Ringkang
Not a member yet
144 research outputs found
Sort by
MANAJEMEN PRODUKSI DRAMATARI BISMA DEWABRATA
Setiap tahun Program Studi Pendidikan Seni Tari Universitas Pendidikan Indonesia memproduksi pergelaran dramatari. Pada tahun 2023, Program Studi Pendidikan Seni Tari menggelar dramatari Bisma Dewabrata di Taman Budaya Jawa Barat. Produksi ini merupakan kerja bersama antara dosen dan mahasiswa serta alumni Universitas Pendidikan Indonesia. Pertunjukan ini memadukan berbagai elemen seni, seperti tari, drama, musik, dan teknologi, yang semuanya dikemas dalam satu pertunjukan yang harmonis. Penelitian ini bertujuan untuk memahami, mendeskripsikan, dan menganalisis manajemen produksi dramatari "Bisma Dewabrata," dengan fokus pada organisasi kepanitiaan serta proses kreatif yang terlibat dalam penciptaan karya tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, yang menekankan pada pemahaman mendalam terhadap penerapan prinsip-prinsip manajemen dalam konteks seni pertunjukan, khususnya yang berakar pada tradisi. Pengumpulan data dilakukan melalui beberapa teknik, seperti observasi langsung di lokasi, wawancara mendalam dengan para pelaku produksi, studi literatur yang relevan, dan dokumentasi yang terkait dengan proses produksi. Analisis data melalui tiga tahap penting: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini menghasilkan pemahaman tentang perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan yang terarah. Serta evaluasi yang menyeluruh dalam memproduksi dramatari Bisma Dewabrata yang digelar di Taman Budaya Jawa Barat tahun 2023. Dramatari Bisma Dewabrata dapat menjadi rujukan dalam pengelolaan dan produksi karya tari yang bersifat kolosal
NILAI CAGEUR, BAGEUR, BENER, PINTER, SINGER, DAN WANTER DALAM TARI TOPENG KONCARAN
Tari Topeng Koncaran pernah menjadi kebanggaan masyarakat Garut. Namun, saat ini tarian ini jarang ditampilkan dalam satu tarian; penggalan-penggalan gerakannya hanya dimasukkan untuk hiburan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji Nilai-Nilai Budaya Sunda (cageur, bageur, bener, pinter, singer dan wanter) yang terdapat pada Tari Topeng Koncaran. Kajian Etnokoreologi digunakan untuk mengkaji struktur gerak, rias dan busana yang dipadankan dengan etnopedagogik untuk mengkaji nilai-nilai budaya Sunda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gerak Gedig Sampuran terdapat nilai benar menunjukkan sikap yang tenang, jujur, dan bertanggung jawab. Ngayap Rawis memiliki nilai pinter, yang menunjukkan sifat cerdas, inventif, dan kreatif. Barongsayan memiliki nilai cageur yang menunjukkan orang yang rajin, tangguh, dan bekerja sama. Sejak (peralihan) terdapat nilai singer yang menunjukkan sikap yang aktif dan kreatif. Jogedan memiliki nilai wanter, yang menunjukkan karakter yang berani dan tidak takut kalah. Makutaan terdapat nilai bener dan bageur yang dimana menggambarkan karakter baik hati, suka menolong, dan peduli. Topengan terdapat nilai singer yang dimana menggambarkan karakter tangguh dan disiplin. Seuri terdapat nilai wanter yang dimana menggambarkan karakter tidak takut kalah dan percaya diri. Rias karakter Putri Anjasmara dan Layang Seta/Layang Kumitir menggunakan rias yang sama, hanya volume gerakannya yang berbeda, sedangkan Menak Jingga menggunakan topeng atau kedok klana di bagian ketiga. Busananya didominasi oleh warna merah meskipun pakaian mereka sama, tiga karakter dalam Tari Topeng Koncaran berbeda. Putri Anjasmara gerakannya bervolume kecil, Layang Seta/Layang Kumitir gerakannya bervolume sedang, dan Raja Menak Jingga gerakannya bervolume besar. Dapat disimpulkan terdapat nilai cageur, bageur, bener, pinter, singer dan wanter di Topeng Koncaran
MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA SMP MELALUI STIMULUS CERITA LEGENDA
Pentingnya kemampuan berpikir kritis dalam pembelajaran tari sebagai bentuk implementasi pembelajaran abad ke-21. Pada kenyataannya siswa kelas VIII SMPN 1 Cilimus di Kabupaten Kuningan masih kurang memiliki kemampuan berpikir kritis, dilihat dari siswa kurang mampu menganalisis suatu masalah, memberikan tanggapan dan berkreasi dalam pembelajaran tari yang disebabkan oleh belum ditemukannya stimulus yang dapat mengasah kemampuan berpikir kritis mereka. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mendeskripsikan bagaimana stimulus cerita legenda dalam pembelajaran seni tari untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas VIII SMPN 1 Cilimus di Kabupaten Kuningan. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan pendekatan kuantitatif melalui metode Pre-Eksperiemental dengan desain One Group Pretest-Posttest Design. Adapun teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik purposive sampling serta pengumpulan data dengan menggunakan tes, observasi, wawancara, tes, angket dan juga dokumentasi. Pengolahan dan analisis data pada penelitian ini menggunakan uji normalitas setelah itu dilakukannya uji T melalui software IBM SPSS Statistics 26. Hasil dari data yang diperoleh, membuktikan bahwa penelitian yang dilakukan berhasil. Hal tersebut dapat dilihat dari perolehan uji t menunjukkan thitung ttabel yakni 16.955 1,697 yang berarti Ha diterima dan Ho ditolak. Kesimpulan yang dapat ditarik yakni penerapan stimulus cerita legenda dalam pembelajaran seni tari dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas VIII SMPN 1 Cilimus di Kabupaten Kuningan
ANALISIS KEBERHASILAN IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA DI SMP NEGERI 28 KABUPATEN TEBO
Setiap perubahan kurikulum tentu dimaknai sebagai suatu upaya untuk memperbaiki, memajukan dan menyempurnakan sistem pendidikan di Indonesia. Namun tidak dapat dipungkiri segala perubahan tentu memliki pro dan kontranya masing masing. Kurikulum yang disusun di pusat ibukota dirasa belum mampu mewakili segala permasalahan pendidikan dari berbagai daerah. Adanya ketimpangan dari desa dan kota menghembuskan angin pesimistik dari sisi pendidik daerah terpencil untuk mengembangkan kurikulum baru ditengah tantangan harus menguatkan kaki sendiri, setelah melawan badai pandemi Covid-19. Oleh karena itu untuk menjawab keresahan tersebut didalam kurikulum merdeka memberikan keleluasan terhadap pendidik menentukan pijakan didalam mengimplementasikan kurikulum merdeka Apakah dengan kebebasan yang diberikan kepada setiap sekolah mampu menghapuskan “pemaksaan” yang acap tersematkan pada siklus pergantian kurikulum serta membuahkan hasil positif seperti yang diharapkan. Paradigma penelitian dalam penelitian ini adalah kualitatif. metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Partisipan yang juga merupakan informan pada penelitian ini Yuliati selaku Kepala SMP N 28 Tebo (53 tahun). Objek penelitian adalah kelas implementasi pengembangan kurikulum di SMP N 28 Tebo. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik observasi, wawancara, studi dokumentasi dan studi literatur. Data yang telah di peroleh dalam penelitian ini akan dianalisis menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Dapat dikatakan kebebasan yang diberikan pada penerapan Kurikulum Merdeka sangat membantu pihak sekolah, memahami lebih jauh tentang apa yang dijalani
TARI SERENDONG AJER DI SANGGAR MARGASARI KACRIT PUTRA KABUPATEN BEKASI
Tari Serendong Ajer merupakan salah satu tarian yang tidak terlepas dari budaya dan masyarakat Betawi. Tarian tersebut diciptakan oleh Selvia Erviliani dan Samsudin atau Udin Kacrit di Sanggar Margasari Kacrit Putra. Penelitian dilakukan untuk mengetahui bagaimana upaya masyarakat dalam mengembangkan budaya salah satunya seni tari yang dapat di lihat pada Tari Serendong Ajer. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui koreografi, rias, busana, properti serta makna yang terdapat dalam Tari Serendong Ajer. Teori yang digunakan untuk membantu menganalisis objek penelitian di payungi oleh teori Etnokoreografi yang di bantu dengan teori lainnya yaitu teori koreografi, rias, busana, properti serta simbol dan makna. Metode yang digunakan pada penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan berdasarkan hasil observasi, wawancara, studi literatur dan dokumentasi. Teknik analisis data yang dilakukan yaitu penyajian data, reduksi data dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan wawancara kepada Selvia Erviliani Tari Serendong Ajer memiliki makna tentang kebiasaan masyarakat Betawi yang senang berkumpul dan berbincang dengan cantik. Hasil penelitian yang dilakukan untuk mengkaji makna yang terdapat pada Tari Serendong Ajer berdasarkan Koreografi, rias, busana dan properti yang di gunakan
LEGENDA TAPA MALENGGANG DALAM KONTEKS SENI PERTUNJUKAN TARI DI KABUPATEN BATANG HARI
Peserta didik berhak mengikuti pembelajaran untuk memperoleh pengetahuan, kemahiran, dan pembentukan sikap, namun maraknya wabah penyakit Covid-19 yang menyerang sistem pernafasan mampu melumpuhkan aktivitas manusia. Oleh karena itu, pendidik harus pintar dalam menyusun strategi untuk tetap berlangsungnya proses pembelajaran dengan baik. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk menganalisis kreativitas gerak (berkreasi tari) yang menggunakan stimulus video dalam pembelajaran tari jarak jauh di Sekolah Menengah Pertama melalui aplikasi whatsapp. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu pre-eksperimen dengan menggunakan pendekatan one shot case study. Populasi nya adalah dari 300 siswa di Sekolah Menengah Pertama yang berada di salah satu sekolah di Kabupaten Cirebon diambil sebanyak 6 orangnsiswa yang dijadikanmresponden/sampel. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terstruktur berupa angket dan tes keterampilan dengan analisis data menggunakan SPSS untuk ujinhipotesis dengan menggunakannuji korelasimPearson Product Moment terhadap data yang telah berdistribusimnormal. Peserta didik dapat berkreasi tari dengan durasi singkat yang diwujudkan dalam bentuk tari kreatif yang direkam dalam video dan dikirimkan melalui aplikasi whatsapp. Temuan penelitian ini menunjukan bahwa video pembelajaran layak untuk digunakan dan dapat dijadikan alat atau media pembelajaran tari jarak jauh (pembelajaran online)
PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA MELALUI PROBING PROMPTING DALAM PEMBELAJARAN TARI
Pemilihan model pembelajaran yang kurang tepat dapat berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis siswa, dengan demikian untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa dapat dilakukan dengan menerapkan model pembelajaran probing prompting. Tujuan penilitian ini adalah untuk mendeskripsikan hasil penelitian tentang penerapan model probing prompting dalam pembelajaran tari untuk meningkatkan kemampuan berpikir krtis siswa. Metode Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas dengan model spiral yang dikembangkan oleh Kemmis dan Taggart yang dilakukan sebanyak tiga siklus. Pengumpulan data menggunakan wawancara dan observasi. Populasi dalam penelitian ini ialah kelas XI SMAN 5 Cimahi yang berjumlah 12 kelas dengan jumlah total 422 siswa dan kelas yang dipilih sebagai sampel yang refresentatif ialah kelas XI IPS 3. Peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa di kelas XI IPS 3 SMAN 5 Cimahi dapat dikatakan berhasil karena dilihat dari ketercapaian indikator berpikir kritis pada tiap siklusnya mengalami peningkatan. Siklus I memperoleh presentase 61,59%, siklus II memperoleh 77,9%, siklus III memperoleh 80,64%. Selisih peningkatan dari siklus I ke siklus II adalah 11,9% kemudian dari siklus II ke III meningkat sebesar 9,12% dimana dari siklus pertama sampai dengan ketiga menunjukan adanya perubahan ke arah yang lebih baik hal ini disebabkan dari penerapan model probing prompting yang dicirikan dengan karakteristik tanya jawab, diskusi, dan mencari pemecahan masalah mengenai materi yang diajarkan. Dengan demikian asumsi yang dikemukakan dalam penelitian ini sesuai dengan hasil yang dicapai yaitu model probing prompting dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa
EFEKTIVITAS VIDEO PEMBELAJARAN DALAM MENINGKATKAN PENGUASAAN MATERI PERKULIAHAN PRAKTIK TARI
Kondisi pandemi Covid 19 mengharuskan perkuliahan dilaksanakan secara daring, tidak terkecuali mata kuliah praktik, Menilik kondisi ini, maka diperlukan formulasi video pembelajaran praktik tari secara daring, sehingga memudahkan mahasisawa memahami dan menguasai materi dalam perkuliahan tari rakyat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penguasaan mahasiswa, proses pembelajaan praktik tari serta mengetahui efektivitas penggunaan video pembelajaran dalam meningkatkan penguasaan mahasiswa terhadap ateri tari rakyat. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancana, studi literatur dan studi dokumentasi dengan instrumen yang digunakan yaitu jenis instrumen performance/interumen pengamatan. Teknik analisis data menggunakan statistik deskriptif dan inferensial melalui uji validasi, uji reliabilitas, uji normalitas, uji efektivitas menggunakan Paired sample T-Test dan rumus N-Gain. Hasil penelitian ini membuktikan adanya peningkatan nilai penguasaan materi tari polostomo setelah diberikannya video pembelajaran tari dengan hasil pada uji N-Gain dari seluruh indikator dinyatakan efektif karena nilai mahasiswa 7,6 maka video pembelajaran tari tersebut dinyatakan efektif
METODE TEAM GAMES TOURNAMENTS UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN GERAK DASAR TARI KREASI
Pembelajaran tari di sekolah sering kali dihadapkan pada beberapa kendala, antara lain kesulitan siswa dalam memahami tahapan gerak dasar tari, rendahnya kemauan apresiasi, dan minat siswa, terutama siswa laki-laki. Dilihat dari sisi guru, tantangan yang muncul adalah pendekatan dan strategi pembelajaran yang monoton, kurangnya inovasi dalam proses pembelajaran, serta penggunaan media yang kurang menarik. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan gerak dasar tari kreasi melalui penerapan model Team Games Tournament (TGT). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yang bertujuan untuk meningkatkan hasil pembelajaran melalui siklus perbaikan yang berkelanjutan. Teknik pengumpulan dan analisis dalam penelitian ini diawali dengan observasi, wawancara, pembuatan instrumen tes, dokumentasi, dan menggunakan pendekatan kualitatif. Instrumen tes terdiri dari penilaian kognitif, penilaian afektif, dan penilaian psikomotor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode TGT efektif dalam meningkatkan antusiasme siswa dalam pembelajaran tari. Siswa yang semula tidak antusias menjadi lebih bersemangat, mampu membangun kerja sama, dan menumbuhkan rasa tanggung jawab. Penerapan model TGT terbukti mampu meningkatkan kemampuan gerak dasar tarian kreasi siswa, yang dibuktikan dengan peningkatan nilai belajar siswa pada setiap pertemuan, baik dari aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Pada aspek psikomotorik, terjadi peningkatan yang signifikan, dimana pada pertemuan kedua 8% siswa memperoleh nilai sangat baik, dan meningkat menjadi 49% pada pertemuan ketiga. Hal ini menunjukkan bahwa model TGT dapat menjadi solusi efektif dalam pembelajaran tari, membuat aktivitas belajar lebih menarik, dan mengurangi kejenuhan siswa
PEMBELAJARAN TARI RADAP RAHAYU DENGAN METODE PEMBELAJARAN AUDIO VISUAL DI KELAS VII SMP NEGERI 10 BANJARMASIN
Penelitian ini membahas tentang pembelajaran tentang seni tari dengan memperhatikan proses pembelajaran tari Radap Rahayu dengan metode pembelajaran audio visual di kelas VII SMP Negeri 10 Banjarmasin. Penelitian ini bertujuan untuk mendreskripsikan proses pembelajaran tari Radap Rahayu pada siswa kelas VII di SMP Negeri 10 Banjarmasin dengan metode pembelajaran audio visual. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan datanya melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data melalui reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam proses pembelajaran, terdapat tiga tahapan, yaitu kegiatan pembuka atau awal, kegiatan inti, lalu diakhiri dengan kegiatan penutup. Pada kegiatan pembuka, guru menyapa siswa, memberikan gambaran tetnag pembelajaran yang akan dilakukan pada hari tersebut. Kemudian pada kegiatan inti, guru memberikan materi kepada siswa, materi tersebut berisi tentang sinopsis tari, ragam gerak tari, rias, kostum, dan aksesoris, serta musikiringan tari Radap Rahayu, guru menggunakan metode pembelajaran audio visual yaitu dengan LCD proyektor serta speaker untuk menampilkan materi tersebut di depan kelas serta untuk menampilkan video, guru juga membagi serta memberi tugas kelompok kepada siswa kemudian siswa per kelompok akan mempresentasikan hasil kerjanya. Pada kegiatan penutup, guru membuka sesi tanya jawab, memberi kesimpulan bersama denga siswa, lalu menutup pembelajaran dengan doa serta salam