Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences
Not a member yet
164 research outputs found
Sort by
Tingkat Keeratan Hubungan pH Tanah dan Akar Edamame pada Media Tanah Gambut yang Diaplikasi Kompos Berbahan Ampas Kopi, Jerami Padi, dan Limbah Baglog Jamur Tiram
Pemanfaatan lahan gambut untuk pertanian khususnya budidaya edamame seringkali mengalami kendala terkait dengan tingkat kesuburan tanah yang rendah dan biofisik lahan yang rapuh. Alternatif teknologi pengelolaan lahan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas lahan gambut adalah ameliorasi. Bahan amelioran dapat menggunakan kompos dari limbah pertanian antara lain ampas kopi, jerami padi, dan limbah baglog jamur tiram. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis kompos ampas kopi, jerami padi, dan limbah baglog jamur tiram terbaik dalam meningkatkan pH tanah gambut dan pertumbuhan akar edamame, serta mengetahui tingkat keeratan hubungan antar peubah. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial tersarang, faktor dosis kompos tersarang pada jenis kompos. Faktor jenis kompos (A) terdiri atas tiga perlakuan: a1 = kompos ampas kopi, a2 = kompos jerami padi, a3 = kompos limbah baglog jamur tiram, sedangkan faktor dosis kompos (B) terdiri atas lima perlakuan: b0 = 0 t ha-1 (kontrol), b1 = 5 t ha-1, b2 = 10 t ha-1, b3 = 15 t ha-1, b4 = 20 t ha-1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis 10 t ha-1 kompos ampas kopi, 20 t ha-1 kompos jerami padi, dan 15 t ha-1 kompos limbah baglog jamur tiram mampu meningkatkan pH tanah gambut. Dosis 20 t ha-1 kompos ampas kopi dan 10 t ha-1 kompos jerami padi mampu meningkatkan panjang akar edamame. Dosis 15 t ha-1 kompos ampas kopi, 5 t ha-1 kompos jerami padi, dan 5 t ha-1 kompos limbah baglog jamur tiram mampu meningkatkan jumlah bintil akar edamame. Tingkat keeratan hubungan antara pH tanah dengan panjang akar edamame (r = 0,3987) dengan korelasi cukup, pH tanah gambut dengan jumlah bintil akar edamame (r = 0,2394) dengan korelasi lemah, dan panjang akar edamame dengan jumlah bintil akar edamame (r = 0,6072) dengan korelasi kuat
Identification of Pests and Diseases on Coconut (Cocos nucifera L.) in Sangihe Island Regency, North Sulawesi Province, Indonesia
As an archipelago regency, the Sangihe Islands has been known for its expanses of coconut plantations, which are one of the local community\u27s primary commodities and sources of income. An inventory of pests and diseases specific to coconut in this area has never been carried out, and this information is needed, especially regarding sustainable coconut management. This study aimed to determine the presence of coconut pests and diseases in Sangihe and to obtain the latest conditions related to pests and disease incidence. The research was carried out through several stages, i.e., interviewing farmers, sampling, and identifying and documenting pests and diseases. The climate condition of Sangihe Island is classified as type A (very wet), with an average rainfall of 248 mm, temperature of 27 C, and humidity of 83% from 2017-2021. This condition is one of the determining factors for the existence of pest attacks and disease-causing pathogen infection on coconut. Pests dominated as disturbing organisms compared to diseases caused by plant pathogens. These pests included grasshoppers, coconut rhinoceros beetles, coconut hispine beetles, coconut mites, and white-tailed mice. Observations of the damage intensity by Sexava coriaceae were conducted in the Tahuna Barat district by selecting three land categories. The most severe damage occurred in field B (mostly planted with Hybrid Coconuts) with a percentage of 39%, while the lowest damage was in field C (mostly planted with Tall Coconuts), at 17%. The major disease detected was a gray leaf spot caused by the fungus Pestalotiopsis palmarum. The highest disease incidence and severity were found in Tabukan Utara district with percentages of 43% and 22% respectively, while the lowest incidence and severity were found in Tahuna Barat district with percentages of 3% and 1%, respectively
Pectin Extraction from Kepok Banana Peel (Musa acuminata × balbisiana); Case Study on Procedure of Pre-Treatment Process
The extraction of pectin from banana peels is one way to increase the use value of banana peel waste. The extraction method applied is solid-liquid extraction using an acid solvent. The purpose of this study was to determine the effect of pre-treatment, the type and concentration of solvent as well as the optimum time and substrate concentration, on the resulting yield. This research was conducted experimentally with the OFAT (One Factor at a Time) method. The results showed that the best solvent was 0.5N sulfuric acid with a substrate concentration of 10% for 80 minutes, resulting yield of 10.02%
Residues, An Alternative for Reducing Water Contamination, Leaching, and Greenhouse Gas Emission
This study investigated the efficacy of grape residue in reducing water contamination. Our findings revealed significant reductions in nitrate leaching upon the application of grape residues. Smaller residue particle sizes recorded greater reductions in nitrate leaching compared to larger ones. Utilizing grape waste branches for biochar production offers a sustainable solution, improving water retention, organic matter content, and reducing nutrient leaching. Biochar not only enhances nutrient retention but also promotes microbial activity and nitrogen-fixing bacteria, benefiting soil health and crop productivity. It also helps combat drought and salinity stress. Overall, grape biochar shows potential in mitigating nitrate pollution, enhancing soil quality, and promoting agricultural sustainability. It is important to consider the optimal biochar application rate and particle size to maximize its effectiveness in reducing nitrate leaching while minimizing any potential negative impacts on crop yield. Further research is required to optimize biochar application rates, particle sizes, and long-term effects in diverse agricultural systems. Implementing biochar as a soil amendment holds promise in improving soil health, water quality, and overall sustainability
Pengaruh Kehadiran Gulma pada Tanaman Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap sebelum dan setelah Pemberian Pupuk Limbah Udang
Keberadaan gulma dipengaruhi oleh jenis pupuk yang diberikan pada tanaman budidaya. Setiap jenis pupuk memiliki kandungan yang berbeda sehingga berpengaruh terhadap spesies gulma yang tumbuh. Agar dapat mengetahui spesies gulma yang tumbuh perlu dilakukan identifikasi pada lahan budidaya. Penelitian dilakukan bulan Juni – Agustus 2021 di Kebun pertanian Kelompok Tani Sinar Harapan, Kota Tarakan Provinsi Kalimantan Utara. Metode penelitian yaitu metode sampling acak. Parameter digunakan yaitu nama gulma dan jumlah gulma. Hasil analisis vegetasi gulma di lahan sawi kemudian diolah untuk menghitung kerapatan, frekuensi, INP dan SDR. Dalam membandingkan keragaman gulma sebelum dan setelah diberikan pupuk limbah udang maka dihitung Indeks Kemerataan Evenness Indeks kekayaan Margalef, Indeks Keanekaragaman Shanon-Wiener, dan Indeks Kekayaan jenis Sorensen. Hasil penelitian menunjukan bahwa gulma yang terdapat sebelum diberikan pupuk limbah udang di tanaman sawi yang mendominasi yaitu spesies Cyperus iria nilai SDR sebesar 30,33%. Gulma ditemukan di tanaman sawi setelah diberikan pupuk limbah udang yang mendominasi yaitu gulma Cyperus iria nilai SDR sebesar 21,71%. Indeks Kekayaan Jenis Margalef sebelum dan sesudah diberikan pupuk limbah udang termasuk kategori sedang. Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener sebelum dan sesudah diberikan pupuk limbah udang kategori sedang. Indeks Kesamaan Jenis Sorensen dengan nilai 81,82%. Indeks Kemerataan Evennes sebelum diberikan pupuk limbah udang yaitu 0.62 dan setelah diberikan pupuk limbah udang yaitu 0.64
Pengaruh Asap Cair Sekam Padi terhadap Jumlah Populasi Semut Hitam (Dolichoderus thoracicus) sebagai Pemangsa Hama Ulat Grayak pada Tanaman Jagung
Ulat grayak merupakan hama yang menyerang tanaman jagung. Selain itu, dalam tanaman jagung juga terdapat predator yaitu semut hitam. Dalam mengatasi populasi ulat yang banyak dapat menggunakan pengaplikasian asap cair. Kemudian untuk menjaga keseimbangan ekosistem yg ada disana perlu diadakan penelitian tentang predator semut hitam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh asap cair sekam padi terhadap populasi semut hitam dan hasil panen. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 6 taraf perlakuan konsentrasi asap cair sekam padi dan diulang sebanyak 3 kali sehingga menghasilkan 18 unit percobaan. Kegiatan di lapang meliputi proses budidaya dan teknik aplikasi asap cair sekam padi dan pestisida sintetik yang berbahan aktif emamektin benzoate. Percobaan disusun dengan 3 variabel yang terdiri dari uji mortalitas dan efikasi insektisida, populasi hama dan predator, dan variabel berat tongkol dan berat pipilan. Hasil pada variabel mortalitas dan efikasi hama menunjukkan bahwa perlakuan P5 (25ml/lt) adalah perlakuan yang efektif karena hasil efikasi insektisida sebesar 73%. Variabel jumlah populasi hama menunjukkan hasil tidak berbeda nyata untuk populasi hama dimana untuk perlakuan asap cair yaitu 0,48 ekor sedangkan pestisida sintetik yaitu 0,26 ekor. Untuk jumlah populasi predator semut hitam menunjukkan hasil berbeda nyata yaitu 0,62 ekor pada asap cair dan 0,30 ekor untuk pestisida sintetik. kemudian variabel berat tongkol menunjukkan hasil yang berbeda nyata antara perlakuan asap cair dan pestisida sintetik yaitu sebesar 182,50 gr dan 203,68 gr, begitu juga dengan variabel berat pipilan yang menunjukkan berbeda nyata antara perlakuan asap cair dan pestisida sintetik yaitu sebesar 109,44 gr dan 143,58 gr
Keanekaragaman Serangga Musuh Alami Pada Pertanaman Sayuran Organik
Keanekaragaman adalah ukuran integrasi komunitas biologi dengan menghitung dan mempertimbangkan jumlah populasi yang membentuknya dengan kelimpahan relatifnya. Musuh alami merupakan salah satu penyusun komunitas untuk mengendalikan hama. Serangga yang tergolong musuh alami yaitu predator dan parasitoid. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui keanekaragaman serangga musuh alami di area pertanaman sayuran organik yang ditanam secara polikultur dan dikelilingi oleh tanaman refugia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu purposive sampling dengan menggunakan alat perangkap yaitu yellow sticky trap (perangkap kuning), sweep net (jaring), pitfall trap (perangkap jatuh) dan pengamatan secara visual. Penelitian ini dilakukan di Desa Brenjonk Kecamatan Trawas Jawa Timur di pertanaman sayuran organik yang ditanam secara polikultur. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa nilai indeks keanekaragaman (H’) pada lahan sayuran organik sebesar 2.53. Hasil analisis perhitungan nilai indeks dominansi simpson (C) lahan sayuran organik menunjukkan nilai 0.10. Hasil indeks kemerataan jenis (E) analisis perhitungannya adalah 0.91. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu indeks keanekaragaman jenis (E’) kategori sedang, indeks dominansi simpson (C) kategori rendah dan indeks kemerataan jenis (E) kategori kemerataan tinggi
Keterkaitan Umur Panen dan Lama Waktu Curing dengan Produksi dan Mutu Benih Mentimun (Cucumis sativus L.) Galur MTH 15
Upaya peningkatan produksi dan mutu benih dapat dilakukan dengan menentukan umur panen yang tepat dan penanganan pasca panen berupa curing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh umur panen dan waktu curing terhadap produksi serta kualitas benih mentimun galur MTH 15. Penelitian ini dilaksanakan di lahan penelitian Research and Development (RD) PT. Aditya Sentana Agro Malang dari bulan September – Desember 2021. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Data berasal dari hasil penelitian dengan mengaplikasikan factor independent yaitu perlakuan pengaruh umur panen dan perlakuan waktu curing terhadap factor dependen yaitu produksi dan mutu benih mentimun. Teknik analisis data menggunakan analisis regresi linier berganda disertai dengan uji parsial (t-test) dan uji serempak (F-test). Proses perhitungan menggunakan SPSS 23.0. Hasil pengujian menunjukkan bahwa umur panen dan waktu curing berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap produksi dan mutu benih mentimun
Regenerasi Nilam Aceh ‘Sidikalang’ melalui Organogenesis tak Langsung dan Multiplikasi Tunas dalam Produksi Tanaman True-to-Types
Nilam Aceh ‘Sidikalang’ (Acehnese Patchouli) merupakan salah satu anggota kelompok dari Lamiaceae, famili mint. Minyak aromatik yang biasa disebut juga dengan minyak patchouli dapat diproduksi dari daunnya, yang mana bernilai tinggi dalam industri parfum dan aromaterapi, karena wangi aromatik yang segar. Minyak patchouli juga memiliki variasi senyawa fitokimia yang memiliki efek terapeutik, seperti antimikroba, antidepresan, anti-inflamasi, dan antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan protocol yang efisien dan reprodusibel untuk refenerasi tak langsung dari eksplan daun dan banyak tunas dari eksplan nodus. Organogenesis tak langsung telah dilakukan menggunakan medium MS (Murashige-Skoog) dengan beberapa perlakuan, seperti NAA 0,5 mg/L + BAP 0,1 mg/L, NAA 1 mg/L + BAP 0,1 mg/L, dan NAA 1,5 mg/L + BAP 0,1 mg/L, sedangkan tunas majemuk yang dihasilkan dari eksplan nodus dikulturkan pada media MS dengan berbagai variasi konsentrasi BAP, yakni 0,5 mg/L, 1,0 mg/L, dan 1,5 mg/L kemudian, untuk tahap perakaran dari tunas, tunas akan dikulturkan pada media ½ MS tanpa Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) dan media MS dengan beberapa perlakuan, yakni tanpa Zat Pengatur Tumbuh (ZPT), IBA (Indole-3-Butyric Acid) 0,5 mg/L, dan NAA (Naphthalene Acetic Acid) 0,5 mg/L. Selanjutnya, planlet yang dihasilkan dari tahap perakaran secara in vitro akan diaklimatisasi pada kombinasi tanah : kompos (1:1). Sebagai tambahan, tunas in vitro juga akan ditanam secara langsung sebagai stek tunas mikro pada kombinasi tanah : kompos (1:1). Perlakuan optimal untuk organogenesis tak langsung menggunakan media MS dengan NAA 1 mg/L + BAP 0,1 mg/L. Dalam perbanyakan tunas majemuk dari eksplan nodus, media MS dengan BAP 0,5 mg/L merupakan media optimum. Tunas yang dikulturkan pada media ½ MS untuk tahap perakaran, tumbuh membentuk planlet dengan morfologi akar normal. Secara keseluruhan, planlet nilam lebih cepat terbentuk melalui penanaman langsung stek tunas mikro pada kondisi ex vitro dibandingkan melalui tahap perakaran in vitro
Analisis Histologi dan Scaning Elektron Mikroskopy (SEM) pada Somatik Embriogenesis Tanaman Porang (Amorphophallus muelleri B)
Pembentukan Somatik Embriogenesis (SE) porang secara tidak langsung memiliki proses yang lambat, selama ini yang digunakan adalah induksi secara langsung karena dapat mempercepat penyediaan bibit tetapi pengetahuan tentang induksi SE secara tidak langsung sangat dibutuhkan untuk mengetahui tahapan perkembangannya. Kami menyajikan pengetahuan terkait interaksi hormon 2,4-D dan NAA terhadap induksi kalus, histologi dan scanning elektron microscop (SEM) kalus embriogenik tanaman porang (Amorphophallus muelleri). Tujuan penelitian ini adalah guna mengetahui interaksi pengaruh 2,4-D dan NAA dalam proses induksi SE dan mempelajari tahapan perubahan embrio serta perkembangan struktur embrio tanaman porang. Penelitian ini telah dilangsungkan selama 6 bulan sejak Mei hingga Oktober 2021. Tempat penelitian berada di Laboratorium Kultur Jaringan Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Jember. Penelitian ini mengunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 2 Faktor dengan 3 kali ulangan. Faktor pertama ialah hormon 2,4-D dengan konsentrasi 0 ppm, 1 ppm, 2 ppm, dan faktor kedua yaitu hormon NAA dengan konsentrasi 0,5 ppm, 1 ppm, 1,5 ppm, 2 ppm, 2,5 ppm, kemudian data yang didapatkan dilakukan analisis deskriptif dan ANOVA. Hasil penelitian menunjukan perlakuan hormon 1 ppm 2,4-D dan 1,5 ppm NAA menghasilkan kalus embriogenik dan pada hasil histologi dan scaning electron mikroskopy (SEM) memperlihatkan tahapan embrio somatik porang meliputi tahapan proembrio, embrio globular, skutelar dan kolioptilar, lalu tahap koleoptilar berkembang ke tahap primodial tunas. Pada konsentrasi 1 ppm 2,4-D dan 1,5 ppm NAA terbentuk proembrio dan embrio globular yang memiliki permukaan proembrio yang halus. Pembentukan Somatik Embriogenesis (SE) porang secara tidak langsung memiliki proses yang lambat, selama ini yang digunakan adalah induksi secara langsung karena dapat mempercepat penyediaan bibit tetapi pengetahuan tentang induksi SE secara tidak langsung sangat dibutuhkan untuk mengetahui tahapan perkembangannya. Kami menyajikan pengetahuan terkait interaksi hormon 2,4-D dan NAA terhadap induksi kalus, histologi dan scanning elektron microscop (SEM) kalus embriogenik tanaman porang (Amorphophallus muelleri). Tujuan penelitian ini adalah guna mengetahui interaksi pengaruh 2,4-D dan NAA dalam proses induksi SE dan mempelajari tahapan perubahan embrio serta perkembangan struktur embrio tanaman porang. Penelitian ini telah dilangsungkan selama 6 bulan sejak Mei hingga Oktober 2021. Tempat penelitian berada di Laboratorium Kultur Jaringan Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Jember. Penelitian ini mengunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 2 Faktor dengan 3 kali ulangan. Faktor pertama ialah hormon 2,4-D dengan konsentrasi 0 ppm, 1 ppm, 2 ppm, dan faktor kedua yaitu hormon NAA dengan konsentrasi 0,5 ppm, 1 ppm, 1,5 ppm, 2 ppm, 2,5 ppm, kemudian data yang didapatkan dilakukan analisis deskriptif dan ANOVA. Hasil penelitian menunjukan perlakuan hormon 1 ppm 2,4-D dan 1,5 ppm NAA menghasilkan kalus embriogenik dan pada hasil histologi dan scaning electron mikroskopy (SEM) memperlihatkan tahapan embrio somatik porang meliputi tahapan proembrio, embrio globular, skutelar dan kolioptilar, lalu tahap koleoptilar berkembang ke tahap primodial tunas. Pada konsentrasi 1 ppm 2,4-D dan 1,5 ppm NAA terbentuk proembrio dan embrio globular yang memiliki permukaan proembrio yang halus.