SKRIPSI Jurusan Tata Busana - Fakultas Teknik UM
SKRIPSI Jurusan Tata Busana - Fakultas Teknik UMNot a member yet
632 research outputs found
Sort by
SURVEI MASA TUNGGU DAN KETERSERAPAN ALUMNI PADA LAPANGAN PEKERJAAN
ABSTRAK Wulansari, S. 2013. Survei Masa Tunggu Dan Keterserapan Alumni Pada Lapangan Pekerjaan. Program Studi S1 Pendidikan Tata Busana. Jurusan Teknologi Industri. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sri Eko Puji Rahayu, M. Si., (II) Dra. Nurul Aini, M. Pd. Kata Kunci: Survei, Alumni, Masa Tunggu, Keterserapan Pekerjaan, Survei masa tunggu dan keterserapan alumni pada lapangan pekerjaan merupakan pencarian lamanya masa tunggu alumni untuk memperoleh pekerjaan setelah lulus dan keterserapan alumni pada lapangan pekerjaan apakah sesuai dengan area okupasi dari program studi D3 Tata Busana. Survei masa tunggu dan keterserapan alumni pada lapangan pekerjaan bertujuan memperoleh data mengenai masa tunggu dan keterserapan alumni pada lapangan pekerjaan program studi D3 Tata Busana angkatan tahun 2005 s/d tahun 2007 yang dapat dipergunakan bagi penilaian terhadap kualitas program studi. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Penelitian dilakukan pada alumni mahasiswa program studi D3 Tata Busana angkatan tahun 2005 s/d tahun 2007 sebanyak 96 mahasiswa. Instrumen penelitian yang digunakan berupa angket terbuka dan angket tertutup. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masa tunggu alumni dimulai dari: (1) jumlah alumni yang telah lulus angkatan 2005 s/d 2007 sebanyak 96 orang (85,00%) dari 110 orang mahasiswa yang terdaftar; (2) pertamakali alumni bekerja bekerja sebelum lulus sebanyak 38 orang (39,58%), dan yang bekerja sesudah lulus sebanyak 53 orang (55,20%) sedangkan 5 orang (5,20%) tidak bekerja; dan (3) jarak waktu atau masa tunggu bekerja alumni setelah lulus mencapai (83,01%) atau sebanyak 44 orang dengan masa tunggu 0-5 bulan yang dikriteriakan sangat baik. Keterserapan alumni pada lapangan pekerjaan dibedakan menjadi 2 meliputi: 1) pekerjaan sekarang sebanyak 50 orang (45,04%) bekerja sebagai pengelola usaha busana sekaligus pemilik atau owner; dan 2) Jabatan pekerjaan alumni sebanyak 69 orang (62,16%) sebagai pemilik atau pengelola. Kesimpulan peneliti: 1) sebanyak 38 alumni yang ternyata telah mendapatkan pekerjaan sebelum mereka menyelesaikan masa studi D3; 2) sebanyak 38 mahasiswa program studi D3 Tata Busana di Universitas Negeri Malang angkatan tahun 2005 s/d 2007 telah bekerja sebelum lulus; 3) mayoritas (83,01%) atau sebanyak 44 alumni memerlukan masa tunggu untuk memperoleh pekerjaan selama kurang dari 6 bulan, hal tersebut tergolong sangat baik
STUDI TENTANG MOTIF BATIK PROBOLINGGO DI PAGUYUBAN KIPRO KOTA
ABSTRAK Yolanda, R.A. Astri Novitasari. 2014. Studi Tentang Motif Batik Probolinggo di Paguyuban KIPRO Kota. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Agus Sunandar, S.Pd, M.M, (II) Dra. Sri Eko Puji Rahayu, M.Si. Kata Kunci: Batik, Motif Batik, KIPRO Kota Batik merupakan kebudayaan asli Indonesia yang memiliki nilai seni dan budaya yang tinggi. Pengakuan batik sebagai hasil budaya asli Indonesia telah diakui dan disahkan oleh dunia khususnya oleh UNESCO. Motif-motif batik pada zaman dahulu diciptakan oleh Raja beserta keluarganya, sehingga mengandung makna dan filosofi yang tersimpan secara mendalam. Kota Probolinggo merupakan salah satu kota yang memiliki seni tradisi membatik dengan karakteristik sendiri dan KIPRO Kota merupakan wadah atau Paguyuban dimana pembatik-pembatik di Kota Probolinggo berkumpul untuk menuangkan ide dalam pembuatan batik khas Probolinggo. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Prosedur pengumpulan data menggunakan metode observasi (pengamatan), wawancara, dan dokumentasi. Analisis data ada tiga langkah yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data menggunakan triangulasi sumber data, dan teknik, peningkatan ketekunan dan perpanjangan pengamatan. Berdasarkan temuan peneliti di lapangan diperoleh data: (1) motif khas batik Probolinggo adalah motif buah Mangga dan Anggur, atau biasanya ada juga yang dijadikan satu menjadi satu desain sehingga banyak yang menyebutnya dengan motif Manggur; (2) motif batik Probolinggo yang terinspirasi dari flora yaitu motif Daun Mangga, Daun Anggur, Bunga Seribu Taman, dan Bunga Teratai; (3) motif batik Probolinggo yang terinspirasi dari fauna yaitu, motif Ikan, Kupu-kupu, dan Ayam Bekisar; (4) motif batik Probolinggo lain yang terinspirasi dari kegiatan dan keadaan alam yang ada di Probolinggo yaitu, motif Angin, Penjor, dan Kali Banger. Saran yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah; (1) lebih mengembangkan lagi keragaman motif flora dan faunanya agar semakin banyak lagi motif-motif yang ada, jika perlu mendatangkan langsung ahli desain batik yang bisa memberikan masukan dan melatih para pembatik-pembatik yang ada di KIPRO Kota; (2) segera mengurus HaKI (Hak atas Kekayaan Intellektual) dengan mengidentifikasi semua motif batik Probolinggo yang ada di wilayah Kota Probolinggo, khususnya di Paguyuban KIPRO Kota, sehingga mendapatkan perlindungan HaKI; (3) upaya untuk mempertahankan makna dan perlambang yang ada didalamnya, sedangkan untuk motif batik tulis Probolinggo lebih mempertahankan ciri khas khusus yaitu, tidak menghilangkan unsur yang menjadi ciri khas motif batik tulis Probolinggo;(4) upaya untuk mengembangkan warna pada batik Probolinggo agar lebih beragam; (5) hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan atau pijakan untuk mengembangkan penelitian selanjutnya khususnya di Paguyuban KIPRO Kota
Studi tentang motif Ampiek (batik) Kalimantan Timur
ABSTRAK Solikhah, Meilani Nurdyana. 2014. Studi tentang Motif Ampiek (Batik) Kalimantan Timur. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Rosanti Rosmawati M,Sn, (II) Dra. Sri Eko Puji Rahayu, M.Si. Kata Kunci: Batik, Motif Ampiek Batik merupakan salah satu kekayaan yang dimiliki Indonesia salah satunya dari daerah Kalimantan Timur. Daerah ini juga mempunyai batik yang tidak kalah uniknya dengan batik-batik yang berasal dari daerah Jawa. Batik Kalimantan Timur disebut juga dengan istilah Ampiek. Motif yang tertuang pada kain batik Kalimantan Timur biasanya menggambarkan budaya masyarakatnya, beberapa diantaranya khas kebudayaan suku Dayak seperti bunga-bungaan, telabang atau tameng, lamin atau rumah adat Kalimantan Timur, dan perahu khas Kalimantan Timur. Peneliti ingin menggali dan melengkapi tentang motif tradisional Ampiek, makna perlambang motif dan warna tradisional Ampiek, serta perkembangan motif dan warna Ampiek di Kalimantan Timur. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Prosedur pengumpulan data menggunakan metode observasi (pengamatan), wawancara, dan dokumentasi. Analisis data ada tiga langkah yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data menggunakan triangulasi sumber data, dan teknik, peningkatan ketekunan dan perpanjangan pengamatan. Hasil penelitian yang diperoleh peneliti Ampiek Kalimantan Timur mulai dikenal pada tahun 1984. Ibu Agustien adalah pemilik Pondok Busana Mitaka, perusahaan pertama yang memulai karirnya di bidang batik dengan motif dayak. Awalnya hanya untuk mengikuti lomba body painting yang diadakan oleh pakar kecantikan yang didatangkan dari Jakarta dengan tema Putri Dayak Kenyah dan Burung Enggang. Beliau meminta Bapak Supriadi untuk melukis badan putri beliau dengan motif dayak kenyah, kemudian muncul keinginan untuk meletakkan motif dayak tersebut pada selembar kain yang sekarang disebut dengan batik. Makna perlambang motif Ampiek Kalimantan Timur memiliki nilai pesan ikatan batin yang kuat antara manusia (Udo) dengan naga yang terdapat pada motif Udo Asok, Lambang kesetiaan terdapat pada motif Asok, menjaga keselamantan terdapat pada motif Mibing, menghindarkan dari roh-roh jahat terdapat pada motif Mibing dan Bening Aban sedangkan motif Pucuk Rebung melambangkan kekuatan dari dalam. Makna perlambang dari warna Ampiek Kalimantan Timur adalah warna merah diambil dari warna darah yang bermakna kehidupan, warna kuning yang bermakna kesuburan, kebesaran, dan kemakmuran, dan warna hitam memiliki makna keanggunan dan magis. Perkembangan motif Ampiek Kalimantan Timur bisa dilakukan dengan cara mencampurkan antara motif suku Dayak dengan Suku Jawa atau antara suku Dayak dengan suku Dayak lainnya. Warna dari Ampiek Kalimantan Timur sudah berkembang tidak hanya menggunakan warna tradisionalnya saja tetapi semakin beragam warnanya, walaupun begitu biasanya salah satu dari warna tradisional tetap dimasukkan. Saran yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah bagi Dinas Perindustrian dan Perdagangan sebaiknya memiliki data-data penting tentang Ampiek Kalimantan Timur, motif Ampiek Kalimantan Timur dipaten¬kan oleh pemerintah daerah setempat, sehingga mendapatkan perlindungan HKI (Hak atas Kekayaan Intellektual) dan menjadi salah satu aset budaya daerah Kalimantan Timur yang dapat terus dilestarikan. Bagi Pengrajin Ampiek sebaiknya hasil karya yang telah dimiliki oleh Ampiek Kalimantan Timur didokumentasikan dan dibukukan agar data-data penting yang sudah bertahun-tahun tidak hilang. Bagi masyarakat daerah lebih mencintai dan menghargai produk daerah sendiri seperti batik dengan cara memiliki dan menggunakan Ampiek Kalimantan Timur
STUDI PENGELOLAAN KEWIRAUSAHAAN UNIT PRODUKSI SANGGAR BUSANA DI JURUSAN TATA BUSANA SMK NEGERI 3 MALANG
ABSTRAK Celina, Emmalia. 2013. Studi pengelolaan Kewirausahaan Unit ProduksiSanggar Busana di Jurusan Tata Busana SMK Negeri 3 Malang. Skripsi,Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang.Pembimbing: (1) Dra. Idah Hadijah, M.Pd, (II) Dra. Nur EndahPurwaningsih, M.Pd Kata Kunci: Pengelolaan, Kewirausahaan, Unit Produksi Orientasi pendidikan SMK diarahkan ke arah kewirausahaan. Hal tersebutdikarenakan masih banyak lulusan SMK yang sebenarnya diharapkan dandipersiapkan untuk langsung bekerja, dan masalah lapangan pekerjaan masihterbatas, sehingga salah satu usaha di SMK dalam mata pelajaran kewirausahaanmenanamkan nilai-nilai kewirausahaan melalui pengelolaan kewirausahaan unitproduksi Sanggar Busana. Tujuan diadakan penelitian ini adalah: untuk mengetahui apakahpengelolaan kewirausahaan berdasarkan fungsi-fungsi manajemen, yaitu: (1)Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling telah dijalankan dengan baik diunit usaha Tata Busana SMK Negeri 3 Malang. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatankuantitatif. Prosedur penggumpulan data dalam penelitian ini menggunakanmetode: observasi, angket/kuesioner, wawancara dan dokumentasi. Respondenterdiri dari 4 guru tata busana dan 1 karyawan Sanggar Busana SMK Negeri 3Malang. Hasil penelitian tentang pengelolaan Kewirausahaan Unit Produksi TataBusana di Jurusan Tata Busana SMK Negeri 3 Malang didapatkan hasil padafungsi: Planning sebesar 95%, Organizing sebesar 98%, Actuating sebesar 94%,dan Controlling sebesar 94%. Kesimpulan dari penelitian ini pengelolaan yangdilakukan sudah dijalankan dengan sangat baik. Klasifikasi sangat baik tersebutdikuatkan dengan hasil observasi, wawancara dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi gambaran,masukan, serta informasi yang bermanfaat dalam rangka meningkatkan kualitaspendidikan. Disarankan bagi pengelola, supaya mendapatkan manfaat yang lebihoptimal baik dari sisi pelatihan siswa maupun omzet/keuntungan, untukmemperluas jaringan pemasarannya sehingga order/pesanan menjadi lebih banyaklagi, juga sebaiknya ditambahkan usaha lain di Sanggar Busana yang masihberhubungan dengan produksi atau jasa dalam bidang tata busana
Pengembangan Multimedia Interaktif Permutasi Bagian-bagian Busana Pada Mata Pelajaran Desain Busana Tingkat XI Tata Busana di SMK Negeri 3 Malang
ABSTRAK Iliani, Ana Isro. 2014. Pengembangan multimedia Interaktif Permutasi Bagian-Bagian Busana Pada Mata Pelajaran Desain Busana Tingkat XI Tata Busana Di SMK Negeri 3 Malang. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Hapsari Kusumawardani, M.Pd. (II) Dra. Idah Hadijah, M.Pd. Kata Kunci: Pengembangan, Multimedia Interaktif, Permutasi Bagian-bagian Busana. Materi mendiskripsikan bagian-bagian busana merupakan materi pokok dalam mata pelajaran desain busana. Muatan materi yang cukup banyak pada kurikulum 2013 hanya dialokasikan waktu 4 jam pelajaran. Media pembelajaran yang memuat materi yang lengkap dan bisa membantu siswa dalam mempelajari materi dengan mudah dan menyenangkan perlu diadakan untuk membantu pembelajaran, sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan hasil yang memuaskan. Tujuan daripada pengembangan media ini adalah untuk : (1) menghasilkan multimedia interaktif permutasi bagian-bagian busana untuk mata pelajaran desain busana Tingkat XI program keahlian tata busana, (2) mengetahui kelayakan media yang dikembangkan berdasarkan penilaian ahli dan responden siswa dan (3) mengetahui keefektifan media yang dikembangkan berdasarkan pencapaian hasil belajar siswa. Pengembangan media interaktif permutasi bagian-bagian busana didasarkan pada langkah-langkah pengembangan media menurut Sadiman yang terdiri dari 8 tahap yaitu: (1) identifikasi kebutuhan, (2) perumusan tujuan, (3) perumusan butir-butir materi, (4) perumusan alat pengukur, (5) penulisan naskah media, (6) test/uji coba, (7) revisi dan 8) naskah siap produksi. Kelayakan media yang dikembangkan dinilai oleh 5 orang ahli yang terdiri dari 2 dosen Pendidikan Tata Busana, Universitas Negeri Malang, satu guru Tata Busana, satu guru Tehnik Komputer Jaringan serta seorang ahli bahasa dari guru Bahasa Indonesia dari SMK Negeri 3 Malang. Penilaian didasarkan pada kelayakan isi dan kelayakan penyajian. Kelayakan media interaktif yang dikembangkan didasarkan pada pencapaian hasil belajar pada tahap uji coba meliputi uji perseorangan, uji kelompok kecil dan uji lapangan. Data yang dikumpulkan terdiri dari data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif berupa masukan dan saran yang diberikan oleh ahli maupun siswa untuk perbaikan media yang dikembangkan. Data kuantitatif terdiri dari skor hasil belajar siswa dan penilaian terhadap media yang dikembangkan dan diidentifikasi menggunakan angket. Hasil pengembangan media interaktif permutasi bagian-bagian busana menunjukkan bahwa: (1) media yang dikembangkan terdiri dari pendahuluan, materi dan penutup berupa quiz. Media dirancang untuk belajar mandiri dan dikemas dalam bentuk CD atau disimpan dalam soft file yang disimpan dalam flashdisk, (2) media layak dipergunakan dalam mata pelajaran desain busana pada Kompetensi Dasar mendiskripsikan bagian-bagian busana dan (3) media interaktif permutasi bagian-bagian busana efektif berdasarkan pencapaian hasil belajar. Kenaikan hasil belajar pada tahap uji perseorangan adalah sebesar 83%, pada tahap uji kelompok kecil sebesar 50% dan pada tahap uji lapangan sebesar 36 %. Berdasarkan hasil uji coba yang telah dilakukan, media ini disarankan kepada guru dan siswa tingkat XI Tata Busana untuk digunakan pada materi mendiskripsikan bagian-bagian busana
Tanggapan Siswa Kelas XI Tentang Penerapan Job Sheet Pada Mata Pelajaran Membuat Busana Wanita Jurusan Busana Butik SMK Negeri 2 Lumajang.
ABSTRAK Anggareta, Ruli. 2014. Tanggapan Siswa Kelas XI Tentang Penerapan Job Sheet Pada Mata Pelajaran Membuat Busana Wanita Jurusan Busana Butik SMK Negeri 2 Lumajang. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Anik Dwiastuti, S.T, M.T., (II) Nurul Hidayati, S.Pd, M.Sn. Kata Kunci: Tanggapan, Job Sheet, Mata Pelajaran Busana Wanita SMK Negeri 2 Lumajang merupakan salah satu lembaga pendidikan yang berada dalam koordinasi Dinas Pendidikan Kabupaten Lumajang. Job sheet sebagai salah satu variasi dalam media pembelajaran dicoba diterapkan pada siswa yang mengalami penurunan semangat belajar pada mata pelajaran produktif. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan atau memaparkan tentang tanggapan siswa kelas XI tentang penerapan job sheet dalam mata pelajaran membuat busana wanita di SMK Negeri 2 Lumajang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas XI busana butik tiga (3) tahun ajaran 2012/2013 yang mengikuti pembelajaran membuat busana kerja wanita semi tailoring dengan mengguakan job sheet sebanyak 24 siswa. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner atau angket yang berjumlah 28 soal. Angket ini diuji validitas dengan rumus korelasi Product Moment dan dinyatakan valid, sedangkan nilai Cronbach Alpha sebesar 0,945 dan dinyatakan sangat reliabel. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik deskriptif dengan persentase (%).Hasil penelitian ini menunjukkan 14 siswa mempunyai tanggapan sangat setuju dengan kinerja job sheet dengan persentase 58,3%. 23 siswa mempunyai tanggapan setuju dengan kelengkapan job sheet dengan persentase 95,8%. 15 siswa mempunyai tanggapan setuju dengan kesesuaian job sheet dengan persentase 62,5%. 12 siswa mempunyai tanggapan sangat setuju dan 12 siswa mempunyai tanggapan setuju dengan kualitas job sheet. Sebagai salah satu bentuk variasi pada proses belajar mengajar job sheet mendapat tanggapan yang baik oleh siswa. Siswa dapat mengikuti proses belajar membuat busana kerja wanita semi tailoring secara cepat, baik dan benar serta sesuai dengan langkah tertib kerja. Bagi guru diharapkan bisa membuat produk pembelajaran yang inovatif untuk siswa. Bagi sekolah diharapkan job sheet dapat diterapkan pada mata pelajaran lain dimana siswa mengalami kesulitan belajar teori dan praktek
STUDI PENCELUPAN KAIN KATUN MENGGUNAKAN EKSTRAKSI SABUT KELAPA DENGAN FIKSATOR CUKA, GULA BATU, DAN AIR KELAPA
ABSTRAK Dewi, Ratna Puspita. 2014. Studi Pencelupan Kain Katun Menggunakan Ekstraksi Sabut Kelapa Dengan Fiksator Cuka, Gula Batu dan Air Kelapa.Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Rosanti Rosmawati, M. Sn, (II) AnikDwiastuti, S.T, M.T. Kata Kunci: Pencelupan alami, sabut kelapa, fiksator cuka, gula batu dan air kelapa. Sabut kelapa merupakan bagian kulit buah kelapa yang dapat digunakan sebagai bahan pewarna alami, karena mengandung senyawa tannin group flavonoid yang bila direndam dalam air akan mengeluarkan warna coklat kemerahan yang diperoleh dari zat tanin tersebut, agar zat warna alam sabut kelapa dapat terserap dengan baik maka diperlukan bahan pembangkit seperti cuka, gula batu dan air kelapa. Fungsi bahan pembangkit selain untuk memperkuat daya serap zat warna kedalam kain adalah untuk mengetahui arah warna yang dihasilkan dari zat warna alam sabut kelapa.Metode observasi (pengamatan) dilakukan secara visual (organoleptik) untuk mengetahui dan menjelaskan hasil warna dari pencelupan dan perubahan warna sesuai fiksasi yang digunakan, serta kerataan warna kain. Menentukan perubahan arah warna digunakan daftar nama warna sesuai dengan kain yang digunakan yaitu kain katun dengan menggunakan standar nama warna colour card fabrics cotton. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Subjek penelitian ini adalah ekstraksi sabut kelapa yang digunakan sebagai pewarna alami untuk pencelupan kain katun. Obyek penelitian ini adalah kain dari hasil pencelupan ekstraksi sabut kelapa tanpa menggunakan fiksasi dan dengan menggunakan fiksasi cuka, gula batu dan air kelapa.Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, yaitu dengan memaparkan hasil pengamatan visual (organoleptik) kain hasil pencelupan ekstraksi sabut kelapa dengan menggunakan fiksasi cuka, gula batu dan air kelapa. Berdasarkan analisis data, hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Hasil warna pencelupan kain katun tanpa fiksasi membentuk gradasi warna, perubahan warna yang terjadi mendekati warna yarrow, berubah arah warna mendekati warna gold, hingga berubah mendekati warna spice (bagian warna coklat), pada pencelupan menit ke- 15 sampai menit ke- 75 kerataan warna kain hasil celupan masih terdapat sedikit belang, namun pada pencelupan ke- 90 sampai ke- 150 kerataan warna kain sudah tidak menunjukkan adanya warna belang pada bagian baik dan buruk kain, (2) Hasil warna pencelupan kain katun dengan fiksasi cuka membentuk gradasi warna, perubahan warna yang terjadi mendekati warna Lt.Parfait, berubah arah warna mendekati warna caramel, hingga berubah mendekati warna gold (bagian warna coklat). Kerataan warna kain pada pencelupan dan fiksasi ke- 1 sampai ke- 10 tidak terdapat warna belang pada bagian baik dan buruk kain katun, (3) Hasil warna pencelupan kain katun dengan fiksasi gula batu membentuk gradasi warna, perubahan warna yang terjadi mendekati warna Lt. Parfait, berubah arah warna mendekati warna wheat (bagian warna coklat). Kerataan warna kain pada pencelupan dan fiksasi ke- 1sampai ke- 10 tidak terdapat warna belang pada kain, (4) Hasil warna pencelupan kain katun dengan fiksasi air kelapa membentuk gradasi warna, perubahan warna yang terjadi mendekati warna Lt. Pafait, berubah arah warna mendekati warna wheat, hingga berubah mendekati warna caramel (bagian warna coklat). Kerataan warna kain pada pencelupan dan fiksasi ke- 1 sampai ke- 10 tidak terdapat warna belang pada kain. Kesimpulan dari kain hasil pencelupan menggunakan ekstraksi sabut kelapa terjadi perubahan arah warna yang berbeda-beda sesuai dengan fiksasi yang digunakan. Saran untuk penelitian selanjutnya dapat melakukan pengembangan pencelupan dengan variasi vlot, suhu, dan waktu, serta dapat menggunakan fiksasi yang berbeda dari penelitian ini
Persepsi Konsumen Tentang Kualitas Produk Dannis Collections di Kota Malang
ABSTRAK Maknun, Luklu’il. 2014. PersepsiKonsumenTentangKualitasProdukBusanaDannis Collections di Kota Malang. Skripsi, JurusanTeknologiIndustri, FakultasTeknik, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing (I) NurulHidayati, S.Pd.,M.Sn., (II) Dra.NurulAini, M.Pd. Kata Kunci :Persepsikonsumen, Kualitasprodukbusana, Dannis Collections Kualitasprodukmerupakanstrategiperusahaan agar mampubersaing di pesatnyapersainganbisnis, salahsatunyabisnisbusana.Dannis Collections adalahperusahaanbusana yang berdirisejak 1996 hinggasekarang.BeberapamisiDannis Collections adalahselalumenyediakanprodukbusana yang berkualitasdenganharga yang sebandingdengankualitasdankeindahannya.Keadaantersebut yang didugamembuatusahainimempunyaidayatarikdanselaludiminatiolehkonsumenuntukmembeliprodukDannis.PenelitianinibertujuanuntukmendeskripsikanpersepsikonsumententangkualitasprodukbusanaDannis yang berada di kota Malang. Metodepenelitian yang digunakanadalahdeskriptifdenganteknik sampling kenyamanan(convenience sampling).PopulasikonsumenDannis Collections tidakdapatdipastikanjumlahnya, untukmendapatkan data yang representatifdapatdiperolehdenganmelakukanpengambilanjumlahsampel yang memadai.Maka, didapatkanpenentuanjumlahsampelsebanyak 100 responden.Instrumen yang digunakanadalahangket/kuisionertertutup.Diperolehhasil: (1) Kinerjaprodukdenganpersentase 74% data respondendalamklasifikasibaik, (2) keistimewaanprodukdenganpersentase 65% data respondendalamklasifikasibaik, (3) Kehandalanprodukdenganpersentase 60% data respondendalamklasifikasicukup, (4) Kesesuaianprodukdenganpersentase 63% data respondendalamklasifikasibaik (5) Dayatahanprodukdenganpersentase 67% data respondendalamklasifikasibaik, (6) Kemampuanlayanandenganpersentase 67% data respondendalamklasifikasibaik, (7) EstetikaProdukdenganpersentase 67% data respondendalamklasifikasibaik, (8) Persepsikualitasprodukdenganpersentase 51% data respondendalamkategorisangatbaik. Secarakeseluruhandimensi, 87% respondenkualitasprodukbusanaDannisdalamkategoribaik. Kesimpulandaripenelitianinididapatkan secara keseluruhan kondisi kualitas produk busana Dannis Collections dipersepsikan baik oleh sebagian besar responden, melalui 8 dimensi kualitas produk dari konsep yang diungkapkan oleh Garvin dimensi yang paling menonjol ada pada dimensi kualitas yang dipersepsikan, dimana pada dimensi tersebut sebagian besar responden mempersepsikannya dengan kategori sangat baik. Adapun Saran bagi Dannis Collections,hendaknya terus meningkat¬kan kualitas produknya salah satunya meliputi konsistensi bahan yang digunakan dan meningkatkan kualitas kekuatan jahitan, serta memberikan jaminan produk pada produk yang cacat/rusak. Bagi Dosen/Tenaga Pendidik Prodi Tata Busana, hendaknya memberi¬kan pengetahuan yang mendalam terkait pentingnya kualitas produk yang mampu berhasil di pasaran, terutama dosen yang mengajar pada mata kuliah manajemen usaha busana. Bagi Peneliti lain, hendaknya penelitian ini dapat disempurnakan lagi dengan mengembang¬kan variabel-varibel lain yang ada
Studi Tentang Motif Khas Batik Selowogo, di Desa Selowogo, Kecamatan Bungatan, Kabupaten Situbondo
ABSTRAK Adriaty, Rieke. 2015. Studi Tentang Motif Khas Batik Selowogo, di Desa Selowogo, Kecamatan Bungatan, Kabupaten Situbondo. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sri Eko Puji Rahayu, M.Si, (II) Dra. Hapsari Kusumawardani, M.Pd. Kata kunci: Batik Selowogo, Motif Khas Sejak UNESCO menetapkan Batik sebagai warisan budaya Indonesia pada tanggal 2 Oktober 2009, Pemerintah Indonesia menetapkan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional. Adanya pengakuan tersebut menyebabkan setiap daerah berupaya mengenalkan batik khas mereka. Kabupaten Situbondo, merupakan salah satu daerah yang kini juga turut berupaya untuk mengenalkan batik khas mereka dengan ciri khasnya yang berupa motif kerang dan biota laut. Salah satu daerah penghasil batik khas Situbondo terletak di desa Selowogo, kecamatan Bungatan. Batik Selowogo telah ditetapkan sebagai seragam dinas PNS Kabupaten Situbondo. Penelitian ini akan mendeskripsikan tentang motif khas dan makna Batik Selowogo. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Prosedur pengumpulan data menggunakan tiga metode yang meliputi: observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data berupa reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan dengan peningkatan ketekunan dan triangulasi sumber serta triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Batik Selowogo memiliki motif khas yang berjumlah 14 buah, yang meliputi motif Tale Percing, Ler-keleran, Kerang Gempel, Jala Samudera, Baluran Menunggu, Penggir Sereng, Gelang-gelang Bahari, Kerang Bertopeng, Binggel Manik, Sonar Are, Tri Angel, Sonar Bulan, Pasti Waras, dan Malathe Sato’or, (2) Motif Batik Selowogo mempunyai ciri khas hasil alam berupa kerang sejenis kerang kijing dan keong sumpil serta biota laut berupa alga hijau dan terumbu karang, (3) Inspirasi dan makna dari motif khas Batik Selowogo, rata-rata melukiskan kondisi Situbondo, jika dilihat dari berbagai aspek, antara lain: kondisi geografis, budaya masyarakat serta adanya motif yang mengajarkan tentang budi luhur. Adapun motif yang termasuk dalam aspek kondisi geografis meliputi: Penggir Sereng, Baluran Menunggu, Pasti Waras. Aspek budaya masyarakat meliputi: Tale Percing, Jala Samudera, Binggel Manik, Gelang-gelang Bahari. Aspek ajaran budi luhur meliputi: Kerang Gempel, Kerang Bertopeng, Sonar Are, Tri Angel, Ler-keleran,Sonar Bulan, Malathe Sato’or. Saran yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah: (1) Pemerintah Kabupaten Situbondo perlu mendaftarkan hak paten masing-masing motif khas Batik Selowogo,(2) Pemerintah Kabupaten Situbondo perlu melakukan pendokumentasian masing-masing motif khas dan makna Batik Selowogo, misalnya dengan membuat buku-buku atau brosur dan membuat blog atau website untuk mengenalkan motif Batik Selowogo kepada masyarakat luas
STUDI TENTANG MOTIF KHAS TENUN BATU BARA KABUPATEN BATU BARA PROPINSI SUMATRA UTARA
ABSTRAK Pertiwi, Sa’adahGustinAyu. 2015. Studi Tentang Motif Khas TenunBatu Bara KabupatenBatu Bara Propinsi Sumatra Utara.Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing:(I)DraNurul Aini, M.Pd, (II) Dra. Sri EkoPujiRahayu,M.Si. Kata Kunci:Motif Khas Tenun Batu Bara, Kabupaten Batu Bara Tenunmerupakansalahsatujeniskriyatekstilyang dibuatdenganalattenunbaikmesinmaupunnon mesin. KabupatenBatu BaramerupakansalahsatuKabupaten di Propinsi Sumatera Utara,yang merupakanpemekarandariKabupatenAsahan.TenunBatu Barabanyakdiminatisampaike Negara tetangga.AdapundaerahpenghasilTenunBatu Bara terbesardanmemiliki motif yang indahberada diKecamatanTalawi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan motif-motif khas tenun Batu Bara dan maknamotif khas tenun Batu Bara. Penelitian ini merupakanjenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Prosedur pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupahuman instrumant, yaitupeneliti sendiri.Pengecekan keabsahan temuan menggunakan triangulasi dengan tiga sumber data dan triangulasi dengan tiga teknik pengumpulan data. Analisis data menggunakan tiga tahapan yaitu mereduksi data, menyajikan data, dan menarik kesimpulan. Berdasarkan temuan peneliti dilapangan diperolehtiga kesimpulan sebagai berikut.Pertama, Motif tenunBatu Bara banyakterinspirasidarilingkunganalamsekitar yang ada di KabupatenBatu Bara, misalnyatanamanseperti tunas bambu, danpandan, bungasepertibungaCempaka, bungaTanjung, buahsepertibuahManggis, sayursepertisayurbungaKol, bintangsepertiTolapPenuhdanTolapBerantaidanmakanansepertinasiketan. motif khastersebutterdiridariPucukRebung, PucukBetikam, PucukPandan, BungaKol, TampukManggis, Cempaka, BungaTanjung, TolapPenuh, TolapBerantaidanNasiManis. Kedua, Makna yang terkandungdalam motif khastenunBatu Bara adalah : pendidikananak yang tergambarpada motif PucukRebung, keterikatanjalinankeluargaantergambarpada motif PucukBetikam, kesuciandiri yang tergambarpada motif PucukPandan, imajinasi yang tergambarpada motif BungaKol, keagungan yang tergambarpada motif TampukManggis, keanekaragaman yang tergambarpada motif Cempaka, kekuatanmewujudkanmimpi yang tergambarpada motif TolapPenuhdanTolapBerantai, dankekeluargaan yang tergambarpada motif NasiManis, yang sangatkentaldengankehidupanmasyarakat di Batu Bara. Ketiga, Hasilpenelitiandilapanganditemukanbahwafungsi dari motif tenun Batu Bara, tidak ada patokan khusus untuk pemakaianmotif-motif tertentupadaacara ataupunkeperluan tertentu. Realitanya, hanya motif sakral seperti motif Tampuk Manggis yang menandakanhanyaorang keturunan Bangsawan seperti Datuk atau Kerajaan yang memakai motif ini, adapunmakna motif Tampuk Manggis adalah keagungan.Sedangkanuntuk baju Dinas daerah yang dipakai adalah motif Nasi Manis, motif Bunga Tanjung dan motif Bunga Cempaka. ABSTRACT Pertiwi, Sa’adahGustinAyu. 2015. A Study AboutThe Special Design of Batu Bara Weaving, Batu Bara Regency, North Sumatera Province.Thesis, Technological Industry Department, Faculty of Technology, State University of Malang. Advisors: (I)DraNurulAini, M.Pd, (II) Dra. Sri EkoPujiRahayu,M.Si. Key Words:Batu Bara Special Design of Weaving, Batu Bara Regency Weaving is one of textile skill made by weaving tool whether by machine or not.Batu Bara regency as one of regencies located in North Sumatera province, is the expansion regency from Asahan regency. Many foreign countries put some interests on Batu Bara’s weaving.The district of Talawi is a biggest producer of Batu Bara’s weaving with it’s beautiful design. This study aims to describe the special designs of Batu Bara weaving and the meaning of it. This study is a descriptive research with a qualitative approach. The procedure of collecting data uses observation method, interview, and documentation. The used instrument to collect the data is human instrument, that is the researcher herself. The checking of the validity of the findings uses triangulation by three data source and triangulation with three techniques of collecting data. Data analyses uses three steps such as data reduction, data presentation, and taking the conclusion. Based on finding on the field, researcher got three conclusions as follow; first, the design of Batu Bara weaving most inspired by the natural environment surroundings Batu Bara regency such as plant just like Bud of Bamboo and Pandanus, from the flowers like Champac and Tanjung, fruit just like Mangosteen, vegetable like cabbage, star just like full Tolap and chained Tolap, and also taken from the food just like sticky rice. Those special designs consists of PucukRebung, PucukBetikam, PucukPandan, BungaKol, TampukManggis, Cempaka, BungaTanjung, TolapPenuh, TolapBerantai and NasiManis. Second, the meanings of special designs of Batu Bara weaving are : the education of the children ilustrated on PucukRebung design, family relationship shown on the design of PucukBetikam, the self purityilustrated on the design of PucukPandan, imagination shown on the design of BungaKol, the greatness ilustrated on TampukManggis’s design, the diversity ilustrated on the design of Cempaka, strength of realizing the dreams shown on the design of TolapPenuh and TolapBerantai, dan family which is shown on the design of NasiManis, that is related to the society life in Batu Bara regency. Third, found that the function of special design of Batu Bara weaving has no special direction in using special designs for the certain needs or ceremony. The fact, only the sacred design just like TampukManggis that indicates only noble man such as Datuk or another kingdom’s family who wear this design, while the meaning of TampukManggis design is the greatness, and for the uniform of official duty wears the design of NasiManis, BungaTanjung and BungaCempaka