Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences
Not a member yet
    164 research outputs found

    Interaksi Antar Spesies Hama Pascapanen pada Gandum

    No full text
    Sitophilus oryzae L., Rhyzoperta dominica (F.), dan Tribolium castaneum (Herbst) merupakan hama pascapanen yang berasosiasi dengan gandum selama penyimpanan. Interaksi antar individu dari ketiga spesies tersebut dapat mempengaruhi populasi dan kerusakan gandum. Penelitian bertujuan mempelajari interaksi antara spesies hama pascapanen terhadap populasi dan kerusakan gandum. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan perlakuan interaksi intraspesifik dan interspesifik spesies hama pascapanen. Sebanyak 30 imago diinfestasikan ke dalam stoples plastik yang berisikan 150 g gandum dengan mengikuti kombinasi berikut 30 imago S. oryzae, 30 imago R. dominica, 30 imago T. castaneum, 15 imago S. oryzae + 15 imago R. dominica, 15 imago S. oryzae + 15 imago T. castaneum, 15 imago R. dominica + 15 imago T. castaneum, 10 imago S. oryzae + 10 imago R. dominica + 10 imago T. castaneum. Parameter pengamatan meliputi jumlah imago dan persentase susut berat. Data hasil pengamatan dianalisis dengan analisis ragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetisi interspesifik antara spesies S. oryzae, R. dominica, dan T. castaneum secara nyata dapat mengurangi populasi ketiga spesies tersebut. Kompetisi intraspesifik antara spesies hama spesies S. oryzae, R. dominica, dan T. castaneum tidak mengurangi pertumbuhan populasi, namun dapat meningkatkan kerusakan gandum. Kerusakan gandum lebih banyak terjadi pada kompetisi intraspesifik antar individu S. oryzae dibandingkan antar R. dominica atau T. castaneum. Pengetahuan tentang asosiasi antar spesies S. oryzae, R. dominica, dan T. castaneum sebagai acuan kegiatan pemantauan untuk mengevaluasi tindakan pengendalian yang dilakukan terhadap hama tersebut di penyimpanan gandumSitophilus oryzae L., Rhyzoperta dominica (F.), dan Tribolium castaneum (Herbst) merupakan hama pascapanen yang berasosiasi dengan gandum selama penyimpanan. Interaksi antar individu dari ketiga spesies tersebut dapat mempengaruhi populasi dan kerusakan gandum. Penelitian bertujuan mempelajari interaksi antara spesies hama pascapanen terhadap populasi dan kerusakan gandum. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan perlakuan interaksi intraspesifik dan interspesifik spesies hama pascapanen. Sebanyak 30 imago diinfestasikan ke dalam stoples plastik yang berisikan 150 g gandum dengan mengikuti kombinasi berikut 30 imago S. oryzae, 30 imago R. dominica, 30 imago T. castaneum, 15 imago S. oryzae + 15 imago R. dominica, 15 imago S. oryzae + 15 imago T. castaneum, 15 imago R. dominica + 15 imago T. castaneum, 10 imago S. oryzae + 10 imago R. dominica + 10 imago T. castaneum. Parameter pengamatan meliputi jumlah imago dan persentase susut berat. Data hasil pengamatan dianalisis dengan analisis ragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetisi interspesifik antara spesies S. oryzae, R. dominica, dan T. castaneum secara nyata dapat mengurangi populasi ketiga spesies tersebut. Kompetisi intraspesifik antara spesies hama spesies S. oryzae, R. dominica, dan T. castaneum tidak mengurangi pertumbuhan populasi, namun dapat meningkatkan kerusakan gandum. Kerusakan gandum lebih banyak terjadi pada kompetisi intraspesifik antar individu S. oryzae dibandingkan antar R. dominica atau T. castaneum. Pengetahuan tentang asosiasi antar spesies S. oryzae, R. dominica, dan T. castaneum sebagai acuan kegiatan pemantauan untuk mengevaluasi tindakan pengendalian yang dilakukan terhadap hama tersebut di penyimpanan gandu

    Kombinasi Jarak Tanam dan Dosis Pupuk (ZA dan KCl) Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Benih F1 Varietas Bima 20

    No full text
    Penggunaan dosis pupuk yang tepat dengan pengaturan jarak tanam legowo merupakan faktor yang diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman dan produktivitas benih jagung hibrida. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji model jarak tanam jajar legowo ((100 cm - 50 cm) x 20 cm) dibandingkan dengan model jarak tanam normal (75 cm x 20 cm) dengan kombinasi berbagai dosis pupuk terhadap tingkat produktivitas benih jagung hibrida Bima 20. Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Balitsereal Maros, pada bulan Mei sampai dengan Agustus 2017. Percobaan dilakukan menggunakan Rancangan petak tersarang (nested randomized block design). Empat perlakuan pemupukan yaitu A : 350 kg/ha Urea + 50 kg/ha KCl; B: 350 kg/ha Urea + 100 kg/ha KCl; C : 350 kg/ha Urea + 50 kg/ha ZA; D ; 350 kg/ha Urea + 100 kg/ha ZA diulang tiga kali pada dua perlakuan jarak tanam yaitu jarak tanam konvensional 70 cm x 20 cm dan jarak tanam jajar legowo (100 cm- 50 cm) x 20 cm. Pengamatan pertumbuhan dan hasil panen dilakukan terhadap tanaman betina. Interaksi antara perlakuan menunjukkan berbeda nyata pada lebar daun. Hasil panen tertinggi pada faktor tunggal pupuk diperoleh pada kombinasi pupuk 350 kg/ha Urea + 50 kg/ha Za (10.62 ton/ha). Model jarak tanam jajar legowo secara mandiri menunjukkan hasil 9.66 t/ha lebih tinggi dibandingkan jarak tanam 75 cm x 20 cm. Koefisien korelasi Pearson dengan hasil biji tertinggi diperoleh pada peubah panjang tongkol dan tinggi tanaman (r=0.40).Penggunaan dosis pupuk yang tepat dengan pengaturan jarak tanam legowo merupakan faktor yang diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman dan produktivitas benih jagung hibrida. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji model jarak tanam jajar legowo ((100 cm - 50 cm) x 20 cm) dibandingkan dengan model jarak tanam normal (75 cm x 20 cm) dengan kombinasi berbagai dosis pupuk terhadap tingkat produktivitas benih jagung hibrida Bima 20. Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Balitsereal Maros, pada bulan Mei sampai dengan Agustus 2017. Percobaan dilakukan menggunakan Rancangan petak tersarang (nested randomized block design). Empat perlakuan pemupukan yaitu A : 350 kg/ha Urea + 50 kg/ha KCl; B: 350 kg/ha Urea + 100 kg/ha KCl; C : 350 kg/ha Urea + 50 kg/ha ZA; D ; 350 kg/ha Urea + 100 kg/ha ZA diulang tiga kali pada dua perlakuan jarak tanam yaitu jarak tanam konvensional 70 cm x 20 cm dan jarak tanam jajar legowo (100 cm- 50 cm) x 20 cm. Pengamatan pertumbuhan dan hasil panen dilakukan terhadap tanaman betina. Interaksi antara perlakuan menunjukkan berbeda nyata pada lebar daun. Hasil panen tertinggi pada faktor tunggal pupuk diperoleh pada kombinasi pupuk 350 kg/ha Urea + 50 kg/ha Za (10.62 ton/ha). Model jarak tanam jajar legowo secara mandiri menunjukkan hasil 9.66 t/ha lebih tinggi dibandingkan jarak tanam 75 cm x 20 cm. Koefisien korelasi Pearson dengan hasil biji tertinggi diperoleh pada peubah panjang tongkol dan tinggi tanaman (r=0.40)

    Potensi Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) Alap-Alap Sebagai Teknologi Artificial Intelegence Untuk Pemetaan Lahan Pertanian Produktif

    No full text
    Informasi sumber daya lahan berupa data digital merupakan salah satu data yang menjadi pertimbangan utama pembuat kebijakan dalam menentukan arah pembangunan yang berkelanjutan. Sebagai negara agraris, pelayanan informasi mengenai produktivitas lahan yang cepat dan akurat diperlukan untuk memantau pemanfaatan lahan di Indonesia. Salah satu upaya penyediaan informasi produktivitas lahan adalah melalui implementasi teknologi 4.0 di sektor pertanian. Artificial intelligence (AI) merupakan teknologi utama yang mendukung implementasi teknologi 4.0. Keberadaan AI dinilai sangat potensial dan prospektif untuk memantau lahan pertanian produktif di Indonesia. Pengembangan Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) Alap-Alap yang dilengkapi dengan muatan sensor kamera berpotensi diaplikasikan sebagai teknologi AI untuk pemetaan lahan pertanian produktif. Sensor kamera PUNA Alap-Alap berkemampuan 24 Mega Pixel mampu mendapatkan data kondisi lahan pertanian bahkan kondisi tanaman atau vegetasi yang tumbuh di lahan pertanian. Penggunaan sensor kamera mempunyai kelebihan dibandingkan sensor satelit yaitu tidak terkendala tutupan awan, data yang diperoleh realtime dan mempunyai akurasi yang sangat baik. PUNA Alap-Alap menawarkan solusi alternatif untuk melakukan indraja dalam mendukung kegiatan pertanian. Salah satu kelebihan teknologi ini adalah biaya operasional relatif murah dan pengaturan operasi fleksibel sesuai dengan kebutuhan, sehingga operasional PUNA Alap-Alap untuk menghasilkan gambar orthopoto di lahan pertanian produktif cukup efesien. Data akurasi yang dihasilkan oleh PUNA Alap-Alap yaitu Ground Sampling Distance (GSD) 10 cm/pixel dengan sapuan pengambilan data pemetaan 1700 Ha per jam pada ketinggian terbang 1500 ft. Kelebihan lain adalah PUNA Alap-Alap mampu terbang secara mandiri selama 6 jam tanpa henti, hal ini memungkinkan data pemetaan yang diperoleh mempunyai kualitas dan kuantitas yang baik.Informasi sumber daya lahan berupa data digital merupakan salah satu data yang menjadi pertimbangan utama pembuat kebijakan dalam menentukan arah pembangunan yang berkelanjutan. Sebagai negara agraris, pelayanan informasi mengenai produktivitas lahan yang cepat dan akurat diperlukan untuk memantau pemanfaatan lahan di Indonesia. Salah satu upaya penyediaan informasi produktivitas lahan adalah melalui implementasi teknologi 4.0 di sektor pertanian. Artificial intelligence (AI) merupakan teknologi utama yang mendukung implementasi teknologi 4.0. Keberadaan AI dinilai sangat potensial dan prospektif untuk memantau lahan pertanian produktif di Indonesia. Pengembangan Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) Alap-Alap yang dilengkapi dengan muatan sensor kamera berpotensi diaplikasikan sebagai teknologi AI untuk pemetaan lahan pertanian produktif. Sensor kamera PUNA Alap-Alap berkemampuan 24 Mega Pixel mampu mendapatkan data kondisi lahan pertanian bahkan kondisi tanaman atau vegetasi yang tumbuh di lahan pertanian. Penggunaan sensor kamera mempunyai kelebihan dibandingkan sensor satelit yaitu tidak terkendala tutupan awan, data yang diperoleh realtime dan mempunyai akurasi yang sangat baik. PUNA Alap-Alap menawarkan solusi alternatif untuk melakukan indraja dalam mendukung kegiatan pertanian. Salah satu kelebihan teknologi ini adalah biaya operasional relatif murah dan pengaturan operasi fleksibel sesuai dengan kebutuhan, sehingga operasional PUNA Alap-Alap untuk menghasilkan gambar orthopoto di lahan pertanian produktif cukup efesien. Data akurasi yang dihasilkan oleh PUNA Alap-Alap yaitu Ground Sampling Distance (GSD) 10 cm/pixel dengan sapuan pengambilan data pemetaan 1700 Ha per jam pada ketinggian terbang 1500 ft. Kelebihan lain adalah PUNA Alap-Alap mampu terbang secara mandiri selama 6 jam tanpa henti, hal ini memungkinkan data pemetaan yang diperoleh mempunyai kualitas dan kuantitas yang baik

    Induksi Tunas Tembakau (Nicotiana tabacum L) Varietas Kasturi 2 dengan Variasi Konsentrasi BAP secara In Vitro

    Get PDF
    Tembakau Kasturi 2 merupakan tembakau khas Jember yang memiliki produktifitas relatif tinggi. Perbanyakan secara generatif cenderung menghasilkan bibit yang kurang seragam sehingga dikembangkan dengan teknik kultur jaringan. Dalam kultur jaringan, penambahan zat pengatur tumbuh memberikan pengaruh yang nyata.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan konsentrasi ZPT BAP terhadap induksi tunas tembakau varietas Kasturi 2. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2018 hingga Desember 2018 di Laboratorium Kultur Jaringan Politeknik Negeri Jember. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) Non Faktorial dengan 6 perlakuan yaitu penambahan BAP dengan konsentrasi 0 ppm, 1 ppm, 2 ppm, 3 ppm, 4 ppm, dan 5 ppm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan BAP 2 ppm merupakan konsentrasi terbaik untuk induksi tunas tembakau Kasturi 2 dengan kedinian bertunas 12,17 hari setelah inokulasi, eksplan bertunas 100%, rerata jumlah tunas 47,50 buah per eksplan dan rerata tinggi tunas 1,42 cm.Tembakau Kasturi 2 merupakan tembakau khas Jember yang memiliki produktifitas relatif tinggi. Perbanyakan secara generatif cenderung menghasilkan bibit yang kurang seragam sehingga dikembangkan dengan teknik kultur jaringan. Dalam kultur jaringan, penambahan zat pengatur tumbuh memberikan pengaruh yang nyata.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan konsentrasi ZPT BAP terhadap induksi tunas tembakau varietas Kasturi 2. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2018 hingga Desember 2018 di Laboratorium Kultur Jaringan Politeknik Negeri Jember. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) Non Faktorial dengan 6 perlakuan yaitu penambahan BAP dengan konsentrasi 0 ppm, 1 ppm, 2 ppm, 3 ppm, 4 ppm, dan 5 ppm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan BAP 2 ppm merupakan konsentrasi terbaik untuk induksi tunas tembakau Kasturi 2 dengan kedinian bertunas 12,17 hari setelah inokulasi, eksplan bertunas 100%, rerata jumlah tunas 47,50 buah per eksplan dan rerata tinggi tunas 1,42 cm

    Peningkatan Produksi dan Kualitas Benih Okra (Abelmoschus esculantus L. Moench) Menggunakan Aplikasi Fosfor dan GA3

    No full text
    Tanaman Okra menjadi salah satu komoditas yang masih belum besar di Indonesia, namun memiliki jumlah permintaan yang terus bertambah.  Produksi Okra dalam negeri masih fluktuatif sehingga belum memenuhi kebutuhan nasional. Kurangnya produksi polong okra salah satunya disebabkan oleh ketersediaan benih yang masih terbatas. Upaya meningkatkan produksi dan kualitas benih okra melalui aplikasi pupuk fosfor dan GA3. Pupuk fosfor dapat membantu dalam proses metabolisme pertumbuhan tanaman dan sebagai sumber energi untuk pembelahan dan pembesaran sel dalam pembentukan bunga, buah dan biji. Aplikasi GA3 juga mampu meningkatkan sistem metabolisme dan menghasilkan akumulasi fotosistat sehinggamenghasilkan presentase daya tumbuh benih lebih baik.  Penelitian disusun berdasarkan rancangan acak kelompok dua faktor yaitu faktor pertama dosis pupuk Fosfor yaitu, P1 (75kg/ha SP-36), P2 (100kg/ha SP-36), P3 (125kg/ha SP-36) dan P4 (150kg/ha SP-36). Faktor kedua konsentrasi GA3 yaitu, G0 (tanpa aplikasi GA3), G1 (50 mg/l), G2 (100mg/l), dan G3 (150mg/l). Sehingga terdapat 16 kombinasi perlakuan dengan ulangan 3 kali. Data dianalisis menggunakan uji lanjut jarak berganda duncan (α,5%) dan uji beda nyata terkecil (α,5%). Hasil penelitian aplikasi GA3 50 mg/l dapat meningkatkan berat biji per polong 3,77 gram, berat biji per tanaman 49,2 gram dan produksi benih 1,98 ton/ha. Kualitas benih pada presentase benih bernas dapat meningkat hingga 96% pada aplikasi konsentrasi GA3 100 mg/l. Pemberian fosfor 75kg/ha SP-36 dan konsentrasi GA3 50mg/l memberikan interaksi pada daya berkecambah benih 90% dan karbohidrat benih 42%.Tanaman Okra menjadi salah satu komoditas yang masih belum besar di Indonesia, namun memiliki jumlah permintaan yang terus bertambah.  Produksi Okra dalam negeri masih fluktuatif sehingga belum memenuhi kebutuhan nasional. Kurangnya produksi polong okra salah satunya disebabkan oleh ketersediaan benih yang masih terbatas. Upaya meningkatkan produksi dan kualitas benih okra melalui aplikasi pupuk fosfor dan GA3. Pupuk fosfor dapat membantu dalam proses metabolisme pertumbuhan tanaman dan sebagai sumber energi untuk pembelahan dan pembesaran sel dalam pembentukan bunga, buah dan biji. Aplikasi GA3 juga mampu meningkatkan sistem metabolisme dan menghasilkan akumulasi fotosistat sehinggamenghasilkan presentase daya tumbuh benih lebih baik.  Penelitian disusun berdasarkan rancangan acak kelompok dua faktor yaitu faktor pertama dosis pupuk Fosfor yaitu, P1 (75kg/ha SP-36), P2 (100kg/ha SP-36), P3 (125kg/ha SP-36) dan P4 (150kg/ha SP-36). Faktor kedua konsentrasi GA3 yaitu, G0 (tanpa aplikasi GA3), G1 (50 mg/l), G2 (100mg/l), dan G3 (150mg/l). Sehingga terdapat 16 kombinasi perlakuan dengan ulangan 3 kali. Data dianalisis menggunakan uji lanjut jarak berganda duncan (α,5%) dan uji beda nyata terkecil (α,5%). Hasil penelitian aplikasi GA3 50 mg/l dapat meningkatkan berat biji per polong 3,77 gram, berat biji per tanaman 49,2 gram dan produksi benih 1,98 ton/ha. Kualitas benih pada presentase benih bernas dapat meningkat hingga 96% pada aplikasi konsentrasi GA3 100 mg/l. Pemberian fosfor 75kg/ha SP-36 dan konsentrasi GA3 50mg/l memberikan interaksi pada daya berkecambah benih 90% dan karbohidrat benih 42%

    Perbedaan Pencacahan Daun Cengkeh Varietas Zanzibar (Syzgium aromaticum L.) Terhadap Hasil Minyak Atsiri

    Get PDF
    Limbah daun cengkeh berlimpah dan telah dimanfaatkan menjadi minyak. Minyak daun cengkeh adalah salah satu produk minyak atsiri unggulan di Indonesia dan kebutuhan minyak daun cengkeh terus meningkat setiap tahun. Tetapi seringkali rendemen minyak yang dihasilkan rendah. Perbedaan pencacahan daun cengkeh merupakan alternatif untuk meningkatkan rendemen minyak. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh dari perbedaan pencacahan daun cengkeh terhadap hasil minyak atsiri dan mencari perlakuan terbaik dalam menghasilkan rendemen minyak tertinggi. Penelitian ini dilaksanakan di Unit Pelaksana Teknis Pakan dan Laboratorium Alat dan Mesin Pertanian Politeknik Negeri Jember. Dilaksanakan dengan menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial. Faktor yang digunakan yaitu perbedaan pencacahan dengan 3 taraf perlakuan yang terdiri dari daun utuh (P1), cacahan besar (P2), cacahan kecil (P3) dan 9 ulangan menggunakan penyulingan uap dan air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan perbedaan pencacahan berpengaruh sangat nyata terhadap hasil minyak atsiri pada parameter kuantitatif. Pada parameter kualitatif, perbedaan pencacahan menghasilkan rendemen bahan tertinggi yaitu cacahan kecil, warna minyak yang banyak dihasilkan adalah cokelat kekuningan dan kuning kecokelatan, serta kadar eugenol semua perlakuan sesuai SNI. Eugenol tertinggi adalah perlakuan daun utuh. Perlakuan terbaik untuk menghasilkan rendemen minyak tertinggi adalah perlakuan dengan cacahan kecil.Limbah daun cengkeh berlimpah dan telah dimanfaatkan menjadi minyak. Minyak daun cengkeh adalah salah satu produk minyak atsiri unggulan di Indonesia dan kebutuhan minyak daun cengkeh terus meningkat setiap tahun. Tetapi seringkali rendemen minyak yang dihasilkan rendah. Perbedaan pencacahan daun cengkeh merupakan alternatif untuk meningkatkan rendemen minyak. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh dari perbedaan pencacahan daun cengkeh terhadap hasil minyak atsiri dan mencari perlakuan terbaik dalam menghasilkan rendemen minyak tertinggi. Penelitian ini dilaksanakan di Unit Pelaksana Teknis Pakan dan Laboratorium Alat dan Mesin Pertanian Politeknik Negeri Jember. Dilaksanakan dengan menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial. Faktor yang digunakan yaitu perbedaan pencacahan dengan 3 taraf perlakuan yang terdiri dari daun utuh (P1), cacahan besar (P2), cacahan kecil (P3) dan 9 ulangan menggunakan penyulingan uap dan air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan perbedaan pencacahan berpengaruh sangat nyata terhadap hasil minyak atsiri pada parameter kuantitatif. Pada parameter kualitatif, perbedaan pencacahan menghasilkan rendemen bahan tertinggi yaitu cacahan kecil, warna minyak yang banyak dihasilkan adalah cokelat kekuningan dan kuning kecokelatan, serta kadar eugenol semua perlakuan sesuai SNI. Eugenol tertinggi adalah perlakuan daun utuh. Perlakuan terbaik untuk menghasilkan rendemen minyak tertinggi adalah perlakuan dengan cacahan kecil

    Regenerasi Tunas Suweg (Amorphophallus paeoniifolius (Dennst.) Nicolson) pada Berbagai Konsentrasi BAP dan NAA dengan Kondisi Penyimpanan Terang dan Gelap

    No full text
    Amorphopallus paeoniifolius atau suweg merupakan salah satu jenis dari suku Araceae yang umbinya berpotensi untuk dikembangkan sebagai alternatif pangan karena memiliki kandungan gizi yang baik dan indeks glikemik yang rendah. Namun, perbanyakan suweg terkendala dalam ketersediaan bibitnya sehingga dibutuhkan alternatif perbanyakan, salah satunya dengan teknik kultur jaringan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kombinasi media, jenis eksplan dan kondisi kultur yang optimal untuk perbanyakan suweg secara in vitro. Penelitian dilakukan dengan dua percobaan. Percobaan pertama yaitu regenerasi tunas dari eksplan tangkai daun yang ditanam pada media Murashige dan Skoog (MS) yang ditambahkan dengan BAP (0, 1, 2, dan 4 mg/l) dan NAA (0 dan 0,5 mg/l). Percobaan kedua yaitu regenerasi tunas dari eksplan tangkai daun dan kalus pada kondisi gelap dan terang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media MS dengan penambahan 2 mg/l BAP dan 0,5 mg/l NAA merupakan media yang paling baik bagi eksplan tangkai daun dalam pembentukan kalus, tunas dan akar yang ditandai dengan jumlah masing-masing adalah 75%, 50% dan 56,67%. Selanjutnya, eksplan berupa kalus lebih mudah memberikan respon membentuk tunas dan akar dibandingkan dengan tangkai daun, baik pada kondisi ruang penyimpanan gelap maupun terang.Amorphopallus paeoniifolius atau suweg merupakan salah satu jenis dari suku Araceae yang umbinya berpotensi untuk dikembangkan sebagai alternatif pangan karena memiliki kandungan gizi yang baik dan indeks glikemik yang rendah. Namun, perbanyakan suweg terkendala dalam ketersediaan bibitnya sehingga dibutuhkan alternatif perbanyakan, salah satunya dengan teknik kultur jaringan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kombinasi media, jenis eksplan dan kondisi kultur yang optimal untuk perbanyakan suweg secara in vitro. Penelitian dilakukan dengan dua percobaan. Percobaan pertama yaitu regenerasi tunas dari eksplan tangkai daun yang ditanam pada media Murashige dan Skoog (MS) yang ditambahkan dengan BAP (0, 1, 2, dan 4 mg/l) dan NAA (0 dan 0,5 mg/l). Percobaan kedua yaitu regenerasi tunas dari eksplan tangkai daun dan kalus pada kondisi gelap dan terang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media MS dengan penambahan 2 mg/l BAP dan 0,5 mg/l NAA merupakan media yang paling baik bagi eksplan tangkai daun dalam pembentukan kalus, tunas dan akar yang ditandai dengan jumlah masing-masing adalah 75%, 50% dan 56,67%. Selanjutnya, eksplan berupa kalus lebih mudah memberikan respon membentuk tunas dan akar dibandingkan dengan tangkai daun, baik pada kondisi ruang penyimpanan gelap maupun terang

    Kombinasi Ekstrak Cymbopogon nardus L. dan Nicotiana tabacum Sebagai Insektisida Nabati Helopeltis antonii Sign.

    No full text
    Helopeltis antonii Sign. merupakan salah satu jenis serangga yang kerap menyerang tanaman kakao di Indonesia.  Oleh karena itu perlu dicari alternatif insektisida yang lebih ecofriendly sehingga meminimalisir dampak buruk yang mungkin ditimbulkan akibat penggunaan jangka panjang.  Insektisida nabati menjadi salah satu alternatif yang mungkin dapat digunakan.  Cymbopogon nardus L. memiliki senyawa aktif sitronela sedangkan Nicotiana tabacum memiliki senyawa aktif nikotin yang keduanya berpotensi sebagai insektisida nabati dan bersifat biodegradable.  Penelitian ini terdiri dari 5 perlakuan yaitu kontrol (P0), kombinasi C. nardus dan N. tabacum (80 ml dan 20 ml (P1); 60 ml dan 40 ml (P2); 50 ml dan 50 ml (P3); 40 ml dan 60 ml (P4); serta 20 ml dan 80 ml(P5)).  Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh pemberian ekstrak C. nardus dan N. tabacum terhadap mortalitas H. antonii.P0 tingkat mortalitas 3,33%; P1 sebesar 26,70%; P2 sebesar 26,70%; P3 sebesar 67%, P4 sebesar 80%, dan P5 sebesar 93,30%.  Hasil analisis ragam dengan ANOVA menunjukkan adanya pengaruh perlakuan dan hasil uji lanjut BNT menunjukkan pengaruh perlakuan terbaik adalah pada P5.Oleh karena itu dapat disimpulkan kombinasi ekstrak C. nardus dan N. tabacum efektif sebagai insektisida nabati untuk H. antonii.Helopeltis antonii Sign. merupakan salah satu jenis serangga yang kerap menyerang tanaman kakao di Indonesia.  Oleh karena itu perlu dicari alternatif insektisida yang lebih ecofriendly sehingga meminimalisir dampak buruk yang mungkin ditimbulkan akibat penggunaan jangka panjang.  Insektisida nabati menjadi salah satu alternatif yang mungkin dapat digunakan.  Cymbopogon nardus L. memiliki senyawa aktif sitronela sedangkan Nicotiana tabacum memiliki senyawa aktif nikotin yang keduanya berpotensi sebagai insektisida nabati dan bersifat biodegradable.  Penelitian ini terdiri dari 5 perlakuan yaitu kontrol (P0), kombinasi C. nardus dan N. tabacum (80 ml dan 20 ml (P1); 60 ml dan 40 ml (P2); 50 ml dan 50 ml (P3); 40 ml dan 60 ml (P4); serta 20 ml dan 80 ml(P5)).  Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh pemberian ekstrak C. nardus dan N. tabacum terhadap mortalitas H. antonii.P0 tingkat mortalitas 3,33%; P1 sebesar 26,70%; P2 sebesar 26,70%; P3 sebesar 67%, P4 sebesar 80%, dan P5 sebesar 93,30%.  Hasil analisis ragam dengan ANOVA menunjukkan adanya pengaruh perlakuan dan hasil uji lanjut BNT menunjukkan pengaruh perlakuan terbaik adalah pada P5.Oleh karena itu dapat disimpulkan kombinasi ekstrak C. nardus dan N. tabacum efektif sebagai insektisida nabati untuk H. antonii

    Identifikasi Gen Sub1A Pada Varietas Tebu Tahan Genangan

    Get PDF
    Tebu dapat tumbuh pada berbagai kondisi lingkungan yang cukup beragam termasuk pada lahan marginal seperti lahan yang sering tergenang. Lahan tergenang dapat menurunkan produksi tebu cukup signifikan. Tujuan penelitian ini adalah menemukan gen toleran kebasahan yang terdapat pada 8 varietas unggul komersial tebu  yang tahan genangan yaitu PS 881, PS 862, PS 882, Kentung, PSJT 941, Bulu Lawang, PS 865 dan Kidang Kencana serta mengidentifikasi kemiripannya dengan gen Sub1A. Dengan diperolehnya gen toleran kebasahan pada varietas tebu  tahan genangan di harapkan varietas tebu tersebut dapat ditanam di lahan yang sering tergenang dan dapat memberikan tambahan sumbangan produksi gula secara Nasional. Sehingga pada akhirnya dapat mengurangi impor yang secara kontinu dilakukan pemerintah setiap tahun dan sebagai solusi peningkatan produksi pangan berbasis lahan daratan dalam menghadapi perubahan iklim. Tahapan untuk memperoleh dan mengidentifikasi gen toleran kebasahan atau tahan genangan adalah pengkondisian lahan tanaman tebu tergenang, isolasi DNA dari tanaman tebu yang tergenang, penentuan konsentrasi dan kemurnian DNA yang diperoleh, konfirmasi DNA yang diisolasi dengan elektroforesis dan identifikasi gen Sub 1 A pada DNA sampel metode PCR dengan primer Sub 1 A 203 R/F dan kontrol Positif DNA tanaman padi transgenik yang mengandung gen Sub 1 A. Hasil kegiatan penelitian dapat disimpukan bahwa 8 varietas unggul komersial tebu  yaitu PS 881, PS 862, PS 882, Kentung, PSJT 941, Bulu Lawang, PS 865 dan Kidang Kencana semuanya mempunyai gen yang mirip dengan gen Sub 1 A. Dengan varietas PS 881 dan Kentung menghasilkan band sekuens DNA target gen Sub 1 A paling tebal.Tebu dapat tumbuh pada berbagai kondisi lingkungan yang cukup beragam termasuk pada lahan marginal seperti lahan yang sering tergenang. Lahan tergenang dapat menurunkan produksi tebu cukup signifikan. Tujuan penelitian ini adalah menemukan gen toleran kebasahan yang terdapat pada 8 varietas unggul komersial tebu  yang tahan genangan yaitu PS 881, PS 862, PS 882, Kentung, PSJT 941, Bulu Lawang, PS 865 dan Kidang Kencana serta mengidentifikasi kemiripannya dengan gen Sub1A. Dengan diperolehnya gen toleran kebasahan pada varietas tebu  tahan genangan di harapkan varietas tebu tersebut dapat ditanam di lahan yang sering tergenang dan dapat memberikan tambahan sumbangan produksi gula secara Nasional. Sehingga pada akhirnya dapat mengurangi impor yang secara kontinu dilakukan pemerintah setiap tahun dan sebagai solusi peningkatan produksi pangan berbasis lahan daratan dalam menghadapi perubahan iklim. Tahapan untuk memperoleh dan mengidentifikasi gen toleran kebasahan atau tahan genangan adalah pengkondisian lahan tanaman tebu tergenang, isolasi DNA dari tanaman tebu yang tergenang, penentuan konsentrasi dan kemurnian DNA yang diperoleh, konfirmasi DNA yang diisolasi dengan elektroforesis dan identifikasi gen Sub 1 A pada DNA sampel metode PCR dengan primer Sub 1 A 203 R/F dan kontrol Positif DNA tanaman padi transgenik yang mengandung gen Sub 1 A. Hasil kegiatan penelitian dapat disimpukan bahwa 8 varietas unggul komersial tebu  yaitu PS 881, PS 862, PS 882, Kentung, PSJT 941, Bulu Lawang, PS 865 dan Kidang Kencana semuanya mempunyai gen yang mirip dengan gen Sub 1 A. Dengan varietas PS 881 dan Kentung menghasilkan band sekuens DNA target gen Sub 1 A paling tebal

    Peningkatan Mutu Benih Botani Bawang Merah (Allium cepa var. ascalonicum) Melalui Aplikasi Pupuk Fosfor dan Kalium di Daerah Dataran Rendah

    No full text
    Penggunaan true shallot seed (TSS) sebagai bahan tanam masih rendah karena ketersediaannya sedikit dan teknik budidaya belum dikembangkan. Produksi TSS di dataran rendah menjadi alternatif karena sebagian besar bawang merah di Indonesia diproduksi di dataran rendah. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan mutu TSS di dataran rendah. Penelitian dilakukan di dataran rendah Subang (100 mdpl) dan Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih Institut Pertanian Bogor. Bahan tanaman yang diperlukan adalah umbi bawang merah varietas Bima yang divernalisasi tiga minggu pada suhu 10°C. Rancangan percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dua faktor yang diulang empat kali. Faktor pertama adalah dosis P2O5 (0, 100, 200, 300, 400 kg ha-1) dan faktor kedua adalah dosis K2O5 (0, 50, 100, 150, 200 kg.ha-1). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian P dengan dosis 400 kg ha-1 mampu meningkatkan  daya berkecambah, indeks vigor dan potensi tumbuh maksimum TSS.  Peningkatan pupuk K tidak berpengaruh terhadap semua parameter pembungaan kecuali jumlah bunga per tanaman dan persentase pembentukan kapsul. Pemberian 50 Kg K2O ha-1 mampu meningkatkan jumlah bunga per tanaman hingga 70.9 kuntum, sementara pemberian 200 kg K2O ha-1 mampu meningkatkan  persentase pembentukan kapsul sebesar 54.82%. Kombinasi pemberian dosis 400 kg P2O5 ha-1 dan K 200 Kg ha-1 mampu meningkatkan daya berkecambah sebesar 74.7 % dan indeks vigor dengan nilai maksimum sebesar 92%, sedangkan dosis 200 Kg P2O5 ha-1 mampu meningkatkan potensi tumbuh maksimum TSS sebesar 64%.Penggunaan true shallot seed (TSS) sebagai bahan tanam masih rendah karena ketersediaannya sedikit dan teknik budidaya belum dikembangkan. Produksi TSS di dataran rendah menjadi alternatif karena sebagian besar bawang merah di Indonesia diproduksi di dataran rendah. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan mutu TSS di dataran rendah. Penelitian dilakukan di dataran rendah Subang (100 mdpl) dan Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih Institut Pertanian Bogor. Bahan tanaman yang diperlukan adalah umbi bawang merah varietas Bima yang divernalisasi tiga minggu pada suhu 10°C. Rancangan percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dua faktor yang diulang empat kali. Faktor pertama adalah dosis P2O5 (0, 100, 200, 300, 400 kg ha-1) dan faktor kedua adalah dosis K2O5 (0, 50, 100, 150, 200 kg.ha-1). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian P dengan dosis 400 kg ha-1 mampu meningkatkan  daya berkecambah, indeks vigor dan potensi tumbuh maksimum TSS.  Peningkatan pupuk K tidak berpengaruh terhadap semua parameter pembungaan kecuali jumlah bunga per tanaman dan persentase pembentukan kapsul. Pemberian 50 Kg K2O ha-1 mampu meningkatkan jumlah bunga per tanaman hingga 70.9 kuntum, sementara pemberian 200 kg K2O ha-1 mampu meningkatkan  persentase pembentukan kapsul sebesar 54.82%. Kombinasi pemberian dosis 400 kg P2O5 ha-1 dan K 200 Kg ha-1 mampu meningkatkan daya berkecambah sebesar 74.7 % dan indeks vigor dengan nilai maksimum sebesar 92%, sedangkan dosis 200 Kg P2O5 ha-1 mampu meningkatkan potensi tumbuh maksimum TSS sebesar 64%

    66

    full texts

    164

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇