SKRIPSI Jurusan Tata Busana - Fakultas Teknik UM
SKRIPSI Jurusan Tata Busana - Fakultas Teknik UMNot a member yet
632 research outputs found
Sort by
Pemetaan Peluang Pembelajaran Pada Butik Tempat Praktik Industri Mahasiswa S1 dan D3 Tata Busana tahun 2015
ABSTRAK Sari, Nur Malita. 2015. Pemetaan Peluang Pembelajaran Pada Butik Tempat Praktik Industri Mahasiswa S1 dan D3 Tata Busana Tahun 2015. Skripsi Jurusan Teknologi Industri Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dra. Endang Prahastuti, M. Pd, (2) Dra. Hapsari Kusumawardani, M. Pd. Kata kunci: Pemetaan, Butik, Tempat praktik industri Setiap tahunnya banyak mahasiswa S1 dan D3 Tata Busana yang memilih melaksanakan praktik industri pada bidang usaha butik, dikarenakan butik adalah usaha busana yang memproduksi busana secara eksklusif dan mahasiswa berharap mendapatkan tambahan ilmu yang lebih dibandingkan bidang usaha busana lain dan bermanfaat. Fakta di lapangan peluang yang terdapat pada industri tidak sesuai dengan kompetensi yang dimiliki mahasiswa.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemetaan peluang pembelajaran yang ada pada butik tempat praktik industri mahasiswa sesuai dengan kompetensi dasar yang dimiliki mahasiswa S1 dan D3 Tata Busana.Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif karena mampu mengungkapkan pemetaan peluang pembelajaran yang ada pada butik tempat praktik industri. Butik yang dijadikan sumber data dalam penelitian ini terdapat lima butik yang berada di kota Malang yang sedang dijadikan tempat praktik industri mahasiswa S1 dan D3 Tata Busana yaitu Victory *Istana Bordir* Salon & Boutique, Value of Andy Sugix, Iwan Bridal Salon, Reve Couture, dan Silla Moda. Teknik pengumpulan yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Pengecekan keabsahan data menggunakan meningkatkan ketekunan, triangulasi sumber data, dan triangulasi teknik.Hasil analisis data yang ditemukan adalah (1) Desain meliputi gambar desain dan gambar pola: mahasiswa yang mendapatkan peluang pembelajaran menggambar desain busana diperoleh mahasiswa yang sedang praktik industri pada Iwan Bridal Salon dan mahasiswa yang mendapatkan peluang pembelajaran membuat pola adalah mahasiswa yang yang praktik industri pada Victory *Istana Bordir* Salon & Boutique dan Value of Andy Sugix, (2) Persiapan bahan: mahasiswa yang sedang melaksanakan praktik industri pada lima butik tidak mendapat peluang pembelajaran mempersiapkan bahan, (3) Cutting: mahasiswa yang melaksanakan praktik industri pada Victory *Istana Bordir* Salon & Boutique, Reve Couture, Iwan Bridal Salon, dan Value of Andy Sugix mendapat peluang pembelajaran memotong bahan, (4) Sewing: mahasiswa mendapat peluang pembelajaran menjahit pada lima butik tempat praktik industri, (5) Finishing: mahasiswa mendapat peluang pembelajaran finishing pada lima butik tempat praktik industri, (6) Hiasan busana: mahasiswa mendapat peluang pembelajaran menghias busana pada lima butik tempat praktik industri, (7) Pressing: mahasiswa mendapat peluang pembelajaran penyetrikaan pada lima butik tempat praktik industri, (8) Aksesoris dan millineris: mahasiswa yang sedang praktik industri pada Reve Couture dan Value of Andy Sugix mendapat peluang pembelajaran membuat aksesoris sedangkan untuk millineris tidak semua butik menyediakan kalaupun menyediakan pada umumnya memesan pada pihak lain, (9) Quality Control: mahasiswa tidak mendapat peluang pembelajaran quality control pada lima butik tempat praktik industri, (10) Pemasaran: mahasiswa yang melaksanakan praktik industri pada Value Of Andy Sugix dan Silla Moda mendapat peluang pembelajaran pemasaran berupa menemani konsumen melakukan fitting dengan ditemani pemilik butik, dan (11) Perbaikan/reparasi: mahasiswa yang mendapat peluang pembelajaran melakukan perbaikan pada busana yang melaksanakan praktik industri pada Silla Moda. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan saran yang dapat peneliti diberikan adalah memohon kebijakan kepada pemilik butik untuk memberikan peluang pembelajaran yang belum diberikan kepada mahasiswa untuk memberikan peluang pembelajaran kepada mahasiswa yang akan melaksanakan praktik industri kembali pada butik mereka dan kepada peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian serupa pada tempat praktik industri bidang busana yang lain seperti garmen, konveksi, dan Lembaga Pendidikan Luar Sekolah Bidang Busana (LPK)
Tanggapan Guru Mata Pelajaran Produktif Program Studi Keahlian Tata Busana terhadap Implementasi Kurikulum 2013 di SMK Negeri 3 dan 5 Malang
ABSTRAK Wati, Olivia. 2015. Tanggapan Guru Mata Pelajaran Produktif Program Studi Keahlian Tata Busana terhadap Implementasi Kurikulum 2013 di SMK Negeri 3 dan 5 Malang. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Agus Sunandar, S.Pd., M.Sn., (II) Dra. Nurul Aini, M.Pd. Kata Kunci: kurikulum 2013, tanggapan guru, implementasi kurikulum Pada tahun 2013, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan kurikulum 2013 sebagai perubahan untuk menyempurnakan Kurikulum sebelumnya. Perubahan yang terdapat pada kurikulum tersebut memicu pro dan kontra dari kalangan pendidik. Guru merupakan ujung tombak serta garda terdepan dalam implementasi kurikulum. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tanggapan guru mata pelajaran produktif program studi keahlian tata busana terhadap implementasi kurikulum 2013 di SMK Negeri 3 dan 5 Malang yang mencakup perencanaan, pelaksanaan dan penilaian. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif dengan pendekatan Kuantitatif untuk menjawab pertanyaan di atas. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan angket sebagai alat pengumpulan data. Pengumpulan data menggunakan instrumen dalam bentuk angket. Data dalam penelitian ini dianalisis dengan analisis deskriptif presentase. Berdasarkan hasil analisis data tersebut diperoleh empat hasil kesimpulan sebagai berikut. Pertama, tanggapan guru pada keseluruhan perencanaan tergolong sangat tinggi. ini artinya bayak guru yang sangat setuju dan menganggap sangat baik sub variabel perencanaan dalam implementasi kurikulum 2013. Kedua, Tanggapan guru pada keseluruhan pelaksanaan tergolong tinggi, kecuali pada indikator pendekatan saintifik. ini artinya responden setuju dan menganggap baik sub variabel pelaksanaan dalam implementasi kurikulum 2013 kecuali pada indikator pendekatan saintifik. Ketiga, Tanggapan guru pada keseluruhan penilaian tergolong tinggi. ini artinya bayak guru yang sangat setuju dan menganggap sangat baik sub variabel penilaian dalam implementasi kurikulum 2013. Keempat, Rekapitulasi keseluruhan penelitian tentang tanggapan guru mata pelajaran produktif program studi keahlian tata busana terhadap implementasi kurikulum 2013 di SMK Negeri 3 dan 5 Malang didapatkan kesimpulan bahwa guru setuju dan menganggap baik pada hampir semua indikator sedangkan pada indikator pendekatan saintifik saja yang menyatakan Kurang setuju dan menggap kurang baik
Studi Tingkat Kesulitan Pembuatan Bra Pada Matakuliah Lingerie Mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana 2011
ABSTRACT Amalia, Jeihan. 2016. Studi Tingkat Kesulitan Pembuatan Bra Pada Matakuliah Lingerie Mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana 2011. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Program Studi S1 Pendidikan Tata Busana, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Agus Hery Supadmi Irianti, M.Pd (II) Dra. Endang Prahastuti, M.PdKata Kunci: Tingkat Kesulitan, Pembuatan Bra, LingerieMatakulah Lingerie merupakan salah satu matakuliah praktik pada mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Tata Busana Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pada matakuliah ini mahasiswa dituntut untuk membuat basic panties, basic bra, sleep wear, breast up / long torso. Salah satu materi dari matakuliah tersebut adalah pembuatan basic bra. Pada proses pembuatan bra mahasiswa mengalami kesulitan karena bahan elastis yang digunakan membuat proses menjahit lebih sulit karena karakteristik bahan yang tidak sesuai dengan mesin yang digunakan terutama pada saat menjahit zig – zag yang menggunakan mesih jahit portable. Selain itu, pola bahan harus sesuai dengan cup bra yang akan digunakan. Mahasiswa juga kesulitan mencari bahan pelengkap yang digunakan cukup sulit untuk didapatkan oleh mahasiswa, seperti tali bra yang warnanya harus sesuai dengan warna bahan utama, elastik yang digunakan pada bagian lingkar dada, serta bisban yang digunakan untuk kelim. Tingkat kesulitan pembuatan bra inilah yang diangkat peneliti untuk penelitian. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian adalah tingkat kesulitan dalam proses pembuatan bra pada matakuliah Lingerie. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kesulitan pembuatan bra pada matakuliah Lingerie S1 Pendidikan Tata Busana.Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah sampel populasi yaitu, mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana angkatan 2011 sejumlah 61 mahasiswa. Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket / kuesioner tingkat kesulitan pembuatan bra.Tingkat kesulitan pembuatan bra terdiri dari dua sub variabel, yaitu kesulitan pembuatan bra dari aspek materi dan kesulitan pembuatan bra dari aspek sarana. Kesulitan pembuatan bra dari aspek materi terdapat lima indikator yaitu aspek desain, aspek pemngambilan ukuran, aspek pembuatan pola, aspek proses cutting, dan aspek proses menjahit. Selain itu, Kesulitan pembuatan bra dari aspek sarana terdapat dua indikator yaitu aspek ketersediaan bahan, serta aspek ketersediaan alat menjahit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: rata-rata tingkat kesulitan pembuatan bra kategori agak sulit pada aspek desain, aspek pembuatan pola, aspek proses cutting, serta aspek ketersediaan alat menjahit, kategori sulit pada aspek ketersediaan bahan, serta kategori sangat sulit pada aspek proses menjahit. Saran yang dapat diberikan dari penelitian ini antara lain: (1) penyajian matakuliah Lingerie pada pembuatan bra disarankan lebih ditingkatkan lagi strategi mengajarnya untuk memaksimalkan kompetensi yang diharapkan khususnya pada proses menjahit serta aspek ketersediaan bahan, agar dapat memberikan motivasi yang lebih kepada mahasiswa sehingga dapat mengatasi kesulitan yang dialami mahasiswa tersebut, (2) untuk mengatasi tingkat kesulitan pembuatan bra pada matakuliah Lingerie perlu refrensi pembuatan bra yang baru sebagai acuan
Studi Tentang Peran Siswa Dalam Pengelolaan Unit Produksi Kompetensi Keahlian Busana Butik di SMK Negeri 3 Malang
ABSTRAK Puspita, Yevi Prisca. 2015. Studi tentang Peran Siswa Dalam Pengelolaan unit Produksi Kompetensi Keahlian Busana Butik di SMK Negeri 3 Malang. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Agus Hery S.I., M.Pd., (2) Nurul Hidayati, S.Pd., M.Sn . Kata Kunci: Peran Siswa, Pengelolaan, Unit Produksi Unit produksi sebagai wahana pelatihan yang berbasis produksi atau jasa bagi siswa serta wahana untuk menumbuhkan dan mengembangkan jiwa kewirausahaan, dalam penyelenggaraan unit produksi siswa memperoleh pembinaan di bidang pengelolaan unit usaha yang bersifat bisnis dengan menerapkan fungsi-fungsi manajemen. Namun observasi awal menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan unit produksi di SMK Negeri 3 Malang keterlibatan siswa dalam penyelenggaraan unit produksi belum terlaksana secara optimal, kegiatan siswa dalam unit produksi hanya sebatas menangani pekerjaan yang bersifat praktis yang diberikan oleh koordinator unit produksi, tetapi siswa belum diberi pelatihan sampai kepada manajemen pengelolaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana siswa kelas XII busana butik SMK Negeri 3 Malang berperan dalam pengelolaan unit produksi sanggar busana Dahlia. Jenis penelitian ini, adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Simple Random Sampling. Sedangkan cara penentuan ukuran sample penelitian mengacu pada tabel yang dikembangkan oleh Isaac dan Michael. Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 3 Malang dengan jumlah responden 73 orang. Instrumen penelitian ini berupa angket tertutup. Untuk uji validitas menggunakan validiatas isi (content validity) dan uji reliabilitas menggunakan Cronbach Alpha. Hasil analisis dengan teknik analisis data deskriptif dengan hasil berbentuk persentase. Hasil yang diperoleh dari penelitian “Studi tentang Peran Siswa Dalam Pengelolaan unit Produksi Kompetensi Keahlian Busana Butik di SMK Negeri 3 Malang” yakni; (1) kegiatan perencanaan berada pada kategori cukup baik 53%, (2) kegiatan pengorganisasian berada pada kategori cukup baik 47%, (3) kegiatan pelaksanaan berada pada kategori sangat baik 51%, (4) kegiatan pengawasan berada pada akategori cukup baik 33%, (5) kegiatan evaluasi berada pada kategori kurang 42%, (6) peran siswa dalam unit produksi kompetensi keahlian busana butik di SMK Negeri 3 Malang pada seluruh kegiatan pnegelolaan dikategorikan cukup baik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah secara keseluruhan peran siswa dalam pengelolaan unit produksi dikategorikan cukup. Pada perencanaan, pengorganisasian dan pengawasan dalam kategori cukup, hal ini disebabkan karena ketiga kegiatan tersebut sebelumnya sudah ada adan berjalan. Peran siswa pada kegiatan pelaksanaan dalam kategori sangat baik hal ini sesuai dengan tujuan unit produksi, sedangkan peran siswa pada kegiatan evaluasi dalam kategori kurang karena sepenuhnya dilakukan oleh koordinator unit produksi. Saran yang diberikan adalah meningkatkan peran siswa dalam kegiatan pengelolaan secara keseluruhan, hal ini diharapakan agar siswa memperoleh pembinaan di unit produksi yang bersifat bisnis dengan menerapkan fungsi-fungsi manajemen dan unit produksi sebagai tempat prakerin sebaiknya melibatkan peran siswa karena praktik usaha didalam unit produksi memberi pekerjaan yang sesungguhnya kepada siswa sehingga unit produksi dapat memberi pengalaman usaha yang seluas-luasnya
kesiapan guru tata busana SMK Negeri 3 Malang dalam implementasi kurikulum 2013
ABSTRAK Murnimin, Watik. 2015. Kesiapan Guru Tata Busana SMK Negeri 3 Malang dalam Implementasi Kurikulum 2013. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Tata Busana, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pemimbing: (1) Dra. Esin Sintawati, M.Pd (2) Dra. Rosanti Rosmawati, M.Sn. Kata kunci : Kesiapan guru, implementasi kurikulum, kurikulum 2013 Kurikulum 2013 merupakan tantangan baru yang harus dilaksanakan, dan tantangan tersebut berhubungan dengan kesiapan guru dalam menerapkan kurikulum 2013. Berdasarkan surat edaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor: 179342/MPK/KR/2014 tentang Pelaksanaan Kurikulum menjelaskan bahwa Kurikulum 2013 diterapkan di 6.221 sekolah sejak tahun pelajaran 2013/2014 dan di semua sekolah di seluruh tanah air pada tahun ajaran 2014/2015. kontroversi kurikulum 2013 terus bergulir setelah pengimplementasian diseluruh sekolah di tanah air, penerapan kurikulum 2013 dinilai terlalu cepat dan terburu-buru oleh sebagian pihak yang bersangkutan bahkan banyak guru yang belum siap dengan penerapan kurikulum 2013. Pada tanggal 5 Desember 2014 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan memutuskan untuk menghentikan pelaksanaan kurikulum 2013 di sekolah-sekolah yang baru menerapkan satu semester, yaitu sejak Tahun Pelajaran 2014/2015 dan kembali pada Kurikulum 2006, akan tetapi tetap menerapkan Kurikulum 2013 di sekolah-sekolah yang telah tiga semester ini menerapkan yaitu sejak Tahun Pelajaran 2013/2014 dan menjadikan sekolah tersebut sebagai sekolah pengembangan dan percontohan penerapan(pilot project) Kurikulum 2013.Penelitian bertujuan untuk mengetahui kesiapan guru tata busana SMK Negeri 3 Malang dalam implementasi kurikulum 2013. Secara umum metode penelitian menggunakan kuantitatif deskriptif. Untuk instrumen dan teknik pengumpulan data menggunakan angket tertutup. Obyek yang digunakan untuk angket adalah guru Tata Busana SMK Negeri 3 Malang, penelitian ini merupakan penelitian populasi karena semua jumlah populasi digunakan sebagai obyek penelitian. Uji validitas menggunakan validitas konstruk dan uji reliabelitas menggunakan program SPSS For Windows 16.0 dengan analisis Cronbach Alpha. Teknik analisis data yang digunakan adalah statistik deskriptif dengan persentase.Hasil penelitian ini antara lain adalah: (1) guru tata busana SMK Negeri 3 Malang sebagian besar memiliki kesiapan dalam Implementasi Kurikulum 2013 ditinjau dari Aspek Kompetensi Pedagogik, (2) guru tata busana SMK Negeri 3 Malang sebagian besar memiliki kesiapan dalam Implementasi Kurikulum 2013 ditinjau dari aspek kompetensi kepribadian. (3) guru tata busana SMK Negeri 3 Malang sebagian besar memiliki kesiapan dalam Implementasi Kurikulum 2013 ditinjau dari aspek kompetensi sosial, (4) guru tata busana SMK Negeri 3 Malang sebagian kurang memiliki kesiapan dalam Implementasi Kurikulum 2013 ditinjau dari aspek kompetensi profesional. Sebagian besar guru tata busana SMK Negeri 3 Malang memiliki kesiapan dalam implementasi kurikulum 2013 ditinjau dari aspek pedagogik, kepribadian, dan sosial berdasarkan penilaian individu guru. Akan lebih sempurna lagi jika penilaian sebuah kinerja tidak hanya dilakukan oleh diri sendiri melainkan oleh orang lain seperti teman sejawat, Kepala Sekolah, Wakil kepala Sekolah Bidang Kurikulum, bahkan peserta didik untuk mengurangi unsur subyektifitas pada sebuah penilaian. Hal tersebut perlu dilakukan untuk melatih objektifitas dan bahan evaluasi diri, serta tindakan reflektif untuk meningkatkan kualitas kinerja seorang guru
Tanggapan Guru Mata Pelajaran Produktif Program Studi Keahlian Tata Busana terhadap Implementasi Kurikulum 2013 di SMK Negeri 3 dan 5 Malang
ABSTRAK Pada tahun 2013, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan kurikulum 2013 sebagai perubahan untuk menyempurnakan Kurikulum sebelumnya. Perubahan yang terdapat pada kurikulum tersebut memicu pro dan kontra dari kalangan pendidik. Guru merupakan ujung tombak serta garda terdepan dalam implementasi kurikulum. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tanggapan guru mata pelajaran produktif program studi keahlian tata busana terhadap implementasi kurikulum 2013 di SMK Negeri 3 dan 5 Malang yang mencakup perencanaan, pelaksanaan dan penilaian. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif dengan pendekatan Kuantitatif untuk menjawab pertanyaan di atas. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan angket sebagai alat pengumpulan data. Pengumpulan data menggunakan instrumen dalam bentuk angket. Data dalam penelitian ini dianalisis dengan analisis deskriptif presentase. Berdasarkan hasil analisis data tersebut diperoleh empat hasil kesimpulan sebagai berikut. Pertama, tanggapan guru pada keseluruhan perencanaan tergolong sangat tinggi. ini artinya bayak guru yang sangat setuju dan menganggap sangat baik sub variabel perencanaan dalam implementasi kurikulum 2013. Kedua, Tanggapan guru pada keseluruhan pelaksanaan tergolong tinggi, kecuali pada indikator pendekatan saintifik. ini artinya responden setuju dan menganggap baik sub variabel pelaksanaan dalam implementasi kurikulum 2013 kecuali pada indikator pendekatan saintifik. Ketiga, Tanggapan guru pada keseluruhan penilaian tergolong tinggi. ini artinya bayak guru yang sangat setuju dan menganggap sangat baik sub variabel penilaian dalam implementasi kurikulum 2013. Keempat, Rekapitulasi keseluruhan penelitian tentang tanggapan guru mata pelajaran produktif program studi keahlian tata busana terhadap implementasi kurikulum 2013 di SMK Negeri 3 dan 5 Malang didapatkan kesimpulan bahwa guru setuju dan menganggap baik pada hampir semua indikator sedangkan pada indikator pendekatan saintifik saja yang menyatakan Kurang setuju dan menggap kurang baik
STUDI TENTANG MOTIF KHAS BATIK PAPUA
ABSTRAK Wahdiyanti, Widia. 2015. Studi tentang Motif Khas Batik Papua. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Sri Eko Puji Rahayu, M.Si., (2) Dra. Hapsari Kusumawardani, M.Pd. Kata kunci: Motif Khas, Makna Motif, Batik Papua Kebudayaan di Papua sangat beragam, karena Papua memiliki beragam suku, namun keberagaman budaya asli Papua saat ini terancam punah karena belum terdokumentasi dengan baik. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan Papua adalah dengan melestarikan motif batik. Motif Batik Papua sangat unik dan khas karena terinspirasi dari tradisi, kebudayaan, dan keadaan alam Papua. Banyaknya ragam motif batik yang ada di berbagai daerah di Indonesia merupakan kebudayaan yang sangat luar biasa. Oleh sebab itu, seluruh masyarakat Indonesia wajib melestarikan aset tersebut, agar tidak diakui oleh pihak lain. Penelitian ini berfokus pada: (1) Motif Khas Batik Papua; (2) Makna dari Motif Khas Batik Papua. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Metode penelitian yang digunakan adalah Triangulasi Sumber Data dan Triangulasi Teknik. Berdasarkan temuan peneliti di lapangan diperoleh data: (1) Batik Papua memiliki 10 motif khas yaitu, (a) motif Burung Cendrawasih, (b) motif Tifa, (c) motif Rumah Honai, (d) motif Panah, (e) motif Tombak, (f) motif Patung, (g) motif Tameng, (h) motif Bumerang, (i) motif Koteka, dan (j) motif Kapak Batu; (2) makna perlambang dari motif khas Batik Papua adalah: (a) motif Burung Cendrawasih merupakan maskot utama dari Papua, (b) motif Tifa bermakna mengenalkan salah satu alat musik tradisional Papua, (c) motif Rumah Honai menggambarkan rumah adat Papua, (d) motif Panah bermakna mengenalkan salah satu senjata tradisional khas Papua, (e) motif Tombak merupakan lambang tradisi orang Papua dalam segi sistem matapencaharian, (f) motif Patung melambangkan tradisi orang Papua dalam berkesenian, (g) motif Tameng menggambarkan salah satu senjata tradisional khas Papua, (h) motif Bumerang bermakna mengenalkan salah satu senjata tradisional Papua yang sudah hampir punah, (i) motif Koteka bermakna mengenalkan pakaian adat Papua, (j) motif Kapak Batu bermakna untuk mengenalkan alat tradisional khas Papua. Batik Papua yang ada dipasaran saat ini adalah batik yang di produksi secara massal untuk kebutuhan komersial, diproduksi di luar Papua, dan dibuat bukan oleh orang Papua. Penamaan Batik Papua secara umum terfokus pada motif-motif umum yang telah terkenal dan merupakan ikon Papua. Konsumen batik cenderung menilai batik hanya dari sisi estetika tanpa memahami lebih jauh kajian yang terkandung dalam estetika itu sendiri. Secara kasat mata, batik tidak kehilangan eksistensinya, namun makna yang terkandung dalam setiap corak kain batik mulai terlupakan. Hal tersebut dikhawatirkan akan menyebabkan terjadinya pergeseran makna dan nilai yang terkandung dalam batik yang mengangkat kearifan lokal di Papua. Saran yang dapat peneliti kemukakan adalah: (1) peran aktif semua elemen masyarakat, lembaga seni dan budaya serta, pihak pemerintah daerah untuk terus mendorong generasi muda Papua dalam berkarya dan mengeksplorasi kearifan lokal mereka pada sehelai kain batik, juga agar mendokumentasikan data-data penting yang dimiliki, guna dijadikan sebuah bukti tertulis bahwa Batik Papua memiliki karya klasik yang dapat membanggakan wilayah Papua, dan juga untuk memudahkan berbagai kajian mengenai Batik Papua selanjutnya. (2) Pemerintah perlu mengeluarkan regulasi yang kemudian menjadi patokan dan pembeda ragam hias batik yang lahir berdasarkan wilayah budaya dan sub kebudayaan di Papua. (3) Harapan lain adalah pembatik juga harus mampu meningkatkan kualitas produk batik dan tetap mengenali karakteristik serta kebutuhan pasar saat ini
Studi Tentang Penerapan Kurikulum 2013 (K13) pADA mATA pelajaran Dasar Desain Tingkat X Program Keahlian Tata Busana Di SMK Negeri 3 Malang
ABSTRAK Ernawati, Mega Margaret 2015. Studi Penerapan Kurikulum 2013(K13)Pada Mata Pelajaran Dasar Desain Tingkat X Program Keahlian Tata Busana di SMK Negeri 3 Malang. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Endang Prahastuti, M.Pd, (II) Nurul Hidayati, S.Pd, M.Sn. Kata Kunci: Kurikulum 2013 (K13), Penerapan, Dasar Desain Studi pendahuluan yang peneliti lakukan dalam wawancara kepada guru dasar desain menunjukkan bahwa dari pengalaman implementasi K13 dalam pembelajaran keahlian tata busana yang dilaksanakan guru telah mampu memberi bekal yang baik untuk kurikulum 2013 dalam proses pembelajaran. Akan tetapi dalam hasil observasi, pelaksanaan pembelajaran guru belum sepenuhnya menerapkan tahap-tahap pembelajran sesuai yang telah direncanakan dalam RPP. Untuk itu peneliti ingin meneliti penerapan kurikulum 2013 (K13) pada mata pelajaran dasar desain. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Prosedur pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan tiga tahap yaitu mereduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data menggunakan perpanjangan pengamatan, meningkatkan ketekunan, serta triangulasi. Berdasarkan temuan penelitian dilapangan bahwa RPP yang disusun guru sudah mengkaji pada silabus dari pemerintah, secara umum pelaksanaan pembelajaran dasar desain tidak selalu sama dengan perencanaan yang terdapat pada RPP yang disusun guru, pada pelaksanaan pembelajaran guru belum mengaitkan antara KI-1dan KI-2 dengan KI-3 dan KI-4, didalam proses pembelajaran guru terlalu menggunakan budaya klasik dimana guru cenderung lebih banyak menerangkan pembelajaran sehingga siswa kurang aktif, tidak adanya kebijakan khusus secara tertulis dari kepala sekolah, kebijakan yang dibuat oleh kepala sekolah adalah kebijakan lisan yang menyatakan bahwa guru harus menerapkan kurikulum 2013 dalam setiap pembelajaran. Kesimpulan dari penelitian ini, (1) Perencanaan pembelajaran dasar desain program keahlian tata busana di SMKN 3 Malang dalam perencanaan RPP sesuai dengan standar kompetensi lulusan (SKL), kompetensi Inti (KI),dan kompetnsi dasar (KD) dan silabus yang ditetapkan oleh pemerintah, (2) Pelaksanaan pembelajaran dasar desain program keahlian tata busana di SMKN 3 Malang, secara umum telah mengacu pada RPP meskipun dalam proses pembelajaran tidak semua kegiatan pembelajaran selalu sesuai dengan kegiatan yang dirancang guru dalam RPP, dan (3) Evaluasi menggunakan penilaian otentik dengan menggunakan instrumen berupa tes dan non-test yang dikembangkan dengan menggunakan pendekatan Tes Acuan Patokan (TAP). Saran dari penelitian ini, (1) Bagi SMK Negeri 3 Malang, Mengikutkan para guru dalam kegiatan pelatihan, workshop dan sejenisnya yang berkaitan dengan penerapan kurikulum 2013, (2) Bagi Guru Diharapkan dapat menyampaikan pembelajaran kepada peserta didik sesuai dengan standar pembelajaran guna mencapai tujuan pembelajaran sesuai dengan Kurikulum 2013. dan (3) Bagi diharapkan peneliti berikutnya dapat meneliti tentang presepsi peserta didik terhadap penerapan kurikulum 2013 yang dilaksanakan guru di SMK se-kota Malang
Analisis Proses dan Kesalahan Translasi Matematis antar Representasi Fungsi Kuadrat oleh Siswa Kelas X SMAN 10 Malang
ABSTRAK Hadi, Mei Rina. 2015.Analisis Proses dan Kesalahan Translasi Matematis antar Representasi Fungsi Kuadrat oleh Siswa Kelas X SMAN 10 Malang. Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang, Pembimbing:(I)Prof. Akbar Sutawidjaja, M. Ed, Ph.D., (II) Dr. Sri Mulyati, M.Pd. Kata kunci: translasi matematis, representasi, kesalahan translasi, fungsi kuadrat Translasi atau proses translasi diartikan sebagai proses kognitif dalam mentransformasikan informasi yang termuat dalam suatu representasi (sumber) ke representasi yang lain (target).Kemampuan siswa untuk mentranslasikan representasi yang berbeda akan membantu guru menilai pemahaman siswa.Proses translasi matematis dapat dijabarkan dalam empat aktivitas, yakni unpacking the source, preliminary coordination, constructing the targetdetermining equivalence.Pada proses translasi matematis juga dimungkinkan terjadi kesalahan, kesalahan tersebut dapat dikategorikan sebagai interpretation error, implementation error, ataupreservation error.Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mendeskripsikan proses dan kesalahan translasi matematis antar representasifungsi kuadrat yang dilakukan siswa kelas X. Penelitian difokuskan pada translasi antar representasi fungsi kuadrat dari grafik ke simbolik, tabel ke simbolik, dan verbal ke simbolik. Penelitian dilaksanakan di SMAN 10 Malang dengan subyek penelitian enam siswa kelas X, yang telah mempelajari konsep fungsi kuadrat. Data yang dikumpulkan antara lain hasil uji translasi matematis, hasil wawancara, dan rekaman audio visual. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji translasi matematis, pedoman wawancara, dan rekaman audio visual. Analisis data difokuskan pada empat aktivitas translasi matematis dan kesalahan yang dilakukan selama proses translasi matematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa translasi matematis fungsi kuadrat dari grafik ke simbolik dapat dilakukan dengan baik dan lengkap oleh siswa kelompok tinggi, sedangkan kelompok sedang dan rendah cukup baik namun masih belum memperoleh fungsi kuadrat yang sesuai. Kesalahan yang dilakukan siswa selama translasi dari grafik ke simbolik adalah kesalahan interpretasidan kesalahan implementasi. Translasi matematis dari tabel ke simbolik dilakukan dengan tuntas oleh siswa kelompok tinggi, sedangkan kelompok sedang cukup baik namun berhenti pada proses konstruksi, dan kelompok rendah menunjukkan adanya kesalahan pemahaman dari tabel yang diberikan sehingga belum dapat melakukan aktivitas konstruksi target. Kesalahan yang dilakukan siswa selama translasi dari tabel ke simbolik adalah kesalahan interpretasi dan kesalahan implementasi. Translasi matematis dari verbal ke simbolik hanya dapat dilakukan dengan tuntas oleh siswa kelompok tinggi, sedangkan kelompok sedang dan rendah tidakmenunjukkan adanya proses konstruksi target. Pada translasi dari verbal ke simbolik, siswa melakukan kesalahan interpretasi dan kesalahan pengawetan
Motivasi Belajar Mata Pelajaran Desain Dengan Model Jigsaw Pada Siswa Tata Busana SMKN 3 Malang.
ABSTRAK Lina, Tika Qoirul. 2015. Motivasi Belajar Mata Pelajaran Desain Dengan ModelJigsaw Pada Siswa Tata Busana SMKN 3 Malang. Skripsi. Jurusan TeknologiIndustri Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra.Idah Hadijah, M.Pd, (II) Dra. Hapsari Kusumawardani, M.Pd Kata kunci : motivasi belajar, model jigsaw Pembelajaran merupakan sesuatu yang penting dalam pendidikan. Segala yang berhubungan dengan proses belajar harus diperhatikan dengan baik, sehingga tercapaitujuan pembelajaran. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada SMKN 3Malang diketahui bahwa pembelajaran produktif pada mata pelajaran dasar desaincenderung menggunakan model pembelajaran Konvensional. Pada kegiatan belajarmengajar siswa cenderung pasif sehingga pembelajaran terpusat pada guru. Dampakyang terlihat motivasi dan hasil belajar kurang memuaskan. Oleh karena itu, guru harusdapat menciptakan suasana belajar yang aktif sehingga memotivasi siswa untuk belajar.Model pembelajaran kooperatif Jigsaw merupakan pembelajaran kelompok yangmempunyai dua jenis kelompok yaitu kelompok asal dan kelompok ahli dengan konseppembelajaran tutor sebaya, yang saling mendukung untuk menunjang kegiatanpembelajaran yang lebih variatif dan bermakna. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah motivasi belajar siswa pada mata pelajaran dasar desain setelah diajar menggunakan model Jigsaw di SMKN 3Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Populasipenelitian adalah semua siswa kelas X Jurusan Tata Busana SMKN 3 Malang.Pengambilan sampel ini didasarkan nilai pada kelas yang memiliki rata-rata sama atauhampir sama pada pelajaran desain. Instrumen penelitian yang digunakan untukmengumpulkan data adalah angkte tertutup. Uji validitas menggunakan validitas ahlidan uji reliabilitas menggunakan bantuan SPSS 16. Teknik analisis data yangdigunakan adalah analisis statistik deskriptif dengan persentase. Berdasarkan rumusan masalah dan hasil penelitian yang telah dilakukandiperoleh kesimpulan yaitu motivasi belajar siswa pada mata pelajaran desainmenggunakan model jigsaw menunjukkan hasil yang sangat baik. Sebelumpmebelajaran menggunakan model jigsaw siswa termotivasi untuk belajar desain,setelah pembelajaran menggunakan model jigsaw siswa menjadi sangat termotivasi untuk belajar desain. Hal ini menunjukkan bahwa model jigsaw mampu membuatsiswa menjadi sangat termotivasi dalam pembelajaran pada mata pelajaran desain. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah ada, maka saran yangditulis peneliti yaitu: (1) bagi guru mata pelajaran produktif, model Jigsaw dapatmenjadi alternatif dalam pemilihan model pembelajaran untuk mata pelajaran dasardesain. Selain itu, model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat memberikanrangsangan siswa untuk mengikuti kegiatan belajar di kelas dan menumbuhkan kompetensi siswa untuk mengikuti pelajaran dari awal untuk mengikuti pelajaran dariawal sampai akhir. Proses belajar mengajar yang baik tentunya ikut mempengaruhikompetensi siswa pada mata pelajara tersebut, dan (2) bagi sekolah, model Jigsawdapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar, dengan demikian sekolah diharapkanbisa memberikan fasilitas yang memadai untuk pembelajaran model Jigsaw terhadapsetiap mata pelajaran terutama pada mata pelajaran praktik di sekolah sehingga padapelaksanaan pembelajaran dapat lebih baik