dengan pemakainya, yang salah satu penyebabnya adalah pola yang digunakan saat proses pembuatan busana kurang sesuai mengakibatkan ketidaknyamanan pada pemakai. Terdapat dua jenis pola yang sering digunkan untuk membuat sebuah busana yaitu pola konstruksi padat dan pola konstruksi datar. Pola draping merupakan pola konstruksi padat yang cara pembuatannya adalah dengan cara menyampirkan bahan busana atau kertas baik pada dressform maupun langsung pada badan seseorang. Pola So-En adalah salah satu jenis pola konstruksi datar yang namanya diambil dari nama pembuatnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya persentase tingkat kenyamanan gaun yang di buat dengan menggunakan pola draping dan pola So-En. Besarnya tingkat persentase pada tiap kriteria nyaman, kurang nyaman dan tidak nyaman dapat digunakan untuk menganalisis kelebihan dan kekurangan pada masing-masing pola, sehingga dapat dijadikan rujukan bagi para praktisi busana dalam pembuatan gaun yang menggunakan kedua pola tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola draping dengan 14 (empat belas) kriteria titik pas atau fitting factor menunjukkan besarnya persentase tingkat kenyamanan pada kategori nyaman dengan nilai 3 (tiga) tercapai 71,43%. Sedangkan hasil penelitian pada pola So-En dengan 14 (empat belas) kriteria titik pas atau fitting factor menunjukkan besarnya persentasi tingkat kenyamanan pada kategori nyaman dengan nilai 3 (tiga) tercapai 62,50
Peranan Satuan Polisi Pamong Praja Dalam Menertibkan Pedagang Kaki Lima Di Wilayah Kecamatan Klojen Kota Malang
ABSTRAK Siswandi, Budi. 2012. Peranan Satuan Polisi Pamong Praja Dalam Menertibkan Pedagang Kaki Lima Di Wilayah Kecamatan Klojen Kota Malang. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Moch. Yudhi Batubara, S.H, M.H, (II) Drs. Margono, M.Pd, M.Si. Kata Kunci : Satuan Polisi Pamong Praja, Pedagang Kaki Lima, Peranan. Satuan Polisi Pamong Praja adalah perangkat Pemerintah Daerah yang bertugas membantu Kepala Daerah delam pelaksanaan jalannya pemerintahan serta sebagai garda atau barisan terdepan dalam bidang ketentraman dan ketertiban umum. Hal ini diatur dalam pasal 148 ayat (1) Undang- Undang No. 32 Tahun 2004 yang berbunyi “untuk membantu Kepala Daerah dalam menegakkan Peraturan Daerah dan penyelenggaraan ketertiban umumdan ketentraman masyarakat dibentuk Satuan Polisi Pamong Praja”. Salah satu tugas Satpol PP dalam menegakkan Peraturan Daerah adalah menertibkan pedagang kaki lima yang banyak berjualan jalan Pasar Besar dan Alon-alon Kota Malang. Sebab sesuai Peraturan Daerah Kota Malang No. 1 Tahun 2000 tentang PKL, pedadang kaki lima dilarang berjualan di Alun-alun, trotoar, jalur hijau, maupun fasilitas umum lainnya. Pedagang kaki lima adalah usaha kecil yang dilakukan masyarakat yang berpenghasilan rendah (gaji kecil) dan mempunyai modal terbatas. Penelitian ini berjudul Peranan Satuan Polisi Pamong Praja Dalam Menertibkan Pedagang Kaki Lima Di Wailayah Kecamatan Klojen Kota Malang, bertujuan untuk, (1) mengetahui peranan Satuan Polisi Pamong Praja dalam Menertibkan pedagang kaki lima di waialayah Kecamatan Klojen Kota malang, (2) mengetahui kendala-kendala yang dihadapi Satuan Polisi Pamong Praja dalam menertibkan pedagang kaki lima di wailayah Kecamatan Klojen Kota Malang, (3) mengetahui upaya yang dilakukan Satuan Polisi Pamong Praja dalam mengatasi kendala-kendala yang dihadapi Satuan Polisi Pamong Praja dalam menertibkan pedagang kaki lima di wilayah Kecamatan Klojen Kota Malang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif, yakni dengan melakukan pengamatan, wawancara dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini adalah Kepala serta anggota Satuan Polisi Pamong Praja Kota Malang dan pedagang kaki lima yang ada di jalan Pasar Besar dan di Alon-alon Kota Malang. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan (1) Satpol PP Kota Malang memiliki peranan dalam menertibkan PKL yaitu memberi peringatan secara lisan dan memberi surat peringatan kepada PKL yang berjualan ditempat yang melanggar Perda Kota Malang. Apabila PKL tidak mematuhi peringatan dari Satpol PP maka akan dilaksanakan operasi PKL, yang selanjutnya para PKL yang terjaring operaasi akan dilaksanakan penyidikan selanjutnya apabila terbukti bersalah maka akan dikenai penindakan dengan tipiring (tindak pidana ringan). Peranan Satpol PP sangat penting mengenai bagaimana menertibkan PKl ilegal tersebut untuk tidak berjualan lagi di tempat-tempat yang dilarang sesuai dengan peraturan yang ada., (2) Kendala-kendala yang dihadapi oleh Satpol PP yaitu, kondisi lapangan, maksudnya PKL berada dijalur keramaian sehingga dapat menyebabkan kemacetan, Keselamatan anggota artinya Kalau sampai menangkap PKL yang melanggar yang dipertimbangkan adalah keselamatan anggota, disaat ada operasi mereka lari, namun setalah anggota selesai operasi mereka balik jualan lagi di jalan dan Para PKL yang telah melanggar Perda merasa keberatan bahwa mereka diajukan ke sidang tipiring, (3) Upaya untuk mengatasi kendala tersebut adalah pada saat-saat tertentu Satpol PP melakukan koordinasi dengan Polisi dan Dinas Perhubungan untuk melancarkan arus lalu lintas, mencoba memakai pola-pola penertiban non represif yaitu dengan memberikan arahan dan peringatan.Apabila arahan dan perringatan sudah dilakukan berkali-kali dan tidak taati maka selanjutnya dilakukan tindakan represif serta Memberikan penjelasan secara mendalam kepada para PKL tentang peraturan daerah terkait dengan keberadaan mereka dilapangan
Implementasi Pemasaran pada Matakuliah Manajemen Usaha Boga (MUB) Catering Mahasiswa D3 Tata Boga Universitas Negeri Malang Angkatan 2009
ABSTRAK Susilo, Helena. 2012. Implementasi Pemasaran pada Matakuliah Manajemen Usaha Boga (MUB) Catering Mahasiswa D3 Tata Boga Universitas Negeri Malang Angkatan 2009. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri Tata Boga, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Nunung Nurjanah, M.Kes. (II) Ir. Ummi Rohajatien, M.P. Kata kunci: implementasi, pemasaran, MUB Catering Penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui implementasi pemasaran pada matakuliah MUB catering mahasiswa D3 Tata Boga Universitas Negeri Malang Angkatan 2009. Objek penelitian ini menggunakan sampel total karena jumlah populasi kurang dari 100 yaitu mahasiswa D3 Tata Boga yang telah dan sedang melaksanakan MUB Catering sejumlah 22 orang.Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif persentase (%). Berdasarkan hasil penelitian diketahui analisis pasar dilaksanakan oleh sebagian besar responden (82%) dengan cara menentukan pasar sasaran (55%). Lebih dari setengah responden (68%) menyatakan konsumen sasaran catering adalah mahasiswa dengan pertimbangan keberadaan relasi (64%). Semua responden (100%) memiliki pesaing. Kekuatan pesaing catering adalah harga yang lebih murah (55%) sedangkan keunggulan produk catering dibandingkan dengan pesaing adalah kualitas produk yang baik (64%). Produk yang direncanakan semua mahasiwa (100%) adalah menu paket harian dengan pertimbangan karakteristik konsumen sasaran (68%). Kemasan yang digunakan untuk produk catering adalah kertas bungkus berstempel catering (55%). Pemberian nama produk catering berdasarkan hasil modifikasi (73%). Lebih dari setengah responden (59%) memberikan jaminan terhadap produk catering mereka. Harga produk catering ditetapkan berdasarkan biaya yaitu analisis BEP dan Laba sasaran (59%). Sebagian besar responden (82%) menetapkan harga produk berdasarkan nilai/kualitas produk dan kurang dari setengah responden (36%) menetapkan harga produk berdasarkan persaingan yaitu lebih rendah dari harga di pasar. Jenis promosi yang direncanakan oleh lebih dari setengah responden (64%) menggunakan publisitas dengan pertimbangan karakteristik konsumen sasaran (68%). Alat promosi yang direncanakan sebagian besar responden (86%) adalah brosur dengan pertimbangan biaya (50%) dan cara penyebarannya dengan memberikan langsung kepada konsumen sasaran (91%). Cara pendistribusian (delivery) produk dilakukan oleh sebagian besar responden (91%) menggunakan sepeda motor untuk mengantarkan langsung kepada konsumen dengan pertimbangan jumlah pesanan (55%). Evaluasi dilakukan oleh sebagian besar responden (91%) minimal satu kali dengan cara penyebaran angket (59%). Target hari (50%) serta target penjualan (55%) tidak dapat tercapai. Saran yang dapat diberikan antara lain sebaiknya pengelolaan usaha catering dilakukan dengan pembagian ke dalam kelompok besar dengan nama yang tidak berubah-ubah. Selain itu dapat disarankan untuk meneliti tentang implementasi pemasaran catering yang dilakukan usaha catering lain yang sejenis untuk dijadikan perbandingan dan masukan bagi pengelolaan usaha catering pada matakuliah MUB catering
KAJIAN IMPLEMENTASI SCHOOL EMPOWERING PROGRAME BIDANG KEAHLIAN TATA BOGA DI SMA ISLAM KEPANJEN MALANG
ABSTRAKAmanah, Imroatul. 2012. Kajian Implementasi School Empowering Programe Bidang Keahlian Tata Boga di SMA Islam Kepanjen. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri Program Studi Pendidikan Tata Boga, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Dwi Agus Sudjimat, ST, M.Pd, (II) Ir. Budi Wibowotomo, M.Si.Kata Kunci: Implementasi, school empowering programe, Tata Boga, SMAI, KepanjenSchool Empowering Programe dilakukan sebagai usaha untuk memberikan pembekalan kepada siswa, dengan tujuan agar lulusan nantinya memiliki keterampilan khusus setingkat Sekolah Menengah Kejuruan dan dapat membekali siswa sesuai dengan bakat yang dimiliki. Penelitian ini bertujuan untuk menggali dan mengidentifikasi serta mendeskripsikan tentang kajian implementasi school empowering programe Bidang Keahlian Tata Boga di SMA Islam Kepanjen. Rancangan penelitian adalah studi kasus. Data dikumpulkan dengan cara: (1) wawancara sebagai sumber data meliputi: Kepala Bagian School Empowering Programe, Staff Kepala Bagian School Empowering Programe di SMA Islam Kepanjen, Pemateri dari Universitas Negeri Malang, dan penguji dari Universitas Negeri Malang, (2) observasi dan sumber data meliputi: kegiatan pembelajaran tata boga di kelas dan pembelajaran tata boga di laboratorium, dan (3) dokumentasi serta sumber data berupa dokumen RPP, Silabus, foto kegitan pembelajaran di kelas teori, foto kegiatan pembelajaran di laboratorium, dan dokumen-dokumen yang terkait dengan school empowering programe berupa: hasil pendapat dari informan, proses pembelajaran, daftar materi yang di pelajari oleh siswa, dan salah satu foto copy dari contoh sertifikat uji kompetensi dari Universitas Negeri Malang. Proses analisis yang digunakan yaitu reduksi data, display data (penyajian data), dan penarikan kesimpulan. Perencanaan Perencanaan pembelajaran School Empowering Programe Bidang Keahlian Tata Boga di SMA Islam Kepanjen dibuat pada awal tahun pembelajaran dalam bentuk perangkat pembelajaran meliputi: 1) RPP, 2) Silabus yang dibuat oleh guru. Pembelajaran School Empowering Programe Bidang Keahlian Tata Boga di SMA Islam Kepanjen, dilakukan dalam bentuk pelaksanaan pembelajaran di kelas dan laboratorium.Pelaksanaan pembelajarannya dikelas dan dilaboratorium meliputi: materi yang diajarkan sebelum memulai pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran dan media pembelajaran yang sesuai dengan materi. Kecakapan pemateri dalam penggunaan metode dan media pembelajaran memperoleh tanggapan baik dari siswa yang mengikuti tata boga.Evaluasi dalam School Empowering Programe Bidang Keahlian Tata Boga di SMA Islam Kepanjen terdiri dari evaluasi siswa, pemateri dan penyelenggara. Evaluasi peserta ditujukan untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, dan sikap dari siswa selama mengikuti pembelajaran. Evaluasi pemateri, dilakukan untuk menilai performa pemateri dalam mengajar. Evaluasi penyelenggara, digunakan sebagai pertimbangan pengembangan penyelenggaraan School Empowering Programe Bidang Keahlian Tata Boga. Kendala implementasi School Empowering Programe di SMA Islam Kepanjen (a) terbatanya fasilitas alat yang dibutuhkan, (b) terbatasnya waktu pembelajaran, dan (c) kegiatan yang tidak setiap hari.Saran yang diberikan adalah hendaknya kepala sekolah dan kepala bagian School Empowering Programe disarankan mengevaluasi dan adanya perbaikan bagi School Empowering Programe di SMA Islam Kepanjen sebagai penyelenggara untuk lebih meningkatkan kualitas penyelenggaraan berikutnya. Kepada ketua jurusan teknologi industri di Universitas Negeri Malang disarankan agar hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan evalusi kedepannya, mengingat hampir dua tahun belum ada evaluasi serta dan tambahan bahan kajian terkait dengan pengembangan sekolah di bidang tata boga. Bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk melakukkan pengembangan bahan ajar (modul) dalam proses pembelajaran School Empowering Programe di SMA Islam Kepanjen, karena modul tata boga jilid 1 dan jilid 2 masih kurang sempurna. Hal ini terlihat tidak adanya standar isi, daftar isi, peta kedudukan modul, glosarium, pendahuluan (deskripsi umum, prasyarat, tujuan, petunjuk penggunaan modul), kegiatan belajar (materi, latihan soal, instrumen penilaian, dan kunci jawaban).ABSTRAKAmanah, Imroatul. 2012. Review of the Implementation of School Empowerment Culinary Xpertise Programe in Islamic High School Kepanjen. Thesis, Culinery Education Program, Industry Tecnology Departement, Faculty of Engenering. State University of Malang. Advidsor: (I) Dr. H. Dwi Agus Sudjimat, ST, M.Pd, (II) Ir. Budi Wibowotomo, M.Si.Kata Kunci: Implementation, school empowering programe, Tata Boga, SMAI, KepanjenEmpowering School Programme in an attempt to provide supplies to students, with the aim that graduates will have a special skill-level and Vocational School can equip students with the appropriate talents. This study aims to explore,identify and describe the implementation of empowerment programe school culinary expertise Islamic Senior High School,Kepanjen. The study design is a case study was done to: (1) interviews as sources of data include: Head of Empowering School Programme, Head of School Staff the school of Islamic Empowering Programme in Kepanjen, presenters from the State University of Malang, and examiners from the State University of Malang, (2) observation and source file on: learning activities in class cookery and culinary learning in the laboratory, (3) documentation and data sources include documents lesson plans, syllabus, classroom activity of photo theory, photo lab learning activities, and documents related to the empowering school programe form: the opinion of the informant, the learning process, a list of the studied material by students, and one photo copy certificate of competency samples test from the State University of Malang. The process of analysis were done by data reduction, display file (presentation data), and inferences.Empowering to Learning School Planning Expertise Programme Catering at Islamic Senior High School Kepanjen made in the early years of learning in the form of learning tools include: 1) RPP, 2) syllabus made by the teacher. Empowering School Learning Programme in the field of expertise Catering Kepanjen Islamic Senior High School, performed in the form of implementation of learning in the classroom and laboratory.Classroom and laboratory learning implementation include: the material is taught before the start of learning by using teaching methods and instructional media appropriate to the material. Speaker proficiency in the use of learning methods and media get a good response from students in the culinary.Evaluation Empowering School Programme in the field of culinary skills in Islamic High School Kepanjen consists evaluation of students, presenters and organizers. Evaluation of the participants intended to measure knowledge, skills, and attitudes of students during lessons. Speaker evaluation, carried out to assess performance of presenters in teaching. Evaluation of the organizers, is used as a consideration of the development organization of the Empowering School Programme culinary expertise.Empowering School Programme implementation constraints in Kepanjen Islamic Senior High School;(a) terbatanya facilities needed tool, (b) limited learning time, and (c) activities that are not every day.Advice should be given is the principal and head of the School are advised to evaluate and Empowering Programme for improvement in high school Empowering School Programme as providers to further improve the quality of the next administration.. The chairman of the department of industrial technology at the State University of Malang is suggested that these results can be used as an evaluation of materials in the future, given the almost two years and no evaluation additional and study materials related to development in the field of culinary school
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERSEPSI SISWA TERHADAP PENGGUNAAN MEDIA INTERNET SEBAGAI SUMBER BELAJAR DI JURUSAN TATA BUSANA SMK NEGERI 1 BATU
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi siswa terhadap penggunaan media internet sebagai sumber belajar siswa kelas X program keahlian Tata Busana di SMKN 1 Batu.Hasil penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi siswa terhadap penggunaan media internet sebagai sumber belajar di jurusan tata busana SMK Negeri 1 Batu dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Persepsi dipengaruhi oleh faktor fungsional dan faktor struktural. faktor fungsional adalah faktor-faktor dalam diri individu yang mengadakan persepsi. Seperti kebutuhan, suasana emosional, kebudayaan, perhatian, pengalaman. Sedangkan faktor struktural yaitu ketika seseorang mempersepsinya sebagai suatu keseluruhan. (2) Dilihat dari faktor pengalaman, gambaran persepsi siswa dalam penggunaan internet sebagai sumber belajar menunjukkan bahwa internet hanya digunakan sebagai sumber belajar yang dimanfaatkan (by utilization) dan tidak digunakan sebagai sumber belajar yang dirancang (by design) yang dipakai dalam pembelajaran formal disekolah. (3) Sedangkan bila dilihat dari faktor kebutuhan, kesadaran siswa akan kebutuhan informasi yang dapat diperoleh dengan cepat dan mudah melalui media internet masih tergolong kurang, karena kebanyakan masih terpaku dengan pembelajaran secara konvensional yaitu hanya mengikuti pembelajaran dikelas dan membaca buku ataupun hanya menerima penjelasan dari guru saja.(4) Hasil analisis dilihat dari faktor struktural menunjukkan bahwa siswa kurang bisa memanfaatkan media internet dengan baik. Siswa lebih sering menggunakan internet sebagai ajang pertemanan dan hiburan dari pada memanfaatkannya sebagai sumber belajar, padahal internet adalah sebuah media yang bersifat interaktif karena media ini terhubungkan dengan jaringan global dunia yang jangkauannya tidak terbata
Pengaruh Minat Berwirausaha Terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran Kewirausahaan Program Studi Keahlian Jasa Boga SMKN 1 Batu
ABSTRAK Octaviana, Maulida. 2012. Pengaruh Minat Berwirausaha Terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran Kewirausahaan Program Studi Keahlian Jasa Boga SMKN 1 Batu. Skripsi. Program Studi Pendidikan Tata Boga. Jurusan Teknologi Industri. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Dra. Mazarina Devi, M.Si (II) Dra Teti Setiawati, M. Pd. Kata Kunci: minat, hasil belajar, wirausaha. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif korelasional yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh minat berwirausaha terhadap hasil belajar mata pelajaran kewirausahaan. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII Jasa Boga tahun ajaran 2011/2012 SMKN 1 Batu yang sudah menempuh mata pelajaran kewirausahaan selama 5 semester terhitung dari kelas X sampai XII . Jumlah siswa yang dijadikan subjek penelitian adalah 46 orang. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah dokumentasi dan angket. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis statistik inferensial yang meliputi uji asumsi klasik dan uji hipotesis dengan teknik regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minat berwirausaha siswa kelas XII Jasa Boga tahun ajaran 2011/2012 SMKN 1 Batu sebesar 52,2%, hasil belajar mata pelajaran kewirausahaan siswa kelas XII Jasa Boga tahun ajaran 2011/2012 SMKN 1 Batu sebesar 45,7% , dan minat berwirausaha mempunyai kontribusi yang signifikan terhadap hasil belajar mata pelajaran kewirausahaan siswa kelas XII Jasa Boga angkatan tahun 2011/2012 SMKN 1 Batu dengan R square sebesar 0,134. Hal ini berarti minat berwirausaha mempengaruhi hasil belajar mata pelajaran kewirausahaan dengan variasi sebesar 13,4%. Saran dari penelitian ini untuk peneliti selanjutnya agar melakukan penelitian pada variabel yang lain, untuk pengajar sebaiknya memupuk minat berwirausaha dalam diri siswa, dan untuk siswa sebaiknya menumbuhkan minat berwirausaha dalam dirinya agar memperoleh hasil belajar mata pelajaran kewirausahaan yang maksimal
Kajian Metode Pembelajaran Role Playing terhadap Kemampuan Praktik dan Teori American Service (Studi Kasus Pada Mata Pelajaran Pelayanan Makan dan Minum di SMK Kartika IV-1 Malang)
ABSTRAK Mata Pelajaran Pelayanan Makan dan Minum untuk Kompetensi Dasar (KD) menyediakan layanan makanan dan minuman di restaurant, jenis layanan makan dan minum yang dipraktikan oleh siswa kelas X Jasa Boga di SMK Kartika IV-1 Malang adalah American service. Kompetensi yang diharapkan atas kegiatan belajar mengajar tersebut yaitu a) siswa dapat terampil melayani atau menyediakan layanan makan dan minum; b) siswa dapat berkomunikasi dengan baik dan benar kepada para tamu; c) serta siswa dapat memberi kepuasan kepada pelanggan melalui pelayanan makan dan minum. Untuk mewujudkan kompetensi tersebut diperlukan metode pembelajaran yang aktif dan mandiri. Namun terdapat kelemahan metode pembelajaran yang selama ini digunakan untuk mata pelajaran pelayanan makan dan minum khususnya American service. Maka digunakan metode pembelajaran role playing yaitu metode pembelajaran bermain peran. Peran tersebut yaitu menjadi tamu restaurant dan waiter atau waiters. Jenis penelitian ini yaitu quasi eksperimen sederhana, dengan rancangan eksperimen sederhana penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan kemampuan praktik dan teori American service sebelum dan sesudah menggunakan metode pembelajaran role playing, kemudian dianalisis perbedaan kemampuan praktik dan teori American service sebelum dan sesudah menggunakan metode pembelajaran role playing. Sampel penelitian menetapkan (purposive sample) adalah siswa kelas X dengan jumlah 39 siswa. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa pedoman observasi dan kusioner. Teknik Analisis data yang digunakan yaitu teknik analisis deskriptif dan dilanjutkan dengan analisis uji t dengan satu sampel. Dari hasil penelitian diketahui bahwa (1) Sebelum menggunakan metode pembelajaran role playing nilai rata-rata pada kemampuan praktik American service 72,45 dengan kriteria cukup. Pada kemampuan teori American service nilai rata-rata adalah 69,15 dengan kriteria angka cukup. (2) Sesudah menggunakan metode pembelajaran role playing nilai rata-rata pada kemampuan praktik American service meningkat menjadi 81,08 dengan kriteria angka baik. Pada kemampuan teori American service nilai meningkat menjadi 81,51 dengan kriteria angka baik. (3) Hasil uji t satu sampel menunjukan perbedaan hasil yang signifikan yaitu nilai rata-rata praktik American service sebelum metode pembelajaran role playing adalah 72,378 dengan kriteria angka cukup, kemudian nilai rata-rata praktik American service meningkat menjadi 81,086 dengan kriteria angka baik. Nilai rata-rata teori American service sebelum menggunakan metode pembelajaran role playing adalah 69,153 dengan kriteria angka cukup kemudian meningkat menjadi 81,512 dengan kriteria angka baik. Kata Kunci: Kajian, role playing, teori, praktik, American service
Pengaruh Penerapan Pendekatan Kooperatif Terhadap Kemenarikan, Kemudahan dan peningkatan motivasi Belajar Siswa Jasa Boga SMK Negeri 7 Malang
ABSTRAK Pembelajaran yang selama ini digunakan dalam mata pelajaran Melakukan Komunikasi pelayanan dan jasa di SMK N 7 Malang terdiri dari: ceramah, latihan dan demonstrasi, penyelesaian masalah oleh pengajar. Pendekatan pembelajaran tersebut disebut dengan pembelajaran konvensional yang berpusat pada guru, untuk itu di perlukan pembelajaran yang berpusat pada siswa, yang akan mengarahkan siswa melibatkan diri secara aktif didalam aktifitas pembelajaran. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan metode pembelajaran kooperatif dengan menggunakan model TSTS(Two stay Two Stray) dan TGT (Teams Games Tournament) sebagi model Pembelajaran yang berpengaruh terhadap kemenarikan, kemudahan, dan peningkatan motivasi belajar pada mata pelajaran Komunikasi Pelayanan dan jasa sebagai penelitian eksperimen semu. Permasalahan dalam penelitian ini adalah menentukan perbedaan kemenarikan, kemudahan, dan peningkatan motivasi belajar, yaitu untuk membandingkan antara Pendekatan kooperatif model TSTS(Two Sstay Two Stray) dan TGT (Teams Games Tournament), mana yang lebih baik. Berdasarkan penelitian dan hasil temuan pada pembahasan, maka (1) dalam hal kemenarikan terdapat pengaruh perbedaan, yaitu siswa lebih tertarik diajar menggunakan model TGT dibandingkan dengan model TSTS, (2) dalam hal kemudahan terdapat pengaruh perbedaan yaitu, siswa yang diajar dengan menggunakan model TGT lebih mudah dalam memahami materi pelajaran didalam kelas dibandingkan diajar dengan menggunakan model TSTS, (3) dalam hal memotivasi belajar terdapat pengaruh perbedaan, yaitu siswa yang diajar dengan menggunakan model TGT lebih termotivasi dalam mengukuti pembelajaran didalam kelas, dibandingkan diajar dengan menggunakan model TSTS Kata kunci: Kooperatif, Kemenarikan, Kemudahan, Motivasi belajar
Studi Tentang Tingkat Kenyamanan Kebaya Menggunakan Pola Victory Collection
ABSTRAK Duarni, Suci. 2012. Studi tentang Tingkat Kenyamanan Kebaya Menggunakan Pola Victory Collection. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Nurul Aini, M. Pd, (2) Dra. Agus Hery Supadmi Irianti, M. Pd Kata Kunci: pola, kebaya, victory collection, kenyamanan. Busana adalah kebutuhan utama disamping kebutuhan lainnya. Busana banyak mengalami perkembangan dari masa ke masa. Mulai dari bahan dasar yang digunakan, model, fungsi, serta teknik pembuatannya semua mengalami perkembangan. Dalam dunia mode busana wanita lebih banyak dibicarakan, salah satunya ialah kebaya. Kebaya adalah salah satu busana daerah yang dipakai oleh wanita dan sekarang menjadi busana nasional. Kebaya menjadi pilihan wanita dalam memenuhi kebutuhan berpakaian saat acara-acara tertentu seperti saat pesta pernikahan, wisuda, serta acara lain yang diangap istimewa. Kebaya memiliki ciri-ciri pas di badan, dengan lengan panjang, panjangnya dapat pas panggul, di atas panggul (kebaya pendek) atau di bawah panggul (kebaya panjang). Meskipun memiliki ciri pas badan namun kebaya haruslah nyaman ketika dikenakan. Salah satu yang mempengaruhi kenyamanan tersebut adalah pola yang dipakai dalam membuat kebaya. Pola Victory Collection adalah salah satu pola yang digunakan untuk membuat kebaya. Pola ini adalah pola yang diciptakan oleh pemilik usaha dengan memodifikasi pola So’En asli. Penelitian ini penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui besarnya persentase tingkat kenyamanan kebaya yang dibuat menggunakan pola Victory Collection. Kebaya ini dipaskan pada tubuh model dengan ukuran M (SNI) dengan menggunakan lembar pengamatan yang berisikan instrumen penelitian dengan 14 kriteria titik pas yang diisi oleh 6 panelis. Dari hasi pengamatan kebaya yang menggunakan pola Victory Collection di dapat hasil penilaian dengan kriteria tepat memperoleh persentase sebesar 65,48%, kriteria kurang tepat sebesar 33,33%, dan kriteria tidak tepat sebesar 1,19%. Rata-rata keseluruhan penilaian titik pas sebesar 88,09% yang termasuk dalam rentang kelas interval dengan kategori nyaman
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI SISWA TENTANG KEAMANAN MAKANAN JAJANAN DENGAN KEBIASAAN MEMBELI JAJANAN DI LINGKUNGAN SEKOLAH
ABSTRAK Sari, Yanti Senja. 2012. Hubungan antara Persepsi Siswa tentang Keamanan Makanan Jajanan dengan Kebiasaan Membeli Jajanan di Lingkungan Sekolah (Studi di Lakukan pada SMP Negeri se-Kota Malang). Skripsi, Program Studi Pendidikan Tata Boga Jurusan Teknologi Industri Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Teti Setiawati, M. Pd, (2) Ir. Ummi Rohajatien, M.P,. Kata kunci: persepsi, keamanan, makanan jajanan, dan kebiasaan. Jajanan (snack) merupakan makanan kudapan yang paling disukai oleh anak-anak usia sekolah. Faktanya dari segi keamanan makanan masih diragukan, karena penelitian di lapangan menunjukkan bahwa dari produk makanan jajanan yang diperiksa ditemukan sekitar 9,08%–10,23% makanan jajanan yang tidak memenuhi persyaratan. Sejumlah produk makanan yang diperiksa tercatat yang tidak memenuhi persyaratan bahan makanan adalah sekitar 7,82%–8,75%. Pengujian pada minuman jajanan anak sekolah di 27 propinsi ditemukan hanya sekitar 18,2% contoh yang memenuhi persyaratan penggunaan BTM, terutama untuk zat pewarna, pengawet dan pemanis yang digunakan sebanyak 25,5% contoh minuman mengandung sakarin dan 70,6% mengandung siklamat. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan (1) persepsi siswa tentang keamanan makanan jajanan, (2) kebiasaan membeli jajanan di lingkungan sekolah, (3) hubungan antara persepsi siswa tentang keamanan makanan jajanan dengan kebiasaan membeli jajanan di lingkungan sekolah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif korelasi, dengan menggunakan pendekatan kuantitatif yaitu penelitian yang menguji ada tidaknya hubungan antara variabel bebas terhadap variabel terikat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi siswa tentang keamanan makanan jajanan termasuk tinggi dan kebiasaan siswa membeli jajanan di lingkungan sekolah termasuk kadang-kadang. Hubungan antara persepsi siswa tentang keamanan makanan jajanan dengan kebiasaan membeli jajanan di lingkungan sekolah adalah negatif, yaitu semakin tinggi nilai persepsi maka kebiasaan jajan akan semakin rendah. Siswa diharapkan selalu selektif dalam memilih jajanan yang aman. Pihak sekolah diharapkan ikut berpartisipasi aktif dalam menyeleksi para pedagang kaki lima, misalnya dengan melarang pedagang berjualan pada jam-jam tertentu atau dengan menutup pagar sekolah selama jam pelajaran berlangsung atau sampai jam pelajaran berakhir