144 research outputs found

    Karakteristik Pasien Hipertensi di Puskesmas Layang

    Get PDF
    ABSTRAKLatar belakang: Hipertensi atau secara awam disebut sebagai tekanan darah tinggi adalah masalah kesehatan global, termasuk  di Indonesia karena prevalensi nya tinggi. Hipertensi atau  yang disebut the silent killer yang merupakan salah satu factor resiko paling berpengaruh penyebab penyakit jantung (cardio vascular). Mengetahui factor penyebab atau factor risiko terjadinya hipertensi merupakan hal penting untuk pencegahan dan penatalaksanaan hipertensi yang adekuat dalam upaya menurunkan risiko penyakit kardio vaskular. Faktor risiko terjadinya hipertensi antara lain seperti usia, gender, IMT, ras, dan life style. Tujuan Penelitian: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran karakteristik pasien Hipertensi di Puskesmas Layang. Metode Penelitian: Penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan desain penelitian cross sectional untuk melihat gambaran karakteristik pasien Hipertensi yang ada di Puskesmas Layang. Karakteristik yang dimaksud berupa jenis kelamin, usia, dan Indeks Massa Tubuh (IMT). Hasil Penelitian: Dari 112 orang dapat diketahui bahwa jumlah pasien laki-laki dengan Hipertensi yaitu berjumlah 47 orang (41,96%) dan  jumlah pasien perempuan dengan Hipertensi yaitu berjumlah 65 orang (58,03%). Jumlah pasien Hipertensi dengan usia 50 tahun sebanyak 95 orang (84,82%). Jumlah pasien Hipertensi dengan IMT underweight sebanyak 5 orang (4,46%), IMT Normal sebanyak 30 orang (26,78%), Overweight sebanyak 34 orang (30,35%), Obesitas I sebanyak 42 orang (37,5%), dan Obesitas II sebanyak 1 orang (0,89%). Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, didapatkan karakteristik pasien Hipertensi berdasarkan jenis kelamin menunjukkan bahwa perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki, berdasarkan usia didapatkan pada usia>50 tahun lebih banyak dibandingkan usia di bawahnya dan berdasarkan karakteristik IMT pada penderita Hipertensi didapatkan jumlah pasien dengan status gizi yang obesitas I jauh lebih banyak dibandingkan status gizi yang lain. Berdasarkan hasil yang didapatkan dapat dipahami bahwa dengan mengetahui beberapa factor resiko yang berperan terhadap peningkatan terjadinya Hipertensi, maka kita juga dapat secara langsung mengendalikan terjadinya kasus Hipertensi tersebut. Dengan mengacu kepada hasil yang didapatkan, maka dapat dikatakan bahwa tidak hanya dengan menggunakan obat dapat mengendalikan kasus-kasus Hipertensi, tetapi dengan mengontrol beberapa factor resiko juga dapat menurunkan kejadian penyakit Hipertensi.Kata Kunci: Hipertensi, Karakteristik Pasien Hipertensi, Puskesmas Layan

    Ukuran Omfalokel: Apakah Berhubungan dengan Anomali Kongenital ?

    Get PDF
    ABSTRACT                                                                     Background: Omphalocele (also known as exomphalus) is a condition that is seen in newborn infants, and is thought to result from failure of the intestines to return to the abdomen after the migration into the umbilical cord. Omphalocele is often associated with the presence of other congenital anomalies. One study says that a small of defect omphalocele is often accompanied by intestinal disorders and have a better prognosis. Purpose(s): Based on this study the researcher wants to review the relationship between the size of  omphalocele defect and the presence of associated congenital anomaly in Hasan Sadikin Hospital. Methods: This is a retrospective cross-sectional study. All patient with omphalocele between February 2007 – March 2012 were included in this study. Data collected were patient demographics, size of omphalocele defect and congenital anomalies identified. In this study, patients were  designated as those with large (greater than 4 cm) or small (4 cm and less) defect omphaloceles. This study analyzed correlation between size of defect with associated anomaly using Fisher exact test  and  p < 0.05 is considered to be significant. Results: There were 52 omphalocele cases (24 girls, 28 boys), median birth weight 2710gr (range 1300gr–4000gr). Twenty seven patients were classified as small defect, with 25 classified as large defect. Anomaly found in the small defect groups consists of facial anomaly (7%); cardiac anomaly (7%); intestinal disorder (22%,P=0,02) include patent omphalomesentericus duct, anorectal malformation and cloaca extrophi; limb anomaly (7%). Meanwhile, anomalies identified in the large defect group consist of facial anomaly (8%); cardac defect (32%) include dextrocardi and tetralogi Fallot; limb anomaly (16%).In this study, cardiac defects was significantly higher in the large defect group, meanwhile intestinal diorder is statistically significant in small defect groups. Conclusion: Small defect omphalocele correlates with an increased prevalence of associated gastrointestinal anomalies and a lower prevalence of cardiac anomalies.Keyword: Omphalocele; Exomphalus; Associated congenital anomalies; Defect siz

    Perbandingan Skor Insersi LMA antara Pemberian Petidin-propofol dan Fentanil-propofol Intravena

    Get PDF
    ABSTRAKLatar Belakang Pemberian adjuvan seperti opioid, lidokain, midazolam dan pelumpuh otot dosis kecil bersama propofol mampu meningkatkan keberhasilan insersi LMA. Petidin adalah opioid yang memiliki aktivitas seperti anestetik lokal dengan harga relatif murah dibanding opioid lain.  Tujuan penelitian Membandingkan skor insersi LMA antara antara pemberian petidin-propofol intravena dengan fentanil-propofol intravena.Metode Lima puluh empat pasien ASA PS 1 dan 2 dengan rentang umur 17-60 tahun, BMI 18,5-30 kg/m2 dan mallampati I-II yang direncanakan operasi elektif dengan prosedur GA-LMA diacak kedalam 2 grup dengan menggunakan desain acak tersamar ganda. Grup P mendapatkan petidin 1 mg/kgBB 10 menit sebelum induksi dan grup F mendapatkan fentanil 1 µg/kgBB 3 menit sebelum induksi. Induksi menggunakan propofol 2 mg/kgBB selama 60 detik. Ventilasi dengan oksigen 100% melalui sungkup muka selama 60 detik dilakukan setelah refleks bulu mata hilang, selanjutnya dilakukan insersi LMA dan penilaian skor insersi LMA berdasarkan Lund & Stovener (gerakan anggota tubuh, laringospasme, menelan, batuk dan tersedak).Hasil Skor insersi LMA sangat memuaskan pada kelompok P lebih kecil dibandingkan kelompok F (29,6% vs 48,1%), namun tidak bermakna setelah uji statistik Chi-Square (p=0,264).Simpulan Skor insersi LMA dengan pemberian petidin-propofol intravena samabaiknya dengan pemberian fentanil-propofol intravena.Kata kunci :laryngeal mask airway, fentanyl, petidin, , propofol

    Karakteristik Penderita Tuberkulosis di Rumah Sakit Ibnu Sina Periode Januari - Desember 2018 (Characterization of Tuberculosis Patients in Ibnu Sina Hospital for January – December 2018)

    Get PDF
    Background: Tuberculosis is a disease caused by Mycobacterium tuberculosis. These pathogenic bacteria attack the lungs and other body organs. The TB incidence rate in Indonesia determines the third highest in the world after India and China. Estimated every year an estimated 528,000 new TB cases with approximately 91,000 deaths. Purpose: The aims of this study was to determine the characteristics of tuberculosis sufferers in Ibnu Sina Hospital in the period January-December 2018. Methods: This research examines research using observational research by looking at secondary data from the medical records of Ibnu Sina Hospital . The population was 53 patients, taking a sample using the total sampling method. The study was conducted in January 2020 at Ibnu Sina Hospital. Data were analyzed electronically using Microsoft Excel 2016 computer software with a descriptive display and presented in tabular form. Patients with Tuberculosis were obtained (63,75%) and women (36,25%). Result: Terms of BMI obtained underweight sufferers (52,5%), normal (36,25%), overweight (7,5%), and obecitas 1 (3,75%). Of the age categories ≤ 5-14 years (5%), 15-24 years (16,25%), 25-44 years (21,25%), 45-64 years (36,25%), dan ≥ 65 years (21,25%). Based on the occupational groups obtained by employees (12,5%), self-employed (8,75%), laborers (21,25%), IRT (27,5%), students (10%), civil servants (1,25%), lecturer (1,25%), retired (1,25%), fisherman (1,25 %) and unemployed (13,75%). Conclusion: The criteria for tuberculosis sufferers from this study came fromgender. The scales of males were more than females, in terms of age at most at age  45-64 years, from IMT the most tuberculosis patients were thin, and from work suffered more by housewives and laborers.Keywords: tuberculosis, gender, body mass index, age, work ABSTRAKLatar Belakang: Tuberkulosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Bakteri patogen ini menyerang paru-paru dan organ tubuh lainnya.. Angka kejadian TB di Indonesia menempati urutan ketiga terbanyak di dunia setelah India dan Cina. Diperkirakan setiap tahun terdapat 528.000 kasus TB baru dengan kematian sekitar 91.000 orang. Tujuan: untuk mengetahui gambaran karakteristik penderita Tuberkulosis RS Ibnu Sina periode Januari-Desember 2018. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan observasional dengan melihat data sekunder dari rekam medik RS Ibnu Sina. Jumlah populasi adalah 53 pasien, pengambilan sampel menggunakan metode total sampling. Penelitian dilakukan pada bulan Januari 2020 di RS.Ibnu Sina. Data dianalisa secara elektronik menggunakan perangkat lunak komputer program Microsoft Excel 2016 dengan tampilan deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel. Hasil: Didapatkan Penderita Tuberculosis laki-laki (63,75%) dan perempuan (36,25%). Dari segi IMT didapatkan penderita underweight (52,5%), normal (36,25%), overweight (7,5%), dan obesitas 1 (3,75%). Dari kategori umur ≤ 5-14 tahun (5%), 15-24 tahun (16,25%), 25-44 tahun (21,25%), 45-64 tahun (36,25%), dan ≥ 65 tahun (21,25%). Berdasarkan kelompok pekerjaan didapatkan karyawan (12,5%), wiraswasta (8,75%), buruh (21,25%), IRT (27,5%), pelajar / mahasiswa (10%), PNS (1,25%), dosen (1,25%), pensiunan (1,25%), nelayan (1,25%), dan yang tidak bekerja (13,75%).  Simpulan: Kriteria penderita Tuberculosis dari penelitian ini didapatkan dari jenis kelamin menunjukkan laki-laki lebih banyak dari perempuan, dari segi umur paling banyak pada usia 45-64 tahun, dari IMT paling banyak penderita Tuberculosis yang underweight, dan dari pekerjaan lebih banyak diderita oleh ibu rumah tangga dan buruh.Kata Kunci: tuberculosis, jenis kelamin, indeks massa tubuh, umur, pekerjaan

    Evaluasi Pengelolaan Obat di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Angkatan Darat dr. R. Ismoyo Kendari Tahun 2018

    Get PDF
    ABSTRAKLatar Belakang: Pengelolaan obat merupakan salah satu segi manajemen rumah sakit yang sangat penting dalam penyediaan pelayanan kesehatan secara paripurna. Ketidakefisienan dalam pengelolaan obat akan memberi dampak negatif bagi rumah sakit, baik secara medik, sosial maupun secara ekonomi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi pengelolaan obat di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Angkatan Darat dr. R. Ismoyo Kendari Tahun 2018 yang meliputi tahap seleksi, perencanaan, pengadaan, penyimpanan, distribusi dan penggunaan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif non eksperimental dengan pengambilan data secara retrospektif dan concurent menggunakan metode randomized sampling. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi dan panduan wawancara. Lembar observasi digunakan untuk mendokumentasikan data yang diperoleh terkait data pengelolaan obat sedangkan panduan wawancara digunakan untuk mendukung data observasi yang diperoleh melalui lembar observasi. Hasil: Hasil penelitian menunjukan bahwa kesesuaian item obat yang tersedia dengan DOEN sebesar 59,06%, presentase jumlah item obat yang direncanakan dan yang diadakan sebesar 100%, presentase kesalahan faktur sebesar 3,22%, frekuensi tertundanya pembayaran faktur 0%, ketepatan data jumlah obat pada kartu stok 100%, presentase stok mati sebesar 1,64%, nilai Turn Over Ratio (TOR) adalah 4,85 kali, presentase peresepan dengan nama generik sebesar 90,5% dan presentase peresepan antibiotik sebesar 20,83%. Simpulan: Pengelolaan obat di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Angkatan Darat dr. R. Ismoyo Kendari Tahun 2018 pada tahap perencanaan dan tahap penggunaan sudah efisien, sedangkan tahap seleksi, pengadaan, penyimpanan dan  tahap distribusi belum efisien.Kata Kunci: Pengelolaan Obat, Instalasi Farmasi, RSAD dr. R. Ismoy

    Formulasi Sediaan Krim Anti Jerawat Ekstrak Etanol Biji Pepaya Muda (Carica papaya L.) Serta Uji Aktivitasnya Terhadap Bakteri Pseudomonas aeruginosaATCC 27825 dan Staphylococcus aureusATCC 25923 (Anti Acne Cream Formulation for Young Papaya Seed (Carica papaya L.) Ethanol Extract and Activity Test Against Pseudomonas aeruginosa ATCC 27825 and Staphylococcus aureus ATCC 25923)

    Get PDF
    Background: Young papaya seeds (Carica papaya L.) contained terpenoids, alkaloids karpain and flavonoids that have been examined has antibacterial activity. Purpose: This study aims to obtain anti-acne cream from extract of young papaya seeds (Carica papaya L.) that possess antibacterial activity against Staphylococcus aureus ATCC 25923 and Pseudomonas aeruginosa ATCC 27825. Methods: Extract of young papaya seeds (Carica papaya L.) was obtained by maceration process using ethanol 96% and the antibacterial activity of extract conducted by well diffusion method. then the extract formulated into anti acne cream dosage and then tested to characteristic properties including pH test, dispersive power test, organoleptic test, homogeneity test, viscosity test and irritation test. Result: The results showed anti acne creams of extract young papaya seeds (Carica papaya L.) produced qualified standard and did not cause irritation. Conclusion: Anti acne cream containing extract concentration of 10% can inhibited bacteria of S. aureus ATCC 25923 with inhibition zone of 17,5 mm and P. aeruginosa ATCC 27825 with inhibition zone of 19,3 mm.Keyword: seeds of papaya (Carica papaya L.), anti acne creamLatar Belakang: Biji pepaya muda (Carica papaya L) mengandung terpenoid, alkaloid karpain dan flavonoid, yang telah diteliti memiliki aktivitas antibakteri. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh sediaan krim anti jerawat dari ekstrak biji pepaya muda (Carica papaya L) yang memiliki aktivitas anti bakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus ATCC 25923 dan Pseudomonas aureginosa ATCC 27825. Metode: Ekstrak biji pepaya muda (Carica papaya L) diperoleh melalui proses maserasi menggunakan pelarut etanol 96%, serta uji aktivitas antibakteri ekstrak dilakukan dengan metode sumuran. Ekstrak selanjutnya diformulasikan menjadi sediaan krim anti jerawat dan dilakukan uji karakterisasi meliputi uji pH, uji daya sebar, uji organoleptik, uji homogenitas, uji viskositas dan uji iritasi. Hasil: Hasil pengamatan menunjukkan sediaan krim anti jerawat ekstrak biji pepaya muda (Carica papaya L) yang dihasilkan memenuhi syarat standar nilai pH, daya sebar dan viskositas. Hasil uji iritasi memperlihatkan formula krim tidak menimbulkan iritasi. Simpulan: Sediaan krim anti jerawat dengan konsentrasi ekstrak 10% dapat menghambat bakteri S.aureus ATCC 25923 dengan hambatan sebesar 17,5 mm dan P. aeruginosa ATCC 27825 dengan hambatan sebesar 19,3 mm.Kata Kunci: biji pepaya muda (Carica papaya L), krim anti jerawa

    Analisis Hubungan Merokok dan Konsumsi Kopi Terhadap Tingkat Kejadian Stroke di RSUD Kota Kendari

    Get PDF
    ABSTRAKLatar Belakang. Stroke adalah gangguan fungsional otak yang terjadi secara mendadak atau secara cepat dengan tanda dan gejala klinis baik fokal maupun global yang berlangsung lebih dari 24 jam yang disebabkan karena terhambatnya aliran darah ke otak karena perdarahan ataupun karena sumbatan dengan gejala dan tanda sesuai di bagian otak yang terkena. Banyak faktor yang dapat meningkatkan kejadian stroke diantaranya perilaku merokok dan konsumsi kopi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan merokok dan konsumsi kopi terhadap kejadian stroke di RSUD Kota Kendari. Metode. Rancangan penelitian ini merupakan studi analitik dengan desain studi cross-sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh pasien rawat jalan bagian Poli Saraf tahun 2019 di RSUD Kota Kendari yang berjumlah 78 pasien. Dengan menggunakan rumus Slovin besar sampel dalam penelitian ini sebanyak 65 sampel dengan teknik pengambilan sampel secara Incidental Sampling. Data diperoleh dari hasil pengajuan pertanyaan dengan menggunakan alat kuisioner secara terstruktur dengan persetujuan dari subjek yang ingin diteliti dan data sekunder diperoleh dari data rekam medis pasien yang ingin diteliti. Analisis data menggunakan program SPSS dengan uji Chi square dengan derajat kemaknaan 0,05. Hasil. Analisis univariat menunjukkan bahwa dari 65 responden, terdapat 37 responden yang mengalami stroke (56,9 %) dan terdapat 28 responden yang tidak mengalami stroke (43,1 %). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa ada hubungan antara merokok dan kejadian stroke dengan p value sebesar 0,000 (p value 0,05). Kesimpulan. Ada hubungan antara merokok dengan kejadian stroke, dan tidak ada hubungan antara konsumsi kopi dan kejadian stroke.Kata Kunci: Stroke, Merokok, Konsumsi kop

    Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Turi (Sesbania grandiflora (L.)Press) terhadap Pertumbuhan Bakteri Salmonella thypi dan Streptococcus mutans (Antibacterial Activity of Turi Leaf Extract (Sesbania grandiflora (L.) Press) against Salmonella thypi and Streptococcus mutans)

    Get PDF
    Background: Infectious diseases are still one of the important public health issues in developing countries. Most infections are caused by bacteria, fungi, viruses and parasites. The relatively high use of antibiotics gives many problems especially resistance. So the use of traditional medicinal plants is needed as an alternative treatment. One of the traditional medicine that can be used for treatment is turi leaf (Sesbania grandiflora (L.) Pers). The potential of turi leaves is as antibacterial because its have contains alkaloids, flavonoids, saponins and tannins. The purpose of this research is to knowing about antibacterial activity of turi leaf extract (S. grandiflora (L.) Pers) on Salmonella thypi and Streptococcus mutans bacteria growth. Methods: This research uses post test only control design, independent variable is turi leaf extract and dependent variable is bacterial growth inhibition zone. Lean ethanol extract of turi leaf was obtained by maceration method after waiting for 3 x 24 hours. Testing of antibacterial activity using wells diffusion method. Results: showed that the fraction of ethyl acetate and n-hexane of turi leaves of had antibacterial activity on S. thypi and S. mutans growth with the gratest concentration value capable of inhibiting bacterial growth of 100%. The fraction of ethyl acetate and n-hexane of turi leaves inhibited S. thypi bacteria growth of 11 mm and 4 mm, while for S. mutans were 4.67 mm and 4mm. Minimum Stress Levels of ethyl acetate and n-hexane fractions on groeth of S. thypi and S. mutans bacteria were at concentrations of 10%. Conclusion: From this research it can be concluded that the fraction of ethyl acetate and turi leaf n-hexane fraction (S. grandiflora (L.) Pers) has antibacterial activity against S. thypi and S. mutans growth. with Minimum Stress Levels being at a concentration of 10%. The antibacterial activity is more sensitive to S. thypi than S. mutans. Keywords: Minimum Inhibitory, Turi Leaf (Sesbania grandiflora (L.) Pers), Salmonella typhi, Streptococcus mutans Latar Belakang: Penyakit infeksi masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang penting, khususnya di negara berkembang. Sebagian besar infeksi disebabkan oleh bakteri, fungi, virus dan parasit. Penggunaan antibiotik yang relatif tinggi menimbulkan berbagai permasalahan global terutama resistensi. Sehingga penggunaan tanaman obat tradisional diperlukan sebagai pengobatan alternatif. Salah satunya adalah S. grandiflora (L.) Pers. Potensi daun turi sebagai antibakteri karena mengandung alkaloid, flavonoid, saponin dan tanin. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak S. grandiflora (L.) Pers terhadap pertumbuhan bakteri S. thypi dan S. mutans. Metode: Penelitian ini menggunakan desain post test only control, variabel bebas adalah ekstrak daun turi dan variabel terikat adalah zona hambat pertumbuhan bakteri. Ekstrak etanol daun turi diperoleh dengan metode maserasi selama 3 x 24 jam. Pengujian aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi sumuran. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan fraksi etil asetat dan fraksi n-heksan S. grandiflora (L.) Pers memiliki aktivitas antibakteri terhadap pertumbuhan bakteri S. thypi dan S. mutans dengan nilai konsentrasi terbesar yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri yaitu 100%. Fraksi etil asetat dan n-heksan daun turi menghambat pertumbuhan bakteri S. thypi sebesar 11 mm dan 4 mm, sedangkan untuk S. mutans berturut-turut sebesar 4,67 mm dan 4 mm. Kadar Hambat Minimum dari fraksi etil asetat dan n-heksan terhadap pertumbuhan bakteri S. thypi dan S. mutans berada pada konsentrasi 10%. Simpulan: Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa fraksi etil asetat dan fraksi n-heksan S. grandiflora (L.) Pers memiliki aktivitas antibakteri terhadap pertumbuhan S. thypi dan S. mutans dengan Kadar hambat Minimum berada pada konsentrasi 10%.Aktivitas antibakteri lebih peka pada S. thypi dibandingkan S. mutans.Kata kunci:  daun turi (Sesbania grandiflora (L.) Pers), Salmonella thypi, Streptococcus mutans, kadar hambat minimu

    Optimasi Kadar Fenilbutazon dalam Pembawa Vesikular Etosom (Optimization of Concentration of Phenylbutazone in Ethosomes Vesicular Carrier)

    Get PDF
    Background: Phenylbutazone is a class of non-steroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) used in the treatment of rheumatoid arthritis. Phenylbutazone is used by the transdermal route to reduce the irritating effect on the gastrointestinal tract. Purpose: This study aims to obtain phenylbutazone suspensions with optimal levels in the ethosome vesicular carrier. Methods: Preparation was carried out by the hot method (40oC) and cold method (30oC) as well as variations in the concentration of phosphatidylcholine (2% and 3%) and ethanol (30%, 35%, and 40%). Characterization of vesicles, namely the shape and size of vesicles using optical microscopy and entrapment efficiency using the spectrophotometer method with λ maks 266.6 nm. Optimization of phenylbutazone levels was carried out at a concentration of 0.1%; 0.15%; 0.2%; and 0.25%. The optimum formula was obtained at a concentration of phosphatidylcholine 3% and ethanol 35% prepared by the hot method. Results:. The form of a Small Unilamellar Vesicle (SUV), a size of 23.7 nm, and entrapment efficiency is 88.358%. Optimization of phenylbutazone levels was obtained at a concentration of 0.1% with entrapment efficiency of 88.358%. Conclusion: The optimum level of phenylbutazone in the vesicular carrier ethosome was 0.1%.Keywords: ethosome, optimation, phenylbutazone, transdermal ABSTRAKLatar Belakang: Fenilbutazon merupakan golongan obat antiinflamasi non stroid (AINS) yang digunakan pada pengobatan penyakit rheumatoid arthritis. Fenilbutazon digunakan melalui rute transdermal untuk mengurangi efek iritasi pada saluran cerna. Tujuan: Penelitian ini bertujuan memperoleh suspensi fenilbutazon dengan kadar yang optimal dalam pembawa vesikular etosom. Metode: Preparasi dilakukan dengan metode panas (40oC) dan metode dingin (30oC) serta variasi konsentrasi fosfatidilkolin (2% dan 3%) dan etanol (30%, 35%, dan 40%). Karakterisasi vesikel yaitu bentuk dan ukuran vesikel menggunakan mikroskop optik serta efisiensi penjerapan menggunakan metode spektrofotometer pada λmaks 266,6 nm. Optimasi kadar fenilbutazon dilakukan pada konsentrasi 0,1%; 0,15%; 0,2%; dan 0,25%. Diperoleh formula optimum pada konsentrasi fosfatidilkolin 3% dan etanol 35% yang dipreparasi dengan metode panas Hasil: Vesikel yang diperoleh berbentuk Small Unilamellar Vesicle (SUV), ukuran 23,7 nm, dan efisiensi penjerapan 88,358%. Optimasi kadar fenilbutazon diperoleh pada konsentrasi 0,1% dengan efisiensi penjerapan 88,358%. Kesimpulan: Disimpulkan bahwa kadar optimum fenilbutazon dalam pembawa vesikular etosom adalah 0,1%.Kata kunci: etosom, optimasi, fenilbutazon, transderma

    Uji Aktivitas Antioksidan Hidrolisat Protein Kerang Pasir (Semele cordiformis) dengan Metode DPPH (Antioxidant Activity of Protein Hydrolisate from Semele cordiformis Using DPPH Methode)

    Get PDF
    Background: Sand shell (Semele cordiformis) is commonly found in South East Sulawesi marine area. This species traditionally used for treatment of several disease. Nevertheless, there is less publication about bioactivity of S. cordiformis as asource of drugs. Purpose: The aims of this research is to determine the activity of protein hydrolysate of S. cordiformis as an antioxidant. Methods: This research was conducted by pre-experimetal study with post test only control group design. Antioxidant activity was measure by DPPH method and spectrophotometry. The sample was hydrolyzed by using papain enzyme. The sample was made in to concentration 200 ppm, 400 ppm, 600 ppm, 800 ppm, and 1000 ppm and vitamin C was used as positive control. The IC50 was used to measure antioxidant activity. Results: Concentration of 200 ppm showed 36,68% of inhibition percentage, 400 ppm showed 47,69%, 600 ppm showed 60,19%, 800 ppm showed 65,63%, and 1000 ppm showed 72,69 %. The IC50 value of was obtained for 453,777 ppm. Conclusion: The protein hydrolysate of S. cordiformis have an antioxidant activity and the hydrolisat concentration is directly proportional with inhibition activity.Keyword: antioxidant, protein hydrolysate, Semele cordiformis ABSTRAKPendahuluan: Kerang pasir atau Semele ccordiformis merupakan jenis kerang yang banyak ditemukan di perairan Sulawesi Tenggara. Kerang ini merupakah salah satu jenis kerang yang telah dimanfaatkan secara turun-temurun oleh masyarakat lokal untuk pengobatan. Meskipun demikian, belum ditemukan publikasi ilmiah mengenai bioaktifitas S. ccordiformis dalam bidang kesehatan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktifitas antioksidan hidrolisat protein S. cordiformis. Metode: Penelitian menggunakan desain pra-eksperimental dengan pendekatan post-test only control group. Uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH dengan prinsip spektrofotometri. Sampel dari penelitian ini adalah S. cordiformis yang diperoleh dari perairan Pulau Bokori, Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara yang kemudian dihidrolisis menggunakan enzim papain. Sampel dibuat menjadi beberapa konsentrasi yaitu 200 ppm, 400 ppm, 600 ppm, 800 ppm, and 1000 ppm dan vitamin C digunakan sebagai kontrol positif. Nilai IC50 digunakan untuk mengetahui aktifitas antioksidan. Hasil: Konsentrasi 200 ppm menghasilkan persen inhibisi sebesar 36,68%, 400 ppm sebesar 47,69%, 600 ppm sebesar 60,19%, 800 ppm sebesar 65,63%, dan 1000 ppm sebesar 72,69 %. Nilai IC50 yang diperoleh adalah 453,777 ppm. Simpulan: hidrolisat protein S. cordiformis memiliki aktivitas antioksidan dengan konsentrasi hidrolisat berbanding lurus terhadap aktifitas inhibisi.Kata Kunci: antioksidan, hidrolisat protein, Semele cordiformi

    117

    full texts

    144

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    MEDULA
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇