MEDULA
Not a member yet
144 research outputs found
Sort by
Efek Pemberian Vitamin E Pada Tikus Sprague Dawley yang Mendapat Etanol Terhadap Kadar Malondialdehyde Testis
ABSTRAKLatar Belakang: Etanol dapat menyebabkan gangguan produksi testosteron intratestikular dan infertilitas. Etanol memicu terjadinya stres oksidatif yang diakibatkan oleh meningkatnya Reactive Oxygen Species (ROS) sehingga memicu terjadinya peroksidasi lipid yang dapat menyebabkan kerusakan sel. Malondialdehyde (MDA) merupakan produk akhir peroksidasi lipid, yang biasanya digunakan sebagai biomarker biologis peroksidasi lipid dan menggambarkan derajat stres oksidatif. Vitamin E adalah vitamin larut lemak yang berperan sebagai antioksidan yang melindungi membran seluler terhadap kerusakan oksidatif. Tujuan: Untuk membuktikan adanya efek pemberian vitamin E terhadap stres oksidatif akibat pemberian etanol yang ditunjukkan dengan kadar MDA testis. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni dengan rancangan Post-test only control group design. Sebanyak 12 ekor tikus Sprague Dawley dibagi dalam 4 kelompok perlakuan. Kelompok 1 mendapat aquades 1 mL/hari, kelompok 2 mendapat minyak biji bunga matahari 0,1 mL/hari, kelompok 3 mendapat etanol 30% 7 mL/kgBB/hari, dan kelompok 4 mendapat etanol 30% 7 mL/kgBB/hari dan pemberian vitamin E 120 IU/kgBB/hari. Pemberian perlakuan dilakukan secara oral selama 30 hari. Pemeriksaan kadar MDA testis dengan metode TBARS dengan spektrofotometer sehari setelah perlakuan terakhir. Hasil: Rerata kadar MDA testis pada tikus yang mendapat etanol (5,8325 nmol/g) lebih tinggi daripada kelompok tikus yang mendapat etanol dan vitamin E 120 IU/kgBB (2,6775 nmol/g).Simpulan: Efek Pemberian vitamin E pada tikus yang mendapat etanol menunjukkan kadar MDA testis yang lebih rendah dibandingkan dengan tikus yang hanya mendapat etanol. Kata Kunci : Etanol, vitamin E, MDA testi
Hubungan Pola Makan Terhadap Kejadian Kekurangan Energi Kronik Pada Ibu Hamil Trimester I Di Wilayah Kerja Puskesmas Kassi-Kassi Kota Makassar
ABSTRAKLatar Belakang: Kurang energi kronik (KEK) merupakan keadaan saat ibu mengalami kekurangan makanan yang berlangsung lama (kronis) sehingga menimbulkan gangguan kesehatan bagi ibu yang ditandai dengan badan lemah, wajah menjadi pucat, dan lingkar lengan atas (LILA) ≤ 23 cm (Kementerian Kesehatan RI, 2013). Tujuan : Pada penelitian ini untuk mengetahui hubungan pola makan terhadap kejadian kekurangan energi kronik pada ibu hamil trimester I di Wilayah Kerja Puskesmas Kassi-Kassi Kota Makassar. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian case control dengan pendekatan kuantitatif melalui pengambilan sampel secara total sampling dengan 24 responden, kemudian mengisi lembar kuesioner Food Frequency Questionnaire (FFQ) untuk melihat pola makan responden (jumlah, jenis, frekuensi makan). Hasil: Hasil penelitian ini berdasarkan hasil uji chi square pada jumlah makan diperoleh nilai p value = 0,667 > nilai α = 0,05, kemudian pada jenis makan diperoleh nilai p value = 0,155 > nilai α = 0,05 dan frekuensi makan diperoleh nilai p value = 0,667 > nilai α = 0,05, yang artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara pola makan dengan kejadian KEK pada ibu hamil trimester I. Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian ini ialah tidak terdapat hubungan antara jumlah makan dengan kejadian KEK pada ibu hamil trimester I, kemudian tidak terdapat hubungan antara jenis makan dengan kejadian KEK pada ibu hamil trimester I dan tidak terdapat hubungan antara frekuensi makan dengan kejadian KEK pada ibu hamil trimester I.Kata Kunci : Food Frequency Questionnaire, Ibu Hamil Trimester I, KEK, Pola Makan
Pengaruh Metode Penyuluhan Terhadap Tingkat Pengetahuan Ibu Mengenai Kebersihan Mulut Bayi Di Wilayah Kerja Puskesmas Labibia
ABSTRAK Latar Belakang. Kebersihan mulut bayi yang buruk mengkibatkan terjadinya beberapa penyakit pada mulut seperti sariawan, whitet coated dan kandidiasis. Penyakit ini dapat membuat asupan nutrisi yang masuk bayi berkurang. Jumlah kasus kebersihan mulut bayi di Puskesmas Labibia pada tahun2020 sebanyak 20 kasus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh metodepenyuluhan terhadap tingkat pengetahuan ibu mengenai kebersihan mulut bayi di wilayah kerja Puskesmas Labibia.Metode. Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimen two group pre-test- post-test. Kelompok satu arah dalam penelitian ini adalah yang tinggal di Kelurahan Alolama dan Wawombalata dan kelompok dua arah adalah yang tinggal di Kelurahan Anggilowu dan Labibia. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode judgement sampling. Jumlah sampel adalah 106 sampel.. Data diolah dengan menggunakan uji statistik wilcoxon dan Mann-Whitney.Hasil. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh metode penyuluhan satu arah terhadap tingkat pengetahuan ibu mengenai kebersihan mulut bayi dengan p-value=0,000, terdapat pengaruh metode penyuluhan dua arah terhadap tingkat pengetahuan ibu mengenai kebersihan mulut bayi dengan p- value=0,000, tidak ada perbedaan tingkat pengetahuan ibu mengenai kebersihan mulut bayi di wilayah kerja Puskesmas Labibia dengan menggunakan metode penyuluhan satu arah dan metode penyuluhan dua arah dengan p-value=0,143. Kesimpulan. Terdapat pengaruh metode penyuluhan satu arah terhadap tingkat pengetahuan ibu mengenai kebersihan mulut bayi dan terdapat pengaruh metode penyuluhan dua arah terhadap tingkat pengetahuan ibu mengenai kebersihan mulut bayi, tidakada perbedaan tingkat pengetahuan ibu mengenai kebersihan mulut bayi di wilayah kerja Puskesmas Labibia dengan menggunakan metode penyuluhan satu arah dan metode penyuluhan dua arah.Kata kunci. Metode Penyuluhan, Tingkat Pengetahuan, Kebersihan Mulut bayi, Puskesmas Labibia
Penentuan Jenis Kelamin berdasarkan Indeks Kaninus (Sex Determination Based on Canine Index)
Background: Identification is an effort made to determine a person's identity. One of the important things in identification is sex determination. Teeth are the hardest part of the human body and are protected in the oral cavity so they have a major role in forensic identification. Canine is the longest teeth and oftentimes used in identification. Purpose: To determine the sex based on the canine index. Methods: An observational analytic cross-sectional study design with 250 research subjects of Halu Oleo University Medical Faculty students from October to December 2018, ages 18-25 years, who met the inclusion criteria, male (n = 125) and female (n = 125). Canine index by calculating the ratio of mesiodistal width (a measure of the width of canines measured from the two widest ends) divided by the distance between canines in four regions namely upper right jaw, upper left jaw, lower right jaw and upper left jaw. Result: Spearman correlation test results of canine index to sex, namely the upper right jaw value of p = 0.124, the upper left jaw value of p = 0.117, the right and right lower jaw with the p value = 0,000. Conclusion: The lower jaw canine index can be used in sex determination, where male have greater lower jaw canine index than female.Keywords: identification, canine index, sex ABSTRAKLatar Belakang: Identifikasi merupakan upaya yang dilakukan untuk menentukan identitas seseorang. Salah satu hal penting dalam identifikasi adalah penentuan jenis kelamin. Gigi merupakan bagian paling keras dari tubuh manusia dan terlindung di dalam rongga mulut sehingga mempunyai peran besar dalam identifikasi forensik. Kaninus/gigi taring merupakan gigi yang paling panjang diantara semua gigi dan sering digunakan dalam identifikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penentuan jenis kelamin berdasarkan indeks kaninus. Metode: Penelitian analitik observasional rancangan cross sectional dengan 250 subyek penelitian mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Halu Oleo Periode Oktober-Desember 2018, usia 18-25 tahun, yang memenuhi kriteria inklusi, laki-laki (n=125) dan perempuan (n=125). Indeks kaninus dengan menghitung rasio lebar mesiodistal (ukuran lebar dari gigi taring yang diukur daripada kedua ujung yang terlebar) dibagi jarak antar kaninus pada empat regio yaitu rahang atas kanan, rahang atas kiri, rahang bawah kanan dan rahang bawah kiri. Hasil: Hasil uji korelasi Spearman indeks kaninus terhadap jenis kelamin yaitu pada rahang kanan atas nilai p=0,124, rahang kiri atas nilai p=0,117, rahang kanan dan kiri bawah dengan nilai p=0,000. Simpulan: Indeks kaninus rahang bawah dapat digunakan dalam penentuan jenis kelamin, laki-laki mempunyai indeks kaninus rahang bawah lebih besar dibanding perempuan.Kata kunci: identifikasi, indeks kaninus, jenis kelami
Hubungan Antara Jenis Kelamin dengan Jumlah Luka Kasus Kekerasan Fisik pada Anak
Latar Belakang: kekerasan terhadap anak mencakup semua bentuk perlakuan yang salah baik secara fisik dan/atau emosional, seksual, penelantaran, dan eksploitasi yang berdampak atau berpotensi membahayakan kesehatan anak, perkembangan anak, atau harga diri anak dalam konteks hubungan tanggung jawab. Kekerasan fisik merupakan salah satu jenis kekerasan yang masih mendominasi sebaran jenis kekerasan pada anak. Berdasarkan jenis kelamin, kasus kekerasan terhadap anak lebih banyak terjadi pada anak perempuan di semua jenis kekerasan Tujuan : Untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan jumlah luka kekerasan fisik pada anakMetode : Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik. Subyek terdiri dari 120 anak yang tercatat dalam Visum et Repertum korban kekerasan fisik pada anak di Rumah Sakit Bhayangkara Kendari. Data yang dikumpulkan mencakup karakteristik jenis kelamin, usia, jenis perlukaan dan jumlah luka. Untuk melihat keeratan hubungan dilakukan analisis dengan menggunakan uji Chi Square.Hasil : Subyek terdiri dari 85 (70,8%) anak laki-laki dan 35 (29,2%) dengan rentang usia 0-10 tahun sebanyak 5 (4,2%) anak dan usia 10-18 tahun sebanyak 115 (95,8%) anak. Jenis luka didominasi oleh luka memar sebanyak 45 (37,5%) dan gabungan antara jenis luka memar dan lecet sebanyak 31 (25,8%). Mayoritas subyek memiliki satu jenis luka tunggal sebanyak 52 (43,3%) anak. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan jumlah luka kekerasan fisik pada anak (p> 0,05).Kesimpulan : Jenis kelamin tidak berhubungan dengan jumlah luka kekerasan fisik pada anak. Kata kunci: Jenis kelamin, Jumlah Luka, Kekerasan fisik, Anak
Hubungan Kebiasaan Merokok dan Kondisi Lingkungan dengan Kejadian Tuberkulosis Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Guali Tahun 2016 (The Relationship Between Smoking Habits and Environmental Conditions with The Incidence of Pulmonary Tuberculosis in the Work Area of Guali Public Health Center in 2016
Background: Tuberculosis is an infectious disease caused by Microbacterium Tuberculosis, bacteria aerobic rods and acid resistance can be a pathogenic organism or pathogen microbacterium saprofit there are several, but only bovine and human strains are pathogenic to humans. Purpose: The purpose of the study was to examine the relationship between smoking habit and environmental conditions with the incidence of pulmonary tuberculosis in the work area of Guali public health Center in 2016. Method: The design of this research was analytic with cross sectional approach. The population in this study was 94 tuberculosis patients and the total sampling technique was used. Result: The statistical analysis between smoking and environmental conditions with the incidence of pulmonary tuberculosis has p value of 0.007 and 0.030 consecutively. Conclusion: There was a correlation between smoking habit and environmental condition with the incidence of pulmonary tuberculosis the work area of Guali public health Center in 2016. It is recommended to families especially family members who suffer from pulmonary TB to adhere to appropriate treatment, and to motivate other family members to check contacts to prevent transmission early.Keywords : environmental conditions, smoking habit, tuberculosis Latar belakang: Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Microbacterium tuberculosis, kuman bentuk batang, aerob dan tahan asam. Kuman ini merupakan organisme pathogen dan saprofit. Ada beberapa microbacterium pathogen, tetapi hanya strain bovin dan human yang patogenik terhadap manusia. Adapun tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan merokok, kondisi lingkungan dengan kejadian Tuberkulosis paru di wilayah Kerja Puskesmas Guali Tahun 2016. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional, yakni untuk mencari hubungan antara kebiasaan merokok, kondisi lingkungan dengan kejadian Tuberkulosis paru di wilayah Kerja Puskesmas Guali Tahun 2016. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 94 orang. Adapun tehnik penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah tehnik total sampling yaitu berjumlah 94 orang. Hasil: Hasil analisis statistik antara kebiasaan merokok (p= 0,007) dan kondisi lingkungan (p=0,030) dengan kejadian Tuberkulosis Paru. Simpulan: Terdapat hubungan antara kondisi lingkungan dengan kejadian Tuberkulosis paru di wilayah kerja Puskesmas Guali tahun 2016. Disarankan bagi keluarga yang mempunyai angota keluarga yang menderita penyakit Tuberkulosis Paru dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan kontak untuk pencegahan secara dini.Kata Kunci : kebiasaan merokok, kondisi lingkungan, kejadian tuberkulosis par
Aktivitas Antibakteri Sabun Cuci Tangan yang Mengandung Ekstrak Metanol Rumput Laut Eucheuma spinosum (Antibacterial Activity Test of Eucheuma spinosum Methanol Extract Hand Wash)
Background: Eucheuma spinosum seaweed contain flavonoid, triterpenoid, alkaloids and polyphenol which has been widely used in antibacterial activity. Purpose(s):The aim of the research are to determine antibacterial activities of metanol extracts of E. spinosum against Staphylococcus aureus ATCC 25923 and Escherichia coli ATCC 25922; to formulate hand wash of seaweed of methanol extract E. spinosum that has antibacterial activity and has physical and chemical stability. Methods: Seaweed E.spinosum methanol extract was derived by maceration method. Antibacterial activities of the extract were tested by liquid dilution and solid dilution method. Hand wash was formulated by mechanical dissolved methods. Antibacterial activity of hand wash were tested by liquid dilution and solid dilution method. Physical and chemical stabilities were conducted by cycling test. Results:. These were showed through minimum inhibitory concentration (MIC) of ethanol extracts of E. spinosum against S. aureus ATCC 25923 at concentrations of 6% and E. coli ATCC 25922 at concentrations of 6%. The minimum bactericidal concentration (MBC) of ethanol extracts of E. spinosum against S. aureus ATCC 25923 at concentrations of 8% and E. coli ATCC 25922 at concentrations of 8%. Formulation of hand wash seaweed E. spinosum methanol extract at concentrations of 8% and 10%. The test of stabilities results of hand wash changes were organoleptic, viscosity, pH, and foaming ability were accordance to qualified standard. The antibacterial activity of hand wash contains seaweed E. spinosum methanol extract at concentration of 8% and 10% have bactericidal activity againts S. aureus ATCC 25923 and E. coli ATCC 25922. Conclusion: Overall, these results suggested that formula of hand wash contains E. spinosum metanol extracts have antibacterial properties against S. aureus ATCC 25923 and E. coli ATCC 25922.Keywords: antibacterial, Eucheuma spinosum, hand wash, physical and chemical stability Latar Belakang: Rumput laut Eucheuma spinosum mengandung flavonoid, triterpenoid, alkaloid, dan polifenol yang memiliki aktivitas antibakteri. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak metanol E. spinosum terhadap Staphylococcus aureus ATCC 25923 and Escherichia coli ATCC 25922; membuat sediaan sabun cuci tangan dari ekstrak metanol E. spinosum yang memiliki aktivitas antibakteri dan stabil secara fisika dan kimia. Metode: Ekstrak metanol E. spinosum diperoleh dengan metode maserasi. Uji aktivitas antibakteri ekstrak dilakukan dengan metode dilusi cair dan dilusi padat. Sabun cuci tangan diformulasi dengan metode pencampuran mekanik. Uji aktivitas antibakteri sabun cuci tangan dilakukan dengan metode dilusi cair dan dilusi padat. Uji stabilitas fisika kimia dilakukan dengan metodecycling test. Hasil: Konsentrsi Hambat Minimum (KHM) ekstrak metanol E. spinosum terhadap S. aureus ATCC 25923 adalah 6% dan terhadap E. coli ATCC 25922 adalah 8%. Ekstrak metanol E. spinosum dapat diformulasi menjadi sabun cuci tangan dengan konsentrasi 8% dan 10%. Uji stabilitas menunjukkan bahwa perubahan organoleptik, viskositas, pH, dan kemampuan membentuk busa masih berada dalam nilai yang dipersyaratkan. Uji aktivitas antibakteri sabun cuci tangan yang mengandung ekstrak metanol E. spinosum dengan konsentrasi 8% dan 10% memiliki aktivitas antibakteri terhadap ATCC 25923 and E. coli ATCC 25922. Simpulan: Formula sabu cuci tangan yang mengandung ekstrak metanol E. spinosum memiliki aktivitas antibakteri terhadap ATCC 25923 and E. coli ATCC 25922.Kata kunci: antibakteri, Eucheuma spinosum, sabun cuci tangan, stabilitas fisika kimi
Sosiodemografi Persalinan dengan Seksio Sesarea di RS dr. Ismoyo Kendari (Sociodemographic Profile of Caesarean Birth in dr. Ismoyo Hospital Kendari)
Background: The government made various efforts to reduce MMR, including improving maternal health services during pregnancy, childbirth and the puerperium. Caesarean birth is performed to reduce complications of pregnancy and childbirth and reduce maternal and infant mortality. Purpose: To determine the sociodemographic profile of caesarean birth in one of the private hospitals in Kendari City. Methods: This wa a descriptive study which was conducted in January 2020. Samples were patients who gave caesarean birth in dr. Ismoyo Kendari Hospital from 1 January 2019 to 31 December 2019. Data were obtained from medical records and abstracted into questionnaires, consisting of maternal characteristics and care. Data was tabulated and presented with a table with an explanation. Result: The number of deliveries at dr. Ismoyo Hospital Kendari during the period 1 January 2019 to 31 December 2019 was 914, consisting of 569 were vaginal deliveries (62.3%) and 345 were caesarean deliveries (37.7%). The majority of caesarean birth deliveries were performed at the age of 20-35 years (77.1%), the level of education was high (66.1%), multiparous (57.7%), as housewives (46.7%), and using insurance (96.5%). Almost all respondents used health insurance (96.5%), were treated in class 1 (36.2%), more than half brought referrals from doctors' practices (55.4%) and emergency actions were taken. Conclusion: Percentage of caesarean birth in dr. Ismoyo Hospital Kendari is 37.7%, the majority are aged 20-35 years, highly educated, multiparitas, and as a housewife. The majority of care is done in class 1, referral from a doctor's practice and an emergency action.Keywords: caesarean birth, care, characteristics, labor ABSTRAKLatar belakang: Pemerintah melakukan berbagai upaya untuk menurunkan AKI, termasuk meningkatkan pelayanan kesehatan ibu selama kehamilan, persalinan dan nifas. Tindakan seksio sesarea dilakukan untuk mengurangi komplikasi kehamilan dan persalinan serta menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Tujuan: mengetahui gambaran sosiodemografi persalinan dengan SC di salah satu Rumah Sakit swasta di Kota Kendari. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif yang telah dilakukan pada bulan Januari 2020. Sampel yaitu pasien yang melahirkan dengan SC di RS dr.Ismoyo Kendari mulai 1 Januari 2019 sampai 31 Desember 2019. Data diperoleh dari catatan medik dan diabstraksi ke dalam kuesioner, terdiri dari karakteristik ibu dan perawatan SC. Data ditabulasi dan disajikan dengan tabel disertai penjelasannya. Hasil: Jumlah persalinan di RS dr. Ismoyo Kendari selama periode 1 Januari 2019 sampai 31 Desember 2019 adalah 914 persalinan, terdiri dari persalinan pervaginam 569 (62,3%) dan dengan SC 345 (37,7%). Mayoritas persalinan SC dilakukan pada umur 20-35 tahun (77,1%), tingkat pendidikannya tinggi (66,1%), multipara (57,7%), dan sebagai ibu rumah tangga (46,7%) serta menggunakan asuransi (96,5%). Hampir semua responden menggunakan asuransi kesehatan (96,5%), dirawat di kelas 1 (36,2%), dan lebih dari separuh membawa rujukan dari praktek dokter (55,4%) serta dilakukan tindakan emergensi. Simpulan: Persentase persalinan SC di RS dr. Ismoyo Kendari sebesar 37,7%, mayoritas berumur 20-35 tahun, berpendidikan tinggi, multiparitas, dan sebagai ibu rumah tangga. Perawatan tindakan SC mayoritas dirawat di kelas 1, rujukan dari praktek dokter dan dilakukan tindakan emergensi. Kata kunci: karakteristik, perawatan, persalinan, seksio sesare
Uji Daya Hambat Fraksi N-Heksan dan Etil Asetat Rumput Laut Cokelat (Sargassum sp.) terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus (Inhibitory Effect of N-Hexane and Ethyl Acetate Fraction of Sargassum sp. Seaweeds against Staphylococcus aureus)
Background: Staphylococcus aureus is a gram positive bacterium that causes pyogenic infectious disease, such as boils, pimples, endocarditis and sepsis. Resistance of S. aureus is continued growth that made it becomes a very serious problem that need to be solved by looking for another effective alternative for this infection. Several of marine life can be used as a source of antibacterial medication, antiviral, and antifungal. One alternative of antibacterial that comes from water resources is brown seaweed (Sargassum sp.). Purposes: This study aimed to find out the inhibitory fraction of n-hexane and ethyl acetate of Sargassum sp. against the growth of S. aureus Methods: This study applied quasi experimental method which used posttest-only control design. Samples used in the form of brown seaweed treatment of fraction n-hexane and Ethyl acetate derived from Desa Bungin Permai Kecamatan Tinanggea Kabupaten Konawe Selatan. The fraction inhibition test was conducted by diffusion agar method used variant concentration (20%, 40%, 60%, 80%, 100%) with three repetitions. Erythromycin as control (+) and DMSO 10% as control (-).Result: The study result showed that the n-hexane and Ethyl acetate fraction of Sargassum sp. extract was able in inhibiting the growth of S. aureus that seen with the clear zone around the paper disc. Based on this result, the minimum inhibitory fraction of n-hexane and ethyl acetate obtained in this study was at the concentration of 20%. The diameter average of inhibition zone in both fractions in the concentration 20%, 40%, 60%, 80%, 100% were 9.3 mm, 12.3 mm, 25.6 mm, 27 mm, 27.7 mm for n-hexane fraction, mean while the diameter average of inhibition zone in the ethyl acetate fraction was 4.6 mm, 16 mm, 19.3mm, 27.6mm, 29.6 mm. ethyl acetate fraction at a concentration of 40%, 80%,100% inhibitory zone diameter higher than the fraction of n-hexane while at a concentration of 20% and 60% inhibitory zone diameter higner than the fraction of ethyl acetate. Conclusion: Based on the result of the study, it was concluded that the fraction of n-hexane and ethyl acetate of Sargassum sp. has an inhibitory effect against the growth of S. aureus. The Minimum Inhibitory Concentration (MIC) of n-hexane and ethyl acetate fraction was at the concentration of 20%. Fraction of n-heksan and ethyl acetate equally have a strong inhibition of the growth of S. aureus bacteria. Keywords : ethyl acetate fraction, minimum inhibitory concentration, n-hexane fraction, Sargassum sp, Staphylococcus aureus Latar Belakang: Staphylococcus aureus merupakan bakteri gram positif penyebab terjadinya penyakit infeksi yang bersifat piogenik seperti bisul, jerawat, endokarditis dan sepsis. Kejadian resistensi antibakteri terhadap S. aureus terus meningkat sehingga menjadi masalah yang sangat serius sehingga diperlukan alternatif lain untuk mengatasi penyakit infeksi yang lebih efektif. Beberapa hasil biota laut dapat dimanfaatkan sebagai antibakteri, antivirus dan antijamur. Salah satu bahan alternatif sebagai antibakteri yang berasal dari sumber perairan yakni rumput laut cokelat (Sargassum sp.). Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat fraksi N-Heksana dan Etil Asetat Sargassum sp. terhadap pertumbuhan bakteri S. aureus. Metode: Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimental dengan desain post test-only control. Sampel yang digunakan berupa perlakuan fraksi N-Heksan dan Etil Asetat Sargassum sp. yang berasal dari Desa Bungin Permai Kecamatan Tinanggea Kabupaten Konawe Selatan. Pengujian daya hambat dilakukan dengan metode difusi agar dalam berbagai konsentrasi 20%, 40%, 60%, 80%, 100% dengan tiga kali pengulangan. Eritromisin yang digunakan sebagai kontrol positif dan DMSO 10% (Dimetil sulfoksida) sebagai kontrol negatif. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi Sargassum sp. mampu menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus yang dilihat dengan adanya zona bening disekitar kertas cakram. Konsentrasi hambat minimum dari kedua fraksi pada konsentrasi 20%. Perbedaan rerata diameter zona hambat pada kedua fraksi dengan konsentrasi 20%, 40%, 60%, 80%, 100% yaitu sebesar 9,3 mm,12,3 mm, 25,6 mm, 27 mm, 27,7 mm pada fraksi n- heksan dan 4,6 mm, 16 mm, 19,3 mm, 27,6 mm, 29,6 mm pada fraksi etil asetat. Fraksi etil asetat pada konsentrasi 40%, 80%, 100% diameter zona hambatnya lebih tinggi dari pada fraksi n-heksan sedangkan pada fraksi n-heksan konsentrasi 20% dan 60% diameter zona hambatnya lebih tinggi dibandingkan fraksi etil asetat. Simpulan: Simpulan dari penelitian ini bahwa fraksi n-heksan dan fraksi etil asetat Sargassum sp. mempunyai daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri S. aureus ekstrak rumput laut cokelat mengandung senyawa flavonoid, steroid, saponin dan tannin. Konsentrasi hambat minimum (KHM ) dari kedua fraksi yaitu pada konsentrasi 20 %. Fraksi n-heksan dan etil asetat mempunyai daya hambat yang kuat terhadap pertumbuhan bakteri S. aureusKata Kunci : fraksi etil asetat, fraksi n-heksan, Kadar Hambat Minimun, Sargassum sp, Staphylococcus aureu
Hubungan Kebiasaan Merokok, Stres dan Riwayat Keluarga dengan Kejadian Hipertensi Pada Masyarakat Usia Produktif di Puskesmas Katobu Kabupaten Muna
ABSTRAKLatar Belakang. Penyakit tidak menular (PTM) merupakan penyebab kematian di seluruh dunia dengan membunuh 36 juat jiwa pertahun. Salah satu penyebab kejadian penyakit tidak menular adalah hipertensi. Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih atau sama dengan 140 mmHg atau tekanan darah diastolik lebih atau sama dengan 90 mmHg. Berdasarkan umur, hipertensi paling banyak terjadi pada kelompok usia produktif sebesar 73.639 kasus. Pada tahun 2018 prevalensi hipertensi berdasarkan diagnosis dokter pada penduduk umur ≥18 tahun menurut provinsi, Indonesia memiliki persentase 8,4%. Data profil kesehatan Sulawesi Tenggara tahun 2017 sebesar 11.265 kasus, kasus hipertensi di Puskemas Katobu sebanyak 539 kasus. Tujuan: Penelitian ini bertujuan Untuk mengetahui hubungan kebiasaan merokok, tingkat stres, dan riwayat keluarga hipertensi dengan kejadian hipertensi pada masyarakat usia produktif di Puskesmas Katobu, kabupaten Muna. Metode: Penelitian ini adalah penelitian analitik observasional dengan pendekatan case-control study. Kelompok kasus adalah penderita hipertensi berdasarkan diagnosis dokter puskesmas, kelompok kontrol adalah individu sehat yang tidak menderita hipertensi bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas Katobu Kabupaten Muna. Jumlah sampel adalah 136 sampel terdiri dari 68 kelompok kasus dan 68 kelompok kontrol. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Hasil: Hasil analisis bivariat kebiasaan merokok menunjukkan bahwa nilai p-value sebesar 0,000 dengan nilai OR 5.435. Hasil analisis pada stres menunjukkan bahwa nilai p-value sebesar 0,001, dengan nilai OR 3.429. Sedangkan analisis pada riwayat menunjukkan bahwa nilai p-value sebesar 0,000, dengan nilai OR 9.112. Simpulan: Simpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan kebiasaan merokok, stres, dan riwayat keluarga dengan kejadian hipertensi pada masyarakat usia produktif di Puskesmas Katobu Kabupaten Muna. .Kata kunci. Hipertensi, merokok, riwayat keluarga hipertensi, stres, dan usia produktif