Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences
Not a member yet
164 research outputs found
Sort by
Efektivitas dan Efisiensi Drone Sprayer untuk Pengendalian Gulma pada Tanaman Padi (Oryza sativa L)
Sawi Caisim (Brassica chinensis var. parachinensis) ialah tanaman sayuran yang memiliki nilai Drone sprayer merupakan inovasi yang digunakan untuk aplikasi pestisida. Penelitian tentang efektivitas dan efisiensinya untuk pengendalian gulma masih terbatas. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Balung Lor Kecamatan Balung Kabupaten Jember pada bulan Agustus sampai Oktober 2022. Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan efektivitas dan efisiensi Drone sprayer dan knapsack sprayer menggunakan herbisida berbahan aktif 2,4-D dimetil amina;, konsentrasi 2 ml/liter, dosis 400 liter/ha. terhadap keanekaragaman gulma, kerapatan absolut, Summed Dominance Ratio (SDR), hasil panen, indeks ekologis dan waktu kerja alat semprot. Analisis data keefektifan menggunakan uji Mann-Whitney. Efisiensi alat semprot menggunakan persamaan waktu kerja menurut Andremico. Hasil penelitian: keanekaragaman gulma perlakuan drone Sprayer terdiri atas 2 ordo, 2 famili, 5 spesies, didominasi oleh Leptochloa chinensis gulma golongan rerumputan, knapsack Sprayer 4 ordo, 4 famili, 6 spesies, didominasi oleh Ipomoea aquatica gulma berdaun lebar. Kerapatan Mutlak drone sprayer (2,20±1,30) individu per m2, lebih rendah dibanding Knapsack sprayer (18,6±8,55) individu per m2. Hasil panen drone sprayer (58,72±17,14) gram per rumpun berbeda tidak nyata dibanding knapsack sprayer (58,22±13,50) gram per rumpun. Indeks Shannon-Wiener (H’) Drone sprayer 1,47, Knapsack Sprayer 1,15. Indeks kesamakan Sorensen (ISS) 25%. Waktu kerja drone sprayer 0.17 jam/ha; lebih efisien dibanding knapsack sprayer yaitu 11.57 jam/ha
Invigorasi Benih Cabai Merah (Capsicum annuum L.) Kadaluarsa Melalui Teknik Hydropriming Menggunakan Air Kelapa Muda
Benih kadaluarsa mengalami deteriorasi yang menyebabkan benih ini sulit untuk berkecambah. Invigorasi menggunakan zat pengatur tumbuh (ZPT) yang berasal dari air kelapa merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan perkecambahan benih yang sudah kadaluarsa. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan interaksi terbaik antara perlakuan konsentrasi air kelapa dan lama perendaman berbeda. Penelitian dilaksanakan pada Januari hingga Februari 2023 di rumah kasa, Fakultas Pertanian dan Peternakan, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Penelitian disusun berdasarkan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial, yaitu perendaman dengan air kelapa muda pada konsentrasi yang berbeda (tanpa air kelapa, 15, 30, 45, dan 60%) dan lama perendaman (2, 4, dan 6 jam). Parameter yang diamati adalah potensi tumbuh maksimum, daya berkecambah, kecepatan tumbuh, keserempakan tumbuh, indeks vigor, tinggi bibit, dan panjang akar. Perendaman benih pada air kelapa dengan konsentrasi 60% dan lama perendaman 6 jam merupakan interaksi yang terbaik terhadap potensi tumbuh maksimum, daya berkecambah, kecepatan tumbuh, keserempakan tumbuh, indeks vigor, tinggi bibit, dan panjang akar. Hal ini menunjukan bahwa air kelapa mampu menginvigorasi benih cabai yang sudah kadaluarsa, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan tanam
Isolasi, Identifikasi dan Karakterisasi Jamur Pyricularia oryzae Penyebab Penyakit Blas pada Tanaman Padi di Kediri, Jawa Timur
Padi (Oryza sativa Linnaeus) merupakan tanaman penting dan termasuk komoditas pangan utama di Indonesia. Salah satu penyakit yang dapat menurunkan produktivitas padi dan menimbulkan kerugian besar yaitu penyakit Blas yang disebabkan oleh jamur Pyricularia oryzae.. Tujuan penelitian ini adalah untuk identifikasi dan karakterisasi jamur P. oryzae penyebab penyakit Blas pada tanaman padi. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang pada bulan Juni - Oktober 2023. Kegiatan penelitian ini terdiri dari isolasi jamur patogen P. oryzae dari tanaman padi yang bergejala Blas, kemudian dilakukan identifikasi dan karakterisasi secara morfologi dengan mikroskopis dan makroskopis serta molekuler. Hasil yang didapatkan yaitu dari pengamatan morfologi secara makroskopis dan mikroskopis, jamur patogen penyebab penyakit pada tanaman padi adalah Pyricularia oryzae. Pada uji molekuler, diketahui jamur yang diisolasi memiliki panjang 500 bp (base pair) serta memiliki homologi terdekat (Per Ident.) sebesar 94.44% dengan Pyricularia oryzae strain B71 (CP060330.1). Pada pengujian patogenisitas, jamur patogen ini juga memberikan gejala yang sama dengan serangan P. oryzae penyebab penyakit blas
Pengaruh Iradiasi Sinar Gamma terhadap Hasil dan Pertumbuhan Cabai Merah (Capsicum annuum)
Cabai merah (Capsicum annuum) merupakan tanaman hortikultura yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan tambahan pangan yang memberikan rasa pedas khas dan memberi warna pada makanan. Menurunnya penggunaan varietas local cabai merah dalam jangka panjang dapat menyebabkan keberadaan plasma nutfah lokal semakin menurun hingga terancam punah, sehingga diperlukan upaya untuk meningkatkan produktivitas dan mutu varietas lokal agar varietas lokal kembali diminati oleh masyarakat. petani. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman cabai mentah varietas lokal adalah dengan mutasi genetik menggunakan sinar gamma. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh iradiasi sinar gamma terhadap pertumbuhan dan hasil cabai merah varietas Tanjung-2. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh iradiasi sinar gamma terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai merah varietas Tanjung-2. Berdasarkan pengamatan, tumbuhan kode 50.12 merupakan tumbuhan mutan tertinggi dengan tinggi 56,5 cm. Selain itu dari segi hasil, kode 150.2 mempunyai jumlah buah dan berat buah terbanyak dibandingkan seluruh tanaman sampel. Selain itu tanaman dengan perlakuan 350 Gy dapat menghasilkan cabai merah yang memiliki kadar capsaicin lebih tinggi dibandingkan tanaman tanpa perlakuan sinar gamma (0 Gy)
Respon Pertumbuhan dan Produksi Jagung Manis (Zea mays L) Terhadap Pemberian Pupuk Organik Cair Urin Kelinci dan Pupuk Fosfat
Produktifitas jagung manis di Indonesia masih belum optimal. Produktifitas jagung sebesar 8,13 ton/ha sedangkan potensinya 14-18 ton/ha. Peningkatan produktivitas jagung manis dapat dilakukan melalui pemberian pupuk organik. Pupuk organik cair urin kelinci dapat meningkatkan hasil tanaman jagung manis. Sedikit literatur yang mengkombinasikan urin kelinci dengan keong mas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh pupuk organic cair urin kelinci dan fosfat terhadap pertumbuhan dan produksi jagung manis. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan 2 faktor dan diulang 3 kali. Faktor pertama ialah pupuk organik cair urin kelinci (K) yang terdiri dari 4 taraf yaitu: K1= urin kelinci, K2= urin kelinci + keong mas, K3= urin kelinci + keong mas + daun pepaya, K4= urine kelinci + keong mas + nanas. Faktor kedua ialah pupuk fosfat (P) yang terdiri dari 4 taraf, yaitu: P1= Tanpa fosfat, P2= SP-36, P3= rock fosfat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi pupuk organik cair urine kelinci dan fosfat berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, diameter batang, berat tongkol dengan klobot, dan berat tongkol tanpa klobot. Perlakuan yang terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi adalah K1P2 (urin kelinci + SP-36)
Pemanfaatan Bekatul Padi dan Beras Jagung Sebagai Media Alternatif Perbanyakan Cendawan Metarhizium anisopliae sebagai Pengendali Hama Spodoptera frugiperda
Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas bekatul padi yang dapat dimanfaatkan sebagai media alternatif perbanyakan cendawan M. anisopliae sebagai bioinsektisida bagi ulat tentara. Percobaan dilakukan pada bulan Juni hingga Desember 2022 di Laboratorium Perlindungan Tanaman Politeknik Negeri Jember. Percobaan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan faktor pertama yakni jenis media alternatif yang terdiri dari 3 taraf yaitu beras jagung (M1), beras jagung + bekatul padi halus (M2), dan beras jagung + bekatul padi kasar (M3). Sedangkan faktor kedua yakni konsentrasi larutan cendawan M. anisopliae dengan 5 taraf yaitu 5 mL/L (J1), 10 mL/L (J2), 15 mL/L (J3), 20 mL/L (J4), dan 25 mL/L (J5). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media alternatif beras jagung dan bekatul padi kasar memberikan hasil terbaik pada kerapatan spora cendawan M. anisopliae yang diberikan konsentrasi larutan sebanyak 25 mL/L dengan kerapatan spora sebesar 23,69 x 109 spora/mL, memiliki tingkat viabilitas tertinggi sebesar 61,67%, dan memiliki tingkat toksisitas berdasarkan LC50 dan LC95 yang masing-masing sebesar 11% dan 29% sebagai bioinsektisida terhadap hama S. frugiperda. Tingginya kerapatan spora pada media campuran ini karena tingginya nutrisi sehingga pertumbuhan cendawan menjadi lebih optimal
Pengaruh Konsentrasi Kalium Nitrat (KNO3) pada Larutan Hoagland terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Selada Hijau (Lactuca sativa L.) Dengan Hidroponik Sistem Wick
Selada hijau merupakan tanaman hortikultura yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Nilai ekspor tanaman selada setiap tahunnya berfluktuasi dan cenderung menurun, bahkan pada tahun 2019 terdapat impor tanaman selada di Indonesia. Adanya impor dan menurunnya ekspor tanaman selada menunjukkan bahwa perlu adanya perbaikan dalam budidaya tanaman selada di Indonesia agar produktivitasnya meningkat dan dapat memenuhi kebutuhan pasar dengan cara mengubah teknik budidaya dari konvensional menjadi modern (hidroponik). Permasalahan yang terdapat pada budidaya selada hidroponik yaitu kurangnya kecukupan nutrisi sehingga tanaman mengalami gejala seperti batang dan daun tanaman yang lemah dan mudah rebah, serta mengalami klorosis. Hal tersebut dapat diatasi dengan pemberian unsur kalium dan nitrogen dalam bentuk KNO3. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor yaitu konsentrasi KNO3 yang terdiri dari 606 ppm, 808 ppm, 1.010 ppm, dan 1.212 ppm serta diulang sebanyak 5 kali. Parameter yang diamati yaitu berat basah tajuk tanaman, tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, kandungan klorofil, nisbah akar tajuk, laju pertumbuhan tanaman, uji organoleptik, dan serapan K tanaman. Penelitian dilakukan di Greenhouse Agrotechnopark Universitas Jember pada Bulan Desember – Februari. Analisis data menggunakan ANOVA dan diuji lanjut menggunakan DMRT 5%. Konsentrasi KNO3 memberikan hasil yang berbeda nyata pada tinggi tanaman, jumlah daun tanaman, kandungan klorofil, luas daun, berat basah tajuk, laju pertumbuhan tanaman, nisbah akar tajuk, dan serapan kalium tanaman. Konsentrasi kalium nitrat sebesar 1.010 ppm memberikan hasil terbaik dengan meningkatkan pertumbuhan jumlah daun tanaman sebesar 25.88% dan meningkatkan hasil berat basah tajuk tanaman sebesar 64,89% dari konsentrasi kalium nitrat sebesar 606 ppm.
 
Menilik Helopeltis spp. Hama Penting Komoditas Perkebunan di Indonesia
Helopeltis spp. (Hemiptera), merupakan salah satu hama utama pada beberapa tanaman buah dan komoditas perkebunan. Di Indonesia, Helopeltis diketahui menyerang tanaman teh, kakao, kina, jambu mete, lada, dan hama minor pada tanaman kehutanan. Tidak hanya di Indonesia, Helopeltis juga telah menjadi hama utama pada berbagai komoditas lintas negara. Penurunan produksi secara signifikan akibat serangan hama ini menjadi alasan penting untuk pengendalian yang lebih akurat dan tepat sasaran. Tanaman yang terserang akan menunjukkan bercak coklat kehitaman dan mengering sehingga menyebabkan kuantitas dan kualitas produk menurun. Hama ini menjadi tantangan serius dalam perdagangan domestik dan luar negeri. Untuk keputusan pengelolaan yang lebih baik, sangat penting untuk mengetahui status hama, distribusi, kisaran inang, dan lain-lain. Hal ini berarti untuk pengendalian tersebut perlu adanya pengetahuan dasar mengenai Helopeltis itu sendiri. Teknik pengendalian utama yang masih digunakan oleh petani saat ini adalah aplikasi pestisida sintetik. Namun, seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap produk yang ramah lingkungan dan aman terhadap kesehatan maka diperlukan alternatif pengendalian lainnya. Kajian jurnal ini membahas lebih dalam mengenai Helopeltis spp baik dari biologi, kelimpahan, perilaku makan, nilai ekonomi, interaksi dengan organisme lain, serta upaya pengendaliannya
Pengaruh Media Tanam dan Pemberian Berbagai Dosis Kalium Nitrat terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Mentimun (Cucumis sativus L.)
Produksi mentimun di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, namun masih tergolong rendah, yaitu rata-rata 10 ton/ha. Sehingga perlu usaha untuk meningkatkan produksi mentimun dengan berbagai macam teknologi yang tepat dalam budidaya mentimun diantaranya penggunaan media tanam dan pemupukan yang tepat. Media tanam dapat dikombinasikan untuk mendapatkan berbagai nutrisi yang tepat untuk tanaman dapat tumbuh, berkembang, dan bereproduksi dengan baik. Salah satu pupuk yang dibutuhkan tanaman untuk memenuhi unsur nitrogen dan kalium adalah Kalium Nitrat (KNO3). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi antara jenis media tanam dengan berbagai dosis kalium nitrat terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman mentimun. Penelitian dilakukan dalam Rancangan Acak Lengkap Faktorial dan diulang 3 kali dengan faktor pertama yaitu jenis media tanam yang terdiri atas empat taraf yaitu tanah (P1), tanah + cocopeat (P2), tanah + arang sekam (P3), dan tanah + pasir (P4). Faktor kedua yaitu dosis KNO3 yang terdiri atas 4 taraf, yaitu Kontrol-NPK (K1), KNO3 10 gr/tanaman (K2), KNO3 15 gr/tanaman (K3) dan KNO3 20 gr/tanaman (K4). Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi kombinasi perlakuan media tanam dan dosis KNO3 berpengaruh nyata terhadap parameter diameter batang dengan perlakuan P3K3 sebagai perlakuan terbaik. Media tanam terbaik yang mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman mentimun adalah media yang terdiri atas tanah dan arang sekam dengan perbandingan 1:1. Dosis KNO3 yang memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman mentimun adalah dosis 15 gr/tanaman
Impact of Different Soil Management Practices and Fertilizer Combinations on Yield and Quality of Chicken Pea (Cicer arietinum L.)
Soil cultivation practices and fertilizer managements significantly influence crop performance and yield. Our study aimed to evaluate the impact of different soil management techniques and the integration of organic and chemical fertilizers on the quantitative and qualitative performance of chicken peas (Cicer arietinum L.). Our results revealed that soil management and fertilizer sources had a significant impact on the number of pods per plant and seed yield. The highest number of pods per plant was observed in the conservation tillage treatment with 50% nitrogen fertilizer and mycorrhizal inoculation. The number of seeds per pod was influenced by fertilizer sources, with the highest number obtained in the treatment without soil amendment, 100% nitrogen fertilizer, and no mycorrhizal inoculation. Grain yield was highest in the conservation tillage treatment with 50% nitrogen fertilizer and mycorrhizal inoculation. The results highlighted that optimal nitrogen fertilizer integrated with mycorrhizal improves nutrient uptake and increases yield components. This study highlights the importance of fertilizer and soil management in optimizing chicken pea performance. The positive effects of balanced nitrogen fertilizer integrated with mycorrhizal inoculation were recorded on yield-related traits. These findings contribute to the development of sustainable agricultural practices that reduce reliance on chemical fertilizers and enhance crop productivity