Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences
Not a member yet
164 research outputs found
Sort by
Pengaruh Dosis Pupuk KCl dan Berbagai Level Penyiraman Terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Pre-Nursery
Saat ini faktor iklim yang semakin tidak menentu mengakibatkan berkurannya ketersediaan air yang berdampak negatif bagi pertumbuhan tanaman. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk KCl dan berbagai kadar air media tanah dipembibitan kelapa sawit. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sumbersari, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember, Jawa Timur mulai April hingga September 2021 menggunakan rancangan acak kelompok faktorial. Percobaan dilakukan untuk meneliti pengaruh dosis KCl dan kadar air media terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit, dosis pupuk KCl terdiri dari 4 level yaitu 0 g, 0,4 g, 0,6 g dan 0,8 g setiap tanaman, kadar air media tanah terdiri dari 3 level yaitu 100%, 70% dan 50% dari kapasitas lapang dengan 3 ulangan. Hasil penelitian diketahui bahwa perlakuan interaksi dua faktor antara kadar air media dan dosis KCl didapatkan hasil tidak berbeda nyata, demikian juga faktor tunggal dosis KCl tidak berbeda nyata, sedangkan faktor tunggal kadar air media menunjukkan pengaruh berbeda nyata. Level perlakuan kadar air 70% didapatkan hasil berbeda nyata pada parameter tinggi tanaman sebesar 18,44 cm, parameter jumlah daun sebesar 3,67 helai, parameter diameter bonggol sebesar 5,63 mm dan leaf area index sebesar 1,72. Hasil analisis lebar pori stomata (μm) pada berbagai kondisi kadar air media menunjukkan nilai rata-rata tertinggi pada kadar air media 70% sebesar 11,88 ± 4,96 dan pada berbagai dosis KCl menunjukkan nilai rata-rata tertinggi pada dosis KCl 0,6 g sebesar 10,83 ± 7,90.
Saat ini faktor iklim yang semakin tidak menentu mengakibatkan berkurannya ketersediaan air yang berdampak negatif bagi pertumbuhan tanaman. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk KCl dan berbagai kadar air media tanah dipembibitan kelapa sawit. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sumbersari, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember, Jawa Timur mulai April hingga September 2021 menggunakan rancangan acak kelompok faktorial. Percobaan dilakukan untuk meneliti pengaruh dosis KCl dan kadar air media terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit, dosis pupuk KCl terdiri dari 4 level yaitu 0 g, 0,4 g, 0,6 g dan 0,8 g setiap tanaman, kadar air media tanah terdiri dari 3 level yaitu 100%, 70% dan 50% dari kapasitas lapang dengan 3 ulangan. Hasil penelitian diketahui bahwa perlakuan interaksi dua faktor antara kadar air media dan dosis KCl didapatkan hasil tidak berbeda nyata, demikian juga faktor tunggal dosis KCl tidak berbeda nyata, sedangkan faktor tunggal kadar air media menunjukkan pengaruh berbeda nyata. Level perlakuan kadar air 70% didapatkan hasil berbeda nyata pada parameter tinggi tanaman sebesar 18,44 cm, parameter jumlah daun sebesar 3,67 helai, parameter diameter bonggol sebesar 5,63 mm dan leaf area index sebesar 1,72. Hasil analisis lebar pori stomata (μm) pada berbagai kondisi kadar air media menunjukkan nilai rata-rata tertinggi pada kadar air media 70% sebesar 11,88 ± 4,96 dan pada berbagai dosis KCl menunjukkan nilai rata-rata tertinggi pada dosis KCl 0,6 g sebesar 10,83 ± 7,90.
Isolasi dan Identifikasi Fungi Mikoriza Pada Rizosfer Tanaman Porang Pada Sistem Agroforestri dan Monokultur
Mikoriza arbuskula adalah mikrobia tanah yang memiliki peran dalam meningkatkan ketersediaan air bagi tanaman melalui perpanjangan hifa sehingga dapat menjangkau pada daerah yang lebih luas. Mikoriza arbuskula merupakan mikrobia tanah yang dapat berkembang pada sistem agroforestri dan monokultur. Informasi mikoriza yang dapat bersimbiosis dengan Porang baik secara agroforestri dan monokultur belum banyak dipublikasikan. Oleh sebab itu perlu identifikasi spora yang ada di rizosfer Porang sehingga nantinya dapat dijadikan sebagai bahan baku pupuk berbasis mikoriza arbuskula untuk tanaman Porang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi mikoriza arbuskula yang berada di rizosfer Porang pada berbagai sistem pertanaman. Penelitian tentang fungi mikoriza arbuskula di rizosfer Porang dilakukan di lahan agroforestri dan monokultur yang memiliki jenis tanah latosol. Lahan penelitian berada di Desa Mrayan, Kecamatan Ngrayun kabupaten Ponorogo Jawa timur Indonesia dan dilakukan pada bulan Desember 2020. Sampel tanah diambil secara acak di tiga lahan yang berbeda yaitu agroforestri berbasis pinus, agroforestri berbasis sengon dan monokultur. Sampel tanah diambil disekitar perakaran tanaman Porang. Sampel akar berupa akar halus porang. Spora mikoriza arbuskula diektrak dengan metode pengayaan basah dan kering. Identifikasi spora mikoriza arbuskula dilakukan dengan identifikasi morfologi. Hasil penelitian ini ditemukan 3 genera yang terdiri dari 9 species yaitu Glomus (5 species), Acaulospora (2 speies) dan Gigaspora (2 species). Kepadatan spora tertinggi berjenis Glomus dan yang terkecil adalah Gigaspora. Rata rata kepadatan spora adalah 56-105 spora/100 g tanah. Kepadatan spora tertinggi pada agroforestri berbasis pinus. Persentase infeksi akar berkisar antar 24-50%. Persentase infeksi akar tertinggi pada agroforestri berbasis sengon.Mikoriza arbuskula adalah mikrobia tanah yang memiliki peran dalam meningkatkan ketersediaan air bagi tanaman melalui perpanjangan hifa sehingga dapat menjangkau pada daerah yang lebih luas. Mikoriza arbuskula merupakan mikrobia tanah yang dapat berkembang pada sistem agroforestri dan monokultur. Informasi mikoriza yang dapat bersimbiosis dengan Porang baik secara agroforestri dan monokultur belum banyak dipublikasikan. Oleh sebab itu perlu identifikasi spora yang ada di rizosfer Porang sehingga nantinya dapat dijadikan sebagai bahan baku pupuk berbasis mikoriza arbuskula untuk tanaman Porang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi mikoriza arbuskula yang berada di rizosfer Porang pada berbagai sistem pertanaman. Penelitian tentang fungi mikoriza arbuskula di rizosfer Porang dilakukan di lahan agroforestri dan monokultur yang memiliki jenis tanah latosol. Lahan penelitian berada di Desa Mrayan, Kecamatan Ngrayun kabupaten Ponorogo Jawa timur Indonesia dan dilakukan pada bulan Desember 2020. Sampel tanah diambil secara acak di tiga lahan yang berbeda yaitu agroforestri berbasis pinus, agroforestri berbasis sengon dan monokultur. Sampel tanah diambil disekitar perakaran tanaman Porang. Sampel akar berupa akar halus porang. Spora mikoriza arbuskula diektrak dengan metode pengayaan basah dan kering. Identifikasi spora mikoriza arbuskula dilakukan dengan identifikasi morfologi. Hasil penelitian ini ditemukan 3 genera yang terdiri dari 9 species yaitu Glomus (5 species), Acaulospora (2 speies) dan Gigaspora (2 species). Kepadatan spora tertinggi berjenis Glomus dan yang terkecil adalah Gigaspora. Rata rata kepadatan spora adalah 56-105 spora/100 g tanah. Kepadatan spora tertinggi pada agroforestri berbasis pinus. Persentase infeksi akar berkisar antar 24-50%. Persentase infeksi akar tertinggi pada agroforestri berbasis sengon
Regenerasi Kalus Embriogenik Sorgum (Sorghum bicolor) menggunakan Kombinasi ZPT dan Mikronutrien
Perakitan varietas unggul tanaman sorgum dapat dilakukan melalui perbanyakan secara in-vitro melalui kultur jaringan. Somatik embriogenesis menjadi salah satu metode perbanyakan yang tepat untuk menghasilkan tanaman dalam waktu yang cepat dan jumlah banyak. Tetapi, rendahnya kemampuan regenerasi kalus menyebabkan kegagagalan terbentukya tunas dan tanaman baru. Pemberian nutrisi dan zat pengaruh tumbuh (ZPT) yang efektif pada media regenerasi menentukan keberhasilan regenerasi kalus. Sitokinin dan auksin merupakan jenis ZPT yang berperan dalam pembelahan dan perkembangan sel serta menstimulasi pertumbuhan tunas pada kalus. Sedangkan, CuSO4 digunakan sebagai nutrisi mikro tambahan yang berperan aktif dalam katalisasi enzim dan transfer elektron pada proses fotosintesis. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui konsentrasi terbaik dari kombinasi antara Kinetin, NAA, dan CuSO4 pada media regenerasi kalus sorgum untuk menstimulasi pertumbuhan tunas dan akar. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi MS0, 0,1 mg/L NAA, 1 mg/L kinetin menjadi kombinasi paling baik unuk regenerasi tunas yaitu 6,38 tunas. Sedangkan untuk regenerasi akar kombinasi MS0 dan 1 mg/L CuSO4 merupakan konsentrasi terbaik untuk regenerasi tunas dan akar sebanyak 32,1 akar dan meningkatkan jumlah planlet sebanyak 7,67. Namun sebaliknya, tidak ada pengaruh pada penambahan CuSO4 terhadap tinggi tanaman. Planlet yang tumbuh mampu beradaptasi pada kondisi in vivo di dalam green house dan menunjukkan tidak ada perbedaan pertumbuhan antara tanaman yang tumbuh dari biji dan tanaman hasil in vitro.
Perakitan varietas unggul tanaman sorgum dapat dilakukan melalui perbanyakan secara in-vitro melalui kultur jaringan. Somatik embriogenesis menjadi salah satu metode perbanyakan yang tepat untuk menghasilkan tanaman dalam waktu yang cepat dan jumlah banyak. Tetapi, rendahnya kemampuan regenerasi kalus menyebabkan kegagagalan terbentukya tunas dan tanaman baru. Pemberian nutrisi dan zat pengaruh tumbuh (ZPT) yang efektif pada media regenerasi menentukan keberhasilan regenerasi kalus. Sitokinin dan auksin merupakan jenis ZPT yang berperan dalam pembelahan dan perkembangan sel serta menstimulasi pertumbuhan tunas pada kalus. Sedangkan, CuSO4 digunakan sebagai nutrisi mikro tambahan yang berperan aktif dalam katalisasi enzim dan transfer elektron pada proses fotosintesis. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui konsentrasi terbaik dari kombinasi antara Kinetin, NAA, dan CuSO4 pada media regenerasi kalus sorgum untuk menstimulasi pertumbuhan tunas dan akar. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi MS0, 0,1 mg/L NAA, 1 mg/L kinetin menjadi kombinasi paling baik unuk regenerasi tunas yaitu 6,38 tunas. Sedangkan untuk regenerasi akar kombinasi MS0 dan 1 mg/L CuSO4 merupakan konsentrasi terbaik untuk regenerasi tunas dan akar sebanyak 32,1 akar dan meningkatkan jumlah planlet sebanyak 7,67. Namun sebaliknya, tidak ada pengaruh pada penambahan CuSO4 terhadap tinggi tanaman. Planlet yang tumbuh mampu beradaptasi pada kondisi in vivo di dalam green house dan menunjukkan tidak ada perbedaan pertumbuhan antara tanaman yang tumbuh dari biji dan tanaman hasil in vitro.
 
Uji Aktivitas Antimikroba Hasil Ekstraksi dari Padi Lokal Indonesia
Daun padi merupakan salah satu organ tanaman padi yang mengandung senyawa bioaktif yang berguna bagi kesehatan. Senyawa bioaktif fenolik adalah salah satu turunan dari antosianin yang merupakan pigmen warna pada daun padi. Senyawa fenolik memiliki sifat antioksidan alami yang berpotensi sebagai antimikroba. Tujuan penelitian ini yaitu melakukan analisis senyawa bioaktif ekstrak daun padi berpigmen dan menganalisis pengaruhnya terhadap aktivitas penghambatan mikroba. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli – Desember 2021, di Laboraturium Agroteknologi, Laboraturium Agronomi Fakultas Pertanian dan Laboraturium Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jember. Metode penelitian yang dilakukan yaitu melakukan ekstraksi untuk analisis kandungan total fenolik, kadar antioksidan zona hambat untuk bakteri E.coli dan S. aureus. Perlakuan konsentrasi fenolik yang digunakan untuk melihat zona hambat bakteri yaitu 0,19 µg/ml; 0,095 µg/ml; 0,048 µg/ml; 0,024 µg/ml dan kontrol yaitu ampicilin 100 ppm dan air. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan ANOVA dan uji lanjut DMRT 5 %. Kandungan total fenolik untuk tiap varietasnya berbeda dan total fenolik tertinggi terdapat pada varietas Gogo Niti II yaitu 0,89 µg/ml sedangkan kadar antioksidan tertinggi yaitu Merah Wangi sebesar 76,16%. Rerata zona hambat bakteri E.coli tertinggi terdapat pada perlakuan 0,19 µg/ml varietas Black Madras dan rerata zona hambat bakteri S.aureus tertinggi pada ampicilin 100 ppm pada varietas Black Madras dibandingkan dengan varietas yang lain sedangkan varietas Merah Saleman tidak membentuk zona hambat pada perlakuan manapun kecuali ampicilin 100 ppm
Stabilitas Genetik Klon Tanaman Tebu Transgenik Berbasis RNAi dan Ketahanannya terhadap Infeksi SCMV
SCMV merupakan virus pathogen pada tanaman tebu yang dapat menyebabkan perlambatan pertumbuhan, kerusakan kloroplas, penurunan fotosintesis dan hilangnya produktifitas gula sekitar 20-50%. Penelitian sebelumnya telah mengembangkan tanaman tebu tahan virus SCMV dengan memasukkan HpSCMVCp melalui pendekatan bioteknologi RNAi (RNA interference). RNAi dapat memproduksi dsRNA homolog yang akan diproses menjadi 21-24 siRNA oleh enzim Dicer. Spesifik siRNA akan mendegradasi target mRNA virus dan mencegah ekpresi protein virus. Dua klon tebu transgenik HpSCMVCp-CaMV dan HpSCMVCp-Ubi yang telah dikembangkan perlu dilakukan uji stabilitas genetik dan ketahannya pada generasi T1. Indukan tebu HpSCMVCp-CaMV dan HpSCMVCp-Ubi ditumbuhkan 5 mata tunas dan dilakukan konfirmasi PCR menunjukkan adanya materi genetic HpSCMVCp yang stabil pada setiap mata tunas. Selanjutnya pada umur 2 bulan dilakukan uji tular SCMV yang menunjukkan tingkat ketahanan terhadap serangan SCMV mencapai 70-100% dibandingkan dengan wild type 0%. Hal ini juga ditunjukkan dari hasil analisa RT-PCR deteksi SCMV dengan pasangan primer untuk amplifikasi DNA Nib-Cp. Tanaman tebu WT yang bergejala mosaic dan tidak tahan infeksi SCMV menunjukan amplifikasi DNA Nib-Cp dan tidak ada pada tanaman tebu transgenic yang tahan. Secara keseluruhan penelitian ini menunjukan bahwa tanaman tebu transgenic stabil menurunkan materi genetic dan ketahanan terhadap infeksi SCMV pada generasi berikutnya.SCMV merupakan virus pathogen pada tanaman tebu yang dapat menyebabkan perlambatan pertumbuhan, kerusakan kloroplas, penurunan fotosintesis dan hilangnya produktifitas gula sekitar 20-50%. Penelitian sebelumnya telah mengembangkan tanaman tebu tahan virus SCMV dengan memasukkan HpSCMVCp melalui pendekatan bioteknologi RNAi (RNA interference). RNAi dapat memproduksi dsRNA homolog yang akan diproses menjadi 21-24 siRNA oleh enzim Dicer. Spesifik siRNA akan mendegradasi target mRNA virus dan mencegah ekpresi protein virus. Dua klon tebu transgenik HpSCMVCp-CaMV dan HpSCMVCp-Ubi yang telah dikembangkan perlu dilakukan uji stabilitas genetik dan ketahannya pada generasi T1. Indukan tebu HpSCMVCp-CaMV dan HpSCMVCp-Ubi ditumbuhkan 5 mata tunas dan dilakukan konfirmasi PCR menunjukkan adanya materi genetic HpSCMVCp yang stabil pada setiap mata tunas. Selanjutnya pada umur 2 bulan dilakukan uji tular SCMV yang menunjukkan tingkat ketahanan terhadap serangan SCMV mencapai 70-100% dibandingkan dengan wild type 0%. Hal ini juga ditunjukkan dari hasil analisa RT-PCR deteksi SCMV dengan pasangan primer untuk amplifikasi DNA Nib-Cp. Tanaman tebu WT yang bergejala mosaic dan tidak tahan infeksi SCMV menunjukan amplifikasi DNA Nib-Cp dan tidak ada pada tanaman tebu transgenic yang tahan. Secara keseluruhan penelitian ini menunjukan bahwa tanaman tebu transgenic stabil menurunkan materi genetic dan ketahanan terhadap infeksi SCMV pada generasi berikutnya
Pengaruh Dosis dan Waktu Aplikasi Pupuk KCl Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Buncis (Phaseolus vulgaris L.)
Buncis (Phaseolus vulgaris L.) merupakan tanaman legum yang memiliki kandungan gizi cukup tinggi. Produksi buncis belum mampu memenuhi permintaan buncis yang tinggi. Rendahnya produksi buncis dapat disebabkan oleh ketersediaan unsur hara. Kebutuhan unsur hara kalium (K) pada buncis tidak tercukupi karena kalium bersifat mudah tercuci. Upaya pemenuhan unsur hara kalium dilakukan melalui pemupukan KCl. Dosis pupuk yang tepat dapat membantu tanaman mencukupi kebutuhannya untuk tumbuh optimal. Waktu aplikasi pupuk yang tepat membantu tanaman menjaga ketersediaannya akan unsur hara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian dosis pupuk KCl dan waktu aplikasi pupuk KCl terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman buncis (Phaseolus vulgaris L.) menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari 2 faktor perlakuan dan 3 ulangan. Faktor pertama yaitu dosis pupuk KCl K0 = 0 g/tanaman, K1 = 2,5 g/tanaman, K2 = 3 g/tanaman, K3 = 3,5 g/tanaman. Faktor kedua yaitu waktu aplikasi pupuk KCl W1 = 14 hst, W2 = 14 hst dan 21 hst, W3 = 14 hst, 21 hst, 28 hst. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dan diuji menggunakan Uji Lanjut Jarak Berganda Duncan pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil tertinggi diperoleh perlakuan K3 dengan dosis pupuk KCl 3,5 g/tanaman dan perlakuan W3 dengan waktu aplikasi pupuk KCl pada 14 hst, 21 hst, dan 28 hst.Buncis (Phaseolus vulgaris L.) merupakan tanaman legum yang memiliki kandungan gizi cukup tinggi. Produksi buncis belum mampu memenuhi permintaan buncis yang tinggi. Rendahnya produksi buncis dapat disebabkan oleh ketersediaan unsur hara. Kebutuhan unsur hara kalium (K) pada buncis tidak tercukupi karena kalium bersifat mudah tercuci. Upaya pemenuhan unsur hara kalium dilakukan melalui pemupukan KCl. Dosis pupuk yang tepat dapat membantu tanaman mencukupi kebutuhannya untuk tumbuh optimal. Waktu aplikasi pupuk yang tepat membantu tanaman menjaga ketersediaannya akan unsur hara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian dosis pupuk KCl dan waktu aplikasi pupuk KCl terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman buncis (Phaseolus vulgaris L.) menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari 2 faktor perlakuan dan 3 ulangan. Faktor pertama yaitu dosis pupuk KCl K0 = 0 g/tanaman, K1 = 2,5 g/tanaman, K2 = 3 g/tanaman, K3 = 3,5 g/tanaman. Faktor kedua yaitu waktu aplikasi pupuk KCl W1 = 14 hst, W2 = 14 hst dan 21 hst, W3 = 14 hst, 21 hst, 28 hst. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dan diuji menggunakan Uji Lanjut Jarak Berganda Duncan pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil tertinggi diperoleh perlakuan K3 dengan dosis pupuk KCl 3,5 g/tanaman dan perlakuan W3 dengan waktu aplikasi pupuk KCl pada 14 hst, 21 hst, dan 28 hst
Variasi Kerentanan dan Kerusakan Serealia setelah Infestasi Hama Kumbang Bubuk (Sitophilus oryzae L.) Berdasarkan Kadar Air
Hama kumbang bubuk, Sitophilus oryzae (Coleoptera: Curculionidae) merupakan hama primer dan menyebabkan kerusakan yang berbeda pada serealia sehingga menentukan tingkat kerentanannya selama penyimpanan. Kerusakan serealia selama di penyimpanan dipengaruhi oleh kadar air. Penelitian bertujuan mempelajari variasi kerentanan dan kerusakan serealia setelah infestasi S. oryzae berdasarkan kadar air. Penelitian dilaksanakan dalam bentuk faktorial pola Rancangan Acak Lengkap dengan perlakuan jenis serealia dan kadar air. Perlakuan kadar air yaitu 12% dan 14%, sedangkan jenis serealia yaitu sorgum, beras putih, beras ketan hitam, beras ketan putih, dan jagung. Parameter pengamatan yaitu jumlah F1, median waktu perkembangan, indeks kerentanan, dan susut berat serealia. Analisis data hasil penelitian menggunakan analisis ragam dan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 0,05. Untuk mengukur kekuatan hubungan antar parameter pengamatan ditentukan dengan analisis korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air 14% dapat meningkatkan jumlah F1, indeks kerentanan, susut berat serealia serta median waktu perkembangan yang singkat. Katagori kerentanan serelia bervariasi dari moderat sampai sangat rentan. Jumlah F1, indeks kerentanan, susut berat paling tinggi dan median waktu perkembangan paling singkat dijumpai pada beras ketan hitam. Beras ketan hitam dengan kadar air 12 dan 14% dapat meningkatkan jumlah F1, indeks kerentanan, susut berat serealia serta median waktu perkembangan yang singkat serta kerentanannya tergolong rentan-sangat rentan sampai sangat rentanHama kumbang bubuk, Sitophilus oryzae (Coleoptera: Curculionidae) merupakan hama primer dan menyebabkan kerusakan yang berbeda pada serealia sehingga menentukan tingkat kerentanannya selama penyimpanan. Kerusakan serealia selama di penyimpanan dipengaruhi oleh kadar air. Penelitian bertujuan mempelajari variasi kerentanan dan kerusakan serealia setelah infestasi S. oryzae berdasarkan kadar air. Penelitian dilaksanakan dalam bentuk faktorial pola Rancangan Acak Lengkap dengan perlakuan jenis serealia dan kadar air. Perlakuan kadar air yaitu 12% dan 14%, sedangkan jenis serealia yaitu sorgum, beras putih, beras ketan hitam, beras ketan putih, dan jagung. Parameter pengamatan yaitu jumlah F1, median waktu perkembangan, indeks kerentanan, dan susut berat serealia. Analisis data hasil penelitian menggunakan analisis ragam dan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 0,05. Untuk mengukur kekuatan hubungan antar parameter pengamatan ditentukan dengan analisis korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air 14% dapat meningkatkan jumlah F1, indeks kerentanan, susut berat serealia serta median waktu perkembangan yang singkat. Katagori kerentanan serelia bervariasi dari moderat sampai sangat rentan. Jumlah F1, indeks kerentanan, susut berat paling tinggi dan median waktu perkembangan paling singkat dijumpai pada beras ketan hitam. Beras ketan hitam dengan kadar air 12 dan 14% dapat meningkatkan jumlah F1, indeks kerentanan, susut berat serealia serta median waktu perkembangan yang singkat serta kerentanannya tergolong rentan-sangat rentan sampai sangat renta
Analisis Pendugaan Parameter Genetik pada Genotipe Tebu Mutan
Tebu merupakan sumber bahan baku gula. Tingginya konsumsi gula nasional dihadapkan oleh rendahnya produksi gula, sehingga masih terpenuhi dengan impor. Upaya perbaikan genetik melalui mutasi induksi menggunakan EMS pada tanaman tebu varietas Bululawang, diperoleh genotipe yang memiliki potensi rendemen tinggi. Penelitian mempunyai tujuan untuk mengevaluasi parameter genetik pada genotipe tebu mutan. Penelitian dilakukan bulan April 2019 hingga Agustus 2020 di tiga lokasi yaitu dua kecamatan di Kabupaten Jember (Arjasa, Sukorambi) dan satu kecamatan di Kabupaten Pasuruan (Kraton), Jawa Timur. Setiap lokasi menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan enam ulangan. Genotipe yang digunakan berasal dari hasil seleksi sebelumnya yaitu genotipe tebu mutan generasi keempat. Karakter yang diamati meliputi jumlah anakan, diameter batang, jumlah ruas, bobot dan panjang batang produktif, jumlah batang/m, produksi tebu, rendemen dan hablur gula. Data dianalisis ragam gabungan dan pendugaan parameter genetik terdiri dari nilai koefisien keragaman genetik, heritabilitas, serta kemajuan genetik. Hasil penelitian diperoleh bahwa pertumbuhan dan hasil genotipe tebu mutan akibat ekspresi dari genetik tanaman, lingkungan serta interaksi keduanya. Pendugaan parameter genetik diperoleh nilai heritabilitas tergolong tinggi pada karakter rendemen dan hablur gula. Sedangkan nilai kemajuan genetik tergolong tinggi pada karakter produksi tebu, rendemen dan hablur gula.Tebu merupakan sumber bahan baku gula. Tingginya konsumsi gula nasional dihadapkan oleh rendahnya produksi gula, sehingga masih terpenuhi dengan impor. Upaya perbaikan genetik melalui mutasi induksi menggunakan EMS pada tanaman tebu varietas Bululawang, diperoleh genotipe yang memiliki potensi rendemen tinggi. Penelitian mempunyai tujuan untuk mengevaluasi parameter genetik pada genotipe tebu mutan. Penelitian dilakukan bulan April 2019 hingga Agustus 2020 di tiga lokasi yaitu dua kecamatan di Kabupaten Jember (Arjasa, Sukorambi) dan satu kecamatan di Kabupaten Pasuruan (Kraton), Jawa Timur. Setiap lokasi menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan enam ulangan. Genotipe yang digunakan berasal dari hasil seleksi sebelumnya yaitu genotipe tebu mutan generasi keempat. Karakter yang diamati meliputi jumlah anakan, diameter batang, jumlah ruas, bobot dan panjang batang produktif, jumlah batang/m, produksi tebu, rendemen dan hablur gula. Data dianalisis ragam gabungan dan pendugaan parameter genetik terdiri dari nilai koefisien keragaman genetik, heritabilitas, serta kemajuan genetik. Hasil penelitian diperoleh bahwa pertumbuhan dan hasil genotipe tebu mutan akibat ekspresi dari genetik tanaman, lingkungan serta interaksi keduanya. Pendugaan parameter genetik diperoleh nilai heritabilitas tergolong tinggi pada karakter rendemen dan hablur gula. Sedangkan nilai kemajuan genetik tergolong tinggi pada karakter produksi tebu, rendemen dan hablur gula
Transformasi Gen SoSPS1 dengan Menggunakan enhancer OsADH dan Eksplan Kalus Somatik Embriogenis pada Tanaman Tebu
Transformasi genetik adalah metode alternatif untuk mendapatkan bibit unggul tanaman tebu dengan kandungan sukrosa tinggi. Kandungan sukrosa dalam tanaman tebu dipengaruhi oleh keberadaan enzim SPS yang dikode oleh gen SoSPS1. Enzim SPS berperan penting dalam proses pembentukan dan akumulasi sukrosa pada tanaman. Transformasi genetik SoSPS1 diharapkan dapat meningkatkan konsentrasi dan aktivitas enzim SPS pada tanaman. Konstruk plasmid untuk gen SoSPS1 ditambahkan enhancer OsADH yang berperan saat proses translasi protein. Adanya OsADH membantu proses penerjemahan asam amino ketika proses translasi sehingga kemampuan tanaman mengekspresikan gen tidak terganggu oleh cekaman abiotik. Konstrak gen target disispkan ke dalam T-plasmid Agrobacterium tumefaciens strain GV 3103 kemudian diinfeksikan pada kalus somatik embriogenik (SE) tanaman tebu varietas Buluh Lawang. Setelah proses transformasi, kalus diseleksi secara invitro menggunakan kanamisin 50 ppm. Media dasar setiap tahap menggunakan formulasi Murashige and Skoog. Calon tunas yang lolos hingga seleksi kelima kemudian diaklimatisasi dan dilakukan analisis PCR untuk mendeteksi adanya gen target. Hasil penelitian menunjukkan dengan eksplan kalus SE mampu menghasilkan tanaman transgenik dengan tingkat efisiensi transformasi sebesar 2,4% dan memiliki kemampuan regenerasi menjadi tanaman dengan organel lengkap
Kajian Pertumbuhan Ubi Kayu (Manihot utillisima) Pada Komposisi Berbagai Pupuk Cair
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pertumbuhan stek dilihat dari komposisi pupuk cair terutama kandungan hara kalium, kandungan non hara berupa zat pengatur tumbuh dan mikro organisme. Unsur kalium sangat penting terhadap pertumbuhan tanaman dari awal sampai panen, terutama untuk pertumbuhan stek dan tanaman penghasil karbohidrat. Unsur kalium akan mempengaruhi penyerapan unsur hara nitrogen dan fospor. Tiga unsur ini merupakan faktor pembatas pertumbuhan tanaman. Penelitian disusun secara non faktorial menggunakan rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) dengan lima ulangan. Satu faktor perlakuan,berupa lima macam pupuk cair yang sudah dan akan beredar di pasaran yaitu AB mix, Nasa, Jimmi Hantu, Super kebon, limbah Rumah Pemotongan Hewan (RPH) dan satu perlakuan tanpa pupuk sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik cair berbahan baku limbah sapi potong dari RPH paling banyak menumbuhkan akar pada stek ubi kayu, panjang akar terpanjang ,serta berat brangkasan tajuk dan brangkasan akar tertinggi baik basah maupun kering. Sedangkan kadar kalium pada daun ,jumlah klorofil dan laju fotosintesa tidak berbeda nyata untuk semua jenis pupuk yang digunakan. Indeks luas daun tertinggi diperoleh pada penggunaan pupuk cair AB mix