Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences
Not a member yet
    164 research outputs found

    Efektivitas Jenis Asam Amino dan Variasi Konsentrasi Sukrosa terhadap Pertumbuhan Planlet Kentang (Solanum tuberosum L.)

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan planlet kentang dengan penambahan asam amino dan variasi konsentrasi sukrosa serta untuk mengetahui jenis asam amino dan konsentrasi sukrosa terbaik untuk pertumbuhan planlet kentang. Penelitian telah dilaksanakan di Laboratorium Biosain Politeknik Negeri Jember pada Agustus 2017 sampai Januari 2018. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan 2 faktor dan 4 ulangan. Faktor pertama adalah jenis Asam amino (A), terdiri atas: Kasein Hidrolisat 100 ppm (A1), Kasein Hidrolisat 200 ppm (A2), Glutamin 100 ppm (A3), Glutamin 200 ppm (A4), Glisin 100 ppm (A5), Glisin 200 ppm (A6).Faktor kedua konsentrasi sukrosa, terdiri atas: 20 g/L (S1), 30 g/L (S2), dan 40 g/L (S3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa glutamin 100 ppmmenghasilkan tanaman tertinggi. Perlakuan sukrosa terbaik adalah 30 g/L yang menghasilkan jumlah daun, jumlah ruas, bobot planlet dan tinggi tanaman tertinggi. Interaksi perlakuan terbaik pada glutamin 100 ppm dengan sukrosa 30 g/L yang memberikan bobot planlet dan tinggi optimal.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan planlet kentang dengan penambahan asam amino dan variasi konsentrasi sukrosa serta untuk mengetahui jenis asam amino dan konsentrasi sukrosa terbaik untuk pertumbuhan planlet kentang. Penelitian telah dilaksanakan di Laboratorium Biosain Politeknik Negeri Jember pada Agustus 2017 sampai Januari 2018. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan 2 faktor dan 4 ulangan. Faktor pertama adalah jenis Asam amino (A), terdiri atas: Kasein Hidrolisat 100 ppm (A1), Kasein Hidrolisat 200 ppm (A2), Glutamin 100 ppm (A3), Glutamin 200 ppm (A4), Glisin 100 ppm (A5), Glisin 200 ppm (A6).Faktor kedua konsentrasi sukrosa, terdiri atas: 20 g/L (S1), 30 g/L (S2), dan 40 g/L (S3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa glutamin 100 ppmmenghasilkan tanaman tertinggi. Perlakuan sukrosa terbaik adalah 30 g/L yang menghasilkan jumlah daun, jumlah ruas, bobot planlet dan tinggi tanaman tertinggi. Interaksi perlakuan terbaik pada glutamin 100 ppm dengan sukrosa 30 g/L yang memberikan bobot planlet dan tinggi optimal

    Aplikasi Teknik Detasseling dan Rasio Pemupukan Fosfor dan Kalium terhadap Hasil Panen Jagung

    Get PDF
    Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hasil panen jagung melalui aplikasi teknik detasseling dan rasio pemupukan fosfor dan kalium. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus sampai Desember 2016 di Desa Kemuning Lor, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan 2 faktor, 4 ulangan dan 6 perlakuan. Faktor pertama adalah aplikasi detasseling yang terdiri dari 2 taraf, A1= detasseling, A2= nondetasseling. Faktor kedua adalah rasio pemupukan Fosfor dan Kalium yang terdiri dari 3 taraf, B1= SP-36 1,6 gr/tan dan KCl 1 gr/tan, B2= SP-36 2 gr/tan dan KCl 1,6 gr/tan, B3= SP-36 2,5 gr/tan dan KCl 2 gr/tan. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan selanjutnya diuji lanjut menggunakan DMRT taraf 5%. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa aplikasi detasselingmemberikan pengaruh nyata terhadap hasil panen bobot tongkol kering berkelobot persampel 203,05 gr, bobot tongkol tanpa kelobot 174,75 gr, panjang tongkol  16,54 cm, bobot pipilan kering persampel 106,58 gr, dan bobot pipilan perplot 6607,33 gr. Sehingga aplikasi detasseling mampu meningkatkan hasil panen tongkol sebesar 6,01% dan pipilan kering sebesar 15% dibandingkan tanpa detasseling.Sedangkan perlakuan rasio pemupukan fosfor dan kalium serta Interaksi keduanya memberikan pengaruh tidak nyata.Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hasil panen jagung melalui aplikasi teknik detasseling dan rasio pemupukan fosfor dan kalium. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus sampai Desember 2016 di Desa Kemuning Lor, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan 2 faktor, 4 ulangan dan 6 perlakuan. Faktor pertama adalah aplikasi detasseling yang terdiri dari 2 taraf, A1= detasseling, A2= nondetasseling. Faktor kedua adalah rasio pemupukan Fosfor dan Kalium yang terdiri dari 3 taraf, B1= SP-36 1,6 gr/tan dan KCl 1 gr/tan, B2= SP-36 2 gr/tan dan KCl 1,6 gr/tan, B3= SP-36 2,5 gr/tan dan KCl 2 gr/tan. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan selanjutnya diuji lanjut menggunakan DMRT taraf 5%. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa aplikasi detasselingmemberikan pengaruh nyata terhadap hasil panen bobot tongkol kering berkelobot persampel 203,05 gr, bobot tongkol tanpa kelobot 174,75 gr, panjang tongkol  16,54 cm, bobot pipilan kering persampel 106,58 gr, dan bobot pipilan perplot 6607,33 gr. Sehingga aplikasi detasseling mampu meningkatkan hasil panen tongkol sebesar 6,01% dan pipilan kering sebesar 15% dibandingkan tanpa detasseling.Sedangkan perlakuan rasio pemupukan fosfor dan kalium serta Interaksi keduanya memberikan pengaruh tidak nyata

    Pemanfaatan Limbah Kardus dan Pupuk Organik Cair Sebagai Campuran Media Tanam Pertumbuhan Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus)

    Get PDF
    Jamur Tiram putih (Pleurotus ostreatus) merupakan salah satu jamur yang dimanfaatkan untuk bahan makanan karena kandungan gizi yang lebih baik dibandingkan dengan jamur lain. Upaya untuk meningkatkan produksi jamur ini masih terus dilakukan, misalnya dengan penggunaan campuran media tanam dan aplikasi pupuk organik cair. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jenis campuran media tanam, pemberian pupuk cair serta interaksi keduanya guna pertumbuhan jamur tiram putih. Kegiatan penelitian ini dilaksanakan di Rumah Jamur Agrojamur Kecamatan Baturaden, Kabupaten Banyumas. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak kelompok  lengkap (RAKL) dengan 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama yaitu jenis campuran media tanam dan dosis pupuk organik cair. Variabel yang diamati pada penelitian ini adalah saat muncul tubuh buah, jumlah tubuh buah jamur keseluruhan, kadar air jamur, berat segar dan kering jamur saat panen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan komposisi media tanam menggunakan serbuk gergaji tanpa potongan kardus mampu meningkatkan berat segar jamur, berat kering jamur, dan jumlah tubuh buah jamur. Perlakuan menggunakan campuran media tanam (25% serbuk gergaji + 75% kardus) mampu meningkatkan waktu munculnya tubuh buah jamur dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Aplikasi pupuk organik cair dan interaksi antara kedua perlakuan tidak memberikan pengaruh yang nyata bagi pertumbuhan jambur tiram putih.Jamur Tiram putih (Pleurotus ostreatus) merupakan salah satu jamur yang dimanfaatkan untuk bahan makanan karena kandungan gizi yang lebih baik dibandingkan dengan jamur lain. Upaya untuk meningkatkan produksi jamur ini masih terus dilakukan, misalnya dengan penggunaan campuran media tanam dan aplikasi pupuk organik cair. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jenis campuran media tanam, pemberian pupuk cair serta interaksi keduanya guna pertumbuhan jamur tiram putih. Kegiatan penelitian ini dilaksanakan di Rumah Jamur Agrojamur Kecamatan Baturaden, Kabupaten Banyumas. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak kelompok  lengkap (RAKL) dengan 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama yaitu jenis campuran media tanam dan dosis pupuk organik cair. Variabel yang diamati pada penelitian ini adalah saat muncul tubuh buah, jumlah tubuh buah jamur keseluruhan, kadar air jamur, berat segar dan kering jamur saat panen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan komposisi media tanam menggunakan serbuk gergaji tanpa potongan kardus mampu meningkatkan berat segar jamur, berat kering jamur, dan jumlah tubuh buah jamur. Perlakuan menggunakan campuran media tanam (25% serbuk gergaji + 75% kardus) mampu meningkatkan waktu munculnya tubuh buah jamur dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Aplikasi pupuk organik cair dan interaksi antara kedua perlakuan tidak memberikan pengaruh yang nyata bagi pertumbuhan jambur tiram putih

    Pengaruh Blotong Sebagai Media Tanam Terhadap Pertumbuhan Bibit Tebu (Saccharum officinarum L.) Tiga Varietas Sistem Bud Chips

    No full text
    Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui interaksi antara komposisi media tanam dan tiga varietas tebu sistem bud chips. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 02 Januari - 31 Mei 2017 bertempat di Lahan Politeknik Negeri Jember. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor dan diulang tiga kali. Faktor pertama adalah komposisi media tanam (M) yaitu M1 = tanah : blotong (50% : 50%), M2 = tanah : blotong (30% : 70%), M3 = tanah : blotong : pasir (10% : 70% : 20%) dan M4 = blotong (100%). Faktor ke-dua adalah varietas tebu (V) yaitu V1 = Varietas PS 881, V2 = Varietas PS 862 dan V3 = Varietas PS 864. Hasil sidik ragam signifikan, diuji lanjut dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT). Berdasarkan hasil analisa bahwa perlakuan komposisi media tanam menunjukkan berbeda nyata pada berat basah akar. Perlakuan varietas berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, diameter batang, jumlah anakan, panjang akar, berat basah akar dan berat kering akar. Perlakuan interaksi berpengaruh nyata terhadap diameter batang, jumlah anakan, berat basah akar dan berat kering akar. Sedangkan jumlah daun dan berat basah brangkasan menunjukkan berpengaruh tidak nyata dari semua perlakuan yang diujikan terhadap pertumbuhan bibit tebu sistem bud chips.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui interaksi antara komposisi media tanam dan tiga varietas tebu sistem bud chips. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 02 Januari - 31 Mei 2017 bertempat di Lahan Politeknik Negeri Jember. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor dan diulang tiga kali. Faktor pertama adalah komposisi media tanam (M) yaitu M1 = tanah : blotong (50% : 50%), M2 = tanah : blotong (30% : 70%), M3 = tanah : blotong : pasir (10% : 70% : 20%) dan M4 = blotong (100%). Faktor ke-dua adalah varietas tebu (V) yaitu V1 = Varietas PS 881, V2 = Varietas PS 862 dan V3 = Varietas PS 864. Hasil sidik ragam signifikan, diuji lanjut dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT). Berdasarkan hasil analisa bahwa perlakuan komposisi media tanam menunjukkan berbeda nyata pada berat basah akar. Perlakuan varietas berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, diameter batang, jumlah anakan, panjang akar, berat basah akar dan berat kering akar. Perlakuan interaksi berpengaruh nyata terhadap diameter batang, jumlah anakan, berat basah akar dan berat kering akar. Sedangkan jumlah daun dan berat basah brangkasan menunjukkan berpengaruh tidak nyata dari semua perlakuan yang diujikan terhadap pertumbuhan bibit tebu sistem bud chips

    Uji Ketahanan Tujuh Genotipe Kedelai (Glicine max (L.) Merril) Terhadap Serangan Karat Daun (Phakopsora pachyrhizi) Metode IWGSR

    Get PDF
    Salah satu faktor yang menyebabkan penurunan produksi kedelai adalah serangan penyakit karat daun yang disebabkan oleh jamur Phakopsora pachyrhizi. Untuk mendapatkan varietas unggul baru yang tahan terhadap serangan penyakit karat daun dapat dilakukan melalui kegiatan pemuliaan tanaman dan penujian tingkat ketahanannya menggunakan uji ketahanan metode IWGSR (International Working of Soybean Rush). Penelitian ini dilakukan di Desa Banjarsengon, Patrang, Jember. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Non Faktorial dengan 13 genotipe yang terdiri dari 4 tetua, meliputi: (1) Rajabasa, (2) Dering, (3) Polije-2 dan (4) Polije-3, 7 hasil persilangan RD, P2R, P2D, P2P3, P3R, P3D, P3P2 serta 2 varietas pembanding (1) Malabar, (2) Ringgit. Parameter pengamatan terdiri dari penghitungan   nilai   IWGSR, umur   berbunga, jumlah   polong, berat biji pertanaman, dan berat 100 biji. Kemudian data dianalisis menggunakan uji F (ANOVA) dilanjutkan dengan uji lanjut DMRT taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotipe P2D, P2P3, P3D, P3R dan P3P2 memiliki daya tahan terhadap serangan karat daun dengan notasi R (Resistance) dan memiliki masa berbunga cepat yaitu: 31,6 hari, 31, 8 hari, 32,2 hari, 31, 9 hari dan 32,4 hari. Hasil pertanaman ketiga genotipe tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan genotipe hasil persilangan yang lain dan empat tetua yaitu Rajabasa, Dering, Polije-2 dan Polije 3 dengan nilai P2D (16,6 gr), P2P3 (16,5 gr) serta P3D (16,9 gr). Berdasarkan penghitungan hasil per hektar genotipe P2D, P2P3, P3D, P3R dan P3P2 memiliki nilai tinggi yakni 2,76, 2,78, 2,67, 2,62 dan 2,70 ton.Salah satu faktor yang menyebabkan penurunan produksi kedelai adalah serangan penyakit karat daun yang disebabkan oleh jamur Phakopsora pachyrhizi. Untuk mendapatkan varietas unggul baru yang tahan terhadap serangan penyakit karat daun dapat dilakukan melalui kegiatan pemuliaan tanaman dan penujian tingkat ketahanannya menggunakan uji ketahanan metode IWGSR (International Working of Soybean Rush). Penelitian ini dilakukan di Desa Banjarsengon, Patrang, Jember. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Non Faktorial dengan 13 genotipe yang terdiri dari 4 tetua, meliputi: (1) Rajabasa, (2) Dering, (3) Polije-2 dan (4) Polije-3, 7 hasil persilangan RD, P2R, P2D, P2P3, P3R, P3D, P3P2 serta 2 varietas pembanding (1) Malabar, (2) Ringgit. Parameter pengamatan terdiri dari penghitungan   nilai   IWGSR, umur   berbunga, jumlah   polong, berat biji pertanaman, dan berat 100 biji. Kemudian data dianalisis menggunakan uji F (ANOVA) dilanjutkan dengan uji lanjut DMRT taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotipe P2D, P2P3, P3D, P3R dan P3P2 memiliki daya tahan terhadap serangan karat daun dengan notasi R (Resistance) dan memiliki masa berbunga cepat yaitu: 31,6 hari, 31, 8 hari, 32,2 hari, 31, 9 hari dan 32,4 hari. Hasil pertanaman ketiga genotipe tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan genotipe hasil persilangan yang lain dan empat tetua yaitu Rajabasa, Dering, Polije-2 dan Polije 3 dengan nilai P2D (16,6 gr), P2P3 (16,5 gr) serta P3D (16,9 gr). Berdasarkan penghitungan hasil per hektar genotipe P2D, P2P3, P3D, P3R dan P3P2 memiliki nilai tinggi yakni 2,76, 2,78, 2,67, 2,62 dan 2,70 ton

    Aplikasi Mikroorganisme Lokal Bonggol Pisang dan Pupuk Kandang Kambing Terhadap Produksi Kedelai (Glycine max L. Merrill) Varietas Baluran

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produksi kedelai (Glycine max L.) varietas Baluran dengan aplikasi Mikroorganisme Lokal (MOL) bonggol pisang dan pupuk kandang kambing. Penelitian ini dilakukan di lahan percobaan Politeknik Negeri Jember, menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial dengan 2 faktor dan 3 pengulangan. Faktor konsentrasi MOL (M) dengan 3 taraf meliputi: 0 ml/L air, 50 ml/L air, 100 ml/L air.  Faktor dosis Pupuk kandang kambing (K) meluputi: 0 g/plot, 4 g/plot, 6 g/plot. Analisa data menggunakan ANOVA dan diuji lanjut menggunakan DMRT 5%. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa perlakuan konsentrasi MOL bonggol pisang (M) memberikan pengaruh nyata pada parameter jumlah polong bernas persampel. Sedangkan perlakuan pupuk kandang kambing (K) yang memberikan pengaruh nyata pada parameter pengamatan berat polong kering sawah. Interaksi antara MOL bonggol pisang (M) dan pupuk kandang kambing (P) memberikan pengaruh nyata pada parameter berat polong kering sawah persampel.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produksi kedelai (Glycine max L.) varietas Baluran dengan aplikasi Mikroorganisme Lokal (MOL) bonggol pisang dan pupuk kandang kambing. Penelitian ini dilakukan di lahan percobaan Politeknik Negeri Jember, menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial dengan 2 faktor dan 3 pengulangan. Faktor konsentrasi MOL (M) dengan 3 taraf meliputi: 0 ml/L air, 50 ml/L air, 100 ml/L air.  Faktor dosis Pupuk kandang kambing (K) meluputi: 0 g/plot, 4 g/plot, 6 g/plot. Analisa data menggunakan ANOVA dan diuji lanjut menggunakan DMRT 5%. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa perlakuan konsentrasi MOL bonggol pisang (M) memberikan pengaruh nyata pada parameter jumlah polong bernas persampel. Sedangkan perlakuan pupuk kandang kambing (K) yang memberikan pengaruh nyata pada parameter pengamatan berat polong kering sawah. Interaksi antara MOL bonggol pisang (M) dan pupuk kandang kambing (P) memberikan pengaruh nyata pada parameter berat polong kering sawah persampel

    Pengaruh Konsentrasi dan Interval Pemberian Urin Sapi Fermentasi terhadap Pertumbuhan Bibit Tebu (Saccharum officinarum L.) Metode Single Bud Planting (SBP)

    Get PDF
    Salah satu teknik untuk mengoptimalkan pembibitan bibit tebu yaitu menggunakan metode single bud planting, dengan memberikan zat pengatur tumbuh alami urin sapi fermentasi. Zat pengatur tumbuh sangat penting untuk menentukan pertumbuhan dan perkembangan bibit tebu, akan tetapi konsentrasi dan interval harus diperhatikan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi dan interval pemberian urin sapi fermentasi yang tepat. Penelitian dilakukan dibulan agustus-november 2016, menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorialterdiri 2 faktor dan diulangan sebanyak 3 kali. Faktor pertama adalah konsentrasi (0%, 5%, 10%, dan 15%) dan faktor kedua adalah (satu minggu, dua minggu, dan tiga minggu). Hasilnya menunjukkan bahwa urin sapi konsentrasi 15% memberikan pengaruh nyata pada pertambahan tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang bibit tebu pada umur 56 dan 70 hari setelah tanam. Pemberian urin sapi dengan interval satu minggu memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertambahan tinggi bibit tebu pada umur 70 HST. interaksi terbaik penggunaan urin sapi yaitu konsentrasi 15% +  interval satu minggu pengaruh  nyata pada panjang akar dan volume akar bibit tebu.Salah satu teknik untuk mengoptimalkan pembibitan bibit tebu yaitu menggunakan metode single bud planting, dengan memberikan zat pengatur tumbuh alami urin sapi fermentasi. Zat pengatur tumbuh sangat penting untuk menentukan pertumbuhan dan perkembangan bibit tebu, akan tetapi konsentrasi dan interval harus diperhatikan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi dan interval pemberian urin sapi fermentasi yang tepat. Penelitian dilakukan dibulan agustus-november 2016, menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorialterdiri 2 faktor dan diulangan sebanyak 3 kali. Faktor pertama adalah konsentrasi (0%, 5%, 10%, dan 15%) dan faktor kedua adalah (satu minggu, dua minggu, dan tiga minggu). Hasilnya menunjukkan bahwa urin sapi konsentrasi 15% memberikan pengaruh nyata pada pertambahan tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang bibit tebu pada umur 56 dan 70 hari setelah tanam. Pemberian urin sapi dengan interval satu minggu memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertambahan tinggi bibit tebu pada umur 70 HST. interaksi terbaik penggunaan urin sapi yaitu konsentrasi 15% +  interval satu minggu pengaruh  nyata pada panjang akar dan volume akar bibit tebu

    Adaptasi Pertumbuhan Dua Varietas Kentang (Solanum tuberosum L.) terhadap Pemberian Naungan: Kajian Pengembangan Budidaya di Dataran Menengah

    Get PDF
    Ekstensifikasi budidaya kentang perlu dilakukan untuk mengurangi volume impor. Salah satu caranya adalah pelaksanaan budidaya kentang di dataran menengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan teknologi budidaya kentang di dataran menengah melalui pengujian dua varietas dan implementasi naungan. Penelitian berlangsung selama bulan Agustus sampai dengan Desember 2016. Penelitian ini menggunakan RAK faktorial dua faktor. Faktor pertama yakni varietas terdiri dari dua jenis yaitu Granola Kembang dan Atlantik. Faktor kedua yakni naungan terdiri dari tiga taraf yaitu tanpa naungan, naungan satu lapis, dan naungan dua lapis. Data dianalisa menggunakan Analysis of Variance lalu diuji lanjut menggunakan BNT taraf 5% dan 1%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi naungan memberikan pengaruh nyata (*) pada pertambahan tinggi tanaman umur 10-20 HST, jumlah daun umur 30 dan 40 HST, diameter umbi hasil, serta memberikan pengaruh sangat nyata (**) pada pertambahan tinggi tanaman umur 20-30 HST. Perlakuan varietas memberikan pengaruh nyata (*) pada jumlah daun umur 20 HST, jumlah tunas, panjang umbi, serta memberikan pengaruh sangat nyata (**) terhadap tinggi tanaman umur 10 HST, pertambahan tinggi tanaman umur 10-20, 20-30, dan 30-40 HST, jumlah daun umur 30 dan 40 HST, bobot dan diameter umbi. Interaksi antara naungan dan varietas memberikan pengaruh nyata (*) pada pertambahan tinggi tanaman umur 20-30 HST.Ekstensifikasi budidaya kentang perlu dilakukan untuk mengurangi volume impor. Salah satu caranya adalah pelaksanaan budidaya kentang di dataran menengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan teknologi budidaya kentang di dataran menengah melalui pengujian dua varietas dan implementasi naungan. Penelitian berlangsung selama bulan Agustus sampai dengan Desember 2016. Penelitian ini menggunakan RAK faktorial dua faktor. Faktor pertama yakni varietas terdiri dari dua jenis yaitu Granola Kembang dan Atlantik. Faktor kedua yakni naungan terdiri dari tiga taraf yaitu tanpa naungan, naungan satu lapis, dan naungan dua lapis. Data dianalisa menggunakan Analysis of Variance lalu diuji lanjut menggunakan BNT taraf 5% dan 1%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi naungan memberikan pengaruh nyata (*) pada pertambahan tinggi tanaman umur 10-20 HST, jumlah daun umur 30 dan 40 HST, diameter umbi hasil, serta memberikan pengaruh sangat nyata (**) pada pertambahan tinggi tanaman umur 20-30 HST. Perlakuan varietas memberikan pengaruh nyata (*) pada jumlah daun umur 20 HST, jumlah tunas, panjang umbi, serta memberikan pengaruh sangat nyata (**) terhadap tinggi tanaman umur 10 HST, pertambahan tinggi tanaman umur 10-20, 20-30, dan 30-40 HST, jumlah daun umur 30 dan 40 HST, bobot dan diameter umbi. Interaksi antara naungan dan varietas memberikan pengaruh nyata (*) pada pertambahan tinggi tanaman umur 20-30 HST

    Optimasi Pertumbuhan Plantlet Cattleya Melalui Kombinasi Kekuatan Media Murashige-Skoog dan Bahan Organik

    Get PDF
    Salah satu teknik untuk mengoptimalkan pertumbuhan Anggrek Cattleya yaitu menggunakan kultur in vitro dengan cara menyusun isi media. Nutrisi di dalam media sangat penting untuk menentukan pertumbuhan dan perkembangan anggrek. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan komposisi media alternatif yang rendah biaya, bahan-bahan mudah ditemukan dan mampu memenuhi kebutuhan tanaman. Penyusunan media dilakukan dengan kekuatan media Murashige-Skoog (MS) dan bahan organik yang berbeda seperti ekstrak wortel dan air kelapa. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama adalah konsentrasi media MS yang berbeda, dan faktor kedua adalah komposisi kombinasi filtrat wortel dan air kelapa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ¼ MS dan media penuh MS tidak memberikan pengaruh perbedaan yang nyata terhadap semua parameter. Kombinasi terbaik dan berbeda nyata ditunjukkan ½ MS + 50 ml/L filtrat wortel + 200 ml/L air kelapa yang menghasilkan interaksi yang sangat berbeda nyata pada parameter tinggi tanaman dan jumlah akar berbeda secara nyata pada 16 minggu setelah tanam. Selain itu, bahan organik dengan 50 ml/L filtrat wortel + 200 ml/L air kelapa menghasilkan tinggi tanaman yang berbeda sangat nyata dibandingkan dengan perlakuan lainnya.Salah satu teknik untuk mengoptimalkan pertumbuhan Anggrek Cattleya yaitu menggunakan kultur in vitro dengan cara menyusun isi media. Nutrisi di dalam media sangat penting untuk menentukan pertumbuhan dan perkembangan anggrek. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan komposisi media alternatif yang rendah biaya, bahan-bahan mudah ditemukan dan mampu memenuhi kebutuhan tanaman. Penyusunan media dilakukan dengan kekuatan media Murashige-Skoog (MS) dan bahan organik yang berbeda seperti ekstrak wortel dan air kelapa. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama adalah konsentrasi media MS yang berbeda, dan faktor kedua adalah komposisi kombinasi filtrat wortel dan air kelapa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ¼ MS dan media penuh MS tidak memberikan pengaruh perbedaan yang nyata terhadap semua parameter. Kombinasi terbaik dan berbeda nyata ditunjukkan ½ MS + 50 ml/L filtrat wortel + 200 ml/L air kelapa yang menghasilkan interaksi yang sangat berbeda nyata pada parameter tinggi tanaman dan jumlah akar berbeda secara nyata pada 16 minggu setelah tanam. Selain itu, bahan organik dengan 50 ml/L filtrat wortel + 200 ml/L air kelapa menghasilkan tinggi tanaman yang berbeda sangat nyata dibandingkan dengan perlakuan lainnya

    Uji Efektivitas Ukuran Umbi dan Penambahan Biourine Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Bibit Bawang Merah (Allium ascalonicum L.)

    Get PDF
    Salah satu metode untuk meningkatkan produksi bawang adalah menggunakan ukuran umbi dan penambahan biourine. Tujuan penelitian ini ialah mengetahui pengaruh ukuran umbi dan konsentrasi biourine terhadap pertumbuhan dan hasil umbi bawang merah. Pada bulan Agustus sampai bulan Oktober 2016 penelitian ini sedang dilakukukan,  bertempat di lahan pertanian Politeknik Negeri Jember. Rancangan acak kelompok (RAK)  adalah methode yang digunakan untuk menghitung  hasil dari Penelitian yang sudah dilaksanakan tersebut, yang terdiri atas dua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama merupakan ukuran umbi dan faktor kedua konsentrasi biourine. Faktor ukuran umbi terdiri dari tiga tingkat, yaitu U1 = umbi kecil (Ø = <1,5 cm atau <5 g / umbi), U2 = umbi sedang (Ø = 1,5-1,8 cm atau 5-10 g / umbi), U3 = Umbi besar (Ø => 1,8 cm atau> 10 g / umbi. Faktor konsentrasi biourine terdiri tiga tingkat, yaitu B1 = konsentrasi 50 ml / liter, B2 = konsentrasi 75 ml / liter, B3 = konsentrasi 100 ml / liter. Data yang tersaji pada setiap parameter pengamatan penelitianakan dianalisis dengan menggunakan rumus uji F (ANOVA) dilanjutkan dengan uji lanjut BNT 5%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan ukuran umbi memberikan pengaruh yang signifikan terhadap variabel pengamatan tinggi tanaman dan Jumlah daun pada 14 dan 28 HST. Perlakuan ukuran umbi memberikan pengaruh yang signifikan terhadap parameter Bobot umbi basah, umbi kering dan jumlah umbi per rumpun juga, sedangkan perlakuan konsentrasi biourine berpengaruh signifikan terhadap parameter diameter umbi. Interaksi ukuran umbi dan konsentrasi biourine tidak memberikan pengaruh yang signifikan Semua parameter pengamatan.Salah satu metode untuk meningkatkan produksi bawang adalah menggunakan ukuran umbi dan penambahan biourine. Tujuan penelitian ini ialah mengetahui pengaruh ukuran umbi dan konsentrasi biourine terhadap pertumbuhan dan hasil umbi bawang merah. Pada bulan Agustus sampai bulan Oktober 2016 penelitian ini sedang dilakukukan,  bertempat di lahan pertanian Politeknik Negeri Jember. Rancangan acak kelompok (RAK)  adalah methode yang digunakan untuk menghitung  hasil dari Penelitian yang sudah dilaksanakan tersebut, yang terdiri atas dua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama merupakan ukuran umbi dan faktor kedua konsentrasi biourine. Faktor ukuran umbi terdiri dari tiga tingkat, yaitu U1 = umbi kecil (Ø = <1,5 cm atau <5 g / umbi), U2 = umbi sedang (Ø = 1,5-1,8 cm atau 5-10 g / umbi), U3 = Umbi besar (Ø => 1,8 cm atau> 10 g / umbi. Faktor konsentrasi biourine terdiri tiga tingkat, yaitu B1 = konsentrasi 50 ml / liter, B2 = konsentrasi 75 ml / liter, B3 = konsentrasi 100 ml / liter. Data yang tersaji pada setiap parameter pengamatan penelitianakan dianalisis dengan menggunakan rumus uji F (ANOVA) dilanjutkan dengan uji lanjut BNT 5%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan ukuran umbi memberikan pengaruh yang signifikan terhadap variabel pengamatan tinggi tanaman dan Jumlah daun pada 14 dan 28 HST. Perlakuan ukuran umbi memberikan pengaruh yang signifikan terhadap parameter Bobot umbi basah, umbi kering dan jumlah umbi per rumpun juga, sedangkan perlakuan konsentrasi biourine berpengaruh signifikan terhadap parameter diameter umbi. Interaksi ukuran umbi dan konsentrasi biourine tidak memberikan pengaruh yang signifikan Semua parameter pengamatan

    66

    full texts

    164

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇