Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences
Not a member yet
164 research outputs found
Sort by
Temperature, Relative Humidity and Photosynthetic Photon Flux Density Affects the Growth of Phyllanthus niruri L. Seedling
In order to obtain high-quality seedlings, the effects of temperature, relative humidity, and photosynthetic photon flux density (PPFD), the seed of Phyllanthus niruri L. (meniran) were investigated in different microclimate (temperature, relative humidity, PPFD) environments. The present study was conducted from February to May 2024 at the experimental greenhouse and screen house of the National Research and Innovation Agency, Banten, Indonesia. Microclimate parameters were observed thrice daily at 8 am, 12 pm, and 3 pm during the research. The two environments significantly differ in microclimate. The average temperatures, relative humidity, and PPFD of environment 1 are 35.30±5.04 oC, 60.95±17.40%, and 483.33±406.00 µmol m-2 S-1, while environment 2 are 33.07±4.84 oC, 70.47±16.63% and 356.4±339.55 µmol m-2 S-1. All treatments were repeated 18 times. After the 21-day treatment during the seedling stage, P. niruri seedlings were observed, including the germination rate, number of leaves, shoot length, and chlorophyll content index. Results showed that the germination rate, leaves, shoot length, and chlorophyll content index significantly differ between P. niruri seedlings in both environments. Phyllanthus niruri that grow in environment 1 have a higher germination rate than in environment 2, likewise, the number of leaves, shoot length, and chlorophyll content index. This initial research showed that P. niruri seedling grows better in an environment with temperature, relative humidity, and PPFD, respectively 35.30±5.04 oC, 60.95±17.40%, and 483.33±406.00 µmol m-2 S-1
Respons Jenis dan Konsentrasi Nutrisi pada Tanaman Pakcoy (Brassica rapa L. subssp. Chinensis) terhadap Bobot Basah Tanaman dan Bobot Kering Tanaman Secara Hidroponik Rakit Apung
Penelitian ini dilaksanakan di Green House Fakultas Pertanian Universitas Teuku Umar, Meulaboh Aceh Barat dimulai dari bulan Maret sampai bulan Juni 2021. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial 3x3 dengan 3 ulangan faktor yang diteliti meliputi jenis nutrisi dan konsentrasi Nutrisi. Jenis nutrisi terdiri dari 3 taraf yaitu J1 = Nutrisi AB mix, J2 = Nutrisi Hydro J, dan N3 = Nutrisi Goodplant. Sedangkan Konsentrasi nutrisi terdiri dari 3 taraf yaitu K1 = 600 ppm, K2 = 800 ppm, dan K3 = 1000 ppm. Apabila hasil uji F menunjukkan pengaruh yang nyata maka akan dilanjutkan dengan uji lanjut BNJ pada taraf 5%. Variabel pengamatan yang diamati adalah berat basah tanaman dan berat kering tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis nutrisi berpengaruh nyata terhadapa parameter berat basah tanaman dan berat kering tanaman. Konsentrasi nutrisi berpengaruh nyata terhadapa parameter berat basah tanaman dan berat kering tanaman. Interaksi jenis nutrisi dan konsentrasi nutrisi berpengaruh nyata terhadapa parameter berat kering tanaman
Pengaruh 2,4 Diklorofenoksiasetat (2,4 D) Dan Thidiazuron (TDZ) Terhadap Multiplikasi Tunas Nanas (Ananas comosus (L.) Merr.) Varietas Queen Secara Kultur In Vitro
Potensi ekspor nanas berupa produk nanas kalengan meningkat, namun perbanyakan bibit masih konvensional yang membutuhkan waktu lama seperti menggunakan mahkota 18-24 bulan, sucker (tunas batang) 14-17 bulan, slip (tunas buah) sekitar 15-20 bulan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh zat pengatur tumbuh 2,4-D dan thidiazuron terhadap multiplikasi tunas nanas varietas queen. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) kontras ortogonal dengan 2 faktor dan 1 kontrol. Faktor pertama konsentrasi ZPT TDZ dengan 3 taraf (0,1 ppm; 0,3 ppm; dan 0,5 ppm). Faktor kedua konsentrasi ZPT 2,4-D dengan 2 taraf (1 ppm dan 2 ppm). Data dianalisis menggunakan ANOVA dan apabila berpengaruh nyata dilanjutkan dengan uji lamjut BNJ α = 5%. Hasil penelitian pemberian 2,4-D dan TDZ menunjukkan interaksi tidak nyata antara kontrol dengan perlakuan terhadap semua variabel penelitian selama 12 MST. Kombinasi 2,4-D dan TDZ menunjukkan interaksi tidak nyata terhadap semua variabel penelitian selama 12 MST. Konsentrasi TDZ berpengaruh nyata terhadap jumlah tunas eksplan dan eksplan berkalus (%) nanas queen, dimana TDZ konsentrasi 0,3 ppm cenderung lebih efektif dalam menghasilkan tunas eksplan nanas queen. Berbagai konsentrasi 2,4-D memberikan pengaruh tidak nyata terhadap semua variabel penelitian selama 12 MST
Makropropagasi Tanaman Pisang Lokal Kultivar Ambon dan Musang dengan Perlakuan Hormon Benzylaminopurin dan Media Tanam
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji respon pertumbuhan tunas tanaman pisang kultivar ambon dan musang terhadap perlakuan hormon benzylaminopurin (BAP) dan media tanam. Penelitian ini dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial. Perlakuan media tanam berupa campuran arang sekam dan kompos (M1), kompos dengan cocopeat (M2), tanah/kontrol (M3). Perlakuan yang digunakan yaitu tanpa hormon sebagai kontrol percobaan (B1) dan hormon BAP yang digunakan yaitu 25 mg/L (B2), 50 mg/L (B3) dan 75 mg/L (B4). Parameter yang diamati meliputi waktu muncul tunas, tinggi tunas, luas daun tunas, jumlah akar. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis of variance (ANOVA) dan jika terdapat perbedaan yang nyata dilanjutkan dengan uji dan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kultivar Ambon variabel waktu muncul tunas terbaik terdapat pada kontrol dan perlakuan dengan hormon 25 mg/L, sedangkan pada kultivar musang terdapat pada perlakuan B4 dan B1. Pada variabel tinggi tunas menunjukkan bahwa hasil tertinggi terdapat pada kultivar ambon M3, musang M3, ambon M1 dan ambon M2. Pada variabel luas daun tunas menunjukkan hasil tertinggi terdapat pada kultivar ambon M1, musang M2, musang M1, dan musang M3. Pada variabel jumlah akar menunjukkan perlakuan tertinggi terdapat pada kultivar ambon M1 dan musang M2
Respon Perlakuan Asam Jasmonat, Asam Salisilat dan Kitosan terhadap Produksi Metabolit Sekunder pada Kalus Padi Daun Berpigmen
Padi Black Madras (Oryza sativa L.) merupakan padi hias yang selain biasa digunakan sebagai ornamen, juga dapat digunakan sebagai sumber pharmaceutical yang bermanfaat bagi kesehatan manusia. Namun saat ini belum banyak diketahui potensialnya menjadi sumber pharmaceutical seperti metabolit sekunder. Metabolit sekunder yang dihasilkan oleh padi black madras ini dapat diambil melalui kultur jaringan dengan cara elisitasi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon kalus padi dan produksi metabolit sekunder pada padi Black Madras terhadap pemberian asam jasmonat, asam salisilat, dan kitosan. Hasil penelitian ini menunjukkan pemberian elisitor memberikan respon pada kalus padi dan produksi metabolit sekunder padi black madras terhadap pemberian asam jasmonat, asam salisilat, dan kitosan. Varietas terbaik didapatkan pada varietas IR64 sebagai kontrol daripada Black madras dengan perlakuan dengan kandungan fenolik (0,1548 mg GAE/g) dan flavonoid (0,2830 mg QE/g) terbaik ada pada media dengan pemberian Asam Jasmonat 10ppm. Sedangkan pada antosianin dengan pemberian yang terbaik adalah Kitosan 50ppm (PC: 2,852 CV/g FW dan PP: 0,538 CV/ test tube). Varietas Black madras lebih cenderung dalam peningkatan biomassa dengan kandungan fenolik (0,1165 mg GAE/g) dan flavonoid (0,2107 mg QE/g) pada perlakuan kontrol meskipun dalam produksi antosianin cukup tinggi dengan Kitosan 50ppm (PC: 2,832 CV/g FW) dan Asam Salisilat 10ppm (PP: 0,440 CV/ test tube) lebih daripada perlakuan kontrol
Level Intensitas Serangan Hama Kepik Renda (Vatiga illudens) pada Berbagai Aksesi Singkong (Manihot esculenta) Kabupaten Banyumas secara Ex Situ
Singkong merupakan tanaman yang dapat hidup sepanjang tahun dan berasal dari Amerika Selatan dengan lembah sungai Amazon sebagai tempat penyebarannya. Indonesia menduduki lima besar negara pengekspor singkong dunia. Namun demikian, di Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah, data luas panen tanaman ini mengalami fluktuasi. Salah satu hal yang dapat mempengaruhi fluktuasi produksi singkong di Kabupaten Banyumas adalah munculnya potensi serangan hama baru, Vatiga illudens. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi intensitas serangan hama Vatiga illudens secara ex situ terhadap 7 (tujuh) aksesi tanaman singkong yang dikoleksi dari seluruh wilayah di Kabupaten Banyumas. Sebanyak 7 (tujuh) aksesi tanaman singkong yang digunakan dikoleksi dari Kecamatan Sokaraja, Sumbang, Ajibarang, Gumelar, dan Cilongok. Penelitian dilakukan di Screen House Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan uji lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf α 5% yang telah dilakukan, aksesi tanaman singkong yang dikoleksi dari Kecamatan Gumelar menunjukkan rata-rata intensitas serangan tertinggi (22,34%) dibandingkan dengan yang lain. Intensitas serangan terendah (2,69%) ditunjukkan oleh aksesi tanaman singkong dari Kecamatan Cilongok. Penelitian ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam menentukan metode pengendalian hama terpadu yang spesifik sesuai dengan karakter tanaman budidaya dan hama yang menyerang tanaman tersebut
Induksi Poliploidi Menggunakan Perlakuan Kolkisin pada Anggrek Bulan (Phalaenopsis sp.) secara In Vivo
Anggrek bulan merupakan salah satu bunga yang populer di Indonesia, karena bentuk dan warnanya yang bervariasi, sehingga permintaan akan anggrek ini baik sebagai bunga hias atau bunga potong terus meningkat. Sejalan dengan meningkatnya permintaan terhadap anggrek, diperlukan upaya peningkatan kualitas anggrek, khususnya melalui perlakuan induksi mutasi untuk memperoleh keanekaragaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat konsentrasi kolkisin (senyawa mutagen) terhadap karakter morfologi dan fisiologis (khususnya organ stomata) pada Phalaenopsis. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2022 sampai dengan Januari 2023, menggunakan rancangan acak lengkap dengan perlakuan kolkisin yang terdiri dari 5 konsentrasi berbeda dengan 4 kali pengulangan. Kadar perlakuan meliputi 0 ppm (Kontrol), K1 (30 ppm), K2 (35 ppm), K3 (40 ppm), dan K4 (45 ppm). Data penelitian diuji menggunakan uji F ANOVA, apabila hasil menunjukkan berbeda nyata maka diuji lanjut menggunakan LSD dengan tingkat kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kolkisin 45 ppm memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap karakter morfologi seperti umur munculnya daun baru, tinggi tanaman, dan jumlah daun, serta memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap parameter warna daun, sedangkan Karakter anatomi mempunyai pengaruh yang sangat nyata terhadap parameter kepadatan stomata. Namun perlakuan konsentrasi kolkisin tidak memberikan pengaruh nyata terhadap parameter tebal daun, persentase hidup tanaman, panjang stomata, dan lebar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kolkisin 45 ppm mampu menginduksi poliploidi awal yang ditunjukkan oleh parameter jumlah stomata. Semakin tinggi konsentrasi colchicine mengakibatkan semakin rendahnya kepadatan stomata
Perbedaan Warna Cahaya Lampu LED dan Unsur Molibdenum terhadap Kandungan Antosianin Selada Merah (Lactuca Sativa Var. Crispa)
Selada merah merupakan sayuran berdaun merah, mengandung antosianin sebagai sumber antioksidan serta bermanfaat bagi kesehatan. Selada merah kaya antosianin menjadi sayur yang menyehatkan, dimana kandungannya dapat ditingkatkan melalui cekaman abiotik, sehingga akumulasi antosianin pada daun lebih tinggi. Penelitian ini memodifikasi kualitas cahaya dengan memberikan warna cahaya lampu LED (merah, kuning, hijau dan biru) dan variasi konsentrasi media dengan penambahan molybdenum (0; 0,01; 0,02; 0,03 mg/L). Hasil penelitan menunjukkan bahwa paparan warna lampu LED biru dan merah menyebabkan meningkatnya kandungan antosianin dan klorofil pada semua media tanaman yang mengandung molibdnum (Mo)., dan sebaliknya dengan peberian paparan warna kuning dan hijau. Kombinasi paparan cahaya lampu LED warna biru dan 0,03 mg/L Mo mampu meningkatkan kandungan antosianin pada daun selada merah mencapai 676,22 µg/g berat segar daun, sehingga dapat digunakan sebagai acuan dalam meningkatkan kualitas selada merah dengan pemilihan warna cahaya dan media tanaman yang optimal
Efek Pemberian Pupuk Organik Cair Hasil Fermentasi Isi Rumen terhadap Pertumbuhan dan Hasil Caisim (Brassica chinensis var. parachinensis)
Sawi Caisim (Brassica chinensis var. parachinensis) ialah tanaman sayuran yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan seringkali menjadi pilihan utama bagi petani karena pertumbuhannya yang cepat dan hasil panennya yang melimpah. Pupuk organik cair yang dihasilkan dari fermentasi isi rumen ternak menjadi alternatif yang menarik. Fermentasi isi rumen dapat menghasilkan pupuk organik cair yang kaya akan nutrisi tanaman, seperti nitrogen, fosfor, dan unsur hara lainnya. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh Pupuk Organik Cair (POC) hasil fermentasi isi rumen dan mendapatkan konsentrasi terbaik untuk pertumbuhan dan hasil tanaman sawi caisim. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 7 perlakuan, masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Perlakuan tersebut mencakup berbagai konsentrasi POC, mulai dari tanpa POC, konsentrasi POC 25 mL.L-1, 50 mL.L-1, 75 mL.L-1, 100 mL.L-1, 125 mL.L-1, dan 150 mL.L-1. Parameter pengamatan meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, klorofil daun, bobot basah, dan bobot kering tanaman sawi caisim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dengan konsentrasi POC sebanyak 150 mL.L-1 menghasilkan hasil terbaik, tinggi tanaman 36,65 cm, jumlah daun mencapai 15,35 helai, berat basah 135,80 g, berat kering 19,37 g dan klorofil daun 14,50 mg.g-1. Penelitian ini memberikan bukti konkret bahwa POC hasil fermentasi isi rumen memiliki potensi besar sebagai pupuk organik yang ramah lingkungan dan berkelanjutan dalam pertanian modern. Hasil ini mendorong penerapan lebih lanjut dari POC hasil fermentasi isi rumen sebagai alternatif pupuk organik yang efektif dalam mendukung pertumbuhan tanaman dan produksi hasil pertanian ramah lingkungan
Identifikasi Sebaran Pangan Lokal Jenis Umbi-umbian Berbasis GIS Sebagai Pendukung Rantai Pasok UKM Pangan Lokal di Kabupaten Magelang
Penelitian tentang Identifikasi Sebaran Pangan Lokal Jenis Umbi-umbian Berbasis GIS sebagai Pendukung Rantai Pasok UKM Pangan Lokal di Kabupaten Magelang memiliki tujuan untuk menggambarkan (dalam bentuk peta) potensi pangan lokal jenis umbi-umbian yang terdapat di Kabupaten Magelang, serta untuk mengetahui dan menjelaskan potensi pangan lokal jenis umbi-umbian yang ada di Kabupaten Magelang. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah survei. Survei dilakukan dengan mendatangi lokasi-lokasi yang terdapat tanaman pangan lokal umbi-umbian, kemudian menggunakan bantuan GPS untuk menentukan titik koordinat lokasi yang terdapat tanaman pangan lokal jenis umbi- umbian. Metode pemilihan tempat di Kabupaten Magelang dengan purposive sampling, yaitu Kecamatan tegalrejo, Pakis, Grabag, dan Windusari. Metode pengumpulan data yaitu dengan observasi dan wawancara. Metode penyajian data dengan tabel dan peta lokasi sebaran pangan lokal jenis umbi-umbian berbasis GIS. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa dari 4 Kecamatan tersebut ada 2 Kecamatan yang memiliki titik sebaran umbi terbanyak yaitu pada Kecamatan Grabag dan Windusari. Dua Kecamatan yang lain tidak memiliki sebaran yang banyak karena pada waktu penelitian para petani sedang tidak menanam tanaman umbi- umbian karena musim kemarau dan pasokan air tidak terpenuhi