SKRIPSI Jurusan Tata Busana - Fakultas Teknik UM
SKRIPSI Jurusan Tata Busana - Fakultas Teknik UMNot a member yet
632 research outputs found
Sort by
Studi Tentang Pewarnaan Alami Bunga Belimbing Sayur Pada Kain Serat Nanas Menggunakan Fiksator Tunjung, Tawas, dan Kapur Tohor
ABSTRAKShofwan, Arrizki Z.N. 2014. Studi Tentang Pewarnaan Alami Bunga Belimbing Sayur Pada Kain Serat Nanas Menggunakan Fiksator Tunjung, Tawas, dan Kapur Tohor. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Program Studi S1 Pendidikan Tata Busana, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Agus Sunandar, S.Pd, M.Sn. (II) Dra. Nur Endah Purwaningsih, M.Pd.Kata Kunci: Bunga belimbing sayur, kain serat nanas, fiksator.Pada mulanya proses pewarnaan tekstil menggunakan zat pewarna alami (ZPA), namun seiring kemajuan teknologi dengan ditemukannya zat pewarna sintetis (ZPS), maka penggunaan ZPA semakin ditinggalkan. Nyatanya limbah penggunaan ZPS menimbulkan pencemaran air, tanah, dan udara. Unsur logam berat pada ZPS seperti krom, tembaga, dan seng dapat menyebabkan penyakit seperti kanker kulit dan kerusakan otak pada manusia. Pemanfaatan ZPA untuk pewarnaan tekstil merupakan salah satu alternatif yang tepat dalam mengatasi dampak terhadap penggunaan ZPS. Pada penelitian ini, salah satu bagian tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai ZPA adalah bunga belimbing sayur.Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hasil warna dan kerataan warna dari pewarnaan alami bunga belimbing sayur pada kain serat nanas menggunakan fiksator tunjung, tawas, dan kapur tohor. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen. Penelitian ini dilakukan dengan mengekstrak bunga belimbing sayur. Proses pencelupan dilakukan sebanyak 10 kali dan proses fiksasi sebanyak 1 kali. Penelitian ini menggunakan bahan, zat warna alam, mordan, alat, cara dan waktu perlakuan adalah sama, perbedaannya terletak pada fiksator yang digunakan yaitu tunjung, tawas, dan kapur tohor.Data diperoleh dari hasil pengamatan secara langsung pada hasil pewarnaan alami kain serat nanas oleh 15 panelis menggunakan angket terbuka. Analisa data yang digunakan pada penelitian ini yaitu kualitatif. Analisa ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil pewarnaan alami bunga belimbing sayur pada kain serat nanas menggunakan fiksator tunjung, tawas, dan kapur tohor yang dilihat dari hasil warna dan kerataan warna.Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Pewarnaan alami bunga belimbing sayur pada kain serat nanas menggunakan fiksator tunjung menghasilkan warna bracken dengan kerataan warna yang baik; (2) Pewarnaan alami bunga belimbing sayur pada kain serat nanas menggunakan fiksator tawas menghasilkan warna mulch dengan kerataan warna yang baik; (3) Pewarnaan alami bunga belimbing sayur pada kain serat nanas menggunakan fiksator kapur tohor menghasilkan warna dachshund dengan kerataan warna yang baik.Saran yang dapat peneliti ungkapkan adalah: (1) Pencelupan dapat dilakukan dengan menggunakan fiksator selain tawas, tunjung dan kapur tohor misalnya jeruk nipis/cuka/pijer (borax)/gula batu/gula jawa (aren)/tape (tape ketela/tape ketan)/air kelapa/pisang klutuk/jambu klutuk untuk mengetahui arah warna yang dapat dihasilkan oleh bunga belimbing sayur; (2) Dapat dilakukan variasi jumlah konsentrasi larutan fixer untuk mengetahui arah warna yang dihasilkan; (3) Dapat dicoba menggunakan media pencelupan selain kain serat nanas, misalnya kain sutera/kain katun untuk mengetahui perbedaan hasil warna dibandingkan dengan kain serat nanas; (4) Dapat dilakukan penelitian lanjutan tentang pengujian ketuaan warna dan ketahanan luntur warna yang dihasilkan dari pewarnaan alami bunga belimbing sayur pada kain serat nanas menggunakan fiksator tunjung, tawas, dan kapur tohor.
PersepsiSiswaterhadap Proses Pembelajaran Fashion Design yang DilakukanPraktisi di SMK Negeri 3 Malang
ABSTRAK SMK merupakan salah satu bagian dari pendidikan di Indonesia. Salah satu komponen pendidikan yang sangat penting adalah guru. SMK bidang keahlian tata busana misalnya, membutuhkan pengajar yang memiliki vocational skill. Melihat perkembangan dunia mode yang semakin cepat, maka dibutuhkan pendidik yang tidak hanya menguasai teori, namun dibutuhkan pendidik yang mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. SMK Negeri 3 Malang merupakan sekolah yang menggunakan jasa praktisi untuk meningkatkan mutu pendidikan siswa. Namun dilihat dari latar belakang pendidikan yang dilalui, maka praktisi merupakan seseorang yang tidak memiliki latar belakang pendidikan sebagai seorang pendidik. Padahal untuk mecapai keberhasilan proses belajar mengajar, seorang guru harus memiliki profesionalitas yang dipelajari pada mata kuliah kependidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana persepsi siswa terhadap proses pembelajaran fashion design yang dilakukan praktisi di SMK Negeri 3 Malang. Hasil akhirnya dapat menjadi evaluasi bagi proses pembelajaran yang dilakukan oleh praktisi. Jenis penelitian ini, adalah penelitian diskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan Simple Random Sampling. Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 3 Malang dengan jumlah responden 63 orang, dari 70 populasi. Instrumen penelitian berupa angket tertutup. Untuk uji validitas menggunakan validitas konstruk dan uji reliabelitas menggunakan test retest. Hasil analisis dengan teknik analisis data deskriptif dengan hasil berbentuk prosentase. Hasil yang diperoleh dari penelitian “Persepsi siswa terhadap proses pembelajaran fashion design yang dilakukan praktisi di SMK Negeri 3 Malang” yakni: (1) kegiatan membuka pelajaran dikategorikan sangat baik, (2) pelaksanaan kegiatan inti pembelajaran dengan dikategorikan baik, (3) kegiatan menutup pembelajaran dikategorikan baik, (4) faktor penunjangdikategorikan baik, (5) Persepsi siswa terhadap proses pembelajaran fashion design yang dilakukan praktisi di SMK Negeri 3 Malang pada seluruh kegiatan pembelajaran dikategorikan baik. Terkait dengan hasil penelitian pada seluruh kegiatan pembelajaran yang dikategorikan baik, maka saran yang diberikan adalah perbaikan sistem pembelajaran yang dilakukan oleh praktisi dengan pengadaan team teaching pada mata pelajaran yang melibatkan praktisi. Kolaborasi yang terbentuk di dalam team teaching diharapkan mampu saling melengkapi dan menyempurnakan antara praktisi dengen guru senior
Studi Tentang Motif Khas Batik Selowogo, di Desa Selowogo, Kecamatan Bungatan Kabupaten Situbondo
ABSTRAK Adriaty, Rieke. 2015. Studi Tentang Motif Khas Batik Selowogo, di Desa Selowogo, Kecamatan Bungatan, Kabupaten Situbondo. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sri Eko Puji Rahayu, M.Si, (II) Dra. Hapsari Kusumawardani, M.Pd. Kata kunci: Batik Selowogo, Motif Khas Sejak UNESCO menetapkan Batik sebagai warisan budaya Indonesia pada tanggal 2 Oktober 2009, Pemerintah Indonesia menetapkan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional. Adanya pengakuan tersebut menyebabkan setiap daerah berupaya mengenalkan batik khas mereka. Kabupaten Situbondo, merupakan salah satu daerah yang kini juga turut berupaya untuk mengenalkan batik khas mereka dengan ciri khasnya yang berupa motif kerang dan biota laut. Salah satu daerah penghasil batik khas Situbondo terletak di desa Selowogo, kecamatan Bungatan. Batik Selowogo telah ditetapkan sebagai seragam dinas PNS Kabupaten Situbondo. Penelitian ini akan mendeskripsikan tentang motif khas dan makna Batik Selowogo. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Prosedur pengumpulan data menggunakan tiga metode yang meliputi: observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data berupa reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan dengan peningkatan ketekunan dan triangulasi sumber serta triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Batik Selowogo memiliki motif khas yang berjumlah 14 buah, yang meliputi motif Tale Percing, Ler-keleran, Kerang Gempel, Jala Samudera, Baluran Menunggu, Penggir Sereng, Gelang-gelang Bahari, Kerang Bertopeng, Binggel Manik, Sonar Are, Tri Angel, Sonar Bulan, Pasti Waras, dan Malathe Sato’or, (2) Motif Batik Selowogo mempunyai ciri khas hasil alam berupa kerang sejenis kerang kijing dan keong sumpil serta biota laut berupa alga hijau dan terumbu karang, (3) Inspirasi dan makna dari motif khas Batik Selowogo, rata-rata melukiskan kondisi Situbondo, jika dilihat dari berbagai aspek, antara lain: kondisi geografis, budaya masyarakat serta adanya motif yang mengajarkan tentang budi luhur. Adapun motif yang termasuk dalam aspek kondisi geografis meliputi: Penggir Sereng, Baluran Menunggu, Pasti Waras. Aspek budaya masyarakat meliputi: Tale Percing, Jala Samudera, Binggel Manik, Gelang-gelang Bahari. Aspek ajaran budi luhur meliputi: Kerang Gempel, Kerang Bertopeng, Sonar Are, Tri Angel, Ler-keleran,Sonar Bulan, Malathe Sato’or. Saran yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah: (1) Pemerintah Kabupaten Situbondo perlu mendaftarkan hak paten masing-masing motif khas Batik Selowogo, (2) Pemerintah Kabupaten Situbondo perlu melakukan pendokumentasian masing-masing motif khas dan makna Batik Selowogo, misalnya dengan membuat buku-buku atau brosur dan membuat blog atau website untuk mengenalkan motif Batik Selowogo kepada masyarakat luas
Studi Tentang Faktor Penetapan Muatan Lokal Pada Program Studi Tata Busana di SMK Negeri Se Malang raya
ABSTRAK Suciati, Insani. 2014. Studi Tentang Faktor Penetapan Muatan Lokal Pada Program Studi Tata Busana di SMK Negeri se Malang Raya. Skripsi Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Nurul Aini, M.Pd (II) Dra. Agus Hery Supadmi. I, M.Pd. Kata Kunci: Faktor Penetapan, Muatan Lokal. SMK merupakan salah satu bagian dari pendidikan di Indonesia berdasarkan jenjang pendidikan. Salah satu komponen pendidikan yang sangat penting adalah kurikulum. Kurikulum pendidikan dasar dan menengah termasuk SMK dikembangkan sesuai dengan relevansi oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan. Pada kurikulum KTSP wajib memuat Muatan Lokal. Mata pelajaran Muatan Lokal tidak mempunyai Standard Kompetensi dan Kompetensi Dasar, sehingga sekolah harus membuat dan mengembangkan sendiri untuk mata pelajaran Muatan Lokal sehingga setiap sekolah mempunyai mata pelajaran Muatan Lokal yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor penetapan Muatan Lokal dalam hal ini faktor internal dan eksternal pada Program Studi Tata Busana di SMK Negeri se Malang raya. Rancangan penelitiannya adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian menggunakan keseluruhan populasi atau sampel jenuh. Penelitian dilakukan di 5 SMK Negeri se Malang Raya dengan jumlah responden sebanyak 6 orang dengan 12 jenis Mata Pelajaran Muatan Lokal. Instrumen penelitian berupa angket tertutup. Uji validitas menggunakan validitas konstruk dan uji reliabilitas menggunakan test retest. Hasil analisis dengan teknik analisis data statistik deskriptif dengan hasil berbentuk persentase. Berdasarkan hasil analisis data dari faktor internal dapat diketahui bahwa (a) faktor tujuan sangat berpengaruh dengan persentase 100%, (b) faktor kompetensi pendidik berpengaruh dengan persentase 58,3%, (c) faktor karakteristik peserta didik sangat berpengaruh dengan persentase 50%, dan (d) faktor sarana dan prasarana sangat berpengaruh dengan persentase 75%. Hasil analisis data dari faktor eksternal dapat diketahui bahwa (a) faktor keadaan daerah berpengaruh dengan persentase 58,3% dan kebutuhan daerah sangat berpengaruh dengan persentase 66,7%. Kesimpulan penelitian ini adalah: pertama, faktor internal yang sangat berpengaruh dalam menetapkan Muatan Lokal yaitu faktor tujuan, sarana dan prasarana, dan karakteristik peserta didik. Faktor internal yang berpengaruh yaitu faktor kompetensi pendidik. Kedua, faktor eksternal yang sangat berpengaruh dalam menetapkan Muatan Lokal yaitu faktor kebutuhan daerah. Faktor eksternal yang berpengaruh yaitu faktor keadaan daerah. Saran pada penelitian ini adalah sebaiknya dalam menetapkan mata pelajaran Muatan Lokal sekolah perlu memperhatikan faktor keadaan daerah, karena dengan memperhatikan keadaan daerah dapat menggali potensi daerah yang ada sehingga dapat mendukung tercapainya tujuan dari Muatan Lokal
Survei Tingkat Kepuasan Mahasiswa pada Ketersediaan Sarana Prasarana Pendidikan di Jurusan Teknologi Industri Pendidikan Tata Busana
ABSTRAK Sayekti, Nika Sovia. 2014. Survei Tingkat Kepuasan Mahasiswa pada Ketersediaan Sarana Prasarana Pendidikan di Jurusan Teknologi Industri Pendidikan Tata Busana. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Sri Eko Puji Rahayu, M. Si, (II) Dra. Endang Prahastuti, M. Pd. Kata Kunci : kepuasan, sarana prasarana pendidikan Sarana prasarana pendidikan merupakan salah satu sumber daya yang penting dan utama dalam menunjang proses pembelajaran. Kurang terpenuhinya sarana prasarana di progran studi pendidikan tata busana selain akan menghambat proses belajar mengajar juga akan berpengaruh pada kepuasan mahasiswa. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan kepuasan mahasiswa pada sarana prasarana pendidikan di Jurusan Teknologi Industri Prodi pendidikan Tata Busana Universitas Negeri Malang angkatan tahun 2010 dan 2011. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan teknik sampling stratifikasi, penentuan jumlah sampel menggunakan formula empiris. Instrumen yang digunakan angket. Berdasarkan penelitian, diperoleh hasil: (1) sarana perabot dengan persentase 52,38% tergolong dalam klasifikasi puas, (2) sarana peralatan pendidikan dengan persentase 72,62% tergolong dalam klasifikasi puas, (3) sarana media pendidikan dengan persentase 51,19% tergolong dalam klasifikasi puas, (4) sarana buku dan sumber belajar lain dengan persentase 67,86% tergolong dalam klasifikasi kurang puas, (5) sarana bahan habis pakai dengan persentase 85,71% tergolong dalam klasifikasi kurang puas, (6) sarana perlengkapan lain yang diperlukan dengan persentase 57,14% tergolong dalam klasifikasi puas, sedangkan hasil penelitian kepuasan mahasiswa pada prasarana pendidikan diperoleh hasil: (1) prasarana lahan dengan persentase 71,43% tergolong dalam klasifikasi kurang puas, (2) prasarana ruang kelas dengan persentase 64,29% tergolong dalam klasifikasi kurang puas, (3) prasarana ruang pimpinan perguruan tinggi dengan persentase 80,95% tergolong dalam klasifikasi puas, (4) prasarana ruang dosen dengan persentase 61,90% tergolong dalam klasifikasi puas, (5) prasarana ruang tata usaha dengan persentase 52,38% tergolong dalam klasifikasi puas, (6) prasarana ruang perpustakaan dengan persentase 71,43% tergolong dalam klasifikasi kurang puas, (7) prasarana ruang laboratorium dengan persentase 80,95% tergolong dalam klasifikasi puas, (8) prasarana ruang kantin dengan persentase 70,24% tergolong dalam klasifikasi kurang puas. Berdasarkan hasil penelitian tentang kepuasan mahasiswa pada sarana prasarana pendidikan menunjukkan, hampir seluruh mahasiswa (71,43%) menyatakan puas dengan sarana dan prasarana yang disediakan di jurusan Teknologi Industri program studi pendidikan Tata Busana Universitas Negeri Malang
Faktor Pertimbangan Wanita Dewasa pada Pembelian Produk Busana Wanita untuk Kesempatan Rekreasi (Di Kelurahan Lesanpuro Kecamatan Kedungkandang Malang)
ABSTRAK Rosidah. 2014. Faktor Pertimbangan Wanita Dewasa Pada Pembelian Produk Busana Wanita Untuk Kesempatan Rekreasi (di Kelurahan Lesanpuro Kecamatan Kedungkandang Malang). Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Tata Busana, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Rosanti Rosmawati, M.Sn., (II) Agus Sunandar, S.Pd., M.Sn. Kata Kunci: Faktor Pertimbangan Pembelian Produk, Wanita Dewasa, Busana Kesempatan Rekreasi Wanita dewasa awal termasuk dalam kriteria yang memiliki minat tinggi dalam memperhatikan penampilan, mereka suka melakukan kegiatan rekreasi di luar ruangan dan hal tersebut menjadi kesempatan bagi mereka untuk menonjolkan daya tariknya dengan cara memperhatikan penampilan mereka, diantaranya pemilihan pakaian dan make up. Kondisi tersebut bisa menjadi sebuah peluang bagi pihak pemasar produk busana, terlebih lagi ketika mereka mampu melihat potensi wilayah yang bagus sebagai tempat didirikannya penyedia produk busana. Salah satu wilayah yang memiliki potensi bagus sebagai tempat pemasaran produk adalah Wilayah Kelurahan Lesanpuro Kecamatan Kedungkandang Malang, karena wilayah tersebut ramai dan menurut BPS, wilayah tersebut termasuk dalam kriteria perkotaan. Hal yang perlu diperhatikan lagi oleh pihak pemasar adalah faktor yang menjadi pertimbangan wanita dewasa pada pembelian produk busana, khususnya mengenai atribut produk yang meliputi desain yang dalam penelitian ini disebut sebagai mode, harga, kualitas, merek, dan label. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor pertimbangan wanita dewasa pada pembelian produk busana wanita untuk kesempatan rekreasi di Kelurahan Lesanpuro Kecamatan Kedungkandang Malang. Penelitian ini tergolong penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian berjumlah 1.685 jiwa (terdiri dari wanita dewasa usia 21 tahun sapai dengan 30 tahun), menggunakan sampel sejumlah 94 responden, dan teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuisioner, menggunakan skala pengukuran likert, pengolahan data menggunakan bantuan SPSS version 16.0 for windows, dan menggunakan analisis deskriptif. Hasil analisis data menunjukkan, untuk atribut mode, 54,3% responden setuju dan 41,5% responden tidak setuju apabila atribut mode menjadi pertimbangan pembelian produk busana untuk kesempatan rekreasi. Sejumlah 73,4% responden setuju dan 8,5% responden tidak setuju apabila harga menjadi pertimbangan dalam pembelian produk busana rekreasi. Responden yang menyatakan tidak setuju apabila kualitas menjadi pertimbangan pembelian produk busana rekreasi sejumlah 4,3% dan yang menyatakan setuju sejumlah 53,2%. Pernyataan responden tentang atribut merek menjadi pertimbangan pembelian adalah 51,1% responden setuju dan 35,1% responden tidak setuju. Sejumlah 62,7% responden setuju dan 24,5% responden tidak setuju apabila atribut label menjadi pertimbangan dalam pembelian produk untuk kesempatan rekreasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan, atribut produk (mode, harga, kualitas, merek, dan label) menjadi pertimbangan wanita dewasa awal di Kelurahan Lesanpuro Kecamatan Kedungkandang Malang dalam melakukan pembelian produk busana untuk kesempatan rekreasi. Sehingga, bagi pihak penyedia produk atau pemasar, hendaknya selalu memperhatikan atribut produk tersebut, supaya mampu meningkatkan penjualan dan menjaga kepuasan konsumen
Pembuatan Prototipe Kamus Visual Tematik untuk Mata Pelajaran “Fashion Drawing” SMK Progam Studi Keahlian Busana Butik
ABSTRAK Husnah, Helwa Zia. 2013. Pembuatan Prototipe Kamus Visual Tematik untuk Mata Pelajaran “Fashion Drawing” SMK Progam Studi Keahlian Busana Butik. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Tata Busana, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Dwi Astuti Sih Apsari, M. Kes., (II) Dra. Agus Hery Supadmi Irianti, M. Pd. Kata kunci: pembuatan, prototipe kamus visual tematik, fashion drawing, program studi keahlian busana butik Tidak dipungkiri bahwa beberapa mata pelajaran yang disajikan pada SMK program studi keahlian Busana Butik mulai dari kelas X hingga kelas XII misalnya Membuat Pola (pattern making), Membuat Busana Pria dan Wanita serta Busana Anak selalu terkait dengan desain. Mata pelajaran tersebut saling terkait karena pada saat memproduksi suatu produk busana, hal yang pertama kali dilakukan adalah membuat desain. Oleh karena itu, disajikan pula mata pelajaran Fashion Drawing (menggambar busana) untuk menunjang pengetahuan dan keterampilan siswa dalam menggambar busana. Buku atau kamus fashion yang beredar di toko-toko buku sangat banyak, tebal, berukuran besar dan menyajikan kosa kata umum namun belum bergambar. Jika bergambar, menurut pengamatan peneliti gambar yang disajikan belum berwarna, sehingga kurang menarik. Selain itu, kamus fashion yang tersedia biasanya juga memuat istilah-istilah accessories dan milinaries. Sedangkan kamus yang menyajikan istilah Fashion Drawing khusus untuk kebutuhan siswa SMK kelas X (tingkat dasar) selama ini belum ada. Penelitian ini bertujuan untuk membuat Prototipe Kamus Visual Tematik untuk mata pelajaran Fashion Drawing kelas X program studi keahlian Busana Butik yang tervalidasi kelayakannya, sehingga dapat digunakan siswa belajar mandiri dalam memahami istilah pada mata pelajaran Fashion Drawing. Pembuatan kamus ini menggunakan model pengembangan Borg & Gall dengan langkah-langkah (1) Research and information collection; (2) Planning; (3) Develop premliminary from of product; (4) Preliminary field testing; (5) Main product revision; (6) Main field testing; (7) Operational product revision; (8) Operational field testing; (9) Final product revision; (10) Dissemination and implementation. Penelitian ini dilakukan hanya sampai pada langkah main product revition tanpa melalui tahap uji coba siswa (pengguna) dengan alasan karena peneliti merupakan peneliti pemula. Pada saat penelitian dan pengumpulan data (research and information collection) peneliti melakukan pengukuran kebutuhan, studi literatur dan penelitian kecil berupa survei yang dilakukan ketika menempuh PPL. Berdasarkan kegiatan tersebut, kemudian dilakukan perencanaan (planning) yang dilanjutkan dengan pembuatan draf prototipe kamus visual tematik. Validasi kamus dilakukan dua tahap dengan melibatkan validator dari Universitas Negeri Malang dan pada tahap validasi ke-2 peneliti menambahkan guru “Fashion Drawing” sebagai penilai produk karena kamus tersebut juga dapat digunakan sebagai tambahan referensi ketika mengajar. Prototipe Kamus Visual Tematik “Fashion Drawing” ini telah memenuhi kriteria kelayakan dari segi materi, bahasa dan desain. Namun karena peneliti menerima saran terbuka dari para validator, terdapat beberapa revisi sebagai acuan dalam perbaikan produk. Kamus menyajikan beberapa tema yakni (1) Desain; (2) Jenis Desain; (3) Unsur Desain; (4) Prinsip Desain; (5) Bentuk Bagian-bagian Busana; (6) Perbandingan Tubuh; (7) Rangka Balok dan Rangka Ellips; (8) Alat dan Bahan dalam Mendesain; (9) Busana Wanita Sesuai Kesempatan; (10) Penyelesaian Gambar. Kamus dicetak menggunakan jenis kertas B5, dengan margin (top: 2cm, left: 3cm, right: 2cm, dan bottom: 2cm), desain full colour. Cover didesain dengan background warna hitam, dilaminasi dan dijilid langsung. Kamus yang telah disusun belum diuji cobakan kepada siswa sebagai pengguna, oleh karenanya disarankan untuk dilakukan pengujian terhadap kamus tersebut dan melanjutkan langkah-langkah pengembangan sesuai model pengembangan Borg & Gall
Kesiapan Siswa SMK Negeri 3 Malang dalam Menghadapi Ujian Kompetensi Kejuruan (UKK)
ABSTRAK Noor, Hafrida. 2014. Kesiapan Siswa SMK Negeri 3 Malang Dalam Menghadapi Ujian Kompetensi Kejuruan (UKK). Skripsi, Program Studi Pendidikan Tata Busana, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Idah Hadijah, Mpd (2) Dra. Esin Sintawati, Mpd. Kata Kunci: Kesiapan Siswa, Ujian Kompetensi Kejuruan (UKK) Kesiapan adalah keseluruhankondisiseseorang yang membuatnyasiapuntukmemberirespon/ jawabandengancaratertentuterhadapsuatusituasi yang harusdicapaiolehsiswauntukdapatmenerimasuatupelajaranbaru, mencakupkesiapanataspenguasaanketerampilan-keterampilan yang lebihsederhanasebagaisyaratawal agar dapatmencapaitingkatan/ keterampilan yang lebihtinggi. sehingga dalam menghadapi Uji Kompetensi Kejuruan (UKK), siswa SMK Negeri 3 Malang perlu memiliki kesiapan berdasarkan kesiapan mental, kesiapan fisik, dan kesiapan materi (pengetahuan dan keterampilan siswa). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesiapan mental siswa kls XII dalam menghadapi ujian kompetensi kejuruan bidang keahlian Tata Busana di SMK Negeri 3 Malang tahun ajaran 2013/2014. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian dilakukan di SMKNegeri 3 Malang dan Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII program keahlian Tata Busana dengan jumlah populasi 90 siswa. Uji validitas dalam penelitian ini menggunakan validitas konstruk. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner (angket) tertutup. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif dengan persentase. Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa kesiapan siswa SMKNegeri 3 Malang tahun ajaran 2013/2014 dalam menghadapi uji kompetensi kejuruan (UKK) sebagai berikut: (1) kesiapan mental siswa dalam menghadapi ujian kompetensi kejuruan sejumlah 55% dinyatakan siswa siap dalam menghadapi UKK. (2) kesiapan fisik siswa dalam menghadapi ujian kompetensi kejuruan sejumlah 55% dinyatakan siswa siapn dalam menghadapi UKK. (3) kesiapan materi (pengetahuan dan keterampilan) siswa dalam menghadapi ujian kompetensi kejuruan sejumlah 57% diyatakan siswa siap dalam menghadapi UKK. (4) kesiapan siswa secara keseluruhan dalam menghadapi ujian kompetensi kejuruan (UKK) sejumlah 53% diyatakan siap dalam menghadapi UKK. Saran yang terkait dengan kesimpulan (1) Sebagian besar siswa siap dalam menghadapi UKK, siswa harus mempersiapkan semua kondisi semaksimal mungkin untuk pelaksanaan uji kompetensi kejuruan agar berjalan dengan lancar dan mendapatkan hasil yang lebih baik dan meningkatkan kemampuan profesionalnya dalam menghadapi uji kompetensi kejuruan sehingga akan memberi kesiapan mental yang optimal. (2) Bagi lembaga diharapkan lebih meningkatkan pembelajaran yang intensif lagi, tanpa ada kesiapan hasil belajar siswa tidak akan baik. namun, jika siswa sudah siap maka hasil belajar akan lebih baik
SURVEI MASA TUNGGU PADA ALUMNI SI PENDIDIKAN TATA BUSANA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI MALANG ANGKATAN 2007
ABSTRAK Hidayati, Arinanda Dyah. 2014. Survei Masa Tunggu Pada Alumni SI Pendidikan Tata Busana Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang.Skripsi, Program StudiPendidikanTata Busana, Fakultas Teknik, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: Dra. Esin Sintawati, M.PddanDra. Rosanti Rosmawati, M.Sn. Kata kunci :Masa Tunggu Alumni Pada era globalisasi yang serba kompetitif di berbagai bidang kehidupan, dunia kerja masih sangat penting dan masih dibutuhkan keberadaannya. Pendidikan dianggap sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Namun dalam kenyataannya, pendidikan juga dianggap berkaitan erat dengan masa tunggu seseorang dalam mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya. Pertumbuhan angkatan kerja terbilang masih relatif tinggi, sedangkan lapangan pekerjaan atau lowongan pekerjaan yang tersedia terbatas. Itulahyang menyebabkan terjadinya masa tunggu. Tujuanpenelitianiniadalahuntuk mengetahuimasa tunggu alumni SI Pendidikan Tata Busana angkatan 2007 Universitas Negeri Malang.Penelitianinitermasukdalamjenispenelitiankuantitatif, populasi penelitian ini adalah seluruh alumni 2007 program studi SI Pendidikan TataBusana Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang, yang berjumlah 46 responden. Teknik penarikan sampel menggunakan sampel jenuh yang artinya sebagai teknik penentuan sampel bila anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hasilpenelitiandiketahuibahwaalumni terbanyak lulus pada tahun 2011/2012 semester gasal dengan lama pendidikan 9 semester, dengan lama masa tunggu tercepat 0 bulan dantermasuk pada harkat dan peringkat sangat baik dan terlama alumni mengalami masa tunggu selama lebih dari 3 tahun. Kegiatan yang dilakukan alumni selama masa tunggu dengan berusaha mencari pekerjaan di perusahaan Negeri/Swasta dan membuka usaha sendiri. Usaha yang dilakukan alumni untuk mendapatkan pekerjaan dengan melamar pekerjaan diberbagai perusahaan/instansi. Apabila alumni telah melakukan berbagai macam usaha maka alumni dapat membuka usaha diberbagai bidang atau jasa. Alasan terjadinya masa tunggu pada alumni karena tidak adanya lowongan pekerjaan yang tersedia. Pendidikan yang tinggi lebih memudahkan alumni dapat memilih pekerjaan yang diminati. Peran almni sangatlah penting dalam memberikan informasi untuk mendapatkan pekerjaan, maka di sarankan Ikatan Alumni lebih banyak memberikan informasi tentang lapangan pekerjaan atau lowongan pekerjaan
STUDI TENTANG TINGKAT KESULITAN PEMBUATAN JAS WANITA DI SMK NEGERI 5 MALANG
ABSTRAK Ipmawati, Nafiisah, Siti. 2012. Studi Tentang Tingkat Kesulitan Pembuatan Jas Wanita di SMK Negeri 5 Malang. Skripsi. Jurusan Teknologi Industri. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Nur Endah Purwaningsih, M.Pd, (II) Dra. Dwi Astuti Sih Apsari, M.Kes. Kata Kunci: Jas Wanita, Tingkat Kesulitan, Pembuatan Jas Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik untuk bekerja dalam bidang tertentu. Dalam kurikulum SMK terdapat kumpulan mata diklat adaptif, normatif, dan produktif. Ketiga kompetensi tersebut dirancang guna membentuk siswa yang terampil. Guru yang dapat membimbing dan mengarahkan siswa sangat diperlukan untuk mencapai tujuan pendidikan dan membentuk serta mengembangkan kemampuan siswa. Dalam pelaksanaan pembelajaran, seorang guru akan berusaha agar apa yang diajarkan dapat dipahami oleh siswa dan siswanya dapat mencapai hasil belajar yang sebaik-baiknya. Dalam pelaksanaan pembelajaran di dalam kelas akan ditemui sejumlah hambatan dan kesulitan yang dialami oleh siswa. Mata diklat membuat busana wanita 2 merupakan salah satu mata diklat produktif yang ada pada Program Keahlian Busana Butik di SMK Negeri 5 Malang. Dalam mata diklat membuat busana wanita 2 siswa diberikan kompetensi membuat jas wanita. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan pada siswa kelas XI PK Busana Butik SMK Negeri 5 Malang yang telah mengikuti mata pelajaran Membuat Busana Wanita 2, berjumlah 45 siswa, mengatakan bahwa kompetensi membuat jas wanita merupakan kompetensi yang sulit. Selain itu berdasarkan diskusi yang dilakukan dengan guru yang mengajar kompetensi membuat jas wanita, mengatakan bahwa banyak siswa mengalami kesulitan dalam membuat jas wanita. Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui tingkat kesulitan pembuatan jas wanita di SMK Negeri 5 Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dengan subjek penelitian siswa kelas XI 2 Program Keahlian Busana Butik SMK Negeri 5 Malang sebanyak 30 siswa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket dan lembar observasi. Instrumen angket ini diuji validitas dengan rumus korelasi Product Moment dan dinyatakan valid, uji reliabilitas dengan menggunakan rumus Alpha dan dinyatakan reliabel dengan nilai Alpha sebesar 0.959. Hasil penelitian ini menunjukkan tingkat kesulitan pembuatan jas wanita di SMK N 5 Malang dinyatakan berada dalam tingkat tidak sulit oleh 47,2% siswa. Tingkat kesulitan paling dominan terletak pada pembuatan pola dan menjahit jas wanita, adapun letak kesulitan tersebut adalah sebagai berikut; membuat pecah pola badan. Membuat rancangan bahan. Memotong bahan utama. Melakukan pengepresan interlining pada badan muka. membuat lubang kancing passepoille, saku klep, memasang kerah, memasang lengan, penyelesaian leingkar kerung lengan dengan sum dalam. Proses trimming/bersih benang dan pengepresan akhir