SKRIPSI Jurusan Tata Busana - Fakultas Teknik UM
SKRIPSI Jurusan Tata Busana - Fakultas Teknik UMNot a member yet
632 research outputs found
Sort by
PERSEPSI MASYARAKAT PADA BATIK GENTONGAN DI KECAMATAN TANJUNGBUMI KABIPATEN BANGKALAN
ABSTRAK Ati, Dwi Rahayuning. 2013. Persepsi Masyarakat Pada Batik Gentongan Di Kecamatan Tanjungbumi Kabupaten Bangkalan.Skripsi, JurusanTeknologiIndustri, FakultasTeknik, UniversitasNegeri Malang.Pembimbing: (I) Anik Dwiastuti, ST., MT, (II) Dra. Hapsari Kusumawardani, M.Pd. Kata Kunci: persepsi, batik gentongan,Tanjungbumi, Bangkalan. Batik gentongan merupakan batik tulis dengan teknik pewarnaan tradisional yang perlu dilestarikan sebagai salah satu kekayaan budaya lokal. Pewarnaan teknik gentongan juga tergolong unik dan berbeda dengan daerah lain yang dapat dijadikan sebagai salah satu daya tarik wisata. Upaya pelestarian batik gentongan tidak terlepas dari persepsi masyarakat sekitar terhadap citra batik gentongan itu sendiri. Citra yang baik terhadap batik gentongan akan sangat mempengaruhi usaha masyarakatnya untuk terus melestarikan batik gentongan. Oleh karena itu penelitian tentang persepsi masyarakat pada batik gentongan ini penting dilakukan sebagai pijakan dasar untuk melestarikan batik gentongan. Fokus penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana persepsi masyarakat pada batik gentongan di Kecamatan Tanjungbumi Kabupaten Bangkalan. Masyarakat yang dimaksud adalah masyarakat di Sentra Batik Tanjungbumi yang digolongkan atas produsen, konsumen, dan pedagang batik gentongan. Persepsi pada penelitian ini diartikan sebagai proses bagaimana masyarakat Kecamatan Tanjungbumi Kabupaten Bangkalan menafsirkan kesan-kesan sensoris mereka pada batik gentongan melalui proses persepsi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Intrumen penelitian adalah peneliti sendiri sebagai observer yang melakukan observasi mendalam pada subjek dengan berpedoman pada pedoman observasi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung, wawancara, dan dokumentasi. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan triangulasi data. Data yang berupa catatan observasi dan transkrip wawancara dianalisis menggunakan analisis data model Miles and Huberman melalui beberapa tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh simpulan hasil penelitian sebagai berikut: Pertama, produsen, konsumen, dan pedagang batik gentongan mempunyai persepsi yang bagus terhadap performansi warna dan motif batik gentongan. Persepsi yang sudah bagus tersebut hendaknya lebih dikembangkan sesuai dengan sasaran pasar melalui riset ilmiah; kedua, daya beli pasar lokal pada batik gentongan rendah, tetapi daya jual batik gentongan dinilai bagus oleh pengusaha dan pedagang batik gentongan. Kenyataan tersebut dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi produsen untuk mengembangkan batik gentongan secara lebih spesifik berdasarkan target pasar; ketiga, produsen, konsumen, dan pedagang batik gentongan masih menilai bagus pada kualitas warna batik gentongan yang semakin sering dicuci maka warnanya akan semakin cemerlang. Citra positif tersebut hendaknya tetap dipertahankan sebagai ciri khas batik gentongan; keempat, produsen batik gentongan menilai proses pembuatan batik gentongan kuno tidak efisien lagi diterapkan di masa kini sehingga dimasukkan unsur-unsur modern agar lebih efisien, sebaliknya konsumen menyukai batik gentongan kuno karena dianggap lebih bagus dan lebih berkualitas. Perubahan proses produksi dengan memasukkan unsur-unsur modern hendaknya tetap mempertimbangkan untuk mempertahankan etnik batik gentongan yang dapat dimulai dengan pembudidayaan daun Tarum sebagai langkah awal; kelima, pengusaha mempunyai persepsi yang bagus terhadap mutu batik gentongan tetapi pengrajin dan konsumen mempunyai persepsi yang kurang bagus terhadap mutu batik gentongan dengan adanya batik gentongan palsu.Perbaikan kasus batik gentongan palsu harus didasarkan pada perbaikan keaslian produ
Studi Tentang Manik-Manik dari Limbah Kaca Di Desa Plumbon Gambang Kecamatan Gudo Kabupaten Jombang
ABSTRAK Munika, Shelvi Intan. 2012. Studi Tentang Manik-Manik dari Limbah Kaca DiDesa Plumbon Gambang Kecamatan Gudo Kabupaten Jombang. Skripsi, jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas NegeriMalang. Pembimbing (I) Dra. Rosanti Rosmawati, M.Sn (II) AgusSunandar, S.Pd., M.Sn. Kata Kunci: manik-manik, limbah kaca, Desa Plumbon Gambang Manik-manik yang berasal dari bahan limbah kaca adalah manik yang memiliki keistimewaan. Usaha itu merupakan industri rumah yang sederhana, namun semenjak tahun 1988, pengrajin manik kaca tersebut telah mengekspor produknya ke luar negeri. Pembuatan manik, termasuk dalam menguntainya telah menciptakan kesempatan kerja bagi pelajar putus sekolah, anak-anak sekolah yang ingin memperoleh uang saku, para guru atau pegawai berpenghasilan rendah yang dapat menambah pendapatan mereka. Fokus penelitian ini adalah bagaimana proses pembuatan manik-manik darilimbah kaca di Desa Plumbon Gambang, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombangserta pemanfaatan sebagai bahan dasar untuk membuat aksesoris busana. Penelitianini dilakukan di sentra industri manik-manik Desa Plumbon Gambang, KecamatanGudo, Kabupaten Jombang. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitianini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Sumber data dalampenelitian ini adalah manusia, peristiwa, dan dokumentasi. Teknik pengumpulandata menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Proseduranalisis data terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan/verifikasidata, dan triangulasi. Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan manik adalah limbah kaca,pewarna keramik, monte warna, pasir emas, tepung terigu dan kaolin. Sedangkanalat-alat yang diperlukan antara lain: Timbangan, tungku, kompor strong, komporduduk atau kompor modifikasi, gas elpiji, tempayan, tang, kawat, pipa stenlis,gerinda, kapi. Proses pembuatan kerajinan manik-manik dilakukan dalam duatahap, yaitu pada tahap pertama membuat batangan kaca dengan cara memanaskanpecahan kaca sampai menjadi lumat kemudian dicubit dan ditarik denganmenggunakan tang pada ujungnya. Tahap kedua adalah membuat butiran manikdengan cara batangan kaca yang sudah jadi dipanaskan kembali pada ujungnya laludililitkan melingkar pada kawat yang telah dilapisi kaolin dan tepungterigu,dibentuk sesuai keinginan dengan menggunakan kapi. Pembuatan motif padamanik-manik dilakukan langsung diatas api dengan menggunakan batangan kacayg berukuran kecil. Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan yaitu, para pengusahadan perajin melaksanakan proses pembuatan melalui beberapa tahap yaitu:(1)Tahap perencanaan motif, brntuk, warna dan desain, (2)Tahap persiapan Alatdan Bahan, (3)Tahap Proses Pembuatan, (4)Tahap Akhir Proses merangkai menjadiproduk jadi atau aksesoris
Kajian Mutu Nuggets Ampas Tahu dengan Perlakuan Perbandingan Tepung Komposit dan Persentase Penambahan Putih Telur
ABSTRAK Hidayah, Nurul. 2012. Kajian Mutu Nuggets Ampas Tahu dengan Perlakuan Perbandingan Tepung Komposit dan Persentase Penambahan Putih Telur. Skripsi. Jurusan Teknologi Industri Program Studi Tata Boga Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Dwi Agus Sudjimat, S.T., M.Pd, (II) Ir. Budi Wibowotomo, M.Si. Kata Kunci: nuggets, ampas tahu, tepung komposit (susu bubuk skim : terigu), putih telur. Ampas tahu merupakan salah satu hasil samping (limbah) dalam pembuatan tahu. Di Kota Malang ampas tahu sangat melimpah dan hanya dimanfaatkan sebagai makanan ternak dan bahan dasar pembuatan “tempe menjes”. Nilai ekonomis dari ampas tahu sangat murah, yaitu Rp 425/kg. Diversifikasi produk ampas tahu sangat terbatas jumlahnya dan belum begitu dikenal oleh masyarakat karena anggapan bahwa produk dari ampas tahu adalah produk murahan dan rendah gizi. Ampas tahu masih mempunyai serat kasar yang cukup tinggi dengan kuantitas dan kualitas protein yang cukup baik. Serat yang tidak dapat dicerna mempunyai peranan penting dalam sistem pencernaan. Ampas tahu memiliki karakter flavor langu dan mudah rusak jika tidak segera digunakan. Untuk memberi nilai tambah (ekonomis dan manfaat) pada ampas tahu dan diversifikasi pangan maka ampas tahu diolah menjadi produk makanan, misalnya nuggets. Nuggets merupakan produk olahan daging yang disukai konsumen karena memiliki rasa yang enak (gurih), praktis dan juga memiliki daya simpan yang lama (freezer) sehingga cocok bagi mereka yang sibuk bekerja (karir). Pada umumnya nuggets terbuat dari daging yang merupakan sumber protein. Kandungan serat kasar yang cukup tinggi dengan kuantitas dan kualitas protein yang cukup baik memungkinkan ampas tahu sebagai pengganti daging dalam pembuatan nuggets. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat organoleptik, sifat fisik dan sifat kimia nuggets ampas tahu dengan perbandingan komposisi ampas tahu, terigu, susu bubuk skim, dan putih telur yang tepat sehingga menghasilkan nuggets ampas tahu yang disukai masyarakat. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok faktorial dengan dua faktor. Faktor I adalah perbandingan komposisi tepung komposit yang bebeda (susu bubuk skim : terigu) dengan perbandingan (5:25%), (10:20%) dan (15:15%). Faktor II persentase penambahan putih telur yang berbeda yaitu 25%BB dan 40%BB. Uji organoleptik terhadap tekstur, rasa, dan flavor dilakukan di Laboratorium Pastry & Bakery Teknologi Industri Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang, sedangkan untuk uji fisik dan uji kimia dilakukan di Laboratorium Universitas Muhammadiyah Malang. Data dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (analisis varian dua arah dengan replikasi dan analisis varian satu arah) dilanjutkan dengan analisis DMRT (Duncans Multiple Range Test). Parameter uji mutu hedonik untuk tekstur skor tertinggi terdapat pada nuggets yang bertekstur kenyal dengan perlakuan perbandingan tepung komposit antara susu bubuk skim dan terigu (5:25%) dengan penambahan putih telur sebanyak 25%BB. Skor tertinggi uji mutu hedonik rasa terdapat pada nuggets berasa gurih yaitu nuggets dengan perlakuan perbandingan tepung komposit antara susu bubuk skim dan terigu (15:15%) dengan penambahan putih telur sebanyak 40%BB. Skor tertinggi uji mutu hedonik flavor terdapat pada nuggets dengan flavor tidak langu dengan perlakuan perbandingan tepung komposit antara susu bubuk skim dan terigu (15:15%) dengan penambahan putih telur sebanyak 40%BB. Parameter uji hedonik tekstur nuggets yang paling disukai oleh panelis terdapat pada nuggets dengan perlakuan perbandingan tepung komposit antara susu bubuk skim dan terigu (5:25%) dengan penambahan putih telur sebanyak 25%BB. Rasa nuggets yang paling disukai oleh panelis terdapat pada nuggets dengan perlakuan perbandingan tepung komposit antara susu bubuk skim dan terigu (10:20%) dengan penambahan putih telur sebanyak 25%BB. Flavor nuggets yang paling disukai oleh panelis terdapat pada nuggets dengan perlakuan perbandingan tepung komposit antara susu bubuk skim dan terigu (10:20%) dengan penambahan putih telur sebanyak 40%BB. Parameter uji fisik kimia untuk tekstur skor tertinggi terdapat pada nuggets dengan perlakuan perbandingan tepung komposit antara susu bubuk skim dan terigu (15:15%) dengan penambahan putih telur sebanyak 25%BB dan 40%BB (0,3625) dengan tekstur paling lunak. Untuk kandungan karbohidrat skor tertinggi terdapat pada nuggets dengan perlakuan perbandingan tepung komposit antara susu bubuk skim dan terigu (15:15%) dengan penambahan putih telur sebanyak 40%BB (38,10). Untuk kandungan serat skor tertinggi terdapat pada nuggets dengan perlakuan perbandingan tepung komposit antara susu bubuk skim dan terigu (5:25%) dengan penambahan putih telur sebanyak 40%BB (1,31). Untuk kandungan protein skor tertinggi terdapat pada nuggets dengan perlakuan perbandingan tepung komposit antara susu bubuk skim dan terigu (15:15%) dengan penambahan putih telur sebanyak 25%BB (8,25)
Studi Tentang Faktor Penyebab Lulusan Program Keahlian Busana Butik SMK Negeri 1 Turen Tahun 2012 Tidak Bekerja dan Tidak Berwirausaha
ABSTRAK Setyowati, Ike Dewi. 2013. Studi Tentang Faktor Penyebab Lulusan Program Kejuruan Busana Butik SMK Negeri 1 Turen tahun 2012 Tidak Bekerja dan Tidak Berwirausaha. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Agus Hery Supadmi Irianti, M.Pd., (2) Dra. Endang Prahastuti, M.Pd. Kata Kunci: Faktor Penyebab, Lulusan SMK Tidak Bekerja dan Tidak Berwirausaha Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan berbagai program keahlian yang dikelompokkan menjadi bidang keahlian yang sesuai dengan kelompok bidang usaha, industri atau profesi. Sekolah kejuruan bertujuan mencetak lulusan untuk siap bekerja di dunia industri maupun bekerja mandiri (wirausaha), tapi kenyataan di lapangan ada 36% lulusan Program Busana Butik SMK Negeri 1 Turen tahun 2012 tidak bekerja dan tidak berwirausaha. Ada dua faktor pendorong (faktor internal dan faktor eksternal) yang menyebabkan seseorang berwirausaha. Faktor internal yaitu faktor fisik dan faktor psikologi (minat, motivasi, cita-cita, bakat, pendidikan dan pengalaman). Faktor eksternal yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan masyarakat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor penyebab lulusan Program Busana Butik SMK Negeri 1 Turen tahun 2012 tidak bekerja dan tidak berwirausaha. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah alumni/lulusan program keahlianbusana butik SMK Negeri 1 Turen tahun lulus 2012. Sedangkan Sampel penelitian ini adalah lulusan yang tidak bekerja sejumlah 21 dengan menggunakan teknik total sampling. Instrumen yang digunakan adalah angket/kuesioner. Uji validitas menggunakan validitas konstruk dan uji reabilitas menggunakan test retest. Teknik analisis data menggunakan presentase. Kesimpulan dari hasil penelitian diketahui bahwa faktor yang menyebabkan lulusan program keahlian busana butik SMK Negeri 1 Turen tahun 2012 tidak bekerja dan tidak berwirausaha adalah 71,43% faktor internal atau faktor dari dalam yaitu faktor psikologi yang meliputi faktor motivasi berwirausaha, bakat berwirausaha dan pengalaman berwirausaha, serta 61,90% faktor eksternal atau faktor yang berasal dari luar yaitu faktor lingkungan sekolah pada faktor sarana prasarana yang mendukung wirausaha di bidang busana. Saran yang dapat peneliti berikan adalah (1) pada faktor internal psikologi, disarankan agar sekolah dapat memotivasi siswa dalam hal berwirausaha di bidang busana melalui motivator-motivator entrepreneurship. Menambah skill atau keterampilan siswa sesuai dengan Standar Kompetensi Nasional Bidang Busana serta menambah pengalaman siswa dalam berwirausaha, dan (2) pihak sekolah memberikan fasilitas belajar berupa sarana prasarana yang layak untuk belajar teori maupun praktik berwirausaha di lingkungan sekolah (misalkan sekolah menyediakan toko/ butik).
Tanggapan Guru Pamong Tata Busana SMK Negeri Kodya Malang Terhadap Pelaksanaan PPL II Mahasiswa Prodi S1 Pendidikan Tata Busana Teknologi Industri
ABSTRAK Anggraeni, Dwi Yeti. 2013. Tanggapan Guru Pamong Tata Busana SMK Negeri Kodya Malang Terhadap Pelaksanaan PPL II Mahasiswa Prodi S1 Pendidikan Tata Busana Teknologi Industri. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Idah Hadijah, M.Pd, (II) Dra. Nurul Aini, M.Pd. Kata Kunci: Tanggapan, Guru Pamong, Pelaksanaan PPL II SMK N 3, SMK N 5, SMK N 7 Malang sering dijadikan tempat praktik mengajar (PPL) mahasiswa Prodi S1 Pendidikan Tata Busana Teknologi Industri, sehingga mendorong peneliti untuk mengetahui tanggapan Guru Pamong yang berhubungan langsung dengan mahasiswa PPL II Prodi S1 Pendidikan Tata Busana. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan tanggapan guru Pamong Tata Busana SMK N 3, SMK N 5, SMK N 7 Malang terhadap pelaksanaan PPL II mahasiswa Prodi S1 Pendidikan Tata Busana Teknologi Industri Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang angkatan 2009 pada semester genap tahun ajaran 2012-2013. Jenis Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian adalah seluruh guru Pamong Tata Busana SMK N 3, SMK N 5, SMK N 7 Malang sejumlah 9 Guru Pamong. Uji validitas dalam penelitian ini menggunakan validitas konstruk dan kemudian menggunakan SPSS 16.00 for Windows. Kesimpulan dari hasil penelitian tersebut yaitu perencanaan pembelajaran Silabus dan RPP berdasarkan tanggapan guru pamong termasuk dalam klasifikasi baik yaitu sebesar 88.89%. Pelaksanaan Pembelajaran berdasarkan tanggapan guru pamong termasuk dalam klasifikasi baik yaitu sebesar 88.89%. Saran Tanggapan Guru Pamong Tata Busana SMK Negeri Kodya Malang terhadap pelaksanaan PPL II yaitu sudah baik, namun dari hasil tanggapan ada beberapa yang perlu ditingkatkan yaitu skenario kegiatan pembelajaran, membuka pembelajaran dan menutup pembelajaran, agar mahasiswa dapat melaksanakan pelaksanaan PPL dengan maksimal dan mengajar lebih baik. Hendaknya bagi UPT PPL menindak lanjuti respon dari sekolah tentang pelaksanaan PPL. Pada umumnya pelaksanaan PPL II mahasiswa PPL Prodi S1 Pendidikan Tata Busana sudah baik, sehingga akan didapatkan peningkatan profesionalitas guru yang maksimal. Bagi mahasiswa yang belum melaksanakan PPL sebaiknya mahasiswa harus lebih terampil agar mahasiswa dapat mengetahui, memahami dan meningkatkan profesionalitas yang harus dimiliki oleh seorang guru, sehingga mahasiswa dapat menanamkan profesionalitas mulai dari bangku perkuliahan. Bagi mahasiswa yang telah melaksanakan PPL II sebaiknya lebih memperbaiki dalam mengajar berikutnya. ABSTRACT Anggraeni, Dwi Yeti. 2013. Fashion Teacher’s Responses at State Vocational High School of Malang on the Implementation of PPL II for Student S1 Clothing Department of Program Industrial Technology . Thesis. Department of Technology Industry, Engineering Faculty, State University of Malang. Advisors: (1) Dra. Idah Hadijah, M.Pd, (II) Dra. Nurul Aini, M.Pd. Key Words: The conception, Teacher Guardian, The Implementation of PPL II SMK N 3, SMK N 5, SMK N 7 Malang, are a commonly used practice of teaching, encouraging researchers to find out what teachers Guardian relating directly to Students S1 Clothing Department of Program Industrial Technology. The purpose of this study is to describe the teacher's response Guardian Clothing SMK N 3, SMK N 5, SMK N 7 Malang on the implementation of the PPL II students Prodi S1 Clothing department of Program Industrial Technology of Engineering Faculty, University of Malang class of 2009 in the second semester of the 2012-2013 school year . This type of research is descriptive quantitative research. The population is all Guardian Clothing teacher SMK N 3, SMK N 5, SMK N 7 Malang Teachers Tutors number 9. Test validity in this study uses the construct validity 16.00 and then using SPSS for Windows. Results Syllabus and lesson planning lesson plans based on teacher responses were categorized as either officials in the amount of 88.89%. The lesson is based on teacher responses were categorized as either officials in the amount of 88.89%. Feedback Civil suggestion Clothing teacher of SMK Negeri Malang Municipality against PPL II implementation is already good, but from the responses there are several scenarios that need to be improved, namely learning activities, opening and closing the learning of learning, so that students can carry out the implementation of the PPL with the maximum and better teaching . For UPT PPL should follow up on the implementation of the school's response PPL. In general, the implementation of the PPL II student S1 Clothing departement Education has been good, so we will get the maximum increase in the professionalism of teachers. For students who have not implemented the PPL should be more skilled students so that students can know, understand and enhance the professionalism that must be owned by a teacher, so that students can instill professionalism from the lecture bench. For students who have conducted PPL II should further improve in the next teaching.
HUBUNGAN PERILAKU MAKAN DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN STATUS GIZI PADA ANAK USIA SEKOLAH
ABSTRAK Hapshari, Franindya Angga. 2013. Hubungan Perilaku Makan dan Aktivitas Fisik dengan Status Gizi pada Anak Usia Sekolah. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Tata Boga, Fakultas Teknik, Jurusan Teknologi Industri Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Dwi Agus Sudjimat, S.T.M.Pd, (II) Dr. Mazarina Devi, M.Si. Kata Kunci: perilaku makan, aktivitas fisik, status gizi Anak-anak usia sekolah merupakan satu fase penting dari proses pertumbuhan dan perkembangan manusia. Pertumbuhan dan perkembangan anak-anak usia sekolah dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya dipengaruhi oleh status gizi. Masalah gizi dapat ditimbulkan karena adanya perilaku makan yang kurang baik dengan tingkat aktivitas fisik yang tidak seimbang, sehingga asupan gizi dalam tubuh menjadi kurang atau berlebih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan perilaku makan dan aktivitas fisik dengan status gizi pada anak usia sekolah baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama. Penelitian ini termasuk penelitian survey dengan rancangan penelitian cross sectional atau korelasional. Teknik sampling pada penelitian ini menggunakan sampling purposive yaitu siswa SDN Jatipuro I Kecamatan Karangjati Kabupaten Ngawi kelas 4 dan 5. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan lembar observasi, angket dan timbangan badan. Berdasarkan hasil analisis data diketahui bahwa nilai yang diperoleh untuk Perilaku Makan (X1) dengan Status Gizi (Y) sebesar 0,355 dengan nilai Sig (2-tailed) sebesar 0,004. Nilai yang diperoleh untuk Aktivitas Fisik (X2) dengan Status Gizi (Y) sebesar 0,427 dengan nilai Sig (2-tailed) sebesar 0,012. Nilai R sebesar 0,439 dengan nilai probabilitas (Sig.FChange ) = 0,036. Kontribusi secara simultan atau secara keseluruhan variabel Perilaku Makan (X1) dan variabel Aktivitas Fisik (X2) terhadap variabel terikat Status Gizi (Y) yaitu 19,3% . sedangkan sisanya 80,7% ditentukan oleh variabel lain. Berdasarkan hasil penelitian tersebut diajukan saran sebagai berikut: (1) siswa mampu meningkatkan konsumsi asupan gizi atau perilaku makan dengan menambah konsumsi makanan yang bergizi seperti sayuran dan buah-buahan serta melakukan aktivitas fisik yang seimbang antara jam istirahat, bermain dan belajar dengan membuat jadwal kegiatan sehari-hari. Kurangi waktu menonton televisi berlebihan dengan bermain atau melakukan olah raga minimal tiga kali seminggu dengan durasi waktu minimal 30 menit per hari untuk meningkatkan status gizi yang baik; (2) orang tua diharapkan untuk menyediakan menu sehat seimbang setiap hari, agar status gizi anak terkontrol dengan baik, selain itu orang tua diharapkan untuk selalu memperhatikan kondisi fisik anak terutama pada berat dan tinggi badan anak tersebut, karena jika tidak terdapat peningkatan pada berat maupun tinggi badan pada setiap bulannya, maka anak tersebut kemungkinan mengalami gangguan kesehatan; (3) guru diharapkan untuk bisa memberikan pengetahuan dasar kepada siswa akan pentingnya asupan gizi pada tubuh dan aktivitas fisik yang dilakukan oleh siswa baik dirumah maupun disekolah agar siswa tidak mengalami masalah status gizi kurang maupun status gizi lebih dengan cara memberikan penyuluhan kepada siswa dan orang tua secara langsung mengenai kebutuhan gizi anak serta menimbang berat badan anak secara berkala, karena berat badan anak merupakan salah satu indikator terpenting untuk mengetahui pertumbuhan anak; (4) penelitian mengenai tingkat status gizi pada anak usia sekolah masih dirasa sedikit, sehingga peneliti berharap agar Universitas Negeri Malang mampu menambah referensi karya ilmiah yang berkaitan dengan status gizi agar bisa menjadi bahan pengetahuan bagi masyarakat umum dengan cara mengadakan penelitian mengenai gizi, penulisan karya ilmiah gizi serta menambah referensi buku gizi di perpustakaan dan online; (5) peneliti selanjutnya diharapkan dapat memperluas variabel penelitian, karena pada dasarnya masih banyak faktor yang berpengaruh terhadap status gizi pada anak usia sekolah. Peneliti selanjutnya juga diharapkan mampu memvariasi sampel dan lokasi penelitian sehingga menjadi suatu karya ilmiah yang baik dan merata.
FAKTOR EKSTERNAL YANG MEMPENGARUHI INDEKS PRESTASI (IP) MAHASISWA S1 PENDIDIKAN TATA BUSANA 2011 UNIVERSITAS NEGERI MALANG
ABSTRAK Jamil, Ilmia Rofita. 2013. Faktor Eksternal yang Mempengaruhi Indeks Prestasi (IP) Mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana Angkatan 2011 UniversitasNegeri Malang. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing:(I) Dra. EndangPrahastuti,M.Pd., (II) Dra. Idah Hadijah, M. Pd. Kata Kunci: Faktor Eksternal, Indeks Prestasi (IP), Mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana. Hasil belajar dari tiap-tiap mata kuliah yang ditempuh oleh mahasiswa memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Hasil belajar yang tinggi dapat dijadikan sebagai indicator keberhasilan proses belajar dan juga indicator kualitasi nstitusi pendidikan. Di samping itu, hasil belajar juga berguna sebagai umpan balik bagi pengajar dalam melaksanakan proses belajar sehingga dapat menentukan apakah perlu mengadakan diagnosis maupun bimbingan terhadap mahasiswa. Oleh sebab itu diagnosis awal keberhasilan hasil belajar yang dinyatakan dalam hasil Indek Prestasi (IP) mahasiswa adalah mencari faktor-faktor yang mempengaruhi hasil tersebut. Faktor tersebut antara lain, yaitu faktor internal dan factor eksternal. faktor internal mahasiswa hanya dapat dikendalikan oleh mahasiswa, sedangkan faktor eksternal dapat di evaluasi dari faktor lingkungan mahasiswa untuk meningkatkan hasil yang maksimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan faktor eksternal yang mempengaruhi Indeks Prestasi (IP) mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana Angkatan 2011 Universitas Negeri Malang. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah Mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana angkatan 2011 sejumlah 63 mahasiswa. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif persentase. Ujicoba dilakukan kepada mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana angkatan 2010 sejumlah 20 mahasiswa. Ujivaliditas dan ujireliabilitas menggunakanSPSS 20.00 for Windows. Hasil penelitian diketahui bahwa Faktor eksternal yang mempengaruhi indeksprestasi (IP) mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana Angkatan 2011 pada semester I memiliki 3 faktor, yaitu antara lain: factor lingkungan sekolah/kampus memiliki pengaruh yang sangat tinggi/sangat berpengaruh, dan pada lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat memiliki pengaruh yang tinggi/berpengaruh. Saran yang dapat disampaikan adalah (1) Bagi Lembaga, khususnya di Program Studi Tata Busana JurusanTeknologi Industri , dapat melakukan tes ujiteori maupun praktik bagi calon mahasiswa baru untuk mengatahui potensi awal yang dimiliki mahasiswa dan pada mahasiswa semester selanjutnya dapat dievaluasihasil belajar mahasiswa untuk meningkatkan indeks prestasi (IP) mahasiswa yang lebih maksimal, (2) Bagi mahasiswa Tata Busana, hasil penelitian ini dapatdigunakan sebagai motivasi dalam belajar dan sebagai bahan evaluasi belajar untuk meningkatkan Indeks Prestasi (IP) mahasiswa, (3) Bagi peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai kajian penelitian dan diarahkan untuk meneliti factor lingkungan kampus yang mempengaruhi indeks prestasi (IP) mahasiswa pada beberapa semester yang telah ditempuh mahasiswa, atau dapat pula pada masing-masing matakuliah yang telah ditempuh oleh mahasiswa.
Tanggapan Masyarakat tentang Rancangan Motif Batik Untuk Seragam SMA di Kabupaten Trenggalek
ABSTRAK Sari, Yuli Rasfananta. 2013. Tanggapan Masyarakat Tentang Rancangan Motif Batik untuk Seragam SMA di Kabupaten Trenggalek. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Rosanti Rosmawati, M.Sn., (II) Dra. Endang Prahastuti, M.Pd. Kata kunci: Tanggapan, Motif Batik Seragam SMA, Trenggalek Tanggapan adalah segala sesuatu yang dapat diterima oleh alat indera manusia, seperti sambutan terhadap komentar, kritik, saran, dan sebagainya (Salim dan Salim, 2002:1536). Motif adalah kerangka gambar yang mewujudkan corak batik secara keseluruhan. Menurut unsurunsurnya motif batik terbagi menjadi ornamen utama, ornamen tambahan dan isen-isen motif. Ornamen utama adalah suatu ragam hias yang menentukan daripada motif tersebut yang umumnya masing-masing mempunyai arti. Ornamen tambahan hanyalah sebagai pengisi bidang yang belum terisi pada ornamen utama, sedangkan isen-isen motif adalah pengisi ornamen seperti titik-titik, garis dan sebagainya. (Pujiyanto, 1999:9). Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui tanggapan masyarakat tentang rancangan motif batik untuk seragam SMA di kabupaten Trenggalek. Pembuatan desain motif batik ini didasarkan pada ciri khas motif batik Trenggalek (motif cengkeh) dan disesuaikan dengan karakter remaja (siswa SMA). Selain itu, dalam pembuatan motif batik ini harus memperhatikan unsur-unsur dan prinsip-prinsip desain agar desain yang dihasilkan bisa mendekati sempurna. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Uji validitas penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pengujian validitas konstruk dimana untuk mengujinya menggunakan pendapat dari para ahli. Teknik analisa data dalam penelitian ini meliputi pemberian skor, menentukan panjang kelas interval, menentukan banyaknya persentase, dan menentukan interpretasi data. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa para ahli dan siswa SMA menyetujui rancangan motif batik untuk seragam SMA tersebut. Peneliti menyarankan kepada mahasiswa dan peneliti selanjutnya untuk lebih kreatif & inovatif dalam menciptakan motif-motif batik yang baru dan lebih baik lagi. Untuk pemerintah setempat, peneliti menyarankan agar Batik Kota segera direalisasikan karena selain untuk memperkenalkan batik kepada remaja khususnya dan masyarakat umumnya, juga sebagai wujud kecintaan kita terhadap budaya bangsa.
Studi Tentang Profil Kerajinan Tenun Ikat Bandar Kediri
ABSTRAK Wijayanti, Minda. 2012. Studi Tentang Profil Kerajinan Tenun Ikat BandarKediri. Skripsi. Jurusan Teknologi Industri, Program S1 Pendidikan TataBusana, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang.Pembimbing: (I) Dra. Hapsari Kusumawardani, M.Pd, (II) Dra. EndangPrahastuti, M.Pd. Kata Kunci: Profil, Kerajinan Tenun Ikat Kerajinan tenun ikat merupakan salah satu kebudayaan bangsa Indonesiayang tersebar luas di seluruh penjuru tanah air. Setiap daerah penghasil kerajinantenun ikat memiliki ciri khas sendiri baik dalam hal motif, produk, serta teknikpembuatannya. Perkembangan kerajinan tenun ikat pada setiap daerah punberbeda-beda. Banyak kerajinan tenun ikat yang sudah terkenal di tanah air sepertikain songket dari Sumatera, tenun tapis dari Lampung, dan kain gringsing dariBali. Selain beberapa wilayah yang sudah terkenal akan kerajinan tenun ikatnya,ada pula wilayah yang menghasilkan kerajinan tenun ikat namun belum banyak dikenal oleh masyarakat. Kota Kediri merupakan salah satu penghasil kerajinan tenun ikat yangmemiliki motif khas, serta teknik pembuatan yang berbeda, namun belum banyakdikenal oleh masyarakat. Hal ini terbukti dari survey awal yang dilakukan denganhasil menunjukkan bahwa dari 10 responden dari Kota Kediri hanya 4 respondenyang mengetahui keberadaannya dan dari 10 responden dari luar kota Kediri tidak satupun responden yang mengetahui keberadaan kerajinan tenun ikat di Kediri.Oleh karena itu penelitian ini dimaksudkan untuk menggali informasi secaramendalam tentang profil kerajinan tenun ikat Bandar Kediri, karena masih banyakkesempatan untuk berkembang dan lebih dikenal oleh masyarakat. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatankualitatif. Prosedur pengumpulan data menggunakan metode observasi,wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan tiga tahap yaitumereduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Pengecekankeabsahan data menggunakan perpanjangan pengamatan, meningkatkanketekunan, serta trianggulasi. Berdasarkan temuan penelitian di lapangan, maka: Kerajinan tenun diKediri telah ada sejak zaman penjajahan Jepang, kemudian sedikit berkembangketika datangnya bangsa Cina dan Arab di Kediri, namun mengalami surut ketikaada produk sarung buatan pabrik (ATM); Perkembangan produk yang dihasilkansejak zaman penjajahan Jepang hingga saat ini yaitu berupa kain tenun polosan,sarung palekat, sarung palekat dengan tumpal kembang, sarung goyor, kain tenunikat, dan syal; Dalam proses pembuatan kerajinan tenun ikat Bandar Kediri terdiridari dua tahapan persiapan yaitu persiapan benang lungsi sebelum ditenun danpersiapan benang pakan sebelum ditenun; Motif yang dihasilkan tergolong dalamragam hias geometris, flora, makhluk hidup, serta dekoratif; Profil pemasaranyang digunakan menggunakan teknik pemasaran secara langsung dan tidaklangsun
Tanggapan Pengelola Butik tentang Kompetensi Siswa SMK pada Program Keahlian Tata Busana
ABSTRAK Rosida, Ayu, Fatwa. 2013. Tanggapan Pengelola Butik Tentang Kompetensi Siswa SMK Pada Program Keahlian Tata Busana. Skripsi. Jurusan Teknologi Industri. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Agus Hery Supadmi Irianti, M. Pd, (II) Dra. Hapsari Kusumawardani, M.Pd. Kata Kunci : Tanggapan Pengelola Butik, Kompetensi, Tata Busana Pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dapat dicapai melalui pendidikan yang disesuaikan dengan perkembangan dan perubahan pada masyarakat. Tujuan utama Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yaitu mempersiapkan siswa menjadi tenaga kerja handal dengan mengutamakan kemampuan kejuruan jenis tertentu. Namun kenyataannya cukup kontradiktif, SMK sebagai lembaga yang mempersiapkan lulusan siap kerja justru sebaliknya. Angka pengangguran tertinggi berdasarkan pendidikan didominasi oleh lulusan SMK. Salah satu cara untuk meningkatkan skill dan menambah pengalaman siswa SMK khususnya program keahlian tata busana yaitu dengan melaksanakan praktek kerja industri (prakerin). Prakerin merupakan bagian dari program pembelajaran yang dilaksanakan di dunia industri. Hasil survei menunjukkan sebagian siswa melaksanakan prakerin di butik. Kompetensi yang diberikan pengelola butik kepada siswa SMK yaitu kompetensi menjahit, menghias busana, membuat pelengkap busana, dan mengerjakan bagian finishing. Oleh sebab itu peneliti ingin mengetahui bagaimana tanggapan pengelola butik tentang kompetensi siswa SMK pada program keahlian tata busana. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Sampel dari penelitian ini yaitu pengelola butik yang menjadi tempat prakerin siswa SMKN se-Kota Madya Malang yaitu SMKN 3 Malang, SMKN 5 Malang, dan SMKN 7 Malang yang berjumlah 13 pengelola butik. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket dengan jumlah pertanyaan 46 item. Uji instrumen menggunakan uji validitas konstuk dan dinyatakan valid, sedangkan uji reliabilitas menggunakan rumus Alpha dengan nilai 0,828. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanggapan dari 13 pengelola butik menyatakan bahwa: (1) siswa kompeten dalam menjahit busana butik, (2) siswa kompeten dalam menghias busana, (3) siswa kompeten dalam membuat pelengkap busana, dan (4) siswa kompeten pada bagian finishing busana butik. Simpulan; pengelola butik menyatakan bahwa kompetensi siswa prakerin pada program keahlian tata busana sudah kompeten. Saran; kepada pihak Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) disarankan agar tetap mempertahankan kompetensi yang sudah dimiliki siswa dan mengembangkan pengetahuan serta keterampilan sesuai dengan perkembangan di dunia industri khususnya butik seperti, teknik menghias busana dan pelengkap busana