SKRIPSI Jurusan Tata Busana - Fakultas Teknik UM
SKRIPSI Jurusan Tata Busana - Fakultas Teknik UMNot a member yet
632 research outputs found
Sort by
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN SIKLUS DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA YANG SESUAI UNTUK MENINGKATKAN PROSES DAN HASIL BELAJAR KOMPETENSI MEMBUAT HIASAN PADA BUSANA DI SMKN 5 MALANG
ABSTRAK Erni Budiarti.2012. Penerapan Model Pembelajaran Siklus Dengan Menggunakan Media Yang Sesuai Untuk Meningkatkan Proses Dan Hasil Belajar Kompetensi Membuat Hiasan Pada Busana Di SMKN 5 Malang. Skripsi. Program Studi S1 Pendidikan Tata Busana. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Hapsari Kusumawardani, M.Pd, Pembimbing (II) Dra. Dwi Astuti SA, M.Kes. Kata Kunci : Siklus Belajar (Learning Cycle), Media yang sesuai, Proses dan hasil belajar Kompetensi Membuat Hiasan Pada Busana. Guru merupakan kunci kesuksesan dari proses dan hasil pembelajaran yang berlangsung dalam pelaksanaan KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) di dalam kelas. Guru seharusnya juga merupakan sosok yang patut dicontoh dan ditiru dalam segala tindakan dan dari aplikasi ilmu yang diberikan kepada peserta didik di sekolah.Seorang guru harus mampu mengetahui tentang ilmu yang disampaikan kepada peserta didik dengan benar. Seorang guru juga harus dapat mengambil tindakan apabila ada masalah dalam proses pembelajaran yang disampaikannya demi untuk meningkatkan proses dan hasil belajar peserta didik. Hal tersebut diatas maka guru harus profesional dalam menjalankan profesinya sebagai pendidik. Salah satu kegiatan keprofesionalan guru adalah dengan menerapkan PTK (Penelitian Tindakan Kelas) untuk menyelesaikan kekurangan atau adanya masalah pada proses pembelajaran dan hasil belajar yang tidak sesuai dengan harapan guru. Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan peneliti pada pembelajaran Kompetensi Membuat Hiasan Pada Busana di SMKN 5 Malang, diketahui bahwa proses dan hasil belajar Kompetensi Membuat Hiasan Busana belum sesuai harapan guru yaitu nilai siswa tidak hanya pada batas KKm. Pada proses pembelajaran peserta didik tidak tuntas sesuai SK (Standar Kompetensi) yang ada pada silabus dan hasil belajar peserta didik hanya pada batas KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yaitu 7,78. Berdasarkan masalah yang ada pada proses pembelajaran tersebut sebagai seorang guru, peneliti mencoba menerapkan model pembelajaran siklus (Learning Cycle) untuk meningkatkan proses dan hasil belajar Kompetensi Membuat Hiasan Busana. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan pembelajaran model Siklus Belajar (Learning Cycle) dengan menggunakan media yang sesuai yaitu media gambar-gambar, media fragmen dan media benda jadi untuk meningkatkan proses dan hasil belajar Kompetensi Membuat Hiasan Pada Busana Di SMKN 5 Malang Tahun Ajaran 2012-2013. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif, karena peneliti lebih banyak mengumpulkan data baik dalam bentuk data kualitatif maupun data kuantitatif. Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian tindakan kelas (PTK), dengan subyek siswa kelas II semester III di SMKN 5 Malang. Teknik pengumpulan data yang dilakukan peneliti adalah: (1). Observasi, digunakan untuk mengamati aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran berlangsung, (2). Catatan lapangan, digunakan untuk melengkapi data yang tidak terekam dalam lembar observasi, (3). Hasil tes praktik, untuk mengetahui hasil belajar praktik pada akhir siklus belajar siswa, (4). Hasil tes tulis, untuk mengetahui hasil belajar teori pada akhir siklus belajar siswa. Data dalam penelitian ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif dianalisis menggunakan teknik analisis data yang terdiri dari mereduksi data, menyajikan data dan penarikan kesimpulan. Data kuantitatif dianalisis dengan mencari nilai rata-rata dan presentasenya. Hasil penilaian pada siklus I, antara lain adalah : (1). Presentase keberhasilan observasi kegiatan siswa mencapai 75,7%. (2). Presentase keberhasilan observasi pengelolaan pembelajaran guru mencapai 81,3%. (3). Presentase keberhasilan hasil tes praktik siswa mencapai 36,7%. (4). Presentase keberhasilan hasil tes teori siswa mencapai 63,3%. Hasil data tersebut diketahui bahwa pelaksanaan tindakan siklus I masih belum memenuhi hasil yang diharapkan. Hasil penilaian pada siklus II, antara lain adalah (1). Presentase keberhasilan observasi kegiatan siswa mencapai 87,5%. (2). Presentase keberhasilan observasi pengelolaan pembelajaran guru mencapai 92,4%. (3). Presentase keberhasilan hasil tes praktik siswa mencapai 70%. (4). Presentase keberhasilan hasil tes teori siswa mencapai 80%. Hasil data tersebut diketahui bahwa pelaksanaan tindakan siklus II lebih baik dan ada peningkatan dari siklus I tetapi masih perlu ditingkatkan lagi pada siklus III sebagai akhir siklus. Hasil penilaian pada siklus III, antara lain adalah (1). Presentase keberhasilan observasi kegiatan siswa mencapai 93%. (2).Presentase keberhasilan observasi pengelolaan pembelajaran guru mencapai 95,4%. (3). Presentase keberhasilan hasil tes praktik siswa mencapai 90%. (4). Presentase keberhasilan hasil tes teori siswa mencapai 100%. Hal tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan tindakan siklus III sangat baik dan semakin menujukkan peningkatan yang lebih besar dari pada siklus I dan II namun demikian guru harus selalu mengembangkan model pembelajaran untuk meningkatkan proses, hasil belajar dan belajar yang semakin baik lagi. Dengan demikian maka menunjukkan bahwa “Penerapan Model Pembelajaran Siklus Dengan Menggunakan Media Yang Sesuai Untuk Meningkatkan Proses Dan Hasil Belajar Kompetensi Membuat Hiasan Pada Busana Di SMKN 5 Malang” dapat berhasil untuk meningkatkan proses dan hasil belajar siswa kelas XI semester III tahun ajaran 2012-2013
Pengembangan Media Pembelajaran dengan Menggunakan Web Site pada Materi Pembuatan Pecah Pola Busana Two piece
ABSTRAK Krisnawati, Afifah Khairunisa. 2012. Pengembangan Media Pembelajaran dengan Menggunakan Web Site pada Materi Pembuatan Pecah Pola Busana Two Piece. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Agus Hery Supadmi I, M.Pd., (II) Anik Dwiastuti, S.T., M.T. Kata Kunci : pengembangan, media pembelajaran, pecah pola two piece Suatu proses pembelajaran tidak lepas dari pemanfaatan media, media digunakan sebagai penghubung dalam penyampaian suatu materi pembelajaran, karena pembelajaran tanpa penggunaan media, menghasilkan suatu proses pembelajaran yang kurang optimal. Media pembelajaran yang selama ini digunakan untuk mata kuliah Teknik Pembuatan Busana Wanita, di Jurusan Tata Busana Universitas Negeri Malang masih bersifat konvensional, hal ini dirasa kurang efektif karena daya kemampuan mahasiswa dalam memahami dan menemrima materi berbeda-beda. Tujuan dari penelitian pengembangan ini adalah untuk menghasilkan media pembelajaran dengan menggunakan web site pada materi pembuatan pecah pola busana two piece yang tervalidasi deskripsi isi dan media pembelajaran untuk mahasiswa Program Tata Busana Universitas Negeri Malang sebagai penunjang pembelajaran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian pengembangan dengan menggunakan model prosedural, yang diadaptasi dari model penelitian pengembangan menurut Borg dan Gall yang terdiri dari 10 prosedur yaitu (1) research and information collection; (2) planning; (3) develop premliminary from of product; (4) preliminary fild testing; (5) main product revision; (6) main field testing; (7) operational product revision; (8) operational field testing; (9) final product revision; (10) dissemination and implementation, dari 10 langkah ini tidak semua peneliti lakukan, karena peneliti masih peneliti pemula, sehingga peneliti hanya melakukan prosedur 1 sampai prosedur 5 yaitu main product .Validasi produk dilakukan dengan melibatkan ahli media dan ahli materi. Uji kelompok kecil dilakukan kepada mahasiswa Tata Busana angkatan 2011 Universitas Negeri Malang. Data yang diperoleh pada penelitian ini adalah data kuantitatif berupa presentase, dan data kualitatif berupa tanggapan yang berisi komentar maupun saran, dengan menggunakan teknik analisis data deskriptif. Hasil validasi media pembelajaran dari ahli media memberikan saran dan masukan yaitu (1) software diunggah ke web server;(2) media dilengkapi dengan petunjuk penggunaan, dari hasil presentase dengan kriteria penilaian efektifitas 95,8%, kemenarikan 95%, dan efisiensi 81,3% maka hasil presentase keseluruhan dari ahli media adalah 91,7% (sangat baik); ahli materi memberikan saran dan masukan yaitu (1) desain dibuat lebih proposional; (2) penambahan tombol (play,pause, undo); (3) keterangan gambar pada waktu pola dasar dijiplak disertakan; (4) memunculkan pecah pola tanpa garis bantu, dari hasil keseluruhan ii aspek hasil presentase adalah 83,3% (baik). Berdasarkan hasil dari validasi media dan validasi materi maka produk media pembelajaran pada materi pecah pola two piece dalam bentuk animasi dengan menggunakan program macromedia flashplayer direvisi kemudian diunggah ke web site. Setelah revisi selesai produk media pembelajaran ini kemudian di uji coba kelompok kecil. Hasil dari uji coba kelompok kecil didaptkan saran dan masukan yaitu (1) tampilan dibuat lebih menari; (2) penambahan instrumen musik; (3) terdapat beberapa garis yang belum keluar dan belum tepat; (4) diberikan penjelasan pada saat pola dipecah sesuai dengan komponennya, dari hasil presentase keseluruha adalah 81,5% (baik). Kelebihan media pembelajaran ini adalah: (a) dapat dibuka sewaktu-waktu selama ada perangkat komputer/laptop dengan jaringan internet; (b) meningkatkan motivasi dan perhatian mahasiswa untuk belajar; (c) melatih mahasiswa untuk mengenal dan memanfaatkan media pembelajaran yang menggunakan Hi-tech; (d) hasil dari validasi ahli media, ahli materi, dosen dan mahasiswa media pembelajaran ini memiliki tingkat kelayakan tinggi; (e) media ini juga dapat digunakan belajar untuk masyarakat luas. Kekurangannya adalah dalam media ini untuk animasi belum disertai voice untuk narasinya dan materi yang di up-load masih terbatas, selain itu medi ini dalam langkah pengembangannya menurut Borg and Gall masih sampai pada langkah ke 5, yaitu main product revision
Persepsi dan Kepuasan Mahasiswa S1- Pendidikan Tata Busana 2009 Terhadap Layanan Jasa Pendidikan Dalam Mengikuti Pembelajaran Praktikum TPBI Universitas Negeri Malang
ABSTRAK Romadhani, Tri Aprilia. 2013. “Persepsi dan Kepuasan Mahasiswa S1- Pendidikan Tata Busana 2009 Terhadap Layanan Jasa Pendidikan Dalam Mengikuti Pembelajaran Praktikum TPBI Universitas Negeri Malang”. Skripsi, Program studi Pendidikan Tata Busana Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Dwi Astuti Sih Apsari, M.Kes (II) Dra. Idah Hadijah, M.Pd Kata kunci: persepsi siswa, layanan jasa pendidikan, kepuasan, pembelajaran praktikum TPBI Persepsi dan kepuasan mahasiswa terhadap layanan jasa pendidikan, khususnya pada matakuliah praktikum TPBI di Jurusan Teknologi Industri, merupakan hasil kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh mahasiswa Pendidikan Tata Busana Universitas Negeri Malang dalam mendapatkan layanan jasa pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi dan kepuasan mahasiswa S1-2009 tata busana terhadap aspek layanan jasa pendidikan pada praktikum TPBI yang terdiri dari ; (1) Keaktifan Kuliah, (2) Penilaian Tugas dan kehadiran, (3) Pokok/materi Pembelajaran, (4) Objek/Peristiwa Pembelajaran (5) Kondisi Laboratorium, (6) Jadwal Kuliah, (7) Suasana Belajar, (8) Lingkungan Ruang Belajar, (9) Kelengkapan Fasilitas PBM, (10) Kesiapan Dosen dan Laboran, (11) Ketanggapan Dosen dan Laboran, (12) Kontrak Kuliah, (13) Perilaku Dosen dan Laboran, (14) Problem Solving di jurusan Teknologi Industri. Dari populasi 49 mahasiswa, seluruhnya digunakan sebagai sample. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik instrumen berupa angket yang ditujukan pada mahasiswa. Analisis data dengan menggunakan analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Persepsi mahasiswa S1-Pendidikan Tata Busana 2009 terhadap layanan jasa pendidikan dalam mengikuti pembelajaran TPBI Universitas Negeri Malang dianggap hampir sebagian besar dari jumlah subjek penelitian (53,26%). Jadi persepsi mahasiswa terhadap layanan jasa pendidikan tersebut sudah cukup terpenuhi namun kondisi laboratorium masih belum memenuhi kebutuhan perkuliahan dengan nilai (38,10%) dan ini ditinjau dari jabaran indikator dari tiap sub variabel, (a) Keaktifan Kuliah, (b) Penilaian Tugas dan Kehadiran, (c) Pokok Materi Pembelajaran, (d) Objek/Peristiwa Pembelajaran, (e) Kondisi Laboratorium, (f) Jadwal Kuliah dan (g) Suasana Belajar. (2) Kepuasan mahasiswa dalam memperoleh layanan jasa pendidikan dalam mengikuti pembelajaran praktikum TPBI di Jurusan Teknologi Industri Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang cenderung puas (52,55%), berarti dapat disimpulkan tingkat kepuasan mahasiswa memperoleh layanan jasa pendidikan dalam mengikuti pembelajaran praktikum TPBI yang terdiri dari , (a) Ruang Belajar, (b) Layanan alat Penunjang Perkuliahan, (c) Peran Dosen dan Laboran, (d) Ketanggapan dosen dan Laboran, (e) Kesesuaian dengan Kontrak Perkuliahan, (f) Perilaku Dosen dan Laboran dan (g) Problem Solving telah memenuhi kebutuhan perkuliahan dan dianggap sebagian besar dari jumlah subjek penelitian. Namun layanan alat penunjang perkuliahan praktikum masih kurang memadai dan dirasa belum mencukupi kebutuhan dengan nilai (38.37%)
Eksplorasi Motif Tapis Lampung
ABSTRAK Miswan, Ari. 2012. Eksplorasi Motif Tapis Lampung. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Nur Endah Purwaningsih, M.Pd, (II) Dra. Esin Sintawati. Kata Kunci: Tapis, Motif Tapis Lampung merupakan merupakan provinsi yang memiliki seni tradisi Tapis yang mempunyai karakteristik tersendiri dibandingkan dengan provinsi lain. Dengan adanya penelitian tentang Tapis yang ada di Lampung maka dapat dipaparkan ciri dan makna dari Tapis Lampung. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian deskripstif dengan pendekatan kualitatif. Prosedur pengumpulan data menggunakan metode observasi (pengamatan), wawancara, dan dokumentasi. Analisis data ada tiga langkah yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data menggunakan triangulasi sumber data, teknik, dan waktu, peningkatan ketekunan dan perpanjangan pengamatan. Berdasarkan hasil penelitian peneliti di lapangan maka: (1) sejarah Tapis Lampung yang muncul pada abad II masehi masyarakat Lampung mulai mengenal kain tenun. Pada awalnya masyarakat Lampung mengenal cara menenun dengan menggunakan benang kapas, dan pewarnaanya dengan menggunakan zat pewarna alam. Perkembangan selanjutnya tenunan yang sederhana ditambah hiasan-hiasan yang tertera pada hasil tenunan suku Lampung; (2) makna dan perlambang Tapis Lampung dilukiskan dengan motif. Motif Tapis memiliki makna nilai pesan kekeluargaan, ketaatan pada Tuhan. Makna kekeluargaan terkandung pada motif pucuk rebung, makna ketaatan pada Tuhan terkandung pada motif meander. Saran yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah: (1) agar Tapis Lampung dapat dikenal masyarakat luas, Tapis Lampung didokumentasikan, disosialisasikan, dan diperkenalkan melalui kegiatan pameran; (2) sebaiknya motif Tapis dipatenkan oleh pemerintah daerah setempat, sehingga mendapat perlindungan HKI (Hak atas Kekayaan Intellektual) dan menjadi salah satu aset buadaya provinsi Lampung yang terus dilestarikan; (3) sebaiknya dalam perkembangan motif pada Tapis Lampung tetap mempertahankan makna dan nilai sakral yang terkandung didalamnya. Sedangkan untuk motif Tapis Lampung tetap mempertahankan cirri khas khusus yaitu dengan tidak menghilangkan unsur yang menjadi ciri khas motif Tapis Lampung pada perkembangan selanjutnya
KERUPUK DENGAN SUBSTITUSI TEPUNG CANGKANG KERANG HIJAU (Perna viridis) MENGGUNAKAN METODE BOILING STEAMING SEBAGAI MAKANAN YANG BERKALSIUM
ABSTRAK Fitria, Lailatul. 2012. Kerupuk dengan Subtitusi Tepung Cangkang Kerang Hijau (Perna viridis) menggunakan Metode Boiling dan Steaming sebagai Makanan Ringan yang Berkalsium. Progam Studi S1 Pendidikan Tata Boga. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Rini Sudjarwati, M. Pd. (II) Laili Hidayati, S. Pd., M. Si. Kata kunci: kerang hijau, kerupuk, tepung cangkang kerang hijau, kalsium. Kerang hijau (Perna viridis) adalah salah satu komoditas dari kelompok shellfish, yang sudah lama dikenal sebagai sumber protein hewani yang murah, kaya akan asam amino esensial (arginin, leusin, lisin). Kerupuk adalah makanan ringan yang dibuat dari adonan tepung tapioka yang dicampur bahan perasa seperti udang atau ikan. Tepung cangkang kerang hijau adalah hasil olahan cangkang kerang hijau yang diproses dengan cara perebusan dalam larutan NaOH, pengeringan, dan dibuat serbuk dengan dihancurkan dan diayak. Kalsium adalah mineral yang penting bagi manusia, antara lain bagi metabolisme tubuh, penghubung antar saraf, kerja jantung, dan pergerakan otot. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen pembuatan kerupuk dengan subtitusi tepung cangkang kerang hijau prosentase 5% dan 10% dengan metode boiling dan steaming. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sifat fisik (warna dan tekstur), kandungan kalsium, dan uji organoleptik/uji kesukaan (warna, terkstur, dan rasa). Penelis pada penelitian ini adalah panelis tidak terlatih yaitu masyarakat di Desa Tambak Rejo Pantai Sendang Biru sebanyak 25 orang. Data dianalisa menggunakan analisa ragam ANOVA dan DMRT (Duncan Multiple Range Test). Hasil sifat fisik warna kerupuk dengan subtitusi tepung cangkang kerang hijau (Perna viridis) diperoleh nilai rerata dengan warna L (kecerahan) antara 40,07 sampai dengan 36, warna a+ (kemerahan) antara 1,57 sampai dengan1,13, warna b+ (kekuningan) antara 5,23 sampai dengan 4,2. Sifat fisik tekstur nilai rerata paling tinggi pada perlakuan P3 (Metode boiling dengan penambahan tepung cangkang kerang hijau 5%) dengan nilai rerata 23,067. Kandungan kalsium nilai rerata paling tinggi terdapat pada perlakuan P4 (Metode boiling dengan penambahan tepung cangkang kerang hijau 10%) dengan nilai rerata 396,81. Tingkat kesukaan panelis terhadap warna perlakuan P2 (metode steaming dengan penambahan tepung cangkang kerang hijau 10%) adalah warna kerupuk yang paling disukai (3,64). Tingkat kesukaan panelis terhadap tekstur perlakuan P1 (metode steaming dengan penambahan tepung cangkang kerang hijau 5%) adalah tekstur kerupuk yang paling disukai oleh panelis (3,99). Tingkat kesukaan panelis terhadap rasa perlakuan P4 (metode boiling dengan penambahan tepung cangkang kerang hijau 10%) adalah rasa kerupuk yang paling disukai oleh panelis (3,27). Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah penambahan tepung cangkang kerang hijau dengan prosentase yang lebih tinggi akan mempengaruhi hasil produk yang akan dibuat
Pembuatan Media Pembelajaran Interaktif Mata Pelajaran Pengelolaan Usaha Jasa Boga di SMK Negeri 1 Batu
ABSTRAK ABSTRAK Amalia, Rizqi Dwi. 2012. Pembuatan Media Pembelajaran Interaktif MataPelajaran Pengelolaan Usaha Jasa Boga di SMK Negeri 1 Batu. Skripsi.Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang.Pembimbing (I) Dr. Amat Nyoto M.Pd, (II) Dra. Nunung Nurjanah, M.Kes. Kata kunci: pembuatan, media pembelajaran interaktif, pengelolaan usaha jasabogaMedia pembelajaran yang digunakan guru dalam mengajar saat ini lebihbersifat konvensional. Dalam pelaksanaan pembelajaran, guru lebih seringmenggunakan media ajar berupa buku, modul, papan tulis penyajian materikurang menarik untuk siswa. Oleh karena itu perlu dikembangkan mediapembelajara interaktif sehingga kelemahan dalam media ajar berbentuk cetakdapat diatasi. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan media pembelajaran yangmemiliki tingkat kemenarikan, kemudahan, keefektifan dan efisiensi yangmemadai sebagai media pembelajaran pada mata pelajaran Pengelolaan UsahaJasa Boga di SMK Negeri 1 BatuLangkah-langkah dalam pembuatan media pembelajaran interaktif, yakni(1) analisis kebutuhan, (2) rancangan media pembelajaran, (3) membuat mediapembelajaran, (4) uji kelayakan, (5) revisi produk, (6) uji coba produk, (7) produkakhir. Validasi media pembelajaran interaktif dilakukan pada ahli materi, ahlimedia dan ahli bahasa. Uji coba perorangan dilakukan kepada siswa kelas XII jasaboga di SMK Negeri 1 Batu. Jenis data pada penelitian ini adalah data deskriptifpersentase berupa skor penilaian hasil penilaian media pembelajaran interaktif.Diperoleh tingkat kemenarikan media pembelajaran interaktif dengan nilairata-rata persentase sebesar 90%, tingkat kemudahan diperoleh nilai rata-ratapersentase sebesar 83,36%, tingkat keefektifan diperoleh nilai rata-rata persentasesebesar 83,75% dan tingkat efisiensi diperoleh nilai rata-rata persentase sebesar85,4%, sehingga dapat disimpulkan bahwa pembuatan media pembelajaraninteraktif dinyatakan valid dan tidak perlu direvisi. Dari hasil persentase yang diperoleh dapat ditarik kesimpulan bahwamedia pembelajaran interaktif yang dibuat memiliki tingkat kemenarikan,kemudahan, keefektifan dan efisiensi yang emadai sebagai media pembelajaranpada mata pelajaran Pengelolaan Usaha Jasa Boga di SMK Negeri 1 Batu
STUDI TENTANG KESESUAIAN SARANA DAN PRASARANA LABORATORIUM PRAKTIKUM PADA KOMPETENSI KEAHLIAN TATA BUSANA SMK NEGERI DI KOTA MALANG DENGAN PERMENDIKNAS NOMOR 40 TAHUN 2008
ABSTRAK Kiswati, Anik. 2013. Studi Tentang Kesesuaian Sarana dan Prasarana Laboratorium Praktikum pada Kompetensi Keahlian Tata Busana SMK Negeri di Kota Malang dengan PERMENDIKNAS Nomor 40 Tahun 2008. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra.Nurul Aini, M.Pd, (II) Dra. Hapsari Kusumawardani, M.Pd Kata Kunci: Sarana, Prasarana, Laboratorium Praktikum, Tata Busana Sarana dan prasarana pendidikan merupakan salah satu sumber daya yang penting dan utama dalam menunjang kegiatan pembelajaran praktikum di sekolah, untuk ituperlu adanya perhatian yang seimbang terhadap ketersediaan sarana dan prasarana yang ada di satuan pendidikan khususnya Sekolah Menengah Kejuruan. SMK Negeri dengan Prodi Tata Busana dalam hal ini mutlak harus mempunyai sarana dan prasarana laboratorium praktikum yang merupakan sarana dan prasarana pokok untuk membekali siswa dalam keterampilan psikomotor untuk setiap keahlian, tanpa adanya sarana dan prasarana yang memadai maka akan sulit bagi SMK untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan optimal. Standar sarana dan prasarana dikembangkan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 40 tahun 2008. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat secara terperinci mengenai sarana dan prasarana laboratorium praktikum pada Kompetensi Keahlian Tata Busana SMK Negeri di Kota Malang, apakah sarana dan prasarana yang digunakan sudah sesuai dengan standar dalam PERMENDIKNAS Nomor 40 Tahun 2008 atau belum. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif. Dalam hal ini, deskriptif digunakan peneliti untuk melihat ketersediaan sarana dan prasarana laboratorium praktikum Program Keahlian Tata Busana SMK Negeri di Kota Malang, sedangkan pendekatan kuantitatif digunakan untuk melihat kesesuaian sarana dan prasarana laboratorium praktikum Program Keahlian Tata Busana SMK Negeri di Kota Malang dengan standar yang telah ditetapkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1)SMK Negeri Kompetensi Keahlian Tata Busana di Kota Malang memiliki ketersediaan sarana yang sesuai dengan PERMENDIKNAS Nomor 40 Tahun 2008, sedangkan prasarana yang tersedia pada SMK Negeri di Kota Malang dapat dikategorikan cukup sesuai. Jika dilihat dari segi kondisi fisik laboratorium dapat dikategorikan sangat sesuai, sedangkan untuk kondisi peralatan dapat dikategorikan baik (2) Hasil temuan data tentang sarana dan prasarana menunjukkan bahwa SMK Negeri 3 Malang memiliki kualifikasi paling lengkap, SMK Negeri 7 Malang kualifikasinya sedang, dan SMK Negeri 5 Malang kualifikasinya paling rendah (3) diterapkannya standar baku sarana dan prasarana kebanyakan masih belum sesuai dengan kondisi keberagaman dan heterogenitas lingkungan SMK, sehingga kerap mendatangkan permasalahan berbeda-beda pada setiap satuan pendidikan yang ada
Studi Relevansi Lingkup Pekerjaan Praktik Kerja Industri Siswa SMK Program Keahlian Tata Busana dengan Kompetensi Du/Di Tempat Praktik Kerja Industri.
ABSTRAK Romadhoni, Emma. 2013. Studi Relevansi Lingkup Pekerjaan Praktik Kerja Industri Siswa SMK Program Keahlian Tata Busana dengan Kompetensi Du/Di Tempat Praktik Kerja Industri. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Agus Hery Supadmi Irianti, M.Pd, (II) Dra. Nurul Aini, M.Pd. Kata Kunci: Relevansi, tempat praktik kerja industri, siswa prakerin Relevansi berarti kesesuaian antar komponen tujuan, isi/pengalaman belajar, organisasi, dan juga sesuai kebutuhan masyarakat baik dalam pemenuhan tenaga kerja maupun warga masyarakat yang diidealkan. Kesesuaian dalam penelitian ini adalah kesesuaian antara kompetensi program keahlian tata busana dengan kompetensi yang terdapat di DU/DI tempat praktik kerja industri siswa SMK program keahlian tata busana. Studi tentang Relevansi Lingkup Pekerjaan Praktik Kerja Industri Siswa SMK Program Keahlian Tata Busana dengan Kompetensi Du/Di Tempat Praktik Kerja Industri dibagi menjadi dua sub variabel custom-made dan garmen. Kesesuaian antara kompetensi program keahlian tata busana dengan kompetensi yang terdapat di DU/DI tempat praktik kerja industri siswa SMK program keahlian tata busana sesuai dengan SKKNI dan teori teknik pembuatan busana, meliputi: membuat pola, memotong, menjahit, menghias busana, membuat pelengkap busana, dan penyelesaian/ finishing (pada kompetensi bidang custom-made), pembuatan sampel, memotong, bundling, menjahit, dan penyelesaian/ finishing (pada kompetensi bidang garmen). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui relevansi lingkup pekerjaan yang dilakukan siswa SMK Program Keahlian Tata Busana di DU/DI tempat praktik kerja industri dengan kompetensi yang terdapat di DU/DI tempat praktik kerja industri. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif pendekatan kuantitatif dengan subjek penelitian siswa SMK program keahlian tata busana yang melaksanakan program prakerin pada tahun ajaran 2012/2013, yaitu siswa SMK N 3 Malang, SMK N 5 Malang, dan SMK n 7 Malang . Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket dengan jumlah pernyataan sebanyak 45 item untuk bidang custom-made dan 43 item untuk bidang garmen. Validitas instrumen angket diuji mengunakan validitas konstruk, dan uji reliabiltasnya menggunakan test retest. Hasil penelitian ini menunjukkan relevansi lingkup pekerjaan praktik kerja industri siswa SMK program keahlian tata busana pada bidang custom-made, responden sebanyak 39 siswa, sebesar 43,59% menyatakan sangat relevan dan sebesar 38,46% menyatakan relevan untuk lingkup pekerjaan pada bidang custom-made dengan keterangan siswa prakerin sangat relevan dalam lingkup pekerjaan membuat pola, memotong, menjahit, penyelesaian dan menyatakan relevan dalam lingkup pekerjaan menghias busana dan membuat pelengkap busana. Relevansi lingkup pekerjaan praktik kerja industri siswa SMK program keahlian tata busana pada bidang garmen, responden sebanyak 8 siswa, sebesar 50% menyatakan kurang relevan dan sebesar 12,50% menyatakan tidak relevan untuk lingkup pekerjaan pada bidang garmen dengan keterangan siswa prakerin menyatakan tidak relevan dalam lingkup pekerjaan pembuatan sampel, memotong, bundling, dan menyatakan relevan dalam lingkup pekerjaan menjahit dan penyelesaian. Simpulan: relevansi tempat praktik kerja industri siswa SMK program keahlian tata busana sangat relevan pada bidang custom-made dan kurang relevan pada bidang garmen. Saran yang dapat diajukan dalam penelitian ini adalah kompetensi bidang garmen untuk dimasukkan dalam kurikulum SMK Program Keahlian Tata Busana karena kurikulum yang sudah ada lebih mengarah pada kompetensi bidang cutom-made sehingga siswa sudah mendapatkan pengalaman belajar sebelum terjun prakerin.
Identifikasi Lama Masa Studi Mahasiswa Jurusan Teknologi Industri Prodi S1 Pendidikan Tata Busana Angkatan 2007 s/d 2009 Universitas Negeri Malang
ABSTRAK Purwaningtyas, Endah. 2013. Identifikasi Lama Masa Studi Mahasiswa Jurusan Teknologi Industri Prodi S1 Pendidikan Tata Busana Angkatan 2007 s/d 2009 Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri Fakuktas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Nurul Aini, M.Pd (2) Agus Sunandar, S.Pd, M.Sn. Kata Kunci: Identifikasi Lama Masa Studi, Faktor Internal, Faktor Eksternal. Masa studi adalah waktu yang diperlukan oleh mahasiswa untuk menyelesaikan program pendidikannya, terhitung sejak pertama kali terdaftar sebagai mahasiswa Universitas Negeri Malang. Masa studi digunakan untuk menentukan kualitas lulusan mahasiswa. Jika ingin memiliki kualitas yang baik mahasiswa harus menyelesaikan studi sesuai dengan masa studi yang telah ditetapkan berdasarkan program studi yang diambil. Mahasiswa yang lulus tepat waktu dengan Indeks Prestasi Komulatif yang cukup memiliki kualitas yang baik dibandingan dengan mahasiswa yang lulus tidak tepat waktu dengan Indeks Prestasi Komulatif yang baik. Banyak mahasiswa prodi S1 Pendidikan Tata Busana angkatan 2007 s/d 2009 yang menyelesaikan studi melebihi batas masa studi ideal yang ditentukan yaitu 4 tahun (delapan semester). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi lama masa studi mahasiswa prodi S1 Pendidikan Tata Busana jurusan Teknologi Industri angkatan 2007 s/d 2009 secara mendalam meliputi faktor internal dan eksternal. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana angkatan 2007 s/d 2009 yang berjumlah 152 mahasiswa, diambil dengan teknik proportional stratified random sampling, sehingga sampel yang didapat dalam penelitian ini secara keseluruhan berjumlah 60 mahasiswa. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah angket tertutup. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif dengan persentase. Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa identifikasi lama masa studi mahasiswa berkaitan dengan jumlah lulusan dan masa studi yang ditempuh mahasiswa memiliki jumlah persentase kelulusan tertinggi adalah mahasiswa angkatan 2007 yaitu berjumlah (62,50%), yang memiliki jumlah persentase kelulusan sedang adalah mahasiswa angkatan 2008 yaitu berjumlah (51,02%), dan mahasiswa yang memiliki jumlah persentase kelulusan terendah adalah mahasiswa angkatan 2009 yaitu berjumlah (0,00%). Masa studi yang ditempuh mahasiswa untuk menyelesaikan studi memiliki jumlah persentase tertinggi adalah mahasiswa menyelesaikan studi dengan lama studi 9 semester yaitu berjumlah (37,18%), Masa studi yang ditempuh mahasiswa untuk menyelesaikan studi memiliki jumlah persentase sedang adalah mahasiswa menyelesaikan studi dengan lama studi 8 semester yaitu berjumlah (14,29%), dan masa studi yang ditempuh mahasiswa untuk menyelesaikan studi memiliki jumlah persentase terendah adalah mahasiswa menyelesaikan studi dengan lama studi 13 semester yaitu berjumlah (3,17%). Berdasarkan hasil analisis, faktor internal yang menyebabkan keterlambatan masa studi mahasiswa memiliki jumlah persentase tertinggi pada faktor ekonomi berkaitan dengan biaya kuliah berjumlah (48,6%), jumlah persentase sedang pada faktor ekonomi berkaitan dengan biaya kuliah sendiri berjumlah (30%), dan jumlah persentase terendah pada faktor ekonomi berkaitan dengan biaya kuliah dari keluarga berjumlah (16%). Kebanyakan mahasiswa memperoleh uang biaya kuliah dari orang tua mereka (92%), dan mereka merasa kesulitan untuk membiayai praktikum dan uang kontrakan (50%). Hal ini terbaca pada data yang menunjukkan bahwa beberapa mahasiswa menggunakan sebagaian waktunya untuk bekerja demi memenuhi kekurangan biaya yang dialaminya. Faktor pekerjaan memiliki jumlah persentase tertinggi yang mempengaruhi lama masa studi adalah berkaitan dengan mahasiswa bekerja berjumlah (58%), jumlah persentase sedang pada faktor pekerjaan yang mempengaruhi lama masa studi adalah berkaitan dengan mahasiswa tidak bisa memanage waktu berjumlah (34%), dan jumlah persentase terendah pada faktor pekerjaan yang mempengaruhi lama masa studi adalah berkaitan dengan pekerjaan mengganggu kegiatan kuliah berjumlah (20%). Masalah kesehatan memiliki jumlah persentase tertinggi adalah berkaitan dengan penyakit kadang mengganggu kegiatan perkuliahan berjumlah (30%), jumlah persentase sedang pada masalah kesehatan adalah berkaitan dengan mahasiswa memiliki penyakit bawaan berjumlah (26%), dan jumlah persentase terendah pada masalah kesehatan adalah berkaitan dengan penyakit mengganggu kegiatan perkuliahan berjumlah (10%). Faktor internal berkaitan dengan motivasi, memiliki jumlah persentase tertinggi pada dukungan dari teman atau sahabatnya yaitu sebesar (94%), jumlah persentase sedang pada faktor motivasi adalah berkaitan dengan keluarga yang kurang mendukung kegiatan perkuliahan berjumklah (62%) dan jumlah persentase terendah pada faktor motivasi adalah berkaitan dengan orang tua terkadang mendukung kegiatan perkuliahan berjumlah (6%). Masalah pribadi memiliki jumlah persentase tertinggi adalah berkaitan dengan mahasiswa yang kadang-kadang malas berjumlah (80%), jumlah persentase sedang pada masalah pribadi adalah berkaitan dengan mahasiswa kurang bersemangat mengerjakan tugas berjumlah (38%), dan jumlah persentase terendah pada masalah pribadi adalah berkaitan dengan mahasiswa malas berjumlah (12%). Faktor eksternal berkaitan masalah penyelesaian skripsi memiliki persentase tertinggi berasal dari dukungan pembimbing berjumlah (90%), jumlah persentase sedang pada masalah penyelesaian skripsi adalah berkaitan dengan intensitas bimbingan yang kadang teratur berjumlah (46%), dan jumlah persentase terendah pada masalah penyelesaian skripsi adalah berkaitan dengan intensitas bimbingan kurang teratur berjumlah (30%). Faktor eksternal lain yang mempengaruhi keterlambatan masa studi adalah faktor administratif yang berkaitan dengan surat menyurat memiliki persentase tertinggi adalah berkaitan dengan pengurusan surat ijin penelitian berjumlah (32%), jumlah persentase sedang pada faktor administratif adalah berkaitan dengan pengurusan surat seminar berjumlah (30%), dan jumlah persentase terendah pada faktor administratif adalah berkaitan dengan pengurusan surat ujian berjumlah (26%). Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan (1) Mahasiswa yang bekerja seharusnya bisa lebih memanage waktunya antara bekerja dan kuliah, sehingga tugasnya sebagai mahasiswa dan pekerja dapat berjalan beriringan dengan baik tanpa mengganggu kegiatan perkuliahannya, (2) Dukungan dari orang tua, keluarga, teman dan masyarakat sangat dibutuhkan dalam kelancaran kegiatan perkuliahan, seharusnya dukungan tersebut selalu diberikan kepada mahasiswa baik secara langsung maupun tidak langsung oleh orang tua, keluarga dan teman pada khususnya, (3) Mahasiswa seharusnya menyadari bahwa tugas akhir merupakan matakuliah yang harus segera diselesaikan. Oleh karena itu mahasiswa harus tetap semangat untuk bimbingan walaupun menghadapi berbagai rintangan, (4) Mahasiswa yang mengalami keterlambatan studi seharusnya diberikan pembinaan sebagai langkah percepatan agar dapat lulus pada semester berikutnya
Pengembangan Multimedia Interaktif untuk Mata Pelajaran Mengolah Makanan Indonesia pada Kompetensi Dasar Salad Indonesia Di SMKN 1 Nglegok Blitar
ABSTRAK Fauziah, Ekanita. 2012. Pengembangan Multimedia Interaktif untuk Mata Pelajaran Mengolah Makanan Indonesia pada Kompetensi Dasar Salad Indonesia Di SMKN 1 Nglegok Blitar. Skripsi, Program Studi Pendidikan Tata Boga, Jurusan Teknologi Indutri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. H. Dwi Agus Sudjimat, S.T., M.Pd. (II) Dra. Teti Setiawati, M.Pd. Kata kunci : pengembangan, multimedia, interaktif Pengembangan adalah kegiatan merancang, memproduksi dan memvalidasi media pengembangan bahan ajar menggunakan aplikasi CD Interaktif. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menghasilkan multimedia pembelajaran untuk Matapelajaran Mengolah Makanan Indonesia pada Kompetensi Dasar Salad Indonesia siswa kelas XI Jasa Boga SMKN 1 Nglegok, dengan spesifikasi produk halaman awal berisi tentang intro, menu awal berisi tentang tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, evaluasi pembelajaran, dan biodata pengembang. Pembuatan multimedia pembelajaran mengolah makanan Indonesia menggunakan Model pengembangan milik Borg & Gall yang telah dimodifikasi untuk mempermudah analisis hasil. Model Borg & Gall terdiri dari 10 tahap, yaitu: (1) analisis situasi awal, (2) perencanaan multimedia, (3) pengembangan rancangan multimedia pembelajaran, (4) pembuatan multimedia pembelajaran (draft produk 1), (5) validasi ahli, (6) tahap revisi, dan (7) draft produk 2, (8) uji coba lapangan, (9) revisi, (10) produk jadi. Validasi produk dilakukan kepada ahli media dan ahli materi. Pedoman penilaian digunakan untuk mengumpulkan data tentang: (1) penilaian ahli materi, (2) penilaian ahli media, (3) penilaian pengguna/peserta didik. Setelah diperoleh masukan dari ahli materi dan ahli media, selanjutnya ,multimedia direvisi. Revisi selesai kemudian dilakukan uji coba produk ke siswa Jasa Boga SMKN 1 Nglegok. Teknik analisis data yang digunakan dalam menganalisis data kuantitatif berupa skor angket penilaian dengan menghitung persentase jawaban. Diperoleh Validasi dari ahli materi dengan nilai rata-rata persentase sebesar 90%, ahli media diperoleh nilai rata-rata persentase sebesar 88,33% dan uji coba lapangan terbatas diperoleh nilai rata-rata persentase sebesar 85%, sehingga diperoleh nilai rata-rata persentase keseluruhan sebesar 87,77% dan disimpulkan bahwa pengembangan multimedia pembelajaran interaktif untuk Matapelajaran Mengolah Makanan Indonesia dinyatakan valid dan tidak perlu direvisi