Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences
Not a member yet
164 research outputs found
Sort by
Investigation of In Vitro Apocarotenoid Expression in Perianth of Saffron (Crocus sativus L.) Under Different Soil EC
Crocus sativus is a triploid sterile plant with red stigmas belonging to family of Iridaceae, and sub family Crocoideae. Crocin, picrocrocin, and safranal are three major carotenoid derivatives that are responsible for color, taste and specific aroma of Crocus. Saffron flowers are harvested manually and used as spice, dye or medicinal applications. The natural propagation rate of most geophytes including saffron is relatively low. An in vitro multiplication technique like micropropagation has been used for the propagation of saffron. To understand the efficiency of this alternative and study the molecular basis of apocarotenoid biosynthesis/accumulation, the RT-PCR method was performed on perianth explants that were cultured on MS medium to observe the level of expression of zeaxanthin cleavage dioxygenase (CsZCD) gene during stigma development, and also the impact of soil EC on its expression. The present study was conducted at Plant molecular and physiology Lab, Alzahra University, Tehran, Iran during 2011-2013. Stigma-like structures (SLSs) on calli were collected from immature perianth explants from floral buds of corms that were collected from Ghaen city, and compared to (Torbat-e Haidariye, Mardabad and Shahroud cities) for investigating the impact of different soil EC on CsZCD expression. The results indicated that CsZCD gene was highly expressed in fully developed red SLSs in perianth of cultured samples of Shahroud with the highest salinity. In this research, a close relationship between soil EC and second metabolites regulation is studied. Overall, these results will pave the way for understanding the molecular basis of apocarotenoid biosynthesis and other aspects of stigma development in C. sativus
Pengaruh Biopestisida Fobio dan Agens Hayati Trichoderma sp., terhadap Penyakit Layu Fusarium pada Bawang Merah
Pengendalian penyakit tanaman bawang merah hingga saat ini masih mengandalkan fungisida kimia yang dapat mencemari lingkungan, sehingga perlu dilakukan pengendalian secara hayati dan ramah lingkungan. Alternatif yang dapat diterapkan adalah menggunakan Biopestisida Fobio dan agens hayati Trichoderma sp. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui respon aplikasi Biopestisida Fobio dan agens hayati Trichoderma sp. terhadap penyakit layu fusarium pada bawang merah. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus-Oktober 2022 di Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo. Penelitian menggunakan Rancangan Petak Terbagi dengan dua faktor, yaitu konsentrasi Biopestisida Fobio terdiri dari 3 taraf yaitu petak utama adalah F0 (kontrol atau perlakuan pestisida kimia), F1 (Fobio 5 ml/liter), F2 (Fobio 7,5 ml/liter) dan anak petak yaitu konsentrasi Trichoderma sp. terdiri dari 3 taraf yaitu T0 (kontrol atau perlakuan pestisida kimia), T1 (Trichoderma sp. 10 ml/liter), T2 (Trichoderma sp. 20 ml/liter) sehingga terdapat 9 kombinasi perlakuan. Parameter pengamatan meliputi periode inkubasi, kejadian penyakit, berat basah umbi, dan berat kering umbi. Hasil penelitian dari semua kombinasi perlakuan tidak berbeda nyata. Hasil perlakuan aplikasi Biopestisida Fobio menunjukkan bahwa tanaman bawang merah berbeda nyata terhadap periode inkubasi pada perlakuan F2 dengan nilai rata-rata tertinggi yaitu 20 hst. Kejadian penyakit terendah terdapat pada perlakuan F2 pada umur 28 dan 42 hst. Perolehan berat basah paling tinggi diperoleh pada perlakuan F2T0 yaitu 2,128 kg. Perolehan berat kering tertinggi yaitu pada perlakuan F0T2
Pemetaan Kesehatan Kebun Kelapa Sawit Berdasarkan Nilai Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) Menggunakan Citra Landsat-8 Di Kebun PT. Wanapotensi Guna
Komoditas kelapa sawit memberikan sumbangan devisa terhadap negara sangat besar, rata-rata pertahun US 30 miliar, rekor tertinggi selama ini. Faktor kesehatan tanaman menjadi sangat penting untuk diperhatikan agar tanaman menghasilkan sesuai potensi genetisnya. Berbagai metode yang cepat dan akurat dikembangkan untuk melakukan analisis kesehatan tanaman, mengingat lahan pengusahaannya bersifat hamparan dan sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. NDVI atau Normalized Difference Vegetation Index merupakan metode yang digunakan dalam membandingkan tingkat kehijauan vegetasi yang berasal dari citra satelit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa kondisi kesehatan tanaman kelapa sawit dengan menggunakan metode NDVI dengan teknologi penginderaan jauh menggunakan Citra Landsat 8 L2 C2 yang direkam pada 07 Oktober 2021. Nilai NDVI yang diperoleh dijadikan acuan untuk menilai tingkat kesehatan tanaman, dan untuk komparasi nilai NDVI yang diperoleh dikorelasikan dengan hasil LSU (Leaf Sampling Unit) unsur Nitrogen. Penelitian ini merupakan studi kasus yang dilaksanakan di PT. Wanapotensi Guna yang terletak di Kecamatan Sanga Desa, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwasanya dari total wilayah tengah II PT. Wanapotensi Guna menunjukkan, 0.1% tergolong non vegetasi, 0.2% tergolong tanaman tidak sehat, 50.12% tergolong tanaman normal dan 49.58% tergolong tanaman sehat dengan korelasi nilai NDVI dengan data LSU N memiliki korelasi yang kuat dengan nilai 0.7214
Keragaman Genetik Tanaman dan Produktivitas Tebu Klon Unggul Harapan SB 01, SB 03, SB 12 (Saccharum Officinarum L.) Di Lahan Kering Sambiroto Mojokerto
Pada hasil kegiatan pemuliaan yang sebelumnya telah dilaksanakan, diperoleh Klon unggul harapan tebu SB 01, SB 03, SB 12. Klon tebu tersebut memerlukan pengujian lanjut sehingga didapatkan calon varietas unggul baru. Hasil analisa regresi linier menunjukkan bahwa rendemen, hablur, dan bobot tebu pada Klon SB 01, SB 03 dan SB 12 memiliki nilai sig berturut-turut 0,54 ; 0,89 ; 0,69 yang menunjukkan bahwa tetua tidak berpengaruh terhadap hasil parameter rendemen, hablur ataupun bobot tebu Klon. Koefisien keragaman fenotip pada rendemen termasuk dalam kriteria agak rendah sedangkan hablur dan bobot tebu memiliki kriteria tinggi. Koefisien keragaman genetik rendemen termasuk kategori tinggi, hablur memilki kriteria rendah sedangkan bobot tebu memiliki kriteria agak rendah. Rendemen memiliki nilai duga heritabilitas arti luas yang tinggi sehingga faktor genetik memiliki pengaruh tinggi dari pada faktor lingkungan, sedangkan hablur dan bobot tebu memiliki nilai duga heritabilitas rendah sehingga faktor lingkungan memiliki pengaruh lebih tinggi dari pada faktor genetik. Klon SB 01 memiliki kecenderungan mewarisi karakter morfologi dengan varietas VMC71/238 dengan potensi produksi brix 22%, bobot Klon 1.069 ku/ha, rendemen 8,14% dan hablur 86,23 ku/ha. Klon SB 03 memiliki kecenderungan mewarisi karakter morfologi dengan varietas Cening dengan potensi produksi brix 23%, bobot Klon 1.069 ku/ha, rendemen 8,14% dan hablur 86,23 ku/ha. Klon SB 12 memiliki kecenderungan mewarisi persamaan karakter morfologi dengan varietas PSBM 90-1 dengan potensi produksi brix 23%, bobot Klon 1.196 ku/ha, rendemen 9,05 % dan hablur 108,27 ku/ha
Induction of Protocorm-Like Bodies (PLBs) Phalaenopsis spp. Hybrids Mutation through Ultraviolet Irradiation (UV254) and Ethyl Methane Sulfonate (EMS)
Phalaenopsis sp. is the most-produced orchid species in Indonesia. Compared to conventional breeding, mutation induction by using mutagens, such as Ultraviolet Light-C (λ = 254 nm) (UV254) and Ethyl Methane Sulfonate (EMS), could probably result in new superior orchid variants. This research aims to get some mutants with phenotypes that have visual differences in the Phalaenopsis spp. hybrids wild type. There were 4 durations of UV254 irradiation: 5’ on, 85’ off; 10’ on, 80’ off (1 day and 7 days for each treatment); 4 concentrations of EMS used in this research: 0.05%; 0.06%; 0.07%; 0.08% for 6 hours of immersion; selected UV254 irradiation (5’ on, 85’ off (7 days)) combined with these concentrations. UV254 irradiation treatment (5’ on, 85’ off (1 day and 7 days); 10’ on, 80’ off (7 days)) resulted in some mutants with leaf phenotypes that were visually different from the wild type; 0.05% EMS treatment resulted in PLBs mutant with a visually larger size than the wild type; 0.08% EMS treatment and combination treatments (for EMS 0.05% and 0.08% for each treatment) resulted in non-growing albino PLBs. Hence, mutation induction using UV254 and EMS in this research produced several most likely mutants having visual differences that may be more desirable than the wild type
Pengaruh Interval Pemupukan dan Lama Penyungkupan terhadap Pertumbuhan Bibit Anggrek Dendrobium sp. saat Aklimatisasi
Anggrek merupakan tanaman hias yang memiliki nilai ekonomi tinggi, sehingga banyak dibudidayakan di Indonesia. Perbanyakan anggrek secara kultur jaringan di tahap aklimatisasi seringkali mengalami kegagalan. Upaya yang dilakukan untuk mendukung keberhasilan aklimatisasi anggrek dilakukan dengan interval pemupukan dan lama penyungkupan yang tepat. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui interval pemupukan dan lama penyungkupan yang sesuai untuk aklimatisasi anggrek dendrobium. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari sampai Juni 2022 di greenhouse Agrotechnopark Universitas Jember. Metode penelitian menggunakan Rangcangan Acak Lengkap Faktorial (RALF) dengan dua faktor yaitu interval pemupukan dan lama penyungkupan dan diulang sebanyak 4 kali. Taraf interval pemupukan yaitu: (P1: 6 hari, P2: 10 hari, dan P3: 14 hari), sedangkan taraf lama penyungkupan yaitu: (S0: tanpa sungkup, S1: 10 hari, S2: 30 hari, dan S3: 50 hari,). Parameter pengamatan meliputi persentase planlet hidup, pertambahan tinggi tanaman, pertambahan jumlah daun, jumlah akar, panjang akar, dan berat segar tanaman. Data yang diperoleh selanjutnya dilakukan analisis menggunakan analisis ragam dan dan diuji lanjut menggunakan uji jarak berganda Duncan pada taraf kepercayaan 95 %. Hasil penelitian menunjukkan interval pemupukan terbaik untuk aklimatisasi anggrek dendrobium adalah 6 hari sekali yang menghasilkan pertambahan tinggi rerata 1,43 cm. Lama penyungkupan terbaik adalah tanpa penyungkupan yang menghasilkan jumlah akar rerata 10,42 helai dan panjang akar rerata 8,29 cm. Kombinasi interval pemupukan dan lama penyungkupan terbaik adalah 6 hari sekali dengan tanpa penyungkupan yang menghasilkan pertambahan tinggi rerata 2,23 cm
Evaluasi Penambahan Kalium pada AB-Mix Terhadap Pertumbuhan Tiga Varietas Selada (Lactuca sativa L.) Hidroponik
Hidroponik merupakan salah satu metode pertanian modern yang saat ini sedang banyak diminati dan dikembangkan. Hidroponik menawarkan solusi untuk bertani pada lahan yang sempit dan terbatas. Umumnya, metode bertani hidroponik dilakukan pada tanaman sayur, hal ini didukung dengan permintaan sayur yang meningkat dikalangan masyarakat. Metode hidroponik memanfaatkan larutan nutrisi sebagai sumber hara, yaitu nutrisi AB-Mix yang merupakan nutrisi majemuk dengan kandungan hara makro dan mikro. Namun, kebutuhan setiap varietas tanaman berbeda. Pada penelitian ini, pengaruh dosis hara kalium (K) di evaluasi terhadap pertumbuhan dan beberapa chemical properties tanaman yang diuji dengan uji proksimat. Terdapat tiga verietas selada yang digunakan yaitu selada varietas hijau, selada varietas merah dan selada varietas butterhead. Selain itu, tiga dosis kalium berbeda diaplikasikan pada penelitian ini yaitu penambahan kalium dengan dosis 225 ppm, 250 ppm dan 275 ppm. Beberapa parameter yang diamati pada penelitian ini meliputi tinggi tanaman, banyak daun, lebar daun, lebar kanopi, kandungan klorofil, berat segar, berat kering, dan juga dilakukan analisis proksimat untuk mengetahui chemical properties tanaman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, penambahan kalium berdampak pada masing-maisng varietas selada. Hal tersebut dikarenakan setiap varietas memiliki karakteristik yang berbeda. Kalium secara signifikan mempengaruhi kandungan proksimat pada selada merah dibandingkan dengan selada kepala hijau dan selada butterhead. Namun secara keseluruhan, penambahan kalium mampu meningkatkan bobot segar, lebar daun, lebar tajuk, tinggi tanaman, dan jumlah daun untuk semua varietas selada yang diuji. Dari segi kandungan klorofil, penambahan 250 ppm kalium ke setiap varietas selada dapat meningkatkan kandungan klorofil tanaman
Karakteristik Pupuk Cair Eco-Enzyme Berbahan Dasar Limbah Sayur Dan Buah Terhadap Kandungan Nutrisi Dan Bahan Organik
Sebanyak 60% sampah yang terbuang di TPA adalah sampah organik, dimana pengelolaan yang buruk dapat menimbulkan banyak masalah. Oleh karena itu perlu suatu langkah memanfaatkan limbah tersebut sebagai produk yang bermanfaat dan mempunyai nilai guna seperti eco-enzyme. Eco-enzyme merupakan fermentasi limbah organik seperti ampas buah dan sayuran, gula dan air yang mengandung berbagai nutrisi penting untuk tanaman seperti N, P, K, dan C-organik. Bentuk eco-enzyme yang berupa cairan membuat aplikasinya sebagai pupuk cair lebih praktis. Pembuatan eco-enzyme sebagai pupuk cair sangat berpeluang untuk dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui kombinasi bahan ecoenzim yang menghasilkan nutrisi tinggi sebagai pupuk cair. Rancangan penelitian menggunakan RAL 4 perlakuan (sayur + manggis; sayur + jeruk); sayur + buah naga; sayur) dengan 3 ulangan. Perlakuan kombinasi bahan berpengaruh signifikan terhadap semua parameter pengamatan. Perlakuan sayur + jeruk (P2) memberikan hasil nutrisi terbaik secara keseluruhan
Efikasi Asap Cair Hasil Pirolisis Pelepah Sawit untuk Pengendalian Kutu Kebul dan Pengaruhnya Terhadap Tanaman Cabai Merah
Bemisia tabaci Genn merupakan vektor hama begomovirus CMV, TMV, ChiVMV, PepYLCV pada tanaman cabai. Berbagai penelitian telah memastikan efektivitas asap cair menurunkan jumlah serangga dan mampu mengendalikan kerusakan yang diakibatkannya. Pelepah kelapa sawit merupakan bahan baku lokal yang melimpah yang dapat dipirolisis menjadi asap cair dan diduga dapat mengendalikan intensitas serangan serangga pada tanaman cabai. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh asap cair pelepah kelapa sawit terhadap jumlah nimfa kutu kebul, intensitas serangannya terhadap tanaman, mengetahui pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman, dan mengetahui hubungan dosis pemberian asap cair terhadap ketahanan tanaman. Penelitian ini dilakukan dalam rancangan acak lengkap dengan 32 percobaan ulangan di dalam screen UV Politeknik Hasnur dari Desember 2021 hingga Mei 2022. Analisis data menggunakan model uji Tukey\u27s HSD dengan 5% α. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 15 mL per 1000 mL asap cair yang terbuat dari pelepah sawit mengurangi jumlah nimfa dan intensitas serangan, tetapi pertumbuhan tanaman menjadi tercekam dengan korelasi negatif (R2 = 35%) terhadap ketahanan tanaman pada setiap peningkatan dosis. Hasil ini menunjukkan bahwa penerapan asap cair harus bersentuhan langsung dengan organisme pengganggu tumbuhan
Evaluasi Daya Hasil dan Heritabilitas pada Beberapa Genotipe Tomat (Solanum lycopersicum L.)
Produksi tomat dapat ditingkatkan melalui teknik pemuliaan tanaman dengan merancang vaeritas tomat adaptif pada dataran rendah dan melakukan seleksi pada genotipe-genotipe unggul menggunakan parameter genetik heritabilitas. Penelitian bertujuan mengevaluasi produksi dan heritabilitas karakter komponen hasil pada beberapa genotipe tomat. Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Riau menjadi lokasi percobaan ini mulai September 2022 hingga Februari 2023. Rancangan acak kelompok (RAK) adalah metodologi penelitian yang digunakan. Sebanyak 30 unit percobaan diperoleh dengan mengulang setiap genotipe hingga tiga ulangan. Berdasarkan penelitian, diperoleh hasil bahwa genotipe F7 003008-1-12-10-10-6(1) (SG3), F7 078097D-9-7-2-21-13(1) (SG5), dan F7 097D078-2-2-2-10(19R)-4(3) (SG6) merupakan genotipe-genotipe yang memiliki berat buah per tanaman dan jumlah buah lebih baik dari varietas Ratna dan Intan. Karakter waktu panen pertama, diameter buah, panjang buah, berat buah, jumlah buah, dan berat buah per tanaman adalah karakter dengan heritabilitas tinggi, sedangkan karakter umur muncul bunga adalah karakter dengan heritabilitas sedang