Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences
Not a member yet
    164 research outputs found

    Peran Sitokinin Terhadap Kemampuan Eksplan Pada Penggandaan Tunas Vanili (Vanilla planifolia Andrews.)

    No full text
    Tanaman vanili (Vanilla planifolia Andrews.) memiliki nilai ekspor yang tinggi karena Indonesia menempati peringkat ke-3 sebagai eksportir terbesar dunia setelah Madagaskar dan Perancis. Pengembangan bibit secara vegetatif dalam budidaya vanili yang memiliki beberapa kelemahan yaitu merusak tanaman induk dan rentan serangan penyakit busuk batang. Kelemahan perbanyakan vegetatif dapat diatasi dengan teknik kultur jaringan melalui penambahan sitokinin. Penelitian bertujuan untuk  1) menganalisis peran Kinetin terhadap penggandaan tunas eksplan vanili; 2) menganalisis peran BAP terhadap penggandaan tunas eksplan vanili dan 3) menganalisis interaksi peran Kinetin dan BAP terhadap penggandaan tunas eksplan vanili. Pelaksanaan penelitian pada bulan Juni-Desember 2020 bertempat di Laboraturium Kultur Jaringan Politeknik Negeri Jember menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial. Faktor pertama adalah Kinetin pada taraf  0,0 mg/l, 1,0 mg/l dan 2,0 mg/l. Faktor kedua adalah BAP pada taraf 0,5 mg/l, 1,5 mg/l, dan 2,5 mg/l dengan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Kinetin 1,0-2,0 mg/l berperan dalam mempengaruhi kecepatan bertunas eksplan dengan hasil tercepat pada 9-10 hari setelah inokulasi, 2) BAP berperan mendukung kemampuan eksplan menghasilkan jumlah tunas terbanyak pada umur8 msi pada konsentrasi BAP 1,5-2,5 mg/l dengan rerata jumlah tunas 4,24-5,00 tunas/eksplan. Konsentrasi BAP 0,5 mg/l mempengaruhi panjang tunas dengan rerata 2,46 cm pada umur eksplan 10 minggu setelah inokulasi.Tanaman vanili (Vanilla planifolia Andrews.) memiliki nilai ekspor yang tinggi karena Indonesia menempati peringkat ke-3 sebagai eksportir terbesar dunia setelah Madagaskar dan Perancis. Pengembangan bibit secara vegetatif dalam budidaya vanili yang memiliki beberapa kelemahan yaitu merusak tanaman induk dan rentan serangan penyakit busuk batang. Kelemahan perbanyakan vegetatif dapat diatasi dengan teknik kultur jaringan melalui penambahan sitokinin. Penelitian bertujuan untuk  1) menganalisis peran Kinetin terhadap penggandaan tunas eksplan vanili; 2) menganalisis peran BAP terhadap penggandaan tunas eksplan vanili dan 3) menganalisis interaksi peran Kinetin dan BAP terhadap penggandaan tunas eksplan vanili. Pelaksanaan penelitian pada bulan Juni-Desember 2020 bertempat di Laboraturium Kultur Jaringan Politeknik Negeri Jember menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial. Faktor pertama adalah Kinetin pada taraf  0,0 mg/l, 1,0 mg/l dan 2,0 mg/l. Faktor kedua adalah BAP pada taraf 0,5 mg/l, 1,5 mg/l, dan 2,5 mg/l dengan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Kinetin 1,0-2,0 mg/l berperan dalam mempengaruhi kecepatan bertunas eksplan dengan hasil tercepat pada 9-10 hari setelah inokulasi, 2) BAP berperan mendukung kemampuan eksplan menghasilkan jumlah tunas terbanyak pada umur8 msi pada konsentrasi BAP 1,5-2,5 mg/l dengan rerata jumlah tunas 4,24-5,00 tunas/eksplan. Konsentrasi BAP 0,5 mg/l mempengaruhi panjang tunas dengan rerata 2,46 cm pada umur eksplan 10 minggu setelah inokulasi

    Pengemasan Tepat Guna pada Benih Kedelai (Glycine max L. Merr) Selama Penyimpanan: Analisis konsepsi Steinbauer-Sadjad periode 3

    No full text
    Benih kedelai memiliki daya simpan yang rendah karena penurunan kualitas benih selama penyimpanan berlangsung lebih cepat dibandingkan benih tanaman lain. Kedelai setelah dipanen akan mengalami penurunan benih baik secara kualitatif maupun karena beberapa faktor eksternal. Pengadaan benih sering dilakukan beberapa saat sebelum musim tanam sehingga benih harus disimpan dengan baik agar memiliki daya tumbuh yang tinggi saat ditanam kembali. Pengemasan benih merupakan tindakan penyediaan lingkungan mikro yang optimal agar benih tidak dipengaruhi oleh faktor lingkungan selama penyimpanan. Penyimpanan benih kedelai dilakukan di Gudang Pusat Perbenihan, Leuwikopo IPB mulai April 2018 hingga Juli 2018. Penelitian ini mempelajari pengaruh jenis kemasan dalam mempertahankan umur simpan benih selama penyimpanan. Jenis kemasan tidak berpengaruh terhadap perkecambahan benih dan kadar air, tetapi berpengaruh terhadap potensi tumbuh maksimal dan bobot kering kecambah normal, menggunakan benih yang dikemas menggunakan jerigen plastik dan plastik kedap udara memiliki potensi tumbuh maksimal yang lebih tinggi dibandingkan kertas semen. dan kantong plastik selama umur simpan 4 bulan. Benih yang disimpan selama 1 tahun dalam 4 kemasan mengalami penurunan viabilitas yang drastis, meskipun disimpan pada suhu 17-19° C dan RH 53-55%.Benih kedelai memiliki daya simpan yang rendah karena penurunan kualitas benih selama penyimpanan berlangsung lebih cepat dibandingkan benih tanaman lain. Kedelai setelah dipanen akan mengalami penurunan benih baik secara kualitatif maupun karena beberapa faktor eksternal. Pengadaan benih sering dilakukan beberapa saat sebelum musim tanam sehingga benih harus disimpan dengan baik agar memiliki daya tumbuh yang tinggi saat ditanam kembali. Pengemasan benih merupakan tindakan penyediaan lingkungan mikro yang optimal agar benih tidak dipengaruhi oleh faktor lingkungan selama penyimpanan. Penyimpanan benih kedelai dilakukan di Gudang Pusat Perbenihan, Leuwikopo IPB mulai April 2018 hingga Juli 2018. Penelitian ini mempelajari pengaruh jenis kemasan dalam mempertahankan umur simpan benih selama penyimpanan. Jenis kemasan tidak berpengaruh terhadap perkecambahan benih dan kadar air, tetapi berpengaruh terhadap potensi tumbuh maksimal dan bobot kering kecambah normal, menggunakan benih yang dikemas menggunakan jerigen plastik dan plastik kedap udara memiliki potensi tumbuh maksimal yang lebih tinggi dibandingkan kertas semen. dan kantong plastik selama umur simpan 4 bulan. Benih yang disimpan selama 1 tahun dalam 4 kemasan mengalami penurunan viabilitas yang drastis, meskipun disimpan pada suhu 17-19° C dan RH 53-55%

    Respon Tanaman Brokoli (Brassica oleracea) terhadap Pupuk Organik Cair

    No full text
    Penggunaan pupuk organik sebagai alternatif pengganti pupuk anorganik dapat mengurangi pencemaran lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh jenis dan konsentrasi pupuk organik cair (POC) terhadap pertumbuhan dan hasil brokoli (Brassica oleracea). Penelitian dilaksanakan di IP2TP Berastagi pada bulan Mei sampai dengan September 2020. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 kali ulangan dan 10 perlakuan.  Perlakuan yang diuji adalah sebagai berikut: A: tanpa POC (Kontrol), B: POC kotciplus 10 ml/L, C: POC kotciplus 20 ml/L D: POC kotciplus 30 ml/L, E: POC kipait 10 ml/L, F: POC kipait 20 ml/L, G: POC kipait 30 ml/L, H:  POC limbah buah 10 ml/L, I: POC limbah buah 20 ml/L, J:  POC limbah buah 30 ml/L. Hasil penelitian menunjukkan bahwa POC yang terbaik adalah POC kotciplus. POC kotciplus 20 ml/L, dan POC kotciplus 30 ml/L menunjukkan diameter kanopi terlebar yaitu masing-masing (52,35 cm dan 51,71 cm). Pemberian POC kotciplus 30 ml/L mampu meningkatkan hasil brokoli dilihat dari diameter bunga, bobot bunga per tanaman, bobot kuntum dan bobot bunga per plot.Penggunaan pupuk organik sebagai alternatif pengganti pupuk anorganik dapat mengurangi pencemaran lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh jenis dan konsentrasi pupuk organik cair (POC) terhadap pertumbuhan dan hasil brokoli (Brassica oleracea). Penelitian dilaksanakan di IP2TP Berastagi pada bulan Mei sampai dengan September 2020. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 kali ulangan dan 10 perlakuan.  Perlakuan yang diuji adalah sebagai berikut: A: tanpa POC (Kontrol), B: POC kotciplus 10 ml/L, C: POC kotciplus 20 ml/L D: POC kotciplus 30 ml/L, E: POC kipait 10 ml/L, F: POC kipait 20 ml/L, G: POC kipait 30 ml/L, H:  POC limbah buah 10 ml/L, I: POC limbah buah 20 ml/L, J:  POC limbah buah 30 ml/L. Hasil penelitian menunjukkan bahwa POC yang terbaik adalah POC kotciplus. POC kotciplus 20 ml/L, dan POC kotciplus 30 ml/L menunjukkan diameter kanopi terlebar yaitu masing-masing (52,35 cm dan 51,71 cm). Pemberian POC kotciplus 30 ml/L mampu meningkatkan hasil brokoli dilihat dari diameter bunga, bobot bunga per tanaman, bobot kuntum dan bobot bunga per plot

    Respon Pertumbuhan dan Hasil Padi Hitam (Oryza sativa L) Lokal Banyuwangi terhadap Aplikasi Beberapa Jenis Pupuk Kandang

    No full text
    Beras hitam merupakan varietas lokal yang mengandung pigmen paling baik, memiliki rasa dan aroma yang baik dengan penampilan yang spesifik dan unik. Beras hitam masih jarang dibudidayakan dan dikonsumsi oleh masyarakat dikarenakan banyak masyarakat yang belum familiar tentang beras hitam, umur tanam padi hitam yang lebih panjang dibandingkan padi putih (bisa mencapai 5-6 bulan), dan produktivitasnya yang lebih rendah dibandingkan padi putih. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kuantitas padi hitam adalah dengan pemupukan, baik organik maupun anorganik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis dan taraf pupuk organik terbaik yang didapatkan dari pupuk kandang untuk dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil beras hitam. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 2 faktor yaitu jenis pupuk kandang dan taraf pupuk kandang. Pupuk kandang yang digunakan yaitu pupuk kandang ayam, pupuk kandang sapi, dan pupuk kandang kambing. Taraf pupuk kandang yang digunakan adalah 0% (0 g), 50% (6,25 g), 100% (12,5 g), 150% (18,75 g), 200% (25 g), dan 250% (31,25 g) dengan tiga ulangan. Perlakuan pupuk kandang kambing sebanyak 18,75 g mampu meningkatkan kandungan klorofil hingga 2,67 mg/g.Beras hitam merupakan varietas lokal yang mengandung pigmen paling baik, memiliki rasa dan aroma yang baik dengan penampilan yang spesifik dan unik. Beras hitam masih jarang dibudidayakan dan dikonsumsi oleh masyarakat dikarenakan banyak masyarakat yang belum familiar tentang beras hitam, umur tanam padi hitam yang lebih panjang dibandingkan padi putih (bisa mencapai 5-6 bulan), dan produktivitasnya yang lebih rendah dibandingkan padi putih. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kuantitas padi hitam adalah dengan pemupukan, baik organik maupun anorganik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis dan taraf pupuk organik terbaik yang didapatkan dari pupuk kandang untuk dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil beras hitam. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 2 faktor yaitu jenis pupuk kandang dan taraf pupuk kandang. Pupuk kandang yang digunakan yaitu pupuk kandang ayam, pupuk kandang sapi, dan pupuk kandang kambing. Taraf pupuk kandang yang digunakan adalah 0% (0 g), 50% (6,25 g), 100% (12,5 g), 150% (18,75 g), 200% (25 g), dan 250% (31,25 g) dengan tiga ulangan. Perlakuan pupuk kandang kambing sebanyak 18,75 g mampu meningkatkan kandungan klorofil hingga 2,67 mg/g

    Induksi Kalus Morfogenik dan Regenerasi Tanaman Tebu (Saccharum officinarum L.) secara In Vitro

    No full text
    Propagasi in vitro merupakan cara memperoleh tanaman baru yang sehat secara cepat dan massal, Percobaan in vitro dilaksanakan untuk menginduksi kalus morfogenik dan regenerasi dari varietas tebu domestik.  Bagian terdalam gulungan daun tebu digunakan sebagai eksplan dan diinkubasi pada medium MS yang dimodifikasi dan dilengkapi dengan 2,4-D pada konsentrasi 1 mg/l, 2.5 mg/l, dan 5 mg/l untuk menginduksi pembentukan kalus.  Kalus yang terbentuk di medium induksi selanjutnya dipindahkan ke medium MS yang diperkaya dengan zat pengatur tumbuh untuk inisiasi dan perbanyakan tunas.  Persentase pembentukan kalus tertinggi dicapai pada penggunaan medium yang mengandung 2.5 mg/l 2,4-D dan maksimal proliferasi kalus morfogenik diperoleh setelah subkultur ketiga.  Dua tipe kalus yang terbentuk pada medium induksi yaitu berstruktur kering, remah dan struktur halus kompak.  Jenis kalus yang morfogenik tersebut berwarna putih dan putih kekuningan serta mudah terpisah-pisah.  Hasil proliferasi tunas dari kalus tertinggi diperoleh pada medium MS dengan kombinasi hormon tumbuh 2 mg/l Kinetin + 1 mg/l IAA dan tidak ada pertumbuhan tunas pada medium yang ditambahkan zat pengatur tumbuh tunggal, yaitu Kinetin.  Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa hormon tumbuh jenis sitokinin yang dikombinasi dengan auksin sangat dibutuhkan untuk regenerasi kalus tebu secara in vitro.Propagasi in vitro merupakan cara memperoleh tanaman baru yang sehat secara cepat dan massal, Percobaan in vitro dilaksanakan untuk menginduksi kalus morfogenik dan regenerasi dari varietas tebu domestik.  Bagian terdalam gulungan daun tebu digunakan sebagai eksplan dan diinkubasi pada medium MS yang dimodifikasi dan dilengkapi dengan 2,4-D pada konsentrasi 1 mg/l, 2.5 mg/l, dan 5 mg/l untuk menginduksi pembentukan kalus.  Kalus yang terbentuk di medium induksi selanjutnya dipindahkan ke medium MS yang diperkaya dengan zat pengatur tumbuh untuk inisiasi dan perbanyakan tunas.  Persentase pembentukan kalus tertinggi dicapai pada penggunaan medium yang mengandung 2.5 mg/l 2,4-D dan maksimal proliferasi kalus morfogenik diperoleh setelah subkultur ketiga.  Dua tipe kalus yang terbentuk pada medium induksi yaitu berstruktur kering, remah dan struktur halus kompak.  Jenis kalus yang morfogenik tersebut berwarna putih dan putih kekuningan serta mudah terpisah-pisah.  Hasil proliferasi tunas dari kalus tertinggi diperoleh pada medium MS dengan kombinasi hormon tumbuh 2 mg/l Kinetin + 1 mg/l IAA dan tidak ada pertumbuhan tunas pada medium yang ditambahkan zat pengatur tumbuh tunggal, yaitu Kinetin.  Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa hormon tumbuh jenis sitokinin yang dikombinasi dengan auksin sangat dibutuhkan untuk regenerasi kalus tebu secara in vitro

    Potensi Fungisida Perlakuan Benih terhadap Perenosclerospora sp. penyebab Penyakit Bulai Jagung

    No full text
    Jamur patogen Perenosclerospora sp. merupakan penyakit penting pada tanaman jagung. Dampak yang ditimbulkan dapat menimbulkan kerugian hingga 100%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bahan aktif fungisida sebagai perlakuan benih dalam mengendalikan penyakit bulai (Perenosclerospora sp.) pada tanaman jagung. Penelitian dilaksanakan dengan diawali menanam tanaman jagung yang diinokulasi bulai sebagai tanaman spreader (sumber inokulum alami) dan pembatas antar perlakuan. Selanjutnya saat tanaman border sudah terinfeksi bulai baru ditanam benih perlakuan yang sudah dicampur dengan bahan aktif fungisida. Penelitian disusun dalam rancangan acak lengkap dengan delapan perlakuan dengan tiga ulangan. Perlakuan terdiri atas kontrol tanpa fungisida (P0), dimetomorf (P1), dimetomorf + piraklostrobin (P2), fenamidon (P3), fenamidon dan propamokarb hodroklorida (P4), metalaksil (P5), mefenoksam (P6), dan fluopikolid+propineb (P7). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan kontrol lebih bagus dalam meningkatkan daya kecambah dibandingkan dengan menggunakan fungisida. Benih jagung yang diberikan perlakukan bahan aktif dimetomorf + piraklostrobin memiliki potensi yang paling tinggi dalam menekan keterjadian penyakit bulai pada jagung manis dan mampu meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman jagung yang dibandingkan perlakuan lainnya.Jamur patogen Perenosclerospora sp. merupakan penyakit penting pada tanaman jagung. Dampak yang ditimbulkan dapat menimbulkan kerugian hingga 100%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bahan aktif fungisida sebagai perlakuan benih dalam mengendalikan penyakit bulai (Perenosclerospora sp.) pada tanaman jagung. Penelitian dilaksanakan dengan diawali menanam tanaman jagung yang diinokulasi bulai sebagai tanaman spreader (sumber inokulum alami) dan pembatas antar perlakuan. Selanjutnya saat tanaman border sudah terinfeksi bulai baru ditanam benih perlakuan yang sudah dicampur dengan bahan aktif fungisida. Penelitian disusun dalam rancangan acak lengkap dengan delapan perlakuan dengan tiga ulangan. Perlakuan terdiri atas kontrol tanpa fungisida (P0), dimetomorf (P1), dimetomorf + piraklostrobin (P2), fenamidon (P3), fenamidon dan propamokarb hodroklorida (P4), metalaksil (P5), mefenoksam (P6), dan fluopikolid+propineb (P7). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan kontrol lebih bagus dalam meningkatkan daya kecambah dibandingkan dengan menggunakan fungisida. Benih jagung yang diberikan perlakukan bahan aktif dimetomorf + piraklostrobin memiliki potensi yang paling tinggi dalam menekan keterjadian penyakit bulai pada jagung manis dan mampu meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman jagung yang dibandingkan perlakuan lainnya

    Efektivitas Ekstrak Daun Nerium oleander L. terhadap Populasi dan Intensitas Serangan Spodoptera exigua (Hubner.) dan Pengaruhnya pada Produksi Bawang Merah

    Get PDF
    Penggunaan insektisida dalam pengendalian hama telah menimbulkan berbagai dampak negatif terutama terjadinya kerusakan ekosistem pertanaman. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi penggunaan insektisida kimia sintetis adalah dengan memanfaatkan bahan tanaman yang berpotensi sebagai pestisida nabati. Tumbuhan bunga mentega (Nerium oleander Linn.) memiliki potensi sebagai insektisida nabati karena mengandung zat oleandrin yang dapat bekerja sebagai racun perut dan penghambat daya makan larva. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai konsentrasi ekstrak daun bunga mentega N. oleander pada pertanaman bawang merah verietas Lembah Palu Allium cepa var. aggregatum terhadap padat populasi dan intensitas serangan hama ulat bawang Spodoptera exigua dan hasil produksi bawang merah di lahan kering. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei 2018 sampai bulan Februari 2019. di Desa Sidera, Kecamatan Sigi Biromaru Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 6 perlakuan yaitu K0: tanpa ekstrak, K1: ekstrak N. oleander 2,69 g/L, K2: ekstrak N. oleander 5,38 g/L, K3: ekstrak N. oleander 10,75 g/L, K4: ekstrak N. oleander 21,5 g/L, dan K5: ekstrak N. oleander 43,0 g/L. Variabel pengamatan meliputi padat populasi dan intensitas serangan ulat bawang S. exigua dan produksi bawang merah. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis varians yang dilanjutkan dengan uji BNJ 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi 43,0 g/L menekan populasi dan intensitas serangan larva S. exigua masing-masing sebesar 1,58 ekor menjadi 0,71 ekor dan 2,79% menjadi 0,71%. Produksi yang dicapai meningkat pada perlakuan K5 yakni dari 4,97 t/ha menjadi 8,67 t/ha.Penggunaan insektisida dalam pengendalian hama telah menimbulkan berbagai dampak negatif terutama terjadinya kerusakan ekosistem pertanaman. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi penggunaan insektisida kimia sintetis adalah dengan memanfaatkan bahan tanaman yang berpotensi sebagai pestisida nabati. Tumbuhan bunga mentega (Nerium oleander Linn.) memiliki potensi sebagai insektisida nabati karena mengandung zat oleandrin yang dapat bekerja sebagai racun perut dan penghambat daya makan larva. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai konsentrasi ekstrak daun bunga mentega N. oleander pada pertanaman bawang merah verietas Lembah Palu Allium cepa var. aggregatum terhadap padat populasi dan intensitas serangan hama ulat bawang Spodoptera exigua dan hasil produksi bawang merah di lahan kering. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei 2018 sampai bulan Februari 2019. di Desa Sidera, Kecamatan Sigi Biromaru Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 6 perlakuan yaitu K0: tanpa ekstrak, K1: ekstrak N. oleander 2,69 g/L, K2: ekstrak N. oleander 5,38 g/L, K3: ekstrak N. oleander 10,75 g/L, K4: ekstrak N. oleander 21,5 g/L, dan K5: ekstrak N. oleander 43,0 g/L. Variabel pengamatan meliputi padat populasi dan intensitas serangan ulat bawang S. exigua dan produksi bawang merah. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis varians yang dilanjutkan dengan uji BNJ 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi 43,0 g/L menekan populasi dan intensitas serangan larva S. exigua masing-masing sebesar 1,58 ekor menjadi 0,71 ekor dan 2,79% menjadi 0,71%. Produksi yang dicapai meningkat pada perlakuan K5 yakni dari 4,97 t/ha menjadi 8,67 t/ha

    Isolasi Cendawan Aspergillus sp. pada Tanaman Padi Organik

    No full text
    Penelitian bertujuan agar dapat mengidentifikasi karakteristik cendawan Aspergillus sp. secara makroskopis, jumlah koloni, kecepatan tumbuh cendawan dan kepadatan spora cendawan Aspergillus sp. yang telah diisolasi dari dua lokasi berbeda. Penelitian ini dilakukan dari September 2019 hingga November 2019. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey, yaitu dengan membandingkan cendawan Aspergillus sp yang dapat diisolasi dari 2 lahan yang berbeda. Data dari hasil penelitian yang diperoleh kemudian dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari kedua lokasi pengambilan sampel tanah pada lokasi pertama jamur Aspergillus sp. dapat diisolasi pada kedalaman 20-25 cm dari permukaan tanah. Sedangkan di lokasi kedua, jamur Aspergillus sp. dapat diisolasi pada kedalaman 10-15 cm dan 20-25 cm dari permukaan tanah dan memiliki karakteristik morfologi berupa koloni berwarna hitam, hifa bersekat, konidia bulat, konidiofor tegak dan tidak bercabang serta vesikel yang berbentuk bulat. Kemudian untuk jumlah koloni cendawan Aspergillus sp. yang dapat diisolasi dari Desa Lombok Kulon dan Desa Sulek menunjukkan hasil yang berbeda nyata. Sedangkan untuk kecepatan pertumbuhan dan nilai kepadatan spora cendawan Aspergillus sp. dari kedua lokasi menunjukkan hasil yang berbeda tidak nyata.Penelitian bertujuan agar dapat mengidentifikasi karakteristik cendawan Aspergillus sp. secara makroskopis, jumlah koloni, kecepatan tumbuh cendawan dan kepadatan spora cendawan Aspergillus sp. yang telah diisolasi dari dua lokasi berbeda. Penelitian ini dilakukan dari September 2019 hingga November 2019. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey, yaitu dengan membandingkan cendawan Aspergillus sp yang dapat diisolasi dari 2 lahan yang berbeda. Data dari hasil penelitian yang diperoleh kemudian dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari kedua lokasi pengambilan sampel tanah pada lokasi pertama jamur Aspergillus sp. dapat diisolasi pada kedalaman 20-25 cm dari permukaan tanah. Sedangkan di lokasi kedua, jamur Aspergillus sp. dapat diisolasi pada kedalaman 10-15 cm dan 20-25 cm dari permukaan tanah dan memiliki karakteristik morfologi berupa koloni berwarna hitam, hifa bersekat, konidia bulat, konidiofor tegak dan tidak bercabang serta vesikel yang berbentuk bulat. Kemudian untuk jumlah koloni cendawan Aspergillus sp. yang dapat diisolasi dari Desa Lombok Kulon dan Desa Sulek menunjukkan hasil yang berbeda nyata. Sedangkan untuk kecepatan pertumbuhan dan nilai kepadatan spora cendawan Aspergillus sp. dari kedua lokasi menunjukkan hasil yang berbeda tidak nyata

    Pengaruh Aplikasi Pupuk Organik Cair dan ZPT Alami terhadap Pertumbuhan Tanaman Padi Salibu di Sawah Basah

    Get PDF
    Salibu adalah sistem budidaya dengan tunas tanaman padi yang tumbuh dari tunggul yang telah dipanen, sehingga dapat memberikan tambahan produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kombinasi pupuk organik cair (POC) Eco Farming dan zat pengatur tumbuh (ZPT) alami pada pertumbuhan padi salibu. Penelitian dilaksanakan di lahan pertanian di Desa Pademawu Timur, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok non faktorial yang terdiri dari 4 macam perlakuan yaitu Kontrol  (P0), ZPT 14 ml/L (P1), Pupuk Organik Cair (POC) Eco Farming 3 ml/L (P2), dan ZPT 14 ml/L + Pupuk Organik Cair (POC) Eco Farming 3 ml/L (P3). Perlakuan diulang sebanyak 4 kali sehingga diperoleh 16 perlakuan dengan uji lanjut BNT 5%. Kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini adalah Pemberian POC yang dikombinasikan dengan ZPT mampu memberikan pertumbuhan yang baik pada tanaman padi salibu.Salibu adalah sistem budidaya dengan tunas tanaman padi yang tumbuh dari tunggul yang telah dipanen, sehingga dapat memberikan tambahan produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kombinasi pupuk organik cair (POC) Eco Farming dan zat pengatur tumbuh (ZPT) alami pada pertumbuhan padi salibu. Penelitian dilaksanakan di lahan pertanian di Desa Pademawu Timur, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok non faktorial yang terdiri dari 4 macam perlakuan yaitu Kontrol  (P0), ZPT 14 ml/L (P1), Pupuk Organik Cair (POC) Eco Farming 3 ml/L (P2), dan ZPT 14 ml/L + Pupuk Organik Cair (POC) Eco Farming 3 ml/L (P3). Perlakuan diulang sebanyak 4 kali sehingga diperoleh 16 perlakuan dengan uji lanjut BNT 5%. Kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini adalah Pemberian POC yang dikombinasikan dengan ZPT mampu memberikan pertumbuhan yang baik pada tanaman padi salibu

    Pengaruh Aplikasi Abu Terbang dan Pupuk Kotoran Sapi terhadap Populasi Mikroorganisme di Tanah Ultisol

    No full text
    Ultisol tergolong tanah kering masam yang paling luas di Indonesia tetapi minim dimanfaatkan untuk bidang pertanian. Hal ini karena kandungan Al yang tinggi, kurangnya unsur hara, dan rendahnya nilai pH, sehingga perlu dilakukan perbaikan kondisi tanah. Fly ash dan pupuk kotoran sapi merupakan bahan yang dapat digunakan sebagai pembenah tanah ultisol. Fly ash merupakan limbah pembakaran batu bara dengan kandungan unsur hara dan dapat menaikkan pH tanah. Pupuk kotoran sapi mengandung unsur hara yang berperan dalam memperbaiki  sifat biologi, kimia, dan fisika tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan populasi mikroorganisme tanah dengan penggunaan fly ash dan pupuk kotoran sapi sebagai pembenah tanah ultisol. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap yang disusun secara Faktorial dengan 3 ulangan sehingga terdapat 36 satuan percobaan. Faktor pertama adalah dosis fly ash dan faktor kedua adalah dosis pupuk kotoran sapi. Variabel pengamatan berupa (total fungi, total bakteri, dan unsur kimia tanah). Hasil penelitian menunjukan bahwa  penggunaan bahan pembenah tanah berupa  fly ash dan pupuk kotoran sapi dapat mempengaruhi populasi mikroorganisme tanah dan sifat kimia pada tanah utisol. Populasi mikroorganisme tertinggi didapatkan pada dosis fly ash 100 t/ha dengan total populasi bakteri 7,6x105±1,78 Log CFU /g dan populasi fungi 17,8x107±1,29 Log CFU /g. Sedangkan dosis pupuk kandang sapi 10, 20, 30 t/ha tidak berbeda nyata pada variabel yang diamati. Penggunaan dosis fly ash 150 t/ha meningkatkan pH tanah mencapai 7,29, kandungan N 0,08%, P 52,36 mg/kg, K 26,48 mg/kg, dan C-Organik sebesar 1,12 %.Ultisol tergolong tanah kering masam yang paling luas di Indonesia tetapi minim dimanfaatkan untuk bidang pertanian. Hal ini karena kandungan Al yang tinggi, kurangnya unsur hara, dan rendahnya nilai pH, sehingga perlu dilakukan perbaikan kondisi tanah. Fly ash dan pupuk kotoran sapi merupakan bahan yang dapat digunakan sebagai pembenah tanah ultisol. Fly ash merupakan limbah pembakaran batu bara dengan kandungan unsur hara dan dapat menaikkan pH tanah. Pupuk kotoran sapi mengandung unsur hara yang berperan dalam memperbaiki  sifat biologi, kimia, dan fisika tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan populasi mikroorganisme tanah dengan penggunaan fly ash dan pupuk kotoran sapi sebagai pembenah tanah ultisol. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap yang disusun secara Faktorial dengan 3 ulangan sehingga terdapat 36 satuan percobaan. Faktor pertama adalah dosis fly ash dan faktor kedua adalah dosis pupuk kotoran sapi. Variabel pengamatan berupa (total fungi, total bakteri, dan unsur kimia tanah). Hasil penelitian menunjukan bahwa  penggunaan bahan pembenah tanah berupa  fly ash dan pupuk kotoran sapi dapat mempengaruhi populasi mikroorganisme tanah dan sifat kimia pada tanah utisol. Populasi mikroorganisme tertinggi didapatkan pada dosis fly ash 100 t/ha dengan total populasi bakteri 7,6x105±1,78 Log CFU /g dan populasi fungi 17,8x107±1,29 Log CFU /g. Sedangkan dosis pupuk kandang sapi 10, 20, 30 t/ha tidak berbeda nyata pada variabel yang diamati. Penggunaan dosis fly ash 150 t/ha meningkatkan pH tanah mencapai 7,29, kandungan N 0,08%, P 52,36 mg/kg, K 26,48 mg/kg, dan C-Organik sebesar 1,12 %

    66

    full texts

    164

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇