SKRIPSI Jurusan Tata Busana - Fakultas Teknik UM

SKRIPSI Jurusan Tata Busana - Fakultas Teknik UM
Not a member yet
    632 research outputs found

    TANGGAPAN SISWA KELAS XII JURUSAN TATA BUSANA TENTANG PELAKSANAAN UJIAN ONLINE DI SMK NEGERI 5 MALANG TAHUN PELAJARAN 2014/2015

    No full text
    ABSTRAK   Sholikhah, Gupita Maulida. 2015. Tanggapan Siswa Kelas XII Jurusan Tata Busana Tentang Pelaksanaan Ujian Online Di SMK Negeri 5 Malang Tahun Pelajaran 2014/2015. Skripsi. Jurusan Teknologi Industri, FakultasTeknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Esin Sintawati, M.Pd. (2) Nurul Hidayati, S.Pd,  M.Sn.   Kata kunci: ujian, online, hasil belajar. Ujian online adalah sistem ujian dengan perangkat komputer yang telah terhubung dengan jaringan internet atau intranet dengan batasan waktu tertentu. Pemakaian ujian secara online di SMK Negeri 5 Malang khususnya pada jurusan Tata Busana perlu diteliti pada proses pelaksanaannya karena merupakan hal baru dalam sistem evaluasi hasil belajar. Kesiapan perlengkapan ujian, sarana dan prasarana penunjang ujian online serta jaringan internet sekolah merupakan kendala dalam pelaksanaan ujian. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan tanggapan siswa kelas XII jurusan Tata Busana tentang pelaksanaan ujian secara online  di SMK Negeri 5 Malang tahun pelajaran 2014/2015. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode penelitian deskriptif. Populasi penelitian ini berjumlah 80 siswa dari jurusan Tata Busana kelas XII angkatan 2014/2015 di SMK Negeri 5 Malang. Sampel penelitian diambil seluruhnya karena ingin membuat generalisasi dengan tingkat kesalahan yang sangat kecil. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan kuesioner, sedangkan uji instrumen dengan uji validitas dan uji reliabilitas menggunakan SPSS 20 for Windows. Analisis data yang diterapkan dalam penelitian ini adalah menentukan panjang kelas interval dan menentukan persentase besarnya nilai frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Siswa kelas XII jurusan Tata Busana memberikan tanggapan yang positif terhadap  kesiapan siswa mengikuti ujian online terhadap pemahaman teknis, kelengkapan dan keberhasilan pelaksanaan ujian secara online menanggapi positif  karena siswa telah memahami dan mempunyai kesiapan yang cukup untuk melaksanakan ujian secara online, (2)  Siswa kelas XII jurusan Tata Busana memberikan tanggapan yang positif terhadap  tujuan ujian untuk mengetahui langsung informasi hasil belajar ujian secara online sudah tercapai karena sebagian besar  siswa menyatakan sangat baik atau positif dengan langsung mengetahui informasi hasil ujian online, (3) Siswa kelas XII jurusan Tata Busana memberikan tanggapan yang positif terhadap  prinsip ujian dengan  penilaian yang disesuaikan dengan prosedur penilaian dan penilaian mencakup semua aspek kompetensi sudah dilakukan dengan baik karena siswa menyatakan baik atau positif, (4) Siswa kelas XII jurusan Tata Busana memberikan tanggapan yang positif terhadap  sistem ujian online dengan indikator sistem ujian komputerisasi yang terhubung dengan intranet,  kebutuhan sistem ujian online dan fungsi pengawas dalam pelaksanaan ujian online sudah berjalan dengan baik karena siswa menyatakan baik atau positif, (5) Siswa kelas XII jurusan Tata Busana memberikan tanggapan yang positif terhadap  tentang soal ujian online dengan soal ujian yang sesuai dengan materi pembelajaran, soal ujian bersifat konstruksi dan bahasa yang digunakan dalam soal ujian online sudah sesuai dengan kriteria pembuatan soal yang baik karena siswa menyatakan baik atau positif. Berdasarkan hasil penelitian, maka penulis menyampaikan saran yaitu: (1) Pada tahap persiapan sebelum ujian dilaksanakan, diharapkan untuk menambah pembekalan atau pelatihan ujian online, agar siswa lebih memahami tentang prosedur pelaksanaan ujian online sehingga dapat mempersiapkan kelengkapan ujian online secara matang, (2) Pada sistem ujian online diharapkan untuk lebih meningkatkan kecepatan akses data intranet dengan menambah Acces Point didalam kelas agar siswa dapat mengakses soal ujian online lebih  cepat dan lancar, (3) Diharapkan agar  pelaksanaan ujian secara online terselenggara dengan baik dan optimal maka pihak sekolah sebaiknya meningkatkan sarana dan prasarana seperti media komputer dengan spesifikasi lebih tinggi, lampu penerangan, pengeras suara, kursi dan meja, (4) Diharapkan soal ujian beracuan pada kriteria penulisan soal ujian yang baik dan benar yaitu memperhatikan materi, kontruksi dan bahasa yang baik supaya soal yang diterima siswa dapat dipahami dan dikerjakan dengan mudah pada waktu ujian, (5) Tingkat relevansi antara pertanyaan dan jawaban, gambar, grafik, tabel, diagram dan sejenisnya pada soal ujian online harus diperjelas berdasarkan tema atau materi yang telah guru berikan selama kegiatan belajar mengajar

    STUDI PEWARNAAN ALAMI PADA KAIN KATUN BERKOLIN MENGGUNAKAN LIMBAH BUNGA MAWAR (Rosa sp.) MERAH DENGAN FIKSATOR TUNJUNG, TAWAS, BAKING SODA DAN KAPUR

    No full text
    ABSTRAK Budiarti, Adyasti Irma. 2015. Studi Pewarnaan Alami pada Kain Katun Berkolin Menggunakan Limbah Bunga Mawar (Rosa sp.) Merah dengan Fiksator Tunjung, Tawas, Baking Soda dan Kapur. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Hapsari Kusumawardani, M.Pd., (II) Agus Sunandar, S.Pd., M.Sn. Kata Kunci: Pewarnaan Alami, Katun Berkolin, Mawar, Fiksator, Tunjung, Tawas, Baking Soda, Kapur Mawar (Rosa Sp.) dapat digunakan sebagai pewarna tekstil yang berasal dari serat selulosa, salah satunya adalah serat kapas. Agar zat warna alam mawar merah dapat terserap dengan baik maka diperlukan zat pembangkit seperti tunjung, tawas, baking soda, dan kapur. Fungsi zat pembangkit selain untuk memperkuat daya serap zat warna ke dalam kain adalah untuk mengetahui arah warna yang dihasilkan dari zat warna alam mawar merah. Untuk mengetahui arah warna yang dihasilkan perlu dilakukan pengamatan terhadap kain hasil pencelupan. Pengamatan dapat dilakukan secara visual (organoleptik), yaitu dengan membandingkan kain hasil pencelupan dengan nama-nama warna untuk kain dalam  colour chart fabrics cotton.Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Objek penelitian ini adalah kain katun berkolin hasil pencelupan zat warna alam mawar merah menggunakan fiksator tunjung, tawas, baking soda, dan kapur. Teknik analisis data yang digunakan adalah kualitatif, yaitu dengan memaparkan hasil pengamatan visual (organoleptik) kain hasil pencelupan zat warna alam mawar merah menggunakan fiksator tunjung, tawas, baking soda, dan kapur. Berdasarkan analisis data, hasil penelitian pencelupan zat warna alam mawar merah menggunakan fiksator tunjung, tawas, baking soda, dan kapur dengan metode 10 kali celup dan 10 kali fiksasi menunjukkan bahwa: (1) Warna utama yang dihasilkan oleh mawar merah adalah smoke (warna ungu agak coklat) (2) Melalui proses fiksasi menggunakan fiksator yang berbeda-beda yaitu tunjung, tawas, baking soda, dan kapur maka diperoleh hasil pencelupan mawar merah yang berbeda-beda warna (3) Fiksator tunjung menghasilkan warna midnight (warna hitam pekat) dalam pewarnaan alam menggunakan mawar merah (4) Fiksator tawas menghasilkan warna brick (merah keunguan) dalam pewarnaan alam menggunakan mawar merah (5) Fiksator baking soda menghasilkan warna mustard (kuning kecoklatan) dalam pewarnaan alam menggunakan mawar merah (6) Fiksator kapur menghasilkan warna stone (warna coklat kekuningan) dalam pewarnaan alam menggunakan mawar merah

    Tanggapan Guru Pamong terhadap Pelaksanaan Lesson Study mahasiswa PPL Prodi S1 Pendidikan Tata Busana angkatan 2010 di SMK Negeri Program Studi Keahlian Tata Busana se-Malang Raya

    No full text
    ABSTRAK   Sari, Mega Irma Pratama. 2015. Tanggapan Guru Pamong terhadap Pelaksanaan Lesson Study mahasiswa PPL Prodi S1 Pendidikan Tata Busana angkatan 2010 di SMK Negeri Program Studi Keahlian Tata Busana se-Malang Raya. Pembimbing: (I) Dra. Rosanti Rosmawati, M. Sn., (II) Dra. Nurul Aini, M.Pd.   Kata Kunci: Tanggapan Guru Pamong, Pelaksanaan Lesson Study, Mahasiswa PPL   Praktik Pengalaman Lapangan (PPL)  mulai tahun 2013/2014 penyelenggaraan PPL Keguruan, yang mencakup ketentuan dalam pelaksanaan PPL I dan PPL II, pola pembimbingan , dan penilaian PPL.Secara teknis perubahan tersebut meliputi, meniadakan praktik diagnosis kesulitan belajar bidang studi siswa, meniadakan studi manajemen pendidikan sekolah, memberlakukan pelaksanaan PPL dalam kerangka  Lesson Study, serta mengurangi masa PPL dari 16 minggu menjadi 8 minggu efektif, dengan rincian 2 minggu PPL I dikampus, dan 6 minggu PPL II di sekolah praktikan. Tujuan dari penelitian ini adalah  untuk mengetahui,  bagaimana tanggapan Guru Pamong terhadap pelaksanaan Lesson Studymahasiswa  PPL II Prodi S1 Pendidikan Tata Busana angkatan 2010sesuai dengan  langkah- langkah  riil yang wajib diterapkan pada PPL II UM, dengan masa waktu PPL, 2 minggu di kampus dan  6  minggu disekolah. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah Guru Pamong di SMK Negeri Program Studi Tata Busana se Malang Raya sejumlah 8 Guru Pamong. Penelitian ini peneliti menggunakan angket sebagai alat pengumpulan data. Pengumpulan data menggunakan instrumen dalam bentuk angket. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif persentase. Uji coba di-lakukan kepada  Guru Pamong di SMK Kartika V-1 Malang, sejumlah2 Guru Pamong. Penelitian secara keseluruhan, didapatkan hasil bahwa sebagian besar Guru Pamong di SMK Negeri Program Studi Tata Busana se Malang Raya sangat setuju terhadap, pelaksanaan Lesson Study mahasiswa PPL Prodi S1 Pendidikan Tata Busana angkatan 2010, yang sesuai dengan langkah-langkah pelaksanaan Lesson Study PPL UM, sangat sedikit yang menyatakan setuju dan tidak ada responden yang menyatakan tidak setuju terhadap pelaksanaan Lesson Studymahasiswa PPL Prodi S1 Pendidikan Tata Busana angkatan 2010 yang sesuai dengan langkah-langkah pelaksanaan Lesson Study PPL UM. Diharapkan Guru Pamong lebih meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang Lesson Study, terutama tentang merefleksi kegiatan see (refleksi pembelajaran) dengan mengikuti workshoop sosialisasi tentang Lesson Study yang diadakan tim pengembang PPL UM .                   ABSTRACT   Sari, Mega Irma Pratama. 2015. Main Teacher Responses of Lesson Study by Fashion Education Year 2010 Apprentice Teaching Student Program Class of 2010 at Dressmaking Studies Program in State Vocational School of Fashion Program at  Malang Raya Area. Advisors: (I) Dra. Rosanti Rosmawati, M. Sn., (II) Dra. Nurul Aini, M.Pd.   Keywords: Main Teacher Responses, of Lesson Study by Fashion Education Year 2010 Apprentice Teaching Student Program Class of 2010             Experience Practice (PPL) PPL implementation starting in 2013/2014 Teacher Training, which includes the implementation of the provisions of the PPL PPL I and II, the pattern of coaching, and assessment of PPL. Technically these changes include, abolish the practice of diagnosis of learning difficulties field of study students, negating management studies education, enforces the implementation of PPL in the framework of Lesson Study, and may reduce the PPL from 16 weeks to 8 weeks was effective, with details of 2 weeks PPL I campus, and 6 weeks PPL II school. The aim of this study was to determine how the response to the implementation of the Guardian Teacher Lesson Study II student PPL Prodi S1 dressmaking Education class of 2010 in accordance with the real measures that must be applied to UM II PPL, with PPL time period, 2 weeks on campus and 6 weeks of school.  This research is a descriptive study with a quantitative approach. Population in this research is the Teacher Civil Service Studies Program at SMK Negeri Malang se dressmaking number 8 Teacher Tutors. This study researchers used a questionnaire as a data collection tool. Collecting data using the instrument in the form of a questionnaire. Data were analyzed using descriptive analysis percentage. The trial be done to Master Officials at SMK Kartika V-1 Malang, number 2 Teacher Tutors. The overall study, showed that the majority of teachers Officials at SMK Negeri Studies Program dressmaking se Malang Raya could not agree to, the implementation of Lesson Study students PPL Prodi S1 Education dressmaking class of 2010, corresponding to measures implementing Lesson Study PPL UM, very few are agreed and no respondents who disagree on the implementation of Lesson Study PPL student Prodi S1 dressmaking Education class of 2010 in accordance with the steps implementing Lesson Study PPL UM. Teachers are expected Pamong increased knowledge and understanding of Lesson Study, especially on the activities reflect see (reflection of learning) by following the dissemination of Lesson Study workshoop held PPL UM team of developers

    STUDI TENTANG TITIK PAS (FITTING FACTOR) JAS PRIA UKURAN S, M, L MENGGUNAKAN "POLA DIATAS BAHAN"

    No full text
    ABSTRAK   Safitri, Vina, 2015. Studi Tentang Titik Pas (Fitting Factor) Jas Pria Ukuran S,M, L Menggunakan “Pola Diatas Bahan”. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Hj. Sri Eko Puji Rahayu, M.Si., (II) Nurul Hidayati, S.Pd., M.Sn.   Kata kunci: Titik Pas/ Fitting factor, jas pria ukuran S, M, L menggunakan “pola   di atas bahan” sistem di San Tailor. Pembuatan jas cukup rumit karena memerlukan waktu dalam pengerjaannya, ketepatan ukuran, kenyamanan, kerapihan yang tinggi, tertib kerja yang baik dan benar. Teknik pembuatan pola jas berbeda antara tailor satu dengan yang lain, masing-masing tailor memiliki teknik atau cara cepat membuat pola jas pria, sehingga bisa dihasilkan jas yang nyaman. Salah satu teknik pembuatan jas pria adalah pembuatan pola yang dilakukan diatas bahan yang tidak membutuhkan kertas untuk membuat pola, dan dikerjakan pada bagian buruk kain, sehingga pembuatan pola lebih praktis dan cepat. Pada pembuatan pola jas pria diperlukan ukuran tubuh seseorang yang diukur secara langsung atau menggunakan ukuran N standar S, M, L. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui titik pas/ fitting factor jas pria ukuran S, M, L menggunakan “pola diatas bahan”. Penelitian ini termasuk penelitian dekriptif dengan menggunakan pendekatan kuantitatif, yaitu penelitianyang datanya berupa angka-angka dan analisa datanya menggunakan statistik deskriptif. Obyek pada penelitian ini jas pria dengan pola diatas bahan menggunakan sistem di San Tailor yang diujicobakan pada ukuran tubuh pria S, M, L. Penelitian ini menggunakan metode observasi, yaitu dengan pengamatan yang dilakukan oleh 3 panelis ahli dibidang busana khususnya jas. Jenis data, berupa data ordinal dengan alternatif tepat, kurang tepat, dan tidak tepat. Instrumen penelitian berupa lembar pengamatan yang berjumlah 19 item kriteria penilaian dan teknik analisa datanya berupa persentase. Hasil titik pas/ fitting factor jas pria ukuran S, M, L menggunakan “pola diatas bahan” sistem di San Tailor persentase pada ukuran S dinyatakan tepat sebanyak 80,70%, kurang tepat 12,28% dan tidak tepat 7,02%. Pada ukuran M persentase dinyatakan tepat sebanyak 78,95%, kurang tepat 12,28% dan tidak tepat 8,77%. Pada ukuran L persentase dinyatakan tepat sebanyak 66,67%, kurang tepat 17,54% dan tidak tepat 15,79%. Dari ketiga jas pria dengan “pola diatas bahan” menggunakan sistem di San Tailor yang dinilai oleh tiga panelis secara keseluruhan sudah tepat, namun sebaiknya diperhatikan pada lingkar pinggang, lebar punggung bawah, panjang punggung, panjang belahan dan lebar saku dada (vest). Kesimpulan titik pas jas pria ukuran S, M, L menggunakan “pola diatas bahan” sistem di San Tailor sudah tepat digunakan untuk semua ukuran, namun proses pengukuran ketika pembuatan pola yang tepat dan teliti harus diperhatikan karena sangat mempengaruhi hasil akhir jas pria, untuk penelitian lanjutan sebaiknya dilakukan percobaan dengan membuat media pembelajarannya atau diujicobakan lagi dengan melakukan percobaan pada sistem pola yang lainnya dengan menggunakan ukuran yang berbeda dari ukuran yang sudah diteliti, misalnya menggunakan personal size.

    Pengaruh Pembelajaran Fisika dengan Model Problem Based Learning (PBL) terhadap Literasi Sains Siswa Ditinjau dari Kemampuan Awal

    No full text
    ABSTRAK   Pembelajaran sains yang baik merupakan pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman danl iterasi sains. Literasi sains siswa Indonesia yang rendah menuntut pembelajaran yang mampu menciptakan lingkungan yang aktif yang dapat digunakan untuk melatih siswa dalam memahami dan menguasai konsep dalam pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang mengedepankan proses sains dan berbasis pada masalah adalah model  problem based learning (PBL). Di dalam problem based learning (PBL)siswa memecahkan suatu masalah di dalam kehidupan sehari-hari melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga siswa dapat mengetahui kaitan konsep fisika dengan permasalahan sehari-hari di dalam kehidupan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran fisika dengan model problem based learning (PBL) terhadap literasi sains siswa ditinjau dari kemampuan awal siswa. Penelitian ini termasuk jenis penelitian quasi experiment dengan rancangan factorial dua faktor 2x2. Subjek penelitian adalah siswa kelas X SMA Negeri 3 Malang. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode cluster random sampling, sehingga didapatkan kelas X MIA 6 sebagai kelas eksperimen menggunakan model PBL dan kelas X MIA 4 sebagai kelas control menggunakan model CORE. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas dua instrumen, yaitu instrument perlakuan dan pengukuran. Instrumen pengukuran meliputi tes kemampuan awal, tes literasi sains, angket attitude siswa, dan lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran.Data dikumpulkan melalui tes kemampuan awal siswa dan literasi sains siswa yang telah diuji validitas dan reliabelitasnya. Reliabelitas Alpha Cronbach tes kemampuan awal adalah 0,678 dan tes literasi sains siswa adalah 0,741. Uji prasyarat normalitas dan homogenitas varian dilakukan sebelum pengujian hipotesis. Data dianalisis dengan teknik ANAVA satu jalur dengan taraf signifikan = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) terdapat perbedaan rerata literasi sains pada pembelajaran fisika dengan model PBL dan model CORE, (2) terdapat perbedaan rerata literasi sains siswa pada siswa yang memiliki kemampuan awal tinggi dan rendah, (3) ada interaksi antara pembelajaran dengan model PBL dan model CORE dengan kemampuan awal tinggi dan rendah siswa terhadap literasi sains siswa. Saran yang dapat disampaikan antara lain: (1) keterkaitan masalah dengan materi yang akan dipelajari sangat menentukan pemahaman siswa, (2) hendaknya dilakukan penelitian lanjutan mengenai pengembangan instrumen literasi sains siswa dan bagaimana efektivitasnya pada materi yang berbeda

    . Pengembangan Media Pembelajaran Audio Visual pada mata kuliah bordir

    No full text
    ABSTRAK   Fajarwati, Pradita Dyah. 2015. Pengembangan Media Pembelajaran Audio Visual pada mata kuliah bordir. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Nur  Endah Purwaningsih, M.Pd, (II) Dra. Nurul Aini, M.Pd   Kata Kunci : Pengembangan, Media Pembelajaran, Bordir Penelitian Pengembangan Media Pembelajaran Audio Visual pada Mata Kuliah bordir bertujuan untuk menghasilkan media pembelajaran audio visual pada mata kuliah bordir, yang dapat digunakan sebagai penunjang/pelengkap pembelajaran media yang sudah ada yaitu berupa contoh gambar dan fragmen, bagi mahasiswa di Jurusan Teknologi Industri, Program Studi Tata Busana, Universitas Negeri Malang. Media pembelajaran tersebut berisi tentang definisi dan sejarah bordir, perlengkapan meliputi alat dan bahan untuk membordir, macam-macam tusuk/setik bordir beserta penjabaran langkah/teknik pembuatan tusuk/setik bordir. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian pengembangan yang diadaptasi dari model prosedural penelitian pengembangan menurut Borg and Gall. Model ini meliputi 10 langkah tahap pengembangan yaitu: (1) Penelitian dan Pengumpulan Data ( Research and Information collecting), (2) Perencanaan (Planning), (3) Pengembangan Draft Produk (Develop Preliminary Form of Product), (4) Uji Coba Lapangan Awal (Preliminary Field Testing), (5) Merevisi  Hasil Uji Coba (Main Product Revision), (6) Uji Coba Lapangan (Main Field Testing), (7) Penyempurnaan Produk Hasil Uji Lapangan (Operasional Product Revision), (8) Uji Pelaksanaan Lapangan (Operasional Field Testing), (9) Penyempurnaan Produk Akhir (Final Product Revision), (10) Diseminasi dan Implementasi (Dissemination and Implementation). Dari 10 langkah tahapan menurut Borg and Gall ini tidak semua dilakukan oleh peneliti, akan tetapi peneliti hanya mengambil sampai langkah ke 5, hal ini dikarenakan peneliti masih dalam taraf peneliti pemula dan masih menempuh skripsi (mini thesis), selain itu karena karakteristik langkah pokok R&D menurut Borg and Gall menjelaskan 4 ciri utama yaitu melakukan studi/penelitian awal untuk mencari temuan-temuan penelitian terkait dengan produk yang akan dikembangkan, mengembangkan produk berdasarkan temuan peneliti tersebut, uji coba lapangan, dan melakukan revisi untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ditemukan pada tahap uji coba. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen berupa angket yang divalidasi oleh ahli media, ahli materi, ahli bahasa, dan 10 orang mahasiswa Program Studi Tata Busana angkatan 2012 dan diamati oleh 2 orang observer. Data yang diperoleh pada penelitian ini adalah data kuantitatif berupa persentase, dan data kualitatif berupa tanggapan yang berisi komentar maupun saran, dengan menggunakan teknik analisis data deskriptif. Hasil validasi media pembelajaran dari ahli media adalah 97,4% (layak), hasil validasi media pembelajaran dari ahli materi adalah 96,3% (layak), validasi media pembelajaran dari ahli bahasa adalah 92,6% (layak). Produk media pembelajaran pada mata kuliah bordir, setelah direvisi kemudian diuji cobakan pada kelompok kecil. Hasil penilaian dari uji coba kelompok kecil adalah 89,8% (layak). Berdasarkan hasil validasi dari ahli media,validasi dari ahli materi, dan validasi dari ahli bahasa, serta uji coba kelompok kecil, dapat disimpulkan bahwa produk media pembelajaran audio visual pada mata kuliah bordir layak digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Meskipun demikian, diharapkan uji lapangan, evaluasi dan revisi produk lebih lanjut tetap dilakukan. Agar media yang dikembangkan dapat membantu dosen dan mahasiswa dalam kegiatan pembelajaran. Kelebihan media pembelajaran ini adalah: (a) Media pembelajaran audio visual ini dapat dibuka sewaktu-waktu, dimana saja, kapan saja, dan dapat diputar berulang-ulang selama ada laptop/komputer. Sehingga mampu membantu peserta didik dalam memahami materi bordir secara individu dan mandiri. (b) Media pembelajaran audio visual ini selain dapat digunakan oleh mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana, Universitas Negeri Malang, juga dapat dipelajari oleh masyarakat luas yang ingin belajar dan mengerti cara/teknik pembuatan macam-macam tusuk/setik bordir. (c) Meningkatkan motivasi dan perhatian mahasiswa untuk berkreasi dalam membuat macam-macam tusuk/setik bordir. Sedangkan kekurangan dari media audio visual ini adalah  (a) Materi bordir yang dikembangkan masih terbatas pada 9 macam tusuk/setik bordir yaitu suji cair, loncat, granit, sasak, suji inggris, richelie, biji mentimun, lompat jarum, dan pecah kopi. (b) langkah pengembangan media pembelajaran audio visual pada mata kuliah bordir ini hanya sampai pada tahap uji coba kelompok kecil, dan hanya mengembangkan 5 dari 10 langkah dalam model pengembangan Borg and Gall

    Studi Motivasi Menjadi Guru Pada Mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana Angkatan 2011

    No full text
    ABSTRAK Fajri, Nurul. 2015. Studi Motivasi Menjadi Guru pada Mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana Angkatan 2011. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Idah Hadijah, M. Pd., (II) Dra. Endang Prahastuti, M. Pd. Kata Kunci: Studi, Motivasi Menjadi Guru, Faktor Intrinsik, Faktor Ekstrinsik. Pendidikan dapat mendorong peningkatan kualitas manusia dalam bentuk meningkatnya kompetensi kognitif, afektif, maupun psikomotor. Guru merupakan profesi yang bergerak dibidang pendidikan. Guru (pendidik) dipercaya sebagai agen perubahan, yang dapat mengarahkan dan membimbing siswanya ke arah yang lebih baik. Program studi S1 Pendidikan Tata Busana merupakan program studi yang lulusannya ditujukan  pada profesi menjadi guru. Hal ini  menjadi suatu hal yang perlu disadari oleh setiap mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Tata Busana.Upaya dalam memunculkan kesadaran ini, maka diperlukan sebuah dorongan atau motivasi, yang merupakan penggerak langkah sertapemicu tumbuhnya rasa semangat pada diri mahasiswa dalam melakukan upaya-upaya yang dapat mengantarkannya pada tujuan menjadi guru tersebut.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui motivasi menjadi guru pada mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana angkatan 2011. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah Mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana angkatan 2011 sejumlah 55 mahasiswa. Teknik analisis data menggunakan analisis statistik deskriptif. Uji coba dilakukan kepada mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana angkatan 2010 sejumlah 15 mahasiswa. Uji validitas dan uji reliabilitas menggunakan  Program SPSS 16.00 for Windows.Penelitian ini mengukur 2 subvariabel, yaitu faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik terdiri dari 5 indikator, yaitu: minat, bakat, cita-cita, pengetahuan, kematangan/kesiapan. Faktor ekstrinsik terdiri dari 5 indikator yaitu keluarga, teman, sarana, lingkungan, dan imbalan.Hasil penelitian pada faktor intrinsik dan ekstrinsik memiliki penafsiran yang sama, yaitu sama-sama menunjukkan bahwa hampir seluruh mahasiswa bermotivasi tinggi. Mahasiswa yang memiliki motivasi tinggi pada subvariabel faktor intrinsik yaitu sebanyak 44 mahasiswa (80.0%), sedangkan pada subvariabel faktor ekstrinsik yaitu sebanyak 46 mahasiswa (83.6%). Berdasarkan hasil dari masing-masing indikator untuk faktor intrinsik, yang memiliki dukungan motivasi mahasiswa menjadi guru pada kategori tinggi adalah kematangan/kesiapan, minat, dan pengetahuan, sedangkan bakat dan cita-cita berada pada kategori rendah. Hasil dari masing-masing indikator untuk faktor ekstrinsik, yang memiliki dukungan motivasi mahasiswa menjadi guru pada kategori tinggi adalah keluarga dan teman, sedangkan sarana, lingkungandan imbalan berada pada kategori rendah. Saran dalam penelitian ini adalah: (1) Jurusan Teknologi Industri diharapkan untuk memberikan informasi sejak awal kepada mahasiswa mengenai tunjangan-tunjangan profesi guru yang diselenggarakan oleh pemerintah,(2) sebaiknya mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikan di Prodi S1 Pendidikan Tata Busana, sejak awal seharusnya memiliki motivasi menjadi guru, (3) diharapkah mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busanauntuk semakin meningkatkan motivasinya terhadap profesi menjadi guru terutama kesadarannya dalam hal mengembangkan keterampilan dan pengetahuannya pada bidang keguruan(4) bagi penelitian selanjutnya yang sejenis, disarankan variabel yang ingin diteliti lebih diperluas, misalnya pada indikator penelitian dihubungkan dengan adanya program Pendidikan Profesi Guru (PPG)

    Studi Tentang Kain Tenun Ikat Ulap Doyo Khas Kutai Kartanegara

    No full text
    ABSTRAK   Qibtiyah, Mariyatul. 2015. Studi Tentang Kain Tenun Ikat Ulap Doyo Khas Kutai Kartanegara. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Agus Sunandar, S. Pd., M. Sn, (II) Dra. Nurul Aini, M.Pd.   Kata Kunci: Studi, Tenun Ikat, Ulap Doyo, Kutai Kartanegara. Salah satu kebudayaan yang dapat dilestarikan yaitu kain tenun ulap doyo yang berasal dari Kalimantan Timur. Kutai Kartanegara merupakan salah satu  daerah di provinsi Kalimantan Timur yang memiliki kain tenun dengan potensi ragam hias dan ornamen yang eksotik yaitu “Tenun Ulap Doyo”. Suku dayak Benuaq merupakan salah satu suku asli Kalimantan yang memiliki warisan budaya berupa kerajinan tenun ikat. Tujuan penelitian ini yaitu mendeskripsikan tentang asal muasal tenun ikat Ulap Doyo, proses pembuatan, serta ragam hias motif dan makna perlambang dari motif kain tenun ikat Ulap Doyo yang menjadi ciri khas Kutai Kartanegara. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Prosedur pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisi data dilakukan dengan tiga tahap yaitu mereduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data menggunakan perpanjangan pengamatan, meningkatkan ketekunan, serta trianggulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Kerajinan tenun ikat Ulap Doyo telah ada sejak kerajaan Kutai ing Martadipura, kemudian pada tahun 1970-an seorang warga suku Benuaq berusaha membangkitkan lagi semangat para pengrajin tenun agar dapat tenun Ulap Doyo tersebut tidak hilang keberadaannya. Awalnya hanya berupa polosan berwarna putih atau kuning sewarna dengan daun doyo yang kering, saat ini telah berkembang dengan tambahan benang katun. Proses pembuatannya hampir sama dengan tenun ikat tradisional yang ada di Indonesia yang berbeda hanya pengolahan bahannya saja. Ragam hias yang digunakan saat ini sudah tidak lagi memiliki nilai saklar dan sudah tidak lagi digunakan untuk kegiatan sehari-hari, hanya digunakan bila ada penyambutan tamu-tamu dari luar saja. Karakteristiknya berbeda dari tenun lain di Indonesia seperti bahan baku dari serat alami tanaman Doyo (Curcoligo Latifolia Lend) yang hanya tumbuh didaerah pedalaman hutan Kalimantan, motifnya yang berbeda dari tenun ikat lainnya yang ada di Indonesia yaitu terdapat titik-titik hitam atau yang disebut dengan temanik yang dihasilkan karena proses ikatan yang memiliki celah (jarak antar ikatan) pada saat pencelupan, kemudian pada hasil tekstur tenunnya berbeda dengan tenun lainnya karena menggunakan bahan dari serat daun Doyo yang telah kering. Bagi pengusaha, pengrajin, serta dinas terkait dapat terus mengembangkan kerajinan ini dengan mendokumentasikan pengetahuan motif yang selama ini menjadi permasalahan agar memudahkan para wisatawan yang ingin mengetahuinya. Bagi pengusaha maupun pengrajin dapat terus meningkatkan produk sesuai dengan produk inovasi baru yang berkembang saat ini

    Analisis Motif Pembelian Produk Busana Melalui Online Shop pada Mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana Universitas Negeri Malang Angkatan 2010

    No full text
    ABSTRAK   Wahyuni, Puput. 2015. Analisis Motif Pembelian Produk Busana Melalui Online Shop pada Mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana Universitas Negeri Malang Angkatan 2010. Pembimbing: (1) Dra. Rosanti Rosmawati, M.Sn. (2) Dra. Agus Hery Supadmi Irianti, M.Pd.   Kata Kunci: Analisis, Motif Pembelian, Produk Busana, Online Shop, Mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana Universitas Negeri Malang Angkatan 2010. Teknologi komunikasi yang semakin maju dan berkembang menimbulkan banyak perubahan, salah satunya adalah perubahan budaya pembelian mahasiswa Teknologi Industri Universitas Negeri Malang dari cara konvensional menjadi lebih praktis dan modern melalui online shop. Online shop merupakan sebuah website (homepage) yang berisi katalog dimana pengunjung dapat memesan barang yang dikehendaki. Pertimbangan yang mendasari kecenderungan konsumen berbelanja online shop berasal dari adanya dorongan kebutuhan dalam diri individu yang didukung oleh kondisi psikologis konsumen dan adanya usaha-usaha dari pemasar online shop serta lingkungan sosial budaya yang dapat mendorong dan mengarahkan konsumen tersebut melakukan pembelian. Penelitian bertujuan untuk menganalisis motif pembelian produk busana melalui online shop pada mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana Universitas Negeri Malang. Rancangan penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini menggunakan keseluruhan populasi pada mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana Universitas Negeri Malang Angkatan 2010 dengan jumlah responden 40 orang. Instrumen penelitian menggunakan angket tertutup. Uji validitas menggunakan validitas konstruk dan uji reliabilitas menggunakan progam SPSS For Windows 16.0 dengan analisis Cronbach Alpha. Teknik analisis data yang digunakan adalah statistik deskriptif dengan persentase. Berdasarkan hasil analisis data dari motif intrinsik dapat diketahui bahwa indikator yang paling dominan yaitu kepribadian sebagai motif pembelian (17%). Hasil analisis data dari motif ekstrinsik dapat diketahui bahwa indikator yang paling dominan yaitu usaha yang dilakukan pemasar sebagai motif pembelian (29%). Hasil Analisis Motif Pembelian Produk Busana Melalui Online Shop Pada Mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana Universitas Negeri Malang Angkatan 2010 sebagai berikut: (a) motif intrinsik memiliki persentase 50%; (b) motif ekstrinsik memiliki persentase 50%. Dapat disimpulkan bahwa motif intrinsik dan motif ekstrinsik memiliki kedudukan yang sama sebagai sub variabel dalam motif pembelian produk busana pada mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana Universitas Negeri Malang Angkatan 2010. Kesimpulan penelitian ini adalah: Pertama, pada motif intrinsik didukung oleh pertimbangan kepribadian sebagai motif pembelian, pembelajaran sebagai motif pembelian, pendapatan sebagai motif pembelian, kenyamanan sebagai motif pembelian dan yang paling dominan adalah kepribadian sebagai motif pembelian. Persepsi sebagai motif pembelian, keyakinan sebagai motif pembelian, gayahidup sebagai motif pembelian, kurang mendukung pertimbangan pembelian produk busana pada mahasiswa S1 Pendidikan Tata BusanaUniversitasNegeri Malang Angkatan 2010. Kedua, motif yang berasal dari luar (ekstrinsik) didominasi usaha yang dilakukan pemasar sebagai motif pembelian, sedangkan keluarga sebagai motif pembelian, kelas sosial sebagai motif pembelian, dan budaya sebagai motif pembelian kurang mendukung pertimbangan pembelian produk busana pada mahasiswa S1 Pendidikan Tata BusanaUniversitas Negeri Malang Angkatan 2010.Ketiga, secara keseluruhan motif intrinsik dan motif ekstrinsik memiliki kedudukan yang sama dalam pembelian produk busana melalui online shop pada mahasiswaS1 Pendidikan Tata BusanaUniversitas Negeri Malang Angkatan 2010. Saran pada penelitian ini adalah: Pertama, bagi mahasiswa sebagai konsumen online,diharapkan untuk selalu memperhatikan pertimbangan yang berasal dari dalam dirinya maupun dari luar agar lebih mudah dalam menentukan prioritas kebutuhan daripada keinginan. Kedua, bagi mahasiswa sebagai pengusaha bidang busana pada online shop, diharapkan lebih memperhatikan kualitas produk yang sesuai dengan apa yang telah disajikan pada gambar, dan meningkatkan pelayanan terhadap pelanggan sehingga dapat menimbulkan keyakinan yang kuat untuk melakukan pembelian ulang, selain itu juga disarankan untuk lebih memperhatikan strategi promosi melalui sistem endorsement pada artis, karena dirasa efektif dalam menarik calon pembeli pada online shop. Ketiga, Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan dasar maupun referensi bagi peneliti berikutnya yang tertarik meneliti tentang motif pembelian produk busana melalui online shop dengan memperluas indikator lain yang diperkirakan dapat menjadi pertimbangan dalam motif pembelian produk busana melalui online shop, dapat juga dengan melanjutkan penelitian tentang profil mahasiswa sebagai konsumen produk busana melalui online shop

    FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT KESULITAN SISWA PADA MATA PELAJARAN MEMBUAT POLA DI SMK NEGERI 1 TUREN

    No full text
    ABSTRAK   Rochmawati, Kunthi, Ravika. 2010. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kesulitan Siswa dalam Mata Pelajaran Membuat Pola di SMK Negeri 1 Turen”. Skripsi, Program Studi Pendidikan Tata Busana, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Nurul Hidayati, S.Pd, M.Sn (2) Dra. Esin Sintawati, M.Pd.   Kata Kunci: faktor yang mempengaruhi tingkat kesulitan siswa, faktor intern, faktor ekstern, pola Faktor  yang mempengaruhi tingkat kesulitan siswa merupakan segala sesuatu yang menyebabkan kesulitan yang dialami oleh siswa. Faktor yang mempengaruhi tingkat kesulitan dalam penelitian ini berhubungan dengan pelajaran pola. Pola merupakan salah satu pelajaran yang diikuti siswa Busana Butik Kelas XI. Faktor yang menjadi pengaruh adalah faktor intern yang berasal dari dalam siswa dan faktor ekstern yang berasal dari luar siswa yang sedang belajar. Berdasarkan observasi awal peneliti menemukan lebih dari 50% siswa busana butik kelas X dan kelas XI memiliki nilai dibawah KKM dengan rata-rata nilai 71 dan 57,87% siswa kelas XI Busana Butik SMK Negeri 1 Turen mendapatkan nilai dibawah KKM rata-rata nilai 70 dalam mata pelajaran membuat pola. Penelitian menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif. Penelitian dilakukan di SMK Negeri 1 Turen dan sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI BB1 dan XI BB2 jurusan Busana Butik dengan jumlah populasi 64 siswa. uji validitas dalam penelitian ini menggunakan validitas konstruk. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner (angket) tertutup. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif dengan persentase. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa faktorr internyang mempengaruhi kesulitan siswa yaitu sikap siswa yang kurang memperhatikan saat guru menjelaskan materi pembuatan pola dan bakat siswa yang tergolong sedang yang dapat dilihat dari kurangnya kemampuan siswa dalam membuat pola, sedangkan minat dan motivasi siswa tergolong baik, sehingga tidak mempengaruhi kesulitan siswa dalam mengikuti mata pelajaran membuat pola. Faktor ekstern yang mempengaruhi kesulitan siswa yaitu lingkungan non sosial mengenai kurangnya fasilitas jurusan busana butik dalam mata pelajaran membuat pola, seperti ruangan yang tidak sesuai dengan banyaknya siswa dan minimnya meja potong untuk pembuatan pola, sedangkan lingkungan sosial sekolah dan lingkungan sosial siswa tidak mempengaruhi kesulitan siswa dalam mengikuti mata pelajaran membuat pola. Saran yang dapat peneliti kemukakan adalah (1) bagi kepala sekolah dan sarana prasana sebaiknya lebih mengoptimalkan fasilitas pembelajaran dengan cara membagi rombongan belajar agar fasilitas yang ada dapat digunakan secara ideal sesuai jumlah siswa agar pembelajaran berjalan dengan maksimal; (2) guru sebaiknya lebih mengembangkan cara penyampaian materi tentang pembuatan pola menggunakan metode demonstrasi dengan memperagakan serta membimbing langsung tentang langkah-langkah membuat pola

    0

    full texts

    632

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Tata Busana - Fakultas Teknik UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇