SKRIPSI Jurusan Tata Busana - Fakultas Teknik UM
SKRIPSI Jurusan Tata Busana - Fakultas Teknik UMNot a member yet
632 research outputs found
Sort by
Kendala Guru Mata Pelajaran Kompetensi Kejuruan Program Studi Tata Busana Dalam Mengimplementasikan Pendekatan Saintifik
ABSTRACT Kendala Guru Mata Pelajaran Kompetensi Kejuruan Program Studi Tata Busana Dalam Mengimplementasikan Pendekatan SaintifikKendala guru mata pelajaran kompetensi kejuruan program studi keahlian tata busana dalam mengimplementasikan pendekatan saintifik adalah hambatan yang dihadapi gurudalam mengimplementasikan pendekatan saintifik dengan langkah ilmiah berupa pola 5M (mengamati, menanya, mengeksplorasi, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan)secarautuhdanprosedural dalam kegiatan belajar mengajar dikelas/laboraturium pada mata pelajaran kompetensi kejuruan program studi keahlian tata busana. Dalam hal ini sumber kendala yang dihadapi guru ditinjau dari dalam (internal) dan dari luar (eksternal). Tujuan penelitian ini adalah menggali kendala yang dihadapi guru mata pelajaran kompetensi kejuruan program studi tata busana dalam mengimplementasikan pendekatan saintifik pada kurikulum 2013.Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian ini yaitu guru tata busana pada SMK di kota Malang khususnya yang sedang menggunakankurikulum 2013. Sampel penelitian berjumlah 19 orang yang menggunakan teknik sampling jenuh, Teknikanalisis data menggunakanperhitunganpersentase.Hasil penelitian tentang kendala guru mata pelajaran kompetensi kejuruan program studi tata busana dalam mengimplementasikan pendekatan saintifik menunjukkan bahwa kendalaterbesar yang dialami guru matapelajaranKompetensiKejuruan program studikeahlian Tata Busana dalam mengimplementasikan pendekatan saintifik yaitu pada kendala internal yang meliputi, (a) tentang pelatihan terkait kurikulum 2013 yang pernah diikuti, bahwa belum semua guru mata pelajaran kompetensi kejuruan program studi Tata Busana mengikuti pelatihan terkait kurikulum 2013, sebab pelatihan yang dilaksanakan belum sepenuhnya sesuai dengan karakterisitik setiap mata pelajaran antara guru yang diberangkatkan dengan guru yang menerima ilmu dari pelatihan yang diikuti guru lain; (b) pengalaman menerapkan kurikulum 2013 yang dimiliki guru yang berbeda-beda, sebab antara guru satudengan yang lain memiliki lama waktu yang berbeda dalam mengajar menggunakan kurikulum 2013 dalam mengimplementasikan pendekatan saintifik; (c) kurangnya semangat dalam menerapkan pendekatan saintifik secara utuh dan prosedural dalam kegiatan belajar mengajar; (d) kurangnya pemahaman tentang tujuan, kaidah, prinsip, dan langkah pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik.kemudian kendala eksternal yang meliputi, (a) guru sebagai fasilitator kurang mampu untuk membangkitkan keaktifan siswa dalam kelas; (b) kurangnya kerjasama guru MGMP dalam mengimplementasika npendekatan saintifik. Saran yang diberikan pada penelitian ini yaitu, BagiMahasiswa, sebagaicalon guru yang pada saat ini masih menggunakan Kurikulum 2013, maka mahasiswa wajib mengetahui dan memahami perkembangan tentang kurikulum yang masih diacu. Bagi Jurusan Teknologi Industri, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan kajian dan referensi, guna memberi wawasan khususnya bagi dosen bidang pendidikan dalam mengembangkan materi ajar yang berkaitan dengan kurikulum. Bagi DinasPendidikan, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan kajian untuk mengadakan pelatihan khususnya yang berkaitan dengan implementasi pendekatan saintifik pada masing-masing program studi, sebab guru yang diberangkatkan untuk mengikuti pelatihan dan diharapkan dapat menyalurkan ilmunya kepada guru lain menjadikurangsesuaikarenaberbedamatapelajarandiantara guru tersebut. Bagi Guru Mata Pelajaran Kompetensi Kejuruan Program Studi Tata Busana, hendaknya lebih giat lagi belajar tentang implementasi pendekatan saintifik, menanmkan sikap selalu bersemangat dan selalu kreatif khususnya dalam melaksanakan tugasnya di kelas, dapat membina hubungan kerjasama yang baik dalam satu lingkungan kerja agar tercipta suasana kerja yang nyaman dan kondusif, serta bersama-sama dengan pihak sekolah untuk dapat meningkatkan sarana dan prsarana guna menunjang kegiatan belajar mengajar di kelas
studi tentang motif batik tulis "Raden Wijaya" di Desa Pandanrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu
ABSTRACT Indayani, Sri 2011. Studi Tentang Motif Batik Tulis “Raden Wijaya” Di Desa Pandanrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Nurul Aini, M.Pd., (II) Dra. Sri Eko Puji Rahayu, M.Si.Kata kunci: Batik Tulis “Raden Wijaya”Setiap daerah di Indonesia hampir semuanya memiliki tradisi membuat batik, salah satunya Kota Batu. . Kota Batu merupakan Daerah Otonom termuda di Jawa Timur, daerah yang topografinya sebagian besar berupa wilayah perbukitan. Perkembangan Kota Batu sangat mempengaruhi perkembangan kerajinan di Kota Batu, terutama pada kerajinan batik. Di Kota Batu terdapat tiga sanggar batik yaitu sanggar butik Olive Batik, Raden Wijaya, dan Semar. Sanggar Raden Wijaya merupakan salah satu sanggar batik tulis yang proses pembatikan dilakukan di sanggar batik mulai dari pembentukan motif hingga pewarnaan sehingga terbentuk corak maupun motif batik. Motif batik “Raden Wijaya” mempunyai ciri yang sangat khas pada motifnya, yaitu dengan menonjolkan kreasi unik sesuai dengan potensi daerah Kota Batu, seperti buah apel, sayur-sayuran, bunga, serangga serta perkembangan tempat wisata.Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan batik tulis “Raden Wijaya” di desa Pandanejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini, yaitu motif batik tulis “Raden Wijaya”. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Informan adalah pemilik sanggar batik tulis “Raden Wijaya”, DISKOPERINDAG Kota Batu dan pengelolah sanggar batik tulis Raden Wijaya. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis model interaksi Miles dan Huberman dengan tahapan (1) pengumpulan data, (2) reduksi dan penyajian data, (3) penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan yaitu (1) Batik tulis “Raden Wijaya” termasuk batik modern/kontemporer karena motif batiknya tidak lagi menggunakan patokan dari batik klasik. Motif-motif yang dipilih bergaya bebas tidak terikat oleh bentuk-bentuk sebelumya dan bersifat naturalis, (2) Motif yang dapat di identifikasi penulis pada penelitian ini berjumlah 15 motif yaitu motif Apel Strawbery, Alun-alun, Museum Angkut, Shinning Batu, Predator Fun Park, Bantengan,Kampung Kolonial Belanda, Kawung Strawbery, Mawar, Tulip, Kupu-kupu, Biota Laut, Ikan Koi, Buah Sayur dan Singo Edan, (3) Motif alun-alun dipakai seragam untuk seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemerintah Kota Batu serta seluruh anggota lembaga kemasyarakatan se Kota Batu dan sudah memiliki hak paten, (4) Dilihat dari bagian-bagian motif, motif batik tulis “Raden Wijaya” termasuk batik lengkap karena terdiri dari ornamen, ornamen pengisi dan Isen-isen motif, (5) Berdasarkan pengamatan peneliti, pembentukan motif batik tulis “Raden Wijaya” di pengaruhi beberapa faktor yaitu: hasil perkebunan, budaya serta tempat wisata karena Kota Batu merupakan salah satu destinasi wisata baik nasional maupun internasional.Saran dalam penelitian ini adalah motif pada batik tulis “Raden Wijaya” hendaknya (1) Mengembangkan desain motif dalam hal ini perpaduan corak dalam pembentukan motif sehingga mempunyai nilai seni dengan harga jual yang tinggi serta disesuaikan dengan selera pasar, (2) Mendokumentasikan serta membakukan motif yang dibuat, sehingga memiliki data dan arsip yang lengkap, (3) Dinas terkait hendaknya membantu dalam proses promosi dengan mengarahkan wisatawan untuk mengunjungi sentra batik khususnya Industri Kerajinan Batik Tulis “Raden Wijaya” dan membantu memperlancar jalannya proses pembuatan hak paten produk. (4) Bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini perlu ditindaklanjuti, baik dalam hal pewarnaan, produk hasil, pengembangan motif serta pemasaran.ABSTRACT Indayani, Sri 2011. A Study of Batik Motives "Raden Wijaya" At Pandanrejo Village, Bumiaji, Kota Batu. Thesis, Department of Technology Industry, Faculty of Engineering, University of Malang. Supervisor: (I) Dra. Nurul Aini, M.Pd., (II) Dra. Sri Eko Puji Rahayu, M.Sc.Keywords: Batik "Raden Wijaya"Almost all regions in Indonesia have a tradition of making batik, one of them is the Batu City. Batu City is the youngest of the Autonomous Region in East Java which topographically most of the area is in the form of the hilly region. The developments Batu City is also affecting to the development of handicrafts in Batu City, especially on the craft of batik. In this city there are three batik studios namely Batik Boutique Olive, Raden Wijaya and Semar. Studio Raden Wijaya is one batik studio which the process of production done in batik studio itself from the formation of motives to staining, forming patterns and motif. The motif "Raden Wijaya" has a special character, which is aimed to highlight the unique creations correspond to the potential of the State B, such as apples, greens, flowers, insects, and the development of tourist attractions.This research was conducted with the aim to describe batik "Raden Wijaya" in Pandanejo Bumiaji, Batu. Issues examined in this study, namely batik motifs "Raden Wijaya". This study used a qualitative approach with descriptive research. The informants are Batik "Raden Wijaya" studio’s owner, Diskoperindag Kota Batu, and also the manager of “Raden Wijaya”. Data collection techniques used in these studies was interview, observation, and documentation. Data were analyzed using analysis of interaction models with stages Miles and Huberman (1) data collection, (2) reduction and presentation of data, (3) conclusion.Based on the conclusion Batik Studio “Raden Wijaya” should considered five things as mentioned (1) Batik "Raden Wijaya" including batik modern / contemporary because batik motifs are no longer using the benchmark of classical batik. The motifs were selected style free is not bound by the forms earlier and naturalist, (2) motif which can be identified authors on the study amounted to 15 motif motifs Apples Strawbery, Square, Museum of Transportation, Shinning Stone, Predator Fun Park, Bantengan, Dutch Colonial village, Kawung Strawbery, Rose, Tulip, butterflies, Marine Life, Koi Fish, Fruit and Vegetable, and also Singo Edan, (3) Motif plaza square is used uniformly for all work units (SKPD) Batu City Government and all members of civil society and own patents, (4) Views from the part of the motive, motive batik "Raden Wijaya" including batik complete because it consists of ornaments, ornaments filler and Isen, Isen motif, (5) Based on the observations of researchers, the establishment of batik motifs "Raden Wijaya" influenced several factors: the results of the plantation, cultural and tourist attractions because Batu is one tourist destination both nationally and internationally. Suggestions in this study is the motif in batik "Raden Wijaya" should be (1) Develop a design motif in this blend of shades ii in the formation of a motive that has artistic value with a high selling price and tailored to the tastes of the market, (2) Documenting and standardize motif made, so it has a complete archive of data and, (3) relevant agencies should assist in the promotion process by directing tourists to visit the center of batik craft industry especially batik "Raden Wijaya" and helps accelerate the course of the manufacturing process product patents. (4) For further research, this study needs to be followed up, both in terms of coloring, products, development and marketing motif
Studi Perbedaan Hasil Belajar Siswa Yang Diajar Menggunakan Macromedia Flash Dengan Hand Out Pada Materi Menggambar Proporsi Tubuh di Smk Negeri 3 Malang
ABSTRACT Nafia, Nur Laili Agustina. 2016. Studi Perbedaan Hasil Belajar Siswa Yang Diajar Menggunakan Macromedia Flash Dengan Hand Out Pada Materi Menggambar Proporsi Tubuh di Smk Negeri 3 Malang. Skripsi, Program S1 Pendidikan Tata Busana, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Nur Endah Purwaningsih, M.Pd., (II) Anik Dwiastuti, S.T., M.T.Kata Kunci: Perbedaan hasil belajar, media pembelajaran, macromedia flashPeningkatan kualitas hasil belajar bisa dilakukan dengan menciptakan suatu inovasi dalam menyampaikan materi, misalnya dengan memanfaatkan media belajar yang sesuai dengan kemajuan teknologi saat ini. Selain untuk membuat siswa mudah memahami dan mengerti materi pembelajaran media pembelajaran juga dapat membuat suasana belajar menjadi lebih menyenangkan sehingga tujuan pembelajaran mudah dicapai. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan media pembelajaran macromedia flash dibandingkan dengan siswa yang diajar menggunakan hand out pada materi menggambar proporsi tubuh kelas XI Tata Busana di SMK Negeri 3 Malang. Hasil belajar dalam penelitian ini ditinjau dari tiga ranah pembelajaran, yakni kognitif, psikomotor, dan afektif.Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimen dengan model static group comparison. Populasi pada penelitian ini adalah siswa kelas XI Tata Busana SMK Negeri 3 Malang tahun ajaran 2015/2016 berjumlah 72 siswa dengan jumlah sample sebanyak 46 siswa. Penentuan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Sampel terbagi dalam dua kelas, yakni XI Tata Busana (Desain) sebagai kelas eksperimen dan XI Tata Busana (Dressmaking) sebagai kelas kontrol. Teknik pengambilan data dengan observasi dan tes. Pengujian hipotesis menggunakan Independent Sample t-Test. Berdasarkan perhitungan t-test diperoleh nilai thitung = 4,093 dan ttabel = 1,6802 untuk α = 0,05 dan df = 44, sehingga thitung > ttabel (4,093 > 1,6802) sehingga Ho ditolak dan Ha diterima. Kesimpulannya adalah hasil belajar siswa pada materi proporsi tubuh yang diajar menggunakan media pembelajaran macromedia flash berbeda dengan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan media pembelajaran hand out. Perbedaan tertinggi terjadi pada aspek kognitif, psikomotor, dan afektif. Hal ini dapat terjadi karena perbedaan bentuk media pembelajaran yang digunakan pada proses pembelajaran. Dari pernyataan tersebut dapat dikatakan bahwa macromedia flash mampu meningkatkan hasil belajar siswa lebih unggul dibandingkan dengan hand out
Studi Tentang Pembuatan Tas Rajut PT. Velesia Merek "Kaboki" di Pasuruan Jawa Timur
ABSTRAK Mayasari, Dina. 2015. Studi tentang Pembuatan Tas Rajut PT. Velesia Merek “Kaboki” di Pasuruan Jawa Timur. (I) Dra. Sri Eko Puji Rahayu, M.Si, (II) Dra. Nur Endah Purwaningsih, M.Pd. Kata Kunci: Kaboki, Tas Rajut. “Kaboki” merupakan merek tas rajut yang diproduksi secara masal oleh PT. Velesia. Sejak tahun 1989, PT. Velesia telah merintis dan memperkenalkan kerajinan Indonesia ke mancanegara. Merek “Kaboki” telah terdaftar secra resmi pada Departemen Kehakiman dan HAM tahun 2002 dengan sertifikat nomor 504108. PT. Velesia telah berhasil menyatukan produksi handmade dengan produksi industri yang dapat meningkatkan jumlah produksi tas rajut, dan banyak diminati konsumen. Berkaitan dengan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pembuatan tas rajut mulai dari proses desain tas proses produksi tas rajut. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Lokasi Penelitian berada di outlet dan factory milik PT. Velesia yaitu “Kaboki” Pasuruan yang terletak di Jl. Raya Sukorejo Bangil KM 1,5 Desa Lecari Kecamatan Sukorejo Kabupaten Pasuruan. Prosedur pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, dokumentasi, dan wawancara. Analisis data terdiri dari tiga komponen pokok yaitu reduksi data, sajian data, penarikan simpulan dan verifikasi. Pengecekan keabsahan temuan dengan perpanjangan pengamatan, meningkatkan ketekunan, teknik triangulasi yaitu triangulasi teknik, dan sumber, serta dependability. Proses penelitian dilakukan selama dua bulan, pada tanggal 9 September 2015 sampai 27 Oktober 2015. Pada hasil penelitian, disimpulkan bahwa proses desain “Kaboki” dimulai dari pembuatan sketsa, dan uji coba produk, yang mendapatkan persetujuan dari pimpinan terlebih dahulu, kemudian membuat stelan atau contoh produk tas yang diberikan kepada pengrajin. Proses desain, dilakukan oleh beberapa orang yang berasal dari staf dan karyawan “Kaboki” yang bertanggung jawab menentukan bentuk tas, ukuran, tusuk rajutan, warna dan kombinasi tas. Produksi tas “Kaboki” dibagi menjadi dua sistem yaitu sistem produksi eksternal, dan sistem produksi internal. Sistem produksi eksternal merupakan proses merajut tas oleh pengrajin di luar factory, sedangkan sistem produksi internal merupakan proses penyelesaian tas rajut yang dilakukan dalam factory oleh karyawan. Saran yang dapat disampaikan penulis dalam skripsi ini adalah (1) pembuatan desain pada tas rajut, “Kaboki” seharusnya membentuk kelompok khusus atau tim desain tersendiri untuk merancang tas, agar staf dan karyawan tidak memegang peranan ganda dalam pekerjaannya, sehingga staf maupun karyawan dapat bekerja secara efektif, (2) produksi bagian eksternal, sebaiknya terdapat pengawasan yang berasal dari karyawan dalam yang memantau secara langsung di setiap daerah binaan, agar proses produksi dapat berjalan secara efisien
Minat Melanjutkan Studi Magister/S2 Mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana Angkatan 2011/2012 Jurusan Teknologi Industri Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang
ABSTRAK Azizah, Umu Nurul. 2015. Minat Melanjutkan Studi Magister/S2 Mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana Angkatan 2011/2012 Jurusan Teknologi Industri Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Agus Hery Supadmi Irianti, M.Pd. (2) Dra. Sri Eko Puji Rahayu, M.Si. Kata Kunci: Minat, Melanjutkan Studi Magister/S2, Mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana Angkatan 2011/2012. Adanya persaingan di era global serta Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang membutuhkan sumber daya manusia berkualitas dan berdaya saing, salah satu upaya menghadapi hal tersebut melalui peningkatan pendidikan yaitu melanjutkan studi Magister/S2. Penelitian bertujuan memaparkan dan mendeskripsikan minat melanjutkan studi Magister/S2 mahasiswa program studi S1 Pendidikan Tata Busana 2011/2012 Jurusan Teknologi Industri Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Rancangan penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif, dimana sampel yang digunakan ialah keseluruhan populasi pada Mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana angkatan 2011/2012 berjumlah 62 responden dengan instrumen menggunakan angket tertutup, dengan uji validitas isi dan uji reliabilitas bantuan program SPSS For Windows 16.0 dengan analisis Cronbach Alpha. Teknik analisis data yang digunakan adalah statistik deskriptif dengan persentase. Berdasarkan hasil analisis penelitian dapat disimpulkan bahwa minat melanjutkan studi Magister/S2 mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana angkatan 2011/2012 mengarah pada minat sedang, hal tersebut ditunjukkan dengan mahasiswa memiliki hal tersebut dapat diketahui dari dorongan/motivasi, ketertarikan, perasaan senang, kemauan, dan kebutuhan mengarah pada interpretasi minat sedang, namun pada sub variabel perhatian mengarah pada interpretasi minat rendah. Saran yang dapat disampaikan adalah (1) Bagi jurusan Teknologi Industri FT UM, untuk lebih memperhatikan mahasiswa agar memiliki minat yang tinggi melanjutkan studi Magister/S2, (2) Pihak Jurusan Teknologi Industri FT UM memberikan program-program dalam meningkatkan prestasi mahasiswa agar mampu untuk melanjutkan studi ke S2 serta memberikan informasi beasiswa S2, (3) Bagi mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana diharapkan memiliki minat yang tinggi untuk meningkatkan kualitas diri, sehingga mampu dalam menghadapi persaingan diera global, (4) Hasil penelitian dapat digunakan sebagai kajian untuk melakukan penelitian yang relevan yang berkaitan dengan minat dalam bidang pendidikan pada umumnya
Implementasi Pendekatan Saintifik Pada Pembelajaran Keahlian Tata Busana di SMK Negeri 3 Malang
ABSTRAK IMPLEMENTASI PENDEKATAN SAINTIFIK PADA PEMBELAJARAN PAKET KEAHLIAN TATA BUSANA DI SMK NEGERI 3 MALANG Novia Nailatun Nufus Esin Sintawati 1 2 Hapsari Kusumawardani Mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang 2 3 Dosen Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang Dosen Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang Alamat e-mail: [email protected] Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi pendekatan saintifik dalam pembelajaran Paket Keahlian Tata Busana di SMKN 3 Malang. Penelitian menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, jenis penelitian studi kasus. Data penelitian menggunakan teknik wawancara mendalam, observasi penuh, dan dokumentasi. Sumber data terdiri atas pimpinan sekolah, guru, peristiwa pembelajaran, dan dokumen perangkat pembelajaran. Hasil penelitian (1) tidak ada kebijakan khusus tentang implementasi pendekatan saintifik dari pimpinan sekolah; (2) implementasi pendekatan saintifik direncanakan guru dalam rumusan skenario pembelajaran di RPP menggunakan pola 5M; (3) pendekatan saintifik sebagian telah diimplementasikan para guru dalam pembelajaran di kelas dan dilaboratorium; (4) evaluasi pembelajaran menggunakan penilaian otentik; dan (5) kendala yang dihadapi guru mencakup kurangnya pemahaman guru, tidak sesuainya karakteristik materi pembelajaran kejuruan, siswa pasif dalam belajar, dan budaya mengajar konvensional. Kata Kunci: implementasi, pendekatan saintifik, Tata Busana, SMK. Salah satu kebijakan nasional di bidang pendidikan yang berlaku saat ini adalah diimplementasikannya Kurikulum 2013 di semua jenis dan jenjang pendidikan, termasuk SMK (Permendikbud No. 81A Tahun 2013). Perubahan kurikulum di SMK dari KTSP menjadi Kurikulum 2013, bukan saja menyangkut struktur kurikulumnya tetapi juga implementasi pembelajarannya di sekolah yang harus menggunakan pendekatan saintifik. Hakikat pendekatan saintifik dalam pembelajaran merujuk pada pandangan bahwa pembelajaran pada dasarnya merupakan proses saintifik (ilmiah). Pembelajaran dengan pendekatan saintifik merupakan pembelajaran yang mengadopsi langkah-langkah saintis dalam membangun pengetahuan melalui pendekatan ilmiah, yaitu suatu pendekatan yang 3 bercirikan penonjolan dimensi pengamatan, penalaran, penemuan, pengabsahan, dan penjelasan tentang suatu kebenaran. Hal ini berarti bahwa proses pembelajaran dengan pendekatan saintifik harus dilaksanakan dengan dipandu nilai-nilai, prinsip-prinsip, atau kriteria ilmiah (Sudjimat, 2014:2670). Pembelajaran dengan menerapkan pendekatan saintifik tidak hanya memandang hasil belajar sebagai muara akhir, namum proses pembelajaran juga dipandang sangat penting. Oleh karena itu pembelajaran dengan menerapkan pendekatan saintifik menekankan pada keterampilan proses (Triana, 2014:2). Menurut Kemendikbud (2013:1—2), suatu proses pembelajaran disebut ilmiah jika memenuhi kriteria enam kriteria, yaitu (1) materi pembelajaran berbasis pada fakta; (2) penjelasan guru, respon peserta didik, dan interaksi edukatif guru-peserta didik menggunakan penalaran berdasarkan berpikir logis; (3) mendorong dan menginspirasi peserta didik berpikir secara kritis, analistis, dan tepat; (4) mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu berpikir hipotetik; (5) mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu memahami, menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif; dan (6) berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat dipertanggungjawabkan. Kegiatan pembelajaran dengan pendekatan saintifik mencakup 5M, yaitu mengamati, menanya, mencoba, mengasosiasi, dan mengomunikasikan (Direktorat PSMA, 2013; dan Nasution, 2013). Menurut Nasution (2013:4), kegiatan mengamati dalam pendekatan saintifik mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull learning). Oleh karena itu ada tiga prinsip yang perlu diperhatikan guru selama proses belajar melalui pengamatan, yaitu (a) cermat, objektif, dan jujur serta terfokus pada objek yang diobservasi; (b) banyak atau sedikit serta homogenitas atau heterogenitas subjek, objek, atau situasi yang diobservasi; dan (c) guru dan peserta didik perlu memahami apa 2 yang hendak dicatat, direkam, dan sejenisnya serta cara membuat catatan atas hasil pengamatan tersebut (Kemendikbud, 2013:5—5, dan Nasution, 2013:6). Untuk meningkatkan dan mengembangkan kompetensi peserta didik pada ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan maka guru harus mampu membimbing mereka untuk membuat berbagai pertanyaan atas apa yang telah diamatinya, atau bertanya tentang apa yang telah diamati peserta didiknya. Ketika guru bertanya, pada saat itu pula dia membimbing peserta didiknya belajar dengan baik; dan ketika guru menjawab pertanyaan peserta didiknya, pada saat itu pula dia mendorong peserta didiknya untuk menjadi penyimak dan pembelajar yang baik (Kemendikbud, 2013:7). Untuk itulah guru harus mampu membimbing peserta didik untuk membuat pertanyaan dan/atau memberikan contoh-contoh pertanyaan yang baik. Kegiatan belajar mengeksplorasi atau mencoba dapat memberikan pengalaman belajar yang nyata bagi peserta didik. Untuk pembelajaran kejuruan kegiatan mengekplorasi dapat dilakukan peserta didik melalui kegiatan praktik pembuatan barang atau benda sesuai dengan bidang/paket keahliannya. Secara umum kegiatan praktik dapat dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan tindak lanjut (Kemendikbud, 2013: 16—17). Termasuk kegiatan persiapan yang harus dilakukan guru adalah (a) menetapkan tujuan, (b) mempersiapkan alat dan bahan, (c) mempersiapkan tempat praktik, (d) mempertimbangkan masalah keamanan dan kesehatan, dan (e) menjelaskan tahapan-tahapan praktik dan hal-hal yang harus diperhatikan. Kegiatan belajar mengasosiasi dimaksudkan agar peserta didik dapat menarik kesimpulan dari kegiatan praktik/praktikum yang telah dilaksanakannya. Berbagai kegiatan belajar peserta didik antara lain menganalisis data, mengelompokkan, membuat kategori, memprediksi, dan menyimpulkan baik yang dihasilkan dengan logika induktif maupun deduktif (Nasution, 2013:9). 3 Kegiatan belajar mengkomunikasikan merupakan prosedur terakhir dari implementasi pendekatan saintifik dalam pembelajaran. Melalui kegiatan mengkomunikasikan peserta didik diberi kesempatan untuk mengkomunikasikan hasil percobaan dan asosiasinya kepada peserta didik yang lain dan guru untuk mendapatkan tanggapan. Langkah ini memberikan keuntungan kepada peserta didik dalam meningkatkan rasa percara diri dan kesungguhan dalam belajar (Nasution, 2013:9). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pendekatan saintifik diimplementasikan di SMK Negeri 3 Malang yang mencakup kebijakan implementasi, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran yang mengimplementasikan pendekatan saintifik, serta berbagai kendala yang dihadapi para guru pada pembelajaran mata pelajaran Paket Keahlian Tata Busana. METODE Penelitian ini dilaksanakan menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus dan rancangan penelitian deskriptif-eksplanatoris. Pemilihan penggunaan rancangan studi kasus deskriptif-eksplanatoris didasarkan pada pendapat Ulfatin (2013:60—61) yang menyatakan bahwa studi kasus deskriptif-eksplanatoris digunakan untuk menjawab masalah-masalah penelitian yang menyangkut pertanyaan “how” (bagaimana), dan “why” (mengapa) sebagaimana sebagaimana yang menjadi tujuan dalam pebelitian ini. Sumber data penelitian ini adalah (1) Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum; (2) guru pengajar matapelajaran kelompok Paket Keahlian Tata Busana; (3) peristiwa pembelajaran atau kegiatan belajar-mengajar di kelas dan/atau di laboratorium yang dilaksanakan oleh guru dan peserta didik; dan (4) berbagai dokumen tertulis yang mencakup silabus, RPP dan perangkat pembelajaran lainnya yang dibuat oleh guru 4 pengajar matapelajaran Paket Keahlian Tata Busana. Berbagai data penelitian dari para sumber data tersebut dikumpulkan melalui teknik wawancara mendalam, pengamatan/observasi penuh; dan dokumentasi. Berbagai data yang telah terkumpul dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif dengan tahapan sebagai berikut (1) telaah data, (2) reduksi data, (3) menyusun kategori temuan ke masing-masing pokok bahasan, (4) membuat marasi deskriptif, dan (5) menarik kesimpulan HASIL DAN PEMBAHASAN Selaras dengan tujuan penelitian yang telah ditetapkan, ada lima hasil penelitian yang dihasilkan dalam penelitian ini. Kelima hasil penelitian tersebut beserta pembahasannya dikemukakan sebagai berikut. Pertama, tidak ada kebijakan khusus secara tertulis yang dibuat oleh pihak pimpinan sekolah terkait dengan implementasi pendekatan saintifik pada pembelajaran Paket Keahlian Tata Busana. Semua kebijakan terkait dengan implementasi pendekatan saintifik di SMKN 3 Malang dilaksanakan sesuai dengan kebijakan dari pusat. Satu-satunya kebijakan yang ditemukan adalah adanya anjuran dari pimpinan sekolah kepada para guru pengajar produktif, khususnya Paket Keahlian Tata Busana, untuk belajar dan bertanya kepada guru Normatif dan Adaptif yang sudah pernah mendapatkan pelatihan tentang pendekatan saintifik. Pada akhir penelitian ini dilakukan pimpinan sekolah juga mengambil kebijakan untuk menyelenggarakan pelatihan tentang implementasi pendekatan saintifik bagi semua guru pengajar Paket Keahlian Tata Busana yang dilaksanakan secara internal di sekolah dengan nara sumber guru Paket Keahlian Tata Kecantikan dari sekolah itu sendiri. Kedua, semua guru pengajar matapelajaran Paket Keahlian Tata Busana SMK Negeri 3 Malang telah menyusun rencana implementasi pendekatan saintifik dalam bentuk 5 RPP, terutama pada rancangan kegiatan inti pembelajaran yang diacukan pada silabus yang ada. Hal ini sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Standar Proses Pendidikan (Permendikbud Nomor 65 Tahun 2013) yang menyatakan bahwa “RPP dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar (KD)”. Menjadikan silabus sebagai acuan dalam penyusunan RPP juga dikemukakan oleh Sani (2014:281) dan Sudjimat (2014:100). Dalam silabus rancangan implementasi pendekatan saintifik dituliskan pada kolom “pembelajaran”. Semua pendekatan saintifik yang dirancang oleh penyusun silabus selalu menggunakan pola 5M (mengamati, menanya, mengeksplorasi, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan) secara utuh dan berurutan. Rancangan implementasi pendekatan saintifik yang dirancang para guru dalam RPP juga demikian, tetapi rumusannya tidak selalu dengan yang ada dalam silabus. Adanya perbedaan tersebut terjadi karena silabus dibuat oleh pusat sehingga rumusan rancangan pendekatan saintifik yang ada dalam silabus tidak selalu sama dengan kondisi yang ada di sekolah. Perbedaan tersebut terjadi hampir pada semua rumusan 5M, tetapi yang paling banyak terjadi pada obyek yang harus diamati peserta didik pada tahap “mengamati” dan bentuk-bentuk komunikasi pada tahap “mengkomunikasikan”. Ketiga, secara empirik pembelajaran Matapelajaran Paket Keahlian Tata Busana yang dilaksnakan para guru SMK Negeri 3 Malang telah mengindikasikan terimplementasikannya pendekatan saintifik. Namun demikian pola pelaksanaannya sangat bervariasi antara guru satu dengan lainnya. Setidaknya ditemukan ada tiga karegori keterlaksanaan kegiatan belajar siswa dengan pendekatan saintifik pola 5M, yaitu (1) kegiatan belajar siswa sama persis dengan yang dirancang dalam RPP; (2) kegiatan belajar siswa berbeda dengan yang dirancang dalam RPP; dan (3) kegiatan belajar yang dirancang 6 dalam RPP tidak terlaksana dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas/laboratorium. Jenis kegiatan belajar siswa yang tergolong ke dalam ketiga kategori tersebut berbeda-beda antara satu matapelajaran dengan matapelajaran lainnya. Hal tersebut mengindikasikan bahwa RPP belum sepenuhnya dijadikan acuan/dasar bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelas/laboratorium. Menurut Sudjimat (2014:6), perilaku guru yang tidak menjadikan RPP sebagai acuan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas/laboratorium, atau melaksanakan pembelajaran yang tidak sesuai dengan RPP dikelompokkan sebagai guru yang bersikap seolah-olah silabus dan RPP hanya bersifat administratif belaka. Secara prinsip memang tidak ada keharusan bagi guru untuk selalu melaksanakan pendekatan saintifik dengan pola 5M secara utuh dan prosedural, bahkan guru diperbolehkan tidak menggunakan pendekatan saintifik dengan pola 5M dalam pembelajarannya asalkan pembelajarannya tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah. Hal ini sesuai dengan pernyataan Kemendikbud (2013) bahwa “untuk matapelajaran, materi, atau situasi tertentu, sangat mungkin pendekatan ilmiah tidak selalu tepat diaplikasikan secara prosedural. Pada kondisi seperti ini, tentu saja proses pembelajaran harus tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari nilai-nilai atau sifat-sifat nonilmiah”. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa meskipun guru tidak melaksanakan pola 5M secara utuh dan prosedural, dalam arti hanya menggunakan beberapa kegiatan belajar dari pola 5M tersebut sebagaimana kasus yang ditemukan di SMK Negeri 3 Malang, ia tetap dikatakan telah melaksanakan pendekatan saintifik dalam pembelajarannya. Keempat, evaluasi pembelajaran dalam rangka implementasi pendekatan saintifik dalam pembelajaran Matapelajaran Paket Keahlian Tata Busana dilaksanakan para guru dengan menggunakan pendekatan penilaian otentik, yaitu penilaian terhadap proses dan 7 hasil belajar siswa pada situasi nyata yang dilaksanakan dengan menggunakan berbagai metode, baik yang berupa tes maupun non-tes. Metode tes digunakan para guru untuk menilai kemampuan teoritis siswa. Tes tersebut dikembangkan menggunakan pendekatan TAP (Tes Acuan Patokan). Sedangkan metode non-tes yang digunakan para guru terdiri dari dua macam, yaitu lembar penilaian dan lembar observasi. Lembar penilaian digunakan untuk menilai semua bukti belajar siswa yang bersifat fisik, misalnya gambar desain, pola, dan produk akhir berupa busana. Sedangkan lembar observasi digunakan untuk menilai semua proses belajar siswa dan sikapnya yang ditunjukkan selama proses belajar berlangsung. Pelaksanaan penilaian yang demikian itu telah sesuai dengan ketentuan yang dibuat oleh Kemendikbud (2013) yang menyatakan bahwa sistem penilaian dalam Kurikulum 2013 menggunakan penilaian otentik yang harus dilaksanakan guru secara terus-menerus. Dengan menggunakan pendekatan otentik maka guru dapat menilai kompetensi siswa secara komprehensif, yang mencakup kompetensi pengetahuan, kompetensi keterampilan, dan kompetensi sikap (Direktoran Pembinaan SMK, 2013). Kelima, banyak kendala yang dirasakan para guru dalam mengimplementasikan pendekatan saintifik dalam pembelajaran Paket Keahlian Tata Busana. Berbagai kendala tersebut berkaitan dengan pemahaman, karakteristik materi pembelajaran, budaya belajar peserta didik, dan budaya mengajar guru. Pemahaman tentang pendekatan saintifik dan implementasinya dalam pembelajaran menjadi kendala utama yang dirasakan para guru. Hal itu dapat terjadi karena pendekatan saintifik memang merupakan hal baru dalam pembelajaran sebagai konsekwensi dari diberlakukannya K-13 sejak tahun pelajaran 2013/2014 yang lalu. Karakteristik matapelajaran kelompok Paket Keahlian Tata Busana juga dianggap sebagai masalah dalam implementasi pendekatan saintifik karena kelompok matapelajaran tersebut memiliki karakteristik yang berbeda dengan matapelajaran IPA yang merupakan asal dari pendekatan saintifik. Matapelajaran kelompok Paket Keahlian 8 Tata Busana lebih menekankan pada keterampilan motorik dengan produk akhir berupa barang (busana), sedangkan matapelajaran IPA lebih menekankan pada proses berpikir dengan produk akhir pemecahan masalah. Budaya belajar peserta didik juga dirasa guru menjadi kendala dalam implementasi pendekatan saintifik karena umumnya peserta didik di SMK lebih suka diajar/diberi ilmu oleh guru daripada harus belajar secara aktif sebagaimana dituntut dalam pendekatan saintifik. Di samping itu peserta didik di SMK juga cenderung lebih suka belajar praktik daripada belajar teori. Budaya belajar peserta didik SMK yang demikian itu juga timbul akibat gaya mengajar guru SMK yang masih suka menerangkan secara langsung daripada mendorong siswa untuk belajar secara aktif. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan temuan penelitian dan pembahsasannya sebagaimana dipaparkan pada bab-bab sebelumnya dapat dikemukakan kesimpulan sebagai berikut. Pertama, tidak ada kebijakan khusus secara tertulis yang dibuat oleh pimpinan SMK Negeri 3 Malang tentang implementasi pendekatan saintifik dalam pembelajaran kelompok matapelajaran Paket Keahlian Tata Busana. Kebijakan yang dibuat oleh pimpinan SMK Negeri 3 Malang adalah kebijakan secara lisan yang menyatakan bahwa para guru SMK Negeri 3 Malang harus mengimplementasikan pendekatan saintifik dalam pembelajarannya; bagi guru yang belum pernah mengikuti pelatihan Kurikulum 2013 dihimbau untuk bertanya kepada guru yang sudah pernah mengikuti pelatihan Kurikulum 2013; dan bagi guru yang belum pernah mengikuti pelatihan Kurikulum 2013 dihimbau untuk mengikuti pelatihan yang (akan) dilaksanakan oleh internal sekolah. Kedua, penggunaan pendekatan saintifik dalam pembelajaran kelompok matapelajaran Paket Keahlian Tata Busana di SMK Negeri 3 Malang direncanakan oleh para guru dalam bentuk kegiatan inti pembelajaran dari komponen skenario pembelajaran 9 yang dirancang guru dalam RPP. Perencanaan penggunaan pendekatan saintifik dalam RPP dirancang guru menggunakan pola 5M (mengamati, menanya, mengeksplorasi, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan) secara utuh dan prosedural sesuai dengan rancangan pendekatan saintifik yang terdapat dalam silabus yang dibuat oleh pusat dengan dilakukan perubahan seperlunya sesuai dengan kondisi yang ada di SMK Negeri 3 Malang. Ketiga, penggunaan pendekatan saintifik dalam pembelajaran kelompok matapelajaran Paket Keahlian Tata Busana di SMK Negeri 3 Malang telah dilaksanakan oleh para guru dalam melaksanakan pembelajaran teoritik di kelas maupun pembelajaran praktikum di laboratorium. Secara umum pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan para guru telah mengacu pada RPP yang dibuatnya meskipun dalam praktiknya tidak semua kegiatan belajar para siswa di kelas/laboratorium selalu sesuai dengan kegiatan belajar yang dirancang guru dalam RPP. Keempat, evaluasi pembelajaran yang penggunaan pendekatan saintifik dalam kelompok matapelajaran Paket Keahlian Tata Busana di SMK Negeri 3 Malang dilaksanakan oleh para guru dalam bentuk penilaian otentik dengan menggunakan instrumen berupa tes dan non-tes. Tes dikembangkan guru menggunakan pendekatan Tes Acuan Patokan (TAP) dan digunakan untuk menilai kompetensi pengetahuan. Non-tes dikembangkan guru dalam bentuk lembar penilaian yang digunakan untuk menilai kompetensi keterampilan, dan dalam bentuk lembar observasi yang digunakan guru untuk menilai kompetensi sikap. Kelima, kendala yang dihadapi para guru SMK Negeri 3 Malang dalam mengimplementasikan pendekatan saintifik dalam pembelajaran kelompok matapelajaran Paket Keahlian Tata Busana terutama berkaitan dengan (a) pemahaman guru tentang pendekatan saintifik yang masih kurang/rendah; (b) adanya persepsi guru tentang ketidak- sesuaian karakteristik materi pembelajaran kejuruan dengan penggunaan pendekatan 10 saintifik; (c) adanya budaya belajar siswa yang masih pasif, yaitu menunggu guru menyampaikan materi terlebih dahulu; dan (d) adanya budaya mengajar guru yang klasik dimana guru cenderung lebih banyak menerangkan materi kepada para siswa. Berdasarkan kesimpulan penelitian tersebut disampaikan rekomendasi sebagai berikut. Kepada Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang disarankan agar memprioritaskan meningkatkan kualitas implementasi pendekatan saintifik dalam pembelajaran kejuruan di SMK melalui peningkatan pemahaman para guru terhadap pendekatan saintifik dan upaya untuk segera mendapatkan silabus mata pelajaran kejuruan yang resmi dari pusat sehingga dapat dijadikan acuan dasar guru dalam menyusun RPP. Kepada Pemimpin SMKN 3 Malang disarankan untuk terus meningkatkan kemampuan guru pengajar Matapelajaran Paket Keahlian Tata Busana dalam mengimplementasikan pendekatan saintifik melalui (1) pembuatan Buku Panduan Implementasi Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran Kejuruan yang dapat dijadikan panduan bagi para guru dalam menyusun RPP, melaksanakan pembelajaran di kelas/laboratorium, dan melaksanakan evaluasi pembelajaran; (2) upaya mendapatkan silabus matapelajaran kejuruan yang resmi dari pusat, khususnya matapelajaran kelompok C2 dan C3 sehingga dapat dijadikan dasar untuk penyusunan RPP; (3) mengikutkan para guru dalam kegiatan pelatihan, workshop dan sejenisnya yang berkaitan dengan implementasi pendekatan saintifik dalam pembelajaran baik yang diadakan oleh pemerintah, swasta, maupun perguruan tinggi; dan (4) melakukan pelatihan implementasi pendekatan saintifik secara internal di sekolah dengan nara sumber dari guru kejuruan di SMK Negeri 3 Malang yang telah mengikuti pelatihan sejenis dan/atau tenaga profesional dari perguruan tinggi. Kepada para Guru Pengajar Matapelajaran Paket Keahlian Tata Busana SMKN 3 Malang disarankan agar untuk terus meningkatkan kualitas implementasi pendekatan saintifik melalui (1) upaya semaksimal mungkin untuk memenuhi berbagai sumber/media 11 yang disebutkan dalam silabus untuk menyusun RPP dan melaksanakan pembelajaran; (2) melaksanakan semua prosedur 5M (mengamati, menanya, mengeksplorasi, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan) dari pendekatan saintifik yang dirancang dalam RPP dalam melaksanakan pembelajaran, terutama kegiatan mengasosiasi dan kegiatan mengkomunikasikan secara lisan; dan (3) agar para siswa dapat terlibat secara maksimal dalam pembelajaran yang menggunakan pende
persepsi dan ekspektasi konsumen terhadap kualitas batik tulis khas ponorogo
ABSTRAK Suryandari, Wahyu Dwi. 2015. Persepsi dan Ekspektasi Konsumen terhadap Kualitas Batik Tulis Khas Ponorogo.Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Anik Dwiastuti, ST.,MT., (II) Dra. Idah Hadijah, M.Pd. Kata Kunci: persepsi, ekspektasi, kualitas, batik tulis khas Ponorogo Batik Tulis Khas Ponorogo adalah batik yang dibuat menggunakan tangan dengan motif yang terilhami dari kesenian reog yang menjadi ikon di Kota Ponorogo. Eksistensi batik tulis khas Ponorogo belum dikenal oleh masyarakat luas, sehingga diupayakan dengan berbagai strategi untuk meningkatkan pangsa pasar, salah satunya melalui strategi kualitas. Meningkatnya kualitas produk batik dengan tujuan untuk memenuhi, dan memuaskan kebutuhan konsumen. Kepuasan konsumen dapat dicapai dengan membuat produk yang berkualitas. Sehubungan dengan hal tersebut, dimana kualitas batik tulis khas Ponorogo belum pernah diukur secara empiris, dengan demikian diperlukan pembahasan mengenai persepsi dan ekspektasi konsumen untuk mengetahui kualitas batik tulis khas Ponorogo. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif pendekatan kuantitatif dengan menganalisis gap antara persepsi dan ekspektasi terhadap kualitas batik tulis khas Ponorogo. Responden dalam penelitian ini yaitu konsumen batik sejumlah 70 responden. Pengumpulan data menggunakan angket dan analisis data dilakukan dengan memberikan skor, menentukan rata-rata, menentukan gap dan interpretasi hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) persepsi dan ekspektasi konsumen tinggi terhadap delapan dimensi kualitas batik tulis khas Ponorogo, artinya kepuasan konsumen terpenuhi dan konsumen mengharapkan dimensi tersebut tetap dipertahankan, (2) sesuai pengukuran antara persepsi dan ekpektasi delapan dimensi kualitas batik tulis khas Ponorogo, rata-rata gap bernilai positif artinya harapan konsumen terpenuhi, (3) perceptual mapping batik tulis khas Ponorogo menempati dua area yaitu kuadranB dan kuadranC, yang termasuk kuadran B tujuh dimensi, artinya kepuasan konsumen terpenuhi dan konsumen juga mengharapkan dimensi tersebut. Sementara yang termasuk kedalam kuadranC dimensi harga, artinya kepuasan konsumen belum terpenuhi dan konsumen tidak mengharapkan harga yang ditetapkan pada batik tulis khas Ponorogo. Saran yang terkait dengan kesimpulan diatas: (1) pengrajin perlu mempertahankan dimensi keindahan, perawatan, keunikan, daya tahan, kegunaan, keawetan, dan aman (2) pengrajin perlu mengembangkan dimensi keindahan yang berkaitan dengan motif, dengan cara menggali atau mengeksplor motif-motif khas Ponorogo lebih dalam lagi, (3) pengrajin perlu memperbaiki dimensi harga, dengan cara harga batik tulis khas Ponorogo dibuat harga yang bervariatif, (4) Bagi peneliti selanjutnya disarankan dapat meneliti lebih dalam dan lebih luas tentang kualitas produk fashion lain atau produk batik di daerah lain
Pewarnaan Kain Mori Primissima Menggunakan Daun Sirih Hijau (Piper Betle L.) Dengan Fiksator Jeruk Nipis, Gula Kelapa, Dan Kapur Tohor
ABSTRAK Andjalita, Shabrina. 2015. Pewarnaan Kain Mori Primissima Menggunakan Daun Sirih Hijau (Piper Betle L.) Dengan Fiksator Jeruk Nipis, Gula Kelapa, Dan Kapur Tohor. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Rosanti Rosmawati, M.Sn, (II) Dra. Nur Endah Purwaningsih, M.Pd. Kata Kunci: Pewarnaan, Kain Mori Primissima, Daun Sirih Hijau, Jeruk Nipis, Gula Kelapa, Kapur Tohor Daun sirih hijau merupakan salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pewarna alam pada kain katun. Agar memiliki ketahanan luntur yang baik maka dibantu menggunakan fiksator yang juga berasal dari alam yaitu jeruk nipis, gula kelapa, dan kapur tohor. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui warna dan hasil perubahan warna pada pencelupan kain katun dengan zat warna daun sirih hijau (Piper Betle L.) menggunakan fiksator yang berbeda yaitu jeruk nipis, gula kelapa, dan kapur tohor. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilakukan dengan pengamatan secara langsung dan mendalam serta memaparkan dan mendeskripsikan data sesuai dengan hasil pencelupan zat warna alam daun sirih hijau menggunakan fiksator jeruk nipis, gula kelapa, dan kapur tohor. Instrumen yang digunakan adalah instrumen pengamatan visual yang dilakukan oleh peneliti. Pengamatan visual digunakan pada saat penelitian berlangsung dengan mencocokkan warna hasil pencelupan dengan fabric colour chart. Fabric colour chart yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan Kona Cotton Solids by Robert Kaufman. Hasil pewarnaan kain katun menggunakan pewarna alami daun sirih hijau tanpa fiksator, pada pencelupan ke-1 sampai ke-3 diperoleh warna yang mengarah ke warna artichoke sedangkan pencelupan ke-4 sampai ke-10 diperoleh warna yang mengarah ke warna olive. Pada pencelupan menggunakan fiksator jeruk nipis, hasil pencelupan ke-1 sampai ke-4 diperoleh warna yang mengarah ke warna celery. Pencelupan ke-5 sampai ke-8 diperoleh warna yang mengarah ke warna artichoke. Sedangkan pencelupan ke-9 sampai ke-10 diperoleh warna yang mengarah ke warna olive. Pada pencelupan menggunakan fiksator gula kelapa, hasil pencelupan ke-1 sampai ke-3 diperoleh warna yang mengarah ke warna tarragon. Pencelupan ke-4 sampai ke-6 diperoleh hasil warna yang mengarah ke warna artichoke dan pencelupan ke-7 sampai ke-10 diperoleh warna mengarah ke olive. Pada pencelupan menggunakan fiksator kapur tohor, hasil pencelupan ke-1 diperoleh warna yang mengarah ke warna parsley. Pencelupan ke-2 diperoleh warna yang mengarah ke warna celery. Sedangkan pencelupan ke-3 sampai ke-10 diperoleh warna yang mengarah ke warna artichoke. Saran yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah; (1) Zat pewarna alam dapat dilakukan dengan menggunakan daun sirih yang berbeda misalnya sirih merah atau sirih hitam untuk mengetahui arah warna yang dihasilkan. (2) Pencelupan dapat dilakukan menggunakan fiksator yang berbeda misalnya asam jawa, gula batu, air kelapa, pisang klutuk untuk mendapatkan warna yang bervariasi. (3) Media pencelupan dapat diganti selain katun, misalnya kain sutra atau serat nanas untuk mengetahui perbedaan warna yang dihasilkan. (4) Pada karya ilmiah lainnya yang ingin menggunakan daun sirih hijau sebagai zat pewarna alam dapat melakukan pengujian-pengujian seperti kerataan warna dan ketahanan luntur warna
Survei Masa Tunggu dan Jenis Pekerjaan Pertama Lulusan S1 Pendidikan Tata Busana Angkatan 2008/2009 Universitas Negeri Malang
ABSTRAK Yuliantika, Ciptaning Riris. 2015. Survei Masa Tunggu dan Jenis Pekerjaan Pertama Lulusan S1 Pendidikan Tata Busana Angkatan 2008/2009 Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Agus Hery Supadmi Irianti, M. Pd., (II) Nurul Hidayati, S.Pd., M.Sn. Kata Kunci: Masa Tunggu, Jenis Pekerjaan Pertama, Lulusan S1 Pendidikan Tata Busana. Survei masa tunggu dan jenis pekerjaan pertama lulusan merupakan penelitian yang bermaksud menggali data tentang masa tunggu lulusan untuk mendapat pekerjaan pertama dan jenis pekerjaan pertama yang didapat lulusan. Selama ini data tersebut belum terdeteksi, padahal sangat diperlukan untuk mengetahui kualitas lulusan guna perbaikan berkelanjutan program studi dan sebagai salah satu elemen penilaian dalam keperluan akreditasi program studi untuk tujuan kegiatan penjaminan mutu yang dijalankan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui masa tunggu lulusan dan jenis pekerjaan pertama yang diperoleh lulusan S1 Pendidikan Tata Busana angkatan tahun 2008/2009 Universitas Negeri Malang. Rancangan penelitian ini menggunakan penelitian survei. Populasi dalam penelitian ini adalah 29 Lulusan S1 Pendidikan Tata Busana angkatan 2008/2009. Instrumen yang digunakan menggunakan dokumentasi dan angket. Uji validitas menggunakan validitas konstruk yang ditetapkan berdasarkan pertimbangan dari para ahli. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Lulusan S1 Pendidikan Tata Busana angkatan 2008/2009 sebagian besar (65%) memiliki masa tunggu 0-3 bulan dengan kategori sangat baik, sebagian besar (62%) lulusan memulai mencari pekerjaan setelah lulus dan selama masa tunggu, sebanyak 66% lulusan menghubungi instansi/perusahaan untuk melamar pekerjaan; (2) Lulusan yang mendapat pekerjaan pertama pada bidang busana sebanyak 70%, pada bidang umum/non tata busana (23%), dan sebanyak 7% tidak bekerja pada bidang busana maupun bidang umum/non tata busana; (3) Lulusan yang memilki jenis pekerjaan pertama sesuai dengan kompetensi lulusan S1 Pendidikan Tata Busana sebanyak 55% dan sebanyak 45% lulusan mendapat pekerjaan pertama tidak sesuai dengan kompetensi lulusan; (4) Jenis pekerjaan pertama lulusan jika dilihat dari bidang busana, 70% lulusan mendapat pekerjaan pada bidang busana, akan tetapi jika dilihat dari kesesuaian dengan kompetensi lulusan hanya 55% lulusan yang mendapat pekerjaan sesuai kompetensi, hal ini disebabkan tidak semua pekerjaan pada bidang busana sesuai dengan kompetensi lulusan. Saran yang dapat disampaikan adalah (1) bagi lulusan yang belum bekerja, sebaiknya setelah lulus segera mencari informasi lowongan pekerjaan pada lembaga/instansi/perusahaan, atau pada alumni lainnya, (2) lulusan yang bekerja pada bidang yang tidak sesuai dengan kompetensi lulusan, sebaiknya mencari pekerjaan sesuai dengan kompetensi lulusan yaitu sebagai guru busana atau pengelola usaha busana, (3) bagi peneliti lain, dapat membuat penelitian tentang faktor latar belakang pemilihan jenis pekerjaan lulusan. ABSTRACT Yuliantika, Ciptaning Riris. 2015. Survey of Waiting Period and The Type of First Job Graduate of Fashion Design Education of 2008/2009 Enrollment Year in Malang of State University. Thesis. Department of Industrial Technology. Fashion Design Education. Faculty of Engineering, Malang of State University. Advisors: (I) Dra. Agus Hery Supadmi Irianti, M. Pd., (II) Nurul Hidayati, S.Pd., M.Sn. Keywords: Waiting Period, The Type of First Job, Graduate of Fashion Design Education Survey of waiting period and the type of first job graduate is the research intends to collect data on graduates waiting period to get the first job and the type of first job obtained graduates. So far, the data has not been detected, even though it is required to determine the quality of graduates for continuous improvement and the study program as one element in the assessment of accreditation purposes for the purpose of quality assurance activities by Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). The purpose of this study to determine the waiting period and the type of first job graduate obtained the graduate of Fashion Design Education of 2008/2009 Enrollment Year in Malang of State University. The design of this study using survey research. The population in this study is the 29 graduates of fashion design education of 2008/2009 enrollment year. Instruments used to use the documentation and questionnaires. Test the validity of using the construct validity were determined by consideration of the experts. Data were analyzed using descriptive analysis of the percentage. The results showed that (1) graduates of fashion design education of 2008/2009 enrollment year force 2008/2009 majority (65%) have a waiting period of 0-3 months with excellent category, most (62%) graduates start looking for a job after graduation, during the waiting period, 66% of graduates to contact the agency / company to apply for a job; (2) graduates who got the first job in the field of fashion as much as 70%, in the field of public/non-corporate clothing (23%), and as much as 7% did not work in the field of fashion and general field/non dressmaking; (3) graduates who have the type of first job in accordance with the competence of graduates of fashion design education as much as 55% and as much as 45% of graduates got the first job does not match the competence of graduates; (4) The type of first job graduate when viewed from the fields of fashion, 70% of graduates find work in the field of fashion, but when viewed from compliance with the competence of graduates only 55% of graduates who got a job according to its competence, it is because not all of the work in the field of fashion according to the competence of graduates. Suggestions can be submitted is (1) for graduates who have not worked, preferably after graduating soon seek job information on the institution/agency/ company, or on the other alumni, (2) for graduates who work in fields that are not in accordance with the competence of graduates, should look for a job in accordance with the competence of graduates is as educators (teachers) clothing or fashion business manager, (3) for other researchers, in line with the results of this study, it can be made research on background factors the choice of graduate employment
STUDI TENTANG PELAKSANAAN PRAKTIK KERJA INDUSTRI (PRAKERIN) SISWA TATA BUSANA SMK NEGERI TEGALSARI DI BANYUWANGI
ABSTRAK Julaikhah, Siti. 2015. Studi tentang Pelaksanaan Praktik Kerja Industri (Prakerin) Siswa Tata Busana SMK Negeri Tegalsari di Banyuwangi. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Nur Endah Purwaningsih, M.Pd., (2) Dra. Rosanti Rosmawati, M.Sn. Kata kunci: Studi, Pelaksanaan, Praktik Kerja Industri, Banyuwangi. Pelaksanaan praktik kerja industri (prakerin) di SMK Negeri Tegalsari merupakan kegiatan yang wajib ditempuh oleh siswa Tata Busana. Tuntutan peningkatan kemampuan siswa dalam menghadapi pasar kerja atau setelah lulus benar-benar bekerja di dunia usaha/dunia industri, maka siswa sebelum lulus perlu diperkenalkan dengan dunia kerja. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kegiatan pelaksanaan prakerin yang meliputi perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), penyelenggaraan, dan evaluasi (controlling ) Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi pada penelitian ini berjumlah 15 responden yang terdiri dari 5 guru pembimbing dan 10 instruktur industri. Jenis sampel yang digunakan adalah sampling jenuh. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah angket tertutup. Uji validitas menggunakan validitas konstruk, sedangkan uji reliabilitas menggunakan rumus Alpha Cronbach dengan bantuan program SPSS 16.0.Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif dengan presentase. Hasil penelitian ini yaitu: (1) pelaksanaan prakerin dari aspek perencanaan (planning) memiliki kategori baik (60%), (2) pelaksanaan prakerin dari aspek pengorganisasian (organizing) memiliki kategori baik (60%), (3) pelaksanaan prakerin dari aspek penyelenggaraan memiliki kategori sangat baik (80%), (4) pelaksanaan prakerin dari evaluasi (controlling) memiliki kategori sangat baik (80%). Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, maka pelaksanaan prakerin dapat disimpulkan bahwa perencanaan berjalan baik dengan terpenuhinya prasyarat prakerin sebelum pelaksanaan prakerin. Pengorganisasian yang dilakukan sudah baik dengan terjalinnya kerjasama secara efektif dalam usaha mencapai tujuan. Penyelenggaraan yang dilaksanakan oleh siswa dapat berjalan dengan baik karena peserta prakerin dapat menaati peraturan yang ada dan dapat menyelesaikan tugas yang dibebankan. Evaluasi atas keterlaksanaan perencanaan, pengorganisasian, dan penyelenggaraan sudah berjalan dengan sangat baik. Saran penelitian yang diberikan adalah (1) pihak sekolah diharapkan dapat mempertahankan dan meningkatkan lagi pelaksanaan prakerin karena pelaksanaan dapat berjalan dengan sangat baik jika kerjasama yang dilakukan antara sekolah, industri, orang tua, dan siswa dapat dilaksanakan dengan baik pula. (2) bagi pihak industri diharapakan tetap bisa mempertahankan dan meningkatkan produktifitas perusahaan agar tetap bisa bekerjasama dengan pihak sekolah, sehingga dari tahun ketahun industri dapat menambah jumlah peserta prakerin yang diterima dalam perusahaanya, karena sulit mencari industri yang sesuai dengan kriteria yang ditentukan