JPTV-Jurnal Pendidikan Teknik dan Vokasional
Not a member yet
    113 research outputs found

    EFEKTIVITAS MEDIA VIDEO KLIP PADA PEMBELAJARAN TABLE SET UP

    Get PDF
    This research aims to know the effectiveness of the learning media video clips about the material Table Set up on the course Layout to eat on the course Layout Boga. The research method used was a quasi-experiment by giving preferential treatment to a group of samples. Sample is determined purposive with random technique. Results score on post- test there is a difference of the score each of the two groups namely, the average score post-test with video media (experiment grup) of 87.22 and average score with the conventional media of 69.11. There is a difference in the improvement in the two groups, where there is a difference between experimental groups increased on average by 30.45 and the control group had a lower increase in increments of 22.67. Based on the calculation of the Test T obtained t_hitung of 3.680, that value is greater than the t_tabel with the degrees of freedom (DK) 58 i.e. of 2.00. Thus it can be concluded that the use of the learning media video clips have influence effectively in learning content Table Set up.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas media pembelajaran video klip pada pembelajaran Table Set up sebagai salah satu pokok bahasan pada matakuliah Tata Hidang di Program Studi Tata Boga. Metode penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan memberikan perlakuan pada kelompok sampel. Sampel ditentukan secara purposive dengan teknik random. Hasil skor pada post-test terdapat perbedaan dari skor masing-masing kedua kelompok yakni, skor rata-rata post-test dengan penerapan media video(kelompok eksperimen) sebesar 87,22 dan skor rata-rata dengan media konvensional sebesar 69,11. Terdapat selisih peningkatan pada kedua kelompok tersebut, dimana kelompok eksperimen terdapat selisih peningkatan rata-rata sebesar 30,45 dan kelompok kontrol memiliki selisih peningkatan yang lebih rendah sebesar 22,67. Berdasarkan perhitungan Uji T diperoleh thitung sebesar 3,680, nilai tersebut lebih besar dari ttabel dengan derajat kebebasan (dk) 58 yaitu sebesar 2,00. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan media pembelajaran video klip memiliki pengaruh secara efektif dalam pembelajaran pada materi Table Set up

    QUALITY FOOD RELATIONS AND ATMOSPHERE STORE OF CONSUMER PURCHASE DECISIONS

    Get PDF
    Abstract: This study aims to determine and analyze the relationship between food quality and store atmosphere with consumer purchasing decisions. In this study used a sample of 98 respondents. Sampling using purposive sampling technique. The method of data analysis using simple and multiple regression analysis models, while to test the hypothesis using t-test and F test. This research use error level 0,05. The result of simple regression analysis shows there is the relationship between food quality to consumer purchase decision and there is the relationship between store atmosphere to consumer purchase decision. Meanwhile, the result of multiple regression analysis models shows the simultaneously variable quality of food and store atmosphere have a significant relation to consumer purchase decision variable with an obtained value of Fcount equal to 63,35 more significant than Ftabel = 3,09. Based on the calculation, the food quality is more dominant choose the relationship to consumer purchasing decision. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dan menganalisis hubungan antara kualitas makanan dan suasana toko dengan keputusan pembelian konsumen. Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 98 responden. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Metode analisis data menggunakan model analisis regresi sederhana dan berganda, sedangkan untuk menguji hipotesis menggunakan uji-t dan uji-F. Penelitian ini menggunakan tingkat kesalahan 0,05. Hasil analisis regresi sederhana menunjukkan terdapat hubungan antara kualitas makanan dengan keputusan pembelian konsumen dan terdapat hubungan antara suasana toko dengan keputusan pembelian konsumen. Sementara itu, hasil model analisis regresi berganda menunjukkan bahwa variabel kualitas makanan dan suasana toko secara simultan memiliki hubungan yang signifikan dengan variabel keputusan pembelian konsumen dengan nilai F hitung sebesar 63,35 yang lebih signifikan daripada F tabel = 3,09. Berdasarkan perhitungan tersebut, kualitas makanan lebih dominan dalam memilih hubungan dengan keputusan pembelian konsumen

    PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN DIGITAL MENGGUNAKAN APLIKASI ARTICULATE STORYLINE 3 PADA MATA PELAJARAN PERENCANAAN DAN INSTALASI SISTEM AUDIO VIDEO KELAS XI DI SMK NEGERI 39 JAKARTA

    Get PDF
    This study aims to develop digital learning media for the subject of Planning and Installation of Audio Systems for class XI using the Articulate Storyline 3 application at SMKN 39 Jakarta, and to determine the level of feasibility of digital learning media for the subject of Planning and Installation of Audio Systems for class XI using the Articulate Storyline 3 application based on the results of assessments by instructional design experts, media experts, material experts, and language experts. The method used in this study is the Research and Development (R&D) method with the ADDIE development model which is limited to three stages, namely Analysis, Design, and Development. The final product produced is an Android application that has been validated by instructional design experts, media experts, material experts, and language experts. The results of the feasibility test by instructional design experts were 83.33%, media experts 93.75%, material experts 70.45%, and language experts 90.00%. So that the learning media using Articulate Storyline 3 is feasible for use by students in learning activities.   AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran digital mata pelajaran Perencanaan dan Instalasi Sistem Audio kelas XI menggunakan aplikasi Articulate Storyline 3 di SMKN 39 Jakarta, serta mengetahui tingkat kelayakan media pembelajaran digital mata pelajaran Perencanaan dan Instalasi Sistem Audio kelas XI menggunakan aplikasi Articulate Storyline 3 berdasarkan hasil penilaian oleh ahli desain instruksional, ahli media, ahli materi, dan ahli bahasa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode Research and Development (R&D) dengan model pengembangan ADDIE yang terbatas sampai tiga tahap yaitu, Analysis (Analisis), Design (Desain), dan Development (Pengembangan). Produk akhir yang dihasilkan berupa aplikasi Android yang telah divalidasi oleh ahli desain instruksional, ahli media, ahli materi, serta ahli bahasa. Hasil uji kelayakan oleh ahli desain instruksional sebesar 83,33%, ahli media sebesar 93,75%, ahli materi sebesar 70,45%, dan ahli bahasa 90,00%. Sehingga media pembelajaran menggunakan Articulate Storyline 3 secara keseluruhan layak untuk digunakan oleh peserta didik pada kegiatan pembelajaran.Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran digital mata pelajaran Perencanaan dan Instalasi Sistem Audio kelas XI menggunakan aplikasi Articulate Storyline 3 di SMKN 39 Jakarta, serta mengetahui tingkat kelayakan media pembelajaran digital mata pelajaran Perencanaan dan Instalasi Sistem Audio kelas XI menggunakan aplikasi Articulate Storyline 3 berdasarkan hasil penilaian oleh ahli desain instruksional, ahli media, ahli materi, dan ahli bahasa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode Research and Development (R&D) dengan model pengembangan ADDIE yang terbatas sampai tiga tahap yaitu, Analysis (Analisis), Design (Desain), dan Development (Pengembangan). Produk akhir yang dihasilkan berupa aplikasi Android yang telah divalidasi oleh ahli desain instruksional, ahli media, ahli materi, serta ahli bahasa. Hasil uji kelayakan oleh ahli desain instruksional sebesar 83,33%, ahli media sebesar 93,75%, ahli materi sebesar 70,45%, dan ahli bahasa 90,00%. Sehingga media pembelajaran menggunakan Articulate Storyline 3 secara keseluruhan layak untuk digunakan oleh peserta didik pada kegiatan pembelajaran

    PERSEPSI MAHASISWA PENDIDIKAN TEKNIK BANGUNAN TERHADAP PEMANFAATAN VIDEO PENDEK SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN MATA KULIAH PERAWATAN GEDUNG

    Get PDF
    Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara mendalam persepsi mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan terhadap penggunaan video pendek sebagai media pembelajaran pada mata kuliah Perawatan Gedung. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui metode studi kasus, sehingga memungkinkan peneliti menggali pengalaman belajar mahasiswa secara lebih komprehensif. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur terhadap lima mahasiswa yang sebelumnya telah menonton tiga video pendek bertema korosi pada bangunan. Video tersebut digunakan sebagai stimulus utama, kemudian dianalisis menggunakan kerangka teori Stimulus–Organism–Response (S-O-R) yang menekankan hubungan antara rangsangan, reaksi internal, dan respons yang ditunjukkan mahasiswa. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa mahasiswa memiliki persepsi positif terhadap penggunaan video pendek. Mereka menilai kualitas visual dan audio yang ditampilkan cukup baik, durasi yang singkat (1–3 menit) dianggap ideal, serta penyajian materi jelas, runtut, dan mudah dipahami. Video juga dinilai menarik, mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, serta membantu mahasiswa memahami konsep secara cepat dan efisien. Walaupun demikian, sebagian responden memberikan masukan agar konten dilengkapi dengan contoh nyata, ilustrasi lapangan, atau studi kasus yang relevan sehingga lebih aplikatif dan membumi. Temuan ini menegaskan bahwa video pendek dapat menjadi media pembelajaran yang efektif, terutama bila diintegrasikan dalam strategi blended learning yang mengombinasikan pemutaran video dengan diskusi, kuis interaktif, maupun sesi tanya jawab. Abstract: This study aims to provide an in-depth description of the perceptions of students in the Building Engineering Education Study Program regarding the use of short videos as a learning medium in the Building Maintenance course. The study employed a qualitative approach, utilizing a case study method, which enabled researchers to explore students' learning experiences more comprehensively. Data were collected through semi-structured interviews with five students who had previously watched three short videos on the topic of corrosion in buildings. The videos served as the primary stimulus and were then analyzed using the Stimulus–Organism–Response (S-O-R) theoretical framework, which emphasizes the relationship between stimuli, internal reactions, and student responses. The results showed that students had positive perceptions of using short videos. They considered the visual and audio quality to be quite good, the short duration (1–3 minutes) was considered ideal, and the presentation of the material was clear, coherent, and easy to understand. Videos were also considered engaging, as they helped create a fun learning atmosphere and enabled students to grasp concepts quickly and efficiently. However, some respondents suggested supplementing the content with real-world examples, field illustrations, or relevant case studies to make it more applicable and down-to-earth. These findings confirm that short videos can be an effective learning medium, especially when integrated into blended learning strategies that combine video screenings with discussions, interactive quizzes, and question-and-answer sessions

    TANTANGAN GURU DAN SISWA DALAM PENERAPAN KURIKULUM MERDEKA YANG BERORIENTASI PADA MASA DEPAN

    Get PDF
    Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keefektifan penerapan Kurikulum Merdeka dalam mendukung pembelajaran berkelanjutan yang berorientasi pada masa depan. Kurikulum ini dirancang untuk meningkatkan keaktifan dan kreativitas peserta didik dengan menempatkan mereka sebagai subjek utama dalam proses pembelajaran, sementara guru berperan sebagai fasilitator. Meskipun memiliki keunggulan dibandingkan kurikulum sebelumnya, seperti lebih sederhana, mendalam, efektif, dan interaktif, penerapannya di lapangan menghadapi berbagai tantangan. Tantangan utama yang ditemukan adalah keterbatasan kompetensi guru dalam memahami dan mengimplementasikan konsep Kurikulum Merdeka secara optimal, serta adaptasi siswa terhadap pola pembelajaran yang menuntut kemandirian dan partisipasi aktif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data melalui wawancara dan studi pustaka. Hasil analisis menunjukkan bahwa keberhasilan Kurikulum Merdeka sangat bergantung pada peningkatan kompetensi guru, dukungan sarana prasarana, dan kesiapan siswa untuk belajar secara mandiri. Apabila hambatan-hambatan tersebut dapat diatasi, Kurikulum Merdeka berpotensi menjadi kurikulum jangka panjang karena mampu mengoptimalkan bakat peserta didik dan mendorong kontribusi mereka dalam berkarya bagi bangsa. Namun demikian, setiap kurikulum memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga evaluasi dan perbaikan berkelanjutan tetap diperlukan agar tujuan utama pendidikan tercapai. Abstract: This study aims to analyze the effectiveness of implementing the Independent Curriculum (Kurikulum Merdeka) in supporting sustainable learning oriented toward the future. The curriculum is designed to enhance students’ activeness and creativity by positioning them as the main subjects in the learning process, while teachers act as facilitators. Although it offers advantages over previous curricula—such as being simpler, more in-depth, effective, and interactive—its implementation in the field faces various challenges. The main challenge identified is the limited competence of teachers in understanding and applying the concepts of the Independent Curriculum optimally, as well as students’ adaptation to a learning pattern that requires independence and active participation. This research employs a qualitative approach with data collection methods including interviews and literature review. The analysis results indicate that the success of the Independent Curriculum largely depends on improving teacher competence, providing adequate facilities and infrastructure, and preparing students for independent learning. If these obstacles can be overcome, the Independent Curriculum has great potential to become a long-term curriculum because it optimizes students’ talents and encourages their contribution to national development. Nevertheless, every curriculum has its strengths and weaknesses; therefore, continuous evaluation and improvement are necessary to achieve the main goals of education.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keefektifan kurikulum merdeka untuk pembelajaran berkelanjutan. Kurikulum yang dianggap membebani peserta didik ini menghadapi berbagai macam tantangan, baik dari guru ataupun siswanya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, mengukur keefektifan kurikulum merdeka dalam penerapannya di lapangan. Metode pengumpulan data meliputi wawancara dan studi pustaka. Hasil analisis menunjukkan bahwa berbagai macam tantangan yang dihadapi guru dan siswanya yang harus diperbaiki terlebih dahulu ialah kompetensi gurunya.Kesimpulannya, kurikulum merdeka ini dapat berorientasi untuk jangka panjang atau masa depan jika semua tantangan dapat diselesaikan. Jika kita melihat dari tujuan utama kurikulum merdeka itu sendiri maka kurikulum ini cocok untuk dijadikan kepada jangka panjang karena meningkatkan keaktifan dan kreativitas siswa. Dimana pada kurikulum ini, siswa di minta untuk aktif dalam pembelajaran dan guru hanya sebagai fasilitator. Kurikulum merdeka belajar memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya yaitu lebih sederhana dan mendalam serta efektif dan interaktif. Di dalam proses pembelajaran sendiri, kurikulum ini menempatkan peserta didik sebagai subjek utama dalam proses pembelajaran yang dimana siswa dapat memilih pelajaran yang diminati dan siswa dapat mengoptimalkan bakatnya serta dapat memberikan kontribusi terbaik dalam berkarya bagi bangsa. Tetapi, kembali lagi bahwa setiap kurikulum memiliki kelebihan dan kekurangannya

    PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROJECT BASED LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR TEORI MESIN BUBUT

    Get PDF
    Abstrak: Penelitian ini bertolak dari permasalahan yang ada di SMK Jakarta 1. Berdasarkan pengamatan awal menunjukan adanya masalah dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran teori mesin bubut. Salah satu penyebabnya yaitu metode yang digunakan pendidik dalam menyampaikan informasi dan materi tidak sesuai yang dikarenakan hanya memakai metode ceramah (teacher centered). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran project based learning terhadap hasil belajar siswa. Pada penelitian kali ini, peneliti menggunakan metode eksperimen (one group pretest-posttest design) dengan pendekatan kuantitatif yang terdiri dari populasi berjumlah 27 siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa. Dari hasil penelitian diperoleh rata-rata nilai pretest 40 dan post test 84. Analisis uji hipotesis menggunakan uji-t dengan hasil t-hitung sebesar 21,36 dan t-tabel pada taraf signifikan 0,05 sebesar 1,708, maka t-hitung > t-tabel. Dengan demikian H0 ditolak yang berarti bahwa penggunaan model pembelajaran project based learning menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar siswa kelas XII pada mata pelajaran Teori Mesin Bubut. Abstract: This research departs from the problems that exist in SMK Jakarta 1. Based on initial observations, it shows that there are problems in improving student learning outcomes in lathe theory subjects. One of the reasons is that the method used by teachers in conveying information and material is not appropriate because it only uses the lecture method (teacher centered). This study aims to determine the effect of the project-based learning model on student learning outcomes. In this study, the researcher used an experimental method (one group pretest-posttest design) with a quantitative approach consisting of a population of 27 students. The results of this study indicate an increase in student learning outcomes. From the results of the study, the average value of the pre test was 40 and the post test was 84. Analysis of hypothesis testing using t-test with t-count results of 21.36 and t-table at a significant level of 0.05 of 1.708, then t-count > t- table. With the result, H0 is rejected, which means that the use of the project based learning model shows a significant influence on the learning outcomes of class XII students on Lathe Theory.Penelitian ini bertolak dari permasalahan yang ada di SMK Jakarta 1. Berdasarkan pengamatan awal menunjukan adanya masalah dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran teori mesin bubut. Salah satu penyebabnya yaitu metode yang digunakan pendidik dalam menyampaikan informasi dan materi tidak sesuai yang dikarenakan hanya memakai metode ceramah (teacher centered). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran project based learning terhadap hasil belajar siswa. Pada penelitian kali ini, peneliti menggunakan metode eksperimen (one group pretest-posttest design) dengan pendekatan kuantitatif yang terdiri dari populasi berjumlah 27 siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa. Dari hasil penelitian diperoleh rata-rata nilai pretest 40 dan post test 84. Analisis uji hipotesis menggunakan uji-t dengan hasil t-hitung sebesar 21,36 dan t-tabel pada taraf signifikan 0,05 sebesar 1,708, maka t-hitung > t-tabel. Dengan demikian H 0 ditolak yang berarti bahwa penggunaan model pembelajaran project based learning menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar siswa kelas XII pada mata pelajaran Teori Mesin Bubut

    Efektivitas Penggunaan Video Animasi dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas V/A MI Al-Munawwaroh

    No full text
    Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penggunaan video animasi sebagai media pembelajaran dalam meningkatkan motivasi belajar siswa, berangkat dari kebutuhan akan media pembelajaran yang mampu menciptakan suasana belajar yang lebih menarik, interaktif, serta mendorong keterlibatan aktif siswa. Video animasi dipandang memiliki potensi pedagogis karena menggabungkan elemen visual, audio, dan gerak yang dapat memperjelas konsep, mempertahankan perhatian, dan meningkatkan antusiasme siswa terhadap materi pembelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen, di mana data dikumpulkan melalui survei motivasi belajar sebelum dan sesudah penggunaan media animasi, serta observasi proses pembelajaran untuk memperoleh gambaran empiris mengenai perubahan perilaku dan keterlibatan siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor motivasi belajar siswa pada tahap pre-test adalah 85,0, sedangkan pada tahap post-test meningkat menjadi 85,8. Walaupun peningkatan sebesar 0,8 poin ini tergolong kecil dan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik, temuan tersebut tetap memberikan indikasi bahwa penggunaan video animasi memiliki kontribusi positif dalam mendorong aspek-aspek tertentu dari motivasi belajar, seperti ketertarikan, perhatian, dan keaktifan siswa selama pembelajaran. Dengan demikian, penelitian ini merekomendasikan pemanfaatan video animasi sebagai alternatif media pendukung yang dapat membantu menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik, menyenangkan, dan bermakna, terutama pada materi yang membutuhkan visualisasi konkret serta pendekatan kreatif untuk meningkatkan pemahaman dan motivasi belajar siswa. Abstract: This study aims to analyze the effectiveness of using animated videos as instructional media in enhancing students’ learning motivation, based on the need for learning tools that can create a more engaging and interactive learning atmosphere and encourage students’ active participation. Animated videos are considered to have strong pedagogical potential because they combine visual, audio, and motion elements that can clarify concepts, maintain students’ attention, and increase their enthusiasm toward learning materials. This research employed a quantitative approach with an experimental design, in which data were collected through learning motivation surveys administered before and after the use of animated media, as well as classroom observations to obtain empirical insights into behavioral changes and student engagement during the learning process. The results show that the average student motivation score in the pre-test was 85.0, while the post-test average increased to 85.8. Although the 0.8‑point increase is relatively small and does not indicate a statistically significant difference, the findings still suggest that the use of animated videos contributes positively to several aspects of learning motivation, such as interest, attention, and student participation during lessons. Therefore, this study recommends the utilization of animated videos as supportive instructional media that can help create more engaging, enjoyable, and meaningful learning experiences, particularly for materials that require concrete visualization and creative approaches to improve students’ understanding and motivation.Penelitian ini membahas tentang efektivitas penggunaan video animasi dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. Peneliti berfokus pada pembahasan mengenai apakah terdapat perbedaan yang signifikan dalam motivasi belajar siswa sebelum dan setelah menggunakan video animasi sebagai media pendukung. Sehingga tujuan utama dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat motivasi belajar siswa kelas V/A di MI Al-Munawwaroh sebelum dan setelah penggunaan video animasi. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif dengan metode eksperimental. Teknik pengumpulan data menggunakan tes survei hasil belajar dan metode observasi. Sebelum menggunakan media pendukung dalam pembelajaran berupa video animasi, hasil rata-rata pre-test yang diperoleh sebesar 85,0. Kemudian setelah menggunakan media video animasi dalam pembelajaran, hasil rata-rata post-test yang diperoleh sebesar 85,8. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan sebesar 0,8 poin dari perbandingan rata-rata pre-test dan post-test. Di mana hal ini menunjukkan hasil yang kurang signifikan, namun tetap menunjukkan adanya indikasi positif terhadap penggunaan media video animasi dalam meningkatkan motivasi belajar siswa

    EVALUASI PENGGUNAAN MODUL ILUSTRASI BAGIAN-BAGIAN BUSANA DALAM MENDUKUNG PROSES PEMBELAJARAN DESAIN MODE

    Get PDF
    This study aims to evaluate the quality of teaching materials in the form of a fashion illustration module, specifically focusing on collar and sleeve materials, designed to support students' independent learning in the Fashion Drawing course within the Fashion Design Education Study Program. The module was developed in accordance with the principles of vocational learning, which emphasize the integration of theory and practice, as well as the characteristics of modern learning modules. The research method employed a quantitative approach, utilizing a pre-experimental one-shot case study design and quantitative descriptive data analysis. The assessment was conducted by four expert panelists using an assessment scale instrument that encompassed aspects of the teaching materials (material, presentation, and language) and module characteristics (self-instructional, self-contained, stand-alone, adaptive, and user-friendly). The results showed that the module was in the "Good" category with an average score of 89.86%. The module characteristics obtained the highest score of 93.75%, while the teaching materials aspect obtained a score of 86.64%. The highest indicators were stand-alone and user-friendly, achieving a perfect score of 100%, which confirms that the module can be used independently and is easily understood by students. In contrast, the adaptive indicator scored the lowest at 83.33%, indicating the module's limitations in adapting to technological developments and diverse learning styles. Overall, this fashion illustration module meets the criteria for effective teaching materials and is suitable for use in vocational learning. The module not only presents material systematically and comprehensively but also supports student independence in learning. These findings suggest that developing similar modules could be a crucial strategy for enhancing the quality of vocational learning, with the caveat that further development of the adaptability aspect is necessary through the integration of digital technology and interactive media.   Abstrak   Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas bahan ajar berupa modul ilustrasi bagian-bagian busana, khususnya materi kerah dan lengan, yang dirancang untuk mendukung pembelajaran mandiri mahasiswa pada mata kuliah Menggambar Mode di Program Studi Pendidikan Tata Busana. Modul dikembangkan dengan mengacu pada prinsip pembelajaran vokasional yang menekankan keterpaduan teori dan praktik, serta karakteristik modul pembelajaran modern. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-experimental one shot case study dan analisis data deskriptif kuantitatif. Penilaian dilakukan oleh empat panelis ahli menggunakan instrumen skala penilaian yang mencakup aspek bahan ajar (materi, penyajian, kebahasaan) dan karakteristik modul (self-instructional, self-contained, stand-alone, adaptive, user-friendly). Hasil penelitian menunjukkan bahwa modul berada dalam kategori “Baik” dengan skor rata-rata 89,86%. Karakteristik modul memperoleh skor tertinggi sebesar 93,75%, sedangkan aspek bahan ajar memperoleh skor 86,64%. Indikator tertinggi adalah stand-alone dan user-friendly dengan skor sempurna 100%, yang menegaskan bahwa modul dapat digunakan secara mandiri dan mudah dipahami oleh mahasiswa. Sebaliknya, indikator adaptive memperoleh skor terendah sebesar 83,33%, menunjukkan keterbatasan modul dalam menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dan gaya belajar yang beragam. Secara keseluruhan, modul ilustrasi bagian-bagian busana ini telah memenuhi kriteria bahan ajar yang efektif dan layak digunakan dalam pembelajaran vokasional. Modul tidak hanya menyajikan materi secara sistematis dan komprehensif, tetapi juga mendukung kemandirian belajar mahasiswa. Temuan ini memberikan implikasi bahwa pengembangan modul serupa dapat menjadi strategi penting dalam meningkatkan mutu pembelajaran vokasional, dengan catatan perlunya pengembangan lebih lanjut pada aspek adaptivitas melalui integrasi teknologi digital dan media interaktif.Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi bahan ajar berupa modul ilustrasi bagian-bagian busana, khususnya materi kerah dan lengan, berdasarkan aspek bahan ajar dan karakteristik modul. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain pre-eksperimental one shot case study, serta analisis data secara deskriptif kuantitatif. Penilaian dilakukan oleh empat panelis ahli menggunakan instrumen skala penilaian. Indikator evaluasi meliputi aspek materi, penyajian, kebahasaan, self-instructional, self-contained, stand-alone, adaptive, dan user-friendly. Hasil menunjukkan bahwa modul berada dalam kategori “Baik” dengan skor rata-rata 89,86%. Karakteristik modul memperoleh skor tertinggi sebesar 93,75%, disusul aspek bahan ajar sebesar 86,64%. Indikator tertinggi adalah stand-alone dan user-friendly (100%), sedangkan indikator terendah adalah adaptive (83,33%). Secara keseluruhan, modul memenuhi kriteria bahan ajar yang efektif dan layak digunakan untuk pembelajaran mandiri

    FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP IMPLEMENTASI KURIKULUM DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN BERDASARKAN ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR DI INDONESIA

    Get PDF
    Abstrak: Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor Organizational Citizenship Behavior (OCB) terhadap gaya kepemimpinan, iklim organisasi, motivasi, dan kepuasan kerja yang memengaruhi implementasi kurikulum di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Indonesia. OCB umumnya digunakan untuk mengevaluasi perilaku organisasi dalam manajemen bisnis terhadap kinerja karyawan, namun belum banyak diterapkan untuk menilai manajemen sekolah, khususnya SMK, terkait kinerja guru dalam implementasi kurikulum. Populasi penelitian mencakup seluruh guru SMK di Indonesia, dengan sampel sebanyak 292 responden dari 30 provinsi. Penentuan sampel dilakukan melalui teknik multistage purposive sampling. Variabel penelitian terdiri atas variabel dependen (OCB), variabel independen (kepemimpinan dan iklim organisasi), serta variabel mediasi (motivasi dan kepuasan kerja). Hasil penelitian menunjukkan: (1) iklim organisasi dan motivasi berpengaruh signifikan terhadap OCB; (2) kepemimpinan, iklim organisasi, dan motivasi berpengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja; (3) kepemimpinan dan iklim organisasi berpengaruh signifikan terhadap motivasi; (4) kepemimpinan dan kepuasan kerja tidak berpengaruh terhadap OCB. Temuan ini memberikan implikasi bagi kebijakan penataan organisasi SMK di Indonesia, khususnya dalam pemilihan pimpinan sekolah dan penciptaan iklim organisasi yang nyaman dan adaptif bagi guru dalam mengimplementasikan kurikulum. Abstract: This study aims to analyze the factors of Organizational Citizenship Behavior (OCB) in relation to leadership style, organizational climate, motivation, and job satisfaction that influence curriculum implementation in Vocational High Schools (SMK) in Indonesia. OCB is commonly used to evaluate organizational behavior in business management regarding employee performance; however, it has rarely been applied to assess school management, particularly in SMKs, concerning teachers’ performance in curriculum implementation. The research population comprises all SMK teachers in Indonesia, with a sample of 292 respondents from 30 provinces. The sample was determined using a multistage purposive sampling technique. The operational variables include the dependent variable (OCB), independent variables (leadership and organizational climate), and mediating variables (motivation and job satisfaction). The findings reveal that: (1) organizational climate and motivation significantly influence OCB; (2) leadership, organizational climate, and motivation significantly affect job satisfaction; (3) leadership and organizational climate significantly influence motivation; (4) leadership and job satisfaction do not affect OCB. These findings have implications for policy-making in structuring SMK organizations in Indonesia, particularly in selecting school leaders and creating an organizational climate that is comfortable and adaptive for teachers in implementing the curriculum.Tujuan penelitian ini adalah melakukan analisis faktor Organizational Citizenship Behavior (OCB) terhadap gaya kepemimpinan, iklim organisasi, motivasi dan kepuasan kerja yang mempengaruhi implementasi kurikulum di Sekolah Menengah Kejuruan di Indonesia. OCB banyak digunakan untuk mengevaluasi perilaku organisasi khususnya manajemen bisnis terhadap kinerja karyawannya, tetapi OCB belum ada yang digunakan untuk mengevaluasi manajemen sekolah khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Indonesia terhadap kinerja guru dalam implementasi kurikulum. Populasi penelitian ini adalah seluruh Guru SMK di Indonesia, dengan sampel 292 responden yang mencakup 30 provinsi dari 34provinsi di Indonesia. Penetapan sampel berdasarkan teknik multistage purposive sampling. Variabel Operasional terdiri dari variabel dependen adalah OCB, variabel independen adalah Kepemimpinan dan Iklim Organisasi, serta variabel perantara adalah motivasi dan kepuasan kerja dalam implementasi kurikulum. Peneliti menghasilkan temuan (1) Terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel iklim organisasi, motivasi terhadap OCB; (2) Terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel Kepemimpinan, Iklim Organisasi, Motivasi terhadap Kepuasa Kerja; (3) Terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel iklim organisasi dan kepemimpinan terhadap motivasi; (4) Tidak terdapat pengaruh antara Kepemimpinan dan Kepuasan Kerja terhadap OCB. Implikasi hasil penelitian ini yaitu untuk pengambilan kebijakan penataan organisasi SMK di Indonesia, memilih pimpinan sekolah dan menciptakan iklim organisasi dengan lingkungan sekolah yang nyaman dan adaptif bagi para guru dalam mengimplementasikan kurikulum

    PEMETAAN KETERAMPILAN MAHASISWA PROGRAM STUDI D3 TATA BOGA DARI HASIL PRAKTEK KERJA LAPANGAN (PKL)

    Get PDF
    Abstrak: Pendidikan vokasi dituntut untuk menghasilkan lulusan yang memiliki keterampilan sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri, khususnya pada bidang jasa boga. Praktik Kerja Lapangan (PKL) merupakan salah satu bentuk pembelajaran berbasis kerja yang bertujuan menjembatani kompetensi yang diperoleh di perguruan tinggi dengan praktik kerja di industri. Namun, keteraplikasian keterampilan mahasiswa selama PKL belum tentu mencerminkan keseluruhan kompetensi yang dirancang dalam kurikulum. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan keterampilan mahasiswa Program Studi D3 Tata Boga Universitas Negeri Jakarta berdasarkan hasil pelaksanaan PKL. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Subjek penelitian terdiri atas 37 mahasiswa D3 Tata Boga angkatan 2018 yang telah melaksanakan PKL. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner tertutup berjumlah 28 butir pernyataan yang mewakili delapan indikator keterampilan, kemudian dianalisis menggunakan teknik persentase dan pemetaan kategori keterampilan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan yang sering diaplikasikan selama PKL meliputi penggunaan alat pengolahan memasak, penerapan potongan bahan makanan, penggunaan dan penyimpanan bumbu, serta pembuatan kaldu. Sebaliknya, keterampilan yang tergolong jarang diaplikasikan meliputi penggunaan alat persiapan memasak, persiapan proses memasak, penerapan metode dasar memasak, serta pembuatan hidangan manis (dessert). Temuan ini mengindikasikan adanya kesenjangan antara kompetensi yang diajarkan di perguruan tinggi dengan keterampilan yang diterapkan mahasiswa di dunia kerja. Oleh karena itu, hasil pemetaan keterampilan ini dapat digunakan sebagai dasar evaluasi dan pengembangan kurikulum, khususnya dalam penguatan pembelajaran praktik dan optimalisasi pelaksanaan PKL agar lebih selaras dengan kebutuhan industri jasa boga. Abstract: Vocational education is expected to produce graduates with competencies aligned with the needs of industry, particularly in the culinary service sector. Internship or Practical Work serves as a form of work-based learning designed to bridge competencies acquired in higher education with real workplace practices. However, the extent to which students’ skills are applied during internships does not always reflect the full range of competencies defined in the curriculum. This study aims to map the skills of students in the D3 Culinary Arts Program at Universitas Negeri Jakarta based on their internship experiences. The study employed a descriptive quantitative approach. The participants consisted of 37 D3 Culinary Arts students from the 2018 cohort who had completed their internships. Data were collected using a closed-ended questionnaire comprising 28 items representing eight skill indicators and were analyzed using percentage analysis and skill mapping categorization. The results indicate that skills frequently applied during internships include the use of cooking equipment, food cutting techniques, the use and storage of seasonings, and stock preparation. In contrast, skills that were rarely applied include the use of food preparation tools, preparation of the cooking process, application of basic cooking methods, and dessert preparation. These findings reveal a gap between the competencies taught in higher education and the skills actually applied by students in the workplace. Therefore, the results of this skill mapping can serve as a basis for curriculum evaluation and development, particularly in strengthening practical learning and optimizing internship implementation to better align with the needs of the culinary industry

    99

    full texts

    113

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JPTV-Jurnal Pendidikan Teknik dan Vokasional
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇