Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences
Not a member yet
164 research outputs found
Sort by
Ragam Jarak Tanam Untuk Peningkatan Pertumbuhan dan Produksi Jagung Putih Lokal Situbondo
Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan utama di Indonesia, dengan produksi mencapai 15,21 juta ton pada tahun 2024. Salah satu faktor yang memengaruhi keberhasilan budidaya Jagung yaitu intensitas cahaya, yang sangat penting untuk proses fotosintesis. Apabila intensitas cahaya rendah, enzim-enzim fotosintesis yang berperan dalam fiksasi CO2 pada proses fotosintesis akan berkurang sehingga berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi Jagung. Untuk mengatasi masalah tersebut, salah satu teknik yang dapat digunakan adalah dengan pengaturan jarak tanam. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menentukan jarak tanam optimal pada Jagung lokal Situbondo agar dapat mencapai hasil produksi yang optimal. Penelitian dilakukan di lahan percobaan di Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember, dengan menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK). Perlakuan jarak tanam yang diuji meliputi: P1 (20 x 45 cm), P2 (20 x 60 cm), dan P3 (20 x 75 cm). Setiap perlakuan diulang sebanyak empat kali. Data yang diperoleh dari penelitian ini dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA), dan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan antar perlakuan, digunakan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jarak tanam berpengaruh tidak signifikan terhadap pertumbuhan tanaman, namun berpengaruh signifikan terhadap produksi tanaman Jagung. Produksi optimal Jagung dicapai pada perlakuan jarak tanam 20 x 60 cm
Pengaruh Dosis dan Frekuensi Pemberian Urea Enkapsulasi pada Metode Irigasi Tetes terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kailan (Brassica oleracea var. Alboglabra)
Kandungan nitrogen dalam urea mudah menguap dan larut dalam air, oleh karena itu efisiensi pemupukan urea perlu diperbaiki dengan mengubahnya menjadi slow-release fertilizer. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan urea terenkapsulasi, mengetahui tingkat pelarutan urea terenkapsulasi, dan mengetahui interaksi antara dosis dan frekuensi pemberian urea terenkapsulasi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kailan. Penelitian dilakukan di Greenhouse Balai Penyuluh Pertanian Wirolegi, Sumbersari, Jember, dengan koordinat geografis 8°11\u2718,08\u27\u27 LS dan 113°44\u2757,91\u27\u27 BT pada ketinggian 123 MDPL. Percobaan disusun dengan model rancangan acak lengkap faktorial, melalui perbedaan dosis dan frekuensi pemberian urea terenkapsulasi dengan ulangan 3 kali. Data pengamatan dianalisis menggunakan ANOVA dan kemudian diuji lanjut dengan uji DMRT pada taraf kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi dosis dan frekuensi pemberian urea terenkapsulasi menghasilkan pertumbuhan dan hasil tanaman kailan terbaik terhadap jumlah daun, luas daun, bobot segar tanaman, dan kandungan klorofil. Urea terenkapsulasi dapat dibuat dari penyalut zeolit alam, alginat, dan tepung sagu. Tingkat pelarutan urea terenkapsulasi terbaik diperoleh melalui penimbunan dengan tanah lembab. Jumlah urea terenkapsulasi yang dibutuhkan adalah 240 kg/ha untuk meningkatkan bobot segar tanaman, sedangkan 480 kg/ha diperlukan untuk meningkatkan kandungan klorofil. Urea terenkapsulasi terbukti meningkatkan hasil dan kualitas tanaman dengan mengatur dosis dan frekuensi pemberian
Pemanfaatan Biochar dan Fungi Mikoriza Arbuskular (FMA) pada Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Jagung Manis di Bahan Tanah Ultisol
Jagung manis (Zea mays saccharata Sturt.) merupakan salah satu komoditas pertanian yang populer di Indonesia. Tetapi, produksi jagung manis di Riau masih tergolong rendah, oleh sebab itu perlu adanya usaha ekstensifikasi pertanian dalam bentuk pengelolaan lahan marginal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian biochar dan Fungi Mikoriza Arbuskular (FMA) serta pengaruh utama kedua faktor tersebut terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis, dan mendapatkan perlakuan yang terbaik untuk pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis. Penelitan ini merupakan eksperimen faktorial 3×3 yang disusun menurut rancangan acak lengkap (RAL). Faktor I merupakan jenis biochar: B0 (tanpa biochar), B1 (biochar tempurung kelapa), dan B2 (biochar sekam padi). Faktor II merupakan dosis FMA: M0 (tanpa FMA), M1 (15 g per tanaman), dan M2 (30 g per tanaman). Data hasil analisis ragam diuji lanjut dengan uji DNMRT pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian biochar tidak dapat meningkatkan pertumbuhan jagung manis, seperti tinggi tanaman, jumlah daun, dan diameter batang. Namun, mampu meningkatkan hasil tanaman jagung manis, kecuali pada parameter jumlah baris biji per tongkol. Hasil terbaik yaitu pada perlakuan biochar tempurung kelapa. Pemberian FMA mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis pada setiap parameter pengamatan, kecuali jumlah baris biji per tongkol. Hasil terbaik yaitu pada perlakuan dosis FMA 30 g per tanaman. Pemberian biochar dan FMA belum menunjukkan adanya interaksi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis di tanah ultisol
Respon Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Bawang Daun terhadap Tingkat Ketebalan Mulsa Organik Jerami Padi
Bawang daun merupakan salah satu jenis komoditas hortikultura yang potensial dan memegang peran strategis dalam pembangunan sektor pertanian. Produksi bawang daun di Indonesia tidak stabil di beberapa tahun terakhir. Ketidakstabilan ini berpengaruh pada ketersediaan bawang daun segar sesuai dengan permintaan masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ketebalan mulsa organik jerami padi terhadap pertumbuhan dan produksi bawang daun. Penelitian ini telah dilaksanakan di Kelompok Tani Spirit Soverdia (KWT) La’o, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai pada bulan Desember 2024-April 2025. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan empat taraf perlakuan dan diulang sebanyak enam kali, sehingga terdapat 24 satuan percobaan. Perlakuan yang digunakan adalah P0 = tanpa mulsa jerami padi; P1 = ketebalan mulsa jerami padi 1 cm; P2 = ketebalan mulsa jerami padi 3 cm; P3 = ketebalan mulsa jerami padi 4,5 cm. Perlakuan ketebalan mulsa jerami padi tidak berbeda nyata pada parameter tinggi tanaman, jumlah daun, panjang daun, panjang akar, dan berat segar. Perlakuan tingkat ketebalan mulsa 3 cm berbeda nyata pada parameter jumlah anakan umur 6 minggu setelah tanam (MST). Rata-rata parameter pengamatan dengan perlakuan tingkat ketebalan mulsa tidak berbeda nyata, namun memberikan dampak positif pada jumlah anakan tanaman bawang daun. Perlakuan terbaik pada penelitian ini terdapat pada tingkat ketebalan mulsa jerami padi 3 cm
Evaluation of the Insecticidal Activity of Essential Oil Extracted by SteamDistillation from Fresh Leaves of Melaleuca leucadendronon Sitophiluszeamais, a Pest of Maize Stocks
Post-harvest losses due to insect pests represent a major challenge for cereal conservation in sub-Saharan Africa, particularly for maize storage. Conventional chemical insecticides, although effective, present risks of toxicity, environmental pollution, and the development of insect resistance. As a result, research has increasingly focused on natural, sustainable alternatives derived from aromatic plants. This study evaluates the insecticidal activity of essential oil extracted by steam distillation from fresh Melaleuca leucadendron leaves against Sitophilus zeamais, the main pest affecting maize stocks in Senegal. The extractions yielded an average of 0.75%, and GC-MS analysis revealed a composition dominated by sesquiterpenes, mainly γ-gurjunene (35.47%), nerolidol (17.47%), and farnesol (15.51%), indicating a high content of bioactive compounds. Maize grains were treated with different doses of oil (25 to 100 μL) and exposed to insects for 36 days, with adult mortality and the emergence of new generations being monitored and analyzed by ANOVA. The results show that mortality is highly dose-and time-dependent, with high doses causing total mortality on the first day, while lower doses induce a slower but longer-lasting residual effect. The emergence of new generations is significantly reduced, especially at high concentrations, and the efficacy is attributed mainly to sesquiterpenes, possibly enhanced by the synergistic effect of minor compounds. These observations suggest that M. leucadendron essential oil is a promising natural alternative to chemical insecticides for maize preservation, although further research is needed to optimize its formulation and stability and to assess its impact on grain quality
Aplikasi Pupuk Organik Limbah Cair Tahu dan Daun Gamal Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Seledri
Limbah cair tahu yang ditambahkan dengan daun gamal dapat dijadikan pupuk organik cair (POC) yang jika diberikan pada konsentrasi tepat dapat mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman seledri. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengkaji pengaruh konsentrasi POC dari limbah cair tahu yang ditambahkan dengan daun gamal terhadap pertumbuhan dan hasil seledri. Penelitian ini dilakukan di screen house Laboratorium Hortikultura, Politani Negeri Kupang, dari bulan Desember 2023-Februari 2024. Metode penelitian menggunakan Rancangan acak kelompok dengan enam perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan terdiri atas: konsentrasi POC 0 ml/l (tanpa POC) 20, 40, 60, 80, dan 100 ml/l. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan sidik ragam dan jika terdapat pengaruh nyata perlakuan dilanjutkan dengan uji beda nyata jujur 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian POC limbah cair tahu yang ditambahkan daun gamal 100 ml/l sebagai konsentrasi terbaik memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman selada umur 6 MST yaitu 19,38 cm; jumlah daun terbanyak 14,92 helai; dengan 2,67 anakan per rumpun; berat segar per rumpun 59,38 g; berat segar per tanaman 23,14 g; serta berat kering per tanaman 3,05 g
Keanekaragaman Serangga Pengunjung pada Tanaman Cabai Keriting (Capsicum annum L.) Sistem Mulsa dan Tanpa Mulsa di Desa Sidamukti, Kecamatan Baros, Kabupaten Serang
Serangga termasuk bagian dari keanekaragaman hayati yang memiliki peranan penting dalam bidang pertanian sebagai predator, parasitoid, pengurai, penyerbuk, hama, dan vektor penyakit. Jenis dan populasi serangga memiliki pengaruh penting terhadap keberhasilan budidaya dan kestabilan agroekosistem cabai keriting. Penelitian termasuk penelitian deskriptif kuantitatif yang dilaksanakan pada September 2024 hingga Oktober 2024 dan bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman serangga pengunjung pada tanaman cabai keriting (Capsicum annum L.) sistem mulsa dan tanpa mulsa di Desa Sidamukti Kecamatan Baros Kabupaten Serang. Penentuan lokasi pengambilan sampel berdasarkan purposive sampling dengan metode pengambilan sampel menggunakan pitfall trap, yellow sticky trap, dan sweep net. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diperoleh 507 individu dari 7 ordo, 29 famili, dan 36 spesies. Indeks keanekaragaman pada tanaman cabai keriting sistem mulsa sebesar 3,139 dengan kategori tinggi dan tanpa mulsa sebesar 2,526 dengan kategori sedang. Indeks kemerataan pada tanaman cabai keriting sistem mulsa sebesar 0,890 dan tanpa mulsa sebesar 0,843 keduanya termasuk kategori tinggi. Indeks dominansi pada tanaman cabai keriting sistem mulsa sebesar 0,061 dan tanpa mulsa sebesar 0,108 keduanya termasuk kategori rendah. Keanekaragaman serangga pengunjung menunjukkan tidak berbeda nyata antara tanaman cabai keriting sistem mulsa dengan tanaman cabai keriting tanpa mulsa
Respon Pertumbuhan Tanaman Jagung Terhadap Aplikasi Pupuk Organik Cair dari Limbah Pertanian
Rendahnya produktivitas tanaman jagung disebabkan oleh degradasi kesuburan tanah akibat penggunaan pupuk kimia berlebihan dan pengelolaan limbah pertanian yang kurang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh aplikasi pupuk organik cair dari limbah pertanian terhadap pertumbuhan jagung. Penelitian dilaksanakan dari November 2023 hingga Januari 2024, dengan menggunakan varietas Bisi 79. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, bobot segar tanaman, dan bobot kering tanaman. Rancangan lingkungan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 3 perlakuan yaitu M0 perlakuan tanpa penambahan mikroba, M1 perlakuan dengan penambahan 1 liter mikroba, dan M2 perlakuan dengan penambahan 2 liter, dengan ulangan sebanyak 5 ulangan. Data hasil pengamatan selanjutnya diuji ANOVA dan Uji Beda Nyata Terkecil pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan pada masing-masing parameter yang diamati. Hasil tinggi tanaman rata-rata pada perlakuan M0 dosis tanpa tambahan mikroba 167,80 cm, M1 dosis tambahan mikroba 1 liter 180,76 cm, dan M2 dosis penambahan mikroba 2 liter 182,96 cm, jumlah daun rata-rata pada M0 perlakuan dosis tanpa tambahan mikroba dengan rata-rata 12,65 helai, M1 dosis tambahan mikroba 1 liter 13,12 helai, dan M2 dosis penambahan mikroba 2 liter 12,60 helai, dengan bobot segar tanaman rata-rata yaitu pada perlakuan M1 dosis tanpa tambahan mikroba dengan rata-rata 449 g, M1 dosis tambahan mikroba 1 liter 533 g, dan M2 dosis penambahan mikroba 2 liter 329,1 g, dan bobot kering tanaman rata-rata yaitu pada perlakuan M0 dosis tanpa tambahan mikroba dengan rata-rata 119,2 g, M1 dosis tambahan mikroba 1 liter 163,3 g, dan M2 dosis penambahan mikroba 2 liter 112,1 g
Studi Pengaplikasian Pupuk Kasgot BSF pada Tanaman Pakcoy pada Media Tanah Berpasir
Produksi pakcoy di Indonesia, khusunya di Jawa Timur mengalami fluktuasi dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini mengindikasikan adanya tantangan dalam stabilitas produksi pakcoy yang perlu segera diatasi guna memenuhi kebutuhan pasar yang terus meningkat. Upaya dalam mengatasinya dengan memperbaiki karakteristik tanah melalui penambahan bahan organik.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh macam pupuk kasgot BSF dari bahan baku berbedapada lahan berpasir terhadap pertumbuhan dan hasil panen tanaman pakcoy. Penelitian ini dilaksanakan di Greenhouse dan Laboratorium Tanah dan Sumberdaya Lahan Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura pada bulan September 2024 -Februari 2025. Metode penelitian menggunakan rancangan acak lengkap non faktorial yang terdiri atas 5 perlakuan dengan pengulangan 4 kali. P0 = tanpa perlakuan pupuk kasgot (0 g/polybag); P1 = pupuk kasgot nasi basi (125 g/polybag); P2 = pupuk kasgot sampah buah (125 g/polybag); P3 = pupuk kasgot ampas tahu (125 g/polybag); P4 = pupuk kasgot campuran (nasi basi, sampah buah, dan ampas tahu) (125 g/ polybag). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk kasgot berpengaruh nyata terhadap berat basah pakcoy sebesar 56,94 g dibandingkan dengan kontrol dan berat kering pakcoy sebesar 3,94 g dibandingkan dengan kontrol
Peran Biochar dan Biofertilizer untuk Meningkatkan Kemampuan Tanah Menahan Air dan Ketersediaan Forfor pada Tanah Ultisol
Tanah ultisol merupakan tanah suboptimal dengan drainase buruk yang memiliki kemampuan menahan air dan ketersediaan fosfor yang rendah. Tanah ultisol mendominasi 25% dari total luas daratan Indonesia, sehingga perlu adanya solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Pemberian biochar diharapkan mampu mengatasi permasalahan kemampuan menahan air, sedangkan biofertilizer pelarut fosfat mampu meningkatkan ketersediaan P di tanah ultisol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi pemberian biochar dan biofertilizer pelarut fosfat terhadap peningkatan kemampuan tanah menahan air dan ketersediaan P pada tanah ultisol. Penelitan ini merupakan eksperimen faktorial 4×3 yang disusun menurut rancangan acak lengkap. Faktor I merupakan jenis biochar: C0 (tanpa biochar), C1 (biochar sekam padi), C2 (biochar tempurung kelapa), dan C3 (biochar cangkang kelapa sawit). Faktor II, yaitu jenis biofertilizer yang terdiri dari tiga taraf: F0 (tanpa biofertilizer), F1 (biofertilizer dari B. subtilis), dan F2 (biofertilizer dari P. fluorescens). Data hasil analisis ragam diuji lanjut dengan uji DMRT pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian biochar dan biofertilizer pelarut fosfat mampu meningkatkan kemampuan tanah menahan air, P-tersedia, dan C-organik tanah, serta mampu meningkatkan performa keragaan tanaman kedelai. Biochar dari sekam padi dan biofertilizer dari B. subtilis lebih efektif untuk memperbaiki sifat tanah dan keragaan tanaman dibandingkan dengan perlakuan lainnya