Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences
Not a member yet
164 research outputs found
Sort by
Respon Tanaman Sorgum (Sorghum bicolor L.) Pada Tingkat Cekaman Salinitas Dengan Aplikasi Kalsium
Sorgum merupakan salah satu tanaman yang sudah lama dibudidayakan di Indonesia namun dalam areal yang masih terbatas karena lahan pertanian yang subur dan produktif semakin menyempit. Kebanyakan lahan subur dan produktif tersebut pada umumnya lebih intensif ditanami padi dan terjadinya alih fungsi lahan subur untuk pembangunan industri, perumahan dan lain-lain. Salah satu upaya untuk mengembangkan komoditas sorgum adalah dengan memanfaatkan lahan marginal dekat pantai yang memiliki permasalahan yaitu memiliki tingkat salinitas yang tinggi. Permasalahan salinitas dapat dikendalikan dengan pemanfaatan unsur kalsium untuk menjaga agar tanaman sorgum dapat tumbuh secara optimum. Penelitian ini bertujuan memanfaatkan potensi lahan salin dan mengetahui dosis kalsium yang terbaik untuk menekan pengaruh dari cekaman salinitas untuk mengoptimalkan pertumbuhan tanaman sorgum. Percobaan ini dilakukan di rumah plastik buatan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdapat 2 faktor yang mana faktor pertama adalah tingkat salinitas yaitu 100 mM, 150 mM, 200 mM dan 250 mM. Faktor kedua adalah perbedaan konsentrasi Kalsium Klorida (CaCl2) yaitu 0 mM, 10 mM, 20 mM dan 30 mM. Setiap kombinasi perlakuan diulang 3 kali. Varietas yang digunakan adalah Super 1. Variabel pengamatan meliputi tinggi tanaman, panjang akar, umur berbunga, umur panen, bobot biji per malai, kandungan klorofil, kadar air relatif daun dan kandungan prolin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan S0C1 (Cekaman salin 100 mM + Kalsium 10 mM) memberikan hasil terbaik pada variabel tinggi tanaman dan panjang akar. Kombinasi perlakuan S0C2 (Cekaman salin 100 mM + Kalsium 20 mM) memberikan hasil terbaik pada variabel bobot biji per malai, klorofil dan kadar air relatif.Sorgum merupakan salah satu tanaman yang sudah lama dibudidayakan di Indonesia namun dalam areal yang masih terbatas karena lahan pertanian yang subur dan produktif semakin menyempit. Kebanyakan lahan subur dan produktif tersebut pada umumnya lebih intensif ditanami padi dan terjadinya alih fungsi lahan subur untuk pembangunan industri, perumahan dan lain-lain. Salah satu upaya untuk mengembangkan komoditas sorgum adalah dengan memanfaatkan lahan marginal dekat pantai yang memiliki permasalahan yaitu memiliki tingkat salinitas yang tinggi. Permasalahan salinitas dapat dikendalikan dengan pemanfaatan unsur kalsium untuk menjaga agar tanaman sorgum dapat tumbuh secara optimum. Penelitian ini bertujuan memanfaatkan potensi lahan salin dan mengetahui dosis kalsium yang terbaik untuk menekan pengaruh dari cekaman salinitas untuk mengoptimalkan pertumbuhan tanaman sorgum. Percobaan ini dilakukan di rumah plastik buatan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdapat 2 faktor yang mana faktor pertama adalah tingkat salinitas yaitu 100 mM, 150 mM, 200 mM dan 250 mM. Faktor kedua adalah perbedaan konsentrasi Kalsium Klorida (CaCl2) yaitu 0 mM, 10 mM, 20 mM dan 30 mM. Setiap kombinasi perlakuan diulang 3 kali. Varietas yang digunakan adalah Super 1. Variabel pengamatan meliputi tinggi tanaman, panjang akar, umur berbunga, umur panen, bobot biji per malai, kandungan klorofil, kadar air relatif daun dan kandungan prolin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan S0C1 (Cekaman salin 100 mM + Kalsium 10 mM) memberikan hasil terbaik pada variabel tinggi tanaman dan panjang akar. Kombinasi perlakuan S0C2 (Cekaman salin 100 mM + Kalsium 20 mM) memberikan hasil terbaik pada variabel bobot biji per malai, klorofil dan kadar air relatif
Keragaan dan Keragaman Genetik 9 Jenis Sagu (Metroxylon spp) di Kabupaten Biak Numfor Provinsi Papua
Penelitian ini bertujuan untuk Menduga keragaan karakter kuantitatif 9 jenis sagu di Kampung Marau, Distrik Oridek, Kabupaten Biak Numfor, Menduga karakter yang dapat menunjukkan variasi antara genotipe, Menduga karater yang menunjukkan variasi terbesar dan memiliki korelasi yang kuat. Penelitian dilaksanakan Kampung Marau, Distrik Oridek Kabupaten Biak Numfor pada Bulan Maret 2020 sampai dengan Mei 2020. Penelitian ini menggunakan metode Deskriptif Kuantitatif dengan teknik pengamatan secara langsung terhadap tanaman sagu. Variabel yang diamati terdiri dari jumlah anakan, jumlah daun dewasa, jumlah anak daun, panjang anak daun, lebar anak daun, luas anak daun, panjang tangkai daun/petiol, lebar petiol, lingkar batang, tinggi batang, dan diameter batang. Data yang diperoleh di analisis menggunakan uji Z untuk, Analisis Komponen Utama (PCA), Analisis Biplot, analisis cluster. Hasil menunjukkan Terdapat tiga karakter yang menunjukan keragaan terbesar pada pada 9 jenis tanaman sagu di Kampung Marau. Terdapat 4 komponen utama yang menyebabkan keragaman pada genotipe sagu yang diamati. Karakter yang menunjukkan keragaman terbesar berdasarkan hasil biplot adalah tinggi batang dan panjang tulang daun. Terdapat tiga kluster utama berdasarkan tingkat kemiripan genotipe sagu asal Kampung MarauPenelitian ini bertujuan untuk Menduga keragaan karakter kuantitatif 9 jenis sagu di Kampung Marau, Distrik Oridek, Kabupaten Biak Numfor, Menduga karakter yang dapat menunjukkan variasi antara genotipe, Menduga karater yang menunjukkan variasi terbesar dan memiliki korelasi yang kuat. Penelitian dilaksanakan Kampung Marau, Distrik Oridek Kabupaten Biak Numfor pada Bulan Maret 2020 sampai dengan Mei 2020. Penelitian ini menggunakan metode Deskriptif Kuantitatif dengan teknik pengamatan secara langsung terhadap tanaman sagu. Variabel yang diamati terdiri dari jumlah anakan, jumlah daun dewasa, jumlah anak daun, panjang anak daun, lebar anak daun, luas anak daun, panjang tangkai daun/petiol, lebar petiol, lingkar batang, tinggi batang, dan diameter batang. Data yang diperoleh di analisis menggunakan uji Z untuk, Analisis Komponen Utama (PCA), Analisis Biplot, analisis cluster. Hasil menunjukkan Terdapat tiga karakter yang menunjukan keragaan terbesar pada pada 9 jenis tanaman sagu di Kampung Marau. Terdapat 4 komponen utama yang menyebabkan keragaman pada genotipe sagu yang diamati. Karakter yang menunjukkan keragaman terbesar berdasarkan hasil biplot adalah tinggi batang dan panjang tulang daun. Terdapat tiga kluster utama berdasarkan tingkat kemiripan genotipe sagu asal Kampung Mara
Karakteristik Fisik dan Identifikasi Senyawa pada Minyak Atsiri dari Limbah Kulit Jeruk
Teknologi Pascapanen untuk meningkatkan nilai tambah produk jeruk dapat dilakukan dengan memanfaatkan limbah kulit jeruk menjadi minyak atsiri atau essential oil. Kulit jeruk mengandung minyak atsiri, telah banyak dimanfaatkan oleh industri kimia seperti parfum, sebagai penambah aroma jeruk pada minuman dan makanan. Pada penelitian ini dilakukan karakterisasi fisik dan kimia serta kandungan senyawa volatil pada minyak atsiri kulit jeruk purut dan jeruk siam pontianak. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif menggunakan minyak atsiri kulit buah jeruk yang diperoleh dengan metode distilasi. Hasil uji GC-MS menunjukkan bahwa pada sampel minyak atsiri jeruk purut dapat teridentifikasi 9 senyawa dan minyak atsiri jeruk siam pontianak teridentifikasi 4 senyawa, dimana keduanya sama-sama mengandung senyawa limonin. Hasil rata-rata perhitungan rendemen minyak atsiri jeruk purut dan siam pontianak berturut-turut adalah 4,369% dan 3,161%. Minyak atsiri jeruk purut dan siam Pontianak, masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda pada parameter putaran optik, warna fisik, serta uji organoleptik warna dan aroma.Teknologi Pascapanen untuk meningkatkan nilai tambah produk jeruk dapat dilakukan dengan memanfaatkan limbah kulit jeruk menjadi minyak atsiri atau essential oil. Kulit jeruk mengandung minyak atsiri, telah banyak dimanfaatkan oleh industri kimia seperti parfum, sebagai penambah aroma jeruk pada minuman dan makanan. Pada penelitian ini dilakukan karakterisasi fisik dan kimia serta kandungan senyawa volatil pada minyak atsiri kulit jeruk purut dan jeruk siam pontianak. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif menggunakan minyak atsiri kulit buah jeruk yang diperoleh dengan metode distilasi. Hasil uji GC-MS menunjukkan bahwa pada sampel minyak atsiri jeruk purut dapat teridentifikasi 9 senyawa dan minyak atsiri jeruk siam pontianak teridentifikasi 4 senyawa, dimana keduanya sama-sama mengandung senyawa limonin. Hasil rata-rata perhitungan rendemen minyak atsiri jeruk purut dan siam pontianak berturut-turut adalah 4,369% dan 3,161%. Minyak atsiri jeruk purut dan siam Pontianak, masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda pada parameter putaran optik, warna fisik, serta uji organoleptik warna dan aroma
Pemutuan Fisik Gabah dan Beras Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI)
Pemutuan gabah dan beras sangat diperlukan guna mengetahui kualitas gabah dan beras yang dihasilkan serta untuk menentukan nilai jual. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis mutu fisik gabah dan beras serta menilai mutu gabah menurut SNI 1987 dan mutu beras menurut SNI 6128-2015. Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah gabah kering giling (GKG) varietas IPB 3S dan beras varietas padi Ciherang. Masing-masing sampel yang digunakan sebanyak 100 gram dengan 4 kali ulangan. Parameter pengukuran mutu fisik gabah meliputi kadar air, gabah hampa, butir rusak (kuning), butir mengapur (gabah muda) serta gabah merah. Sedangkan parameter pengukuran mutu fisik beras meliputi kadar air, persentase beras kepala, butir patah, butir menir, butir merah, butir kuning (rusak), butir kapur, benda asing dan butir gabah. Hasil penelitianmenunjukkan bahwagabah varietas IPB 3S memiliki kadar air sebesar 14.55%, gabah hampa 1.64%, butir mengapur (gabah muda) sebesar 3.12%, butir rusak (kuning) sebesar 4.46% dan butir merah sebesar 0%. Sedangkan komponen mutu fisik beras varietas padi Ciherang memiliki kadar air sebesar 14.3%, butir kepala sebesar 66.73%, butir patah sebesar 24.18%, butir menir sebesar 7.21%, butir mengapur sebesar 1.51%, butir kuning (rusak) sebesar 0.21%, butir merah sebesar 0.01%, benda asing 0% serta butir gabah 0%. Pemutuan gabah varietas IPB 3S berada pada kategori gabah Mutu II, sedangkan beras varietas padi Ciherang tidak sesuai dengan SNI beras dikarenakan tingginya persentase beras menir.Pemutuan gabah dan beras sangat diperlukan guna mengetahui kualitas gabah dan beras yang dihasilkan serta untuk menentukan nilai jual. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis mutu fisik gabah dan beras serta menilai mutu gabah menurut SNI 1987 dan mutu beras menurut SNI 6128-2015. Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah gabah kering giling (GKG) varietas IPB 3S dan beras varietas padi Ciherang. Masing-masing sampel yang digunakan sebanyak 100 gram dengan 4 kali ulangan. Parameter pengukuran mutu fisik gabah meliputi kadar air, gabah hampa, butir rusak (kuning), butir mengapur (gabah muda) serta gabah merah. Sedangkan parameter pengukuran mutu fisik beras meliputi kadar air, persentase beras kepala, butir patah, butir menir, butir merah, butir kuning (rusak), butir kapur, benda asing dan butir gabah. Hasil penelitianmenunjukkan bahwagabah varietas IPB 3S memiliki kadar air sebesar 14.55%, gabah hampa 1.64%, butir mengapur (gabah muda) sebesar 3.12%, butir rusak (kuning) sebesar 4.46% dan butir merah sebesar 0%. Sedangkan komponen mutu fisik beras varietas padi Ciherang memiliki kadar air sebesar 14.3%, butir kepala sebesar 66.73%, butir patah sebesar 24.18%, butir menir sebesar 7.21%, butir mengapur sebesar 1.51%, butir kuning (rusak) sebesar 0.21%, butir merah sebesar 0.01%, benda asing 0% serta butir gabah 0%. Pemutuan gabah varietas IPB 3S berada pada kategori gabah Mutu II, sedangkan beras varietas padi Ciherang tidak sesuai dengan SNI beras dikarenakan tingginya persentase beras menir
Efek Kombinasi Biochar dan Mikoriza pada Pertumbuhan Tanaman Jagung Pulut Ungu (Zea mays L. var ceratina Kulesh) Tanah Inseptisol Reuleut
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi biochar dan pemberian mikoriza pada tanah inseptisol dalam pengembangan tanaman jagung pulut ungu/Dark purple waxy corn (Zea mays L. var ceratina Kulesh). Pada penelitian ini digunakan rancangan acak kelompok (RAK) pola faktorial 3 ulangan yang terdiri dari faktor pemberian biochar (B) terdiri dari 0 t/ha, 2 t/ha, 4 t/ha dan faktor mikoriza (M) 0 t/ha, 0.35 t/ha, 0.65 t/ha. Data hasil pengamatan dianalisis secara statistik dan apabila berpengaruh nyata dan sangat nyata, maka dilakukan uji lanjut dengan menggunakan Duncan (DMRT). Aplikasi biochar sebagai pembenah tanah yang dapat memperbaiki sifat fisik tanah yang dikombinasikan dengan pemberian fungi mikoriza dan pupuk hayati pada lahan inseptisol dapat meningkatkan pertumbuhan dan tinggi tanaman. Pertumbuhan jagung tertinggi diperoleh pada dosis biochar 2 t/ha. Seiring dengan meningkatnya dosis pupuk biokompos+mikoriza terdapat penurunan tinggi dan kandungan klorofil tanaman jagung pada tanah inseptisol Reuleut.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi biochar dan pemberian mikoriza pada tanah inseptisol dalam pengembangan tanaman jagung pulut ungu/Dark purple waxy corn (Zea mays L. var ceratina Kulesh). Pada penelitian ini digunakan rancangan acak kelompok (RAK) pola faktorial 3 ulangan yang terdiri dari faktor pemberian biochar (B) terdiri dari 0 t/ha, 2 t/ha, 4 t/ha dan faktor mikoriza (M) 0 t/ha, 0.35 t/ha, 0.65 t/ha. Data hasil pengamatan dianalisis secara statistik dan apabila berpengaruh nyata dan sangat nyata, maka dilakukan uji lanjut dengan menggunakan Duncan (DMRT). Aplikasi biochar sebagai pembenah tanah yang dapat memperbaiki sifat fisik tanah yang dikombinasikan dengan pemberian fungi mikoriza dan pupuk hayati pada lahan inseptisol dapat meningkatkan pertumbuhan dan tinggi tanaman. Pertumbuhan jagung tertinggi diperoleh pada dosis biochar 2 t/ha. Seiring dengan meningkatnya dosis pupuk biokompos+mikoriza terdapat penurunan tinggi dan kandungan klorofil tanaman jagung pada tanah inseptisol Reuleut
Aplikasi Pupuk Fosfor terhadap Pertumbuhan, Hasil Biji, dan Gula Brix Tanaman Sorgum
Kondisi lahan yang kering dan kesuburan tanah yang rendah menjadi permasalahan utama dalam pengembangan sorgum sebagai bahan pangan, pakan dan bahan baku industri (ethanol). Pemberian pupuk fospor (P) diharapkan dapat meningkatkan biomas batang, volume nira, kadar brix dan biji sorgum. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh berbagai dosis pemberian pupuk P terhadap pertumbuhan, hasil, kadar gula brix dan biomas beberapa varietas sorgum. Penelitian di laksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros Sulawesi Selatan. Rancangan yang digunakan dalam percobaan ini adalah rancangan acak kelompok (RAK) tiga ulangan dengan 2 faktor. Faktor pertama adalah varietas (Super 1, Super 2 dan Numbu). Faktor kedua adalah penambahan pupuk tunggal Posfor (P) : P1= tanpa pupuk fosfor, P2= 25 kg/ha pupuk P, P3= 50 kg/ha pupuk P, P4= 75 kg/ha pupuk P, P5= 100 kg/ha pupuk P dan P6= 125 kg/ha pupuk P. Dosis pupuk acuan yang digunakan adalah 120 kg/ha N, 36 kg/ha P (P2O5) dan 90 kg/ha KCl (K2O). Data dianalisis menggunakan analisis sidik ragam Anova, apabila berpengaruh nyata dilakukan uji lanjut Duncan dengan taraf kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukkan pemberian pupuk P dosis 50 kg/ha menghasilkan panen biji tertinggi pada varietas Super 1 (2.73 t/ha), Numbu (1.93 t/ha) dan pupuk P dengan dosis 25 kg/ha menghasilkan bobot panen tertinggi pada varietas Super 2 (3.76 t/ha). Kadar gula brix tertinggi diperoleh pada varietas Super 1 dosis P 100 kg/ha (12.95%), Super 2 dosis P 125 kg/ha (15.61%) dan Numbu dosis P 125 kg/ha (14.19%).Kondisi lahan yang kering dan kesuburan tanah yang rendah menjadi permasalahan utama dalam pengembangan sorgum sebagai bahan pangan, pakan dan bahan baku industri (ethanol). Pemberian pupuk fospor (P) diharapkan dapat meningkatkan biomas batang, volume nira, kadar brix dan biji sorgum. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh berbagai dosis pemberian pupuk P terhadap pertumbuhan, hasil, kadar gula brix dan biomas beberapa varietas sorgum. Penelitian di laksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros Sulawesi Selatan. Rancangan yang digunakan dalam percobaan ini adalah rancangan acak kelompok (RAK) tiga ulangan dengan 2 faktor. Faktor pertama adalah varietas (Super 1, Super 2 dan Numbu). Faktor kedua adalah penambahan pupuk tunggal Posfor (P) : P1= tanpa pupuk fosfor, P2= 25 kg/ha pupuk P, P3= 50 kg/ha pupuk P, P4= 75 kg/ha pupuk P, P5= 100 kg/ha pupuk P dan P6= 125 kg/ha pupuk P. Dosis pupuk acuan yang digunakan adalah 120 kg/ha N, 36 kg/ha P (P2O5) dan 90 kg/ha KCl (K2O). Data dianalisis menggunakan analisis sidik ragam Anova, apabila berpengaruh nyata dilakukan uji lanjut Duncan dengan taraf kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukkan pemberian pupuk P dosis 50 kg/ha menghasilkan panen biji tertinggi pada varietas Super 1 (2.73 t/ha), Numbu (1.93 t/ha) dan pupuk P dengan dosis 25 kg/ha menghasilkan bobot panen tertinggi pada varietas Super 2 (3.76 t/ha). Kadar gula brix tertinggi diperoleh pada varietas Super 1 dosis P 100 kg/ha (12.95%), Super 2 dosis P 125 kg/ha (15.61%) dan Numbu dosis P 125 kg/ha (14.19%)
Pengaruh Berbagai Varietas dan Tinggi Muka Air Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Padi (Oryza sativa L.) Pada Tanah Alluvial
Ketersediaan air mempengaruhi faktor pertumbuhan tanaman padi yaitu fisiologi, morfologi, pola pertumbuhan dan hasil padi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui respon beberapa varietas padi sawah dengan tinggi muka air yang berbeda dan mendapatkan varietas padi sawah yang terbaik dan tinggi muka air yang sesuai terhadap hasil tanaman padi sawah. Penelitian lapang ini dilaksanakan di Desa Cipta Karya, Kecamatan Sungai Betung, Kabupaten Bengkayang. Penelitian dilaksanakan selama lima bulan, sejak bulan Februari sampai Juni 2020. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen lapangan dengan pola Rancangan Acak Lengkap Faktorial (RALF) yang terdiri dari 2 faktor dan diulang sebanyak 3 kali. Faktor pertama adalah varietas padi (V) sebanyak 4 taraf yaitu varietas Cilosari, Ciherang, Inpari 39 dan Inpago 8 dan faktor kedua adalah tinggi muka air (A) sebanyak 5 taraf yaitu -5 cm, 0 cm, 5 cm, 10 cm dan 15 cm. Pengamatan tanaman meliputi tinggi tanaman, jumlah anakan maksimum, jumlah anakan produktif, umur berbunga, jumlah gabah isi per malai, panjang malai, persentase gabah isi per malai, bobot 1.000 butir dan bobot gabah kering panen per rumpun. Hasil penelitian menunjukkan varietas dan tinggi muka air sangat berpengaruh nyata terhadap komponen pertumbuhan yaitu tinggi tanaman, jumlah anakan maksimum Varietas Cilosari, Inpari 39 dan Inpago 8 memberikan bobot gabah tertinggi yaitu masing-masing sebesar 36,93, 32,40 dan 31,89 g per rumpun. Perlakuan tinggi muka air 5 cm memberikan bobot gabah tertinggi sebesar 37,92 g per rumpun.Ketersediaan air mempengaruhi faktor pertumbuhan tanaman padi yaitu fisiologi, morfologi, pola pertumbuhan dan hasil padi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui respon beberapa varietas padi sawah dengan tinggi muka air yang berbeda dan mendapatkan varietas padi sawah yang terbaik dan tinggi muka air yang sesuai terhadap hasil tanaman padi sawah. Penelitian lapang ini dilaksanakan di Desa Cipta Karya, Kecamatan Sungai Betung, Kabupaten Bengkayang. Penelitian dilaksanakan selama lima bulan, sejak bulan Februari sampai Juni 2020. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen lapangan dengan pola Rancangan Acak Lengkap Faktorial (RALF) yang terdiri dari 2 faktor dan diulang sebanyak 3 kali. Faktor pertama adalah varietas padi (V) sebanyak 4 taraf yaitu varietas Cilosari, Ciherang, Inpari 39 dan Inpago 8 dan faktor kedua adalah tinggi muka air (A) sebanyak 5 taraf yaitu -5 cm, 0 cm, 5 cm, 10 cm dan 15 cm. Pengamatan tanaman meliputi tinggi tanaman, jumlah anakan maksimum, jumlah anakan produktif, umur berbunga, jumlah gabah isi per malai, panjang malai, persentase gabah isi per malai, bobot 1.000 butir dan bobot gabah kering panen per rumpun. Hasil penelitian menunjukkan varietas dan tinggi muka air sangat berpengaruh nyata terhadap komponen pertumbuhan yaitu tinggi tanaman, jumlah anakan maksimum Varietas Cilosari, Inpari 39 dan Inpago 8 memberikan bobot gabah tertinggi yaitu masing-masing sebesar 36,93, 32,40 dan 31,89 g per rumpun. Perlakuan tinggi muka air 5 cm memberikan bobot gabah tertinggi sebesar 37,92 g per rumpun
Respon Eksplan Vanili (Vanilla planifolia) dengan Stimulasi BAP dan NAA Melalui Teknik Mikropropagasi
Pengembangan tanaman vanili dengan perbanyakan vegetatif secara konvensional memiliki keterbatasan tanaman induk sebagai bahan setek sehingga vanili berpotensi dikembangkan melalui teknik mikropropagasi. Kemampuan eksplan vanili dalam beregenerasi dan berdiferensiasi untuk membentuk tunas dan akar secara in vitro perlu dikontrol melalui pengaturan auksin dan sitokinin. Tujuan dalam penelitian adalah: 1) menganalisis respon eksplan vanili dengan stimulasi BAP; 2) menganalisis respon eksplan vanili dengan stimulasi NAA dan 3) menganalisis interaksi stimulasi BAP dan NAA terhadap respon eksplan vanili melalui teknik mikropropagasi. Penelitian dilaksanakan di laboratorium Kultur Jaringan Politeknik Negeri Jember menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial. Faktor 1 adalah stimulasi BAP pada level konsentrasi 0.0, 1.0, 3.0 mg/L dan faktor 2 adalah stimulasi NAA pada level konsentrasi 0.0, 0.5 mg/L. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa stimulasi BAP secara tunggal mempengaruhi multiplikasi tunas vanili dengan rerata jumlah tunas terbanyak 6.8 tunas/ eksplan pada stimulasi BAP 1 mg/L dan stimulasi NAA secara tunggal menginduksi pembentukan akar dengan rerata jumlah akar terbanyak 3.0 akar/eksplan pada stimulasi NAA 0.5 mg/L.Pengembangan tanaman vanili dengan perbanyakan vegetatif secara konvensional memiliki keterbatasan tanaman induk sebagai bahan setek sehingga vanili berpotensi dikembangkan melalui teknik mikropropagasi. Kemampuan eksplan vanili dalam beregenerasi dan berdiferensiasi untuk membentuk tunas dan akar secara in vitro perlu dikontrol melalui pengaturan auksin dan sitokinin. Tujuan dalam penelitian adalah: 1) menganalisis respon eksplan vanili dengan stimulasi BAP; 2) menganalisis respon eksplan vanili dengan stimulasi NAA dan 3) menganalisis interaksi stimulasi BAP dan NAA terhadap respon eksplan vanili melalui teknik mikropropagasi. Penelitian dilaksanakan di laboratorium Kultur Jaringan Politeknik Negeri Jember menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial. Faktor 1 adalah stimulasi BAP pada level konsentrasi 0.0, 1.0, 3.0 mg/L dan faktor 2 adalah stimulasi NAA pada level konsentrasi 0.0, 0.5 mg/L. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa stimulasi BAP secara tunggal mempengaruhi multiplikasi tunas vanili dengan rerata jumlah tunas terbanyak 6.8 tunas/ eksplan pada stimulasi BAP 1 mg/L dan stimulasi NAA secara tunggal menginduksi pembentukan akar dengan rerata jumlah akar terbanyak 3.0 akar/eksplan pada stimulasi NAA 0.5 mg/L
Pengaruh Penggunaan Nano Kalsium Terhadap Produksi Tomat (Lycopersicum esculentum Mill)
Tanaman tomat membutuhkan hara untuk pertumbuhannya, salah satunya kalsium. Kalsium merupakan makronutrien penting untuk petumbuhan sel dan buah. Pada penelitian ini pupuk kalsium yang diaplikasikan pada tanaman tomat dalam bentuk nano-kalsium dengan 3 fasa yang berbeda, yaitu aragonit, kalsit dan vaterit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengaplikasian dari ketiga fasa tersebut dan konsentrasi nano kalsium yang berbeda terhadap produksi tomat. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Kadur Kabupaten Pamekasan. Tanaman tomat ditanam pada polibag dan disusun dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Perlakuan terdiri dari penggunaan tiga fasa nano kalsium (Aragonit, Kalsit dan Vaterit) dan dosis penggunaan (0,25; 0,5; dan 0,75 gram/tanaman). Masing-masing perlakuan tiga kali ulangan. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas indeks daun dan berat total buah. Data di analisis menggunakan Anova dan apabila berbeda nyata dilanjutkan dengan uji DMRT 5%. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan fasa nano kalsium, dosis dan interaksi keduanya menurunkan jumlah daun dan indeks luas daun.Tanaman tomat membutuhkan hara untuk pertumbuhannya, salah satunya kalsium. Kalsium merupakan makronutrien penting untuk petumbuhan sel dan buah. Pada penelitian ini pupuk kalsium yang diaplikasikan pada tanaman tomat dalam bentuk nano-kalsium dengan 3 fasa yang berbeda, yaitu aragonit, kalsit dan vaterit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengaplikasian dari ketiga fasa tersebut dan konsentrasi nano kalsium yang berbeda terhadap produksi tomat. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Kadur Kabupaten Pamekasan. Tanaman tomat ditanam pada polibag dan disusun dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Perlakuan terdiri dari penggunaan tiga fasa nano kalsium (Aragonit, Kalsit dan Vaterit) dan dosis penggunaan (0,25; 0,5; dan 0,75 gram/tanaman). Masing-masing perlakuan tiga kali ulangan. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas indeks daun dan berat total buah. Data di analisis menggunakan Anova dan apabila berbeda nyata dilanjutkan dengan uji DMRT 5%. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan fasa nano kalsium, dosis dan interaksi keduanya menurunkan jumlah daun dan indeks luas daun
Aplikasi Trichoderma sp. Terhadap Penyakit Karat Daun (Phakopsora pachyrizi) Tanaman Kedelai Edamame
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan Trichoderma spp. terhadap penyakit karat daun Phakopsora pachyrizi Syd pada tanaman kedelai Edamame. Penelitian ini dilakukan di Desa Dukuh Mencek, Kecamatan Sukorambi, Kabupaten Jember, dimulai Desember 2019 sampai Maret 2020. Metode penelitian ini membandingkan dua areal tanaman Edamame dengan perlakuan berbeda dalam pengendalian penyakit karat daun. Areal pertama menggunakan Trichoderma spp. konsentrasi 108 CFU dosis 500 liter per ha, pupuk kandang kotoran sapi, dosis 5 ton per ha, mulsa jerami 5 ton per ha. Biourine 1 liter dicampur 10 liter air dengan cara disemprotkan pada tanaman. Areal kedua menggunakan fungisida berbahan aktif Metalaksil konsentrasi 2 gram/liter, dosis 500 liter per ha, Urea 150 kg/ha, SP-36 150 kg/ha, KCl 100 kg/ha., pupuk daun Gandasil D. Peubah yang diamati: daya hambat Trichoderma spp tehadap pertumbuhan P.pachyrizi, intensitas serangan, jumlah dan berat polong per rumpun. Data dianalisis menggunakan perangkat lunak SPSS versi 23.0. Kesimpulan penelitian adalah: daya hambat Trichoderma spp terhadap P. a pachyrizi 106 CFU adalah 25%, 108 CFU adalah 50% dan 109 CFU adalah 75%, Intensitas serangan P. pachyrizi perlakuan fungisida Trichoderma spp adalah 0,70 persen, lebih rendah dibanding Metalaksil yaitu 1,17 persen. Jumlah polong perlakuan fungisida Trichoderma spp adalah 20,88 polong per rumpun, lebih rendah dibanding Metalaksil yaitu 29,76 polong per rumpun. Berat polong perlakuan fungisida Trichoderma spp adalah 41,66 gram per rumpun, lebih rendah dibanding Metalaksil yaitu 51,72 gram per rumpun.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan Trichoderma spp. terhadap penyakit karat daun Phakopsora pachyrizi Syd pada tanaman kedelai Edamame. Penelitian ini dilakukan di Desa Dukuh Mencek, Kecamatan Sukorambi, Kabupaten Jember, dimulai Desember 2019 sampai Maret 2020. Metode penelitian ini membandingkan dua areal tanaman Edamame dengan perlakuan berbeda dalam pengendalian penyakit karat daun. Areal pertama menggunakan Trichoderma spp. konsentrasi 108 CFU dosis 500 liter per ha, pupuk kandang kotoran sapi, dosis 5 ton per ha, mulsa jerami 5 ton per ha. Biourine 1 liter dicampur 10 liter air dengan cara disemprotkan pada tanaman. Areal kedua menggunakan fungisida berbahan aktif Metalaksil konsentrasi 2 gram/liter, dosis 500 liter per ha, Urea 150 kg/ha, SP-36 150 kg/ha, KCl 100 kg/ha., pupuk daun Gandasil D. Peubah yang diamati: daya hambat Trichoderma spp tehadap pertumbuhan P.pachyrizi, intensitas serangan, jumlah dan berat polong per rumpun. Data dianalisis menggunakan perangkat lunak SPSS versi 23.0. Kesimpulan penelitian adalah: daya hambat Trichoderma spp terhadap P. a pachyrizi 106 CFU adalah 25%, 108 CFU adalah 50% dan 109 CFU adalah 75%, Intensitas serangan P. pachyrizi perlakuan fungisida Trichoderma spp adalah 0,70 persen, lebih rendah dibanding Metalaksil yaitu 1,17 persen. Jumlah polong perlakuan fungisida Trichoderma spp adalah 20,88 polong per rumpun, lebih rendah dibanding Metalaksil yaitu 29,76 polong per rumpun. Berat polong perlakuan fungisida Trichoderma spp adalah 41,66 gram per rumpun, lebih rendah dibanding Metalaksil yaitu 51,72 gram per rumpun