Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences
Not a member yet
164 research outputs found
Sort by
Respon Pertumbuhan dan Hasil Selada (Lactuca sativa) terhadap Aplikasi Pupuk Hayati Bio-P60 dan Bio-T10
Hidroponik menjadi teknik budidaya yang banyak digunakan dalam praktik pertanian perkotaan karena mudah penerapannya dan cocok untuk wilayah minim lahan. Pemilihan sistem hidroponik penting dipertimbangkan menyesuaikan karakteristik sumber daya. Namun dalam budidaya hidroponik terkadang ditemui kendala karena kurang nutrisi maupun adanya serangan penyakit busuk akar. Pupuk hayati menjadi salah satu solusi mengatasi hal terebut dengan memanfaatkan mikroorganisme yang dapat bersimbiosis dengan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kombinasi perlakuan sistem hidroponik dan jenis pupuk hayati yang menghasilkan selada terbaik. Penelitian dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial yang terdiri dari dua faktor yaitu sistem hidroponik (Wick dan NFT) dan pupuk hayati (tanpa pupuk hayati, Bio-P60 dan Bio-T10) sehingga didapatkan 6 kombinasi perlakuan. Data dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (α=5%) dan jika beda nyata data dianalisis lanjut menggunakan uji beda nyata jujur (α=5%). Hasil menunjukkan bahwa sistem hidroponik tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, dan bobot ekonomis selada. Namun, pupuk hayati Bio-T10 menghasilkan luas daun tertinggi. Aplikasi Bio-T10 dan Bio-P60 meningkatkan bobot biologis dan bobot ekonomis selada dibandingkan tanpa perlakuan pupuk hayati. Hasil terbaik yang disarankan untuk praktik pertanian perkotaan adalah penggunaan sistem Wick sederhana yang dikombinasikan dengan aplikasi Bio-T10
Respons Fisiologis dan Anatomi Padi Aromatik (Oryza sativa L.) terhadap Cekaman Kekeringan melalui Analisis Klorofil, Prolin, dan Kerapatan Stomata
Padi aromatik varietas Sintanur memiliki nilai jual tinggi karena aroma khas dan kualitas beras premium, namun rentan terhadap cekaman kekeringan akibat perubahan iklim. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh cekaman kekeringan terhadap kandungan klorofil, prolin, dan kerapatan stomata sebagai indikator fisiologis toleransi kekeringan pada padi aromatik Sintanur. Penelitian dilakukan di Greenhouse Program Studi Agronomi dan Laboratorium CDAST Universitas Jember dengan rancangan acak lengkap non-faktorial, lima taraf perlakuan kapasitas lapang (kontrol, 100%, 80%, 60%, 40%), enam ulangan. Parameter yang diamati meliputi kandungan klorofil menggunakan SPAD-10, prolin dengan metode Bates (1973), dan kerapatan stomata melalui cetakan cat kuku. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan dilanjutkan uji DMRT 5%. Hasil penelitian menunjukkan kandungan klorofil menurun signifikan seiring meningkatnya cekaman kekeringan, terutama pada taraf 80%, 60%, dan 40% kapasitas lapang. Sebaliknya, kandungan prolin meningkat, berperan sebagai osmoprotektan dan penetral radikal bebas, menjaga turgor sel di bawah kondisi stres. Kerapatan stomata juga menurun pada cekaman berat sebagai mekanisme adaptasi untuk mengurangi kehilangan air, meskipun varietas Sintanur menunjukkan kerapatan stabil pada kapasitas lapang 100%. Ketiga parameter ini menjadi indikator penting dalam seleksi varietas padi aromatik toleran kekeringan. Sintanur menunjukkan respons adaptif pada cekaman sedang, namun performanya menurun drastis pada kekeringan berat, sehingga diperlukan program pemuliaan lanjutan
Uji Sinkronisasi (Nicking Period) Waktu Penyerbukan Bunga Jantan dan Betina pada Galur Jagung Manis MS UNSIKA terhadap Hasil dan Komponen Hasil
Jagung manis merupakan tanaman pangan yang memiliki peran strategis dan bernilai ekonomis. Produksi jagung yang masih kurang disebabkan belum adanya varietas jagung yang memiliki daya hasil tinggi dan tahan terhadap hama dan penyakit. Upaya yang dilakukan dengan pemulian tanaman jagung untuk mendapatkan varietas unggul, dengan cara penyerbukan yang tepat waktu antara serbuk sari dan rambut tongkol. Penggunaan galur tanaman jagung manis MS-UNSIKA generasi 8 untuk menguji daya hasil yang bertujuan untuk mendapatkan galur jagung manis MS-UNSIKA generasi 8 yang memiliki daya hasil paling tinggi. Penelitian dilakukan di lahan percobaan Desa Kalihurip, Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karawang pada bulan maret sampai bulan juni 2024. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak kelompok (RAK) faktor tunggal dengan enam perlakuan dan empat ulangan, sehingga didapatkan 24 unit percobaan, terdiri dari: MS (MS UNSIKA), SR1 (SR Latanza), SR3 (SR Sweet Boy), M6 (SR Latanza iradiasi sinar Gamma dosis 200 gy), M9 (SR Bonanza iradiasi sinar Gamma dosis 200 gy), M10 (SR Jambore iradiasi sinar Gamma dosis 200 gy). Hasil percobaan di uji menggunakan uji F, terdapat data yang signifikan dianalisis dengan uji lanjut Duncan Multiple Range Test (DRMT) pada taraf 5% untuk mengetahui perlakuan mana yang paling baik. Hasil penelitian menunjukan terdapat pengaruh nyata terhadap jumlah daun 42 HST, umur berbunga jantan dan betina, ASI (Anthesis Silking Interval), tinggi letak tongkol. Pada perlakuan M9 (SR Bonanza) memberikan hasil rata-rata umur berbunga jantan tercepat sebesar 50,29 HST dan hasil rata-rata umur berbunga betina tercepat sebesar 46,87 HST
Teknologi Perbanyakan Beberapa Isolat Cendawan Antagonis Trichoderma spp. Melalui Pengembangan Metode Inokulasi dan Pemanfaatan Limbah Jagung
Trichoderma spp. adalah mikroba tanah yang memiliki kemampuan antagonis yang tinggi terhadap patogen tanaman. Karakteristik spesifik isolat Trichoderma sangat bergantung pada jenis inang dan lokasi asal isolat sehingga memerlukan metode perbanyakan massal yang efektif untuk menjaga ketersediaan inokulum di lapang. Tongkol jagung dapat dimanfaatkan sebagai media tanam Trichoderma spp. karena mengandung kandungan nutrisi yang cukup untuk mendukung pertumbuhannya serta dapat mengurangi limbah pasca panen jagung. Penelitian bertujuan untuk a) menganalisis pengaruh asal isolat Trichoderma spp. terhadap pertumbuhan dan produksi konidia, b) menganalisis metode inokulasi terhadap pertumbuhan dan produksi konidia Trichoderma spp., c) menganalisis interaksi antara asal isolat Trichoderma spp. dan metode inokulasi terhadap potensi pertumbuhan dan produksi konidia yang paling optimal. Kegiatan dilakukan pada bulan Juni – November 2024 dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial yang terdiri atas 2 faktor. Faktor pertama adalah asal isolat Trichoderma spp. dan faktor kedua adalah metode inokulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Asal isolat Trichoderma spp. yang diperbanyak secara massal berpengaruh terhadap produksi konidia dengan kerapatan konidia tertinggi terdapat pada isolat yang diisolasi dari tanah kebun kopi Laboratorium Puslit Kopi dan Kakao Jember dengan nilai rata-rata 1.74 x 109 konidia/ml pada 14 hsi; 2) Metode inokulasi Trichoderma spp. yang diperbanyak secara massal berpengaruh terhadap produksi konidia dengan kerapatan konidia tertinggi terdapat pada metode tusuk dengan 1.28 x 109 konidia/ml pada 14 hsi; 3) Interaksi antara asal isolat Trichoderma spp. dengan metode inokulasi yang diperbanyak secara massal berpengaruh terhadap pertumbuhan yang mencapai kisaran pertumbuhan koloni 69% - 99% pada 42 hsi
Aplikasi Jenis ZPT dan Pupuk NPK terhadap Pertumbuhan Setek 1 Ruas Lada (Piper ningrum L.) Varietas Nyelungkup
Rendahnya produksi tanaman lada putih di Bangka Belitung disebabkan oleh degradasi lahan akibat aktivitas penambangan timah. Perbanyakan lada melalui setek merupakan solusi untuk mengatasi ketersediaan bibit secara cepat mendukung peningkatan produksi tanaman lada. Keberhasilan setek ditentukan oleh kemampuan pembentukan akar dan tunas yang dapat dioptimalkan melalui aplikasi zat pengatur tumbuh (ZPT) dan pemupukan NPK yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi jenis zat pengatur tumbuh (ZPT) dan dosis pupuk NPK terhadap pertumbuhan bibit lada (Piper nigrum L.) varietas Nyelungkup. Penelitian dilaksanakan di Penangkaran Bibit Desa Pusuk, Kecamatan Kelapa, Kabupaten Bangka Barat. Rancangan lingkungan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF). Faktor pertama adalah jenis ZPT yaitu ZPT alami (air kelapa 25%) dan ZPT sintetik (Rootone F 0.5 g). Faktor kedua adalah dosis pupuk NPK mulai dari 0, 5, 10 hingga 20 g/polybag. Data hasil pengamatan di uji Anova dan uji rerata DMRT pada taraf 95%. Hasil menunjukkan bahwa jenis ZPT berpengaruh terhadap pertumbuhan bibit lada. ZPT sintetik memberikan hasil terbaik pada diameter batang, sedangkan ZPT alami optimal untuk luas daun. Pupuk NPK dengan dosis 20 g/polybag memberikan hasil terbaik pada seluruh parameter pertumbuhan yaitu waktu muncul tunas, panjang tunas, jumlah daun, diameter tunas, luas daun, dan panjang akar. Kombinasi ZPT sintetik dengan pupuk NPK 20 g/polybag menghasilkan interaksi terbaik untuk waktu muncul tunas, panjang tunas, dan diameter tunas
Pengaruh Penambahan Berbagai Jenis Pupuk Kandang Terhadap Kemunculan Gulma
Penggunaan pupuk anorganik memiliki berbagai dampak negatif bagi lingkungan dan petani. Pupuk kandang menjadi alternatif dalam pemupukan. Namun, pupuk kandang diduga menjadi sumber kontaminasi benih gulma di lahan. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh penambahan pupuk kandang terhadap munculnya gulma. Penelitian telah dilakukan di Rembangan Jember dengan menggunakan empat plot percobaan yaitu tanpa pupuk, penambahan pupuk kotoran ayam, penambahan pupuk kotoran sapi, penambahan pupuk kotoran domba. Peta dibuat bedengan dengan ukuran 1×1 meter dan memungkinkan gulma tumbuh selama 1 bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk kotoran sapi memiliki lebih banyak jenis gulma dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Penambahan pupuk kotoran domba dan sapi memiliki kandungan hara yang lebih tinggi dibandingkan pupuk kotoran ayam dan tanpa pupuk. Hasil penelitian menunjukkan penambahan nutrisi yang lebih tinggi dari pupuk kotoran sapi dan domba memiliki lebih banyak kemunculan jenis gulma
Inovasi Pupuk Organik Cair Berbahan Whey Tahu dan Limbah Rumah Tangga serta Uji Aplikatif pada Perkecambahan Kacang Hijau
Pupuk organik cair (POC) merupakan alternatif ramah lingkungan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia yang berdampak negatif pada ekosistem dan keberlanjutan pertanian. Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan menguji efektivitas POC berbahan dasar limbah rumah tangga berupa whey tahu, kulit pisang, blotong, dan kulit telur. Metode yang digunakan adalah fermentasi dua tahap, yaitu fermentasi terpisah masing-masing bahan selama tujuh hari, kemudian pencampuran seluruh bahan dengan penambahan molase dan EM4, dilanjutkan fermentasi lanjutan selama 21 hari dalam kondisi anaerob. Parameter pengamatan meliputi karakteristik fisik larutan seperti warna, aroma, kejernihan, pH, dan endapan. Uji aplikatif dilakukan pada benih kacang hijau untuk mengukur efektivitas POC terhadap panjang rata-rata kecambah. Hasil menunjukkan bahwa POC yang dihasilkan memiliki warna cokelat pekat, aroma asam ringan, pH netral hingga sedikit asam, serta stabil secara visual dan sensorik. Uji efektivitas menunjukkan bahwa rata-rata panjang kecambah pada perlakuan POC adalah 7,84 cm, sedangkan kontrol hanya 6,10 cm. Selisih panjang kecambah (1,74 cm) melebihi nilai BNT 5% (0,93 cm), yang menunjukkan adanya perbedaan nyata antarperlakuan. Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa formulasi POC dari limbah organik rumah tangga melalui fermentasi dua tahap mampu menghasilkan pupuk cair yang efektif mendukung pertumbuhan awal tanaman dan memiliki potensi besar sebagai solusi pemupukan berkelanjutan
Pengaruh Bunga Baby Blue (Nemophila menziesii) sebagai Tanaman Refugia terhadap Keanekaragaman Artropoda pada Lahan Cabai Rawit Monokultur dan Polikultur
Tanaman cabai rawit merupakan salah satu komoditas yang banyak dibudidayakan masyarakat. Salah satu penyebab rendahnya produksi tanaman cabai rawit di Indonesia adanya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) terutama hama. Pengendalian hama yang dilakukan petani masih kurang tepat seperti penggunaan insektisida sintetik yang sehingga diperlukan pengendalian yang dapat mengurangi residu bahan kimia dan ramah lingkungan seperti penerapan pola tanam yang tepat dan penggunaan tanaman refugia. Penerapan pola tanam diduga berpengaruh pada keanekaragaman hama dan penggunaan tanaman refugia bunga baby blue (Nemophila menziesii) dapat menarik artropoda hama, musuh alami, dan pollinator (serangga lain). Tujuan penelitian ini mengetahui pengaruh bunga baby blue terhadap keanekaragaman artropoda dengan berbagai peran (hama, musuh alami, dan serangga lain) pada lahan cabai rawit dengan pola tanam monokultur dan polikultur. Adapun metode penelitian yang dilakukan adalah observasi lapang dan pengumpulan data. Hasil penelitian menyatakan bahwa bunga baby blue tidak mempengaruhi keanekaragaman artropoda yang ada pada lahan cabai rawit monokultur dan polikultur, namun bunga baby blue mempengaruhi kelimpahan artropoda. Hal tersebut disebabkan persamaan jenis tanaman utama yang digunakan, kemudian untuk kelimpahannya dipengaruhi oleh banyaknya jenis dan jumlah tanaman dari masing-masing lahan. Adapun artropoda yang ditemukan pada bunga baby blue berjumlah 14 jenis dengan peran hama, 13 jenis dengan peran musuh alami, 2 jenis dengan peran pollinator, dan 2 jenis dengan peran serangga lain. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bunga baby blue tidak mempengaruhi keanekaragaman, namun lebih berpengaruh pada kelimpahan artropoda
Pengaruh Komposisi Media Tanam dan Interval Pemberian Air dengan Irigasi Tetes Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Stevia (Stevia rebaudiana B.)
Komposisi media tanam dan interval pemberian air adalah dua faktor penting dalam budidaya stevia(Stevia rebaudiana B.) dalam polybag dengan irigasi tetes. Percobaan dilakukan untuk mengkaji pengaruh komposisi media tanam dan interval pemberian air dengan irigaasi tetes terhadap pertumbuhan dan hasil stevia. Rancangan percobaan menggunakan rancangan petak terbagi dengan tiga ulangan di Desa Tawangargo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Indonesia, pada tahun 2021 . Faktor pertama adalah komposisi media tanam sebagai anak petak yang terdiri dari 4 taraf yaitu M0(100% Tanah), M1(90% Tanah + 10% Kompos), M2(90% Tanah + 10% Cocopeat), dan M3(90% Tanah + 5% Kompos + 5% Cocopeat). Faktor kedua sebebagai petak utama adalah Interval Pemberian Air dengan irigasi tetes yang terdiri dari 3 taraf yaitu A1(1 hari sekali), A2(2 hari sekali), A3(3 hari sekali). Pertumbuhan dan hasil stevia dinilai berdasarkan tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, jumlah cabang, berat segar daun, berat segar total, dan berat kering daun tanaman. hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat interaksi antara kedua faktor. Komposisi media tanam M3(90% Tanah + 5% Kompos + 5% Cocopeat) memberikan hasil terbaik pada seluruh variabel pengamatan. Interval pemberian air A3(3 hari sekali) memberikan hasil terbaik pada tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah cabang, berat segar daun, berat segar total, dan berat kering daun
Efektivitas Ekstrak Etanol dan Ekstrak Infusa Tanaman Ubi Kayu sebagai Kandidat Bioherbisida untuk Menekan Pertumbuhan Gulma Jukut Pendul
Jukut pendul merupakan gulma yang sulit diberantas dan menurunkan produktivitas tanaman padi hingga 50%. Herbisida sintetis mampu menekan pertumbuhan gulma, namun penggunaan intensif dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas ekstrak infusa dan ekstrak etanol dari ubi kayu varietas karet dalam menghambat gulma jukut pendul. Penelitian ini dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 7 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini terdiri dari penyemprotan menggunakan ekstrak infusa dan ekstrak etanol masing-masing daun ubi, umbi, dan kulit umbi ubi kayu varietas karet serta kontrol sebagai pembanding. Data dianalisis menggunakan uji sidik ragam yang dilanjutkan dengan uji DMRT jika berbeda signifikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan dalam pengaruh antara ekstrak infusa dan ekstrak etanol dari bagian daun, umbi, dan kulit umbi tanaman ubi kayu varietas karet terhadap pertumbuhan gulma jukut pendul. Bagian kulit umbi ubi kayu varietas karet memiliki efek bioherbisida yang signifikan dalam menghambat pertumbuhan gulma jukut pendul berdasarkan pertambahan tinggi tajuk hari ketujuh dan persentase kesehatan tanaman. Analisis uji DMRT membuktikan bahwa metode ekstrak etanol lebih efektif menekan pertambahan tinggi tajuk pada hari ketujuh dan menurunkan persentase kesehatannya. Ekstrak etanol kulit umbi ubi kayu varietas karet dapat dijadikan kandidat bioherbisida yang terbaik karena mampu menekan pertumbuhan gulma jukut pendul dengan cara menurunkan persentase kesehatan hingga 41,67% dan menekan pertambahan tinggi tajuk hingga 1,94 cm pada hari ketujuh. Simpulan dari penelitian adalah bagian kulit umbi ubi kayu varietas karet yang diekstrak dengan metode ekstrak etanol terbukti efektif menekan pertumbuhan gulma jukut pendul