Agriprima, Journal of Applied Agricultural Sciences
Not a member yet
164 research outputs found
Sort by
Aplikasi Inokulasi Rhizobium dan Pupuk SP-36 Terhadap Produksi dan Mutu Benih Kedelai (Glycine max (L.) Merrill) Var. Dering
Produksi kedelai mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan oleh penurunan luas lahan dan stok benih. Salah satu cara untuk meningkatkan produksi kedelai adalah dengan memaksimalkan hasil biji setiap hektar. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh dosis inokulasi rhizobium dan beberapa dosis pupuk SP-36 terhadap produksi dan kualitas benih kedelai Varietas Dering. Penelitian ini dilakukan di Desa Wirowongso, Kecamatan Ajung, Jember dan Laboratorium Teknologi Benih Politeknik Negeri Jember. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan dua faktor dan terdiri atas 12 kombinasi perlakuan. Faktor pertama adalah dosis inokulasi Rhizobium (R) yang terdiri atas 0 g/1kg benih, 5g/1kg benih, 7g/1kg benih dan 9g/1kg benih. Faktor kedua adalah pupuk SP-36 dosis (P) yang terdiri atas 69,5 kg/ha, 138kg/ha, dan 207,5kg/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Rhizobium (R) menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap jumlah bintil akar. Perlakuan R1 (biji 5g/1kg) memberikan hasil tertinggi untuk jumlah bintil akar. Aplikasi dosis pupuk SP-36 (P) juga menunjukkan pengaruh yang sangat signifikan untuk usia berbunga, jumlah polong, hasil setiap tanaman, produksi setiap hektar dan berat 100 biji. Perlakuan P3 (dosis 207,5kg/ha) memberikan hasil tertinggi pada usia berbunga, perlakuan P2 (dosis 138kg/ha) memberikan hasil tertinggi untuk jumlah polong, hasil setiap tanaman dan produksi setiap hektar, dan perlakuan P1 (dosis 69,5kg/ ha) memberikan hasil tertinggi pada berat 100 biji.Produksi kedelai mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan oleh penurunan luas lahan dan stok benih. Salah satu cara untuk meningkatkan produksi kedelai adalah dengan memaksimalkan hasil biji setiap hektar. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh dosis inokulasi rhizobium dan beberapa dosis pupuk SP-36 terhadap produksi dan kualitas benih kedelai Varietas Dering. Penelitian ini dilakukan di Desa Wirowongso, Kecamatan Ajung, Jember dan Laboratorium Teknologi Benih Politeknik Negeri Jember. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan dua faktor dan terdiri atas 12 kombinasi perlakuan. Faktor pertama adalah dosis inokulasi Rhizobium (R) yang terdiri atas 0 g/1kg benih, 5g/1kg benih, 7g/1kg benih dan 9g/1kg benih. Faktor kedua adalah pupuk SP-36 dosis (P) yang terdiri atas 69,5 kg/ha, 138kg/ha, dan 207,5kg/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Rhizobium (R) menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap jumlah bintil akar. Perlakuan R1 (biji 5g/1kg) memberikan hasil tertinggi untuk jumlah bintil akar. Aplikasi dosis pupuk SP-36 (P) juga menunjukkan pengaruh yang sangat signifikan untuk usia berbunga, jumlah polong, hasil setiap tanaman, produksi setiap hektar dan berat 100 biji. Perlakuan P3 (dosis 207,5kg/ha) memberikan hasil tertinggi pada usia berbunga, perlakuan P2 (dosis 138kg/ha) memberikan hasil tertinggi untuk jumlah polong, hasil setiap tanaman dan produksi setiap hektar, dan perlakuan P1 (dosis 69,5kg/ ha) memberikan hasil tertinggi pada berat 100 biji
Uji Ketahanan Galur Cabai Keriting MG1012 (Capsicum annum L.) Terhadap Hama Kutu Daun Persik (Myzus persicae Sulz).
Cabai Keriting (Capsicum annuum L.) adalah tumbuhan yang mengandung nilai gizi dan finansial tinggi. produksi cabai di Jawa Timur pada tahun 2011-2014 mengalami peningkatan tetapi pada tahun 2015 mengalami penurunan cukup tinggi. Upaya untuk meningkatkan produksi dan ketahanan cabai keriting adalah dengan penciptaan varietas baru yang tahan terhadap hama dan penyakit . Penelitian ini dilaksanakan bulan 13 April sampai 26 September 2016. Penelitian ini dilaksanakan di Jl. Hayam Wuruk 1, Kaliwates, Jember, Jawa Timur. Ketinggian tempat 100-700 m dpl,. Penelitian ini diaksanakan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) Non faktorial dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Adapun perlakuan tersebut sebagai berikut A = Benih Cabai Keriting Galur MG1012, B = Benih Cabai Keriting Varietas KIYO , C = Benih Cabai Keriting Varietas JINGGO , D = Benih Cabai Keriting Varietas LADO. Data Observasi dianalisi dengan menggunakan uji rumus F (ANOVA) diikuti oleh uji lanjut BNJ. Hasil penelitian menjelaskan bahwa intensitas serangan hama kutu daun persik (Myzus Persicae L) pada galur MG1012 berpengaruh sangat nyata. Intensitas serangan adalah 4,53 dan termasuk dalam kategori sangat tahan.Cabai Keriting (Capsicum annuum L.) adalah tumbuhan yang mengandung nilai gizi dan finansial tinggi. produksi cabai di Jawa Timur pada tahun 2011-2014 mengalami peningkatan tetapi pada tahun 2015 mengalami penurunan cukup tinggi. Upaya untuk meningkatkan produksi dan ketahanan cabai keriting adalah dengan penciptaan varietas baru yang tahan terhadap hama dan penyakit . Penelitian ini dilaksanakan bulan 13 April sampai 26 September 2016. Penelitian ini dilaksanakan di Jl. Hayam Wuruk 1, Kaliwates, Jember, Jawa Timur. Ketinggian tempat 100-700 m dpl,. Penelitian ini diaksanakan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) Non faktorial dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Adapun perlakuan tersebut sebagai berikut A = Benih Cabai Keriting Galur MG1012, B = Benih Cabai Keriting Varietas KIYO , C = Benih Cabai Keriting Varietas JINGGO , D = Benih Cabai Keriting Varietas LADO. Data Observasi dianalisi dengan menggunakan uji rumus F (ANOVA) diikuti oleh uji lanjut BNJ. Hasil penelitian menjelaskan bahwa intensitas serangan hama kutu daun persik (Myzus Persicae L) pada galur MG1012 berpengaruh sangat nyata. Intensitas serangan adalah 4,53 dan termasuk dalam kategori sangat tahan
Efektivitas Re-Cycle Polinasi Melalui Teknik Pemangkasan dan Dosis Pupuk NPK Terhadap Produksi dan Mutu Benih Terung (Solanum melongena L.)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produksi dan mutu benih terung menggunakan teknologi Re-cycle polinasi melalui teknik pemangkasan dan dosis pupuk NPK. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai Desember 2016 di Desa Jatiagung, Kabupaten Jember. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial. Faktor pertama adalah teknik pemangkasan dengan menyisakan 2 ruas di atas cabang Y (T1) dan pemangkasan dengan menyisakan 3 ruas di atas cabang Y (T2). Faktor kedua adalah dosis pupuk NPK: 120 g/tanaman (P1) 170 g/tanaman (P2), dan 220 g/tanaman (P3). Parameter pengamatan yang diamati adalah jumlah tunas, umur berbunga saat 80%, umur panen saat 80%, jumlah buah, jumlah biji bernas per buah, jumlah biji hampa per buah, jumlah biji per buah, produksi benih per hektar, uji daya kecambah benih, keserempakan tumbuh benih dan kecepatan tumbuh benih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan teknik pemangkasan hanya memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah tunas. Pemangkasan dengan menyisakan 3 ruas diatas cabang Y (T2) menghasilkan 11,83 tunas. Perlakuan dosis pupuk NPK memberikan pengaruh nyata (*) terhadap parameter jumlah buah, bobot 1000 butir dan produksi benih per hektar, serta memberikan pengaruh yang sangat nyata (**) pada parameter pengamatan jumlah tunas, umur berbunga 80%, umur panen 80%, jumlah biji hampa perbuah dan daya kecambah benih. Dosis pupuk NPK 170 g/tanaman (P2) menghasilkan produksi tetinggi yaitu 2,7148 kw/ha.Secara bersama-sama dua perlakuan yang diberikan tidak berpengaruh nyata pada semua parameter yang diamati.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produksi dan mutu benih terung menggunakan teknologi Re-cycle polinasi melalui teknik pemangkasan dan dosis pupuk NPK. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai Desember 2016 di Desa Jatiagung, Kabupaten Jember. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial. Faktor pertama adalah teknik pemangkasan dengan menyisakan 2 ruas di atas cabang Y (T1) dan pemangkasan dengan menyisakan 3 ruas di atas cabang Y (T2). Faktor kedua adalah dosis pupuk NPK: 120 g/tanaman (P1) 170 g/tanaman (P2), dan 220 g/tanaman (P3). Parameter pengamatan yang diamati adalah jumlah tunas, umur berbunga saat 80%, umur panen saat 80%, jumlah buah, jumlah biji bernas per buah, jumlah biji hampa per buah, jumlah biji per buah, produksi benih per hektar, uji daya kecambah benih, keserempakan tumbuh benih dan kecepatan tumbuh benih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan teknik pemangkasan hanya memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah tunas. Pemangkasan dengan menyisakan 3 ruas diatas cabang Y (T2) menghasilkan 11,83 tunas. Perlakuan dosis pupuk NPK memberikan pengaruh nyata (*) terhadap parameter jumlah buah, bobot 1000 butir dan produksi benih per hektar, serta memberikan pengaruh yang sangat nyata (**) pada parameter pengamatan jumlah tunas, umur berbunga 80%, umur panen 80%, jumlah biji hampa perbuah dan daya kecambah benih. Dosis pupuk NPK 170 g/tanaman (P2) menghasilkan produksi tetinggi yaitu 2,7148 kw/ha.Secara bersama-sama dua perlakuan yang diberikan tidak berpengaruh nyata pada semua parameter yang diamati
Rasio Tanaman Induk Jantan dan Betina Serta Penambahan Pupuk Boron pada Tanaman Jantan Terhadap Produksi dan Mutu Benih Jagung Manis (Zea mays “Saccharata” STURT.)
Salah satu alasan rendahnya produksi jagung manis di Indonesia adalah kurangnya ketersediaan bibit yang berkualitas dan kurang akuratnya teknis budidaya. Salah satu upaya yang dapat digunakan untuk meningkatkan produksi jagung manis adalah dengan menetapkan rasio tanaman induk jantan dan betina dan penambahan boron pupuk pada tanaman jantan. Penelitian ini dilakukan di Desa Kotes, Gandosari, Blitar dengan ketinggian di atas 60 m dpl. Dilaksanakan dengan menggunakan rancangan kelompok petak terpisah (RBD) dengan 3 faktor dan 2 ulangan. Faktor pertama adalah rasio tanaman yang terdiri dari 1: 4, 1: 5 dan 1: 6. Faktor kedua adalah penambahan pupuk boron yang terdiri dari 0 kg / ha (kontrol) dan 15 kg / ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan rasio tanaman induk jantan dan betina berpengaruh secara nyata pada parameter jumlah biji setiap tongkol, berat 100 biji, perkecambahan dan kecepatan perkecambahan. Rasio tanaman induk dari 1: 5 (R2) menunjukkan hasil terbaik dengan menghasilkan 219,50 biji setiap tongkol dan viabilitas benih 83,67%, dan 32,75% untuk kecepatan perkecambahan biji. Adapun perlakuan pemupukan boron sangat berbeda nyata pada berat serbuk sari dan viabilitas serbuk sari. Pupuk Boron dengan dosis 15 kg / ha (B2) menunjukkan hasil terbaik pada produksi serbuk sari dan viabilitas serbuk sari masing-masing 1,91 gram / tanaman dan 7,19%. Ada interaksi yang berbeda nyata antara rasio tanaman induk dan pupuk boron pada jumlah biji di setiap tongkol. Kombinasi rasio tanaman induk 1:5 dan pemupukan boron menunjukkan hasil terbaik pada jumlah rata-rata benih dengan 232,30 biji pada setiap tongkol.Salah satu alasan rendahnya produksi jagung manis di Indonesia adalah kurangnya ketersediaan bibit yang berkualitas dan kurang akuratnya teknis budidaya. Salah satu upaya yang dapat digunakan untuk meningkatkan produksi jagung manis adalah dengan menetapkan rasio tanaman induk jantan dan betina dan penambahan boron pupuk pada tanaman jantan. Penelitian ini dilakukan di Desa Kotes, Gandosari, Blitar dengan ketinggian di atas 60 m dpl. Dilaksanakan dengan menggunakan rancangan kelompok petak terpisah (RBD) dengan 3 faktor dan 2 ulangan. Faktor pertama adalah rasio tanaman yang terdiri dari 1: 4, 1: 5 dan 1: 6. Faktor kedua adalah penambahan pupuk boron yang terdiri dari 0 kg / ha (kontrol) dan 15 kg / ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan rasio tanaman induk jantan dan betina berpengaruh secara nyata pada parameter jumlah biji setiap tongkol, berat 100 biji, perkecambahan dan kecepatan perkecambahan. Rasio tanaman induk dari 1: 5 (R2) menunjukkan hasil terbaik dengan menghasilkan 219,50 biji setiap tongkol dan viabilitas benih 83,67%, dan 32,75% untuk kecepatan perkecambahan biji. Adapun perlakuan pemupukan boron sangat berbeda nyata pada berat serbuk sari dan viabilitas serbuk sari. Pupuk Boron dengan dosis 15 kg / ha (B2) menunjukkan hasil terbaik pada produksi serbuk sari dan viabilitas serbuk sari masing-masing 1,91 gram / tanaman dan 7,19%. Ada interaksi yang berbeda nyata antara rasio tanaman induk dan pupuk boron pada jumlah biji di setiap tongkol. Kombinasi rasio tanaman induk 1:5 dan pemupukan boron menunjukkan hasil terbaik pada jumlah rata-rata benih dengan 232,30 biji pada setiap tongkol
Aplikasi Pupuk Biourine Terhadap Hasil dan Mutu Benih Dua Varietas Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.)
Biourine adalah salah satu alternatif pupuk organik yang dapat meningkatkan ketersediaan dan efisiensi serapan unsur hara bagi tanaman serta dapat mengurangi ketergantungan pada pupuk anorganik dan meningkatkan hasil panen. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh konsentrasi pupuk biourine pada dua varietas kacang tanah pada hasil panen dan mutu benih. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial yang terdiri dua faktor. Konsentrasi pupuk biourine sebagai faktor pertama terdiri dari 10 ml/ L (B1), 20 ml / L (B2) dan 30 ml / L (B3). Varietas kacang tanah sebagai faktor kedua terdiri dari Kelinci (V1) dan Kancil (V2). Kesimpulan penelitian ialah konsentrasi pupuk biourine memiliki pengaruh yang signifikan pada fase berbunga dengan konsentrasi terbaik adalah 30 ml / L (B1). Penggunaan varietas unggul memiliki efek yang sangat signifikan pada semua parameter dan memiliki efek signifikan pada simultanitas pertumbuhan bibit kecuali pada tinggi tanaman di 60 HST dan varietas terbaik adalah Kancil (V2). Kombinasi pupuk biourine dan varietas unggul memiliki efek yang signifikan pada semua parameter pascapanen. Kombinasi terbaik adalah biourine pupuk 10 ml / L dan Kancil (B1V2) menghasilkan hasil panen 2,72 ton / hektar.Biourine adalah salah satu alternatif pupuk organik yang dapat meningkatkan ketersediaan dan efisiensi serapan unsur hara bagi tanaman serta dapat mengurangi ketergantungan pada pupuk anorganik dan meningkatkan hasil panen. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh konsentrasi pupuk biourine pada dua varietas kacang tanah pada hasil panen dan mutu benih. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial yang terdiri dua faktor. Konsentrasi pupuk biourine sebagai faktor pertama terdiri dari 10 ml/ L (B1), 20 ml / L (B2) dan 30 ml / L (B3). Varietas kacang tanah sebagai faktor kedua terdiri dari Kelinci (V1) dan Kancil (V2). Kesimpulan penelitian ialah konsentrasi pupuk biourine memiliki pengaruh yang signifikan pada fase berbunga dengan konsentrasi terbaik adalah 30 ml / L (B1). Penggunaan varietas unggul memiliki efek yang sangat signifikan pada semua parameter dan memiliki efek signifikan pada simultanitas pertumbuhan bibit kecuali pada tinggi tanaman di 60 HST dan varietas terbaik adalah Kancil (V2). Kombinasi pupuk biourine dan varietas unggul memiliki efek yang signifikan pada semua parameter pascapanen. Kombinasi terbaik adalah biourine pupuk 10 ml / L dan Kancil (B1V2) menghasilkan hasil panen 2,72 ton / hektar
Uji Efektivitas Saat Pemberian dan Konsentrasi PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) terhadap Produksi dan Mutu Benih Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.)
Produksi dan mutu benih kacang tanah (Arachis hypogaea L.) dapat ditingkatkan dengan menggunakan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui produksi dan mutu benih kacang tanah dengan perbedaan saat pemberian dan perbedaan konsentrasi PGPR. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus sampai November 2016 dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor. Faktor pertama adalah saat pemberian PGPR terdiri dari saat perendaman (W1), saat tanam (W2) dan saat fase vegetatif (W3). Faktor kedua adalah konsentrasi PGPR yang terdiri dari 0 ml/l (K0), 7,5 ml/l (K1), 10 ml/l (K2), dan 12,5 ml/l (K3). Parameter yang diamati adalah pertambahan tinggi tanaman, umur berbunga rata-rata, jumlah polong per rumpun tanaman, berat basah polong per rumpun tanaman, berat kering polong per rumpun tanaman, bobot 100 butir benih, produksi polong kering per hektar, daya berkecambah benih, Kecepatan tumbuh Benih, Dan keserempakan tumbuh benih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik adalah konsentrasi PGPR 12,5 ml/l yang memberikan pengaruh nyata sampai sangat nyata pada parameter pertambahan tinggi tanaman pada fase vegetatif (15 HST sampai 30 HST), pertambahan tinggi tanaman pada stadium pembentukan polong ( 30 HST sampai 45 HST), umur berbunga rata-rata, berat basah polong per rumpun, berat kering polong per rumpun, bobot 100 butir benih, dan produksi polong kering per hektar.Produksi dan mutu benih kacang tanah (Arachis hypogaea L.) dapat ditingkatkan dengan menggunakan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui produksi dan mutu benih kacang tanah dengan perbedaan saat pemberian dan perbedaan konsentrasi PGPR. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus sampai November 2016 dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor. Faktor pertama adalah saat pemberian PGPR terdiri dari saat perendaman (W1), saat tanam (W2) dan saat fase vegetatif (W3). Faktor kedua adalah konsentrasi PGPR yang terdiri dari 0 ml/l (K0), 7,5 ml/l (K1), 10 ml/l (K2), dan 12,5 ml/l (K3). Parameter yang diamati adalah pertambahan tinggi tanaman, umur berbunga rata-rata, jumlah polong per rumpun tanaman, berat basah polong per rumpun tanaman, berat kering polong per rumpun tanaman, bobot 100 butir benih, produksi polong kering per hektar, daya berkecambah benih, Kecepatan tumbuh Benih, Dan keserempakan tumbuh benih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik adalah konsentrasi PGPR 12,5 ml/l yang memberikan pengaruh nyata sampai sangat nyata pada parameter pertambahan tinggi tanaman pada fase vegetatif (15 HST sampai 30 HST), pertambahan tinggi tanaman pada stadium pembentukan polong ( 30 HST sampai 45 HST), umur berbunga rata-rata, berat basah polong per rumpun, berat kering polong per rumpun, bobot 100 butir benih, dan produksi polong kering per hektar
Uji Daya Hasil Galur MG1012 dengan Tiga Varietas Pembanding Tanaman Cabai Keriting (Capsicum Annum L.).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hasil tanaman cabai keriting galur MG1012 dengan tiga varietas pembanding. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2016 hingga november 2016 bertempat di Jl. Hayam wuruk, Kaliwates, Jember, Jawa Timur. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Non Faktorial. Terdiri dari 1 galur dan 3 varietas yaitu : A= Cabai Keriting Galur MG1012, B = Cabai Keriting Varietas KIYO, C = Cabai Keriting Varietas JINGGO, D = Cabai Keriting Varietas LADO dan diulang 4 kali. Dari hasil penelitianyang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwatanaman cabai keriting galur MG1012 lebih unggul dibandingkan tiga varietas pembanding pada beberapa parameter pengamatan yaitu memiliki tinggi tanaman 83,12 cm, umur berbunga 47 hst, panjang buah 18,30 cm, diameter buah 0,815 cm, berat per buah 6,56 gram dan jumlah biji per buah 83 buah. Tanaman galur MG1012 memiliki hasil per tanaman yang lebih tinggi dan berbeda nyata yaitu sebesar 686,29 gram dengan varietas JINGGO yang memiliki hasil per tanaman sebesar 506,01 gram dan LADO sebesar 562,06 gram. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hasil tanaman cabai keriting galur MG1012 dengan tiga varietas pembanding. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2016 hingga november 2016 bertempat di Jl. Hayam wuruk, Kaliwates, Jember, Jawa Timur. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Non Faktorial. Terdiri dari 1 galur dan 3 varietas yaitu : A= Cabai Keriting Galur MG1012, B = Cabai Keriting Varietas KIYO, C = Cabai Keriting Varietas JINGGO, D = Cabai Keriting Varietas LADO dan diulang 4 kali. Dari hasil penelitianyang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwatanaman cabai keriting galur MG1012 lebih unggul dibandingkan tiga varietas pembanding pada beberapa parameter pengamatan yaitu memiliki tinggi tanaman 83,12 cm, umur berbunga 47 hst, panjang buah 18,30 cm, diameter buah 0,815 cm, berat per buah 6,56 gram dan jumlah biji per buah 83 buah. Tanaman galur MG1012 memiliki hasil per tanaman yang lebih tinggi dan berbeda nyata yaitu sebesar 686,29 gram dengan varietas JINGGO yang memiliki hasil per tanaman sebesar 506,01 gram dan LADO sebesar 562,06 gram.
Aplikasi Pupuk Kandang Ayam dan Mikroorganisme Lokal (MOL) Daun Gamal Terhadap Produksi dan Mutu Benih Mentimun (Cucumis sativus L.)
oai:ojs.agriprima.polije.ac.id:article/8Penelitian bertujuan untuk mengetahui interaksi antara pupuk kandang ayam dan Mikroorganisme Lokal (MOL) Daun Gamal terhadap Produksi dan mutu benih mentimun (Cucumis sativus L.). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) secara Faktorial. Terdapat 2 faktor dalam penelitian yaitu, Faktor (A) Pupuk Kandang Ayam dengan dosis 20 ton/ha (A1), dosis 40 ton/ha (A2) dan dosis 60 ton/ha. Faktor (G) Mikroorganisme Lokal (MOL) Daun Gamal meliputi konsentrasi 60 ml/L (A1), konsentrasi 90 ml/L (A2) dan konsentrasi 120 ml/L (A3). Data hasil pengamatan pada setiap parameter pengamatan dianalisis dengan menggunakan rumus uji F (ANOVA) dan dilanjutkan dengan perhitungan Duncan Multiple Range Test (DMRT) dengan taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan aplikasi pupuk kandang ayam memberikan pengaruh yang sangat nyata pada parameter pengamatan Tinggi Tanaman 4 MST sebesar 153,83 cm, Jumlah Daun 2 MST sebanyak 5,33 helai, Jumlah Daun 4 MST sebanyak 28,44 helai, Jumlah Buah per Tanaman sebanyak 5,78 buah, Jumlah Biji Bernas per Buah sebanyak 207 biji, Jumlah Biji Bernas per Tanaman sebanyak 737,11 biji dan Berat 1000 biji sebesar 25,37 g. Sedangkan perlakuan MOL daun gamal memberikan pengaruh yang nyata pada parameter pengamatan Jumlah Buah per Tanaman sebanyak 5,78 buah. Untuk perlakuan interaksi antara aplikasi pupuk kandang ayam dan MOL Daun gamal memberikan pengaruh yang nyata pada parameter pengamatan Jumlah Daun 4 MST sebanyak 28,44 helai, Jumlah Biji Bernas per Tanaman sebanyak 737,11 biji dan Kecepatan Tumbuh Benih sebesar 27,11 %/etmal.Penelitian bertujuan untuk mengetahui interaksi antara pupuk kandang ayam dan Mikroorganisme Lokal (MOL) Daun Gamal terhadap Produksi dan mutu benih mentimun (Cucumis sativus L.). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) secara Faktorial. Terdapat 2 faktor dalam penelitian yaitu, Faktor (A) Pupuk Kandang Ayam dengan dosis 20 ton/ha (A1), dosis 40 ton/ha (A2) dan dosis 60 ton/ha. Faktor (G) Mikroorganisme Lokal (MOL) Daun Gamal meliputi konsentrasi 60 ml/L (A1), konsentrasi 90 ml/L (A2) dan konsentrasi 120 ml/L (A3). Data hasil pengamatan pada setiap parameter pengamatan dianalisis dengan menggunakan rumus uji F (ANOVA) dan dilanjutkan dengan perhitungan Duncan Multiple Range Test (DMRT) dengan taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan aplikasi pupuk kandang ayam memberikan pengaruh yang sangat nyata pada parameter pengamatan Tinggi Tanaman 4 MST sebesar 153,83 cm, Jumlah Daun 2 MST sebanyak 5,33 helai, Jumlah Daun 4 MST sebanyak 28,44 helai, Jumlah Buah per Tanaman sebanyak 5,78 buah, Jumlah Biji Bernas per Buah sebanyak 207 biji, Jumlah Biji Bernas per Tanaman sebanyak 737,11 biji dan Berat 1000 biji sebesar 25,37 g. Sedangkan perlakuan MOL daun gamal memberikan pengaruh yang nyata pada parameter pengamatan Jumlah Buah per Tanaman sebanyak 5,78 buah. Untuk perlakuan interaksi antara aplikasi pupuk kandang ayam dan MOL Daun gamal memberikan pengaruh yang nyata pada parameter pengamatan Jumlah Daun 4 MST sebanyak 28,44 helai, Jumlah Biji Bernas per Tanaman sebanyak 737,11 biji dan Kecepatan Tumbuh Benih sebesar 27,11 %/etmal
Koleksi dan Identifikasi Bakteri Penambat N pada Pusat Lokasi Tanaman Kedelai Edamame (Glycine max (L.) Merr.) di Kabupaten Jember
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengidentifikasi bakteri penambat N pada pusat lokasi tanaman kedelai edamame (Glycine max (L.) Merr.) di Kabupaten Jember. Penelitian ini dilakukan dari bulan September 2016 hingga November 2016. Kegiatan penelitian dilakukan di Laboratorium Biosains Politeknik Negeri Jember. Penelitian ini terdiri dari 2 faktor dengan 6 perlakuan dan 3 ulangan, yaitu faktor Lokasi (L) yang terdiri dari lokasi pengambilan tanah di Kecamatan Jenggawah (L1) dan di Kecamatan Ajung (L2), faktor Kedalaman (K) terdapat 3 taraf yaitu kedalaman pengambilan tanah 5 cm dari permukaan tanah (K1), 10 cm dari permukaan tanah (K2), dan 15 cm dari permukaan tanah (K3). Data dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif, data kuantitatif dilakukan dengan cara menghitung jumlah koloni bakteri menggunakan metode TPC (Total Plate Count), data kualitatif didapatkan dari pengamatan gram staining, pengamatan kecepatan pertumbuhan bakteri dan pengamatan kemurnian bakteri. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa bakteri yang diisolasi dapat dikoleksi dan diidentifikasi sebagai jenis bakteri penambat N tipe bakteri Rhizobium spp. yang ditunjukkan dengan warna putih bening dan merah muda setelah dibiakkan dalam media seleksi YEMA + Congo Red. Bakteri Rhizobium sp. yang memiliki tingkat adaptasi tertinggi berasal dari Kecamatan Ajung pada kedalaman 15 cm dari permukaan tanah, yaitu sebesar 6,88x1030 CFU/g tanah.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengidentifikasi bakteri penambat N pada pusat lokasi tanaman kedelai edamame (Glycine max (L.) Merr.) di Kabupaten Jember. Penelitian ini dilakukan dari bulan September 2016 hingga November 2016. Kegiatan penelitian dilakukan di Laboratorium Biosains Politeknik Negeri Jember. Penelitian ini terdiri dari 2 faktor dengan 6 perlakuan dan 3 ulangan, yaitu faktor Lokasi (L) yang terdiri dari lokasi pengambilan tanah di Kecamatan Jenggawah (L1) dan di Kecamatan Ajung (L2), faktor Kedalaman (K) terdapat 3 taraf yaitu kedalaman pengambilan tanah 5 cm dari permukaan tanah (K1), 10 cm dari permukaan tanah (K2), dan 15 cm dari permukaan tanah (K3). Data dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif, data kuantitatif dilakukan dengan cara menghitung jumlah koloni bakteri menggunakan metode TPC (Total Plate Count), data kualitatif didapatkan dari pengamatan gram staining, pengamatan kecepatan pertumbuhan bakteri dan pengamatan kemurnian bakteri. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa bakteri yang diisolasi dapat dikoleksi dan diidentifikasi sebagai jenis bakteri penambat N tipe bakteri Rhizobium spp. yang ditunjukkan dengan warna putih bening dan merah muda setelah dibiakkan dalam media seleksi YEMA + Congo Red. Bakteri Rhizobium sp. yang memiliki tingkat adaptasi tertinggi berasal dari Kecamatan Ajung pada kedalaman 15 cm dari permukaan tanah, yaitu sebesar 6,88x1030 CFU/g tanah
Korelasi Tingkat Naungan dan Cekaman Air Terhadap Variabel Laju Pertumbuhan Relatif Tumbuhan Ageratum conyzoides Linn.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui korelasi tingkat naungan dan cekaman air pada laju pertumbuhan relatif tumbuhan Ageratum conyzoides Linn. Penelitian dilaksanakan di Lahan PPPPTK Pertanian Cianjur yang berlangsung pada bulan Desember 2012 sampai Februari 2013. percobaan menggunakan Rancangan Petak Terbagi (Split-plot design) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah tingkat naungan sebagai petak utama yang terdiri dari naungan 0%, 25%, 45%, dan 55%, sebagai anak petak cekaman kekeringan (% Kapasitas Lapang) terdiri dari 100%, 80%, 60%, dan 40% Kapasitas Lapang (KL). terdapat 16 Kombinasi perlakuan dengan 3 ulangan . setiap satuan perlakuan terdapat 4 tumbuhan yang seluruhny diamati. hasil percobaan menunjukkan bahwa tingkat naungan dan cekaman kekeringan berkorelasi positif terhadap Laju Pertumbuhan Relatif, bobot segar, bobot kering dan luas daun tumbuhan Ageratum conyzoides Linn.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui korelasi tingkat naungan dan cekaman air pada laju pertumbuhan relatif tumbuhan Ageratum conyzoides Linn. Penelitian dilaksanakan di Lahan PPPPTK Pertanian Cianjur yang berlangsung pada bulan Desember 2012 sampai Februari 2013. percobaan menggunakan Rancangan Petak Terbagi (Split-plot design) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah tingkat naungan sebagai petak utama yang terdiri dari naungan 0%, 25%, 45%, dan 55%, sebagai anak petak cekaman kekeringan (% Kapasitas Lapang) terdiri dari 100%, 80%, 60%, dan 40% Kapasitas Lapang (KL). terdapat 16 Kombinasi perlakuan dengan 3 ulangan . setiap satuan perlakuan terdapat 4 tumbuhan yang seluruhny diamati. hasil percobaan menunjukkan bahwa tingkat naungan dan cekaman kekeringan berkorelasi positif terhadap Laju Pertumbuhan Relatif, bobot segar, bobot kering dan luas daun tumbuhan Ageratum conyzoides Linn